[FF] AFFIRMATION – PART 3/END   Leave a comment


Annyeong! AKHIRNYA!! FF ini selesai juga,,

sebelumnya saya mohon maaf sebesar2nya jika ada yang ga suka sm karya saya, silahkan MINGGAT! ahaha,, bcnda ding,

WARNING!! apapun yg terjadi pada ff ini, sy tidak bertanggung jawab. dunia yang kejam inilah yg memaksa saia membuat akhir yg tak terduga😀

affirmation-(part-3)

AFFIRMATION

Author: author yng cantik jelita ===> DNA

Genre : Sad-Romance

Cast:

Shin Hyun Ri (anggap aja itu kalian)

Jung Jinyoung B1A4

Jung Hyorin

and other,, find them urself ^^

 

This story based on my favorite song that sung by Savage Garden, I Knew I Loved You. When I heard this song, my mind begins to create some wild imagination -_- but still in a good way, for sure J

=================================

 

‘Maafkan aku…’ adalah kata-kata terakhir yang terpikirkan oleh Shin Hyun Ri sebelum kesadarannya menghilang.

 

 

Perasaan yang membingungkan. Ia yakin dirinya telah sampai di tempat peristirahatan terakhirnya dengan tenang, namun anehnya ia merasakan sodokan kasar dan nyata dari benda sekeras batu yang menyentuh punggungnya. Air sedingin es mengucur deras melewati mulut dan hidungnya, meninggalkan rasa panas dan perih yang tak terelakkan. Hyun Ri ingin menjerit kesakitan, sekeras yang ia bisa, kalau perlu sampai tenggorokannya putus, namun gumpalan air yang terus mengalir itu menghentikan keinginannya.

“Bernapaslah, Hyun Ri-ah!!”

Batu itu menghantam punggungnya lagi, mengeluarkan lebih banyak cairan dari mulutnya. Paru-parunya terasa terbakar saat udara melesat masuk secara paksa. “Kumohon bernapaslah, Shin Hyun Ri!”

Cahaya terang menusuk matanya. Dan ia yakin saat ini ia sedang sekarat saat mendengar suara namja itu lagi. Memohon-mohon agar ia membuka mata dan bernapas.

“Eung….?” ia perlahan mulai mengenali ruangan disekelilingnya. Ia merasa ingin terisak, entah karena alasan apa.

“Hyun Ri-ah, kau sudah sadar?” tanya Hyorin yang kini sedang menggenggam tangannya. Hyun Ri menoleh ke arahnya, lalu kembali ke Minho, dan Hyorin lagi. “Hyo…rin?” tanyanya lemah. Hyorin mengangguk seraya menyeka air matanya. “Ne, ini aku…bagaimana keadaanmu?”

Hyun Ri tersenyum lemah, ia tidak yakin bagaimana kondisinya saat ini. Ia merasa sakit disemua tempat. Tapi yang paling menyakitkan selama ini ialah, Hyun Ri menarik napas pelan, perasaannya. “Bagaimana kalian bisa menemukanku? Bagaimana aku bisa ada disini?” tanyanya dengan suara parau. Tenggorokannya lecet.

“Oppa tadi menelpon…” Hyorin terdiam sejenak. “Kami menemukanmu terkapar di tepian sungai Han, mungkin kau sudah terseret sampai sana!”

“Apa yang kau pikirkan, Shin Hyun Ri? Apa kau tidak punya otak?? Kau bisa saja mati! Airnya tadi dingin sekali! Oh Tuhan!!” Minho meledak, pikiran pertama yang melintas di kepalanya adalah amarah yang sangat ingin ia tujukan pada yeoja itu. Ia sangat ingin memukuli yeoja itu sampai kemarahannya terlampiaskan, namun ia tidak sanggup melakukannya. Saat Hyorin menghubunginya tadi ketika ia menemukan sahabatnya melompat ke dalam sungai, pikiran itu sudah menjadi pilihan terakhir baginya.

Hyun Ri menghela napas beratnya, ia tidak berani menatap mata Minho yang sarat akan emosi itu. “Mungkin…aku memang tidak punya…!”

“Kau memang tidak punya!!” Minho berdiri dan menunjuknya dengan kasar. “Bisa kau bayangkan aku menemukan dalam keadaan seperti itu? Kau hampir membunuhku!”

“Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Aku bahkan tidak berpikir kau akan khawatir.” Hyun Ri mendengar Minho menggertakkan giginya tidak sabar. “Baiklah baiklah. Aku telah membuatmu khawatir dan aku menyesal. Aku baik-baik saja sekarang dan simpan saja rasa khawatirmu untuk orang lain!”

“Kenapa kau…” Minho menggertakkan giginya kemudian menambahkan, “Yaa! Bukankah sudah kubilang sebelum ini, bahwa aku tidak akan pernah menyerah!”

“Aku tidak ingin membahas itu sekarang, Choi Minho!” sergah Hyun Ri, keinginannya untuk terisak-isak kembali muncul, serta rasa sakit yang sangat ingin dilepaskannya.

“Kita tetap harus membicarakannya, Hyun…”

“Jangan panggil aku itu!!” Hyun Ri menjerit marah, ia kemudian duduk dengan susah payah dan menatap Minho dengan pandangan marah. Minho balas memandanginya, emosi di antara keduanya meluap-luap.

“Cukup Minho-ssi! Kau tidak perlu berteriak-teriak padanya! Perlukah kuingatkan bagaimana keadaan Hyun Ri saat ini? Jangan memperburuk suasana!” Hyorin menengahi. Minho beralih menatap Hyorin dengan pandangan tidak suka yang terlalu jelas ditunjukkannya. “Aku tidak berbicara denganmu, Jung Hyorin! Dan jangan campuri urusanku, kau berada dalam posisi yang tidak tepat saat ini!”

“Kau…” Hyorin mengatup mulutnya menahan kesabaran. Ia memandang ke arah Hyun Ri yang terlihat kesakitan dan menghela napas berat. “Hyun Ri-ah, kenapa kau tidak istirahat saja?” ujarnya lembut sembari membantu Hyun Ri menuju kamarnya dan meninggalkan Minho seorang diri. Minho mengepalkan tinjunya dan langsung menghantam tembok kayu didepannya.

“Ugh…” 

 

 

Beberapa hari setelahnya, kesehatan Hyun Ri mulai membaik. Ia duduk di sebuah bangku taman, memandang ke arah taman yang sudah sepi itu. Berkali-kali ia menghembuskan napasnya. Kekosongan dan kehampaan mengisi relung hatinya. Ia tidak tau apa yang bisa membuatnya merasa lebih baik, tapi ia tidak merasa ingin lebih baik, ia ingin mati saja. Ia tau ia konyol dengan mengharapkan kematian menjemputnya, namun setidaknya ia takkan merasa tersakiti, terluka dan kosong.

“Kita…semua…memulai kisah ini dengan cara yang teramat sederhana. Tapi, benang kusut yang kelihatan sederhana itu tidak mau juga diuraikan. Begitu kusut sampai siapapun akan berpikir lebih baik mengguntingnya saja…” ia bersandar lemas di bangku taman itu, senja sudah mulai terlihat. Cahaya keemasannya membakar cakrawala, perlahan sang surya mulai menghilang digantikan oleh rembulan yang muncul menggelar sinarnya yang temaram.

“Hyun Ri-ah…”

Hyun Ri menoleh, Minho tampak di kejauhan, dan berjalan menghampirinya. Ia tersenyum, mungkin untuk pertama kalinya, dengan sangat tulus. “Disini dingin, apa kau tidak mau pulang?” dia bertanya dengan lembut, suara beratnya mempesona. Namun ia tidak peduli, Hyun Ri merindukan suara yang lain, suara yang mustahil ia dengar saat ini.

“Hyun Ri-ah, apa kau tak bisa melupakan laki-laki itu?” tanya Minho tiba-tiba setelah keheningan yang cukup lama menghiasi percakapan mereka. Hyun Ri terpekur, ia sudah ratusan kali menanyakan hal yang sama dengan dirinya sendiri, namun ia menolak memberi jawaban pasti. “Apakah mungkin aku bisa melupakannya? Luka yang ditimbulkannya sudah menjadi bagian dari diriku.” Ya. Bagian dari dirinya, Hyun Ri menyadari hal itu dengan baik. Meskipun ia terluka, ia tidak ingin melupakan Jinyoung. Meskipun ia bisa melakukannya, ia tidak ingin. Dan ia bersedia menanggung lebih banyak luka selama masih ada harapan, namun masalahnya ia tidak punya harapan sama sekali.

Minho menghela napas, “Kau pasti bisa melakukannya! Aku akan membantumu.” mendengar itu, Hyun Ri hanya tersenyum tanpa memandang Minho. “Aku yakin kau bisa melakukannya.” kemudian ia menghela napas lagi dan melanjutkan, “Namun sayangnya aku mungkin tidak akan sanggup meski aku mau sekalipun. Dan aku tidak mau.”

“Tapi kau tak bisa begini terus, Hyun Ri. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri kalau seperti ini.”

“Aku tau!!” Hyun Ri menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya dengan marah. “Aku tau Minho, kau tak perlu mengatakannya. Aku yang merasakannya, aku tau aku terluka.”

“Terus kenapa?” tanya Minho dingin. “Apa kau segitu mencintainya kah? Hyun Ri-ah, lupakan dia! Demi aku!”

“Minho, hentikan.”

“Aku tidak ingin melihatmu seperti ini terus!” namja itu masih berkeras. “Dia tidak punya hak membuatmu seperti ini!”

Hyun Ri hanya terdiam tanpa kata. Hawa dingin menyerangnya. Dan ia merasa lelah.

“Kau seharusnya melupakannya. Aku sudah bilang aku akan membantumu. Aku akan membuatmu melupakannya, Hyun Ri-ah. Beri aku satu kesempatan lagi.” pinta Minho tiba-tiba.

“Jangan konyol, Minho. Itu semua tidak lucu.”

“Aku tidak sedang bercanda, Hyun Ri! Aku serius, maukah kau memberiku kesempatan itu?”

Hyun Ri menggeleng. “Kau tidak perlu bersikap begitu untukku Minho, kita baru saja berbaikan setelah apa yang terjadi di antara kita dulu. Sikapmu bisa saja membuatku salah paham untuk kesekian kalinya.”

“Bukan masalah bagiku. Selama aku bisa bersamamu. Aku serius Hyun Ri. Apa yang telah terjadi pada kita mengajarkanku, bahwa yeoja yang tulus kepadaku hanyalah kau seorang.” Hyun Ri tersenyum getir. “Butuh waktu cukup lama untuk menyadarkanmu ya. Tapi apa gunanya itu, Minho? Kau sudah memilih jalanmu sendiri waktu itu, kau memilih dia. Bukan aku.”

“Tidak lagi. Dan sekarang aku menyesalinya. Aku menginginkanmu, Shin Hyun Ri.”

“Apa tujuanmu, Minho?” selidik Hyun Ri.

“Maksudmu?”

Hyun Ri menghela napas serya berkata dengan sabar, “Kau tidak mungkin berkata begitu tanpa tujuan apa-apa. Aku mengenalmu, dan aku tidak percaya kau menginginkanku. Kau tidak pernah begitu, mengapa sekarang harus begitu?”

“Aku tidak punya tujuan apapun Hyun Ri-ah, aku hanya menginginkanmu. Aku tau ini bukan perasaan cinta atau semcamnya, tapi fakta bahwa aku tidak ingin melihat kau tersiksa dan terluka itu bisa menjadi bukti perasaanku padamu.”

Gadis itu tersenyum skeptis, “Bukannya itu cuma simpati saja? Apa aku begitu menyedihkan di matamu, Minho?”

“Tidak, Hyun Ri. Dengarkan aku…”

“Tidak, kau yang dengarkan, Minho.” Hyun Ri berkata lembut. “Yang kau ingin kan itu Krystal. Dan sekarang kau tau bahwa ia memilih Jinyoung, rivalmu. Kurasa itu hanya perasaan frustasi seperti yang penah kau bilang padaku terakhir kali. Dan sedikit simpati, karena aku menyedihkan. Tapi kau tau satu hal? Aku tidak butuh itu semua!”

“Sama sekali tidak seperti itu! Kau tidak mengerti! Krystal itu masa lalu, yang kuinginkan sekarang itu kau, Shin Hyun Ri. Aku menyadarinya tak lama setelah kita berpisah, bahwa keinginanku untuk memilikimu itu nyata. Aku tidak ingin kehilanganmu!”

Hyun Ri menggeleng lagi, tanpa memandang Minho ia berkata. “Tapi yang ada dihatimu hanyalah Krystal. Bukankah kau mengatakan kau mencintainya dan aku adalah kesalahan?”

“Katakan padaku, bagaimana caranya agar aku bisa menebus kebodohanku di masa lalu, Hyu Ri-ah?”

“Kau tidak perlu menebus apapun Minho. Tetaplah seperti ini.”

Minho menatap Hyun Ri marah, “Tapi aku tidak ingin melihatmu seperti ini, terluka karena laki-laki itu!!”

“Kau pernah melukaiku dengan cara yang sama, Minho. Satu atau dua luka lagi, apa bedanya?”

“Itu tidak adil. Berhentilah membawa masa lalu kalau kau ingin keadaan tetap seperti ini.” Hyun Ri kembali membisu dan membuat Minho semakin frustasi dibuatnya. Ia tidak tahan dengan keheningan yang tercipta. “Tatap aku Shin Hyun Ri.”

“Hentikan Minho, jangan memaksaku. Aku tidak ingin membencimu karena ini!” Hyun Ri menatapnya dengan pancaran emosi yang tertahan.

“Aku menginginkanmu Hyun…” DEG! Jantung Hyun Ri berdetak nyaris tak beraturan. Kilatan masa lalu kembali berkelebat dalam benaknya membuatnya merasa sesak. Ia berdiri, namun tangannya ditahan oleh Minho.

“Mengapa kau tidak mengatakan apapun? Apa aku tidak memiliki kesempatan lagi?” tanya laki-laki itu. “Lepaskan aku, Minho.” tegas Hyun Ri.

Minho menggeleng, “Tidak sebelum kau menjawabku.” Hyun Ri berontak namun Minho tetap tidak mau melepaskannya. Saat Hyun Ri berbalik menghadapnya, sebelah tangan Minho memegang tangannya dan sebelahnya lagi memegang bahunya dan yang ia rasakan saat itu adalah ciuman lembut dari bibir namja itu. Hyun Ri terkejut dan secara refleks menjauhkan diri dari Minho. Laki-laki itu masih menatapnya tajam. Hyun Ri mendorong jatuh dirinya. Lalu pergi dengan perasaan tidak karuan.

“Hyun Ri, tunggu!” Minho mengejarnya, namun Hyun Ri tetap berlari tidak memperdulikannya. Air matanya tumpah, bukan karena ciuman itu, yang membuatnya sedih ialah bagaimana Minho memanggilnya seperti laki-laki itu memanggilnya. Seperti Jinyoung.

Perasaan kebas menjalar keseluruh tubuh Hyun Ri. Ia mulai kehilangan kontrol dirinya. Dan tanpa sadar bertabrakan dengan seseorang.

“Kau…baik-baik saja??” tanya orang itu, Hyun Ri tidak memperdulikannya. Ia buru-buru menghapus jejak air matanya sambil mencengkeram bagian depan jaketnya. Ia terbatuk sesaat.

“Hyun?? A~apa yang terjadi padamu??” serunya panik. Hyun Ri masih menunduk. Mencoba menghindari tatapan laki-laki di depannya ini.

“Hey!” laki-laki itu memegang kedua bahu Hyun Ri dan memaksanya untuk menatap wajahnya. Oh sial! Itu Jinyoung. Mengapa dia bisa ada disini? Jinyoung menatap yeoja itu lama, dan disaat air mata gadis itu mulai menetes kembali perlahan wajahnya kembali kalut dan tersiksa. Butiran lembut mengalir di pipi Jinyoung membuat Hyun Ri bertanya-tanya. Bukankah ia seharusnya bahagia? Pernikahannya tinggal tiga hari lagi, bukankah itu yang ia harapkan? Tapi mengapa wajahnya seperti itu.

“Jangan menangis Hyun!” sahutnya tiba-tiba merengkuh tubuhku dalam pelukannya yang erat dan hangat. Napas Jinyoung terasa ditengkuk Hyun Ri yang malah membuat gadis itu tidak bisa bernapas dengan benar. Namun satu hal yang tak bisa ia jelaskan, mengapa ketika Jinyoung memeluknya seperti ini, segalanya terasa sempurna. Hyun Ri merasa jauh lebih baik sekarang.

Oh Tuhan, bolehkah ia berharap sekali ini saja? Yah, walau Hyun Ri tau pada akhirnya itu hanyalah mimpi belaka yang tak mungkin terwujud. Tapi bisakah untuk sekali ini saja? Jung Jinyoung, seandainya harapan itu masih ada –sekecil apapun itu- untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu. Tapi, kenyataan begitu kejam padanya. Hyun Ri tersenyum kecut. Seandainya…dan seandainya saja.

“Apa aku mengganggu kalian?” Jinyoung melepas dekapannya dengan tidak rela dan menatap Minho yang tengah menghampiri mereka dengan tatapan tajam nan menusuk.

“Kenapa kau ada disini?” tanya Jinyoung dingin. Ia menoleh ke arah Hyun Ri dan tersenyum lembut sembari menghapus air matanya.

“Itu bukan urusanmu! Jauhkan tanganmu darinya!” Minho merangsek dan memisahkan Jinyoung dari Hyun Ri.

“Apa-apaan ini?” marah Jinyoung. Sejenak keduanya saling bertatapan, seolah mencoba membunuh dengan tatapan. “Kalian berdua hentikan!”  bentak Hyun Ri.

“Apa ada yang ingin kau bicarakan dengan namja ini?” tanya  Minho. Hyun Ri menggeleng, membuat ekspresi Jinyoung berubah kaku.

Minho menarik tangan Hyun Ri, “Ayo kita pergi dari sini!” namun Hyun Ri hanya berdiam diri. Minho menariknya lagi. “Lepaskan aku, Minho.” air mata Hyun Ri jatuh kembali, dan ia menghapusnya. Bahunya bergetar menahan isakan tangisnya.

“Hyun Ri, jebal…” Mihno memohon, namun HyunRi tidak peduli. Ia menghadap ke arah Jinyoung dan dengan bibir bergetar ia menyuruh Minho pergi dari sana.

“Kau bilang kau tidak punya apapun yang ingin kau katakan padanya? Hyun Ri, ini sudah malam. Ayo kita pulang!”

“Aku bisa pulang sendiri Minho, aku hanya ingin mengucapkan selamat padanya.” jawab Hyun Ri. “Pulanglah duluan Minho.” meski enggan, namun Minho akhirnya menurut. Ia meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Hyun Ri bersama Jinyoung.

“Hyun?” Jinyoung membuka percakapan. “Hei, kau baik-baik saja?” dia menjentikkan jarinya beberapa kali di depan Hyun Ri seolah gadis itu orang linglung yang wajib disadarkan. Hyun Ri mengerjap beberapa kali. “Aku baik-baik saja.” sahutnya lemah. Hyun Ri tau ia salah! Ya ia salah telah menatapnya lagi, kini ia harus merasakan gejolak liar yang luar biasa dalam dadanya. Bergemuruh kencang, tanpa bisa dikendalikan.

“Selamat…semoga kau bahagia!” ia menunduk pedih. “Aku…” kemudian ia tersenyum getir. “Aku tidak seharusnya menahanmu disini. Kau boleh pergi, Jinyoung…”

“Hyun…”

“K~Kau seharusnya bersama Krystal sekarang, bukankah…kalian harus ah mempersiapkan pernikahan kalian?”  gumam Hyun Ri dengan suara bergetar, jari-jarinya juga ikut gemetar. Ia merasa mata hitam itu menatapnya tajam. Apa yang kau lihat Jinyoung? Kau ingin membuatku memperlihatkan sisi konyolku padamu? Jebal, jangan lakukan hal ini padaku. Hyun Ri menggigit bibirnya agar isakannya tidak terdengar.

“Bibirmu berdarah…” gumam Jinyoung lagi sambil menyerahkan sapu tangan miliknya. Hyun Ri tersenyum kecut. Ia bahkan tak merasakan sakit apa-apa selain rasa sakit yang luar biasa di dadanya. “P~Pergilah…aku tidak punya hal lagi yang ingin kukatakan!” ujarnya pelan tanpa mengambil sapu tangan itu. Jinyoung memandangnya heran. “Kau mengusirku Hyun?” tanyanya.

“Ya! Aku mengusirmu. Pergilah!” tegas Hyun Ri lagi. “Krystal…pasti membutuhkanmu…sekarang…” Tubuh Hyun Ri gemetar, menahan derasnya sakit yang menghujam perlahan-lahan.

“Kau benar…Krystal pasti membutuhkan aku sekarang.” sergah Jinyoung datar. ia menatap lurus-lurus ke depan. Wajahnya kembali tersiksa dan kalut.

“Kau…” Hyun Ri menelan air liurnya dengan susah payah, “Kau mencintainya…kan?” namun Jinyoung hanya diam saja. “Kalian bahkan akan menjalin komitmen seumur hidup. Apalagi alasan yang rasional selain itu? Bodohnya aku mempertanyakan hal yang sudah pasti begitu!” Hyun Ri berusaha membuat suaranya terdengar biasa-biasa saja, walaupun ia sendiri tak yakin kalau terdengar seperti itu.

“Menurutmu begitu?” Jinyoung menunduk kemudian tersenyum masam. “Bagiku Krystal sudah seperti saudara, dia mengerti aku. Hanya itu. Tapi terima kasih atas pemikiranmu barusan. Well, setidaknya kau menyadarkanku sekarang.”

“Kalau begitu, pergilah Jinyoung. Dan jangan pernah menemuiku tanpa alasan seperti ini, aku tidak mau membuat Krystal ataupun yang lainnya salah paham tentang kita.”

Alis Jinyoung terangkat sinis, “Yang lainnya? Apakah yang kau maksud Minho? Memangnya sejak kapan kau dan Minho bersama?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Kau dan Minho tidak akan pernah bersama, Hyun. Kau tau itu!”

“Itu bukan urusanmu!!” pekik Hyun Ri. “Pergi!” ia mulai terisak lagi. Hyun Ri menyumpahi dirinya yang begitu cengeng dengan sumpah serapah yang ia sendiri tidak tau apa artinya.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” bisik Jinyoung tiba-tiba, sinar matanya melembut.

“Aku baik-baik saja, bukankah aku sudah mengatakannya!” Hyun Ri menunduk. Jinyoung mengangkat wajah Hyun Ri dan berusaha agar gadis itu terus menatapnya. “Aku tanya, bagaimana perasaanmu padaku?”

“Apa maksudmu?” Hyun Ri berusaha menjauh.

“Hyun, kau masih mencintaiku, kan?” tanyanya pelan. Hyun Ri termundur, dia benar! Jinyoung benar! Tapi apa gunanya lagi sekarang? Laki-laki itu akan menjadi milik orang lain dalam waktu tiga hari! Dia milik Krystal!

“Hyun, katakan kalau kau mencintaiku! Katakan Hyun! Kita bisa merubah semuanya, belum terlambat! Hyun!” pekiknya putus asa. “Sama seperti yang dulu, kau pikir perasaan ini akan sirna? Sekalipun aku berusaha, aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyerah, Hyun!” lanjutnya.

“Aku mencint…”

“Hentikan Jinyoung! Jangan katakan itu!” potong Hyun Ri cepat. “Itu semua cuma perasaanmu saja! Aku tidak pernah punya perasaan apapun padamu!” Jinyoung menatapnya tajam, “Jangan bohong Hyun, aku tau semuanya! Cukup! Jangan sakiti dirimu lagi!”

“Apa yang kau harap Jinyoung? Aku sudah mengatakannya! Jadi…” Hyun Ri menutup matanya menikmati rasa sakit di dadanya. “Pergilah dari hidupku, dan…berbahagialah!”

Jinyoung mengerang, “Hyun, kau tau ini semua salah. Yang kuinginkan hanyalah kau, Hyun. Dan aku tau kau menginginkanku sebesar aku menginginkanmu!”

“Tidak! Kau salah!” Hyun Ri memijit pelipisnya sesaat. “Tuhan! Bagaimana bisa kau mendapat kesimpulan itu?”

“Kau sendiri yang bilang harus jujur pada diri sendiri!” tuntut Jinyoung. “Jangan memendamnya sendiri, aku ada di sini sekarang. Katakan saja padaku!” sahutnya lagi.

“Jinyoung, maafkan aku!” Hyun Ri mengepalkan tangannya di kedua sisi. “Aku tidak pernah mencintaimu Jinyoung! Kembalilah pada Krystal! Jangan libatkan aku!” ia langsung berlari. Rasanya sakit, begitu banyak kebohongannya pada laki-laki itu. Masih adakah tempat untuknya? Dalam hati kecil, Hyun Ri sangat ingin memilikinya. Ia sangat ingin berkata bahwa ia mencintainya.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, Shin Hyun Ri!” tiba-tiba saja Jinyoung memeluknya dari belakang. Pelukannya begitu erat dan hangat.

“Jinyoung? Lepaskan aku!” pinta Hyun Ri lemah. Jinyoung menggeleng. “Aku mencintaimu, Hyun! Kau tau? Rasanya sakit! Menyakitkan Hyun! Selama bertahun-tahun aku terus menerus menderita. Kau pikir aku akan melepaskanmu karena telah membuatku merasakan segini perih?” bisiknya lembut.

“Aku mencintaimu…Shin Hyun Ri! Percayalah padaku…!”

“Jinyoung cukup! Aku bukan orang yang bisa hidup bersamamu! Aku bukan orang yang akan kau nikahi, jadi lepaskan aku!” Jinyoung tidak peduli dan malah mempererat pelukannya. “Kenapa tidak? Aku juga ingin sekali hidup bersamamu, aku ingin menikahimu!” ujarnya. Hyun Ri berontak melepaskan diri dan menatap Jinyoung dengan mata berapi-api. “Kau gila! Itu lelucon yang keterlaluan!!”

“Aku serius Hyun!” pinta Jinyoung kesekian kalinya, Oh Tuhan, Hyun Ri ingin sekali mengatakan betapa ia tersiksa tanpanya, betapa ia menginginkannya, betapa ia ingin selalu bersamanya. Bersama Jinyoung.

“Itu bukan aku, Jinyoung!” Hyun Ri menggeleng. “Aku bahkan tidak pernah mencintaimu sama sekali!” ujarnya tegas. Jinyoung menggeleng, ia tidak akan membiarkan dirinya percaya sedikitpun.

“Kalau kau tidak mencintaiku, mengapa kau berusaha mengakhiri hidupmu, Hyun?” mata Hyun Ri membesar, bagaimana Jinyoung tau akan hal itu? Pasti Hyorin yang menceritakannya.

“Hyun? Kenapa kau tidak menjawab?”

Hyun Ri menghela napas, “Apapun yang kulakukan dengan hidupku, itu semua tidak ada hubungannya denganmu, Jung Jinyoung!”

“Hyun, kumohon jangan siksa dirimu. Aku memintamu untuk hidup denganku karena aku tak ingin membuatmu semakin tersiksa. Membuat kita berdua tersiksa.”

“Kau akan membuatku semakin tersiksa seperti ini Jinyoung! Kumohon padamu, tinggalkan aku! Tinggalkan aku!” Hyun Ri mencengkeram jaketnya. Ia menarik napas panjang, “Kau bilang kau mencintaiku? Kalau kau memang mencintaiku, buktikan padaku! Menikahlah dengan Krystal!” tantangnya saat dilihatnya Jinyoung diam membisu.

Itu tidak mungkin…” tolaknya, Hyun Ri menggeleng. Pergilah! Pergilah pada Krystal!” tukasnya kemudian, lalu berbalik dan meninggalkan namja itu seorang diri. Inilah akhirnya. Akhir dari segala-galanya. Jinyoung akan pergi selamanya dari hidupnya, dan itu fakta. Fakta yang sangat menyakitkan.

“Hyun Ri…kau sudah kembali?” tanya Hyorin yang saat itu sedang duduk di ruang tamu bersama Minho. Namun Hyun Ri tidak menyadari keberadaan namja itu disana. Kepalanya terasa berat, dan yang ia inginkan saat ini hanyalah tempat tidurnya dan beberapa butir obat tidur.

“Hyun Ri, apa yang terjadi padamu?” Tanya Hyorin, ia mengguncang-guncangkan tubuh sahabatnya. Dan tepat di saat itu, Hyun Ripun ambruk. “Omo!! Hyun Ri-ah gwaenchanayo?” Hyorin lantas menyuruh Minho memapah Hyun Ri ke kamarnya

“Kau baik-baik saja?” Hyorin bertanya cemas, setelah mereka sampai di kamar Hyun Ri. Minho memberinya minum. Hyun Ri mengangguk lemah, kepalanya terasa berdenyut-denyut.

“Apa perlu kupanggil uisa kesini?” tanyanya. Hyun Ri menggeleng lemah.  “Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu Hyun Ri-ah…” pinta Hyorin. “Tidak ada yang terjadi…” Hyorin menggeleng, ia memaksa Hyun Ri berbicara hingga untuk kesekian kalinya ia menangis.

“Aku…aku mencintainya…mencintai orang itu!” isak Hyun Ri seolah meratap. Hyorin memeluknya, dan ikut terisak. Minho tersandar lemas di pintu kamar, setelah mendengar pembicaraan itu, setelah melihat Hyun Ri begitu tidak berdaya karena perasaan cintanya. Hanya satu yang bisa ia lakukan sekarang untuk menebus kesalahan yang pernah ia buat dulu.

 

 

“Kenapa jadi rumit begini? Padahal bisa saja tidak seperti ini…” bisik Hyorin dalam hati. Dia menatap sahabatnya yang sedang mengocok telur. Ya, mereka berdua sedang memasak untuk mempersiapkan hari pernikahan Jinyoung. Hyorin berkeras untuk membuat kue pengantin, meski Jinyoung sudah mengurus semuanya. Dan begitulah Hyorin, ia tidak pernah mau mengalah dengan oppanya sampai saat-saat terakhir.

“Kenapa kau diam saja?? Bukankah tadi kau bilang kau ingin aku membantumu?” tuntut Hyun Ri sambil menatap kesal pada Hyorin yang diam memandang coklat yang sedang dilelehkannya.

“Menurutmu…apa aku harus memberikannya pada Kai?” Tanya Hyorin kemudian, Hyun Ri tersenyum. “Tentu saja!! Yah, walau ku tau dia bukan tipe orang yang akan memujimu nantinya! Tapi apa salahnya mencoba?”

“Kau mau buat juga?” Tanya Hyorin, Hyun Ri menggeleng. “Aku tidak punya keberanian sepertimu! Aku cukup puas dengan memakan kue buatanku sendiri, tanpa harus dikritisi oleh namja itu!” ujarnya cuek sambil memakan choco chips.

“Memang dia sebegitu jahatnya padamu ya? Tapi rasanya dia tidak begitu padaku…” mata Hyorin menerawang. Hyun Ri hanya tertawa sambil menggeleng-geleng. Mana mungkin Kai bisa jahat padanya, yang benar saja! Hyorin kan yeojachingunya. Terlebih setelah apa yang ia alami bersama Kai di FF yang lalu *baca The Reason 1-2 (author promosi ^^)*

Yang jahat itu oppamu, kau tau, meski kita sudah melakukan ini semua, tapi dia tetap memesan kue pengantinnya.”

Hyorin terkejut dengan topik yang di angkat Hyun Ri. Ia kira sahabatnya itu akan tabu mengatakan apapun mengenai Jinyoung seumur hidupnya. “Kurasa itu hanya tindakan pencegahan, oppa tau aku tidak pandai memasak. Selama ini yang memasak kan dia. Makanya oppa tidak mau mengambil resiko dengan membiarkanku mengurus kue pengantinnya. Memang caranya sangat tidak jujur, tapi kurasa itu yang terbaik.”

“Bicara soal tidak jujur.” Hyun Ri menatap Hyorin dengan tatapan menuduhnya. “Adakah hal yang ingin kau ceritakan, Jung Hyorin?”

Hyorin mengangkat bahu, tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Kau tau…” Hyun Ri tersenyum dengan susah payah. “Tentang insiden konyolku di sungai Han. Apa kau memberi tau Jinyoung tentang itu?”

“Konyol?” Hyorin tersenyum mengejek. “Aksi nekatmu itu sungguh keterlaluan jika di label sebagai kejadian konyol, Hyun Ri-ah.” ia menggeleng-geleng geli sembari mengocok krim.

Hyun Ri menyipitkan matanya. “Kau tidak menjawab pertanyaanku, Hyorin-ah!”

“Tentang apa?” tanya Hyorin polos.

“Hyorin!!” kesal Hyun Ri tidak sabar.

“Baiklah, baiklah! Aku tidak mengatakan apapun pada oppaku! Puas?” ujar Hyorin. Hyun Ri menggeleng, “Lantas mengapa dia bisa tau? Kau pasti bohong!”

Hyorin melemparkan tatapan tersinggungnya. “Aku tidak bohong!”

“Kalau tidak kenapa Jinyoung bisa tau? Pasti kau yang memberi taunya, kan?”

“Aku tidak memberitaunya! Sumpah! Oppa melihatnya…” Hyorin menutup mulutnya.

“Melihat apa? Apa maksudmu?”

“Oh Tuhan!”

“Hyorin, kesabaranku ada batasnya! Beritau aku yang sebenarnya sekarang!”

“Memberitaumu tentang apa?” tanya Hyorin polos. Hyun Ri menatapnya kesal. “Hyorin!!” bentaknya tidak sabar. Ia jadi berhasrat mencekik sahabatnya itu. “Kalau kau masih bersikap begitu, aku akan melemparmu dari jendela!”

“Dasar yeoja sadis, kau tidak akan mendapat suami jika bersikap begitu terus!”

“Hyorin!”

“Baiklah, baiklah! Dasar tidak sabaran!” Hyorin menghela napasnya dengan cara yang dibuat-buat membuat Hyun Ri menggertakkan giginya kesal. “Sudah seharusnya aku berkata jujur, sebenarnya oppa melarangku mengatakannya. Tapi hari itu, dia mengikutimu dan melihatmu melompat ke dalam sungai. Ia yang menyelamatkanmu, namun saat itu kau sudah tak sadarkan diri. Aku tidak tau harus menghubungi siapa lagi, jadi aku menghubungi Minho. Dan selebihnya kau tau sendiri bagaimana.”

“Maksudmu, dia yang menyelamatkanku saat itu? Bukan Minho?” tanya Hyun Ri kaget. Hyorin mengangguk. “Oppa membuatku berjanji untuk tidak mengatakannya padamu, tapi kau membuatku melanggarnya!”

“Kau lebih sayang nyawamu dari oppamu sepertinya!” Hyorin terkekeh, begitu pula Hyun Ri. Rasanya aneh, memaksakan tawa disaat ia sangat tidak ingin tertawa. Tapi apalagi yang bisa dilakukannya? Bukankah semua sudah berakhir? Bukankah ia sudah menyerah? Bukankah ia harus berhenti mencintainya mulai sekarang? Meski Jinyoung menolongnya waktu itu, apa gunanya lagi? Besok laki-laki itu resmi menjadi milik orang lain. Kendatipun begitu, mengapa Hyun Ri merasa ada yang salah disini?? Oh sial! Kenapa lagi-lagi perasaannya begini?

“Yah! Shin Hyun Ri! Kenapa kau masukkan soda kue sebanyak itu??” seru Hyorin membuat Hyun Ri terkejut akan lamunannya. Oh sial! Apa yang sudah dilakukannya?

“Kau melamun lagi, kan??” omel Hyorin sambil berkacak pinggang.

“Tidak, aku tidak melamun!!” bantah Hyun Ri. Hyorin memutar bola matanya. “Kau pikir ini tidak membuktikannya? Apa yang kau lamunkan kali ini, Hyun Ri-ah?? Kau membuat kue-kue untuk Kai hancur berantakan!”

“Aku tidak melamun! Aku hanya….hanya lebih suka kue ku lebih lembut!! Berhenti mengomentariku!” tukas Hyun Ri seperti anak-anak sambil mengaduk-aduk kasar adonan kue. Hyorin akhirnya bersyukur pada oppanya yang memilih untuk memesan kue pengantinnya, jelas kue seperti ini tidak layak untuk disantap di hari bahagianya.

 

 

Musik mengalun pelan seiring langkah sang pengantin yang berjalan lambat, semua orang yang hadir berdecak kagum melihat Krystal. Tentu saja, siapapun akan merasa kagum melihat pengantin wanita secantik ini. Krystal nampak begitu anggun dengan rambut hitam legamnya yang ditata rapi itu. Kulitnya semulus kulit bayi dengan pipi semerah mawar. Siapapun tau kalau gadis itu memiliki paras yang tidak ada bandingannya. Hyun Ri patut merasa iri dengannya. Krystal adalah gadis yang baik, yang ia bahkan tak mungkin bisa menandinginya. Sisi feminim Krystal benar-benar bertolak belakang dengannya. Wajar saja jika Jinyoung juga menyukainya. Rasanya, tak ada seorangpun di dunia ini yang mampu menolak gadis sepertinya.

Tiba-tiba saja perasaan kesal kembali menjalar. Kenyataan bahwa ia tak mungkin menandingi Krystal memicu amarahnya. Ia tak pernah merasa harus seperti ini pada orang lain. Ia cukup berpuas diri dengan keadaannya, tapi entah mengapa sekarang terasa berbeda. Mungkin perbedaan itulah yang membuatnya frustasi dan merasa cemburu. Hyun Ri menutup mata dan berusaha keras meredam kemarahannya.

Akhirnya Krystal sampai di tempat Jinyoung. Jinyoung memegang tangan Krystal, menjemputnya hingga ke sisinya. “Hyun Ri, kau baik-baik saja?” Tanya Kai seraya memegang pundak Hyun Ri yang gemetar, gadis itu mengangguk. “Ini pilihanku!” ia bergumam, mempertegas pada dirinya sendiri. Apapun yang terjadi, tidak akan ada kata menyesal.

“Hyun Ri!” panggil Hyorin. “Kau bisa saja mengubah segala sesuatunya, Hyun Ri-ah!” bisiknya, Hyun Ri menggeleng.

“Aku tidak melihat Minho dimanapun!” ujar Min Tae, salah satu sahabat Hyorin yang lain.

“Mungkin Hyung tidak mau melihat pernikahan ini. Kurasa Hyung masih mencintai Krystal segitu dalam.” ujar Taemin menjelaskan. Baginya Minho seperti kakak, teman terdekat yang dimilikinya setelah Kai (kesahnya), jadi ia sangat paham bagaimana perasaan Minho saat ini. “Mungkin dia ingin patah hati dengan keren ya? Si Minho itu!” Kai menimpali.

Hyorin mengangkat bahunya, “Hanya Tuhan yang tau itu.”

“Jung Jinyoung, apakah kau bersedia menikah dengan Krystal Jung dan menjaga cinta kalian hingga maut memisahkan?” Hyun Ri menahan napasnya, menunggu detik-detik jawaban dari Jinyoung. Dalam hati kecil ia berharap Jinyoung akan menolaknya, tapi itu hal yang mustahil kan?

“Saya bersedia!” jawab Jinyoung lantang. Oh my, air matanya sudah tak bisa terbendung lagi, dadanya serasa tercabik, Hyun Ri berdiri, ia ingin melarikan diri dari sana.

“Krystal Jung, apakah kau bersedia menerima Jung Jinyoung dan mencintainya sampai maut memisahkan?”

“Saya bersedia!” Krystal menjawabnya dengan kalem. Semuanya lantas bersorak bahagia.

Hyun Ri sudah setengah jalan menuju pintu dan terhenti tiba-tiba. “Tunggu dulu!!” sebuah suara lantang terdengar membahana ke seluruh ruangan. Semua mata tertuju padanya, pada laki-laki itu. Pada Choi Minho.

“Batalkan pernikahan ini!” ujarnya dingin. Semua yang hadir terkesiap dengan kata-katanya. “Minho, apa yang kau…”

“Diam!” Minho memotong pertanyaan Hyun Ri. “Batalkan pernikahan ini, Jung Jinyoung! Aku tau kau tidak mencintai Krystal, yang kau inginkan hanyalah Hyun Ri, gadis itu.” tunjuk Minho. Melihat dirinya menjadi sasaran utama para penonton, Hyun Ri melarikan diri, namun aksinya dihentikan oleh Kai dan Taemin.

“Apa-apaan kalian?” marah Hyun Ri.

“Sudah saatnya kau berkata jujur Hyun Ri. Aku tidak ingin melihatmu semakin lama tersiksa.” ujar Hyorin yang ikut berdiri dan menatap sahabatnya yang berusaha melepaskan diri dari dua namja ganteng yang mengekangnya. “Kalian gila!! Lepaskan aku! Ini acara pernikahan, apa yang kalian pikirkan?”

“Kami memikirkan perasaanmu, Hyun Ri-ah.”

“Kalian gila!” pekik Hyun Ri.

“Tolong batalkan pernikahan ini. Kedua mempelai tidak saling mencintai, mereka hanya berusaha melarikan diri dari kenyataan dengan jalan menikah. Bukankah cara seperti itu tidak layak disebut pernikahan?”

“Apa maksudmu?”

“Krystal, apa kau serius mencintai Jinyoung? Selama ini kau hanya mencintai Hyungku!” ujar Taemin setengah berteriak. Krystal menjadi serbasalah, dia hanya terdiam.

“Jawab aku Krystal! Kau bilang kau hanya mencintai Hyungku dari dulu!”

“Aku…” Krystal terpekur. “Jinyoung aku…” ia kemudian melepas cincinnya dan memberikannya pada namja itu. “Aku tidak bisa melakukan ini. Maafkan aku.” ia berlari sambil menangis, dan Minho mengejarnya.

Akibat kejadian itu, pegangan pada Hyun Ri mengendur. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Kai dan Taemin baru hendak mengejarnya, ketika Jinyoung menghentikan mereka dan mengejar gadis itu.

 

 

Ia terus berjalan di jalanan sepi itu mencari-cari sesuatu yang membuatnya tidak sanggup untuk melepaskannya. Air matanya menetes deras seiring hujan yang mulai turun. Kelamnya langit hari itu membuatnya yakin, ia tak mungkin bisa bersamanya, dan mengatakan apa yang seharusnya ia katakan sejak dulu. Bahwa ia mencintainya, mencintai yeoja itu.

“Jinyoung…” Hyun Ri menahan napasnya. “Ini gila. Kita bahkan membenci satu sama lain!”

“Demi Tuhan! Hanya kau yang berpikiran begitu Hyun, sementara aku mendapati diriku terus menerus mencintaimu meski aku semestinya membencimu atas semua yang telah kau lakukan padaku. Tapi aku tidak pernah sungguh-sungguh membencimu.” yeoja itu berdiri tepat enam meter dihadapannya. Bibir gadis itu membentuk seulas senyum tipis yang mampu menggetarkannya. Ia memandangi gadisnya dengan kekaguman seolah ia telah dibutakan dan gadis itulah satu-satunya cahaya yang ada.

“Aku sudah berusaha keras memeranginya, tapi aku tidak bisa membohongi diriku terus menerus karena aku menginginkanmu.” Jinyoung menatap mata yeojanya yang gelap yang perlahan meneteskan cairan bening. “Aku mencintaimu, Shin Hyun Ri. Sepenuh hatiku…”

Mendadak sebuah cahaya terang membutakan matanya, dan segalanya berubah begitu cepat. Ia mendengar lengkingan tajam, seolah udara terkoyak-koyak di depannya. Detik berikutnya yang disadarinya ialah ia terpental sejauh dua meter dari tempatnya berdiri tadi, tanpa bisa menggerakkan satupun anggota tubuhnya. Bau darah menyeruak membuat kabur pandangannya sesaat sebelum ia mengerti apa yang terjadi padanya. Hyun Ri menyentuh uluran tangan Jinyoung, dan menahan rasa sakit yang menghantamnya. Mereka saling bertatapan dalam waktu yang lama.

“Na do…saranghae…Jung…Jinyoung…”

Ia masih menatap namjanya yang terbaring sejauh satu meter disisinya sebelum semuanya menjadi gelap.

Sekarang, ia punya kata-kata untuk mengungkapkan kebenaran pada dirinya sendiri. Bahwa kisah cintanya berakhir disini. 

 

 

Seandainya harapan itu masih ada –sekecil apapun itu- untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu. Sayangnya, kenyataan terlalu kejam untuk dihadapi. Yang membuat kita tersadar bahwa cinta terkadang tidak seperti kisah dalam negeri dongeng yang selalu berakhir dengan bahagia. Jadi jangan pernah menyesali keadaan yang tidak sempurna, karena sesungguhnya segala yang telah diberikan kepada kita itulah yang terbaik.

 

 

*END*

 

ahhh,,, sudah berakhir T_T

yaudin, yg penting qt tau bahwa tidak semua kebahagiaan itu bersumber dari kehidupan,, tapi kebahagiaan bisa didapat dengan kematian juga (ngomong apa sih saia? –)

kritik komen saran yg membangun sangat diharapkan untuk kemajuan penulisan. Thanks udah pada baca, jangan kapok yaa😀

Posted 30 Juli 2013 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: