[FF] AFFIRMATION – PART 1   Leave a comment


Assalamualaikum😀 Annyeong!!

lama gak nongol,, pada kangen kaann?? tau kok, aku kan emg ngangenin😛

affirmation (2)


AFFIRMATION

Author: tidak lain dan tidak bukan adalah ===> DNA

Genre : Romance

Cast:

Shin Hyun Ri (anggap aja itu kalian)

Jung Jinyoung B1A4

Jung Hyorin (me XD)

and other,, find them urself ^^

This story based on my favorite song that sung by Savage Garden, I Knew I Loved You. When I heard this song, my mind begins to create some wild imagination -_- but still in a good way, for sure J

==================

“Dari semua pengamatanmu pada kehidupan, pernahkah kau percaya pada sebuah takdir?”

Di setiap kehidupan manusia selalu ada titik terang dan gelapnya masing-masing. Dan terkadang mereka harus memilih antara menapaki titik gelap tersebut dengan langkah berat tanpa arah sehingga semakin menjerumuskan ke dalam jurang yang kelam ataukah menjalani kehidupan di titik terang yang sinarnya begitu menyilaukan sehingga membuat lupa diri dan justru lebih menyengsarakan.

Ada satu hal yang membuatku menyesali hidup. Seperti asap rokok yang meninggalkan jejak di dalam paru-parumu saat kau menghirupnya, penyesalan itu tak pernah sekalipun pergi. Ia terasa sangat menohok. Dan akan semakin kuat setiap kali aku mengingat jejak-jejak kebisuan udara. Bahkan setelah aku menutup mata, bayangan sesal itu masih terus terlihat.

Satu detik? Dua detik? Tiga detik? Aku tak pernah berhenti menghitung sisa hidup yang kupunya untuk membuang rasa sesal itu. Tapi yang muncul justru sebaliknya. Sebaliknya. Andai ada satu saja orang di dunia ini yang bisa membantuku, akan kukejar dia, kemanapun. Walau pada masa-masa itu, aku akan terus menangis, menangis hingga mataku tak bisa berkedip lagi.

Aku mencintainya. Salahkah jika aku menyesalinya?

Shin Hyun Ri menghentikan langkahnya saat melihat bayangan dirinya di sebuah cermin besar berbentuk oval di atas perapian. Ia berdiri di seberang perapian, cukup jauh sebenarnya hingga ia bisa melihat hampir seluruh bayangannya di cermin. Mata Hyun Ri berbinar. Ia sama sekali tidak menyadari betapa menawan penampilannya dalam balutan setelan hijau tua dengan bolero hitam yang dikenakannya itu. Yang diperhatikannya hanyalah rambutnya, yang butuh waktu berjam-jam untuk menatanya, dan sekarang hancur berantakan karena ia mondar-mandir dalam keadaan sangat marah. Dua gelungan cokelat tua tergerai hingga ke pinggangnya yang ramping. Sementara sanggul rumit yang ia tata sedari tadi tidak berbentuk seperti bulatan halus seperti gulungan benang wol, melainkan hanya gumpalan-gumpalan rambut kusut yang tidak berbentuk sama sekali.

Hyun Ri menggertakkan giginya sambil menghentakkan jari-jari kakinya di karpet halus bergaya timur tengah itu. Karpet berpola aneh yang tidak biasa dengan pilihan warna mencolok itu ialah karpet favorit sahabatnya, Jung Hyorin yang sedang tak ada disini sekarang. Namun meskipun Hyorin ada disini, Hyun Ri tidak akan mencoba menyembunyikan amarahnya yang dilampiaskan pada karpet tidak berdosa itu. Ia menatap jam dinding yang terletak di seberang ruang duduk itu dan kembali mendesah kesal.

“Sekarang lihat dirimu Shin Hyun Ri! Kau biarkan laki-laki itu membuatmu marah! Kau begitu menyedihkan! Babocheorom!!” dengan kasar disibaknya rambut lurusnya, tidak peduli dengan penampilannya sekarang. Tidak peduli dengan betapa susahnya ia sewaktu menata rambutnya tadi, dan tidak peduli seandainya Minho bisa datang kesana kapan saja dan melihat penampilan kacaunya. Setidaknya ia bisa merapikan rambutnya nanti jika ia pergi. Jika Choi Minho ada disana dan mendampinginya ke restoran seperti yang telah dijanjikannya beberapa hari yang lalu.

Terlambat satu setengah jam! Satu setengah jam! Hyun Ri melirik jam dinding yang seolah tengah menertawakannya dan mengerang keras. Seharusnya Minho menghubunginya kalau ia memang datang terlambat, seharusnya Minho berusaha melakukan sesuatu untuk memperbaiki kesalahannya. Seharusnya ia mengiyakan ajakan Hyorin sewaktu mengajaknya makan siang dan bukan menolaknya hanya karena ia ingin berduaan dengan Minho, laki-laki yang selalu di puja-pujanya selama ini. Dan satu kesempatan itu musnah karena keterlambatan Minho, laki-laki itu memang selalu terlambat, tapi kali ini benar-benar keterlaluan. Hyun Ri menyentuh perutnya yang keroncongan, dan itu membuatnya semakin murka.

Mengapa Minho begitu kejam padanya? Tidak sekali ini ia membuat Hyun Ri nyaris menjerit menahan amarahnya. Minho bahkan bersikap seolah tidak peduli dengan perasaan Hyun Ri padanya selama ini. Dia memang tidak pernah peduli, sebenarnya. Padahal Hyun Ri selalu berusaha keras untuk mendapatkan perhatiannya. Sebuah pukulan telak untuk kesombongannya, untuk gadis secantik Hyun Ri. Tidak bisa dipungkiri, Shin Hyun Ri memiliki kecantikan yang klasik, dengan sepasang mata berwarna gelap yang dibingkai oleh bulu mata yang panjang dan wajah yang secerah mutiara dipadu dengan rambut lurusnya yang sewarna dengan matanya. Tubuhnya ramping dan elok, membuat laki-laki manapun akan tertarik padanya. Namun apakah Minho memperhatikannya? Hyun Ri sepertinya lolos dari radar namja itu untuk dilihat, apalagi untuk diperhatikan. Fakta yang sangat menjengkelkan.

Perut Hyun Ri berbunyi keras dan membuyarkan lamunannya. Ia kembali menatap cermin dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi. “Sudah kuputuskan! Aku tidak akan pergi sekalipun kau muncul Choi Minho!” Ia melempar boleronya ke lantai begitu saja dan menuju kamarnya dengan emosi yang meluap-luap. Hyun Ri menyadari bahwa tidak akan ada yang tersakiti disini kecuali dirinya sendiri. Minho tidak akan peduli padanya, tidak akan pernah. Bahkan ia mungkin akan mengesampingkan kemarahan Hyun Ri karena gadis itu tidak pernah bisa marah padanya. Hyun Ri terlalu memujanya, Minho tau itu, siapapun tau itu. Minho memang memiliki karisma yang tidak ada bandingannya, senyumnya membuat Hyun Ri melayang. Minho mengetahuinya dengan baik, tapi ia tidak peduli.

Jinyoung terbangun, kepalanya terasa berdenyut-denyut. Ia mulai memijiti pelipisnya untuk meredakan rasa sakit sambil mencari-cari obat sakit kepalanya yang terletak di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Ia menenggak beberapa butir sambil berusaha menjernihkan pikirannya. Sudah sejak seminggu yang lalu ia selalu terbangun dengan keadaan yang sama. Dan itu bukannya tanpa alasan. Sudah seminggu ini ia dikejar-kejar deadline untuk lagu terbarunya. Lagu yang awalnya ia tulis saat ia sedang iseng mendengarkan curahan hati dongsaeng tercintanya, namun lagu itu terhenti begitu saja tanpa ada kelanjutannya sementara konsernya hanya tinggal beberapa minggu lagi.

Suara gemerisik dedaunan yang disapu angin menggodanya untuk membuka jendela kamarnya. Ia bergerak untuk menyalakan lampu sebelum menyibak tirai-tirai kelam itu. Jinyoung memandang jendela dengan gusar, harapannya tidak sesuai. Ia mengharapkan dapat melihat langit yang bersih dipenuhi bintang-bintang, namun yang dilihatnya sekarang adalah gedung tinggi yang merupakan gedung daily mart yang menghalangi langit berbintangnya. Ia merengut kesal sambil terus menatap gedung itu, berharap tatapannya dapat melelehkan gedung sehingga ia bisa menikmati langitnya.

Pikirannya akan deadline lagunya mulai teralih dan berganti kekesalan yang tak beralasan. Ia mengacak-acak rambutnya dan menghembuskan napas kasar. Baru saja ia hendak menutup tirainya, mendadak ia teringat akan mimpinya yang lain, mimpi yang selalu muncul sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Awalnya ia menganggap mimpi itu adalah bagian dari prosesnya menuju ke tingkat dewasa, dan tidak memperdulikannya sampai ia mendapat mimpi itu lagi beberapa bulan setelahnya.

Ia terus berjalan di jalanan sepi itu mencari-cari sesuatu yang membuatnya tidak sanggup untuk melepaskannya. Air matanya menetes deras seiring hujan yang mulai turun. Kelamnya langit hari itu membuatnya yakin, ia tak mungkin bisa bersamanya, dan mengatakan apa yang seharusnya ia katakan sejak dulu. Bahwa ia mencintainya, mencintai yeoja itu.

“Jinyoung…” yeoja itu menahan napasnya. “Ini gila. Kita bahkan membenci satu sama lain!”

“Demi Tuhan! Hanya kau yang berpikiran begitu, sementara aku mendapati diriku terus menerus mencintaimu meski aku semestinya membencimu atas semua yang telah kau lakukan padaku. Tapi aku tidak pernah sungguh-sungguh membencimu.” yeoja itu berdiri tepat enam meter dihadapannya. Bibir gadis itu membentuk seulas senyum tipis yang mampu menggetarkannya. Ia memandangi gadisnya dengan kekaguman seolah ia telah dibutakan dan gadis itulah satu-satunya cahaya yang ada.

“Aku sudah berusaha keras memeranginya, tapi aku tidak bisa membohongi diriku terus menerus karena aku menginginkanmu.” Jinyoung menatap mata yeojanya yang gelap yang perlahan meneteskan cairan bening. “Aku mencintaimu. Sepenuh hatiku…”

Jinyoung mendesah pelan sambil menutup tirai usangnya. Ia kemudian menghampiri pianonya yang berisi tumpukan kertas-kertas partitur lagu barunya. Ia memejamkan matanya dan membayangkan gadis dalam mimpinya, yeoja yang belum pernah sekalipun ia temui dalam hidupnya. Dan ia berharap akan bertemu dengannya suatu saat nanti. Jinyoung memainkan jari-jarinya di atas tuts piano dan nada-nada lembut mulai mengalun pelan. Semakin lama ia mulai tenggelam dalam harmonisasi yang diciptakannya sendiri, semakin dalam seiring pikirannya yang menerawang ke setiap detil momen yang tercipta di antara celah mimpi-mimpi indahnya. Detilnya bersama gadis pujaannya.

Gadis yang memiliki senyum sempurna, kecantikannya yang unik dengan rambut berwarna cokelat lembut seperti helaian daun mahoni dan ada sesuatu pada gadis itu yang membuatnya yakin bahwa ia mencintainya, mencintai gadis dalam mimpinya itu.

Dan malam itu, gadis dalam mimpinya berhasil membuatnya menyelesaikan apa yang telah dimulainya.

“Kau membiarkan emosimu mempengaruhi imajinasimu, Hyun Ri-ah. Kau tau kau tidak akan bisa berpikir jernih kalau kepalamu dipenuhi dengan imajinasi liar.” Hyun Ri memandang sekilas langit-langit yang mengelilinginya dan mendengus pelan. Namun ia berhasil, berkat keteguhan hatinya, untuk tidak menjerit frustasi. Hyorin adalah yeoja terdekat yang bisa disebutnya sahabat. Bukan berarti tidak ada yang mau bersahabat dengannya, mengingat tempramennya yang cepat sekali naik, banyak sekali orang-orang yang mengundurkan diri sebagai temannya. Namun Hyorin berbeda, meski terkadang Hyun Ri lebih suka menyimpan emosinya untuk menghormati perasaan sahabatnya, ia bisa menerima apa adanya tanpa banyak mengeluh. Justru, kepercayaan Hyorin yang tidak berbatas pada kemampuannya untuk mengendalikan diri terkadang membuatnya gila.

“Aku menghargai sikap positifmu, Hyorin. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Aku tidak mau menjadi orang bodoh dengan membuka hatiku pada sembarang namja lagi.”

Hyorin meragu, memperhatikan raut wajah Hyun Ri. “Tidak ada yang menyebutmu bodoh. Kau harus memikirkannya lagi, Hyun Ri-ah. Jangan berpikiran sempit begitu!”

Hyun Ri mendesah kasar sambil menatap sahabatnya yang sedang duduk berias diri di depan cermin besar. Perasaan muram membelitnya. “Kau tidak tau apa yang kurasakan. Jadi hentikan saja apapun yang ingin kau katakan untukku. Sama sekali tidak membantu.”

“Segitu menyakitkannya kah?” itu jelas bukan pertanyaan yang harus dijawab yang terlontar dari bibir Hyorin. Seandainya saja Hyorin bukan sahabatnya, ia pasti akan mencekik gadis itu untuk menunjukkan betapa sakit hatinya ia saat ini. “Seandainya ada yang bisa kulakukan…” bisik Hyorin pelan sambil menyisir pelan rambut ikalnya. Ia menatap sahabatnya melalui cermin besar dengan pandangan meredup. Wajah Hyun Ri tidak terbaca, mungkin ia marah, tapi ia juga nampak sedih.

“Tapi kurasa…” Hyorin berkata lambat-lambat. “Satu konser musik tidak akan membunuhmu. Tambahan lagi, kau bisa saja mendapat pasangan yang jauh lebih baik dari kau tau siapa!” usul Hyorin sambil bangkit dari duduknya. Gemerisik sepatu bootnya yang beradu dengan lantai mengusik Hyun Ri.

“Bagaimana mungkin aku mendapatkan pasangan seperti yang kau maksud di sebuah pesta musik konyol yang dihadiri ratusan orang yang hingar bingar itu?”

“Yang kau sebut pesta musik konyol itu sebenarnya adalah konser tunggal oppaku, Shin Hyun Ri. Dan kalau kau bertanya padaku, kurasa bukan ide yang buruk pergi ke sana dan bersenang-senang.”

Hyun Ri merentangkan tangannya tanpa alasan yang jelas, ia suka melakukannya kalau ia kehabisan alasan untuk berdebat. “Kenapa kau pikir aku berpikir aku harus bersenang-senang di tempat konser?”

Hyorin menatap sahabatnya tidak sabar, “Oh ayolah Hyun Ri, kau tidak mungkin berkata bahwa kau baik-baik saja saat ini? Mengingat beberapa saat yang lalu kau mengeluhkan segala sesuatu, kurasa kau perlu hiburan. Dan aku menawarkan konser oppaku sebagai alternatif pilihannya.”

Hyun Ri menautkan alisnya dan terdiam sejenak, “Bukan pilihan bijaksana sebenarnya, tapi kurasa kau ada benarnya. Aku memang perlu dihibur!” ujarnya yang kemudian bangkit dan menyambar setelan hijau tuanya diiringi kikikan geli yang sangat menjengkelkan dari Hyorin. Sambil melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul tujuh malam, Hyun Ri berdandan secepat mungkin dan menata rambutnya dengan gesit.

Dua puluh menit kemudian, mereka memasuki ruangan konser yang telah dipadati sebagian besar fans. Hyorin menarik lengan Hyun Ri menuju backstage dan menjumpai oppanya yang sedang duduk di ruang ganti.

“Oppa?” panggil Hyorin sambil mengintip ke dalam ruangan dan mendapati Jinyoung sedang berlatih. Jinyoung menoleh dan tersenyum lebar kepada adiknya. ia langsung menghambur untuk memeluk Hyorin dengan erat. Ada satu sisi, bagi Hyun Ri, sisi yang sama sekali tidak dimengertinya namun membuatnya penasaran, namja itu -Jinyoung- memiliki sesuatu yang tidak pernah dirasakannya pada namja manapun termasuk Minho. Hyun Ri menolak mempercayai intuisi yang dianggapnya tidak memiliki dasar yang kuat sama sekali, namun kali ini ia merasa ada sesuatu yang menarik dari namja itu.

“Kau datang juga. Aku kira kau tidak akan datang!” Jinyoung mengelus kepala adiknya dengan penuh rasa sayang. “Apakah aku mengganggumu?”

“Kau bicara apa? Kau tidak pernah menggangguku!” namja itu kembali menampilkan senyum khasnya yang membuat yeoja manapun akan terpesona melihatnya. Sebuah rasa ingin tau yang besar mengusik Hyun Ri, diam-diam ia membandingkan namja itu dengan Minho. Memang, dengan karisma luar biasa yang dimiliki Minho, sulit rasanya menemukan kelemahannya jika dibandingkan dengan namja itu. Minho bagaikan patung dewa Zeus dengan pesona yang terpahat sempurna. Namun anehnya, Hyun Ri merasa ada sesuatu yang dimiliki Jinyoung tapi tidak dimiliki Minho. Sebuah kehangatan yang terpancar oleh keceriaan yang mewarnai senyuman dari wajah namja itu membuncah dan menggetarkannya, perasaan yang entah mengapa membuat Hyun Ri merasa tidak nyaman. Ia merasa gelisah hanya karena sebuah senyuman tulus yang ditujukan padanya.

Hyun Ri menggigit bibirnya keras untuk menyadarkan pikirannya yang sudah menyimpang. Ia menyangkal dengan tegas segala sesuatu sebelum ketertarikan yang mendalam menggelutinya. Cukup dengan Minho saja ia merasa sakit hati. Dan sejak saat itu ia bersumpah untuk tidak membuka hatinya pada laki-laki manapun dengan mudah.

“Ah, ini temanku. Shin Hyun Ri. Hyun Ri-ah, perkenalkan ini oppaku, Jung Jinyoung!”

“Bangapta.” ujar Hyun Ri singkat membuat senyum lebar Jinyoung memudar. Ia menatapnya sedikit lebih lama dengan rasa penasaran yang mendalam. “Kuharap kau akan menikmati konser nanti.”

“Kuharap demikian!” sahutnya datar dengan ekspresi tidak suka yang jelas-jelas ditunjukkannya.

“Kau tampak tidak senang? Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Jinyoung heran. Hyun Ri melemparkan tatapan tersinggungnya dan mengangkat dagunya dengan angkuh.

“Apapun itu, bukanlah urusanmu!” ujar Hyun Ri tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Jinyoung yang sangat membanggakan kemampuan pengendalian dirinya itu sedikit merasa terusik dengan nada mencemooh yeoja dihadapannya. Namun ia hanya menatap Hyun Ri dengan tatapannya yang khas, cukup lama, sampai ia memutuskan untuk mengakhirinya sendiri. Oke, mungkin gadis sombong ini memang merasa ia semenarik dan semenawan itu hingga bersikap arogan seperti sekarang. Jinyoung merasa enggan mengakui bahwa yeoja dihadapannya menarik. Namun pandangannya tak bisa lepas dari mata gelap yang tidak mempedulikannya itu.

“Jinyoung-ah, waktunya tampil!” ujar manajernya. Jinyoung mengangguk dan tersenyum lembut ke adiknya. Ia kemudian pergi.

“Apa yang terjadi padamu?” tuntut Hyorin, Hyun Ri mengangkat bahu tidak mengerti maksud Hyorin. “Kau tau maksudku Shin Hyun Ri! Kau tidak perlu bersikap kasar begitu pada oppaku! Dia bukan orang yang sama dengan namja yang menolakmu itu!”

“Minho tidak menolakku!! Jangan berasumsi yang tidak-tidak seenakmu!”

“Tidak secara langsung, memang. Apa yang merasukimu sampai-sampai membela namja yang menyakitimu itu, Shin Hyun Ri?”

“Aku yakin dia tidak bermaksud melakukannya. Minho memang membuatku marah, sering kali, tapi aku yakin dia tidak melakukanya dengan sengaja.”

“Kau sedang bercanda ya? Beberapa jam yang lalu kau mengeluhkan betapa kau benci sikap dinginnya itu! Kau bahkan sangat marah pada sikapnya yang jelas menunjukkan ketidaktertarikannya padamu beberapa minggu yang lalu!” Hyorin menatapnya dengan tatapan menuduh.

Hyun Ri melipat tangannya di dada seraya berkata angkuh, “Aku sedang tidak bercanda, dan jangan memancing emosiku Jung Hyorin!”

“Kau beruntung aku tidak menjejalkan lidahmu ke dalam tenggorokanmu, Shin Hyun Ri! Aku tidak habis pikir, kau bersikap kasar pada oppaku sementara kau memuja-muja namja yang menyakitimu! Kukira aku mengenalmu!”

“Jangan seenaknya menyimpulkan sesuatu Hyorin, kau tau keadaanku sekarang sama baiknya denganku. Tapi bukan itu intinya. Mengapa kau malah marah-marah seperti ini?”

Hyorin memberengut, “Apapun intinya, kau tetap tidak punya hak bersikap diskriminatif begitu pada oppaku!”

“Satu lagi.” ia melanjutkan, “Kalau kau masih ingin menjadi sahabatku, perlakukan oppaku dengan baik! Arraseo?” kemudian meninggalkannya seorang diri. Hyun Ri mengepalkan tangannya. Ia merasa ingin meninju sesuatu. Ia merasakan amarah bergejolak dalam dirinya. Dan itu karena ia tau bahwa Hyorin benar, ia benci mengakuinya, tapi Hyorin benar. Minho jelas tidak menyukainya. Ia bahkan tidak repot-repot minta maaf atau sekedar menjelaskan alasannya karena tidak datang hari itu.

Sementara Hyun Ri mendapati dirinya semakin mencintai namja itu disetiap harinya, menginginkannya, bahkan berharap Minho akan menjadi suaminya suatu hari nanti. Ia bahkan rela mengubah kepribadiannya demi laki-laki itu. Ia rela demi apa saja agar Minho membalas perasaannya.

Begini sakitkah kalau mencintai seseorang? Tidak. Semestinya tidak. Yah, tidak akan sesakit ini kalau cintamu tak bertepuk sebelah tangan, right? Kenapa harus seperti ini? Kenapa aku harus merasakan hal ini? Egoiskah jika aku tak ingin merasakan sakitnya?

Hyun Ri berjalan keluar ruangan itu dan menuju keluar gedung konser. Ia terlalu marah untuk menonton konser. Ia juga tidak pulang dan hanya duduk dibawah pohon ek seraya merenungkan sikap kasarnya. Ia terlalu sering naik darah akhir-akhir ini, padahal sebelumnya ia cukup pandai mengendalikan emosinya. Choi Minho, namja yang selama ini dicintainya, ironisnya dialah yang membangkitkan kebencian dan amarah Hyun Ri. Air matanya bergulir pelan dan rasanya menyakitkan. Dan itu semua telah menjelaskan secara kongkrit bagaimana persamaannya saat ini. Rasa marah, sakit, sedih dan kecewa menjadi satu yang berubah menjadi kobaran yang melahap satu demi satu kesadaran manusiawinya.

Beberapa saat lamanya, Hyun Ri menghabiskan sisa harinya dengan merutuki diri, sampai akhirnya malaikat penolongnya tiba, Hyorin. Hyorin mengajak sahabatnya berjalan-jalan bersama oppanya. Hyun Ri tidak ingin mengecewakan sahabatnya lagi dan berusaha untuk bersikap lebih baik pada Jinyoung. Hasilnya diluar dugaan, Jinyoung yang semula membuatnya gelisah, ketegangan diantara mereka pada saat awal pertemuan, sekarang perlahan-lahan mulai mencair.

“Itu Minho!” seru Hyorin, Hyun Ri yang sedang mengobrol dengan Jinyoung langsung mengalihkan pandangannya. Ia melihat Minho, dan Minho melihatnya, tidak berkata apapun atau bahkan meminta maaf. Minho menatap dingin ke arah Jinyoung yang disambut senyum sopan oleh namja itu.

Apakah Minho terlihat cemburu?

Hyun Ri belum tau jawabannya. Tapi ia senang melihat ekspresi kesal Minho saat melihat kedekatannya dengan namja lain. Laki-laki itu pasti cemburu, Minho memang keras kepala, ia bahkan tetap tidak mau menunjukkan sikap bahwa ia peduli. Dan Hyun Ri harus berusaha lebih keras lagi untuk membuat laki-laki itu menyadari kehadirannya, agar ia bisa membuat laki-laki itu merasakan apa yang ia rasakan.

Ia terus berjalan di jalanan sepi itu mencari-cari sesuatu yang membuatnya tidak sanggup untuk melepaskannya. Air matanya menetes deras seiring hujan yang mulai turun. Kelamnya langit hari itu membuatnya yakin, ia tak mungkin bisa bersamanya, dan mengatakan apa yang seharusnya ia katakan sejak dulu. Bahwa ia mencintainya, mencintai yeoja itu.

“Jinyoung…” yeoja itu menahan napasnya. “Ini gila. Kita bahkan membenci satu sama lain!”

“Demi Tuhan! Hanya kau yang berpikiran begitu, sementara aku mendapati diriku terus menerus mencintaimu meski aku semestinya membencimu atas semua yang telah kau lakukan padaku. Tapi aku tidak pernah sungguh-sungguh membencimu.” yeoja itu berdiri tepat enam meter dihadapannya. Bibir gadis itu membentuk seulas senyum tipis yang mampu menggetarkannya. Ia memandangi gadisnya dengan kekaguman seolah ia telah dibutakan dan gadis itulah satu-satunya cahaya yang ada.

“Aku sudah berusaha keras memeranginya, tapi aku tidak bisa membohongi diriku terus menerus karena aku menginginkanmu.” Jinyoung menatap mata yeojanya yang gelap yang perlahan meneteskan cairan bening. “Aku mencintaimu, Shin Hyun Ri. Sepenuh hatiku…”

Jinyoung terbangun kembali. Ia menghembuskan napasnya perlahan dan berpikir sejenak. Ia baru menyadari akhir-akhir ini, bahwa yeoja yang selalu ditemuinya dalam mimpi itu ialah Shin Hyun Ri. Seorang yeoja dengan kecantikan luar biasa yang mampu membuatnya berdebar-debar, dan Hyun Ri bahkan tidak memerlukan apapun untuk membuatnya tertarik. Jinyoung meyakini satu hal, bahwa mimpinya bukanlah mimpi belaka. Ia percaya bahwa takdirlah yang mempertemukan mereka, dan ia akan membuktikan kebenaran takdir itu. Bersama Hyun Ri.

“Dari semua pengamatanmu pada kehidupan, pernahkah kau percaya pada sebuah takdir?”

Gadis itu terdiam sejenak, lalu tertawa renyah. “Tentu saja aku percaya. Takdir itu membawa manusia kepada kehidupannya.”

Jinyoung tersenyum mendengar jawabannya, lalu bertanya lagi. “Apa kau percaya bahwa pertemuan kita sudah ditakdirkan?”

“Ya. Mengapa tidak?”

Hyun Ri bersikap santai dan mengobrol dengan akrab mengenai hal-hal tak penting pada Jinyoung. Saat perasaan gelisah yang dirasakannya pada Jinyoung sirna, ia jadi menyukai kelembutan dan keramahan laki-laki itu. Sangat menyukai. Ia menyukai kebersamaan mereka dari waktu ke waktu. Bersama Minho ia merasa terkekang, harus selalu bersikap sopan layaknya seorang wanita, dan senantiasa menahan amarahnya. Sementara dengan Jinyoung, ia merasakan hal yang berbeda, ia merasa bebas menjadi dirinya sendiri, ia merasa lebih nyaman, dan ceria. Jinyoung selalu membuatnya tertawa, sesuatu yang ia jarang lakukan kalau sedang bersama Minho.

Disuatu hari, Hyun Ri termenung, mengapa Minho tidak seperti Jinyoung? Mereka sama-sama memiliki pesona, tapi mengapa Minho tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada Hyun Ri? Minho tidak peduli padanya, itulah kebenarannya. Sementara Hyun Ri selalu peduli pada Minho, itu masalahnya. Hyun Ri harus berpikir keras untuk membuat Minho tertarik padanya.

Lalu ide itu terlintas begitu saja. Hyun Ri cukup menyukai ide itu. Ia bisa membuat Minho cemburu dengan kedekatannya pada Jinyoung. Minho selama ini tidak begitu menyukai Jinyoung yang selalu berada disisi Hyun Ri, dan laki-laki itu –Jinyoung- menyimpan perhatian besar pada Hyun Ri. Hyun Ri tinggal memperkuatnya saja. Laki-laki sopan seperti Jinyoung pasti akan mengerti keadaannya. Dan ia harus berhasil dengan rencananya. Setelah itu Minho pasti akan menyadari bahwa keberadaannya penting. Hyun Ri akan membuat Minho menyukainya, dan Jinyoung pasti akan melupakannya. Seorang namja yang baik akan menyerah penuh syukur pada namja yang lebih baik lagi. Saat rencananya selesai dijalankan, maka tak akan ada yang sakit hati. Hyun Ri yakin sekali akan hal itu.

“Bagaimana teman-temanmu memanggilmu, Hyun Ri?” tanya Jinyoung disuatu sore. Sudah menginjak beberapa bulan lamanya setelah mereka berkenalan, dan mereka semakin akrab. Hyun Ri mengerutkan alisnya. Namanya hanya memiliki tiga suku kata, dan Shin merupakan marga keluarganya, tentu saja ia selalu di panggil Hyun Ri. “Hyun Ri.” jawab Hyun Ri singkat.

“Kau selalu dipanggil seperti itu?”

Hyun Ri menatapnya kebingungan, “Memang ada yang salah dengan namaku?”

“Tidak.” singkat Jinyoung sambil tersenyum. “Nama yang cantik, seperti dirimu. Hyun Ri.” ia memiringkan kepalanya seolah meresapi sesuatu. “Aku lebih suka memanggilmu jagiya, kalau kau tak keberatan.”

Sejenak jantung Hyun Ri berdebar-debar kencang, ia merasakan wajahnya bersemu.

“Aku bercanda.” Jinyoung menjulurkan lidahnya mengejek Hyun Ri. “Kau!!” kesal Hyun Ri.

Hyun Ri mencubit lengan Jinyoung dan membuat laki-laki itu kesakitan. Selanjutnya ia tertawa sepuas-puasnya. “Kau ini memang ringan tangan sekali, Hyun!”

Hyun Ri berhenti tertawa. “Kau memanggilku apa?”

“Hyun.”

“Hyun?” ulang Hyun Ri. “Aneh sekali.”

“Apa kau keberatan?”

“Tidak. Lucu saja mendengarmu memanggilku seperti itu.” kemudian ia mengangkat bahu sembari bergumam, “Hyun? Hyun! Hm, tidak buruk.”

Jinyoung menampilkan senyum khasnya lagi, membuat kegundahan Hyun Ri merajalela. Ia benci mengakuinya, namun ia menyukai senyuman itu. Dan perasaan yang ditimbulkan setelah senyuman itu.

“Bagus sekali. Kau lapar Hyun? Bagaimana kalau kita makan malam di Pledis? Aku pernah berjanji membawamu kesana, bukan?” Jinyoung berkata lembut seraya menggandeng lengan Hyun Ri. Hyun Ri mengangguk. Satu hal yang tidak dimengertinya, mengapa ketika di dekat namja itu ia merasa segalanya sempurna.

Mereka tiba di restoran mewah itu dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Jinyoung menuntunnya dengan lembut, membuat Hyun Ri merasa hangat, dan ia berani bertaruh wajahnya merah saat itu. Jinyoung tidak memperdulikannya, dan ia membuat Hyun Ri merasa dirinya adalah seorang yang berharga, seorang yang dicintai.

“Jangan bodoh, Shin Hyun Ri. Otakmu sudah melenceng dari jalur semestinya.” umpat Hyun Ri pada dirinya sendiri.

“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Jinyoung yang dibalas gelengan kepala Hyun Ri yang terlampau cepat, dan membuat Jinyoung geli akan tingkahnya.

Mereka makan dalam diam. Sangat sulit bagi Hyun Ri untuk tidak memperhatikan Jinyoung, meskipun sudah dicobanya. Laki-laki itu terlalu menarik dan pesonanya mampu membuat Hyun Ri lemas, namun anehnya Hyun Ri menyukai perasaan itu. Ia senang ditemani oleh Jinyoung yang selalu bersikap lembut dan mengagumi dirinya. Hyun Ri mendapati dirinya sering mencuri pandang pada namja itu selama makan malam, dan dibalas oleh Jinyoung yang juga memandangnya dengan pandangan yang membuat wanita manapun bahagia.

Setelah makan malam yang hening itu, mereka kembali. Jinyoung mengantarkan Hyun Ri sampai ke depan rumahnya. Hyun Ri menanti dan menahan napas ketika Jinyoung menatapnya lembut. Apakah Jinyoung akan menciumnya?

“Selamat malam.” ujar Jinyoung lembut. Debaran jantung Hyun Ri seakan mau meledak saja, ia tidak mampu berpikir jernih. Pandangan Jinyoung kepadanya terlalu intens. “Se…selamat malam untukmu juga.”

Jinyoung tersenyum geli. “Sampai ketemu besok, Hyun!”

“Ne.” dan namja itu berbalik. Secercah kekecewaan menyerbu Hyun Ri. Ia tidak tau mengapa ia merasa sedemikian kecewa. Ia bahkan ingin menangis. Ia merogoh tas kecilnya mencari-cari kunci rumahnya.

“Ada apa?” suara Jinyoung menggema kembali, Hyun Ri menoleh cepat. Terlalu cepat sehingga membuatnya tersandung ubin yang terungkap, ia terhuyung-huyung ke depan namun bobot tubuhnya ditahan oleh Jinyoung. Hyun Ri memalingkan wajahnya dan merasa sangat malu.

“Kau baik-baik saja?” jelas sekali kalau Jinyoung nyaris tertawa, fakta itu membuat Hyun Ri semakin malu dan hanya bisa menunduk. “Tidak apa-apa.”

Jinyoung menghapus jarak dan merapatkan bibirnya ke bibir lembut Hyun Ri. Kehangatan serta merta menyelimutinya dengan perasaan yang begitu mendesak. Sensasi hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya seolah candu yang membuatnya ingin merasakan lebih.

Hyun Ri masuk ke rumahnya dan bersandar di pintu setelah kepergian Jinyoung. Perasaan hangat membuncah di dadanya. Ia masih memikirkan insiden barusan yang membuatnya gemetaran dan mendesah, “Oh Tuhanku.”

Beberapa hari telah berlalu, dan Hyun Ri mulai menyesali perbuatannya. Ia memikirkan Minho dan kisah cintanya selama dua tahun ini, ia merasa ingin menangis karena telah mengkhianati Minho dengan mencium laki-laki lain. Dan ia bahkan mulai melupakan pujaan hatinya itu ketika bersama Jinyoung.

“Annyeong, Hyun!” sapa Jinyoung lembut saat ia baru saja keluar untuk jogging paginya. Sapaan lembut Jinyoung terlalu berlebihan, ia seolah mencurahkan seluruh perasaan cintanya pada gadis itu. Dan itu membuat Hyun Ri semakin tidak nyaman. Ini sudah terlalu jauh. Hyun Ri harus menghentikan rencananya. Ia tidak mau membuat Jinyoung sakit hati lebih dari ini.

“Jinyoung, tentang malam itu…” Hyun Ri memberanikan diri untuk bicara duluan.

“Aku tak pernah berhenti memikirkannya, Hyun.” Jinyoung langsung menjawab dengan antusias tinggi. Hyun Ri menggigit bibirnya, ia harus mengecilkan hati namja itu sebelum segaalanya terlambat. Sebelum perasaan Jinyoung tumbuh besar.

“Jinyoung…kau seharusnya tidak melakukannya…”

“Tapi kau menyukainya.”

“Ya…tapi…hanya saja…”

“Terlalu cepat bagimu?” tanya Jinyoung. Hyun Ri mengangguk, ia tidak tau harus dibawa kemana pembicaraan ini agar ia bisa menyampaikan maksudnya dengan baik. “Kau harus memaafkanku, Hyun. Aku bukan laki-laki penyabar. Kelakuanku seperti binatang, ya? Seharusnya aku bisa lebih baik daripada itu, tapi aku tidak bisa memungkiri kalau hal itu adalah pengalaman paling indah yang pernah kudapatkan.”

Hyun Ri baru saja ingin menyanggah, namun otaknya tumpul. Ia tidak tau bagaimana lagi caranya untuk berkata sejujurnya pada Jinyoung. Dan ia hanya pergi begitu saja, tanpa menghiraukan Jinyoung. Sebuah keputusan yang mungkin akan disesalinya nanti. Tapi setidaknya, ia akan terhindar dari perasaan bersalahnya.

Dan minggu berikutnya, ia selalu menghindari Jinyoung dan menyibukkan dirinya dengan berbagai hal. Ia bahkan mulai mendekati Minho seperti yang dulunya biasa dilakukannya. Namun itu tidak serta merta membuatnya tenang. Sering didapatinya Jinyoung menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya dan memohon. Segala jenis pesan dan panggilan dari namja itu selalu diabaikannya. Ia benar-benar bertekad untuk menjauhi Jinyoung, karena memang seharusnya ia tidak mendekatinya untuk memanfaatkannya. Namun masalahnya, Jinyoung seperti tidak peduli dengan usahanya. Laki-laki itu malah lebih keras mengejarnya, menuntutnya untuk bicara. Ia mencoba menelepon gadis itu lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya nada tunggu itu berubah menjadi nada non aktif. Keesokan harinyapun ia kembali mencoba menghubungi gadis itu namun hasilnya tetap nihil, bahkan besok, besok dan besoknya lagi.

“Mengapa kau mendiamkanku, Hyun?”

“Mendiamkanmu? Apa maksudmu?”

Mata Jinyoung menyipit. “Kau selalu bersembunyi jika aku disekitarmu, bahkan tidak pernah menjawab teleponku atau membalas pesanku.” Hyun Ri masih terpekur. “Kau selalu bersama Minho seolah takut denganku, Hyun!”

“Minho lebih dari sekedar teman!” ujar Hyun Ri setengah membentak. Ia pergi dari hadapan namja itu dengan berlinangan air mata. Ia sudah mengatakan sejujurnya, dan ia harap Jinyoung mau mengerti.

Jinyoung menatapi kepergian gadisnya dengan seribu tanda tanya. Ia tau Hyun Ri bersungguh-sungguh saat mengatakannya, namun ia menolak untuk percaya. Perhatian Hyun Ri padanya selama ini nyata, yeoja itu tidak mungkin langsung tidak mengacuhkannya hanya karena, karena apa? Insiden itu?

Sebuah jawaban muncul dan membuat Jinyoung nyaris terbahak. Apakah Hyun Ri berusaha membuatnya cemburu dengan mendekati Minho? Seharusnya tanpa usaha kerasnya itupun Hyun Ri mestinya tau bahwa itu semua tidak perlu, Jinyoung sudah terjerat pesonanya.

Jinyoung memang belum mencintai gadis itu, namun ia bisa mencintainya. Ia bisa memberikan seluruh hidupnya untuk Hyun Ri, selama yeoja itu memberikan hal yang sama. Namun Jinyoung akan menunggu, ia bersedia menunggu Hyun Ri sampai yeoja itu lelah dengan permainannya sendiri.

“Aku menang undian!” seru Hyorin kegirangan, lalu ia kembali meringkuk menahan sakitnya pergelangan kakinya yang terkilir beberapa hari yang lalu karena belajar menari bersama kekasihnya, Kim Jong In.

“Jangan melompat-lompat, kakimu belum sembuh Hyorin! Apa kata Kai padaku jikaia melihatmu seperti ini?” Hyorin hanya tersenyum malu. “Kai memang selalu perhatian.” gumamnya pelan.

“Lalu ini bagaimana? Aku sudah bersusah payah mendapatkannya!”  ia duduk di sebuah kursi sambil melempar amplop undiannya.

Hyun Ri sedang membersihkan lemari mengabaikan celotehan sahabatnya. Ia memilih kesibukannya untuk mengalihkan pikiran-pikiran yang menghantuinya, dan tentunya mendengar kecerewtan sahabatnya.

“Bagaimana kalau kau saja yang pergi dengan oppa? Aku yakin dia dengan senang hati akan mengantarmu.” ujar Hyorin tiba-tiba. Hyun Ri menatapnya dengan tatapan peringatan, “Tidak, tidak, tidak. Aku tidak mungkin pergi berdua dengan oppamu!”

Alis Hyorin terangkat, “Mengapa tidak? Kukira kalian baik-baik saja selama ini. Lagipula diakan temanmu.”

“Jung Jinyoung bukan temanku!” Hyun Ri berkeras membuat Hyorin tertawa. “Kau bertengkar lagi dengannya?”

“Tidak! Mengapa kau berpikir begitu?”

Hyorin memijat kakinya perlahan, “Kau selalu bersikap jahat kalau sedang bertengkar dengannya, Hyun Ri. Sedikit tempramen kurasa.”

“Aku bukan orang yang tempramen!” nada suara Hyun Ri yang tinggi membungkam Hyorin. “Baiklah, itu berarti kau berhasil meniru seorang yang tempramen dengan baik.”

“Berhentilah menggodaku. Kukatakan padamu aku tidak akan pergi berdua dengannya.”

“Mengapa tidak? Bukankah lebih aman bersama seorang laki-laki. Dan oppaku cukup kuat untuk melindungimu dari segala bahaya. Kudengar Minho juga akan ke sana, dia kan salah satu penyelenggara.” Hyun Ri menatapnya kesal. Mengapa sahabatnya berpikir ia akan mudah disogok dengan kata ‘Minho’?

“Kau mulai melantur, Hyorin. Baiklah, aku akan pergi dengannya. Lebih mudah bagiku menghadapinya daripada menghadapi kecerewetanmu.” Hyun Ri tersenyum nakal. “Disamping itu, Minho bisa saja cemburu melihatku bersama Jinyoung.”

Hyorin menarik napas panjang. Shin Hyun Ri yang malang, kenapa ia tidak pernah sadar? Andai ia tau betapa sia-sia usahanya berharap pada Minho. Walau bagaimanapun, Hyorin tetap sahabat Hyun Ri yang senantiasa mengharapkan kebahagiaannya. Ia yakin oppanya memiliki pesona yang dapat membuat Hyun Ri melupakan Minho. Karena mencintai Minho tidak akan memberi kebaikan apapun pada sahabatnya. Siapapun tau itu.

Chunahn merupakan kota yang tak pernah diam. Sejak matahari terbit penuh dengan berbagai aktivitas, kesibukan dan kebisingan yang berlanjut hingga malam dan terus menerus sampai keesokan paginya lagi.

Hyun Ri bangun lebih pagi dari biasanya. Segera ia putuskan untuk berpenampilan istimewa. Ia akan bertemu dengan Minho hari ini, dan hal itu membuat perasaannya berbunga-bunga. Ia bahkan mengesampingkan keberadaan Jinyoung disana. Ia mulai berendam di air panas lebih lama dari biasanya, mencuci rambutnya sampai dua kali, dan menggosok seluruh permukaan kulitnya sampai bersinar. Setelah itu ia menata rambutnya dengan semangat. Ia mengenakan setelan berwarna beige yang cukup modis dan sangat serasi dengan penampilannya yang menawan.

Ia sedang asyik mematut penampilannya di cermin saat Jinyoung masuk ke dalam kamarnya untuk memberi tau bahwa acara akan segera dimulai. Mereka tidak bercakap-cakap sepanjang perjalanan menuju gedung Aula. Ketika mereka sampai di Aula, ia melihat Minho yang nampak tidak senang dengan kehadirannya bersama Jinyoung. Minho berdiri dengan malas, bahkan dengan tidak sopannya mengabaikan mereka dan terus berjalan tanpa peduli perasaan Hyun Ri yang bertanya-tanya.

Hyun Ri merasa malu dan akhirnya memutuskan untuk duduk sendirian di pojokan yang ternyata diikuti oleh Jinyoung. Namja itu membiarkan Hyun Ri merasa kesal lebih lama, karena tidak segera berpindah dari tempatnya dan hanya memandang ke arah Hyun Ri dengan tatapan luar biasanya. Menyadari dirinya begitu mengagungkan Hyun Ri membuat Jinyoung berpikir, cukup sekali ia memandang Hyun Ri, Jinyoung tau ia harus memilikinya. Terlebih saat ia menyadari bahwa Hyun Ri adalah gadis yang selama ini menghiasi mimpinya, memberinya inspirasi dan dicintainya. Maka demi apapun, ia harus mengejar gadisnya. Ia bersumpah untuk memilikinya.

Saat acara selesai, dan mereka mulai meninggalkan ruangan. Jinyoung merasa sangat bahagia, ia memiliki waktu luang untuk berduaan dengan Hyun Ri, gadis pujaannya, untuk menyatakan perasaannya selama ini, lagi. Jinyoung menuntun Hyun Ri ke sebuah taman kecil yang tidak terlihat orang, taman yang sangat indah dikelilingi dengan padang rumput dan ilalang disekelilinya. Sebuah pohon ek besar dengan dahan-dahan yang memanjang di tepi kolam buatan dengan air terjunnya yang menawan. Hyun Ri merasa gugup, keindahan pemandangan disekitarnya tidak mampu menutupi kegelisahannya. Mengapa Jinyoung bersikap baik begini setelah apa yang dilakukannya waktu lalu?

“Jinyoung, mengapa kita disini?” tanyanya setengah berbisik saat mereka berada di bawah pohon ek yang menaungi mereka dari pancaran sinar matahari seperti kubah.

“Ada yang ingin kutunjukkan padamu, Hyun.” rasa gugup tadi berubah menjadi tanda bahaya. Mengapa Jinyoung memanggilnya seperti itu lagi? Apa dia masih…

“Disini indah.” Hyun Ri mulai mengalihkan pembicaraan. “Apa ini yang ingin kau tunjukkan padaku?” dan ia mulai memaki dalam hati mengapa ia membuka topik yang dihindarinya.

“Tidak jagiya.” Jinyoung berbisik dengan suara rendah. “Inilah yang ingin kutunjukkan padamu, kuberikan lebih tepatnya.” cahaya berkilauan terpantul dari berlian yang terpasang di sebuah cincin perak. Sejenak Hyun Ri tidak bisa berkata apa-apa, ia bahkan tidak mampu bernapas.

“Jinyoung ini…”

“Sejak aku melihatmu, aku ingin kau menjadi kekasihku. Kau tau aku bahkan selalu bermimpi tentangmu beberapa tahun terakhir, meski aku belum mengenalmu. Aku yakin aku mencintaimu, Hyun-ah. Oleh karenanya secara resmi aku memintamu untuk…”

“Tunggu!!” Hyun Ri setengah berteriak dan mundur teratur. “Ini salah, Jinyoung. Oh Tuhan, ini salah!”

Senyum Jinyoung memudar, “Apa maksudmu?”

“Jangan mendekat!!”

“Hyun ada apa?”

“Ini salah Jinyoung, tidak seharusnya kau begini!”

“Hyun, kau membuatku bingung!”

“Aku menyukaimu, Jinyoung. Sungguh. Tapi ini salah. Kau namja yang baik, kau oppa sahabatku. Aku suka bersamamu. Tapi kebersamaan kita harus berakhir disini.”

“Apa maksudmu itu, Hyun?”

Hyun Ri menunduk mendengar pertanyaan tajam dari bibir Jinyoung. “Kau seorang namja yang baik, sangat menarik dan keadaan mungkin berbeda seandainya saja aku tidak mencintai laki-laki lain. Tapi…Minho adalah satu-satunya orang yang kucintai, Jinyoung. Sejak dulu.”

“Tunggu dulu, apa kau ingin mengatakan bahwa kau menyukai laki-laki lain Hyun?”

“Aku tidak menyukainya, Jinyoung. Aku mencintai Minho lebih dari diriku sendiri.”

“Sudahi permainanmu, Hyun. Tidak lucu. Aku sudah bersabar selama ini untukmu, kau tidak perlu berpura-pura lagi.”

Alis Hyun Ri bertaut. “Berpura-pura apa?”

“Kau tidakperlu melakukannya Hyun, kau tau dengan jelas bagaimana perasaanku padamu. Kau tidak perlu membawa laki-laki lain dalam hubungan kita.”

“Tidak! Kau tidak mengerti Jinyoung. Sejak awal yang kucintai hanyalah Minho. Bukan kau.”

“Minho? Maksudmu Choi Minho?” tanya Jinyoung heran. “Kau bercanda ya? Minho bahkan tak pernah melihatmu dengan cara pandang seperti itu. Bagaimana mungkin kau mencintai namja dingin itu?”

Mata Hyun Ri menyala karena marah.”Teganya kau berkata begitu! Aku mencintainya. Tidak peduli bagaimanapun dia padaku, suatu saat dia pasti akan menyadarinya. Sudah dua tahun aku selalu mencintainya! Dia pasti menyadari itu!”

Tubuh Jinyoung menegang, menyadari sesuatu yang melukai perasaannya. Shin Hyun Ri serius dengan kata-katanya, bahwa dirinya mencintai Minho. Laki-laki yang bahkan tidak pernah menganggapnya seperti Jinyoung padanya. “Apa kau memanfaatkanku Hyun?”

“Aku…”

“Jawab aku Hyun!!”

“Aku…aku…” Hyun Ri tidak tau harus berkata apa.

“Kurasa kau sudah memanfaatkan aku, Hyun.” Jinyoung berkata dengan sinis. “Kau memberiku banyak perhatian yang kusangka itu tulus karena kau menyukaiku. Kenapa kau melakukannya, Hyun? Kenapa?”

Hyun Ri melihat emosi mulai menyelubungi Jinyoung, dan ia merasa sangat ketakutan. “Aku…aku tak bermaksud menipumu. Aku berharap Minho akan cemburu melihat kita, dan dia akan menyadari pentingnya keberadaanku. Percayalah aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Saat perhatianmu bertambah besar, aku mencoba menghindarimu.”

Jinyoung menghela napasnya, ia menatap Hyun Ri dingin. “Aku begitu bodoh menyerahkan diriku untuk gadis yang mencintai laki-laki lain. Aku tulus padamu, aku meminta mu dengan sopan, tapi ini semua balasan untuk perasaanku?” Harga dirinya terluka, dan ia tau itu. Ia telah berusaha secara tulus untuk memenangkan percintaannya, namun ia malah dimanfaatkan dengan kejam.

“Aku tidak pernah bermimpi bahwa kau akan menyatakan perasaanmu, Jinyoung.” Hyun Ri menatapnya sedih. “Aku sudah mencoba menghentikanmu dari rasa sakit, tapi kau malah mengikuti ke dasar jurang.” Jinyoung tersenyum kecut, ia tentu saja akan mengikuti gadis itu kemana saja. Ia bersedia melakukan apa saja, demi Hyun Ri, Jinyoung setuju hampir dalam segala hal untuknya.

“Kau tau perasaanku, Hyun. Kau tidak mungkin tidak tau. Aku menginginkanmu sejak pertama aku melihatmu. Namun sayangnya, kau mempermainkanku demi laki-laki yang salah.”

“Jangan berkata begitu tentang Minho! Kau tidak tau apa-apa tentangnya!”

“Dan kau pikir kau tau? Sayang sekali, Hyun. Kau tau rasa sakit yang kurasakan, suatu saat kau akan merasakannya. Hancur.”

“Kau mengancamku? Dasar pengecut, apa kau mendendam padaku, Jung Jinyoung?”

“Aku tidak mendendam padamu, Hyun. Aku tidak mungkin melakukannya. Kau menyakitiku, sudah cukup bagiku jika kau merasakan yang sama!” Jinyoung menyudutkan Hyun Ri, ia mencengkeram erat kedua lengan gadis itu. Cincin perak itu terjatuh entah dimana akibat pergerakan yang tiba-tiba. Belum sempat Hyun Ri merespon, ia menutup jarak di antara mereka dan mengangkat wajah yeojanya, menatap kedua bola mata yang berbalik menatapnya dengan terkejut.

“Kau akan menyesalinya, Hyun.” Suara Jinyoung bergetar karena menahan hasratnya yang menggelora. Hyun Ri tau ia harus menolak bahkan kalau perlu ia harus pergi dari taman itu sekarang, namun tatapan Jinyoung membuatnya seperti agar-agar, ia bahkan tak sanggup untuk mengeluarkan suara penolakannya. Tanpa menunggu jawaban, Jinyoung menyapukan bibirnya ke bibir gadis itu. Gadis itu tidak bergerak, namun Jinyoung bisa mendengar suara terkejut pelannya yang membuatnya semakin memperdalam ciumannya, menelusuri kulit lembut bibir gadis itu dengan lidahnya.

“Ya Tuhan..” bisik Jinyoung disela-sela ciumannya. “Hyun-ah…”

Hyun Ri langsung menyentuh akal sehatnya dan memberontak melepaskan diri. Ia memang tidak mampu mendorong jatuh Jinyoung, tapi setidaknya dirinyalah yang terjatuh dari tempatnya berdiri.

Jinyoung mengumpat dalam hati dengan serbuan perasaan jengkel menatap Hyun Ri yang berusaha sekeras mungkin menjauhinya dengan tatapan matanya yang terlihat panik. “Bre***ek Jinyoung! Apa yang kau lakukan sialan?? Kenapa kau melakukannya lagi!! Bukankah sudah kukatakan bahwa aku mencintai namja lain.”

“Itu pembalasanku untukmu, Hyun! Tenang saja, Minhomu tidak akan pernah tau tenang hal ini.” Jinyoung tertawa dan mengundang Hyun Ri menyarangkan tinju terbaiknya pada namja itu, namun pukulan yang semestinya dapat membuat seseorang terlempar itu dapat dihindari dengan mudahnya. Jinyoung memelintir tangan Hyun Ri ke belakang dan mengunci gerakannya.

“Aku akan membunuhmu!!” jerit Hyun Ri, amarahnya meledak. Namun ia tak bisa bergerak, lengannya sakit, dan kenyataan itu mencabik harga dirinya yang tinggi.

“Kalau kita bertemu lagi, namun sayangnya kita tidak akan bertemu Hyun.” Jinyoung melepaskannya dan langsung berbalik menuju hotel. Hyun Ri mengusap bahu kanannya yang terasa sakit kemudian terduduk lemas sambil meringkuk memeluk lututnya yang gemetar. Ia bersandar dengan air mata yang meleleh perlahan. Yang ia perlukan hanyalah pembalasan setimpal atas apa yang dilakukan Jinyoung yang mengambil keuntungan darinya. Dan ia merasa lebih baik setelah memikirkan pembalasan untuk namja itu, ia bisa melakukannya kapan saja. Ia kembali ke kamar hotelnya dan membersihkan dirinya. Ia hanya mendengarkan musik sepanjang sisa hari itu, tertidur dengan mudah dan memimpikan Jung Jinyoung.

TBC~

aahhhhh padahal gak cuma segini yg mau di post,, padahal pengen bikin oneshot!! tapi berhubung kepanjangan yaudah deh dibuat part -_-

nantikan kelanjutannya yaa,,, akhir yg ga trduga looohhh *promosi*

Posted 30 Juli 2013 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: