[FF] AFFIRMATION – PART 2   Leave a comment


nih lanjutannya, monggo ^^

Affirmtion-(part-2)


AFFIRMATION

Author: author yng cantik jelita ===> DNA

Genre : Sad-Romance

Cast:

Shin Hyun Ri (anggap aja itu kalian)

Jung Jinyoung B1A4

Jung Hyorin (me ^^)

and other,, find them urself ^^

 

===============

Sejak hari itu, Hyun Ri selalu merasa gelisah dan galau di setiap waktunya. Ia yang pada dasarnya memang tempramen menjadi lebih cepat marah daripada biasanya. Setiap kali ia melihat namja tinggi dengan senyum lebar membuatnya gelagapan sendiri, jantungnya tidak mau bekerja sama dengannya. Walaupun kerap kali ia berusaha memerintah dirinya sendiri untuk berhenti dan melupakan laki-laki itu, namun tubuh pengkhianatnya tidak mau mendengarnya. Ini tidak adil! Jinyounglah yang seharusnya dihantui oleh Hyun Ri. Bukan sebaliknya.

“Jinyoung sialan, kenapa dia membuatku selalu merasakan ini?”

Dia mengumpat, menyumpah dan memaki Jinyoung setiap harinya hanya untuk meredakan rasa sakit hati yang tak kunjung sembuh. Ia tidak tau sakit hati untuk apa, dirinyalah yang membuat Jinyoung terluka. Bukan kebalikannya, namun kenapa dia merasa seperti ini? Apakah ini pembalasan lain dari Jinyoung padanya?

Hyun Ri menatap langit yang suram, berwarna kelabu, persis menggambarkan perasaannya. Ia melihat Hyorin berjalan menghampirinya.

Plakk!!

Sebuah tamparan keras dilayangkan Hyorin pada sahabatnya sendiri.

“Aku tidak percaya kau tega berbuat begitu padaku! Pada oppaku!” geram Hyorin. “Aku sudah memperingatkanmu sebelum ini, Shin Hyun Ri. Beraninya kau…” air mata jatuh menggenangi kelopak mata Hyorin yang langsung dihapusnya.

“Sahabat macam apa kau? Mempermainkan oppaku seperti itu. Kau pikir kau siapa?”

“Aku berhak memilih Hyorin! Kau tidak mengerti apa-apa.”

“Kau tidak bermain jujur, Hyun Ri. Kukira kita sahabat!”

“Jangan bicara padaku tentang bermain dengan jujur, Jung Hyorin.” bentak Hyun Ri. “Asal kau tau saja, oppamu tidak sebaik yang kau kira! Dia mengambil keuntungan dariku.”

“Dia tidak akan melakukan itu, kalau saja kau bisa menjaga sikapmu!”

“Kau tidak mengerti situasinya, Hyorin! Kalau kau tau…”

“Tidak!” bentak Hyorin sambil berjalan menuju pintu, ia berbalik menatap yeoja yang pernah disebutnya sahabat itu, “Tidak ada satu katapun yang bisa kau ucapkan untuk memperbaiki keadaan, Shin Hyun Ri. Satu-satunya penyesalan yang kupunya adalah pernah menganggapmu sebagai sahabatku!” kemudian ia pergi tanpa menoleh lagi. Dan sisa hari Hyun Ri pun semakin kelam.  

 

 

Hari-hari Hyun Ri tetap berlanjut meski ia ingin sekali mengakhirinya. Tanpa disadarinya, Minho mulai mendekatinya, dan itu membuatnya senang. Setidaknya mimpinya terwujud, meski ia masih merasakan kekosongan tak berarti dalam hidupnya.

Hyun Ri bersandar di sebuah bangku sembari menatap langit sore yang berwarna kemerahan. Sinarnya memantul ke segala arah dan mengenai rambutnya. Langit sore nampak bersahabat dan membuat suasana hatinya membaik. Terlebih setelah ia mengingat kejadian beberapa saat yang lalu saat Minho menyatakan perasaannya. Ia seolah menjadi orang yang paling bahagia yang bisa ia tunjukkan. Segala sesuatunya sempurna, hidupnya sempurna.

Selama berminggu-minggu ia dan Minho saling memupuk cinta kasih. Hyun Ri semakin menyukainya. Ia mencintainya namja itu, seakan tak ada yang bisa merubah posisi Minho dihatinya bahkan dirinya sendirimungkin takkan sanggup karena panah yang telah ditancapkan oleh sang malaikat cinta telah tertancap dalam bahkan mengakar di hati Shin Hyun Ri. Tumbuh dan berbunga mekar nan indah seindah kisah cinta mereka yang dirajut dengan benang kasih dan diselimuti oleh rasa cinta yang terus menerus diberikannya pada laki-laki yang telah menghiasi hidupnya selama dua tahun belakangan.

Namun itu semua tidak bertahan lama. Tidak ada kesempurnaan dalam sebuah hubungan, dan Hyun Ri baru menyadarinya setelah sekian lama.

Pagi itu, ia merenung seorang diri dikamarnya yang terasa sunyi. Pikirannya terpecah belah. Berkali-kali ia mencoba menghubungi kekasihnya itu namun nihil. Tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya, dengan iseng ia membuka laptopnya, tampak sebuah foto namja berjaket cokelat yang kini sedang duduk di bandara tersebar di situs jejaring sosial. Napas Hyun Ri mulai memburu sesak, bisa dirasakannya sensasi panas di dadanya semakin membara, seolah membakar jantungnya. Membakar seluruh organ dalamnya, hingga ia bergetar hebat.

Spotted- Choi Minho di Bandara Internasional Incheon seolah sedang menunggu seseorang. Tapi satu hal yang kita tau bahwa orang yang ditunggu itu pastilah bukan kekasihnya, Shin Hyun Ri. Pertanyaannya adalah, siapakah yang ditunggunya?

Air mata Hyun Ri perlahan-lahan mulai jatuh, ia ingin menariknya masuk tapi tak kuasa. Ia mengepalkan jari-jarinya hingga buku-buku jarinya memutih ketika membaca sebuah kata selanjutnya, yakni sebuah nama yang tidak ingin didengarnya saat ini. Krystal.

“Apa artinya ini semua? Tidak mungkin Minho…”

Tanpa berpikir panjang, ia melajukan mobilnya saat memasuki kota Incheon, dan langsung menuju D.Lite café di bandara Internasional itu. Setelah memarkirkan mobil, Hyun Ri lantas masuk ke dalam café itu dengan perasaan kosong. Matanya menyapu seisi ruang, dan tertuju pada sosok dua orang yang terasa familiar. Choi Minho!! Dan…napasnya terasa sesak seketika, menyadari siapa dan apa yang dilakukannya. Minho memeluk teman sekelasnya sewaktu SMA dulu yang bernama Krystal! MEMELUK????

Amarah bercampur rasa sakit yang luar biasa memenuhi dada Hyun Ri. Tanpa terasa air matanya tumpah. Perih.

“Ah…payahnya aku…kenapa aku menangis?” ia menyeka air mata yang turun membasahi kedua pipinya. Ia merangsek maju mendatangi kedua sejoli itu. Matanya menatap nanar ke arah Minho yang tidak nampak kaget sedikitpun atas kehadirannya.

“Nampaknya kau sedang sibuk sekali ya, Minho…”

“Hyun Ri-ah…kenapa kau ada disini?”

“Memangnya aku tidak boleh ada disini? Atau kau punya alasan tertentu mengapa aku tidak boleh ada disini?” nada suaranya berubah sakartis. Minho menarik tangan Hyun Ri mencoba menjelaskan segalanya namun Hyun Ri mengibaskannya. Ia benar-benar marah sekarang. Dan itu dibuktikan dari tatapan tajamnya yang seolah mampu membunuh.

”Hyun Ri-ah, kau salah…”

“Jangan sentuh aku!” bentak Hyun Ri tajam. Sontak, mereka jadi bahan tontonan di restoran itu.

“Hyun Ri, aku bisa jelaskan ini semua…dengarkan aku…”

“Simpan saja alasanmu buat yeoja lain, Minho. Aku tidak tertarik.” ujarnya sambil menahan keinginan untuk menumpahkan air matanya. “Kau bersamanya dibelakangku. Aku punya mata Minho, aku juga tidak bodoh. Apalagi alasan logis dari keberadaan kalian berdua disini?” bentaknya lagi.

“Shin Hyun Ri, kau tidak pernah bersikap begini sebelumnya. Apa yang terjadi padamu?” Mino memegang bahu Hyun Ri yang membuat gadis itu berontak. “Apa yang terjadi padaku? Kau yang membuatku begini, dasar sial!”

Plaakk…

Tamparan keras ditujukan Hyun Ri untuk Minho, namun tidak dapat menggoyahkannya, hanya mengejutkannya. Minho terkejut karena Hyun Ri memiliki keberanian semacam itu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Kemudian Hyun Ri berlalu dan keluar dari restoran dengan perasaan hancur.

Rinai hujan turun satu persatu seperti bintang perak yang dijatuhkan dari langit, menyambut Hyun Ri. Gemuruh mulai terdengar bersahutan, bunyinya serasa mengiris hati.

Ia membiarkan dirinya basah oleh derasnya hujan yang mengguyur permukaan bumi. Dinginnya air yang menerpa kulitnya seolah tak terasa dibandingkan rasa sakit yang merajalela. Tapi…siapakah yang peduli akan hal itu?

“Hyun Ri-ah!!!!” seru seseorang di belakangnya. Tanpa menolehpun Hyun Ri tau siapa pemilik suara lembut itu. Tapi, meski ia tak ingin melihat namja itu saat ini. Ia tetap berbalik dan menemukan Minho berdiri seratus meter di depannya dengan napas terengah.

 

 

[Now playing: Adele – Rolling in the deep]

The scars of your love remind me of. They keep me thinking that we almost had it all

Ditengah hujan yang deras ini ia berjalan seorang diri. Tak ada yang melihat, tak ada yang peduli. Hatinya terasa hampa, dan sakitnya serasa ingin membunuh. Pikirannya kembali mengawang, seolah memutar balik kejadian itu. Dadanya perih setiap kali ia mengingat jejak-jejak memori yang terekam jelas disudut otaknya. Seolah otaknya tidak mampu bekerja tanpa mengingatnya.

The scars of your love, they leave me breathless I can’t help feeling

“Aku punya prinsip untuk tidak menyakiti orang lain, Lebih baik bagiku untuk tersakiti daripada menyakiti. Kau mengerti kan? Sejak awal ini adalah sebuah kesalahan. Aku tak memiliki perasaan seperti anggapanmu selama ini, sekalipun aku berusaha mencoba.” Aku menggeleng kuat. Air mataku kembali berjatuhan perlahan. Dadaku benar-benar terasa sesak. Kenapa? Kenapa? Kenapa berkata seperti itu padaku? Kenapa kau tega menyakitiku sampai seperti ini.

“Aniya Minho…andwae…”

“Kau harus mengerti! Aku tidak ingin menyakitimu lebih dari ini! Lebih baik kita mengakhiri segalanya, sebelum benar-benar terlambat.” kata-kata Minho barusan menghujamnya. Hyun Ri tersenyum kecut, terlambat? Ini semua lebih dari terlambat. Harusnya Minho tau itu, tapi mengapa ia tidak pernah peduli dengan rasa sakitnya? Mengapa ia memilih menyakitinya di atas luka-luka yang dilaluinya?

“Aku menyukainya. Yeoja itu. Sejak dulu. Aku pernah menyatakan perasaanku, namun ditolaknya. Mungkin aku sedang frustasi saat itu dan menerima perasaanmu yang mana kusadari sekarang bahwa itu adalah sebuah kesalahan.” Hyun Ri mendongak dan menatapnya dengan amarah yang tak lagi mampu dikekangnya bila berhadapan dengan namja ini. Seolah semua emosinya selama ini berkumpul dan ia berusaha keras menekan keinginannya untuk menyakiti secara fisik laki-laki ini, saat ia mengatakan bahwa semuanya adalah kesalahan.

We could’ve had it all, rolling in the deep

“Bagaimana mungkin menjadi kekasihku adalah suatu kesalahan? Bersamaku hanya karena frustasi, apa kau sadar yang kau katakan? Ayolah, kau menyadarinya Minho. Kau lebih baik dari ini kan? Mengapa kau ingin menyakitiku begini?” kata-kata pedas yang tersusun diotaknya lagi-lagi buyar, sumpah serapah yang dipikirkannya pun tak sedikitpun keluar dari mulutnya. Hyun Ri mengutuk dirinya sendiri yang telah memohon-mohon pada Minho, namja yang bahkan tidak memperdulikan segalanya tentang dirinya.

“Mianhae Hyun Ri-ah…” kemudian namja itu berlalu tanpa menoleh ke belakang lagi. Meninggalkan Hyun Ri dan lukanya seorang diri. Ia menghela napasnya dan tersadar bahwa hari ini adalah hari terakhir ia bisa melihat Minho sebagai kekasihnya.

You had my heart inside of your hand, but you played it to the beat

Hyun Ri menutup matanya, membiarkan air hujan membasahinya, menyapu air mata dan perasaan luka yang semakin perih. Rasa panas di dadanya menambah rasa sakit yang sudah ada. Ia berpegangan pada salah satu tembok batu tua, dan memukulkan tangannya berulang kali melampiaskan rasa sakitnya. Ia berharap rasa sakit ditangannya akan mengalihkan segalanya.

Hyun Ri mengelap air matanya, dengan penuh amarah. Ia memang patah hati, tapi menangisi Minho? Seandainya saja ia bisa melukainya dengan cara yang sama seperti laki-laki itu melukainya. Ia akan melakukan apa saja untuk itu. Apa saja untuk membalaskan rasa sakit yang dialaminya.

“Apa salahku? Yang kulakukan hanyalah mencintaimu sepenuh hatiku. Mengapa itu menjadi kesalahan?”

 

 

“HYUN RI!!!!” jerit Hyorin sekeras mungkin. “Yaah!! Shin Hyun Ri!!! Aku tau kau mendengarku, berhenti disana!!” Hyorin kemudian berlari dan mencoba menghentikan Hyun Ri sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.

“Jebal…dengarkan aku…” Hyorin menahan tangan Hyun Ri yang ditangkis oleh si empunya. “Buat apa kau kemari?” Hyun Ri memalingkan wajahnya. Tak bisa dipungkirinya, air matanya mulai menggenang. Kebiasaan kah? Setiap ada masalah ia selalu berlari ke Hyorin dan menceritakan segalanya. Namun sekarang, ia tak punya siapapun disisinya. Tidak ada Hyorin, tidak ada Minho atau siapapun.

Dan hal yang paling menyakitkan adalah tidak ada yang peduli dengan luka-luka yang dirasakannya. Mereka seolah buta akan rasa sakit Hyun Ri. Ya, rasa sakit yang kian menggerogotinya tanpa ampun.

“Aku lihat di internet tentang kau…dan Minho!” ujar Hyorin pelan. Terlihat kepulan asap putih keluar dari bibirnya yang bergetar. Ia menghapus air mata Hyun Ri.

“Aku tidak bisa mencegahnya, tubuhku langsung reflek untuk menemuimu! Kurasa karena kebiasaan…” Hyun Ri menunduk, air matanya semakin deras mengalir. Badannya gemetar. Hyorin merengkuh tubuh Hyun Ri erat.

“Aku putus dengan Minho. Tapi tidak ada gunanya aku cerita padamu. Kau toh tidak peduli dengan perasaanku semenjak…” Hyun Ri menelan air liurnya dengan susah payah. “Semenjak kau memutuskan untuk pergi dari hidupku dan tidak peduli dengan perasaanku!!” isak Hyun Ri.

“Hyun Ri-ah, kau tau aku tidak mungkin begitu padamu, kau sahabatku! Aku akan selalu bersamamu!” Hyorin menatap Hyun Ri dan menghapus air matanya kembali.

“Bersamaku?” Hyun Ri tertawa sakartis. “Bagiku tidak terlihat seperti itu!!” ia menghempas tangan Hyorin.

“Hyun Ri aku tau, aku salah. Aku egois, dan aku bodoh tidak bisa memahami perasaanmu. Aku menyayangi oppaku dengan hidupku. Cuma oppa satu-satunya keluarga yang kupunya. kemarahanku waktu itu semata karena aku tidak ingin satu-satunya keluargaku terluka seperti itu.” Hyorin mulai menangis.

“Hyun Ri, kau tau…aku akan selalu bersamamu!! Aku selalu menjadi sahabatmu!!”

“Sahabatku? Yang benar saja Hyorin! Dimana kau saat aku benar-benar membutuhkanmu? Kau tau kau adalah satu-satunya sahabatku, semarah apapun aku padamu aku tidak akan pernah benar-benar pergi meninggalkanmu. Seharusnya kau juga begitu. Tidak peduli semarah apapun kau saat itu, semestinya kau tidak pernah benar-benar menginginkanku pergi dari hidupmu!”

“Hyun Ri-ah…”

“Tapi sepertinya aku salah.” Hyun Ri menatap Hyorin seolah ia kecewa. “Annyeong, Hyorin!” dia berbalik dan meninggalkan Hyorin yang meringkuk memeluk lututnya. Hyorin menutup matanya sambil berbisik pelan, “Oh Tuhan.”

 

 

Suasana hati Hyun Ri semakin memburuk meski ia sudah kembali dari Incheon. Akal sehatnya terkurung rapi membuatnya seperti serigala yang siap menerkam siapapun yang mengusiknya sampai orang-orang itu menjauhinya seperti wabah penyakit. Tidak ada yang bisa memperbaiki suasana hatinya yang buruk, semua terlihat salah di matanya. Semua terasa salah baginya. Tidak ada satupun hal yang membuatnya senang. Udara musim dingin membuatnya marah, suara orang-orang yang mengobrol di dekatnya membuatnya semakin jengkel.

Dan entah sudah berapa minggu suasana hatinya tak kunjung juga membaik, meski ia sudah berbaikan dengan sahabatnya sekalipun, hal itu tetap juga tidak merubah apa-apa. Sehingga akhirnya, disuatu sore yang kelam, ia putuskan untuk berjalan seorang diri tanpa memperdulikan apapun pandangan orang lain terhadapnya.

“Hmm, tampangmu sangat kacau. Hyun!!” suara seseorang menghentikan langkah Hyun Ri. Suara yang anehnya, ia rindukan. Seorang laki-laki berdiri angkuh di depannya. “Jinyoung?” gumam Hyun Ri pelan, lebih pada ejekan. Kenapa ia harus bisa bertemu dengan namja itu disini, sekarang? Kenapa harus disaat penampilan dan perasaannya seperti ini. Ia sedang tidak bertenaga untuk melakukan apapun demi membalas perbuatan laki-laki itu terakhir kali padanya. Kenapa dia muncul sekarang setelah mengatakan bahwa ia tidak akan muncul dihadapannya lagi?

“Mau apa kau?” Tanya Hyun Ri kasar, Jinyoung hanya tersenyum. Yah, senyum penuh kemenangan. Membuat Hyun Ri muak melihatnya. Oh, seharusnya ia tau kalau ini akan terjadi. Jinyoung pasti akan datang menuntut pembalasan kejam atas perbuatannya dulu saat memanfaatkan laki-laki itu. Tapi kenapa harus disaat seperti ini? Tak peduli betapa sakitnya luka yang ditorehkan Hyun Ri padanya, Jinyoung tetap saja tak punya hak untuk menyakitinya dengan sangat buruk.

“Melihatmu hancur…” jawab Jinyoung singkat. Jawaban yang sudah diduga-duga sebelumnya, namun entah mengapa hatinya tetap saja merasa terhujam sakit. “Apa yang terjadi denganmu, Hyun?”

“Aku takkan membahasnya,” Hyun Ri menjawab dengan sulit. “Pergilah, Jinyoung!”

Mata Jinyoung menyipit mendengar nada suara Hyun Ri yang tajam. “Tidak! Kita harus bicara, Hyun!”

“Tidak. Aku tidak ingin bicara denganmu!”

“Tapi kita tidak bisa terus begini dan…”

“Aku lelah bertengkar denganmu, Jinyoung! Jadi pergilah, aku tidak ingin melihatmu lagi.”

“Apakah aku sangat buruk bagimu, Hyun-ah?” tanya Jinyoung lembut.

“Ya.” jawab Hyun Ri datar. Namun Jinyoung menggeleng, “Masalahnya sebenarnya adalah kita bertengkar disaat kita tidak punya alasan lagi untuk itu.”

“Aku punya alasan.” jawab Hyun Ri. “Jangan berlagak tak berdosa, Jinyoung! Aku tidak mempercayaimu. Kau hanya ingin membalaskan dendam atas apa yang kulakukan padamu. Kau ingin membuatku terluka! Bukankah ini yang selalu kau tunggu-tunggu? Melihatku hancur?”

“Kau mengingat masa lalu terlalu banyak, Hyun-ah. Seharusnya kau melupakan hal-hal yang tak menyenangkan, seperti yang kucoba lakukan. Dan kau tau aku sebaik diriku, aku tidak mungkin menyakitimu.”

“Tapi kau menyakitiku! Aku akan terluka jika melihatmu! Jadi bisakah kau pergi?”

“Hyun…”

“Tidak! Hentikan memanggilku begitu! Aku tidak sudi mendengarnya.”

“Hyun-ah dengar…”

“Tidak! Pergi dari sini Jung Jinyoung!”

“Kau takut mendengar apa yang akan kukatakan?” tanya Jinyoung lembut. “Makanya kau selalu menghentikanku sebelum aku mulai?”

“Aku tidak perlu mendengar apapun darimu!”

Jinyoung menyudutkan Hyun Ri, matanya berkilat menahan emosi. “Tapi kau harus mendengarnya, Hyun! Kalau kau menghentikanku sekali lagi, aku akan membungkammu dengan caraku.” Jinyoung mencondongkan tubuhnya ke arah Hyun Ri membuat gadis itu merasa panas yang tak ingin diakuinya. Minimnya jarak di antara mereka membuat napas Hyun Ri tercekat, jantungnya berdebar kencang. Namun ia berusaha untuk tidak terlihat goyah.

“Aku tidak bodoh Jinyoung! Aku tau apa yang akan kau rencanakan. Kau berniat membalaskan dendammu sampai aku benar-benar hancur! Apa kau tau betapa pengecutnya dirimu dengan mengancamku seperti itu? Menjauhlah dariku Jinyoung!”

Jinyoung tak memberi jarak pada mereka, ia malah tersenyum penuh kemenangan. “Kau bilang kau lelah bertengkar denganku, tapi kau selalu mengeluarkan cakarmu setiap saat. Kau memang tau benar cara melukai seorang namja.”

“Ya! Tapi tidak sedalam yang kuinginkan!” sembur Hyun Ri sambil berusaha mendorong Jinyoung menjauh.

“Ah Hyun-ah, kau memang tidak pernah berubah. Selalu berlidah tajam dan menjengkelkan. Tapi aku suka sikapmu itu…”

“Stop! Jangan katakan!!”

“Katakan apa Hyun?”

“Jangan katakan apapun! Jangan pernah katakan kalau kau mencintaiku atau semacamnya! Kuingatkan kau, bahwa aku tidak akan percaya sedetikpun!”

“Tapi aku memang mencintaimu, Hyun!”

Hyun Ri terguncang, mendengar kata-kata Jinyoung membuatnya ingin berteriak sekeras-kerasnya bahwa ia ingin sekali mendengarnya. Namun ia takkan membiarkan dirinya percaya.

“Tidak. Kau tidak mencintaiku, Jinyoung. Kau katakan itu agar aku mempercayaimu dan kau akan menghancurkanku demi dendam yang kau pendam!”

“Tuhan!!” Jinyoung meledak. “Tidak bisakah kau tidak mengungkit masalah dendam, Hyun? Aku muak mendengarnya. Kukatakan padamu bahwa aku mencintaimu, apalagi yang kau inginkan dariku?”

“Tidak ada. Kau buktikan perasaanmu yang sesungguhnya sudah lama sekali, saat kau mengatakan kau akan membalas apa yang telah kulakukan padamu.”

“Itu hanya kemarahan dan harga diri, Hyun-ah. Aku bersumpah!”

“Oh Tuhan!!” Hyun Ri menjerit. “Pergi!” ia melempar high heel yang dipakainya ke arah Jinyoung, namun namja itu dengan mudah menghindarinya. “Pergi dari hidupku! Aku tidak sudi melihatmu lagi!”

“Hyun, jangan katakan itu…kenapa kau tidak pernah puas menyakitiku? Yang kulakukan hanya mencintaimu, apa itu sebuah kesalahan?”

Hyun Ri terisak dalam diam. Ia tidak tau harus berkata apa dan hanya terdiam dalam waktu yang lama.

“Baiklah, kalau itu mau mu, Hyun! Aku akan pergi dari hidupmu.” Jinyoung menatapnya tajam, lalu pergi. Dari cara Jinyoung pergi, menunjukkan ketegasan, dan Hyun Ri tau, di lubuk hatinya terdalam, bahwa ia takkan pernah melihat namja itu lagi. Jinyoung akan pergi meninggalkannya, dan itulah akhir dari semua ini.

Air matanya tumpah, dan Hyun Ri menghapusnya dengan marah. Mengapa ia merasa semakin terluka?

 

 

2 Tahun kemudian.

Ada satu hal yang membuatnya menyesali hidup. Seperti asap rokok yang meninggalkan jejak di dalam paru-parumu saat kau menghirupnya, penyesalan itu tak pernah sekalipun pergi. Ia terasa sangat menohok. Dan akan semakin kuat setiap kali ia mengingat jejak-jejak kebisuan udara. Bahkan setelah ia menutup mata sekalipun, bayangan sesal itu masih terus terlihat.

Satu detik? Dua detik? Tiga detik? Ia tak pernah berhenti menghitung sisa hidup yang ia punya untuk membuang rasa sesal itu. Tapi yang muncul justru sebaliknya. Sebaliknya.

“Kukira aku akan menggunakan kain flannel biru ini, bagaimana menurutmu Hyun Ri-ah?” Hyorin memegang ujung kain yang ia maksud, namun tak ada jawaban verbal dari sahabatnya itu.

“Yah Shin Hyun Ri!?” panggil Hyorin dengan suara keras untuk ketiga kalinya saat Hyun Ri tidak merespon panggilannya sama sekali.

“Apa?”

“Kau melamun lagi!” tuding Hyorin.

“Aku tidak melamun, jangan menuduhku seenaknya!”

“Aku tidak bodoh Hyun Ri! Aku berbicara denganmu berulang kali tapi yang kudapatkan hanyalah tatapan kosong darimu. Dan jangan menyangkal lagi, aku tau kau sedang melamun!”

“Aku punya hak untuk melamun, Hyorin!” ia kembali mendesah pelan. Hyorin tau apa yang sebenarnya berada di dalam pikiran sahabatnya. Hyun Ri memikirkan Jinyoung, ia memikirkannya setiap saat. Bahkan saat ia membencinya, ia tetap memikirkannya. Meski sudah dua tahun berlalu, perasaannya tak jua mau enyah. Dan kenyataan itu membuatnya semakin gila, ia nyaris meledak disetiap harinya karena laki-laki itu.

Hyun Ri tau semestinya ia membenci laki-laki itu. Namun anehnya, ia selalu memikirkan laki-laki itu disetiap waktu, dan sejatinya perasaannya bukan lagi perasaan benci. Entah kapan perasaan itu mulai berubah. Hyun Ri menunduk menatap jari-jari kakinya, seharusnya ia membenci Jinyoung karena telah meninggalkan perasaan seperti ini padanya. Perasaan yang begitu rumit dijelaskan.

Dan cenderung menyakitkan.

Ya. Sakit. Sakit sekali saat ia menguraikan kejadian demi kejadian yang masuk ke dalam hidupnya. Ia kira mereka hanya melintas satu per satu. Ia kira dirinya tak kan pernah membiarkan mereka bertahan di tempatnya. Namun, ia salah. Ia tau dirinya salah. Untuk kesekian kalinya. Kenyataan memang tak selalu sesuai dengan harapan, dan itulah yang terjadi. Keberadaannya bahkan melebihi segala-galanya yang pernah terpikirkan olehnya. Keberadaan laki-laki itu. Dan Hyun Ri baru menyadari hal itu jauh setelah kepergiannya. Keegoisan dan harga dirinya yang tinggi membuatnya terjebak dalam rasa sakit yang mencoba membunuhnya setiap saat.

Mengapa ia merasa sakit saat memikirkan namja itu? Perasaan sesal kah? Amarahkah? Atau mungkin benci?

Apapun itu, Hyun Ri mendesah, tidak ada satupun jawaban yang dapat memuaskan retorikanya.

“Oppa??” kaget Hyorin saat melihat kakak laki-lakinya berdiri dihadapan mereka. Setelah dua tahun lamanya.

“Hyorin…” panggil kakaknya, sambil mengulurkan tangan untuk memeluknya. Hyorin memeluk pinggang oppanya dan menangis pelan.

“Nan bogoshipo oppa…”

“Na do…” Jinyoung trsenyum saat Hyorin mendongak menatapnya, ia menghapus air mata adiknya dengan lembut. “Mian, tapi oppa ingin bicara dengannya dulu. Bisa kan?”

Hyorin menatap Hyun Ri yang hanya terdiam seribu bahasa, sejurus kemudian ia mengangguk. “Ne…aku akan menunggumu di rumah, oppa!” ia memeluk oppanya sekali lagi dan mengangguk ke arah Hyun Ri. Kemudian ia pergi meninggalkan kedua sejoli itu.

“Hyun…” panggil Jinyoung setelah beberapa saat mereka hanya berdiam diri. “Kau tidak berubah. Selalu menarik seperti biasanya!” Hyun Ri mengerjap beberapa kali. Laki-laki yang muncul dihadapannya itu menampilkan sederet gigi putihnya dibalik senyum menawannya yang khas. Ia ingin sekali melampiaskan kemarahan dan rasa sakit yang ditanggungnya selama ini, namun ketika melihat laki-laki itu, kemarahannya lenyap tak berbekas. Berjuta kerinduan menghampiri membuat ia, alih-alih meneteskan air mata. Namja itu, masih dengan kelembutannya yang dulu, menghapus pelan air mata yang mengalir di pipi Hyun Ri. Oh Tuhan ingin sekali rasanya Hyun Ri menghambur ke dalam pelukan laki-laki itu.

“Kau tidak pantas menangis Hyun-ah!” senyumnya mengembang membuat Hyun Ri gemetar, suara halusnya menghipnotis seperti biasa.

“Apa yang…” Hyun Ri menelan air liurnya dengan susah payah, “Apa yang kau lakukan disini?”

Jinyoung menatapnya lama, sampai ia memutuskan untuk mengakhiri tatapannya dan mengambil sebuah amplop dari saku jasnya. “Aku ingin memberimu ini.” ia memberikan undangan itu dengan perasaan tak yakin.

“Aku akan menikah seminggu lagi. Dengan Krystal.”

 

 

Jalanan sepi.

Langit mulai gelap.

Angin bulan Desember bertiup kencang.

Ia merapatkan jaket yang dikenakannya, namun tubuhnya tetap saja menggigil. Bukan karena dinginnya angin, namun karena kini ia tak bisa merasakan apapun. Sepertinya syaraf-syarafnya sudah tidak berfungsi. Ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa bersuara dan tidak bisa merasakan apa-apa.

Kecuali rasa sakit di hatinya. Ia bisa merasakan yang satu itu. Sakit sekali….

Air matanya bergulir pelan dan mencoba bertahan agar tetap berdiri stabil. Butuh tenaga besar untuk menyeret kakinya dan maju selangkah demi selangkah. Sebelah tangannya terangkat ke dada, mencengkeram bagian depan jaket. Sementara tangan yang lain terjulur ke depan dan mencengkeram pagar besi jembatan. Pagar besi itu semestinya terasa dingin di telapak tangannya yang telanjang, tapi nyatanya ia tak bisa merasakan apapun meski ia mencengkeram pagar besi itu hingga buku buku jarinya memutih.

“Aku telah mengenalnya setahun ini, dan aku merasa cocok dengannya. Kami sudah merencanakan ini jauh-jauh hari.” Hyun Ri menggeleng kuat. Ia menutup telinganya sekeras yang ia bisa dan berharap agar kilatan ingatan menyakitkan itu menjauh.

“Cukup mengejutkan mengetahui kau begitu bahagia dengan kabar ini sampai meneteskan air mata seperti itu?” Tidak! Kau salah, Jung Jinyoung! Hyun Ri menyentuh kepalanya, mencegahnya agar tidak meledak saat itu juga. Namun rasanya percuma, karena kepalanya sudah terasa seperti meledak. Rasa sakit di dadanya pun menjadi-jadi, sampai-sampai ia merasa ingin mati sekarang juga.

“Aku berharap kau akan berbahagia, seperti diriku.” Kemudian ia berlalu meninggalkan Hyun Ri dan perasaannya yang tercabik-cabik seorang diri, mungkin itu adalah kata-kata terakhir yang bisa diucapkannya meski ia ragu akan kebenarannya.

Seandainya harapan itu masih ada –sekecil apapun itu- untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu. Hyun Ri menatap kosong ke bawah. Permukaan sungai terlihat tenang seperti kaca besar berwarna hitam yang memantulkan cahaya dari lampu-lampu di tepi jalan.

Air sungai itu pasti dingin sekali. Ia pasti akan mati kedinginan bila terjun ke sungai itu. Mati beku.

Ia hanya perlu membiarkan dirinya jatuh. Setelah itu seluruh tubuhnya akan membeku. Rasa sakit ini juga akan membeku sehingga ia tidak akan merasakannya lagi.

Hyun Ri menyambar pagar besi dan mengangkat badannya lebih tinggi beberapa puluh senti. Ia memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin yang berpusar-pusar disekelilingnya. Hyun Ri mencondongkan tubuhnya ke depan agar ia bisa melompat lebih jauh. Dan ia melemparkan tubuhnya dari tepi pagar pembatas.

Air terasa seperti es, lebih dingin daripada yang ia kira. Menyentuh kulitnya seperti belati yang menyayat-nyayat sekujur tubuhnya. Tapi itu belum seberapa. Tak pernah terbayangkan olehnya bahaya sesungguhnya justru mengintai dari bawah, memerangkapnya, dan mengoyak-ngoyak tubuhnya tanpa ampun. Arus yang deras membuat lengan dan kakinya mati rasa, dan menang. Arus itu berhasil mendorongnya dengan kasar membentur sesuatu yang keras, sekeras batang besi yang menyakitkan membawanya jatuh ke dasar sungai, semakin dalam dan semakin dingin. Udara melesat dari paru-parunya, meledak seperti gumpalan berbentuk gelembung-gelembung.

‘Maafkan aku…’ adalah kata-kata terakhir yang terpikirkan olehnya sebelum kesadarannya menghilang.

 

 

TBC~

ehhh ini belum berakhir loh ya😀 dan tolong jangan hujat saia sodara2, dunia yang kejam inilah yg memaksa saia membuat cerita begitu *alay*

 

 

Posted 30 Juli 2013 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: