[FF] Here For You – Part 9   3 comments


Assalamualaikum wr wb!!

annyeoooooooooong!!^^

hayo yang kangen sama author cantik ngumpul!! yng kangen ma here for you ngumpul-ngumpul, yng kangen sm hyorin dkk ayo ngumpul!! mian late to update readerdeul!! saia sibuk, belom lagi speedy di rumah pilih kasih == gk mau konek kalo pke laptop TT

 ok deh, ga sah bnyak capcus selamat menikmati ^^

.

.

HERE FOR YOU

Author: d_na

Genre: Romance

Length: 9 of ?

Cast:

You as Jung Hyorin

Jung Jinyoung as your brother

Bae Suzy as your best friend

Lee Gikwang as your sunbae

Cha Sun Woo aka Baro as your best-friend’s fiancee

Summary: Hyorin seorang gadis pintar dan cantik bertemu dengan Suzy, seorang anak orang kaya beserta bodyguardnya. tanpa mereka sadari pertemuan pertama mereka menjadi sebuah awal yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam permainan nasib. suatu hari Hyorin dkk mengikuti suatu perjalanan ke jejudo, ternyata perjalaan yang seharusnya mengasyikan itu berubah menjadi tragedi. apakah yang akan terjadi??? jreng jreng jreng….

============================

[Now playing: Siwon Choi (suami author) – I must be bad]

“Huwaa!! Baro!! Lihat!! Saljunya putih sekali!! Yeppo!!” seru Suzy seraya menangkup tumpukan salju di telapak tangannya kemudian memperlihatkannya pada Baro. Baro hanya tersenyum tipis kemudian memandang sekeliling taman yang telah ditutupi selimut berwarna putih bersih itu.

“Yaa!! Kau itu tidak pakai sarung tangan! Nanti masuk angin! Aigoo!!” Baro mengelap tangan Suzy dan menghangatkannya di dalam mantelnya. Suzy menatapnya tidak percaya. Baro….romantis sekali!!

“Aku tidak akan masuk angin! Karena ada kau disisiku!! Yang akan selalu menghangatkanku!” sahut Suzy seraya menggandeng lengan Baro. Baro kembali menampilkan senyum indahnya, namun siapa sangka sorot mata sipitnya yang cool itu menunjukkan kesedihan yang mendalam dibalik senyumannya yang mempesona.

“Baro…kau pernah dengar cerita tentang putri salju?”

“Ne? ah! Aku pernah mendengarnya, wae?”

“Kau tau pastinya…putri salju hidupnya selalu menderita, bahkan nyaris dibunuh oleh penyihir jahat!”

“Ehm…lalu?”

“Untungnya dia bertemu dengan kurcaci-kurcaci yang membantunya, sampai akhirnya seorang pangeran datang menyelamatkan hidupnya!”

“Hmm…?”

“Bagiku…aku sama seperti cerita putri salju itu! hidupku terus-terusan menderita karena dikekang appa! Tapi setelah itu, aku bertemu dengan Hyorin…Kwangie oppa…”

“Mereka kurcacimu?” tanya Baro seraya menaikkan alisnya bingung.

“Geurom…bagiku keberadaan mereka seperti kurcaci yang menolongku! Terutama Hyorin…dia adalah teman pertamaku!”

“Teman pertama?”

“Ne! dia teman pertamaku! Aniy. Dia sahabat pertama yang kupunya!! Aku benar-benar menyayanginya seperti saudaraku sendiri!”

“Geuraesseo? Tapi…bukankah kurcaci dalam cerita putri salju ada 7?”

“Ne…arra! Kurcaci itu kan kecil-kecil, bukannya sama aja kalau Hyorin digabung sama oppa terus dibagi tujuh!!?”

“Hahahaha, kau ini ada-ada saja!! Mereka bisa membakarmu hidup-hidup kalau kau mengatainya seperti itu!” Baro mengacak-acak rambut Suzy.

“Yaa! Jangan diberantakin rambutku!!” omel Suzy seraya merapikan rambutnya kembali. Namun Baro tak peduli dan terus saja asyik mengganggu gadisnya itu.

“Dasar namja menyebalkan!!” Suzy memukuli lengan Baro membuat Baro malah semakin gemas mengganggunya.

“Lalu….siapa pangeran yang datang menyelamatkan putri Suzy ini?” tanya Baro kemudian. Suzy mengigit bibirnya, wajahnya merona.

“Neo molla??” tanyanya. Baro menggeleng-geleng sambil menahan tawa.

“Yaa…neo! Kenapa ketawa-ketawa begitu sih??” rajuk Suzy sambil menggembungkan pipinya kesal. Baro lantas mencubit pipi chubby itu dengan semangat.

“Wajahmu merah sekali!! Ah! Jangan bilang yang kau maksud pangeran itu aku?” goda Baro sambil menatap lurus ke mata Suzy. Membuat gadis itu sedikit gerah.

“Yaa!! PD sekali!! PDmeter mu jebol tuh!!”

“Tapi iya kan??” Suzy mengangguk malu.

“Hahaha! Aku sudah tau itu! lagipula…siapa sih yang tak terpengaruh denganku yang penuh charisma ini?”

“Pft….apaan tuh? Sombong banget! Dasar!”

“Biarin…sombong-sombong begini kau tetap suka kan?”

“Ne…aku menyukaimu…jinjja-jinjja joahae!!”

“Geurae?” tanya Baro pelan. Kemudian menggigit bibirnya resah, dia tampak sedikit ragu. Entah kenapa, ia menjadi bimbang sendiri. Tidak seharusnya ia seperti ini! Tapi…mau bagaimana lagi? Sudah cukup baginya untuk bermain-main! Ia tak ingin menyakiti orang lain lebih jauh lagi!! Tapi…sekali lagi, apa dia sanggup membicarakan hal itu pada Suzy? Meski ia tau, hal ini akan menyakiti dirinya dan Suzy…tapi, ia tak bisa menunggu banyak waktu lagi. Sudah saatnya ia…mengakhiri kisah rumit ini. Tapi…sanggupkah ia?

Apa yang harus ia lakukan? Bila ia diam saja, apa ia takkan terluka? Apa hal ini akan selesai begitu saja? Bagaimanapun juga, ia masih menyimpan sejuta rasa untuk orang itu. Ya, Jung Hyorin…teman masa kecilnya itu. Alasannya untuk terus bertahan, alasannya untuk kembali ke Kota ini dan melakukan perjodohan. Alasannya untuk terus melanjutkan perjodohan. Yah, hanya untuk bertemu dengan gadis yang dicintainya itu.

”Aku tak ingin memikirkannya, entah kenapa hal ini malah selalu membayangi pikiranku!” desah Baro dalam hati.

Apa ia harus jujur? Mungkin…penyelesaiannya akan ada, tapi apa hal itu takkan melukai perasaan Suzy? Juga Hyorin? Lalu hal itu akan merusak persahabatannya dengan Hyorin? Aniy!! Baro menggelengkan kepalanya kuat. Lantas apa?? Apa ia harus tetap melakukan perjodohan ini demi Hyorin? Bila seperti itupun ia jualah yang akan terluka. Lambat laun, Suzy akan tau kebenarannya dan semakin terluka. Begitu pula dengan Hyorin.

“Baro!! Aku ke sana yaa!!” seru Suzy sambil berlarian di atas salju itu. Baro hanya menggeleng-geleng kepala, yeoja pabo itu…membuat boneka salju tanpa kaus tangan? Ckck.

“Yaa! Sudah kubilang nanti kau masuk angin, Suzy-ssi!!” tegur Baro namun Suzy tak menghiraukan. Ia asyik dengan boneka salju yang ia buat. Tanpa terasa sudah tiga buah boneka yang ia buat.

“Yaa! Mau sampai berapa banyak kau buat hah?”

“Ini adalah putri salju…aku…dan ini kau…pangerannya!” tunjuk Suzy pada boneka yang ia buat.

“Dan…ini…kurcaciku, Hyorin!!” Suzy terkekeh. Kemudian ia mulai menumpuk salju lagi untuk boneka Gikwang. Baro menatapnya serba salah. Ia menepalkan kedua tangannya. Ok, jujur itu memang menyakitkan! Tapi akan lebih menyakitkan lagi jika kita tidak jujur, bukan?

“Mianhae…” lirih Baro tiba-tiba. Suzy menatapnya bingung. Wae? Ada apa ini? Kenapa Baro minta maaf? Apa yang…?

“Baro-ya, mianhae? wae? Museun sseorieya?” Suzy menghampiri Baro, wajah Baro yang cool itu tampak bingung.

“Baro? Waegeurae?? Kau sakit perut?” Tanya Suzy khawatir, Baro lantas menggeleng.

“Lalu kenapa wajahmu seperti itu, Baro? Kau seperti wanita yang sedang datang bulan saja!!” Baro menggigit bibirnya.

“Aku ga tau mesti jelasin dari mana. Yang jelas…” Baro menggantung kalimatnya, Suzy semakin penasaran namun berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran negative. Ga mungkin Baro sakit kan?

“Aku menyukai Hyorin!” singkat Baro membuat Suzy tersentak. Apa? Apa katanya barusan? Menyukai Hyorin? Hyorin maksudnya Jung Hyorin? Sahabatnya itu? Geunde, wae?

“Mworago? Hyorin? Jung Hyorin? Baro! Kau bercanda, kan?” Suzy berusaha menyangkalnya.

“Aku serius!” Baro kembali menatap manic mata Suzy. Tatapan cool yang menampakan ketersiksaan itu.

“Aniy…kau bahkan tidak mengenal Hyorin…ottokhae? Yaa! Baro!! Nongdamajimarago *jangan bercanda* kau pikir aku bakal percaya dengan kebohonganmu itu?”

“Suzy-ah!! Jebal…aku serius…” apaan sih? Kenapa Baro begini? Apa maksudnya? Padahal…padahal barusan ia baik-baik saja…

“Geumanhae!! Yah! Cha Sun Woo! Neo waegeurae?? Aku sedang tidak mood bercanda seperti ini?” kesal Suzy. Kenapa Baro mengatakan hal itu?

“Aku ga bercanda!! Aku serius! Aku memang menyukai, aniy. aku mencintai Jung Hyorin! Selama 13 tahun ini aku terus menunggunya, aku mencintainya!!”

“Mworago? 13 tahun? Ige…museun seo isseo?”

“Aku dan dia adalah teman masa kecil. Tapi, pada saat berusia 5 tahun, aku pindah ke Amerika! Aku berjanji padanya aku pasti kembali! Aku benar-benar mencintainya! Dialah alasan kepulanganku kesini!”

“Baro!! Cukup! Aku…benar-benar tidak ingin bercanda sekarang!!” pinta Suzy seraya menyeka air matanya yang tanpa sadar mulai mengalir.

“Mianhae Suzy-ssi!!”

“Hahaha!! Kau tau? Nyaris saja aku mempercayai semua omongan….” Suzy menatap kalung yang ditunjukkan Baro padanya.

“Ini adalah kalung miliknya. Milik Hyorin!”

“Ga! Aku ga percaya! Itu ga mungkin! Ga! Kau bohong!! Kau bohong kan? Baro katakan semua itu bohong! Itu bukan milik Hyorin!! Aniy…ga mungkin…jangan bercanda!!” Suzy kembali meneteskan cairan bening itu dari matanya satu persatu, Baro hanya menggeleng.

“Aku menyukainya! Suzy-ssi, mengertilah…jebal!! Aku benar-benar minta maaf telah menyakitimu seperti ini! Tapi…”

“Ga! Kamu ga bisa melakukan ini padaku! Kita sudah bertunangan!! Tanggal pernikahan kita bahkan sudah ditetapkan! Kau tunanganku Baro!! Jangan katakan hal itu!!!” jerit Suzy. Ia tak tahan mendengar pernyataan demi pernyataan yang menyakiti hatinya itu.

“Suzy-ssi! Tenanglah!” pinta Baro lembut, Suzy menggeleng.

“Kenapa? Kenapa harus Hyorin? Hyorin itu sahabatku!! Kenapa kau? Kenapa harus Hyorin? Kenapa? Gikwang oppa…kau…! Semuanya menyukai Hyorin!! Wae? Wae? Wae??” tuntut Suzy. Ia menutup matanya

“Aku juga tidak tau…itu…semuanya…terjadi begitu saja.”

Itulah permainan takdir. Benang merah tak terlihat yang menjerat mereka ke dalam kisah rumit dan membelenggu kini sudah membentang tanpa mereka sadari. Ya, kira-kira begitulah awalnya. Semua yang terjadi, yang telah menjerumuskan mereka tak ada satupun yang menyadari itu sebuah pertanda. Pertanda akan sesuatu yang akan membuat mereka bahagia…atau justru menderita?

Jam yang terus berdentang di dalam hati Suzy tak jua memberitahukan jawabannya. Ia masih harus dan terus mencari. Bahkan ketika menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam sebuah lonceng yang berukuran rumit, membuatnya lebih memahami kisah di antara mereka bertiga.

“Bukankah selama ini kita cocok? Lagipula…Hyorin…dan Gikwang oppa…” bisik Suzy lemah. Ia terduduk saking lemasnya dan tak sanggup berkata apa-apa.

“Kamu…karena kamu ga pernah menyukaiku, kan?” bisik Suzy di sela-sela tangisnya. Baro berlutut di sampingnya.

“Dengar Suzy-ssi, aku ga maksud membuatmu seperti ini. Kumohon mengertilah! Aku memang menyukaimu! Aku benar-benar menyukaimu! Tapi, aku juga menyukainya. Aku mencintai Jung Hyorin!”

“Lalu…harus kukemanakan perasaanku ini? Lagipula, apa yang akan kau lakukan setelah putus dariku? Hyorin..dia menyukai Gikwang oppa!!” Baro mendesah, ini terlalu berat baginya.

“Suzy-ssi! Jangan menuduh gitu donk! Belum tentu Hyorin menyukai namja itu…”

“Tapi…”

“Aku…meskipun ga bersamanya! Aku tetap ga ingin menyakitimu lebih lagi. Aku ga mau menyimpan perasaanku. Aku ga mau melukaimu! Makanya aku mengatakan hal ini!”

“Tapi kau melukaiku!! Baro…jebal! Jangan buat aku seperti ini, jebal!”

“Mianhae…” kemudian berlalu meninggalkan Suzy seorang diri. Suzy meringkuk memeluk lututnya, bahunya terguncang keras. Ia terisak senyaringnya-nyaringnya. Hatinya sakit. Persendiannya terasa lemas. Kenapa Baro seperti itu? kenapa? Kenapa harus Hyorin? Hyorin, teman pertamanya. Orang yang paling tak ingin disakitinya. Kenapa harus dia?

=.=

Jinyoung baru saja mau ke D.Lite café tempatnya bekerja sambilan. Ia menatap jam di tangan kirinya. Sekarang sudah pukul 13.10. sudah lewat 10 menit ia berjalan, kemudian langkahnya terhenti tepat di depan sebuah taman yang tertutup salju itu. Ia mengancingkan jaketnya karena hembusan angin utara yang begitu dingin dan menusuk. Kembali pada pikirannya tentang masa lalunya bersama Hyorin di taman ini. Saat ia selalu menemani Hyorin membuat boneka salju.

“Oppa!! Ibwa!! Boneka caljunya lucu kan? Ini boneka caljuku, dan yang ini oppa!!”

Hyorin…yeoja itu, entah dimana batas rasa suka yang ia miliki. Akankah akan terus begini selamanya? Hyorin tidak mau pulang sejak kejadian itu, dan itulah yang membuat Jinyoung semakin merutuki dirinya sendiri. Merutuki kebodohan dan keegoisan dirinya. Oppa macam apa dia? tega melakukan hal itu pada adiknya sendiri?

“Sudah sewajarnya Hyorin marah…aku tau itu…tapi kenapa…kenapa aku tetap tak bisa menerima hal ini?”

I feel like dying. I can’t do anything well without you. Again, my heart aches. I think I’m gonna crazy. How did it happen? How did it become like this? I shouldn’t do this. I know it. But…I just can’t let you go. Please…please come back to me…Hyorin-ah..

“Aku ga bercanda!! Aku serius! Aku memang menyukai, aniy. aku mencintai Jung Hyorin! Selama 13 tahun ini aku terus menunggunya, aku mencintainya!!” seru seseorang mengejutkan Jinyoung. Ia menoleh pada dua orang yang tengah berada di taman itu. Jinyoung menyipitkan matanya memastikan bahwa dirinya tak salah lihat. Bukankah itu?

“Mworago? 13 tahun? Ige…museun seo isseo?” tanya Suzy. Jinyoung merangsek mendekati mereka diam-diam, mencoba mencuri dengar pembicaraan itu. bagaimanapun juga, ini menyangkut Hyorin.

“Aku dan dia adalah teman masa kecil. Tapi, pada saat berusia 5 tahun, aku pindah ke Amerika! Aku berjanji padanya aku pasti kembali! Aku benar-benar mencintainya! Dialah alasan kepulanganku kesini!” apa?? Namja itu? Baro??? Baro!! Dan dia…menyukai Hyorin?? Menyukai Jung Hyorin??

“Baro!! Cukup! Aku…benar-benar tidak ingin bercanda sekarang!!” dilihatnya Suzy menyeka air matanya. Apa-apaan namja bernama Baro ini, kenapa dia begitu serakah sampai membuat seorang yeoja menangis di depannya.

“Mianhae Suzy-ssi!!”

“Hahaha!! Kau tau? Nyaris saja aku mempercayai semua omongan….” Jinyoung tersentak menatap kalung yang diperlihatkan namja itu pada Suzy. Itu…itu kalung milik Hyorin!!

“Nah Hyorin, saengil chukkae ya! Ini appa kasih hadiah!”

“Appa! Aku cudah bilang tidak ingin apa-apa!”

“Aigoo! Appa udah cape-cape bawa dari Busan!” rajuk appa.

“Geulae…tapi…aku mau oppa yang membukakannya untukku!!” seru Hyorin menatap Jinyoung yang membuang mukanya.

“Naega wae?” ketus Jinyoung kesal. Ia kemudian pergi.

“Yah! Jinyoungie…!” panggil appa, namun Jinyoung tak mengacuhkannya. Hyorin menekuk lehernya. Kenapa oppanya begitu dingin bahkan pada ulang tahunnya sekalipun?

“Oppa!! Oppa kau malah padaku? Mianhae…” suara cempreng Hyorin menyakiti telinga Jinyoung membuat kekesalannya makin menjadi-jadi.

“Yah! Sudah kubilang jangan pernah panggil aku oppa! Seumur hidupku, aku takkan pernah menganggapmu sebagai adik, arra?”

“Yah! Jung Jinyoung! Kau ini bicara apa?” marah Mr. Jung. Jinyoung memalingkan wajahnya kemudian merebut kado di tangan Hyorin. Ia lantas membuka kertas pembungkusnya dengan cepat. Sebuah kotak kecil yang lucu menyembul dari dalam kertas.

Lucu na!!” seru Hyorin membuat Jinyoung hanya menghela napas panjang menahan kesabaran.

Hadiahnya didalam, Hyorin-ah!!” sahut Mr. Jung tenang sambil memberikan kotak itu pada Hyorin. Pelan-pelan Hyorin membuka kotak mungil itu. Tampak rantai perak berkilauan menghias dalamnya. Beberapa batu berlian kecil yang bertuliskan inisial namanya menghiasi rantai itu.

“Yeppo!!! Gomawo appa!!” seru Hyorin seraya memeluk appanya. Senyumnya benar-benar kekal membuat siapapun luluh, namun tidak demikian bagi Jinyoung. Ia malah semakin muak dengan senyum yeoja di depannya.

“Ini adalah kalung miliknya. Milik Hyorin!” tidak salah lagi!! Itu memang kalung milik Hyorin! Tapi…kenapa bisa bersama namja itu?

“Ga! Aku ga percaya! Itu ga mungkin! Ga! Kau bohong!! Kau bohong kan? Baro katakan semua itu bohong! Itu bukan milik Hyorin!! Aniy…ga mungkin…jangan bercanda!!” racau Suzy. Air matanya menetes deras.

“Aku menyukainya! Suzy-ssi, mengertilah…jebal!! Aku benar-benar minta maaf telah menyakitimu seperti ini! Tapi…”

“Ga! Kamu ga bisa melakukan ini padaku! Kita sudah bertunangan!! Tanggal pernikahan kita bahkan sudah ditetapkan! Kau tunanganku Baro!! Jangan katakan hal itu!!!” jerit Suzy.

“Suzy-ssi! Tenanglah!” pinta Baro lembut, Suzy menggeleng.

“Kenapa? Kenapa harus Hyorin? Hyorin itu sahabatku!! Kenapa kau? Kenapa harus Hyorin? Kenapa? Gikwang oppa…kau…! Semuanya menyukai Hyorin!! Wae? Wae? Wae??” tuntut Suzy.

“Aku juga tidak tau…itu…semuanya…terjadi begitu saja.”

“Bukankah selama ini kita cocok? Lagipula…Hyorin…dan Gikwang oppa…” bisik Suzy lemah. Ia terduduk. Baro berlutut di sampingnya.

“Dengar Suzy-ssi, aku ga maksud membuatmu seperti ini. Kumohon mengertilah! Aku memang menyukaimu! Aku benar-benar menyukaimu! Tapi, aku juga menyukainya. Aku mencintai Jung Hyorin!”

“Lalu…harus kukemanakan perasaanku ini? Lagipula, apa yang akan kau lakukan setelah putus dariku? Hyorin..dia menyukai Gikwang oppa!!” mereka bicara terlalu pelan hingga sulit bagi Jinyoung untuk mendengarnya.

“Tapi kau melukaiku!! Baro…jebal! Jangan buat aku seperti ini, jebal!”

“Mianhae…” Baro berlalu meninggalkan Suzy yang meringkuk memeluk lututnya. Jinyoung lantas mengejar Baro.

“Tunggu!! Aku ingin bicara!” Jinyoung menatap Baro dengan tatapan khasnya yang tajam, setajam silet (?) langkah Baro terhenti, ia mengamati namja yang tiba-tiba berdiri di depannya.

“Jung…Jinyoung?” Baro menaikkan alisnya bingung ketika mengenali siapa namja itu.

“Yeoja disana…dia tunanganmu kan?” tanya Jinyoung. Baro melihat apa yang ditunjuk Jinyoung, Suzy yang masih memeluk lututnya yang gemetar itu.

“Ne…tapi…itu tak ada hubungannya denganmu!” elak Baro kemudian pergi.

Bruaaggh…Jinyoung menjotoskan pukulannya membuat Baro terjengkal (hobi banget sih mukulin orang, bang ==)

“Apa-apaan ini?” marah Baro tidak terima. Ia mencoba bangkit namun kerah bajunya di cengkram erat oleh Jinyoung.

“Kau pikir kau siapa?” gertak Jinyoung. Napasnya mulai terengah-engah, dan terus saja memandang Baro dengan tatapan yang tajam. Baro balas menatapnya dengan ekspresi heran.

“Hah? Apa maksudmu? Kenapa kau memukulku? Karena aku membuatnya menangis?” tuntut Baro, kemudian tertawa. Seolah-olah berusaha memprovokasi Jinyoung. Namun ekspresi wajah Jinyoung tetap tak berubah.

“Kau menyukainya?” tanya Baro sakartis. Jinyoung menghela napas pelan lalu melepas cengkraman tangannya pada kerah baju Baro.

“Jangan membuatku tertawa!” sergah Jinyoung kasar.

“Lantas apa?”

“Pukulan tadi…untuk Hyorin!! Kau!! Jangan sekali-sekali kau memasuki kehidupannya lagi!!” kecam Jinyoung. Baro menatapnya bingung.

“Memangnya kenapa? Kau pikir kau pantas memukulku, hah?”

“Tentu saja!! Aku bahkan ingin membunuhmu sekarang juga!! Karena kau!! Karena kau!! Aku hampir kehilangan adikku!! Kau ingin membunuhnya?”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!!”

“Oh…tentu saja kau tak mengerti!! Setelah kepergianmu, Hyorin terus-terusan melamun sambil memandangi bintang sialan itu hingga pada akhirnya kecelakaan itu…” kenang Jinyoung sedih.

“APA?? Kecelakaan? Maksudmu…Hyorin…?”

“Ya dia kecelakaan hingga koma selama 23 hari!! Kau puas? Kau puas membuat hidupnya menderita? Sekarang! Jangan pernah kau ganggu Hyorin!! Aku takkan segan-segan padamu!!” ancam Jinyoung sambil berlalu. Baro menatap kepergiannya dengan perasaan campur aduk. Wajah Baro mengeras dan menderita sekali. Ia seperti sangat menyesal.

“Cha Sun Woo-ssi! Dengar, aku bukanlah orang yang kau cari! Aku bukan Jung Hyorin yang kau maksud! Lagipula di dunia ini, banyak sekali orang yang bernama itu! Jadi…jangan pernah muncul lagi dihadapanku! Arraseo??”

“Arra! Tapi…kita pernah satu TK!”

“Cha Sun Woo-ssi!! Aku tak tau orang yang kau maksud itu sepenting apa, tapi berhenti mencegatku setiap hari disini! Dan meskipun kita lulusan dari TK yang sama, aku ga pernah ingat bahwa aku memiliki teman sepertimu! Aku ga ingat pernah mengenalmu!!”

“Lepas!! Michyeoseo?? Aku sudah bilang aku tak mengenalmu sebelum ini!!”

“Apa…karena itu? apa dia membenciku sampai seperti itu karena…aku?” bisik Baro seorang diri.

“Mianhae Hyorin-ah…jeongmal mianhae…mian…” Baro mulai terisak membisikkan kata-kata penuh penyesalan itu. butiran-butiran salju perlahan mulai jatuh berguguran.

Jinyoung terus berjalan sampai ke dekat taman, kemudian berhenti sejenak. Ia menatap Suzy yang sedang menangis membelakanginya. Ia menghela napasnya kasar. Kemudian berjalan dengan cueknya, mengabaikan gadis itu. Suzy bangkit, tatapannya kosong. Ia menatap jalanan seperti orang linglung, dan terus berjalan tanpa memperdulikan panggilan Jinyoung.

“Suzy! Lampu merah!” seru Jinyoung yang dengan cepat menarik lengan gadis itu. menggenggam lengannya dengan sekuat tenaga.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak lihat rambu-rambu?” Suzy menoleh dengan linglung dan ia hanya menatap bingung pemuda itu.

=.=

[Suzy POV]

“Suzy! Lampu merah!” Deg…!! Suara ini kan, suara Jinyoung!!

“Apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak lihat rambu-rambu?” Aku menoleh dan menatapnya bingung, bisa kurasakan setetes demi setetes air mataku kembali mengalir deras. Kutatap wajahnya, napasnya tampak mengepulkan uap putih.

“Kau ini kenapa? Yah!! Jangan hanya karena satu namja kau ingin menghabisi hidupmu!!” bentaknya. Aku melihat salju yang mencair menetes dari rambutnya. Dia memakaikan jaket yang dipakainya di bahuku dan menarik tanganku mencari tempat berteduh. Aku masih tak tau harus berkata apa. Lebih tepatnya, aku tak bisa berkata apa-apa.

“Yah…gwaenchana?” dia memapahku ke sebuah bangku. Aku memejamkan mataku, membiarkan tetesan air mataku terus mengalir. Kenapa aku menangis? Kenapa? Kenapa aku harus meneteskan air mata untuk orang yang cintanya bahkan bukan untukku? Baro…kenapa kau begitu? kenapa? Kenapa harus Hyorin?

Terdengar suara langkah kaki menjauh, sepertinya Jinyoung sudah pergi. Padahal aku belum mengucapkan terima kasih padanya. Yah, meski aku tau dia takkan memperdulikan aku sih. Tapi setidaknya, aku harus menjelaskan padanya agar tak salah paham. Merasa sedikit lebih baik, kubuka mataku pelan sembari menghirup udara yang dingin membeku itu.

“Yaa!!”

“Omo!!” kagetku saat kulihat Jinyoung berdiri sambil berkacak pinggang di depanku. Wajahnya tadi…sangat dekat dengan wajahku!! Dan…ternyata dia ganteng juga…eh? Kyaa!! Apa yang kukatakan barusan? Dia ganteng?? Oh boy!!

“Mau yang mana?” tanyanya sambil menyodorkan 2 kaleng minuman.

“Ehm, yang yujacha aja…” kemudian dia memberiku minuman dengan kaleng ungu itu, kemudian duduk disebelahku. Aku menatap kaleng minumanku dengan jari gemetar. Mataku kembali panas. Kenapa Jinyoung yang kasar itu tiba-tiba berubah baik begini? Apa yang salah dengan otaknya? Ataukah dia kasihan melihatku? Tentu saja dia kasihan…mungkin baginya, aku sangat menyedihkan. Lagi-lagi, aku tak kuasa membendung air mataku.

“Itu…tidak diminum?” tanyanya memecah keheningan. Dia menatapku, aku berusaha untuk menyembunyikan air mataku dengan memalingkan wajahku.

“Sudahlah….!!” sergahnya.

“Yaa! aku tidak tau dan tidak peduli kau itu yeoja sebodoh apa. Geunde, hanya karena masalah seperti itu saja sudah ingin bunuh diri! Kalau aku tidak datang tadi, kau pasti mati!!” ucapnya ketus. Apaan sih dia? Tau-tau mengataiku bodoh, lagipula…siapa yang ingin bunuh diri? Memang pikiranku sedang kosong saat itu…tapi…dia ga punya hak untuk mengataiku seperti itu!! Memang dia siapa?

“Aku…kau mau apa? Mau aku mati sekalipun…itu bukan urusanmu kan? Aku matipun…tak ada yang peduli…”

”Aku ada disana, kau pikir aku tega melihat seorang yeoja menyedihkan sepertimu mati begitu saja? Nanti malah aku yang dikira berbuat macam-macam padamu!”

“…”

“Aku sudah tau semuanya…!” ucap Jinyoung. Aku terkejut, lalu menatapnya.

“Ta…tau apa? Apa maksudmu?”

“Tadi aku ga sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Baro!”

”Mwo?” kagetku dengan suara serak. Dia…dengar? tapi…

”Aku tidak menyangka ada namja sebre**sek dia. Mempermainkan perasaan orang saja!” komentar Jinyoung kesal.

“Hah? Hahahaha…kau benar…ahahahaha, sudahlah…! kenapa jadi kau yang marah? Mestinya aku yang…apalagi…tanggal pernikahan kami sudah…” aku berusaha memaksakan tawa dengan bibir bergetar. Jinyoung menatapku iba.

“Suzy-ah..!!” dia bergumam. Aku menunduk, kurasakkan mataku berkedut.

“A…apa?”

”Itu bukan untukmu…aku marah untuk Hyorin!!”

”Mwo? Maksudmu?” tanyaku. Kenapa…Hyorin lagi?

“Gara-gara namja itu…Hyorin nyaris kehilangan nyawanya. Makanya, aku ga mau hal itu terjadi padamu juga!”

“Wae? Memang apa pedulimu padaku?”

“Kau kan sahabat Hyorin…” jawabnya singkat, membuatku bingung. Memang benar aku sahabatnya Hyorin, terus kenapa? Apa itu berarti dia mesti melindungiku? Aneh…

”Apa sih? Ga jelas banget deh! Tanpa kau, aku pasti baik-baik saja tau!”

“Sudahlah tidak usah berusaha kuat seperti itu, kalau memang tak sanggup, cerita saja!!” lanjutnya, membuatku terkejut. Kenapa dia tiba-tiba berkata seperti itu? bukankah dia tak peduli padaku? Tapi…kenapa dia berkata seolah-olah dia peduli?

“Apa sih? Aku tuh ga apa-apa tau!! Ga usah pedulikan aku!!” jeritku. Kurasakan air mataku meleleh lagi, apa segitu mudahnya ya? Aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku sendiri. Hanya satu hal yang kutau. Sesak, dadaku terasa sesak. Aku menangis sesunggukkan.

Aku jadi teringat dengan drama-drama yang sering kutonton disaluran TV swasta setiap sore hari. Jinyoung…biasanya kalau yeoja nangis tuh, namjanya pasti bilang ‘jangan menangis’ atau ‘menangislah di pundakku’ atau setidaknya memberi sapu tangan. Ah aku mikir apa sih? Mana mungkin Jinyoung tipe orang yang romantis seperti itu! Pabo! Lagipula Jinyoung itu siapa? Bukan siapa-siapaku kan? Tapi sungguh di komik atau di film-film itu biasanya begitu.

“Yaa…” panggil Jinyoung. Ah ini dia!! Apa dia mau bilang, ‘jangan menangis’ atau ‘menangislah dipundakku’, aku jadi berdebar-debar.

“Wajah mu itu jelek!!” eh apa? APA?? Dia bilang wajahku jelek? Aku mengepalkan kedua tanganku. Dia mengataiku JELEK?? Dasar Jinyoung pabo!! kupikir dia bakal bilang kata-kata romantis seperti khayalanku, tau-taunya malah mengejek. Uh…sial! mestinya aku sadar dari tadi dong!! Sampai berdebar-debar segala lagi, padahal ga mungkin makhluk macam Jinyoung berkata seperti itu.

“Berisik!! Mau jelek atau ga apa pedulimu hah?”

“Jadi…jangan menangis seperti itu donk!! Jadi makin jelek!!” ucapnya sambil menyerahkan sapu tangan miliknya, dia memalingkan wajahnya. Membuatku jadi sedikit…sedikiiit terharu akan sikapnya itu.

“Kau sudah lebih baik?” tanyanya lagi seraya berdiri. Aku mengangguk seraya menghabiskan yujacha milikku. Entah apa yang terjadi padaku…kenapa…dia jadi begini? Aniy…hanya saja! Kenapa Jinyoung yang mesum dan menyebalkan itu tiba-tiba berubah menjadi perhatian begini? Apa…dia kerasukan sesuatu?

“Oke…kau mau pergi atau tidak? Aku harus kerja nih!” ujarnya seraya melirik jam tangannya. Eh? Aku mengangguk. Kemudian mengembalikan jaket miliknya.

“Tidak usah!” dia membuang mukanya. Marahkah?

“Kau lebih membutuhkannya daripada aku!” lanjutnya sambil menatap langit yang masih kelabu itu. cih…sok keren begitu!! padahal dia hanya menggunakan sehelai kemeja tipis, mana mungkin dia tidak kedinginan? Apalagi bodynya yang tipis begitu…*dtendang Jinppa k.sumur*

“Jinyoung…aku…” tiba-tiba aku berdiri menatap punggungnya. Aku…setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih padanya. Aku segera mengumpulkan keberanian dan berjalan mendekatinya. Sayup-sayup kudengar suaranya bergumam.

My cold heart suddenly a little bit seems melted

When you come to me

Eh? Sepertinya…aku kenal lagu ini! Apa dia sedang menyanyi? Aniya…mungkin aku salah dengar. Tapi..kenapa dia menyanyi? Memangnya ini waktu yang tepat untuk bernyanyi? [tolong jangan bertanya, krna saia pun tak tau knpa ==]

And then secretly, you filled my heart

Suaranya…halus sekali. Jernih dan lembut. Khas cowo!! Aku bahkan sampai terlena karena begitu menghayati lirik demi lirik yang diucapkannya.

From one day, at the way back home

While thinking of you, that my appearance

When I saw, I realize you’re already in my heart

Tanpa sadar aku juga ikut menyanyikannya, tiba-tiba dia menatapku sambil tersenyum. TERSENYUM?? GILA!!! Aku sampai terpaku akan senyumnya yang indah itu. kenapa ini? KENAPA?? Dia tidak seperti Jinyoung yang aku tau. Jinyoung yang menyebalkan dan bermulut tajam itu. tapi kenapa…dia tersenyum padaku? Apa dia sudah gila?

dan bagian terburuknya ialah, mengapa aku menyukai senyumnya barusan?? apa aku juga sudah gila?

At first, I didn’t know that I’d be like that

I’d be thinking of you, I’d be loving you

Your heart too…please be the same

With my heart like this

“Wuah!! Kau hebat sekali!! Suaramu bagus sekali, Jinyoung!!” seruku antusias tanpa sadar. Dia tersenyum sok.

“Geurae…?” wajahnya berseri-seri seperti anak-anak. Satu lagi…! satu lagi sisi Jinyoung yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku…jadi ingin lebih mengenalnya. Oh boy!! Please…this doesn’t make any sense, right? Snap out of him, Suzy!! You can’t be…even I NEVER think it’s possible though in dream but…argh!!! Don’t tell me that you’re interested with this namja, Suzy?? YAKS! Tapi…kenapa dadaku jadi bergemuruh kencang begini? kenapa ketika melihatnya tersenyum seperti itu segalanya terasa benar bagiku? Rasanya ada suatu perasaan yang menyenangkan dalam benakku, yang aku sendiri tak tau apa itu. mungkinkah aku…?

=.=

[Author POV]

[Now playing: Boyfriend – You and I]

“PERHATIAN PERHATIAN! PARA PENUMPANG YANG TERHORMAT SAYA KIM SOO HYUN, PILOT PESAWAT INI. INI KONDISI DARURAT. MESIN MENGALAMI KERUSAKAN DAN TIBA-TIBA MELEDAK. KAMI AKAN MELAKUKAN PENDARATAN DARURAT DI DAERAH JINAN! HARAP PERSIAPKAN DIRI ANDA, PINTU DARURAT BERADA DI SEBELAH ANDA!! TERIMA KASIH!”

Hyorin menahan napasnya, begitu pula dengan teman-temannya. Ketegangan dan kepanikan meliputi mereka. Gikwang dengan gesit memasangkan baju pelampung pada Hyorin.

“Jangan jauh-jauh dariku!!” Gikwang mewanti-wanti. Hyorin mengangguk sekilas, ia memeluk tasnya. Guncangan semakin menjadi-jadi. Sepertinya pesawat mulai mendarat. Gikwang menatap jendela, mereka akan mendarat di daerah hutan sepertinya. Pintu darurat terbuka, puluhan siswa langsung memadati seluruh pintu berusaha mencari jalan keluar. Gikwang menarik Hyorin ke dalam pelukannya dan keluar dari pesawat, sebelum akhirnya pesawat itu meledak dan terbakar (huwaa hyunppa T.T). rombongan Hyorin dkk berhasil mendarat dengan selamat, mereka lantas mulai menyusuri seluruh hutan yang telah dijatuhi putih-putih salju.

“Salju?” gumam Hyorin sambil menengadahkan tangannya. Napasnya terengah, setidaknya mereka bisa bernapas lega untuk sementara sampai bantuan datang.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Gikwang pada Mr. Jang. Sebagai seorang dosen yang bijak, beliau lantas menyuruh Gikwang menenangkan seluruh peserta rombongan terlebih dahulu sementara beliau berusaha mencari bantuan.

Hari sudah mulai gelap, akhirnya mereka memutuskan untuk berkemah di hutan dengan peralatan seadanya. Saat itu Hyorin dan Jiyeon sedang asik membantu senior lain memasak.

“Seru juga ya…meski ga jadi ke Jejudo sih! Tapi kemah di hutan juga seru!!” seru Jiyeon kesenangan. Hyorin menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aigoo, kau ini!!” jitak Hyorin.

“Aish!!” seru seorang sunbae.

“Apinya ga mau nyala! Kita pakai kayu aja ya? Ada yang mau bantu cari kayu bakar ga?” tanya sunbae itu. seperti biasa anak-anak selalu punya segudang alasan untuk berkilah.

“Hyorin, kau bisa?” tanya Hye Mi sunbae. Hyorin menggigit bibirnya bingung. Mencari kayu bakar? Berarti masuk ke dalam hutan donk? Andwae!! Kalau dia tersesat gimana? Kalau tiba-tiba ada binatang liar gimana?

“Ne…saya bisa…” ujar Hyorin tanpa diduga-duga, bahkan dia sendiri tak sadar telah mengatakan itu.

“Yah!! Hyorin kau serius?” bisik Jiyeon.

“Ne…” Jiyeon lantas menjitak kepala Hyorin.

“Aigoo, kau ini babo atau apa? Kalau tersesat gimana? Kalau hilang gimana??” Hyorin menggaruk-garukkan kepalanya.

“Habis gimana? Geokjeonghajima, aku pasti kembali kok! Lagipula aku bawa senter nih!” pamer Hyorin. Jiyeon menatapnya sebentar, kemudian mendekapnya erat.

“Meski sebentar…aku senang bisa mengenalmu…” gumamnya.

“Yaa!! Kau pikir aku bakal mati?” kesal Hyorin, Jiyeon hanya terkekeh. Kemudian Hyorin dan beberapa orang yang setuju akhirnya mulai menyusuri hutan. Mencari kayu bakar yang ia sendiri tak tau bagaimana bentuknya. Hari semakin gelap dan dingin, setelah mencari cukup banyak Hyorin dkk segera kembali ke pos mereka menginap.

“Hyorin ppali!!” seru temannya. Hyorin yang berjalan paling lambat hanya mengangguk berusaha berjalan di tengah gelapnya hutan.

“Aw!!” erangnya saat duri pohon salak merobek sweater jingga kesayangannya.

“Aish!! Kenapa ada pohon salak disini?” gerutunya kesal sambil berusaha melepaskan duri-duri yang menempel itu dari sweaternya. Namun duri itu gak mau kalah, Hyorin terus berusaha melepas duri yang menyangkut di sweaternya itu. Penglihatannya jadi semakin tidak jelas karena gelapnya malam.

“Kyaaaaaaaaaaaaa!!!” jerit Hyorin yang malang. Ia terjatuh karena menarik sweaternya paksa dan akhirnya terguling  masuk ke dalam sebuah jurang.

Braakkk…Hyorin langsung ambruk begitu kepalanya menyentuh tanah yang basah itu dan dingin itu. sweaternya robek, membuat hawa dingin menusuk itu langsung menghujam tubuhnya. Membuatnya serasa mati rasa.

“To…long…” serunya lemah. Air matanya menetes deras. Pipinya sakit dan seluruh persendiannya serasa lepas. Kemudian..ia tak bisa merasakan apapun.

=.=

“Jang sonsaengnim!! Jang sonsaengnim!! Sonsaengnim, gaswat!! Gaswaaaat!!” jerit seorang siswa yang tau-tau heboh sendiri. Gikwang menatap adik tingkatnya bingung.

“Hyorin!! Jung Hyorin!! Dia hilang!!!” seru anak itu. serta merta Gikwang langsung berdiri dan mencengkeram kerah si anak.

“Mworago? Hilang? Hilang dimana??” geramnya sampai si anak (sebut saja bunga :p) ketakutan.

“Di…disana…kami sudah mencarinya, tapi tak ada jawaban…”

“Apa??” pekik Gikwang kemudian langsung menghubungi Hp Hyorin, dan memang tak ada jawaban. Ia lalu berlari menuju hutan, tanpa memperdulikan panggilan dari mr. Jang.

“Hyorin…HYORINNNN!!!!” seru Gikwang. Napasnya tersengal-sengal. Ia terus menghubungi Hp Hyorin.

“Yah!! Jung Hyorin!!!” Gikwang menyusuri hutan yang gelap itu berusaha mencari sosok Hyorin yang hilang entah kemana itu.

“Yah!! Jung!! Jawab aku kau dimana??”

“Jangan bercanda!! Jawab aku sekarang! JUNG!!”

“Ya Tuhan…dimana dia?” Gikwang mulai panic, sudah berjam-jam ia menjelajahi hutan mendaki gunung dan melewati lembah seperti ninja hatori namun tak jua ditemukannya gadis itu.

“Hyorii…n…” seru Gikwang lagi. Suaranya sudah hampir habis karena berteriak-teriak. Rasa dingin hinggap menyergapinya. Air matanya kemudian menetes. Gikwang bersandar di pohon, kelelahan. Napasnya mulai sesak.

“Hyorin…dimana kau? Hyorin-ah…jebal…jawab aku…” Gikwang masih terus menghubungi nomor Hyorin. Ia memandang sekelilingnya yang gelap gulita itu. mendadak matanya menangkap seseorang di balik tebing sana. Seorang gadis dengan gaun putih seputih salju melambaikan tangan padanya. Eh? Gadis itu kan…

“Hyorin??” Gikwang lantas bangkit dan mengejar gadis itu.

“Hyorin!! Chamkan!!” pekik Gikwang, ia terus mengejar gadis itu. aneh…kenapa Hyorin malah lari? Kemana dia akan menuntun Gikwang? Tiba-tiba sosok gadis itu menghilang. Gikwang tercekat. Dimana dia sekarang? Mana Hyorin tadi? Ia memandang sekelilingnya.

“Hyorin…Hyorin!!! Kau dimana?? Jawab aku!!”

“Yah Jung Hyorin!!!” Gikwang semakin bingung. Barusan dia melihat Hyorin, kemana dia? Di sekitar sini hanya ada pohon salak dan jurang. Bibir Gikwang memucat, ia baru sadar. Sosok Hyorin yang dilihatnya barusan itu…memakai gaun putih? Bukankah…tadi dia memakai sweater berwarna jingga atau kuning atau semacamnya? Tapi…gadis tadi benar-benar Hyorin!! Ia yakin sekali…lantas…siapa itu?

“Hyorin…jangan-jangan…” Gikwnag kembali menghubungi nomor Hyorin, yah meski dipikirnya itu sia-sia saja. Sayup-sayup terdengar suara ringtone Hp yang sangat dikenalnya.

“Bukankah ini…lagu SHINee? Inikan ringtone Hp Hyorin??” Gikwang mempertajam pendengarannya. Suara Hp itu semakin jelas, sepertinya ada di bawah sana.

“Hyorin!!!” Gikwang menemukan sosok Hyorin yang terbaring dibawah sana. Ia mencoba menuruni jurang curam itu dengan sangat hati-hati.

“Argh!!” erangnya saat dahan pohon salak menyabet luka ditangannya. Darah segar kembali menetes, namun tak diperdulikan oleh Gikwang yang kemudian berlari menghampiri Hyorin.

“Hyorin-ah?” panggil Gikwang, ia menyentuh wajah Hyorin. Dingin. Bibirnya juga pucat. Gikwang lantas melepas jaket yang dipakainya dan memakaikannya ke tubuh Hyorin yang dingin dan kaku itu.

“Yaah? Hyorin-ah?” Gikwang menggenggam kedua tangan Hyorin yang dingin dan menghangatkannya.

“Kumohon sadarlah!!” Gikwang menatapnya, ada air mata kekhawatiran disana. Tak ada pilihan lain, kalau begini terus Hyorin bisa mati kedinginan. Gikwang memeluk Hyorin erat, mendekapnya dengan air mata yang terus menetes. Berdoa dan terus berdoa agar gadis ini sadar. Rasa nyeri menjalari sekujur tubuhnya. Diliriknya, tangannya yang terus meneteskan darah itu.

Gikwang memejamkan matanya, membiarkan rasa sakit yang menggerogotinya itu pergi menjauh, namun nihil. Bau darah semakin menyeruak di antara dinginnya malam. membuat perutnya serasa diaduk. Mendadak, semuanya terasa gelap. Gikwang tak sadarkan diri karena darah yang terus menetes tanpa henti itu.

Kalau kau ditakdirkan untuk hidup seratus hari lagi…maka aku akan hidup seratus hari lebih sedetik. Agar aku bisa terus melihatmu sampai akhir hayatmu.

=.=

[Now playing: Mandy Moore – Only Hope]

Gikwang membuka matanya perlahan, sinar matahari menyilaukan matanya. Udara masih terasa dingin meski ada matahari. Ia mencoba meregangkan tubuhnya. Dilihatnya tangan kanannya telah terbalut rapi dengan…potongan sweater? Gikwang lantas memandang sekeliling, kenapa dia ada di hutan? Ah! Semalam dia mencari Hyorin!! Tunggu…dimana Hyorin?

“Hyorin…Hyorin!!” jerit Gikwang panic, ia takut kalau gadis itu hilang lagi. Aniya…jangan-jangan yang semalam itu juga bukan Hyorin?

“Wae? Kau ini berisik sekali sunbae…!” kesal Hyorin yang muncul di belakangnya. Gikwang lantas memeluknya.

“Yaa!! Apa-apaan kau namja mesum? Main peluk seenaknya, kau kira aku guling?” Hyorin berontak mencoba melepas pelukan Gikwang yang erat itu.

“Aku…ga mimpi kan? Ini benar-benar kau kan? Aku menemukanmu…” Gikwang semakin mengeratkan dekapannya. Air matanya menetes, menggesek rambut Hyorin. Hyorin balas memeluknya.

“Ne…ini aku! Memangnya siapa? Uhm…gomawo…”

“Yah baboya!! Jangan buat aku khawatir begini donk!!” kesal Gikwang setelah melepas pelukannya.

“Aish kau ini! Sudah kubilang jangan jauh-jauh dariku! Kau ini senang sekali membuatku nyaris jantungan!”

“Apa sih? Jangan marah-marah gitu kenapa?” rajuk Hyorin.

“Pokoknya mulai saat ini! Jangan pernah pergi lagi dariku, jangan jauh-jauh!! Arasseo?”

“Ne…” Hyorin kembali menampilkan senyum indahnya. Gikwang kembali merangkulnya seolah tak ingin melepasnya lagi.

“Sunbae…lukamu baik-baik saja?” tanya Hyorin tiba-tiba.

“Gwaenchana…”

“Tapi wajahmu masih pucat! Sebaiknya kau istirahat saja!!”

“Aniy…kita harus keluar dari sini ssekarang. Mr. Jang dan yang lainnya pasti khawatir! Kkaja!”

“Jangan…!” pekik Hyorin, membuat langkah Gikang terhenti. Ia menatap Hyorin bingung.

“Janagn paksa dirimu lagi…kau terluka…kau bisa mati!! Jebal…” isak Hyorin. Gikwang menghampirinya –masih bingung-

“Kau kenapa? Memangnya siapa yang bakal mati hah?”

“Jangan bohong lagi!! Aku sudah tau semuanya!! Dokter yang di rumah sakit bilang padaku. Sunbae, neo…kau kena hemophilia kan?” Gikwang tertegun. Hyorin…sudah tau penyakitnya? Sejak kapan?

“Aniya…aku baik-baik saja. Itu baru gejala, jangan menangis!!”

“Bohong!! Kau bohong!! Berhenti membodohiku!!” isak Hyorin semakin keras.

“Well, sebenarnya Gikwang sunbae itu menderita penyakit apa, dok?”

“Lee Gikwang? Dia positif terkena hemophilia, stadium akhir…”

“APA??”

“Itu penyakit turunan dari mendiang ibunya…kondisinya kritis, dia takkan bertahan lama. Operasi pun percuma. Paling hanya bertahan setahun dua tahun saja…”

“Makanya sunbae…jebal…” Hyorin menggenggam tangan kanan Gikwang dan mengecupnya. “Jangan…sakiti…dirimu lagi…” isaknya. Gikwang mengelus kepala Hyorin iba.

“Uljimara…aku pasti baik-baik saja! Aku janji padamu kan? Aku ga akan membiarkanmu kenapa-napa!” Gikwang kembali merangkul Hyorin. “Mereka pasti akan mencari kita! Makanya jangan paksa dirimu!”

“Ne…”

“Hyorin-ah…”

“Hmm?”

“Aku…takkan meninggalkanmu…aku janji…jadi…jangan menangis lagi…aku ga akan membiarkanmu kenapa-napa! Maka dari itu, janjilah padaku. Jangan menangis lagi, apapun yang terjadi kau harus kuat!” Gikwang mengelus wajah Hyorin. Hyorin hanya mengangguk. Mereka kembali duduk di bawah pohon maple. Menghabiskan hari hanya dengan saling memandang tanpa bicara. Seolah tengah meminta menyelami isi hati masing-masing. Berharap suatu saat nanti, kisah rumit itu akan segera berakhir, namun…siapa yang mengakhiri atau bagaimana akhirnya…tak seorangpun tau…(karena cuman author yng tau :p)

Bila tak ada kata, pasti ada tanda. Meski begitu sederhana, namun tatapan Gikwang cukup membuat Hyorin yakin akan perasaan namja itu. tapi…ia sendiri masih ragu dengan perasaannya. Terlebih setelah mengingat segalanya, ia tau ia masih menyimpan sejuta rasa pada Baro. Namun…ia tak bisa memungkiri perasannya yang mulai bergerak perlahan pada Gikwang. Apakah pada akhirnya, ia bisa melupakan Baro dan bersama dengan Gikwang?

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan. Ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan. Tapi, ingatlah melepaskan bukan berarti akhir segalanya. Melainkan awal dari kehidupan yang baru.

“Kapan ulang tahunmu?” tanya Gikwang tiba-tiba.

“Mwo? Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?” tanya Hyorin balik.

“Ga boleh? Aku hanya ingin tau tentang mu saja..”

“18 Desember *skalian promosi, yng mo kasih kado ke author, saia tunggu #plak*”

“Geurae? Berarti sebentar lagi…”

“Kau sendiri kapan?” tanya Hyorin, Gikwang lantas membuang mukanya.

“Aku tidak ingat…”

“Mwo? Aish mana mungkin kau tak ingat!!”

“Setelah umma meninggal, aku tak pernah merayakan ulang tahunku lagi…makanya aku tidak ingat kapan…”

“Geurae?” Hyorin menatapnya kecewa.

“30 Maret…”

“Hah? 30? Itu…kemarin kan??” tanya Hyorin, Gikwang mengangguk.

“Katanya tadi ga ingat?” kesal Hyorin. Gikwang terkekeh, namun…siapapun tau bahwa sorot matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam.

“Saengil chukkahamnida, saengil chukkahamnida, saranghaneun uri sunbae…saengil chukkahamnida!!” sorak Hyorin antusias.

“Suaramu jelek…ga usah nyanyi deh!!” ejek Gikwang. Hyorin mencuatkan bibirnya sebal.

“Setelah kita keluar dari sini, aku janji akan membuatkanmu sup rumput laut!! Otthe??”

“Shireo…kau kan tidak bisa masak? Nanti aku bisa mati lagi…”

“Aigoo!! Enak aja! Sebenarnya aku ini pintar masak tau…cuman males aja!!”

“Oh ya? Kok ga kelihatan?”

“Aish menyebalkan!!” kesal Hyorin sambil mencuatkan bibirnya membuat Gikwang terkekeh senang.

“Saranghae…Jung Hyorin!”

“Eh?” kaget Hyorin dengan wajah yang merah seperti kepiting rebus di campur tomat. [hmm kayak apa coba?]

“Jawabannya mestinya na do saranghae donk, bukan eh!!”

“Pft..apaan? maksa!”

“Hey, aku serius!” tuntut Gikwang galak yang malah membuat Hyorin tertawa.

“Kau pikir aku bercanda?”

“Cepat jawab!!” suruh Gikwang seenaknya

“Aniya…andwae!! Aku akan menjawab setelah kita keluar dari sini, otthe?”

“Ne, hajiman…kuharap itu jawaban positif!” Hyorin terkekeh senang, Gikwang mengelus kepalanya senang. Kemudian bersandar pada bahu Hyorin dan terlelap. Yah, untuk sesaat dunia serasa bagai milik mereka berdua…author dan yang lainnya cuman ngontrak. –”

“Gikwaaaannggg!!! Hyooorriiiiiiiiiin! Dimana kalian?” seru Mr. Jang dan yang lainnya. Hyorin terlonjak kemudian menjawabnya dengan teriakan juga.

“Omo! Sonsengnim! Mereka ada dibawah sana!!”

“Mr. Jang!!!” seru Hyorin yang meneteskan air mata lega itu, ia berbalik pada Gikwang.

“Oppa!! Bantuan sudah datang! Ayo bangun!!” Hyorin mengguncang tubuh Gikwang pelan. Tak ada reaksi.

“Sunbae? Gikwang sunbae?” lagi, Hyorin mencoba membangunkannya namun tetap tak ada jawaban.

“SUNBAE!!!!” pekiknya dengan air mata yang merebak.

=.=

It’s funny when you find yourself

Looking from the outside

I’m standing here

But all I want is to be over there

“Kita…semua…memulai kisah ini dengan cara yang teramat sederhana. Tapi, benang kusut yang kelihatan sederhana itu tidak mau juga diuraikan. Begitu kusut sampai siapapun akan berpikir lebih baik mengguntingnya saja…aku…Jung Hyorin…Lee Gikwang…Cha Sun Woo dan Jung Jinyoung…” Suzy mulai mencoret lembar buku diary nya dengan nama-nama orang yang telah mengisi hidupnya selama setengah tahun terakhir ini. Dalam waktu yang begitu singkat, begitu banyak hal yang terjadi. Dan semuanya, tampak tidak terduga. Akankah terus seperti ini? Terjebak di antara pilihan serba dilematis antara ego dan persahabatan?

Ring tone Hp Suzy membuyarkan lamunannya. Sebuah nomor tak dikenal memanggil. Siapa ya?

“Yeoboseyo?”

“Uhm, Suzy? Ini aku Jinyoung!”

“Mwo? Jinyoung??” kaget Suzy, kenapa…tiba-tiba Jinyoung meneleponnya?

“Ada…hal…penting yang ingin kubicarakan denganmu!”

“Mwoya?”tanya Suzy bingung, ia bolak balik dikamarnya dengan gelisah. Sementara Jinyoung yang saat itu sedang menyelinap dan berada di bawah jendela kamar Suzy menatapnya sambil tersenyum. Kemudian ia mulai memanjat pohon terdekat sambil terus berbicara lewat hpnya.

“Kau tau? Perasaanku pada Hyorin seperti apa?” Suzy membeku sesaat. Ia tidak mengerti arah pembicaraan ini, tapi mencoba menjawab sejujur mungkin.

“Ne…wae??”

“Aku mencintainya!” Jinyoung menyambar sebuah cabang pohon dan mengangkat badannya lebih tinggi beberapa puluh senti.

“Arasseo! Aku sudah tau sejak puisi buatanmu itu!”

“Puisi?” Jinyoung mengangkat badannya ke atas balkon. Suzy yang berjarak beberapa kaki darinya, tapi yeoja ini membelakanginya sehingga ia tak tau kalau Jinyoung ada disana.

“Ne! Hyorin menunjukkannya padaku saat aku menginap dirumahmu! Tapi dia menyangkal semuanya, karena…kau tau? Saudara tak mungkin memiliki perasaan seperti itu!”

“Aku tau…”

“Terus kenapa?” tanya Suzy.

“Itu mungkin…karena…dialah orang pertama yang mampu mengubahku! Dialah satu-satunya yeoja terdekat denganku! Mungkin karena perasaan bersalahku selama ini, aku ingin membuktikan padanya bahwa aku adalah oppa yang baik. Namun…lambat laun perasaan itu berubah! Aku benar-benar mencintainya!”

“Ck…aneh!”

“Berbaliklah!” suruh Jinyoung membuat Suzy mengerutkan alisnya.

“Hah? Kena…? Jinyoung!!!” kaget Suzy mendapati Jinyoung berdiri dibelakangnya.

Why did I let myself believe

Miracles could happen

Cause now I have to pretend

That I don’t really care

Suzy tersenyum, dan entah mengapa senyumnya barusan itu mampu menggetarkan hati siapa saja yang melihatnya…termasuk Jinyoung!

“Nona Suzy!!! Gawat!! Ada telepon dari bandara, pesawat yang ditumpangi tuan Lee meledak di daerah Jinan!!” seru seorang pembantu.

“APA??”

=.=

[Now playing: The red Jumpsuit apparatus – You guardian angel]

Bantuan datang menyelamatkan Hyorin dkk. Gikwang yang saat itu tak sadarkan diri segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kondisinya kritis, terlebih pendarahan di tangannya itu membuatnya kehabisan banyak darah.

Hyorin tersandar lemah di salah satu dinding rumah sakit, ia menekuk kepalanya menahan air mata. Bagaimana juga ia sudah berjanji pada Gikwang bahwa apapun yang terjadi ia takkan menangis! Ia harus menjadi seorang gadis yang kuat! Tapi…air mata itu terus mengalir tanpa dikomando. Perasaan menyesal dan bersalah menyeruak di sela-sela tangisnya. Betapa kerasnya ia berusaha menepis pikiran buruk yang membelenggunya.

“Kumohon…apapun akan kulakukan asal dia selamat…”

I will be the one who never let you fall. I’ll stand up with you forever. I’ll be there for you through it all, even if saving you sends me to heaven.

“Hyorin? Kau tidak makan? Kau pucat begitu!” tegur Mr Jang. Hyorin menggeleng lesu. Bagaimana mungkin ia bisa makan sekarang? Di saat namja yang dicintainya terbaring tak berdaya seperti itu.

“Ayolah Hyorin! Biar aku yang traktir!” ajak Jiyeon dan Ji Eun yang menarik tangan Hyorin. Akhirnya, Hyorin mau dan mengikuti ajakan mereka. Jiyeon menggigit bibirnya kasihan melihat sahabatnya itu tampak seperti mayat hidup. Mereka bertiga berjalan melewati sebuah warung yang menjual sup rumput laut.

“Setelah kita keluar dari sini, aku janji akan membuatkanmu sup rumput laut!! Otthe??”

Hyorin menguatkan dirinya dan mampir ke kedai sup itu. meski bukan buatan sendiri, yang jelas ia telah berjanji untuk Gikwang. Setelah membeli itu, ia pergi meninggalkan teman-teannya dan kembali ke rumah sakit. Ia terlalu bersemangat, berharap Gikwang akan membuka matanya saat melihatnya membawakan sup rumput laut itu.

Ia terlalu sibuk dengan pikirannya dan menyebrang jalan tak lihat-lihat, sampai sebuah Volvo merah melaju dengan kencangnya, menghantam tubuhnya. Sup rumput laut itu tumpah, Jiyeon dan Ji Eun menjerit saat melihat darah segar yang mengalir dari kepala Hyorin.

=.=

[Hyorin POV]

Kenapa harus ada siang kalau malam selalu datang? Kenapa harus ada hitam jika putih menyenangkan? Kenapa ada kehidupan jika kematian selalu menjemputnya? Kenapa harus ada pertemuan bila perpisahan jualah yang akhirnya terjadi?

Semuanya terasa gelap, dan berat. Kupaksa mataku untuk terus bertahan saat kulihat setitik cahaya kecil diujung sana. Aku melangkah susah payah menuju cahaya terang namun lembut itu. perlahan, semakin dekat. Cahaya yang begitu terang dan menyilaukan mataku. Terlalu silau sampai aku tak bisa menyesuaikannya.

“Hyorin…Hyorin!!” siapa itu? siapa yang memanggilku?

“Jung Hyorin! Buka matamu!!” itu suara oppa!! Jinyoung oppa!! Oppa ada disini? Mana? Dimana? Oppa, kau dimana?

“Hyorin?” sekarang suara Suzy, perlahan ku mencoba mengenali suara-suara yang terus memanggilku. Suara umma, appa, bahkan Min Tae pun ada. Satu suara yang ingin kudengar…tapi entah mengapa suara itu tak terdengar jua. Kenapa? Apa dia masih belum sadar?

Kupaksa mataku untuk membuka. Aneh. Semua tetap terasa gelap. Dimana orang tuaku? Dimana Jinyoung oppa? Dimana Suzy dan Min Tae? Dimana semuanya? Kenapa hanya ada kegelapan disini?

“Hyorin? Kau sudah sadar? Ah syukurlah!!” seru appa. Eh? Kurasakan pelukan hangat mendekapku namun aku tak itu siapa. Aku…aku tak bisa melihat apa-apa!! Ada apa ini? Kenapa aku tak bisa melihat siapapun? Kenapa semuanya gelap? Ya Tuhan? Apa aku belum sadar juga? Kenapa? Kenapa?

“Dokter dia kenapa?” isak umma. Seseorang menyentuh bagian bawah mataku, entah siapa dia dan apa yang dilakukannya padaku.

“Jeosonghamnida. Ada masalah yang terjadi pada penglihatan Hyorin. Jaringan matanya mengalami kelainan sehingga membentuk jaringan parut yang mengakibatkan kekeruhan pada lapisan kornea mata!” apa? Apa katanya? Kelainan pada penglihatanku? Memangnya mataku kenapa?

“Apa maksudnya itu, dok?”

“Dengan kata lain, Hyorin mengalami…kebutaan total!”

=.=

TBC~~~~

huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa TT___TT ga relaaaaa!!! hikhikhiks!!

wkwkwkw, maaf ya segitu dulu!! sebisa mungkin saia post kan secepatnya lanjutannya. jadi tunggu sajo. O.K? lets fly!!

wassalamualaikum wr wb

Posted 6 Agustus 2012 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , , ,

3 responses to “[FF] Here For You – Part 9

Subscribe to comments with RSS.

  1. wahh~~ author.. ulang tahunku ada disini..😀

  2. Baro tidak ada disaat Hyo rin buta (╯_╰)

  3. Nengharukan, Dan menegangkan😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: