[FF] Here For You – Part 8   2 comments


assalamualaikum!!

Annyeoooooongg!!!!! kkk~ author cantik balik!!! ada yang kangen gak?? pasti pada kangen smua kan??? tau kok…pan saia memang slalu di kangeniii #plak

miaaannnn, saia gak bisa tiap hari update ni FF…cz kuota net saia benar2 empty TT

so, bagi kalian yang udah pada penasaran dengan nasib hyorin dkk…silakan dibaca lanjutannya yaa!!

.

.

HERE FOR YOU

Author: d_na

Genre: Romance

Length: 8 of ?

Cast:

You as Jung Hyorin

Jung Jinyoung as your brother

Bae Suzy as your best friend

Lee Gikwang as your sunbae

Cha Sun Woo aka Baro as your best-friend’s fiancee

==========================

[Now playing: AJ – Wipe the tears]

“Aku dipecat…”

“Jeongmal? Baguslah kalau begitu…!”

“Ahjussi…mungkinkah kau…yang membuatku dipecat?” Tanya Gikwang yang saat itu berada di D.Lite café. Go ahjussi hanya mengangkat bahu cuek.

“Ne!! Aku yang meminta Mr. Bae untuk memecatmu!”

“Ahjussi!! Kenpa kau lakukan hal itu?”

“Itu demi kepentinganmu!!”

“Tapi…”

“Sudahlah! Kenapa kau begitu memaksakan diri begitu? Kau tak sayang dengan nyawamu, hah? apa yang akan dikatakan mendiang ummamu jika kau menyia-nyiakan hidupmu begini?” bentak Go ahjussi. Gikwang membuang napasnya keras. Ah…ahjussi memang benar…tapi…

“Kalau kau ingin melakukan sesuatu dalam hidupmu boleh saja, tapi tidak dengan menjadi bodyguard!” lanjut Go ahjussi. Gikwang hanya mengerucutkan bibirnya dan memandang sekeliling café. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

“Jinyoung-ssi…tidak kerja ya?”

“Dia kerja kok tapi pulang cepat tadi…wae?”

“Aniya…”

“Yah! Kau benar-benar mengencani adik perempuannya ya?” Tanya Go ahjussi.

“Aniy…aku…hanya…menyukainya saja kok!” gumam Gikwang.

“Kalau gitu hati-hati ya!”

“Hati-hati? Waeyo?”

“Kudengar Jinyoung itu sangat protektif pada adiknya. Kemarin kulihat dia membentak adiknya sendiri hanya karena di antar seorang namja!”

“Ah! Bukankah itu wajar? Sudah seharusnya seorang oppa melindungi yeodongsaengnya!!” sergah Gikwang.

“Aniy…rasanya sedikit tidak wajar saja! Karena tatapan Jinyoung saat memandang adiknya terlihat berbeda…tidak seperti tatapan seorang kakak pada adiknya!”

“Hah? Maksudnya?”

“Itu tatapan seorang namja pada yeoja yang disukainya!”

“Yah!! Ahjussi! Kau ini bicara apa? Mana mungkin kan? Ada-ada saja!”

“Loh beneran tau! Bukan cuma aku yang berkata seperti itu!”

“Ah sudahlah! Kau terlalu banyak nonton drama, makanya begitu! Aku pulang!!” sahut Gikwang yang tiba-tiba merasa kesal. Ia kemudian keluar dari café, namun pikirannya masih berkecamuk akan perkataan Go ahjussi barusan. Mengenai Jinyoung yang menyukai adiknya sendiri.

“Aish!! Mana mungkin!!” sangkal Gikwang seraya mengacak-acak rambutnya frustasi. Langkahnya terhenti saat melihat seorang namja di depannya yang terlihat mabuk. Bukankah itu?

“Jinyoung-ssi!!” panggil Gikwang, namun Jinyoung mengabaikannya.

“Aneh! Apa dia tak mengenaliku ya?” gumam Gikwang.

“Ah! Jinyoung-ssi!!” Gikwang lantas berlari menghampiri Jinyoung saat dilihatnya namja itu terjatuh karena langkahnya yang kacau.

“Jinyoung-ssi, gwaenchana?” cemas Gikwang yang membantu Jinyoung berdiri. Bisa dilihatnya wajah memerah pengaruh alcohol itu tampak begitu menderita. Apa yang terjadi padanya?

“Kenapa? Kenapa…?” bisik Jinyoung pelan.

“Ne?”

“Kenapa aku mencintaimu Hyorin-ah??? KENAPA??” jerit Jinyoung kemudian terisak. Gikwang membeku, ia serasa habis terkena sambaran petir.

Dia…Jinyoung…mencintai…adiknya sendiri? Itu…mustahil…tapi…aniy!! Dia pasti salah dengar!! Ga mungkin!! Ga mungkin!! Itu pasti bukan Hyorin adiknya! Pasti yeoja lain yang bernama Hyorin juga. Ga mungkin Jinyoung menyukai adiknya, kan?

“Kenapa Hyorin-ah? Jawab aku!! Kenapa? Nan…saranghae, neoman saranghago shipo *aku hanya mencintaimu seorang*!!”

“Jinyoung-ssi??”

“Kenapa mencintaimu begitu menyakitkan?” jerit Jinyoung lagi dengan air mata yang terus berderai.

“Aku mencintaimu JUNG HYORIN!!!” kemudian, dengan langkah yang masih sempoyongan Jinyoung berdiri dan kembali berjalan menuju rumahnya. Gikwang masih tetap bergeming. Tetap tidak mempercayai apa yang didengarnya barusan. Itu…pasti…yeoja lain yang bernama Jung Hyorin juga!! Tapi…

Karena tatapan Jinyoung saat memandang adiknya terlihat berbeda…tidak seperti tatapan seorang kakak pada adiknya!

Itu tatapan seorang namja pada yeoja yang disukainya!

“Andwae!! Andwae!!” desahnya berulang kali. Jarin-jarinya mengepal membentuk sebuah tinju, rahangnya mengeras. Ia mengambil Hpnya mencoba untuk menghubungi Hyorin berharap bukan Hyorin yang dimaksud Jinyoung. Kemudian ia tersadar bahwa dirinya tak punya nomor Hyorin.

“Ottokhae?” entah kenapa perasaan gelisah Gikwang semakin menjadi-jadi. Pikiran-pikiran buruk itu terus berputar dan menjadi sebuah kesimpulan yang benar-benar membuatnya ketakutan. Ia takut! Takut kalau gadis yang juga dicintainya itu kenapa-napa!!

Ini bukan urusanmu Lee Gikwang!! Tapi…Jinyoung dalam keadaan mabuk begitu…orangtua mereka masih di Busan *dasar org tua yng tidak bertanggung jawab* Hyorin bisa…ANIY!! Itu mustahil!! Ga mungkin Jinyoung menyakiti adiknya sendiri bukan? Tapi…hatiku tidak tenang sampai aku memastikannya dengan mata kepalaku sendiri.

Gikwang mempercepat langkahnya, menuju Jalan sesat gang buntu blok death nomor 13 yang disinyalir sebagai tempat tinggal Hyorin itu. Kegelisahannya memuncak, dalam kepalanya hanya ada Hyorin dan Hyorin. Ia menggenggam Hpnya, berharap Hyorin akan menghubunginya. Namun…

“Semoga dia baik-baik saja!!” harap Gikwang. Ia sampai di depan rumah yang telah bertutupan itu. Gikwang menarik napasnya lega, ternyata asumsinya memang terlalu berlebihan.

Pikiranmu berlebihan…tak ada yang terjadi!! Aniy. Lebih tepatnya ga mungkin ada yang terjadi, kan?

Gikwang merangsek maju menuju pintu rumah itu. Ia hanya ingin memastikan keadaan Hyorin baik-baik saja. Namun ia segera mengurungkan niat itu. Paling Hyorin sudah tidur jam segini.

“Kyaaa!! Oppa lepas!!” terdengar suara jeritan dari dalam. Itu suara Hyorin!!

“Aniy…aku pasti salah dengar!! Hyorin pasti sudah tidur!!” Gikwang mencoba menyangkal apa yang barusan didengarnya.

“Oppa!! Lepaasss!! Oppa jebal!! Jangan seperti ini!!” kali ini suara yeoja itu terdengar seperti menangis!! Gikwang mencoba memastikan pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Itu benar-benar suara Hyorin!! Tapi…kenapa? Kenapa Hyorin berteriak seperti itu? Ada yang tidak beres disini! Apa yang terjadi? Jangan-jangan….

 

=.=

 

“Oppa!! Lepaasss!! Oppa jebal!! Jangan seperti ini!!” isak Hyorin sambil berusaha mempertahankan harga diri dan kehormatannya. Jinyoung membekap mulut Hyorin, tatapannya kosong. Hyorin mencoba menggapai-gapai Hpnya di atas meja, namun Hp itu begitu jauh. Air matanya jatuh.

“Aku…mencintaimu Hyorin-ah!!” mata Hyorin melebar. Apa katanya barusan? Mencintainya? Ga!! Itu mustahil!!

“Op…oppa?”

“Aku mencintaimu!! Aku mencintaimu!!” racau Jinyoung, ia kembali menatap Hyorin yang sudah ketakutan itu.

“Oppa…jebal!!” isak Hyorin.

“Oppa!! GEUMAN!!!!” jerit Hyorin lagi saat Jinyoung hendak menciumnya. Namun Jinyoung tak memperdulikan jeritan Hyorin dan terus berusaha untuk menciumnya. Suara gedoran pintu menghentikan aksinya. Jinyoung berdiri dan menuju pintu depan.

“Maaf…tadi kudengar suara Hyorin…apa dia baik-baik…”

“SUNBAE!!! Gikwang sunbae!!” pekik Hyorin lega saat melihat Gikwang berdiri di depan rumahnya. Entah kenapa dan bagaimana Gikwang bisa ada di rumahnya tapi ia benar-benar bersyukur. Ia lantas berlari menghambur menuju Gikwang dan memeluknya.

“Hyorin…kenapa? Pakaianmu?” kaget Gikwang menyadari pakaian Hyorin yang robek itu. Gikwang mengelap air mata yang ada di pipi Hyorin.

“Jung Hyorin!!” marah Jinyoung berapi-api. Ia kemudian menarik paksa Hyorin dari pelukan Gikwang.

“Aniya!! Appo!! Appo!! Oppa jebal…lepas!!” Hyorin berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jinyoung.

“Yah!! Jinyoung kau…” tanpa ampun dan tanpa aba-aba, Gikwang langsung melayangkan tinjunya ke wajah Jinyoung hingga ia terjengkal.

“Oppa!!” kaget Hyorin. Gikwang menarik lengan Hyorin.

“Jangan pernah menyentuhnya!!”

Bruaagh…pukulan balasan dari Jinyoung membuat Gikwang langsung ambruk sambil memegangi perutnya. Ia terjengkal sampai menabrak kaca hingga pecah. Sebetulnya gerak reflex Gikwang sangat terlatih *scra dia kan bodyguard* namun otaknyalah yang kini lebih dulu memberikan peringatan. Kalau saja ia tadi menghindar, pasti hantaman tinju itu mengenai Hyorin yang berdiri tepat di belakangnya.

“SUNBAE!!” pekik Hyorin panic. Gikwang bangkit dengan susah payah.

“Oppa cukup!!” Hyorin lantas berdiri membelakangi Gikwang menghadap Jinyoung.

“Oppa…kau boleh melakukan apapun padaku!! Tapi…tapi jangan sakiti Gikwang sunbae…jebal!!” Hyorin kembali terisak-isak.

“Jangan bercanda! Aku sudah bilang aku ga akan membiarkanmu kenapa-napa!! Pergilah Hyorin!” ujar Gikwang sambil meringis menahan sakit di perutnya.

“Tapi…sunbae…”

“Cepat pergi!!” Gikwang menarik tangan Hyorin paksa. Ia lantas melepas pakaian yang dikenakannya.

“Ini! Pakai ini dan pergilah!!” suruh Gikwang sambil memakaikan pakaiannya pada Hyorin.

“Lalu kau?”

“Pabo!! Udah ga usah peduliin aku! Kau pergi saja!! Mengerti?” kesal Gikwang.

“Aniy…andwae!! Mana bisa aku meninggalkanmu sendiri disini!!” isak Hyorin.

“Percayalah padaku!!”

DEG!! Aneh!! Seluruh kegelisahan dan ketakutanku lenyap…padahal hanya satu kalimat sederhana yang diucapkannya tapi…

Hyorin menyentuh dadanya yang mulai bergemuruh kencang! Ini bukan saatnya untuk gugup!! Tapi…ruangan disekitarnya seolah kosong. Hanya kata-kata Gikwang saja yang teringat.

“Cepat pergi!!” suruh Gikwang seraya mendorong Hyorin keluar. Pikiran Hyorin kacau, ia hanya mengikuti apa yang diperintahkan Gikwang. Ia terus berlari sekuat yang ia bisa sampai ia merasa lelah. Ia berhenti di suatu bangku taman. Napasnya tersengal. Ia meringkuk memeluk tubuhnya yang masih gemetar itu. Rasa ketakutan kembali menghantuinya. Ketakutan dan kecemasan pada Gikwang. Dan rasa tidak percaya pada Jinyoung yang tiba-tiba bersikap begitu.

“Kenapa…oppa….seperti itu?” isaknya. Oppa yang ia tau. Jinyoung oppa yang ia kenal seumur hidupnya ini bukanlah namja yang bisa berbuat seperti itu. Bahkan…Jinyoung tak pernah punya pacar! Sampai membuat Hyorin pernah berpikir bahwa kakaknya itu gay *dgantung Jinppa+bana* tapi kenapa sekarang? Kenapa Jinyoung yang lembut dan sangat baik itu melakukan hal ini?

“Ya Tuhan…apa salahku? Aku…takut…” bisik Hyorin seorang diri. Air matanya kembali meleleh. Sebenarnya, apa yang terjadi pada Jinyoung? Kenapa dia begitu? Kenapa? Apa salah Hyorin sebenarnya?

“Hyorin??” seru seseorang. DEG!! Hyorin reflex bersembunyi di balik pohon. Ketakutannya menjadi-jadi.

“Hyorin? Yah!! Jung Hyorin!!!” Hyorin menggigit bibirnya. Ya Tuhan! Kumohon! Selamatkan aku…!

“Jung!!? Kau dimana??” seru Gikwang dengan suara hampir serak. Suara itu?? Hyorin tersentak, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi saat dilihatnya sosok Gikwang muncul. Dia segera menghambur dan memeluk Gikwang erat-erat. Dipikirnya Gikwang sedang terkapar dan sekarat. Oh Tuhan! Syukurlah dia baik-baik saja!

“Yah!! Apa-apaan kau main peluk-peluk segala? Emang guling? Dasar yeoja mesum!!” sindir Gikwang.

“Yeoja mesum? Ige mwoya! Jangan GR ya!!” bentak Hyorin yang buru-buru melepas pelukannya. Namun saat melihat darah di tangan Gikwang ia terkesiap.

“Kau…berdarah?” pekik Hyorin tertahan. Gikwang mengibaskan tangannya dengan tenang.

“Cuma luka kecil, besok pasti sembuh!!” ujarnya sok. Namun Hyorin tak bisa tenang begitu saja. Terlebih semenjak ia tak sengaja mendengar kata-kata Go ahjussi tempo hari. Tentang luka kecil yang bisa berakibat fatal itu.

“Oppa…bagaimana dengan oppa?” Tanya Hyorin.

“Geokjeongmal!! Dia sudah tidur!”

“Tidur? Kenapa bisa?”

“Ya bisa dong!! Kau pikir aku selemah apa? Aku ini bodyguard!!”

“Hajiman…kau tak membunuhnya kan?” selidik Hyorin.

“Baboya!! Mana mungkin aku membunuhnya!!” jitak Gikwang.

“Mabuk itu bisa membuat orang berlaku macam-macam, makanya Jung Hyorin jangan pernah memakai pakaian yang bisa mengundang begitu!!” omel Gikwang lagi.

“Aku tidak memakai pakaian yang mengundang!! Aku bahkan tidak tau kenapa oppa tiba-tiba bersikap begitu!!”

“Lagipula…akhir-akhir ini sikap oppa aneh…! Dia…yang tak pernah memarahiku, tiba-tiba malah membentak dan mendiamkanku saat tau aku pacaran dengan Gong Chan. Dia juga melarangku masuk ke kamarnya lagi…dan tadi…”

“Dia…bilang…dia mencintaiku!!” DEG!! Napas Gikwang tercekat, raut wajahnya berubah. Ternyata…ternyata itu semua benar!! Jinyoung memang mencintai Hyorin! Hyorin, adik perempuannya sendiri!!

“Waeyo sunbae?”

“A…aniy!! Pokoknya hati-hati!! Kau ini! Selalu saja membuatku khawatir seperti itu!”

“Mian…tapi…sunbae…kenapa kau bisa ada di rumahku?”

“Ige…aku hanya kebetulan lewat!” dusta Gikwang.

“Tapi…aku tak ingat pernah memberitaumu alamat rumahku!”

“Pokoknya begitu! Ga usah banyak tanya deh!!” kesal Gikwang dengan wajah merona.

“Aish!! Kenapa kau sewot begitu? Aku kan cuma bertanya!!”

“Tapi pertanyaanmu itu menganggu!! Sekarang masalahnya…kau mau bagaimana?” Tanya Gikwang.

“Eh? Bagaimana maksudnya?”

“Tinggal!! Kau mau kembali ke rumahmu? Atau…?”

“Shireo!! Aku…aku ga mau bertemu dengan Jinyoung oppa!!”

“Jadi?”

“Bawa aku kemana saja sunbae! Asal jangan ke rumah! Aku takut…”

“Kalau gitu, ke rumahku saja, mau? Kita tinggal berdua!” ajak Gikwang dengan wajah mesum andalannya. MWO???

“Bercanda!! Kita ke rumah Suzy saja!! Kkaja!!” Gikwang menarik tangan Hyorin. Sekejap rasa lega memenuhi dada Hyorin. Lee Gikwang seorang sunbae mesum *dbakar ACEs*, tapi entah kenapa sikapnya barusan itu bagaikan seorang ksatria yang melindungi tuan putrinya dengan taruhan nyawa. Kalau saja…kalau saja Gikwang tidak datang menyelamatkannya tadi, entah jadi apa Hyorin saat ini. Mungkin dia akan terjun ke sungai Han untuk mengakhiri hidupnya.

“Sunbae…yang tadi…jangan ceritakan pada siapa-siapa ya!!”

“Buat apa aku cerita ke orang-orang? Pengalaman hampir diperkosa kakak sendiri itu bukan pengalaman yang patut dibanggakan tau!!”

“…”

“Mian…bicaraku keterlaluan! Jangan pasang wajah jelek begitu donk! Udah jelek tambah jelek!! Membuatku illfeel saja!!” canda Gikwang. Hyorin mendesis kesal.

“Ij-jisseo *lupakan saja*!!”

“Mwo?”

“Kalau itu caramu untuk menghiburku, lupakan saja!! Baboya!!” kesal Hyorin sambil menjitak kepala Gikwang, Gikwang hanya tersenyum geli seraya mengelus kepala Hyorin.

“Percayalah padaku!!” DEG!!Hyorin membeku dan menunduk. Badannya gemetar karena detak jantungnya kumat lagi. Ia menutup telinganya keras-keras. Lagi-lagi…kata-kata yang dapat menenangkan hatinya yang sedang galau kala itu. Kenapa dia jadi begini? Kenapa?

“Hyorin!” panggil Gikwang, Hyorin menoleh sekilas sembari terus berusaha menata detak jantungnya yang berantakan itu (?)

“Aku ga mengerti!”

“Apa aku membuatmu takut?” Tanya Gikwang lagi, Hyorin lantas menggeleng cepat.

“Kenapa kau tidak mau melihatku?” Tanya Gikwang seperti ragu. Hyorin menggigit bibirnya, bingung. Haruskah ia katakan yang sesungguhnya? Aniy!!

“Lalu? Apa kau membenciku? Katakan apa salahku?”

Bukan seperti itu sunbae! Kamu ga salah, akulah yang salah. Entah mengapa aku ga bisa menatapmu lagi. Perasaanku berkecamuk setiapku melihatmu. Bernapas jadi lebih sulit dan sekarang aku benar-benar tak tau harus berbuat apa. Entah apa lagi yang terjadi padaku.

“Maaf, aku ga akan melakukannya lagi!” bisik Gikwang kemudian memalingkan wajahnya. Tunggu!! Sepertinya dia salah paham. Padahal Hyorin ga bermaksud seperti itu.

“Ga! Sunbae! Aku, kau ga salah! Aku hanya…”

“Sudahlah! Jangan terlalu memaksakan diri, ya! Kkaja!” bisik Gikwang lagi kemudian menggandeng tangan Hyorin menuju rumah keluarga Bae.

“Wow!! Rumahnya luas sekali!!” Hyorin berdecak mengagumi rumah keluarga Bae sesampainya mereka disana.

“Aish! Jangan katro gitu kenapa?” sindir Gikwang. Ia lantas pergi mencari obat di dapur dan menyuruh salah seorang pembantu untuk membangunkan Suzy.

“Mianhae sunbae…gara-gara aku kau jadi…” Hyorin menunduk sedih.

“Gwaenchana! Hanya luka kecil! Ga ada yang perlu dikhawatirkan!!”

“Tapi…bukankah luka kecil itu bisa berakibat fatal?”

“Ne? Maksudmu?”

“Mian…aku tak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Go ahjussi waktu itu…” raut wajah Gikwang seketika mengeras. Jadi…Hyorin mendengarnya? Ia tau?? Ia tau tentang penyakit Gikwang?

“Gwaenchana…Go ahjussi memang rada lebay orangnya!!”

“Tapi…tapi…” Hyorin mulai menangis.

“Yah!! Uljima uljima!! Kenapa kau menangis? Mestinya aku yang menangis, kan yang terluka aku!!” Gikwang mencoba meredakan tangis Hyorin yang semakin menjadi-jadi.

“Tapi…aku…aku selalu menyusahkanmu…mian…hiks!”

“Itu bukan masalah untukku! Mau kau menyusahkanku seperti apapun bukan masalah bagiku! Jadi jangan menangis, oke?”

“…” Hyorin menghapus air matanya. Gikwang mengelus kepalanya kemudian menatap matanya tulus.

“Jangan pernah menangis lagi di depanku, arra?” Hyorin mengangguk. Mungkin…Gikwang hanya bersimpati padanya. Benar juga, hati siapa yang tidak bakal luruh jika seorang yeoja menangis seperti itu. Begitu pula dengan Gikwang. Tapi…sebaliknya, tidak bagi Gikwang. Baginya, air mata Hyorin terlalu berharga untuk menangisi luka kecil di tangannya.

“Hyorin??” kaget Suzy mendapati Hyorin tengah duduk di ruang tamunya, bersama Gikwang.

“Oppa? Hyorin? Kalian…?” bingung Suzy saat melihat Hyorin yang sedang membalut luka di tangan Gikwang.

“Itu…oppa!! Mana bajumu??” kaget Suzy lalu memandang Hyorin yang memakai pakaian kebesaran.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Hyorin memakai bajumu?”

“Ceritanya panjang Suzy-ssi…ehm, bisakah…Hyorin menginap tempatmu malam ini?”

“Tentu dia boleh menginap disini…tapi!! Ceritakan padaku apa yang terjadi!!” desak Suzy yang duduk di antara mereka.

“Hyorin, kau lelah? Tidurlah! Ini sudah larut! Kalian harus kuliah besok!” sahut Gikwang mengalihkan pembicaraan.

“Ne…”

 

=.=

 

[Now playing: VI – What can I do]

“Ng? Argh!!” Jinyoung mencoba bangkit dan meraba hidungnya yang bengkak.

“Ah…apa yang terjadi?” bisiknya sambil memandang berkeliling, kenapa dia ada di ruang tamu?

“Ah! Kepalaku sakit!” erangnya sambil mencari kompresan di dapur. Apa Hyorin sudah bangun? Jinyoung melirik jam dinding, jam 7? Biasanya Hyorin sudah merengek minta sarapan pagi jam segini.

“Huaah!! Wajahku kenapa? Kenapa bengkak begini?” Jinyoung mengamati wajahnya di cermin dan bergidik. Kilasan kejadian semalam membayang dalam pikirannya. Raut wajah ketakutan, jeritan dan….Hyorin!! Dimana dia? Jinyoung langsung berlari menuju kamar Hyorin. Kosong. Kemudian berlari menuju kamar mandi, tapi Hyorin juga tak ada di sana.

“Odieyeo?” bisiknya. Ia segera menghubungi Hp Hyorin namun tak ada yang mengangkat.

Annyeong! Hyorin imnida. Saat ini, aku sedang tak ada di tempat. Tolong tinggalkan pesan setelah bunyi beep.

“Hyorin!! Kau dimana?? Angkat telepon sekarang!”

Jinyoung terus mencari-cari Hyorin ke sekeliling rumah. Tapi sia-sia. Hyorin tak ada dimanapun. Jinyoung menggigit bibirnya bingung. Kini ia dirundung rasa bersalah. Apa yang terjadi semalam? Kemana Hyorin?

.

“Sekarang…ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi!!”

“Anu…aku…aku…”

“Hyorin!! Kita sahabat! Kenapa kau tak mau menceritakannya padaku?” tuntut Suzy.

“Arrayo Suzy-ah! Begini…semalam, pikiranku sedang galau tingkat dewa 19 (?) jadi aku pergi berjalan-jalan menyisiri sungai Han. Tau-tau…aku terjatuh, untunglah saat itu Gikwang sunbae datang menyelamatkanku. Tapi…”

“Bajuku basah semua, makanya sunbae meminjamkan bajunya!” dusta Hyorin ragu.

“Ah…pantas saja! Wuah kalian so sweet sekali ya!! Kenapa tidak jadian saja? Ah!! Jangan-jangan malah sudah jadian?” tebak Suzy.

“A…aniy…sunbae hanya….menolongku saja, kenapa mesti jadian? Lagian…mustahil Gikwang sunbae…”

“Aigoo! Apanya yang mustahil? Ga ada yang mustahil di dunia ini! Kau tidak lihat betapa romantisnya oppa? Dia selalu menyelamatkanmu, kau pikir apa alasannya berbuat begitu?”

“Ehm…karena aku adik tingkatnya mungkin?”

“Aish! Baboya! Yah ga mungkinlah Hyorin!!”

“Ehm…kau sendiri!! Bukannya kau suka dengan sunbae!! Kenapa malah menyuruhku jadian dengannya?”

“Ah! Aku kan sudah punya Baro! Kau tau? Dia itu manis sekali, baik dan perhatian!! Juga humoris! Pokoknya asik deh!!” seru Suzy senang.

“Wah begitu ya? Tuh kan…dijodohkan ga seburuk yang kau pikirkan!!”

“Ne!! Kau benar! Untung saja aku dijodohkan! Jadi aku bisa ketemu pemuda ganteng nan baik hati itu! Wuah!! Aku suka banget sama dia!!”

“Aku mencintainya!! Dia cinta pertamaku! Aku bahkan berjanji menikahinya, maka dari itu aku kembali!!”

“Dia…juga…pasti…menyukaimu!” sahut Hyorin pelan.

“Ne! Itu sudah pasti!!” tiba-tiba suara ketokan pintu menghentikan pembicaraan mereka. Suzy lantas membukakan pintu, dilihatnya Gikwang berdiri sambil membawa nampan berisi makanan.

“Kalian sudah bangun?” Tanya Gikwang, ia menatap Hyorin yang tersenyum seraya menunduk.

“Ini…aku bawakan sarapan! Hyorin, kau belum makan kan? Makan dulu!” suruh Gikwang.

“Oppa!! Selama menjadi bodyguardku kau tak pernah membuatkanku sarapan sekalipun! Tapi kenapa kau malah membuatkan Hyorin? Memangnya kau bodyguard siapa sih?” rajuk Suzy. Gikwang tersenyum kecil.

“Mianhae, Suzy-ssi! Ini, kubuatkan untukmu juga!”

“Hyorin…ini…” Gikwang memberikan bungkusan pada Hyorin.

“Mwowaeyo?” Hyorin membuka bungkusan itu dan di dalamnya terdapat baju!

“Kalau kau ga memakainya, aku yang akan memakaikan paksa untukmu!” ancam Gikwang. Hyorin tersenyum kecil.

“Gomawo…”

“Mwo? Sekarang kau memberinya pakaian!! Yah oppa!! Kenapa kau bersikap begitu baik padanya sih? Apa karena kau kakak tingkatnya??”

“Ne…karena aku kakak tingkatnya!”

“Mwoya!! Itu alasan yang ga masuk akal! Kenapa kalian ga jadian saja sih! Oppa! Bukannya kau suka padanya?” Suzy mulai mencak-mencak membuat Hyorin tersedak.

“Yah, Hyorin-ah gwaenchana??” Tanya Gikwang khawatir, ia mengelus punggung Hyorin.

“Tuh kan!! Kalian begitu lagi!! Yah! Ini kamarku!! Jangan anggap ini dunia kalian dan mengabaikan aku disini!! Cih…memangnya aku obat nyamuk?!” kesal Suzy seperti anak kecil.

 

=.=

 

“Kau lagi! Mau apa kau kesini?”

“Mwoya!! Seorang pelanggan datang malah begitu sikapmu!! Tidak bisakah kau bersikap sedikit lebih ramah padaku Jinyoung-ssi?”

“Andwae! Buat apa aku beramah tamah padamu? Menghabiskan waktu saja!!”

“Cih! Padahal aku hanya ingin mengembalikan pinjamanku kemarin! Ini!”

“Eobseoyo!”

“Mworago? Yah! Aku ga mau punya hutang sama makhluk macam kau!!”

“Sudah simpan saja uangmu! Aku ga butuh! Anggap saja aku memberimu gratis waktu itu!”

“Yaa!!”

“Aduh! Cerewet banget sih! Dasar yeoja cerewet, menyengat! Bisa diam ga sih?” kesal Jinyoung.

“Omo! Hidungmu kenapa? Kau habis berkelahi?” Tanya Suzy.

“Bukan urusanmu!”

“Ck…apa-apaan sikapmu itu? Ah! Kau pasti dipukul karena telah mengambil pacar orang lain kan? Aigoo! Dasar namja hidung belang!! Ckckck!!” tuduh Suzy seenaknya.

“Mworago??”

“Tapi…banyak sekali yang terluka akhir-akhir ini. Semalam kulihat Hyorin membalut lukanya oppa!” gumam Suzy, Jinyoung terkesiap. Hyorin? Semalam?

“Hyorin? Bersamamu? Kenapa? Mana dia? Mana dia sekarang?”

“Mwoya!! Geurae, dia menginap di tempatku semalam. Oppa yang membawanya, katanya Hyorin terjatuh di sungai Han! Bajunya basah semua, berhubung oppa ga tau rumahnya makanya oppa membawanya ke rumahku!”

“Apa? Sungai Han?” kaget Jinyoung. Jangan-jangan…Hyorin…

“Ne…Hyorin yang bilang begitu…tapi…aneh…kenapa celananya ga basah ya?”

“Dimana dia sekarang?”

“Mwo? Buat apa aku memberitaumu?”

“Yah! Tell me tell me tell me now!!” suruh Jinyoung sambil nyanyi a la Gong Chan (?)

“Molla! Tadi pagi dia berangkat sama Gikwang oppa! Ga tau deh sekarang!”

“Lagian…kenapa kau mencarinya? Ah!! Jangan-jangan dia kabur dari rumah?” tebak Suzy.

“Jangan bicara seenaknya! Dia itu punya otak, ga seperti kau!!” sembur Jinyoung. Suzy menggembungkan pipinya kesal.

“Sembarangan!! Aku punya otak tau!!” kesalnya.

“Pokoknya beritau dia, cepat pulang! Arra?”

“Ck!! Apa-apaan kau? Memangnya aku budakmu? Katakan sendiri donk!! Lagian kau ini oppanya atau bukan sih?”

“Kalau aku bisa mengatakannya sendiri, aku tidak akan minta tolong padamu!!”

“Mwoyaa!!! Itu yang kau sebut minta tolong? Ck! Kalau kau berkata ‘tolong nona Suzy yang cantik’ maka aku akan mengatakan hal itu padanya!” tukas Suzy sembari melipat tangannya angkuh.

“NEO!!!” Jinyoung megeraskan rahangnya menahan emosi.

“Baiklah…cih sial!! To…tolong…nona Suzy.yang.cantik.!” ujarnya setengah hati membuat Suzy bersorak senang. Jinyoung menggertakkan giginya kesal dikerjai oleh nona manja seperti Suzy. Dan sekarang, ia harus membakar lidahnya karena telah berkata seperti itu.

“Ahahaha!! Good job ^^”

“Sial!!” dumel Jinyoung.

“Ah! Tunanganku sudah datang! Kau pergilah! Nanti dia bakal berpikir macam-macam lagi!” usir Suzy. Jinyoung yang kesal hanya bisa melototkan matanya dan pergi dari situ.

“Suzy-ssi!! Kau sudah lama?”

“Ga kok!! Kau darimana, Baro?” DEG!! Langkah Jinyoung terhenti mendengar nama itu. Dirinya membeku, ditatapnya sosok namja yang dipanggil Baro itu. Baro…bukankah nama itu?? Aniy…itu tidak mungkin!! Tapi….

“Tadi aku ke kampusmu, dan bertemu dengan Jung Hyorin…”

“Ne? Kau bertemu dengan Hyorin?”

“Ne…tadi dia bersama Gikwang hyung! Sebenarnya…apa hubungan mereka?”

“Mollasseo!! Tapi aku tau kalau oppa menyukainya! Aku berharap mereka jadian!” seru Suzy senang.

“Hmm…Suzy-ssi…apa kau sudah lama mengenalnya?”

“Hyorin maksudmu? Aniya…baru saja! Waeyo?”

“Apa kau pernah dengar tentang ceritanya…ehm masa lalunya? Maksudku apa dia pernah bilang tentang orang yang disukainya padamu?”

“Hmm…ya! Dia pernah cerita tentang mantannya Channie…”

“Selain itu?”

“Aniy…dia…sedikit misterius! Kenapa? Kau sepertinya tertarik dengan kehidupannya…”

“Aniya…aku…hanya ingin tau siapa saja teman tunanganku…dan seperti apa orangnya!!”

“Ah kau ini!! Jangan overprotektif begitu donk!! Pokoknya Hyorin itu orang yang baik deh! Dia ga bakal macam-macam padaku!! Ehm…kalau kau mau tau tentang Hyorin, tanya saja sama oppanya. Tuh!! Jung Jinyoung!!” tunjuk Suzy pada Jinyoung.

“Eh? Oppa? Hmmm…” Baro menatap tajam Jinyoung. Dalam benaknya, sejuta pertanyaan ingin ia tanyakan pada namja itu.

 

=.=

 

“Jadi…Baro itu teman masa lalumu? Baro tunangannya Suzy?”

“Ne…begitulah…dia sendiri yang mengatakannya. Makanya setiap hari dia selalu menemuiku menanyakan hal itu!”

“Tapi…katamu kau tidak mengenalnya?”

“Aku juga ga mengerti! Tapi…dia punya kalung milikku! Aku juga ga tau kenapa bisa bersamanya…makanya aku ingin memastikan hal itu!!”

“Kalung?”

“Ne! Kalung yang berinisialkan namaku! Aku ingat sekali karena kalung itu hadiah ulang tahunku dari appa! Kalung yang sangat kusayangi, tapi…kalau bisa bersamanya…berarti dia bukan orang biasa dalam hidupku dulu!”

“Apa itu bukan cuma kalung yang mirip saja?”

“Aku pikir juga begitu…tapi…dia ngotot sekali bilang bahwa aku adalah teman masa kecilnya! Temannya semasa TK dulu!”

“TK? Itukan sudah lama sekali! Jadi…kau membawaku kesini untuk itu?”

“Ne…mian merepotkanmu sunbae!! Aku tak tau harus minta tolong pada siapa selain kau!”

“Kenapa harus minta maaf?”

“Ne?”

“Hhhh, berapa kali harus kukatakan padamu Hyorin-ah, kau tidak merepotkanku. Kau…aku…ehm, aku senang melakukan semua ini untukmu!!”

“Ne?” kaget Hyorin.

“Pokoknya gitu!! Ga usah minta maaf lagi! Arra?” kesal Gikwang dengan wajah merona.

“Ck!! Kenapa kau melarangku begitu? Aku ga boleh menangis di depanmu, sekarang juga ga boleh minta maaf? Yah!!”

“Sudah lakukan saja!! Demi aku!!”

“Mwo? Aku ga mengerti kata-katamu yang terakhir, tapi aku hanya ingin minta maaf karena selama ini aku sudah menyusahkanmu, aku tau kau pasti merasa terbebani!”

“Aku tak pernah merasa terbebani…meski kau menyusahkanku aku tak pernah merasa kau membebaniku. Aku membantumu karena aku mau! Jadi…jangan minta maaf lagi padaku, mengerti?” Hyorin senang mendengarnya, wajahnya memerah sesaat. Ia berbalik dan tersenyum pada sunbaenya itu, secara samar Gikwang bereaksi.

”Gomawo sunbae…”

”O.P.P.A!! tak bisakah kau memanggilku begitu?” tuntut Gikwang galak.

”Andwae…aku tidak merasa kita sedekat itu!!” tolak Hyorin seraya menjulurkan lidahnya. Gikwang mencubit hidungnya gemas.

”Ah sakit!!” erang Gikwang saat Hyorin memukuli lengannya. Mendadak rasa nyeri menjalari sekujur tubuhnya. Semalam terjadi pendarahan hebat pada luka di tangannya. Gikwang berhenti sejenak, kini kepalanya terasa pusing. Pandangannya mulai berkunang-kunang.

”Sunbae!! Gwaenchana?? Kenapa wajahmu pucat begitu??” tanya Hyorin tiba-tiba. Ia menempelkan punggung tangannya di kening Gikwang.

”Gwaenchana!!”

”Geotjimal*bohong*!!! Kau demam begitu…!”

”Cuma masuk angin! Nanti juga bakal sembuh kok!”

”Masuk angin? Apa gara-gara aku…?”

”Stop!! Aku ga mau dengar kata maaf lagi! Jangan menyalahkan dirimu sendiri!!”

”Tapi…itu memang salahku!!”

”Bukan!! Kalau kubilang bukan ya bukan!!”

”Kenapa ngotot begitu sih? Itu memang salahku, kan? Kau selalu bilang jangan merasa terbebani dan semacamnya tapi…akulah yang merasa terbebani dengan kesalahanku yang kau benar-benarkan itu!! Kenapa kau begitu sih? Kenapa tak bilang saja ini salahku? Kenapa bersikap seperti itu padaku?” cecar Hyorin.

”Yah Jung!! Jangan bertanya macam-macam! Kau membuatku sakit kepala saja!”

”Tapi…kenapa kau bersikap begini padaku? Aku…aku…hiks…”

”Apa hal itu masih perlu dipertanyakan lagi? Bukankah semua sudah jelas? Kenapa aku bersikap begini padamu? Jawabannya cuma satu…”

”Karena aku menyukaimu…”

 

=.=

 

[Now playing: Sistar – Should I confess?]

Hyorin menggigit bibirnya, bingung dengan segala situasi. Akhirnya diputuskannya jua bertanya pada Suzy yang saat itu sedang berbicara dengan tunangannya.

“Suzy-ah!! Kenapa kau membawaku kesini?” bisik Hyorin.

“Ada yang ingin bertemu denganmu!!” ujar Suzy seraya mengedipkan matanya. Mworago? Nugunde? Hyorin melihat sekelilingnya, mencari-cari sosok yang ingin dipertemukan dengannya. Apa-apaan ini? Apa Suzy ingin menjodohkannya?

“Aku ingin minta tolong…Hyorin tidak mengangkat teleponku. Dia juga tak mau bertemu denganku di kampus! Bisakah kau mempertemukanku dengannya?”

Hyorin terpaku menatap sesosok namja yang amat sangat dikenalnya itu. Jung Jinyoung. Ia lantas berbalik reflex untuk menghindar.

“Ah!! Aku ingin ke toilet sebentar!!” ujar Hyorin seraya berlari menuju toilet. Jadi…Jinyoung yang ingin bertemu dengannya? Entah kenapa Hyorin merasa geram sekali. Terlebih setelah mendengar ucapan dari Mrs. Han beberapa waktu lalu.

“Jung Hyorin-ssi!!” panggil seseorang mengejutkannya.

“Kau?? Mau apa kau? Kau tidak tau ini toilet wanita?”

“Aku…ada yang ingin kubicarakan denganmu…” tukas Baro. Hyorin menyembunyikan jarinya yang gemetar. Terlebih…karena dia telah ingat segalanya. Semua tentang namja di hadapannya ini.

Flashback

[Hyorin POV]

“Neo?? Jung Hyorin?”

“Ne…lama tak berjumpa sonsaengnim…”

“Hyorin yang dulu kecelakaan?”

“Ne…” aku tak menyangka sama sekali kalau ternyata diriku begitu popular, yah terkenal karena kecelakaan tragis yang menimpaku 13 tahun yang lalu itu.

“Sudah lama sekali sejak kejadian itu…tapi…apa yang membawamu kesini?”

“Begini…apa ibu tau tentang Baro?”

“Baro?”

“Ne!! Ibu tau?”

“Baro teman masa kecilmu itu? Ibu tak tau dimana dia sekarang! Bukankah dia pergi ke Amerika? Mungkin dia masih disana…” ujar Han sonsaengnim. Baro? Mrs. Han mengenalnya? Baro…teman masa kecilku? Baro yang pergi ke Amerika?

“Hhh, ibu terpukul sekali mendengar kejadian waktu itu…apa Baro tau kau kecelakaan? Ah ya, apa bintang yang waktu itu ibu kasih masih ada?”

“Bintang?”

“Ne! Bintang buatan Baro…yang ia berikan sebelum dia pergi ke Amerika!! Kau memberinya kalung sebagai gantinya!” eh? Kalung? Maksudnya? Jangan-jangan itu…kalung milikku!!?

“Waktu kau kecelakaan bintang itu ditemukan di selokan, ibu menitipkannya pada Jinyoung! Masih ada?” oppa? Jadi…oppa tau tentang Baro dan bintang itu? Tapi…kenapa oppa tak memberitauku? Tunggu dulu…

Kecelakaan tiga belas tahun yang lalu…koma selama 23 hari…amnesia sebagian…namja kecil bernama Baro…Volvo merah…gadis kecil yang menggenggam sesuatu ditangannya, yah benda berlumuran darah itu…sebuah bintang!! Semuanya cocok!! Semuanya…mimpi-mimpi buruk itu ternyata…ingatanku!! Kepingan ingatan masa laluku!!

“Jaga baik-baik ya! Anggap saja itu aku!”

“Oke? Tetaplah tersenyum dan ceria! Saranghae…”

Itu kata-katanya!! Kata-kata Baro!! Seorang namja kecil yang merupakan cinta pertamaku!! Baro yang itu…Baro…Baro…Baro…KYAAAAAA!!!!! Tidak!! Kepalaku!! Kepalaku sakit!!

“Hyorin gwaenchana?” kulihat samar Gikwang sunbae mencoba menahan tubuhku yang melemas.

“Hyorin-ah!!” tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

End of flashback

[Author POV]

“Hyorin!! Kau ini kemana aja sih!! Loh? Baro?” kaget Suzy. Terlebih saat itu Baro sedang menarik tangan Hyorin.

“Ada apa ini…kenapa kalian?”

“Suzy-ah…ini tidak seperti…”

“Cukup…” sela Suzy. Ia menatap tajam Hyorin, pandangan yang teramat menusuk!

“Aku ga…Suzy-ah!! Jebal dengarkan aku!!”

“Padahal…aku mempercayaimu selama ini…” Suzy mulai meneteskan air mata membuat Hyorin jadi serba salah padanya.

“Padahal aku sudah menganggapmu sahabat!!!” jeritnya.

“Suzy-ah…”

Suara ringtone Hp mengusik Hyorin. Ia segera menjawabnya.

“Yeobose…”

“Jung Hyorin!! Ini aku!! Go ahjussi!!”

“Ne? Waeyo ahjussi?” bingung Hyorin. Kenapa Go ahjussi meneleponnya? Ada masalah kah?

“Gikwang…dia…dia masuk rumah sakit!! Semalam terjadi pendarahan lagi pada tangannya!! Kondisinya kritis!! Bisakah kau kesini?”

“NE??” kaget Hyorin. Sunbae…? Aniy…andwae!! Ini pasti bohong!! Air mata jatuh membasahi kedua pipinya.

“Bohong! Itu ga mungkin!” jerit Hyorin histeris. Lututnya gemetar, ga!! Ini bohong! Ini pasti hanya lelucon! Lelucon yang amat sangat tidak lucu!

“Hyorin? Waeyo??” tanya Suzy bingung.

“Sunbae…sunbae masuk rumah sakit!”

“MWO???”

“Aku harus pergi!! Mianhae Suzy-ah!! Aku harus pergi sekarang!!” Hyorin lantas berlari keluar menuju rumah sakit.

Aku tak tau apa yang tengah menimpaku sekarang…aku tak tau kenapa perasaanku jadi begini. Aku…aku hanya ingin bersamanya, disisinya, menemani dan menghiburnya. Aku ingin bersama Gikwang sunbae!! Aku tau aku egois, seenaknya dan begitu bodoh. Aku bahkan tak tau sejak kapan aku jadi begini. Tanpa kusadari sebelumnya, entah dimana batas rasa benci dan suka. Baik dan buruknya, aku selalu memikirkannya.

Pada akhirnya, aku telat menyadari keberadaannya. Bahwa dia benar-benar ada!! Bahkan saat mata ini tertutup bayangnya tetap terekam jelas. Entah mengapa.

“Mianhae Suzy-ah…” bisik Hyorin seraya menyeka air matanya. Sesampainya di rumah sakit, kekhawatiran Hyorin menjadi-jadi. Kata Go ahjussi terjadi pendarahan hingga kondisinya kritis. Apa karena luka berkelahi dengan Jinyoung waktu itu? Karena menyelamatkannya? Lagi-lagi!! Gikwang mengorbankan dirinya sendiri demi Hyorin!!

“Apa dia baik-baik saja? Lagi-lagi aku membebaninya!!” gumam Hyorin dengan langkah ragu ia memasuki ruangan bernuansa putih itu. Bisa dilihatnya Gikwang terbujur kaku *sangka lo mayat? #plak* ehm maksud author Gikwang yang terbaring lesu di atas tempat tidurnya. Go ahjussi duduk disebelahnya.

“Oh…kau sudah datang? Kalau begitu…tolong jaga dia sebentar! Aku harus kembali ke café!” ujar Go ahjussi. Hyorin mengangguk.

“Sunbae? Gwaenchana?” bisik Hyorin lemah, matanya mulai berairan saat melihat tangan kanan Gikwang yang dibalut perban itu. Ia menutup mulutnya agar tangisnya tak kedengaran.

“Sun…sunbae! Gikwang sunbae! Mianhae…gara-gara aku…” isak Hyorin sambil berlutut disisi tempat tidur Gikwang. Ia terus menangis di tangan Gikwang yang tidak terluka.

“Mian…mianhae…” tiba-tiba tangan Gikwang bergerak mengelus rambut Hyorin seperti biasa. Dia sadar! Hyorin mendongak ragu.

“Be…rat…kau ini berisik sekali…” keluh Gikwang lemah.

“Sunbae? Sunbae!!!” seru Hyorin lega. Ia menatap wajah Gikwang dengan pandangan tidak percaya.

“Jangan teriak-teriak!! Kau ini…sudah kubilang jangan menangis!!” Gikwang mencoba duduk dengan susah payah dibantu oleh Hyorin. Hyorin hanya menggembungkan pipinya.

“Aku juga tidak tau…air mataku mengalir begitu saja…” ia terpekur, Gikwang mengangkat wajahnya dan menatapnya lama seolah meminta Hyorin menyelami isi hatinya. Mungkin agar Hyorin tau betapa tersiksanya setiap kali ia melihat air mata gadis itu. tersiksa karena ia tak bisa mengukir senyuman melainkan hanya membuat tetesan bening sarat kepedihan itu jatuh berderai.

“Tidak taukah kau, aku sangat terluka melihat air yang menetes dari matamu? Air matamu terlalu berharga jika hanya untuk menangisiku!” sahut Gikwang pelan. Ia merengkuh tubuh Hyorin ke dalam dekapannya. Kata-kata yang sangat indah di telinga Hyorin membuat air matanya meleleh kesekian kalinya. Hyorin menangis sejadi-jadinya di dada bidang Gikwang.

Aku sangat mencintaimu, Hyorin-ah….!! hatiku kutitipkan padamu, jagalah jangan sampai kau menyakitinya!! Aku akan ada disisimu sampai kau bosan dan memintaku pergi menjauhimu!! Aku berjanji…apapun kulakukan demi bahagiamu! Aku berjanji takkan berpaling darimu, aku akan selalu setia dan selalu menjagamu…

 

=.=

 

Hari demi hari dihabiskan Hyorin untuk merawat sunbaenya itu sampai ia sembuh. Tanpa terasa perasaan bencinya perlahan berubah seiring berjalannya waktu. Perlahan pula…posisi Gikwang mulai menaiki tahta hatinya. Sepertinya, ia mulai menyukai namja itu. Pikiran Hyorin kembali mengambang, seolah memutar kejadian lalu. Saat dirinya pertama kali bertemu dengan Gikwang yang waktu itu memeluknya, ia langsung menamparnya karena wajah mesumnya. Juga pada saat ia menghajar Gikwang di depan umum saat hari pertama ospek. Saat ia dihukum dengan sangat kejam oleh namja itu. Saat Gikwang melindunginya, memeluknya, memanjakannya, membuatkannya makanan dan saat ia menyatakan perasaannya. Wajah Gikwang yang sempurna tanpa cela meski saat ia marah, murka, sedih, cemburu, tertawa dan bahkan tersiksa. Perasaannya begitu polos, walau sikapnya kasar dan sangat menyebalkan.

”Karena dia, aku bisa tertawa. Karena dia aku tersenyum, dan menangis. Aku marah, aku benci, sedih, kesal, hanya saat bersamanya…mungkinkah…aku menyukainya?”

”Kyaaaaa!!! Andwae!! Andwae!!! Apa yang barusan kukatakan?? Kenapa aku jadi menyukainya sih??? Hyorin!!! Jebal!! Back to your sense!!! ARGH!!!” Hyorin membentur-benturkan kepalanya sendiri ke meja belajarnya. Jiyeon yang sedari tadi diam saja hanya bisa menggaruk kepalanya bingung mendapati teman sebangkunya yang mulai bertingkah mencurigakan itu. Entah apa yang tengah menimpa otak Hyorin saat ini. Mungkinkah dia sudah…GILA??

“Yah!! Hyorin!! Mr. Jang datang!!” bisik Jiyeon. Hyorin lantas membetulkan letak duduknya sembari merapikan rambutnya seolah tak terjadi apa-apa.

“Selamat pagi semuanya!! Saya ada kabar gembira! Minggu ini jurusan Sastra Asing akan melakukan study banding ke Jeju do!!” seru Mr. Jang yang langsung disambut sorakan meriah dari teman-teman sekelas Hyorin.

“Asik!! Kita ke Jeju do!! Kita ke Jeju do!” Jiyeon bersenandung senang seraya memeluk Hyorin yang masih bengong.

 

=.=

 

I believe that love brings happiness. But unableness to say it out is just a punishment from heaven. I love you, but my heart hurts. This life just has tears that make a pain. This is it, I forgot this torture. My lips already forget about you too. Sometimes, when I drunk as if I declare my feeling towards you. Really, those moments are scared to me.

Please return to me. If it isn’t you, I can’t go on. Hyorin-ah…saranghae…

Jinyoung lantas mengacak-acak kertas yang baru saja ditulisinya yang merupakan ungkapan isi hatinya itu kemudian melemparnya ke dalam tempat sampah dan MASUK!!! Sepertinya Jinyoung berbakat menjadi pemain basket saudara-saudara!! #plaak

 

=.=

 

[Now playing: SNSD – Way to go]

Akhirnya hari yang ditunggu anak-anak Sastra sudah tiba, Hyorin –yang selama ini tinggal bersama Suzy- sudah bersiap dengan segala keperluannya.

”Aigoo- enak banget kalian bisa jalan-jalan begitu!!” rajuk Suzy sambil memeluk bantal kuning kesayangannya.

”Hahaha iya dong! Makanya, masuk Sastra Asing!!” ujar Hyorin seraya memasukkan senter dan obat-obatan ke dalam tasnya.

”Mwo? Senter? Buat apa? Ah!! Jangan-jangan kau mau maen gelap-gelapan sama oppa ya?” tebak Suzy dengan pikiran yadongnya yang mulai kambuh itu *dijitak Suzy*

“Sembarangan!! Aku cuma mau bawa aja kok! Siapa tau perlu!! Ah Suzy-ah…!”

“Ne?”

“Mianhae…selama ini aku bukan sahabat yang baik bagimu…”

“Gwaenchana Hyorin-ah!! Gwaenchana!! Aku juga minta maaf padamu!!” kedua sahabat itu lantas berpelukan dalam hening.

“Jaga dirimu Suzy-ah!! Aku…pasti akan sangat merindukanmu…aku harap…kau bahagia!!”

“Mwo? Aish! Bicara apa kau ini? Seolah-olah mau pergi selamanya saja! Kau kan hanya 2 hari disana!!”

“Ne…arra…ah! Bilang pada oppaku, jangan mengkhawatirkanku! Oke?”

“Ne…”

“Cha!! Aku pergi dulu! Annyeong!”

“Sampaikan salamku buat Kwangie oppa ya!!” seru Suzy. Hyorin mengangguk kemudian pergi menuju tempat yang telah di tentukan oleh Mr. Jang. Sesampainya disana, ia lantas mengikuti teman-temannya memasuki pesawat.

Hyorin menatap pesawat itu sebentar. Ada perasaan aneh saat ia mulai menapaki tangga pesawat. Perasaan yang ia sendiri tak tau apa itu. Ia mengepalkan tangannya kemudian masuk dan mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk. Semua tempat duduk penuh, bahkan Jiyeon saja sudah duduk dengan orang lain!! Harus dimana ia duduk?

Pandangan Hyorin terpaku pada sosok seorang namja yang bersandar dengan headphone di telinganya seraya mengangkat kakinya ke atas tempat duduknya agar tak ada yang menempati. Hanya dia yang duduk sendiri, tak adakah yang mau duduk dengannya? Atau…ia memang sengaja mengangkat kakinya agar tak ada yang duduk dengannya? Aigoo, sosialnya buruk sekali!!

“Yeogie…ehm….boleh aku duduk disini?” tanya Hyorin seberani mungkin. Namja itu membuka matanya dan menatap Hyorin dengan wajah angkuhnya.

“Ga muat!! Kamu kan gendut!!” ejeknya. Hyorin membulatkan matanya. What? WHATTT???? GENDUT??? Namja ini….!!!! Minta digorok sepertinya! Berani sekali dia ngatain Hyorin yang super duper cantik+manis+unyu ini gendut?

“Oke!! Aku pergi!!” geram Hyorin berapi-api. Ia lantas pergi dari sana namun Gikwang langsung menarik tangannya dan mendudukannya di kursi.

“Bercanda! Jangan marah gitu donk!! Jadi jelek kan?” goda Gikwang, Hyorin masih cemberut sambil mengerucutkan bibirnya.

“Jangan monyongin bibir gitu!! Kayak minta cium aja!” goda Gikwang lagi yang sukses membuat wajah Hyorin merah padam.

“Jangan bercanda bodoh!!” jitak Hyorin.

“Yah!! Beraninya kau menjitak sunbaemu sendiri!! Punya nyawa berapa? Mau kena detensi ya?”

“Ospek udah lewat yee!! Detensi? Apaan tuh? Ga ngaruh!!” Hyorin menjulurkan lidahnya seraya memasang sabuk pengamannya. Pesawat sudah mulai bergerak menuju angkasa luas. [halah bahasaku ==”]

“Dasar!! Yeoja gendut…gendut!! Weeks!” ejek Gikwang.

“MWO???”

“Udah ah!! Aku mau tidur! Jangan ganggu ya! GENDUT!!” sahut Gikwang cuek.

“KAUUUU!!!” jerit Hyorin menggelegar.

“Wae? Mau tidur bersamaku? Sini!!” goda Gikwang lagi sembari menepuk bahunya, memberi tempat untuk Hyorin. Hyorin menatapnya dengan pandangan illfeel membuat Gikwang tertawa dan mencubiti pipi gadis itu. Entah kenapa dia jadi senang mengerjai yeoja disampingnya ini.

Tiba-tiba pesawat terguncang membuat para siswa berteriak histeris. Tak ketinggalan Hyorin dan Gikwang yang berpandangan bingung. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba pesawatnya berguncang? Apa yang terjadi? Gikwang menggenggam jemari Hyorin yang gemetar, mencoba untuk merilekskan yeoja itu. Mr. Jang bangkit dan mencoba menenangkan seluruh mahasiswa. Gikwang menatap jendela, mereka sedang berada ribuan kaki di atas laut. Kalau jatuh, mereka semua pasti akan mati. Gikwang mencoba menepis kemungkinan terburuk yang akan terjadi itu.

“Ga…mungkin…Haneunim…tolong selamatkan kami!! Jebal…” desahnya berulang-ulang.

Guncangan berikutnya benar-benar membuat seluruh awak pesawat panic. Para pramugari dan pramugara berlari kesana kemari menenangkan semuanya. Mereka tak henti-hentinya memberitaukan bahwa pintu darurat ada di sebelah kanan dan kiri pesawat. Dan itu malah semakin menambah panic keadaan.

“Kenapa ini? Apa…pesawat ini akan jatuh?” bisik Hyorin tercekat. Wajahnya memucat. Gikwang bangkit mengambil tas yang tersimpan di bagasi atas. Kemudian menarik tangan Hyorin ke dalam pelukannya. Jujur saja ia sendiri juga gugup, apalagi pesawat ini sudah mulai oleng dan melenceng dari jalur semestinya.

“Sunbae…aku takut!!” gumam Hyorin yang gemetar ketakutan. Gikwang mengeratkan pelukannya. Tidak ada yang akan terjadi! Tidak!! Gikwang berusaha menggigit bibirnya sekuat tenaga demi menghalau pikiran-pikiran buruk yang masuk ke dalam otaknya.

“PERHATIAN PERHATIAN! PARA PENUMPANG YANG TERHORMAT SAYA KIM SOO HYUN, PILOT PESAWAT INI. INI KONDISI DARURAT. MESIN MENGALAMI KERUSAKAN DAN TIBA-TIBA MELEDAK. KAMI AKAN MELAKUKAN PENDARATAN DARURAT DI DAERAH JINAN! HARAP PERSIAPKAN DIRI ANDA, PINTU DARURAT BERADA DI SEBELAH ANDA!! TERIMA KASIH!”

 

TBC~~~

 

nyahahahahhaha^^ mas tbc dateng!!

huuaaaahhh!! apaan tuh hyorin pke maen peluk2n m AJ segala!! gw kan cerumbu *lempar granat ke muka Hyorin* wkwkwk

hahah, maklum author lagi setress bgt…wkwkwkw! oke deh, selamat menunggu part selanjutnya readers!!

jangan lupa kritik dan sarannya ya!!

wassalamualakum wr.wb

Posted 5 Agustus 2012 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , ,

2 responses to “[FF] Here For You – Part 8

Subscribe to comments with RSS.

  1. kyaaa… insiden pesawat-pesawatan… kkkk~ penasaran.
    Lanjut chingu… keren… daebak.. ^^

  2. Menegangkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: