[FF] Here For You – Part 7   1 comment


assalamualaikum!!

good morning readers!! how are u?? *sok bule*

mian ru update ff nya ya…kuota net saia sekarat!! hahahaha

lgipula…schedule saia padat *authorsoksibuk*

ah!! part 7 kepanjangan!! makanya saia bgi dua, eh udah di bgi dua malah ttp panjang!!

okeh deh!! selamat menikmati yaa^^

dan apapun yang terjadi jangan salahkan author…hahahah :p

.

.

HERE FOR YOU

Author: d_na

Genre: Romance

Length: 7 of ?

Cast:

You as Jung Hyorin

Jung Jinyoung as your brother

Bae Suzy as your best friend

Lee Gikwang as your sunbae

Cha Sun Woo aka Baro as your best-friend’s fiancee

================================

[Now playing: T-ARA – TTL1]

“Yah!! Oppa!! Jung Hyorin! Sampai kapan kalian mau begitu? Tak sadar kalau ini tempat umum??” seru Suzy yang langsung menghampiri kedua pasangan itu. Langsung saja kedua orang itu menjauh dan menunduk salting.

“Hyorin-ah? Gwaenchana?” Tanya Suzy khawatir.

“Ne…mian telah membuatmu khawatir!” sahut Hyorin pelan kemudian tersenyum.

“Aniya!! Amut geot do aniyo *itu bukan apa-apa*!”

“Geurom…aku lelah, aku ingin pulang!”

“Mwoya?? Tunanganku baru saja datang! Kenapa kau mau pulang?”

“Mian…aku…”

“Biar kuantar!!” seru Gikwang. Hyorin menatapnya tak percaya.

“A…aniya sunbaenim…gwaenchanaseyo!” tolak Hyorin.

“Yah! Jangan keras kepala! Biarkan aku mengantarmu!”

“Sunbae…aku…”

“Suzy-ssi aku…akan mengantarnya pulang! Kau bisa pulang sendiri?”

“Ne, pulang saja! Aku bisa pulang dengan tunanganku! Istirahatlah dan lupakan namja itu!! Arrachi?” Hyorin mengangguk.

“Gomawo…nae kkayo *aku pergi*!” pamit Hyorin. Kemudian membungkuk hormat pada Baro yang baru saja menghampiri mereka. Lalu pergi dari sana. Gikwang mengejarnya.

“Hyorin! Chamkan!!” Gikwang menarik lengan Hyorin.

“Biar ku antar!!”

“Aniya…eobseoyo *ga perlu*!”

“Yah Jung Hyorin!! Wangohanjima *jangan keras kepala*!!” Gikwang lantas menarik tangan Hyorin dan pergi dari sana. Gikwang menyeret Hyorin hingga ke taman.

“Nal bonaejwo *lepaskan aku*, sunbaenim!!”

“Aniy!! ANDWAE!! Ttarawa!” mau tak mau Hyorin mengikuti Gikwang sampai ke sepeda motor.

“Ige??”

“Ayo naik! Biar ku antar pulang!!” seru Gikwang seraya memakai helmnya. Oh boy~ demi apapun yang hidup di laut, kenapa Gikwang begitu keren walau hanya matanya yang terlihat? Aniy!! Justru mata indahnya itulah daya tariknya! Hyorin hanya terpaku menatap mata indah yang serasa menghipnotisnya itu.

“Wae? Ppali!!” Gikwang menarik tangan Hyorin lagi membuatnya tersadar. Hyorin menunduk dan menghela napas kemudian naik di atas jok itu.

Aish! Apa yang kupikirkan barusan? Baru saja putus dengan Channie, masa aku sudah tertarik dengan namja lain? Ga masuk akal!! Jebal Hyorin!! Kembalilah ke dirimu yang dulu!! Bukannya kau sendiri yang bilang tak perlu seorang namja? Sudah cukup ada keluarga dan teman-teman!

“Harinya mendung! Jam berapa sekarang?” Tanya Gikwang tiba-tiba.

“Ne? Jam 2.35! Wae?”

“Baguslah kalau begitu! Pegangan yang erat!” sahutnya lagi.

“Eh apa? Kenapa aku harus?” Tanya Hyorin bodoh, tiba-tiba motornya bergerak dengan sangat kencang!

“Kyaaaa! Ini terlalu cepat sunbae!!” Hyorin memeluk pinggang Gikwang erat *nyendok gtoh*, Gikwang memang sangat buruk dalam mengendarai motor, terbukti dari kecepatan yang ia gunakan saat mengendarai motornya, membuat Hyorin tak henti-hentinya memanjatkan doa-doa demi keselamatan hidupnya.

“Ha! Ha! Ha!” Hyorin mendesis kesal mendengar tawa Gikwang yang menyebalkan, ini orang benar-benar nekat. Apa dia sudah gila?

“Kau mau kita di tilang ya? Pelan-pelan juga bakal sampai kok! Memang kau punya nyawa berapa, sunbae?” Hyorin mulai marah-marah ga jelas, tapi tetap saja berpegangan erat.

“Tenang aja, aku ga akan biarkan kau kenapa-kenapa kok!” gumam Gikwang pelan. Gikwang terus melaju kencang secepat detak jantung Hyorin saat ini. Hyorin mulai kesulitan bernapas dan baru sadar bahwa ia memeluk Gikwang terlalu erat!!! Hyorin mengendurkan sedikit pegangannya pada sunbaenya itu. Rasanya aneh, jantung Hyorin yang berdebar-debar kencang bukan karena ia takut. Tapi ini perasaan yang menyenangkan! Mungkinkah ia gugup?

Gugup? Aku gugup? Michyeoseo!! Jangan bercanda!! Mana mungkin aku gugup karena namja ini!! Memang aku udah gila? Sadar Hyorin sadar!!

“Aish!! Ga keburu!!” Gikwang mempercepat laju motornya membuat Hyorin mesti memeluknya lebih erat. Hujan rintik-rintik mulai membasahi kota. Namun semakin lama semakin deras, gemuruh pun mulai terdengar bersahutan.

“Yah!! Kita ke rumahku dulu saja! Berteduh!! Kau tak apa?” Tanya Gikwang. Agak sulit mendengar suaranya di tengah hujan deras begini.

“Hah?? Ne!!” jawab Hyorin asal, ia tak mendengar apa kata Gikwang barusan. Akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah sederhana. Hyorin memandang rumah itu bingung, rumah siapa ini?

“Ah gomawo!” Hyorin langsung turun, jantungnya berdebar semakin kencang ketika melihat Gikwang membuka helmnya. Wajahnya yang begitu teduh dan sangat cakep! Hyorin buru-buru membuang pandangannya, kenapa ia begitu lengah hingga memandangnya?

“Kau baik-baik saja?” tanya Gikwang khawatir, ia memegang wajah Hyorin. Deg! Deg! Deg! Jantung Hyorin serasa mau meledak. Namun tubuhnya tak bisa bergerak.

YAH!!! Jung Hyorin!! Kau kenapa??? Kenapa kau gugup begini?? Mungkinkah…aniy…andwae!! It can’t be…bahkan dalam mimpi sekalipun itu mustahil terjadi…ga!! Ga mungkin kalau kau tertarik dengan namja ini kan?? NOOOOO!!!

“Bibirmu gemetar dan pucat! Kau kedinginan?” Tanya Gikwang lagi. Hyorin menggigit bibirnya kemudian mengangguk.

“Kalau gitu, ayo masuk!!” ajak Gikwang ramah, ia menggenggam jemari Hyorin yang gemetaran. Sejenak, tubuhnya merileks. Hyorin memandang sekeliling rumah itu, aneh…apa dia…

“Sunbae…kau tinggal sendiri?” Tanya Hyorin.

“Eh? Aniya! Ada ahjussi yang sering datang kesini! Ah tunggu sebentar kucarikan handuk!!” ujar Gikwang, Hyorin kemudian duduk di sofa. Mencoba menghangatkan tubuhnya dengan menggosok-gosokkan kedua telapak tagannya.

“Ige…? Hyorin? Neo Jung Hyorin?? Yeodongsaengnya Jinyoung kan? Kenapa bisa ada disini?” Tanya seorang ahjussi yang tiba-tiba datang mengejutkan Hyorin.

“Yah!! Kwangie-ah…i yeoja neoui yeojachingu??” Tanya ahjussi itu lagi. Eh? Dia kan?? Go ahjussi!! Manajer pemilik D.lite café tempat kakaknya kerja sambilan!! Kenapa dia bisa ada disini? Apa dia ahjussi yang menampung hidup Gikwang selama ini?

“Ne? Yeojachingu?” Tanya Gikwang kaget sambil melirik wajah illfeel Hyorin.

“A…aniya Go ahjussi!! Gikwang sunbae hanya kakak tingkat di kampusku saja!”

“Ne!! Mana mungkin yeoja ini menjadi kekasihku! Ahjussi! Jangan berpikir macam-macam!” sewot Gikwang. Hyorin mencibir kesal.

“Ah!! Arraseo!”

“Yah! Cepat bersihkan dirimu!!” suruh Gikwang yang melempar handuk sambil mendorong-dorong Hyorin ke kamar mandi.

“Chamkan!! Aku…bajuku basah semua!! Aku harus pakai apa?”

“Kalau basah ya jemur saja! Ga pakai apapun ga masalah kan daripada kau masuk angin memakai pakaian basah?”

“Baboya!! Kalau dengan namja mesum sepertimu, lebih baik aku masuk angin saja!”

“Aigoo! Dasar cerewet! Ne!! Pakai saja bajuku!!”

“Aniya!! Andwae!!”

“Wae??” tuntut Gikwang. Hyorin menggembungkan pipinya. Kemudian mengangguk masuk ke dalam kamar mandi. Gikwang lantas mencari-cari pakaian mendiang ibunya di lemari dan meletakkannya di depan pintu kamar mandi.

“Yah! Bajunya kutaruh di depan pintu ya!”

“Kwangie, i yeoja…”

“Ne…yeoja itu!!” sahut Gikwang sembari mencari plester di kotak obat.

“Yeoja itu…tapi…yaa! Kau bercanda?”

“Aniy…”

“Yah!! Jarimu kenapa?”

“Aniya! Ini luka kecil, hanya tergores saja! Kupikir bakal cepat sembuh, ternyata masih berdarah!” jawab Gikwang sambil membalut lukanya.

“Yah!! Meski itu cuma luka kecil tapi bisa berakibat fatal!! Aniy, itu bisa mengancam nyawamu!!” bentak si ahjussi.

“Gwaenchana ahjussi!” kini Gikwang menenggak obat miliknya untuk menghentikan pendarahan.

“Berhenti dari pekerjaanmu sekarang!!” suruh Go ahjussi.

“Aniy…!” tolak Gikwang keras.

“Yaa im-ma!! Kenapa kau keras kepala begitu, hah!!”

“Aku tidak mau membahas hal itu sekarang!!” sergah Gikwang.

“Lee Gikwang! Waktumu ga banyak! Jangan memaksakan diri begitu! Berhenti saja jadi bodyguard! Kalau kau tetap keras begitu, sama saja dengan bunuh diri!!” Gikwang hanya menggeleng-geleng acuh.

“O? Kau sudah selesai?” Tanya Gikwang saat dilihatnya Hyorin muncul dengan wajah ragu.

“Hmm, ternyata pas juga!” seru Gikwang lega.

“Anjaleuseyo!!” suruhnya kemudian. Hyorin duduk dengan perasaan tidak yakin. Go ahjussi memandangnya tak percaya kemudian pergi dari sana.

“Ini!” Gikwang memberikan secangkir insham cha hangat. Hyorin menggigit bibirnya dan menerima cangkir itu dengan tangan gemeteran. Dilihatnya jari Gikwang yang di plester. Yah jari yang itu…

“Itu yang kau sebut minta maaf? Yaa!! Kau tidak pernah belajar tata krama? Lihat nih!! Gara-gara kamu jadi tergores kan!!”

”Mwora? Luka kecil begitu saja kau permasalahkan!! Dijilat juga sembuh!!”

 

.

 

[Hyorin POV]

Aish!! Apaan sih sunbae itu? Suka sekali memaksaku!! Aku lantas mulai melepas pakaianku saat ku dengar pintu di ketuk. Omo!! Andwae!! Jangan masuk sekarang!!!

“Yah! Bajunya kutaruh di depan pintu ya!” kudengar suaranya menjauh. Ah! Ternyata pikiranku terlalu berlebihan! Dia tak mungkin semesum itu, kan Hyorin?? Selesai mandi dan berpakaian aku langsung keluar.

“Ternyata pakaian wanita? Siapa ya? Ehm, yeojachingu?? Ah! Aniy…masa dia bawa-bawa pakaian yeojanya kesini?” bisikku sambil merapikan pakaian itu.

“Yah!! Meski itu cuma luka kecil tapi bisa berakibat fatal!! Aniy, itu bisa mengancam nyawamu!!” bentak Go ahjussi membuatku kaget. Apa katanya barusan? Luka kecil? Fatal? Mengancam nyawa? Apa maksudnya? Apa Gikwang sunbae…?

“Gwaenchana ahjussi!” kulihat Gikwang sunbae meminum sesuatu yang terlihat seperti obat penghenti terjadinya pendarahan. Alisku berkerut, kenapa Gikwang sunbae meminum obat itu hanya karena luka kecil? Tunggu dulu, barusan ahjussi itu bilang kalau luka kecil bisa mengancam nyawa, apa benar begitu? Apa Go ahjussi itu seorang dokter? Kenapa dia berkata seperti itu?

“Berhenti dari pekerjaanmu sekarang!!” bentak Go ahjussi lagi. Berhenti dari pekerjaan? Maksudnya berhenti sebagai bodyguard?

“Aniy…!” tolak Gikwang sunbae.

“Yaa im-ma!! Kenapa kau keras kepala begitu, hah!!”

“Aku tidak mau membahas hal itu sekarang!!”

“Lee Gikwang! Waktumu ga banyak! Jangan memaksakan diri begitu! Berhenti saja jadi bodyguard! Kalau kau tetap keras begitu, sama saja dengan bunuh diri!!” Mwo? Waktunya ga banyak? Apa maksudnya? Ige museun seo isseo *apa yng terjadi*? Apa…Gikwang sunbae sedang sakit? Penyakit yang sangat parah sampai ia tak punya waktu yang banyak? Penyakit yang mengharuskannya berhenti menjadi bodyguard. Memang sih pekerjaan sebagai bodyguard itu berbahaya, tapi…aku menyentuh dadaku yang tiba-tiba berdetak kencang. Kenapa mataku mendadak panas?

“O? Kau sudah selesai?” Tanya Gikwang sunbae padaku. Aku hanya mengangguk pelan.

“Hmm, ternyata pas juga!” serunya lega sembari mengamati pakaianku.

“Anjaleuseyo!!” suruhnya kemudian. Aku duduk dengan perasaan tidak yakin. Go ahjussi itu sudah pergi entah kemana.

“Ini!” dia memberikan secangkir insham cha hangat padaku. Aku menggigit bibirku dan menerima cangkir itu dengan tangan gemeteran. Kulihat jari Gikwang sunbae yang diplester. Yah jari yang itu…

“Itu yang kau sebut minta maaf? Yaa!! Kau tidak pernah belajar tata krama? Lihat nih!! Gara-gara kamu jadi tergores kan!!”

”Mwora? Luka kecil begitu saja kau permasalahkan!! Dijilat juga sembuh!!”

Apa itu luka yang waktu itu? Luka karena menyelamatkan aku? Luka karena aku?

“Wae? Kau tidak mau minum?” Tanya Gikwang sunbae menyadarkanku.

“Ah? Ehm…n…ne!!”

“Minum saja, bakalan dingin kalau dipelototi terus tanpa di minum!” dia menyesap tehnya, dia tampak begitu menikmati. Aku mengurungkan niat untuk meminum teh itu melihat tanganku yang tak kunjung berhenti bergetar.

“Rumah…sunbae bagus ya!” sahutku basa-basi. Dia menatapku bingung dan mengangkat bahu.

“Maksudku tertata rapi!”

“Memang rumahmu ga tertata rapi?” dia meletakkan cangkirnya ke dalam tatakannya, aku memperhatikan tanganku, masih gemetarkah?

“Sebenarnya rapi sih, cuman barang-barangku ada di mana-mana. Di ruang tamu saja banyak buku pelajaran, seperti perpustakaan saja!” ujarku antusias, aku langsung menggigit bibirku, kenapa aku begini menggebu-gebu?

“Jadi kamu memang suka belajar?”

“Eh? Ga juga sih, cuman oppa sering ngomel kalau aku ga buka buku. Jadi ya belajar gitu deh!”

“Ga masalah, kau kan pintar?” pujinya, wajahku semakin memanas. Aku mengalihkan pandanganku ke cangkir teh, aku mengambilnya dan menyesap pelan. Rasanya manis, dan hangat sekali. Dan meski aku sangat tidak suka teh, tapi untuk hari dingin seperti sekarang teh gingseng inilah yang terbaik.

“Ehm…sunbae! Mana orang tuamu?” tanyaku ragu. Dia terdiam sejenak, tampak berpikir.

“Mereka? Sudah meninggal!”

“MWO??” kagetku. Apa katanya? Orang tuanya sudah meninggal. Apa dia bercanda?

“Ma…maaf…aku!”

“Gwaenchana! Aku sudah biasa dengan hal itu…”

“Ummaku meninggal saat aku di Amerika!”

“Eh? Sunbae pernah ke Amerika?”

“Ne! Waktu SMA aku sekolah di Amerika *ini fiktif* aku tinggal bersama ayahku yang juga seorang bodyguard!” aku mengangguk, pantas dia bersikeras menjadi bodyguard…ternyata appanya…juga…

“Orang tuaku bercerai saat aku masih kecil! Aku tidak tau apa-apa saat itu. Aku tinggal bersama ummaku di sini. Semula kupikir penyebab perceraian orang tuaku adalah salah umma!” matanya menerawang seolah memutar kembali masa lalunya.

“Wae?”

“Sewaktu aku masih SMP, ummaku membangun café, D.Lite café kau tau?”

“Ne! Oppaku kerja sambilan disana!!”

“Sering kulihat ummaku menemani para tamu yang minum dan bersenang-senang!”

“Ige…museun seo isseo??” tanyaku bingung.

“Ne, aku tidak tau saat itu! Kupikir ummaku telah mengkhianati appa dengan tamunya. Padahal, sebenarnya umma sangat kesepian!”

“Sejak saat itu…aku marah! Aku tak pernah mendengarkan omongannya, aku selalu membentaknya tidak pernah peduli pada perasaannya meski dia menangis sekalipun. Tak lama mereka bercerai dan appa pergi ke Amerika!” lanjutnya. Apa aku boleh mendengar ini? Tapi…sunbae terlihat begitu menderita. Apa ia tak punya teman bicara?

“Sunbae…”

“Saat aku SMA, tingkahku makin menjadi-jadi! Kulihat wajah umma yang setiap hari semakin pucat. Kupikir itu karena matahari dan udara disini yang tak begitu bagus!!” kulihat tangan Gikwang sunbae mengepal dan gemetar. Reflex, aku menggenggam tangan itu. Aku membelai punggungnya yang gemetar. Ia menangis!!

“Sunbae…” air mataku ikut bergulir pelan. Aku tak tahan melihatnya begitu menderita begini.

“Kupikir karena matahari ia menjadi sepucat dan sekurus itu…aku masih terus membentaknya!! Masih terus membencinya, bahkan tak pernah sekalipun aku memanggilnya umma. Akhirnya ia mengirimku ke tempat appa, kupikir karena lelah hidup bersama anak kurang ajar sepertiku!”

“Tanpa ku tau, ia mengidap penyakit hemophilia yang akut kemudian meninggal tanpa memberi tau siapapun! Dia menyuruhku menyusul appa bukan karena lelah hidup denganku…tapi karena ia tau ia akan segera mati!!” isak Gikwang sunbae. Aku memeluknya erat, mencoba menegarkannya. Air mataku mengalir semakin deras.

“Sunbae…mianhae…aku mengingatkanmu…pada ummamu!! Mian…” sesalku.

“Gwaenchana Hyorin-ah…gwaenchana!! Aku senang membagi dukaku bersamamu. Selama ini, semuanya terasa menghimpit…aku tidak tau harus bagaimana…”

“Aku akan tetap menjadi pendengar setiamu, sunbae!” hiburku, ia tersenyum kemudian mengelus kepalaku.

“Tetaplah disisiku, aku membutuhkanmu…” bisiknya lembut. Aku mengangguk sembari menyandarkan kepalaku di dadanya. Apakah ini salah? tapi…kenapa saat aku menyandarkan kepalaku segalanya terasa benar?

“Ehm…? Sepertinya posisi kita agak…?” tiba-tiba dia bicara memecah keheningan. aku buru-buru menjauhkan diri dari sunbae, pikiranku kacau! Napasku tak beraturan, wajahku panas!! Kyaa!! Apa yang kau lakukan barusan Hyorin?? Kenapa kau lengket begitu pada Devil ini?? Omo!! Haneunim *Tuhan*! Tolong ampuni kebodohanku barusan!!

“Wae? Kenapa kau menjauh begitu? Kau malu?” Tanya Gikwang sunbae dengan wajah MESUMnya!!! Ige mwoya!! Barusan kulihat dia menangis dan tampak menderita, tapi kenapa sekarang?? Aku beranjak dari sofa, tapi ia terus mengejarku. O boy!! Apa yang akan dia lakukan? Tatapan memburunya itu membuatku ketakutan setengah mati. Aku terus berjalan mundur, mundur, mundur…sampai aku tak bisa mundur lagi.

“Cih!! Knapa ada dinding disini?” tukasku bodoh.

“Kau ini!! Berduaan di rumah seorang namja itu tidak boleh!! Terlebih…kau membuatku tergoda!” MWO???? Umma!! Ottokhae??? Jantungku berdebar kencang, ketakutanku memuncak. Napasku mulai memburu. Kakiku melemas membuatku jatuh terduduk.

“S…sun…sunbae? Apa yang ingin kau lakukan??” tanyaku dengan suara bergetar. Sunbae membungkuk dan duduk berlutut di hadapanku. Ia menyentuh wajahku.

“Kau sampai ketakutan seperti ini!” ia kemudian menepuk wajahku keras. Kemudian berbalik dan tertawa keras.

“Aku tak mungkin melakukan apa-apa padamu!! Percayalah!” tukas Gikwang sunbae lagi, sedikit membuatku lega. Kemudian ia duduk di sofa, menghadapku.

“Kau tau? Yang kau pakai itu baju ummaku! Melihatmu, seperti sedang melihat ummaku saja!” ujarnya lagi. Eh? Baju ummanya?

“Yah! Kau pikir aku seperti umma-umma??” kesalku, dia terkekeh. Sepertinya moodnya sudah kembali.

“Ngomong-ngomong…bagaimana dengan Suzy-ssi dan tunangannya itu ya? Kau belum sempat lihat tunangannya kan?”

“Aku lihat…cuma belum kenalan aja!” sahutku.

“Hmm…Baro? Nama panggilan yang aneh! Kudengar dia dari Amerika loh!”

“Bukannya…dia orang Korea? Wajah oriental begitu!!”

“Ne, maksudku dia pernah tinggal di Amerika. Katanya ia pindah waktu umur 5-6 tahun, dan baru kembali sekarang!! Sudah 13 tahun disana!” aku terdiam. 13 tahun disana? Berarti usianya tidak jauh beda denganku! Tapi…kenapa meski nama itu aneh, namun tidak terasa asing bagiku? Baro…rasanya familiar? Aku…seperti pernah mendengar nama itu di suatu tempat sebelum ini!

“Sudah teduh! Kau mau pulang sekarang?” Tanya Gikwang sunbae mengalihkan pikiranku.

“Ne!!”

 

.

 

[Author POV]

[Now playing: 2AM – Like an idiot]

Rembulan muncul menggelar sinarnya yang temaram. Bintang-bintang bertebaran membelah angkasa mengurai mega keperakan membingkai gelapnya langit malam. Hyorin masih berbaring gaje di kamarnya sembari mendengarkan music favoritnya.

Dalam satu hari saja, banyak hal yang telah terjadi. Ia putus dengan Gong Chan dan mengenal seorang Lee Gikwang lebih dekat. Hyorin menggigit bibirnya. Merasa bersimpati pada namja itu. Bisa kau bayangkan betapa menyesalnya Gikwang saat tau kebenaran yang sesungguhnya. Betapa sedih dan terlukanya ia saat mengetahui dirinya salah dan begitu kejam. Betapa terpukulnya ia menyaksikan hal itu sampai-sampai ia menderita penyakit yang sepertinya parah itu.

“Apa…dia sakit karena stress ya?” gumam Hyorin. Tapi…sakit apa dia? Kenapa Go ahjussi bilang ia tak punya banyak waktu lagi? Ada apa sebenarnya? Apa sakitnya separah itu? Memang penyakit macam apa sampai ia tidak punya banyak waktu begitu? Hyorin membenturkan kepalanya ke dinding, gelisah dengan segala kecamuk dalam pikirannya. Otak pintarnya tak mampu memberikannya jawaban yang memuaskan, semua hanya berujung pada sebuah hipotesa yang ia sendiri tak tau akan kebenarannya.

“Aish!! Kenapa aku jadi seperti ini sih? Peduli apa aku padanya?” Hyorin mencoba menepis semua bayang Gikwang, tapi entah kenapa otaknya selalu –dan tanpa diminta- memikirkan namja itu. Hyorin mengacak-acak rambutnya frustasi karena ketidakmampuannya mengenyahkan namja itu dalam pikirannya.

U got a message…from Suzy!!

Hyorin terkejut mendengar ringtone Hpnya, ada sms ternyata. Ngomong-ngomong, apa Suzy tau tentang keadaan Gikwang?

“Aih!! Berhenti memikirkannya Hyorin!!”

Suzy: Bagaimana keadaanmu?

Hyorin: Ne…lebih baik…

Suzy: aku khawatir sekali! Begitu pula Baro…

Baro? Hyorin memiringkan kepalanya. Ah, tunangan Suzy itu ya? Yang pernah tinggal di Amerika selama 13 tahun itu? 13 tahun…kenapa semuanya begitu…cocok ya?

“13 tahun yang lalu juga aku kecelakaan! Apa angka 13 memang membawa kesialan?” Hyorin mengangkat bahu kemudian membuka jendela kamarnya, menikmati indahnya malam bertabur bintang itu. Ia sangat suka bintang, begitu cantik dan anggun. Yah, Hyorin memang sangat mengagumi bintang yang mampu memancarkan cahayanya sendiri, dan menjadi penerang jutaan penduduk dunia. Ia ingin seperti bintang. Menit demi menit dihabiskannya dengan memandang salah satu ciptaan Tuhan yang begitu indah.

“Kenapa bintang itu begitu indah ya?” bisik Hyorin seorang diri.

Mendadak cahaya terang membutakan mataku. Suara decit mobil memekakkan telinga. Kulihat sebuah Volvo merah melaju dengan kencangnya menghantam tubuh seorang anak perempuan hingga terpental jauh ke jalanan. Ia terjatuh, dan tak sanggup untuk bangun. Darah mengucur dari kepalanya begitu menyengat hidung. Aku mencoba membantunya, namun lagi-lagi suaraku tak terdengar. Kulihat sesuatu menggelinding ke dekat kakiku…dan…MENEMBUS tubuhku hingga masuk ke dalam selokan.

Benda berlumuran darah itu…sebuah bintang!!

Hyorin membuka matanya lebar-lebar, napasnya kemudian kembali memburu. Detaknya jantungnya juga kembali bergemuruh kencang. Air mata menetes dari sudut matanya tanpa disadarinya.

“Um…umma!!” ia menutup mulutnya dengan tangan gemetar.

“Jaga baik-baik ya! Anggap saja itu aku!”

Hyorin meringkuk kemudian menyentuh kepalanya. Air matanya mengalir deras, kepalanya terasa sangat sakit.

“Oppa!! Oppa!!” serunya kemudian menghambur ke kamar oppanya.

“Oppa!!!” Hyorin membuka pintu kamar Jinyoung dan menemukannya sedang tanpa busana -ehm hanya bertelanjang dada lebih tepatnya karena ia baru selesai mandi. Melihat itu Jinyoung yang kaget langsung menutupi tubuhnya yang terekspos.

“Ya!! Jung Hyorin!!” kesal Jinyoung dengan wajah merona (?) ia lantas mendorong Hyorin keluar.

“Keluar! Kau tidak lihat aku sedang tidak pakai baju?”

“Oppa!! Kau kenapa sih? Bukannya aku biasa melihatmu seperti itu?” protes Hyorin.

“Jung Hyorin!! Bagaimanapun juga, ingat kalau aku ini seorang NAMJA!! Jangan pernah masuk ke kamarku lagi seenaknya!” Jinyoung lantas menutup pintu dengan keras membuat Hyorin hanya bisa terdiam. Namja? Oke! Ia tau oppanya seorang namja, itu bukanlah hal yang perlu diperdebatkan lagi, kan? Karena itulah ia memanggilnya oppa bukan onni!! Tapi…kenapa Jinyoung tiba-tiba bersikap begini? Bukankah itu aneh? Selama ini ia biasa saja, tapi kenapa sekarang? Apa Jinyoung malu? Tapi…buat apa dia malu? Mereka kan bersaudara!!

 

.

 

[Now playing: Big Bang – Sunset Glow]

Subuh mulai mengambang di udara, matahari mengintip dari balik celah kabut yang masih menyelimuti. Saat itu Baro sedang melakukan kegiatan rutinnya, jogging pagi. Sembari mendengarkan music-musik favoritnya ia terus berlari mengitari kompleks perumahan. Akhirnya ia sampai di sebuah bangku taman dan berhenti. Ia mencoba meregangkan tubuhnya, kemudian dirinya teringat akan sosok seorang yeoja yang sangat diyakininya sebagai teman masa kecilnya itu. Jung Hyorin.

“Kenapa dia tak mengenaliku ya?” alis Baro bertaut bingung.

“Aniy…aku rasa itu memang benar dia! Tapi…” Baro memiringkan kepalanya kemudian duduk di bangku taman. Ia menatap kalung kecil berinisial HR itu.

“Lebih baik aku segera memastikannya!” gumamnya kemudian melanjutkan kegiatannya.

 

.

 

“Ah…joesonghamnida sajjangnim! Saya datang dengan lancang menghadap anda!”

“Iye, anjaleuseyo Mr. Go, museun seo isseo?” Tanya Mr. Bae.

“Begini…saya mohon maaf sebelumnya. Tapi…pecatlah Lee Gikwang dari pekerjaannya!”

“Mworago?” kaget Mr. Bae.

“Ne!! Pecatlah dia!”

“Hajiman *tapi* waegeurae?

“Dia…anak itu…tidak punya bayak waktu sekarang…”

“Ne?”

“Maksud saya, pekerjaan sebagai bodyguard itu berbahaya dan dapat mengancam nilai-nilainya di kelas!” ujar Mr. Go.

“Geuraesso? Tapi…Gikwang tak pernah mengeluh akan hal itu!”

“Dia memang seperti itu. Maka dari itu sajjangnim, jebal!! Pecatlah dia!!” Mr. Go membungkuk memohon. Mr. Bae tampak manggut-manggut.

“Hhh, Lee Gikwang adalah anak yang baik. Geurae, aku akan mempertimbangkan hal itu!”

“Ne…gamsahamnida sajjangnim!”pamit Mr. Go.

 

.

 

“Hyorin!! Duluan ya!!” seru Jiyeon, salah satu teman baru Hyorin di kampus.

“Ne!! Bye bye!!” Hyorin melambaikan tangannya kemudian ia memasang headphone dan berjalan menuju halte bus untuk pulang ke rumahnya. Namun seseorang berdiri di hadapannya menghentikan langkahnya.

“Jung Hyorin-ssi!” panggil namja itu, Hyorin mendongak dan menatap namja itu bingung. Siapa dia? Hyorin mencoba mengabaikan laki-laki itu dan terus berjalan, namun namja itu menarik lengan Hyorin dan menghadapkannya persis di depan laki-laki itu.

“Nuguseyo?” ujar Hyorin akhirnya.

“Aku Cha Sun Woo! Kau Jung Hyorin, kan? Aku tidak menyangka kita bisa bertemu disini!” kening Hyorin berkerut, Cha Sun Woo? Nama itu…

“Ah!! Kau tunangannya Suzy?”

“Ne…ada yang ingin kubicarakan denganmu!!”

“Mwo? Malhae *tell me*!”

“Ehm…apa kau kenal Baro?” lagi-lagi kening Hyorin berkerut bingung. Apa-apaan namja ini? Bukankah Baro itu nama panggilannya? Jadi tentu saja dia tau! Apa namja ini ingin bermain-main dengannya?

“Baro? Itu kau kan?”

“Ne!! Itu nama panggilanku! Tapi apa kau tidak mengenal nama itu sebelum ini?”

“Maksudmu?

“Misalnya, sebelum bertemu denganku! Atau sebelum bertemu dengan Suzy, apa kau pernah mengenal nama itu?”

“Buat apa aku mengenal nama itu? Memangnya itu penting!?”

“Kau tidak tau?”

“Molla!!”

“Kalau begitu…apa kau lulusan dari TK Mori?”

“Kau ini kenapa? Kenapa menanyakan hal seperti itu?”

“Dae daphae *jawab aku*!” paksa Baro.

“Yah!! Neo michyeoseo?? Geurae, aku memang lulusan dari sana, wae?”

“Kalau begitu…kau…memang…” mata Baro bersinar-sinar senang, karena akhirnya ia menemukan yeoja masa lalunya itu. Hyorin menatapnya heran.

“Apa kau hanya ingin menanyakan hal itu? Kalau gitu, yasudah! Aku pergi!! Aku bukan orang yang ga ada kerjaan hanya untuk menjawab pertanyaan sepele macam gitu!!”

“Jung Hyorin-ssi! Chamkan!” Baro mengejar Hyorin yang pergi meninggalkannya.

“Jung Hyorin-ssi!!” Baro menarik tangan Hyorin.

“Yaa!! Daeche mwohaneun geoya? *what the hell are u doing*!! Nal bonaejwo*let go of me*!!” ronta Hyorin. Apa-apaan namja ini!! Kenapa dia begini sih? Apa maksudnya coba? Tiba-tiba menanyakan apa dia mengenalnya, lalu lulusan dari TK mana. Ckck, mana ada orang yang menanyakan hal aneh semacam itu.

“Aku punya seorang teman, dia juga bernama Jung Hyorin! Jujur saja, aku kembali ke Korea untuk bertemu dengannya!!” jelas Baro.

“Geuraesso?”

“Geuraesso, aku hanya ingin tau apa kau…orang yang ku maksud?” Hyorin melipat tangannya di dada dengan angkuhnya.

“Mwo? Naega wae?”

“Kau lulusan dari TK yang sama denganku!!”

“Ibwayo Cha Sun Woo-ssi!! Aku bukan orang yang kau maksud! Arraseo?” bentak Hyorin kemudian meninggalkannya. Aneh!! Namja ini sudah gila? Tapi…kalaupun mereka dari TK yang sama, kenapa Hyorin merasa tidak pernah memiliki atau mengenal namja ini? Padahal namanya termasuk nama yang sedikit ehm UNIK?

“Cadel!!” seru Baro. Langkah Hyorin terhenti, cadel? Itu kan…

“Apa macayahmu? Dasar cadel!! Ngomong aja ga bisa!”

“Yaah! Aku memang akan pergi! Pergi jauh! Kau jangan kangen padaku ya cadel!”

“Sudah ingat Jung Hyorin-ssi?” Tanya Baro. Hyorin masih tetap bergeming, ia menggigit ujung kuku jarinya yang mulai gemetaran. Kilatan tentang kecelakaan itu kembali mengawang dalam benaknya.

“Hyorin??” panggil Baro bingung saat dilihatnya gadis itu mulai gelisah.

“Yah gwaenchana?” Baro menyentuh pundak Hyorin yang gemetar.

“Shikurota *diam*!!” bisik Hyorin pelan.

“Hah?”

“SHIKURO!!” bentak Hyorin nyaring, air mata meleleh di kedua pipinya. Ia kemudian berlari pergi meninggalkan Baro seorang diri.

Hujan mulai turun rintik-rintik, namun Hyorin terus berlari menembusnya. Ia menyentuh dadanya yang mendadak terasa perih. Sedikit demi sedikit luka yang telah tertutup rapat itu kembali membuka.

“Oke? Tetaplah tersenyum dan ceria! Saranghae…”

“Saranghae…”

“Saranghae…”

Air mata Hyorin menetes semakin deras bercampur air hujan. Dadanya perih. Sakit!! Napasnya mulai terasa sesak, detak jantungnya semakin kencang degupannya memukul-mukul rongga dada.

Kenapa? Apa itu? Siapa namja kecil itu? Kenapa dia selalu ada dalam ingatanku? Kenapa namanya Baro? Apa dia….Baro?? Baro…

“Hentikan!! Aku tak mau mengingatnya lagi!! Sudah cukup!!” jerit Hyorin sekencang yang ia bisa. Ia berhenti. Kepalanya terasa pusing, matanya berkunang-kunang.

“Sudah….cukup…” isaknya kemudian meringkuk memeluk lututnya yang melemas.

“Jangan…ingat…kan aku…”

“Hyorin?” panggil seseorang.

“Omo!! Jung Hyorin!!” panggil Gikwang, ia menyentuh wajah Hyorin. Dingin. Bibirnya juga pucat.

“Yaah? Hyorin-ah?” Gikwang menggenggam kedua tangan Hyorin yang dingin dan menghangatkannya. Kemudian memapahnya ke halte bus untuk berteduh. Ia menatap manic mata Hyorin yang kosong dan sarat akan ketakutan.

“Hyorin-ah??” bisik Gikwang lagi.

“Gwaenchana?” Hyorin mengangguk.

“Apa yang terjadi? Kau kenapa?” Hyorin menggeleng.

“Mau ke rumah sakit? Sepertinya kau sedang sakit…” tawar Gikwang. Ia menarik tangan Hyorin perlahan kedalam pelukannya dan memapahnya sampai mereka tiba di rumah sakit.

Di rumah sakit, rasa pusing di kepala Hyorin semakin menjadi-jadi, ditambah lagi dirinya yang tak tahan mencium bau obat. Untungnya saat itu, ia langsung bertemu dengan dokter keluarganya. Dr. Jo. Saat ia mencoba menjelaskan perihal gejala-gejalanya, dokter Jo tampak sangat terkejut. Dia langsung membuka file-file dokumen lama dengan ekspresi wajah yang terlihat shock berat.

”Itu bukan penyakit parah seperti bayanganmu Hyorin-ah! Kau hanya depresi karena ingatanmu perlahan kembali!”

”Maksud…dokter apa?”

”Kau tidak ingat? Kecelakaan 13 tahun yang lalu?” tanya dokter Jo. Kecelakaan 13 tahun yang lalu? Itu berarti saat ia masih umur 5 tahun. Saat ia masih TK.

”Ne…aku tau itu. Tapi…ingatanku kembali? Maksudnya? Apa aku…amnesia?”

”Ya! Kau mengalami amnesia sebagian setelah koma selama 23 hari!” Hyorin terkejut, begitu pula Gikwang. 23 hari?? Koma selama 23 hari?? Selama itu?

”Kenapa…aku bisa kecelakaan?” tanya Hyorin lagi.

”Kau tidak tanya pada keluargamu? Ah, kau di tabrak mobil setelah pulang sekolah! Mobil berjenis volvo merah!” mendadak wajah Hyorin kembali memucat. Berarti…ingatan tentang kecelakaan itu…yeoja yang ditabrak mobil itu…adalah dia!! Lalu…siapa Baro? Apa dia ada hubungannya?

”Dokter…apa…kau tau tentang Baro?” tanya Hyorin ragu, Gikwang menatapnya tak mengerti. Bukankah Baro itu…nama tunangan Suzy? Apa hubungannya? Kenapa Hyorin?

”Aku tidak tau! Tanya saja pada keluargamu, Hyorin!!”

”Algeuisseumnida!” Hyorin membungkuk kemudian pergi, sementara Gikwang terus mengejarnya.

”Apa maksudnya tadi? Memangnya kau mengenal Baro sebelum ini?”

”Aniy…aniya…”

”Yah Jung Hyorin!! Jawab aku, kau mengenalnya?”

”Andwae…aku..ga mungkin mengenalnya…”

“Aku punya seorang teman, dia juga bernama Jung Hyorin! Jujur saja, aku kembali ke Korea untuk bertemu dengannya!!”

“Hyorin, kau bisa cerita apapun padaku!!” pinta Gikwang.

“Aniya…gwaenchana…sunbaenim…”

“Hyorin…”

“Nae kkayo *aku pergi*”

“Chamkan…!!”

“Mana Hp mu?” Tanya Gikwang. Hyorin lantas memberikan Hp miliknya.

“Ini nomorku kalau ada apa-apa, kau bisa hubungi aku! Aniy, kau harus menghubungiku!! Arrachi?” Hyorin mengangguk.

“Ne…neo do kka…*kamu juga pergilah*!”

 

.

 

When I see your smile, tears run down my faces. I can’t replace. You know that I’m strong I have figured out. How this world turns cold and breaks thorugh my soul. And I know, I’ll find deep inside you I can show that I will be the one. I will be the one who never let you fall. I’ll stand up with you forever. I’ll be there for you through it all, even if saving you sends me to heaven. It’s okay. Cause you’re my true love, my whole heart please don’t throw that away. Cause I am here for you, please don’t walk away and please tell me you’ll stay.

Use me as you will, pull my string just for a thrill. Yeah you know I’ll be okay through my skies are turning gray. I will never let you fall. I’ll stand up with you forever. I’ll be there for you through it all, even if saving you sends me to heaven.

“Suzy-ssi! Kau tau dimana rumahnya Hyorin?” Tanya Gikwang.

“Ne…? Ah! Di jalan sesat gang buntu nomor 13 blok death! *alamat ini fiktif saudra2* waeyo oppa?”

“Aniy…ehm, gomawo..!” sahut Gikwang seraya menyentuh keningnya. kemudian berpikir, serem amat alamatnya emang ada yang tinggal disono? *ya ga adalah dodol, pan author cuman ngarang ckckc ==*

 

.

 

“Jung Hyorin-ssi!!” Hyorin mengepalkan tangannya. Lagi-lagi!! Entah kenapa namja ini setiap harinya selalu mencegatnya di jalan depan kampusnya hanya untuk menanyakan hal yang sama. Apa dia adalah teman masa kecil Baro dan sebagainya. Kenapa namja ini ngotot sekali kalau Hyorin adalah teman masa kecilnya?

“Jeo a seo yo *apa aku mengenalmu*?” Tanya Hyorin malas dengan wajah polosnya, Baro terkekeh.

“Aku ingin bicara denganmu!!”

“Aniy!! Aku ga mau!! Aku banyak urusan! Kka *pergi*” usir Hyorin.

“Sebentar saja! Jebal! Aku hanya…”

“KKA!!!” bentak Hyorin.

“Hyorin-ssi!! Jam shin man yo *tunggu (formal)*!!”

“Cha Sun Woo-ssi! Dengar, aku bukanlah orang yang kau cari! Aku bukan Jung Hyorin yang kau maksud! Lagipula di dunia ini, banyak sekali orang yang bernama itu! Jadi…jangan pernah muncul lagi dihadapanku! Arraseo??”

“Arra! Tapi…kita pernah satu TK!”

“Cha Sun Woo-ssi!! Aku tak tau orang yang kau maksud itu sepenting apa, tapi berhenti mencegatku setiap hari disini! Dan meskipun kita lulusan dari TK yang sama, aku ga pernah ingat bahwa aku memiliki teman sepertimu! Aku ga ingat pernah mengenalmu!!”

“Tapi…”

“Jangan keras kepala! Aku sudah bilang padamu berkali-kali!! Jangan pernah menggangguku!!” tandas Hyorin.

“Aku mencintainya!! Dia cinta pertamaku! Aku bahkan berjanji menikahinya, maka dari itu aku kembali!!” seru Baro membuat langkah Hyorin terhenti, ia mengeraskan rahangnya.

“Sang gwan eobseoyo *aku ga peduli*!” ketus Hyorin.

“Maka dari itu Hyorin…entah kenapa…aku merasa yeoja itu adalah kau!!” Baro menarik lengan Hyorin.

“Lepas!! Michyeoseo?? Aku sudah bilang aku tak mengenalmu sebelum ini!!”

“Hyorin…”

“Neo…nae chingu ui yakhonnyeo!! *kamu adl tunangan temanku* jadi jangan bersikap begini!! Aku tak tau dan tak peduli siapa yeoja itu!! Sudah berapa kali kubilang AKU BUKAN YEOJA ITU!! Kenapa kau keras kepala begitu sih?”

“Ini!! Ingat ini?” Baro menunjukkan sesuatu di hadapan Hyorin. Mata Hyorin melebar. Ia menyentuh benda itu.

“Ini…? Kenapa bisa?”

“Itu milikmu!! Kalung yang kau berikan sebelum aku pindah ke Amerika! Itu milikmu Hyorin-ssi!” air mata Hyorin kembali bergulir pelan. Ia…ingat kalung ini! Kalung pemberian appanya. Kalung yang berinisialkan namanya. Tapi…kenapa kalung ini bisa bersama namja itu? Kenapa?

“Aku tidak punya apa-apa untukmu, Balo. Ah ya ini…”

“Jangan campai ilang yah! Itu mahal, nanti umma malah kalau ilang!”

“Sudah ingat?” Tanya Baro ragu. Hyorin mengepalkan kedua tangannya.

“Aniy!! Aku tak tau punya siapa itu! Itu bukan milikku!! Sekarang jelas? Aku bukan orang yang kau maksud kan?? Jadi jangan pernah datang lagi, arrachi??” Hyorin kemudian berlari meninggalkan namja yang masih memanggil-manggil namanya itu. Dibenaknya hanya ada kata kenapa. Kenapa kalung miliknya bisa bersama namja itu? Apa benar dia yang memberikannya? Apa benar dia teman masa kecilnya? Tapi…kenapa dia tak mengingatnya?

”Ya! Kau mengalami amnesia sebagian setelah koma selama 23 hari!”

Amnesia sebagian? Apa maksudnya itu? Kenapa hanya namja itu yang tak ku ingat? Kenapa? Apa dia sangat berarti bagiku? Aku sampai memberikan kalung milikku padanya itu artinya dia…tapi…kenapa? Kenapa?

Yah Jung Hyorin!! Buat apa kau memikirkannya? Meski benar dia adalah teman masa kecilmu terus kenapa?

“Oke? Tetaplah tersenyum dan ceria! Saranghae…”

“Aku mencintainya!! Dia cinta pertamaku! Aku bahkan berjanji menikahinya, maka dari itu aku kembali!!”

Mencintaiku? Jangan bercanda!! It can’t be…!! Walau itu benar sekalipun, ga ada yang bisa berubah bukan? Demi Tuhan dia tunangan sahabatmu Hyorin!! Jangan biarkan hal ini menghancurkan persahabatan sucimu dengannya!!

Hyorin menggigit bibirnya lagi, lebih keras. Menjaga agar dirinya ga menangis, berusaha sekuat mungkin. Walau toh akhirnya usaha itu sia-sia juga. Air matanya tetap bergulir meski perlahan.

 

.

 

[Now playing: K.Will – Love is punishment]

Pernahkah kau berpikir betapa sulitnya aku menahan air mataku? Perih yang kurasa, sakit yang mencoba melawan relung hatiku untuk selalu mencinta. Meski rasa sakit yang menghujam di hati, tak jua membuatku lelah. Walau perih sekalipun mengoyak-ngoyak perasaan yang kau abaikan, aku tetap bertahan.

Kenapa? Kenapa bisa tetes air mataku jatuh untuk seseorang yang takkan pernah menjadi milikku? Bagaimana bisa aku mencintai seseorang yang cintanya tak mungkin untukku?

Aku percaya bahwa cinta membawa kebahagiaan. Tapi…kenapa mencintaimu begitu menyakitkan? Andai kau rasakan lukaku yang dalam membuatku terus terjatuh ke dalam jurangku yang kelam. Setiap hari aku berusaha melupakanmu. Setiap hari aku berusaha meninggalkanmu. Tapi…bayangmu tetap melekat dalam sudut otakku. Sanggupkah aku melupakanmu?

“Kenapa kenyataan begitu kejam padaku?” Jinyoung tersenyum kecut kemudian menuangkan alcohol itu ke gelas minumnya, lagi. Sampai ia benar-benar merasa pusing dan kehilangan keseimbangan.

“Kenapa mencintaimu itu rasanya sakit?” Jinyoung menyentuh dadanya yang terasa perih. Kemudian ia kembali ke rumahnya dengan langkah kacau. Kepalanya terasa berputar-putar, namun ia tak peduli dengan hal itu.

“Oppa?? Ah neo lla ja nae!! *you scared me*!” kaget Hyorin yang saat itu sedang ingin mencuri kue di lemari es demi memenuhi perutnya yang sudah bermusik keroncong dangdut (?) itu.

GREBB…

Jinyoung langsung memeluk adiknya erat. Begitu erat sampai Hyorin kesulitan bernapas.

“O…oppa? Waegeurae? Lepas!! Sakit!!” ronta Hyorin.

“Jangan pergi…jangan…tinggalkan…aku!” Jinyoung semakin mengeratkan pelukannya.

“Oppa!! Lepas!! Kumohon!!” Hyorin mendorong Jinyoung sekuat tenaganya. Tatapan dingin Jinyoung membungkamnya.

“Oppa kau mabuk? Oppa waeire?? Lepaskan aku…jebal!!” pinta Hyorin sambil terus terisak. Ia mendorong-dorong tubuh Jinyoung, berhasil! Ia berhasil lepas dari cengkraman Jinyoung. ia lantas berlari, namun Jinyoung terus mengejarnya.

“Sunbae…Gikwang…sunbae!!” Hyorin lantas memutar kakinya menuju ruang tamu mengambil Hp untuk menghubungi Gikwang. Entah kenapa hanya nama sunbaenya itu yang terlintas dalam pikirannya saat itu. Baru saja ia hendak mengambil Hp langkahnya tersandung ambal dan terjatuh di dekat sofa. Dengan gerakan yang begitu tiba-tiba, Jinyoung yang berhasil mengejarnya kemudian menindih tubuhnya.

“Kyaaa!! Oppa lepas!!” jerit Hyorin sekeras mungkin. Jinyoung merobek paksa pakaian yang dikenakan Hyorin.

“Oppa!! Lepaasss!! Oppa jebal!! Jangan seperti ini!!” isak Hyorin sambil berusaha mempertahankan harga diri dan kehormatannya. Jinyoung membekap mulut Hyorin, tatapannya kosong. Hyorin mencoba menggapai-gapai Hpnya di atas meja, namun sial Hpnya  begitu jauh. Air matanya jatuh. Ya Tuhan!! siapa saja tolong!! jerit batinnya.

“Aku…mencintaimu Hyorin-ah!!”

 

.

 

TBC~

 

wehwehweh!! Jinyoung mo apa tuh?? ckckc == readers!! please don’t try this at home ya!!

oke deh!! sampai sgni dlu yaaa!! penasaran? penasaran? hahaha!! keep it up!! asal jngn jadi hantu penasaran aja trus gentayangin author yng cantik ini!! bisa2 saia gak keluar kamar 7 hari 7 malam!! ngumpet dlm selimut.a Siwon, kkk~

ahaha! oke gomawo bagi yng ud ngikutin critanya smpe sini. jngn lupa kritik dan sarannya aye?? ^^

wassalamualaikum wr wb.

Posted 3 Agustus 2012 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , ,

One response to “[FF] Here For You – Part 7

Subscribe to comments with RSS.

  1. aigoo~ air mtaq dmna2… TTT^TTT
    kren thor…d tnggu klnjtanx…pgn tw hyorin ma sapa… >.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: