[FF] Here For You – Part 6   2 comments


Assalamualaikum!!!

hahhahaha!!! saia kembali!! ada yng penasaran gk??? berhubung hari ini adalah ulang tahun uri maknae, No Min Woo ayo kita nyanyikan lagu buat Minwoo!!

Saengil chukkahamnida, saengil chukkahamnida!! saengil chukkae uri Minwoo, saengil chukkahamnida!! prokprokprok!!

.

.

HERE FOR YOU

Author: dna

Genre: Romance

Length: 6 of ?

Cast:

Bae Suzy

you as Jung Hyorin

Jung Jinyoung

Lee Gikwang

Cha Sun Woo aka Baro

Gong Chan Shik

 

=====================

[Now Playing: Big Bang – Stay]

“Oppa?”

“Oppa!! Kau marah padaku? Mianhae!!” Hyorin lantas mengejar Jinyoung yang pergi meninggalkannya.

“Oppa!! Chamkan!!”

“Oppa!! Kenapa kau marah?”

“Oke!! Aku minta maaf! Aku tak memberitaumu tentang Gong Chan! Tapi…”

“…”

“Oppa! Aku tak sengaja jadian dengannya!! Aku ingin menjelaskan kesalahpahaman kami tapi…”

“Oppa!! Jebal! Kenapa kau diam saja?” air mata Hyorin mulai bergulir perlahan.

“…”

“Oppa!! Katakan sesuatu…please!!”

“Putuskan dia!” singkat Jinyoung.

“Mwo?”

“PUTUSKAN DIA! SEKARANG!!!” bentak Jinyoung nyaring kemudian ia pergi ke kamarnya dengan membanting pintu. Hyorin menutup mulutnya menahan tangis. Seluruh persendiannya lemas. Ia tak sanggup berdiri. Bayangkan saja kalau seorang oppa yang selama ini adalah orang yang sangat lembut yang jangan kan memukul, membentak dengan suara keras saja tidak pernah tiba-tiba bersikap seperti itu.

Hyorin menyeka air matanya. Lagi-lagi…ia membuat oppanya marah! Dulu, waktu ia diantar dengan Gong Chan oppanya juga marah! Kenapa dengan oppanya? Hyorin menarik napas panjang, kemudian berjalan ke dapur.

“Ige? Jajangmyeon?? Oppa membuatkanku ini?” bisik Hyorin. Tiba-tiba saja perasaan bersalah menghantui benaknya. Ia langsung berlari ke kamar Jinyoung dan mengetuk pintu.

“Oppa!! Buka pintunya!! Jebal!!”

“Oppa!!”

“Oppa!! Jebal!!” pinta Hyorin kesekian kalinya. Ia terus memanggil-manggil Jinyoung hingga suaranya serak. Ia terduduk saking lelahnya.

“Oppa!! Kalau kau tak mau membuka pintu, aku akan terus duduk disini!!” Hyorin berlutut di depan kamar Jinyoung. Berharap Jinyoung membukanya, namun…itu hanyalah harapan sia-sia.

“Apa oppa benar-benar marah padaku?”

.

 

Jam sudah menunjukan pukul 9 lewat 10 menit. Hyorin masih setia berlutut di depan kamar kakaknya. Meski kakinya sudah pegal-pegal dan mati rasa, ia tetap berlutut. Berharap itu dapat menebus kesalahannya. Menit demi menit berlalu, jam demi jam. Hyorin menyentuh kepalanya yang terasa pening itu. Mungkin karena ia belum makan siang + makan malam. Sepertinya penyakit lambungnya kambuh.

Jam berapa sekarang? Masih belum ada tanda-tanda juga Jinyoung mau membuka pintu. Hyorin menghela napasnya. Apa ia sudahi saja? Sepertinya Jinyoung benar-benar tidak keluar? Apakah ia benar-benar marah?

“Jam 10 lewat 35?” desah Hyorin. Sudah 7 jam ia duduk berlutut seperti ini. Tapi Jinyoung malah tak ada. Apa benar Jinyoung tidak ingin bertemu dengannya sampai-sampai ia berbuat begini? Hyorin menutup matanya, kenapa? Kenapa harus begini?

“Oppa….” seru Hyorin lemah. Kepalanya benar-benar pusing sekarang, bahkan untuk bergerak saja ia sudah tak sanggup. Ruangan serasa berputar.

“Oppa…aku…”

Brukk…

“Hyorin-ah!!” Jinyoung yang baru saja membuka pintu menemukan Hyorin ambruk di depannya.

“Yah!! Ireona? Hyorin-ah!” Jinyoung menepuk-nepuk pipi adiknya. Dingin. Sepertinya Hyorin kedinginan! Yah maklum saja, ia tidak berganti baju sejak tadi, dan gaun hijaunya yang agak terbuka ini tidak mampu menangkal hawa dingin malam. Jinyoung menatap wajah Hyorin yang sedikit pucat. Dielusnya pelan rambut yang menutupi wajah Hyorin. Ia menggendong gadis itu ke tempat tidurnya.

“Mian…aku…”

“Aku…hanya tidak ingin kau pergi…”

.

Dimana ini? Aku dimana? Apa yang terjadi padaku?

Kulihat anak-anak bermain dengan riangnya. Ada yang bermain kejar-kejaran, adapula yang bermain pasir seorang diri. Dimana ini? Kenapa begitu banyak anak-anak? Apa ini taman kanak-kanak?

Mataku tertuju pada seorang gadis kecil yang meringkuk memeluk lutunya di atas pasir. Menangis sepertinya. Mungkin karena gangguan anak-anak di sekitarnya. Aku ingin membantunya. Tapi suaraku bahkan tak terdengar. Aku memanggilnya berulang kali, tapi mereka bersikap seolah tidak melihatku.

“Yaah! Apa macayah mu?” teriak anak itu.

“Apa macayahmu? Dasar cadel!! Ngomong aja ga bisa!” ejek namja itu seenaknya. Gadis kecil itu menggembungkan pipinya tidak terima.

“Dacal namja jeyek! Menyebalkan!!” teriak gadis itu lagi. Ia mengadu kepada gurunya.

“Baro! Jangan begitu lagi ya! Ayo sekarang kalian temenan!” ujar ibu guru. Tunggu dulu!! Nama anak laki-laki itu Baro? Itu kan…napasku tercekat, kenapa ini? Ruangan serasa berputar-putar. Bisa kurasakan tubuhku yang gemetaran. Ada apa ini? Sesuatu menarik-narik ingatanku…

Baro?? Baro…

Tidak!! Ingatanku! Tidak!! Jangan ingatkan aku. Kumohon. Aku tak mau mengingatnya lagi!! Aku menyentuh kepalaku, memegang dengan kedua tanganku. Argh! Aaahhhhhhhhh!!!!!

Hyorin tersentak bangun, keringat dingin membanjirinya. Ada apa ini? Sudah beberapa hari ini ia terus dilanda mimpi buruk, mimpi yang sama. Yah! Mimpi tentang namja kecil bernama Baro. Siapa dia? Kenapa dia terus muncul dalam mimpinya.

”Ugh!! Mimpi menyebalkan!!” gumamnya kemudian melirik jam dinding berwarna biru itu.

”OMO!! Jam 8??? Ah!! Aku terlambat!!” Masukan 15 menit yang lalu. Dan sekarang? Itu artinya…oh sweet niblets!! ia langsung beranjak dari tempat tidurnya.

”A…ah! aw!! Kakiku!!” Hyorin menyentuh kakinya yang lebam-lebam itu.

”Wae? Kenapa kakiku memar-memar begini?”

“Oppa!! Kalau kau tak mau membuka pintu, aku akan terus duduk disini!!”

“Ah!! Maj-a *benar juga*!! Semalam aku…tapi?? Kenapa aku bisa ada di kamar? Apa aku tanpa sadar berjalan sendiri?” gumam Hyorin bingung, ia menatap sesuatu di atas meja lampunya.

“Ige? Mwoya!!?”

Kompres lututmu pakai ini. Jy.

“Oppa? Oppa yang…”

“Aih!! Hyorin baboya!! Bukan waktunya memikirkan hal itu!! ingat detensimu!!!” Hyorin langsung berlalu menuju kamar mandi. Ia menatap wajahnya di cermin, tampak ekspresi mengerikan dari wajahnya. Ditatapnya cermin itu sungguh-sungguh, Hyorin melihat sesuatu yang nampak jelas di matanya. seperti cahaya kesedihan.

.

 

“Huuuaaa!! aku telaaat!!!” seru Hyorin sambil berlari-lari menuju kelasnya. Aigoo! Lorong-lorong kelas begitu sepi! Beruntung dia dapat mengelabui satpam tadi. Saat hampir sampai di kelasnya, Hyorin jalan mengendap-ngendap bagai pencuri.

“Ah!! Untunglah! Mr. Jang belum masuk!” serunya lega. Ia lantas berjalan santai masuk.

“Jung Hyorin!! Kau terlambat!!” seru seseorang dibelakangnya. Hyorin menutup matanya. O boy!! Sepertinya keberuntungannya berhenti sampai disini. Hyorin berbalik dengan malas dan menemukan wajah Gikwang yang sudah disetting galak binti seram.

“Aigoo!! Kau lagi!! Melelahkan saja! Aku sampai bosan melihatmu!!” Gumam Gikwang seraya melirik jam tangannya. “Mwo? Terlambat 47 menit 29 detik?? Neo jinjja!!” Gikwang berkacak pinggang.

“Su..sunbae…mian…”

“Kalau minta maaf berguna, buat apa ada polisi? Hah?”

“Ne? kau tak bermaksud melaporkanku ke polisi gara-gara keterlambatanku, kan?” kaget Hyorin.

“Ya ga lah! Gadis babo!! Ikut aku!! Aku akan memberimu detensi tambahan!!”

“Detensi?” Hyorin melengos putus asa. Kenapa sih Gikwang ini hobi banget memberinya detensi? Ck!!

“A!! Mr. Jang!! Aku harus masuk sunbae!!” seru Hyorin saat melihat Mr. Jang dari kejauhan. Gikwang hanya mendecakkan lidahnya kesal. Lantas mengijinkannya masuk.

“Oke! Selamat pagi! Saya Mr. Jang akan mengajarkan tentang materi kepemimpinan! Sebelumnya ada yang tau apa itu kepemimpinan?” hening saat Mr. Jang masuk. Hyorin yang masih asik krasak krusuk akhirnya mengangkat tangannya.

“Kepemimpinan ialah suatu sikap yang dimiliki seseorang untuk memimpin dirinya sendiri maupun orang lain dalam mencapai tujuan bersama!” jawab Hyorin, membuat Gikwang yang ada di sana sempat terkagum.

Wae? Kenapa menatapku dengan pandangan kagum begitu? Kaget kalau aku ternyata sepintar ini?

“Benar sekali, ehm? Jung Hyorin??”

“Oke, teman kalian sudah menjawab. Kepemimpinan itu ialah sikap. Sikap yang seperti apa tadi sudah dijelaskan. Jadi, setiap orang itu adalah pemimpin! Bukan cuma sebagai pemimpin orang lain namun juga pemimpin bagi diri sendiri.”

“Pernahkah kalian mengalami suatu masalah dimana kalian harus memilih sesuatu diantara banyaknya pilihan. Tentu kita pasti membuat skala prioritas tanpa sadar untuk membuat pilihan sebijak mungkin itulah paradigma dari kepemimpinan!”

“Setiap orang memiliki gaya kepemimpinannya masing-masing dalam memimpin. Ada yang otoriter, demokrasi, liberal, komunis dan sebagainya.” Hyorin sibuk mencatat apa yang dikatakan Mr. Jang, begitu pula teman-temannya. Gikwang menatapnya misterius. Tanpa sadar ia terus mengagumi yeoja itu. bibirnya membentuk seulas senyum tipis.

“Aigoo!! Selesai juga!!” gumam Hyorin sambil meregangkan tubuhnya.

“Jung Hyorin-ssi!!” Gikwang tiba-tiba muncul di depan wajah Hyorin membuat yeoja itu berteriak kaget.

“Aish!! Yaa!! Kau pikir suara teriakmu itu enak didengar?”

“Kenapa kau selalu muncul seenaknya begitu sih? Menyebalkan!! Sekarang apa?” Tanya Hyorin kesal.

“Loh lupa ya? Detensimu untuk tadi pagi!!”

“Mwo?? Aku kan tidak terlambat dalam materi!!”

“Teknisnya! Tapi kau terlambat 45 menit dari waktu yang ditentukan!! Kau pikir aku akan mengistimewakanmu karena itu? Ttarawa *ikut aku*!!” Gikwang menarik tangan Hyorin sampai gadis itu terseret.

“Aish!! Sunbae!! Lepas!! Sakit!!”

“Aku bisa jalan sendiri!! Lepas!!” Hyorin melotot ke arah Gikwang yang bertampang sok innocent itu. Tepat saat itu dengan segala kebencian yang ada di dadanya, Mi Hoon menatap marah pada Hyorin. Gara-gara dia!! Yah!! Gara-gara Hyorin, ia harus mendapat detensi seperti ini. Ia tidak bisa ikut selama kegiatan ospek berlangsung. Mi Hoon berdesis kesal saat Hyorin lewat di depannya. Lantas ia maju dan menjegal langkah Hyorin.

Brakkk…Hyorin terjatuh dengan sempurna namun Gikwang keburu menangkapnya, jadi Gikwang yang menjadi bantal saat Hyorin terjatuh. Lagi, Hyorin menindih tubuhnya.

“Ah mian sunbae…..aku ga sengaja!!” ia langsung berdiri.

“Aduh sakit, lagian kamu kenapa pake jatuh sih? Menyusahkan ku saja!!” erang Gikwang.

“Apa sih? cerewet!! aku jatuh ya biarkan saja jatuh, tidak usah kau tolong juga ga masalah!!” balas Hyorin kesal.

“Kau ini…sudah ditolong bukannya berterima kasih malah marah-marah, kau sadar ga sikapmu itu sangat menyebalkan?”

“Lebih menyebalkan mana dengan sikap sok mu itu sunbae? Aku kan sudah minta maaf, tapi kau? Malah marah-marah, aku kan jadi sebal!!”

“Itu yang kau sebut minta maaf? Yaa!! Kau tidak pernah belajar tata krama? Lihat nih!! Gara-gara kamu jadi tergores kan!!”

”Mwora? Luka kecil begitu saja kau permasalahkan!! Dijilat juga sembuh!!”

”Kalau gitu jilat!!”

”MWO?? Neo michyeoseo?? Yah!! Kau kan punya lidah! Jilat saja lukamu sendiri!! Baboya!!” Hyorin lantas berjalan mendahului Gikwang.

Argh!! Lututku perih!!

”Jung Hyorin-ssi!!” panggil Gikwang galak saat mereka berada di ruangan itu. Hyorin menahan napasnya sebentar. Apa sih? Ga usah pasang tampang begitu juga bisa kan? Dia pikir ganteng apa? Ieuh!

“Hukumanmu menulis 800 kalimat kemarin mana?” Tanya Gikwang dengan nada suara manis.

Yak ampun!!! Aku lupa!! Aku benar-benar lupa hukuman menulis itu!! Ottokhae???

“Wae? Ga buat ya?” seketika senyum penuh kemenangan merekah di bibir Gikwang membuat Hyorin ingin sekali menampar wajah itu saking kesalnya.

“Karena kau lupa mengerjakan hukumanmu itu, kau kuberi hukuman baru, yaitu…” Gikwang tersenyum lagi. Tersenyum licik lebih tepatnya membuat Hyorin dongkol melihatnya.

“Lompat kodok keliling lapangan basket tiga puluh putaran!!”

“MWO???” pekik Hyorin kaget.

“Mulai kemarin aku sudah ga makan siang, sampai makan malam pun ga!! Sarapan juga ga sempat! Dan sekarang kau suruh aku melompat tiga puluh putaran? Aku bisa mati!!” protes Hyorin putus asa.

“Tenang saja! Kalau kau mati, aku akan setia mengunjungi pemakamanmu!” jawab Gikwang asal.

“Tapi…aku kan pakai rok begini!!” Hyorin benar-benar ingin menangis dihukum seperti itu. Namja ini benar-benar…SADIS!!

“Salahmu sendiri!! Sudah tau setiap harinya bakal dihukum bukannya bawa celana olahraga!” Gikwang mencari sesuatu di lokernya dan melempar celana olahraga miliknya itu ke wajah Hyorin.

“Tapi…hukuman fisik itu kan dilarang!!” Hyorin menatap celana itu dengan pandangan jijik. Gikwang mengacuhkannya.

“Tiga puluh putaran? Gila aja! Engsel kakiku pasti copot deh!!” keluh Hyorin lagi.

“Cepat, LAKUKAN!!!” seru Gikwang di telinga Hyorin. Hyorin mengeraskan rahangnya, ia benar-benar tidak punya pilihan lain sekarang.

“Kata appa, tidak boleh menyumpahi orang yang lebih tua daripada kita. Tapi, bagaimana aku tidak bersumpah kalau dia memperlakukanku seperti ini?” desis Hyorin kesal. Ugh!! Dasar devil servant!! Mana kakiku sakit banget lagi!!

Hyorin baru melompat sebanyak sebelas putaran dan ia sudah merasa tak sanggup lagi. Gikwang yang tampak di sudut lapangan lantas menghampirinya.

“Cengeng banget sih!” ejeknya.

“Bisa berdiri ga?” Tanya Gikwang khawatir sambil mengulurkan tangannya. Hyorin menghapus air matanya dan berusaha untuk menahan tawanya.

“Masih ada sembilan belas putaran lagi!” sahutnya datar. Ia mulai melompat lagi.

“Udah sekarat begitu! Hukumanmu, kuanggap selesai!” ujar Gikwang sambil menatapnya denga sinar mata yang sangat misterius.

.

 

[Now playing: Hannah Montana – This is the life]

“Hyoriiiiinnnn!!! Aku ke sana ya!! Tempat komik-komik!” seru Suzy sambil beranjak menuju sudut sebelah sana.

“Ne!” sahut Hyorin singkat. Ia lantas mengitari tempat buku-buku photoshop untuk mengembangkan imajinasinya.Merasa bosan, ia berjalan-jalan gaje mengelilingi toko buku. Langkahnya terhenti dihadapan seorang namja yang sangat ia kenal.

“Taemin? Lee Taemin!!?”

“Eh? Hyo…Hyorin??”

“Taemin!! Mana Min Tae?” Tanya Hyorin seraya mencari sekeliling sosok sahabatnya itu.

“Err..itu…” Taemin menggaruk-garukkan kepalanya salting.

“Wae? Kau bersamanya, kan?” Tanya Hyorin bingung.

“Soal itu….”

“Oppa!! Bukunya udah dapat!!” seru seorang gadis sembari merangkul lengan Taemin. Hyorin mengerutkan alisnya. Bukankah yeoja itu…? Tapi…kenapa? Taemin?

“Su…Sulli!!?”

“Yaah! Lee Taemin!! Apa maksudnya ini? Kau…dengan Sulli?” Hyorin mengeraskan rahangya menahan kesabaran. Apa Taemin berselingkuh? Aniy!! Itu mustahil!! Selama ini dia baik-baik saja dengan Min Tae, tapi…kenapa?

“Taemin! Lagi-lagi dia sibuk! Dia bilang tidak bisa menjemputku hari ini karena ada latihan gabungan!”

Omona!! Apa ini? Jangan-jangan selama ini? Ga!! Ga!! Itu mustahil Jung Hyorin! Kau buang kemana otak pintarmu? Seorang Lee Taemin tak mungkin begitu…

“Hyorin! Dengar, ini ga seperti yang kamu pikir!!”

“Kalau ini ga seperti yang kupikir, lantas apa ini?”

“Oppa!! Waeyo? Kenapa kau…dengan Hyorin sunbae?!” Tanya Sulli polos. Hyorin menggigit bibirnya. Bisa-bisanya Taemin…! Oke, sekarang emosi Hyorin sudah di luar kendali.

“Hyorin, kumohon dengarkan aku….!” Pinta Taemin.

“Taemin!! Kau mengkhianati Min Tae dengan anak ingusan begini?? Neo jinjja!!!” kekesalan Hyorin menjadi-jadi. Baginya selama ini, pasangan Min Taemin adalah pasangan terbaik sepanjang sejarah. Tapi nyatanya? Kenapa Taemin tega? Kalau Min Tae tau -Hyorin menarik napas dalam- dia pasti akan menggorok leher author (?) *makanya, sebelum hal itu terjadi…author kabur dulu ya! Bye!!*

“Hyorin!!” Taemin menarik tangan Hyorin.

“Dengarkan aku!!” bentak Taemin. Hyorin mengibaskan tangannya kesal.

“Apa? Apa yang mau kau jelaskan hah?? Aku…aku benar-benar ga nyangka! Kau!! Lee Taemin! Beraninya kau mempermainkan sahabatku!!”

“Tidak seperti itu!! Aku tidak mempermainkan Min Tae!” jelas Taemin sebisa mungkin, namun Hyorin tetap keras kepala dan tak mau mendengarnya.

“Aish! Sudah 3 kali selama sebulan ini dia begitu! Kenapa sih? Menyebalkan!!”

“Lalu apa? Apa yang ingin kau jelaskan? Kau mau bilang kalau anak ini bukan selingkuhan mu? Kalau kau hanya kebetulan bertemu dengannya, kau pikir aku percaya alasan itu? kalau Min Tae tau…!!”

“Dengar! Aku tidak berselingkuh dengan siapapu! Sulli hanya…dia…! Dia minta tolong padaku untuk mencari buku!”

“Cukup! Jangan jelaskan padaku, Lee Taemin! Kau jelaskan saja semuanya pada Min Tae!” sahut Hyorin yang akhirnya pergi dari sana dengan emosi yang masih meluap-luap.

.

“Hmm…mana ya?”

“Ah itu dia!! Kok tinggal satu sih? Ah biarlah!! Berarti hari ini hari keberuntunganku!!” seru Suzy senang karena menemukan komik favoritnya, Fairy tail.

“Aish!! Tinggi banget!! Bagaimana aku bisa mengambilnya!! Aduh lele nya ini juga seenaknya naroh komik di tempat yang ga bisa di jangkau!! Aish!!” Suzy mencoba meraih komik yang terletak di rak buku paling atas itu. Namun ia terus gagal.

“Aish!! Menyebalkan!!”

“Kau mau ambil ini?” Tanya seorang namja padanya. Suzy mendongak dan hanya terdiam, terpana lebih tepatnya. Wajah namja itu, alis matanya, hidungnya, bibirnya…oh boy! Demi apapun yang ada di surga, belum pernah ditemukannya namja setampan ini. Dia benar-benar tampan! Pandangan mereka berbenturan!

Deg! Deg! Ada yang aneh pada Suzy saat mata mereka bertemu pandang. Rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan terhadap Gikwang sekalipun. Entah apa gerangan yang tengah menimpanya.

Suzy menepuk-nepuk dadanya pelan dan tersenyum geli pada dirinya sendiri yang tiba-tiba salah tingkah di depan seorang namja yang baru ia temui. Tapi…Suzy menggigit bibirnya.

Kenapa jantungku berdebar-debar begini? Oke, jantungku berdebar menandakan aku masih hidup, tapi kenapa begitu cepat sehingga membuatku sesak? Aneh, dalam sekejap saja dia sudah membuat perubahan aneh pada jantungku. Apakah ini bisa dijelaskan secara ilmiah?

“Kau suka Fairy tail juga?” Tanya namja itu membuat Suzy tersadar akan keterpanaannya. Apa katanya barusan? Suzy yang tidak mengerti hanya bisa mengangguk saja.

“Jinjjayeo? Aku juga suka, terlebih ini volume ke 8! Yang terbaru! Tapi sayang sekali tinggal satu!”

“…”

“Aku sudah menjadi penggemar komik ini sejak diterbitin tahun 2006 lalu!!”

“…”

“Kau kenapa? Kau baik-baik saja kan?” Tanya namja itu lagi saat dilihatnya Suzy hanya diam mematung. Suzy mengerjap beberapa kali.

“Ah ne…!” Suzy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum salting. Laki-laki itu hanya tersenyum geli melihat tingkah Suzy.

“Ah, kalau gitu ini untukmu saja! Aku baca di internet saja!” ujar namja itu lembut.

“Eh? Ga usah! Kau saja…lagian aku punya kasetnya kok!”

“Jeongmal? Wah gomawo! Btw, ternyata kau memang suka komik ini ya! Siapa yang kau suka? Lucy? Grey? Natsu? Atau Erza?”

“Grey donk! Siapa lagi? Dia kan keren! Apalagi kekuatan sihir es nya. Dan meski dia ga pake baju tapi itulah yang membuatya terlihat keren! Kau sendiri suka siapa?”

“Aku suka Erza, kekuatan pedangnya hebat! Ehm, aku juga suka Happy!!” ujar namja itu dengan mata berbinar.

“Mwo? Happy? Binatang peliharaan Natsu itu??”

“Ne!! Aku suka, dia lucu sekali!!”

“Ah gitu ya!! Aku juga suka! Lucu!”

“Ah ngomong-ngomong, siapa namamu?” tanya namja itu.

“Suzy…! Bae Suzy!! Kau?”

“Suzy??” ulang namja itu terkejut.

“Ne, wae?” Tanya Suzy bingung. Apa namja ini mengenalnya? Atau? Ah!! Tentu saja! Mungkin namja ini pernah mendengar namanya, secara Suzy kan anak seorang direktur perusahaan yang sangat maju.

“Ah…aniy…mmm, boleh pinjam Hpmu sebentar Suzy-ssi?”

“Hp? Oh, ne!!” tanpa berpikir Suzy lantas menyerahkan Hpnya. Namja itu menekan sebuah nomor dan tak lama berselang terdengar suara ring tone Hp yang berasal dari kantong celana namja berjaket cokelat itu.

“Itu nomorku!! Kalau gitu aku duluan ya, senang bertemu denganmu Suzy-ssi!!” namja itu membungkuk hormat kemudian pergi.

Ah!! Aku tidak tau namanya!! Bagaimana caranya kami bisa bertemu lagi?

“Ne…tu…tunggu!!” seru Suzy, namja itu berbalik.

“Ehm…nomor tadi…harus kusimpan dengan nama apa?”

“Ah!! Baro! Itu namaku!!” ujarnya sambil berlalu.

Baro? Apakah aku bisa bertemu lagi dengannya? Aneh sekali aku ini! Masa baru pertama kali melihat seseorang sudah seperti ini? Selama ini, aku memang banyak dekat dengan teman-temanku yang laki-laki. Namun tak satupun diantara mereka yang mampu menarik perhatianku. Singkatnya, tak ada yang membuatku seperti ini hanya dengan sekali tatapan. Bahkan meski senyum Gikwang oppa mampu menghipnotisku, namun namja ini…Baro…

“Omona!! Wajahku panas!! Ada apa ini??” Suzy lantas panic setelah menyentuh wajahnya. Seseorang menepuk pundak Suzy membuat yeoja itu terlonjak kaget.

“Wae? Kau pikir aku hantu?” Tanya Hyorin ketus. Jujur saja, ia jadi bad mood gara-gara Lee Taemin tadi. Hhh, entah apa yang bakal terjadi kalau Min Tae tau. Haruskah ia memberitaunya? Aniya!! Ini urusan mereka, ia tak boleh ikut campur! Tapi…semenjak ia tau, entah apa yang bakal Min Tae katakan padanya kalau ia ia tau bahwa Hyorin tau lebih dulu dan tidak memberitaunya sebelumnya. Sahabat macam apa itu?

“Aish!! Mulutku gatal untuk memberitaukan kelakuan bejat Taemin!! Tapi….ini urusan mereka Jung Hyorin!! Kau jangan ikut campur!!” batin Hyorin.

“Hyorin!! Aku tadi ketemu cowo ganteng loh!! Omo!! Dia ganteng banget!! Kayak malaikat!!” seru Suzy, namun Hyorin mengacuhkannya. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Namanya Baro! Aneh kan? Aku udah dapat nomor Hpnya loh!!” senang Suzy.

“Baro?” Tanya Hyorin. Suzy mengangguk. Baro…? Rasanya nama itu?

“Aneh banget namanya! Jangan-jangan orangnya juga?”

“Aish!! Ga! tau!! Orangnya ganteng abis!! Keren! Lebih keren daripada Channie mu itu!! alisnya tebel, kulitnya putih! Ah pokoknya ganteng banget deh!! Dan…dia juga suka fairy tail!! Sama kayak aku! Sepertinya kami jodoh deh!!” Hyorin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Yah!! Bukannya kau suka dengan Gikwang sunbae? Lagian…kau kan akan dijodohkan!!”

“Aish!! Aku sudah menyatakan perasaanku pada oppa!! Tapi…oppa hanya menyukaimu, Hyorin!!”

“MWORAGO??” kaget Hyorin. Menyukaiku? It doesn’t make any sense!! It can’t be…

“Ups!! Seharusnya…kau tidak boleh tau!!” Suzy menutup mulutnya.

Apa???? Gikwang sunbae menyukaiku? Jangan bercanda!! It can’t be!! Mana mungkin orang itu menyukaiku, kan? Lagian, atas dasar apa dia menyukaiku? Oke, aku memang caantik dan berkharisma! Tapi…

“Joahae…”

Ini…yang waktu itu…apa artinya ini semua? Jangan-jangan…

“Andwae! Andwae!! Ini…mustahil!! Ige mwoya!!”

GA!! Ga mungkin dia menyukaimu Hyorin!! Dia itu DEVIL!! Kau tidak ingat betapa kejamnya dia saat menghukummu kemarin??

.

“Aku menyukai Hyorin!” singkat Gong Chan. Air mata Rin kontan meleleh.

“Apa? Apa? Channie-ah! Kau bercanda, kan?” Rin berusaha menyangkalnya.

“Aku serius!”

“Ga! Aku ga percaya! Itu ga mungkin! Ga!” pinta Rin, Gong Chan hanya menggeleng.

“Aku menyukainya! Aku sudah jadian dengannya!”

“Rin! Tenanglah! Mian…aku tak bisa menerima perasaanmu!” sahut Gong Chan lembut, Rin menggeleng keras kepala.

“Kenapa? Kenapa harus Hyorin? Bukankah selama ini kita cocok? Even last summer.”

“People changed, Rin. You should too! Aku bukanlah aku yang dulu, mengertilah!”

“Ga!!”

“Rin…mian!!” Gong Chan terpekur.

“Apa… Hyorin juga menyukaimu?”

“Entahlah…”

.

“Hyorin!! Kita kabur yuk!!” Suzy yang tiba-tiba bertandang ke kelas Hyorin membuat yeoja itu terkejut. Hyorin lantas melepas headphonenya.

“Mwoya? Kabur? Kau gila? Andwae! Nanti aku bisa dihukum lagi!” tolak Hyorin.

“Aish!! Yasudah!!” kesal Suzy. Ia lantas berlari keluar. Appanya benar-benar menyebalkan!! Tadi pagi, ia kembali dipanggil ke ruangan ayahnya.

“MWO?? HARI INI??” pekik Suzy senyaring mungkin.

“Ne, pulang kuliah nanti kau akan segera dijodohkan dengan Cha Sun Woo!”

“ANDWAE!!!” sergah Suzy yang langsung berlari keluar.

“Aish!! Menyebalkan!! Argh!!” dumel Suzy kesal. Ia lantas pergi keluar kampusnya menyusuri jalanan seorang diri.

Aku lapar…

Suzy berhenti di sebuah café, dan tanpa berpikir panjang lagi ia masuk ke dalamnya. D.Lite café.

.

“Jinyoung-ssi, tumben kau datang siang?”

“Ah! Sajjangnim, aku tidak ada pelajaran di kelas! Makanya datangnya siang!”

“Ah, geurae!! Kalau begitu gantilah bajumu!” Jinyoung lantas menuju kamar ganti. Begitu ia keluar ia sudah disuruh melayani pelanggan.

“Anda ingin memesan apa?” Tanya Jinyoung ramah pada seorang yeoja.

“KAU????” seru mereka berdua kaget.

“Yah mau apa kau? Apa yang kau lakukan disini?” Suzy menyipitkan matanya.

“Kau tidak lihat? Aku sedang bekerja!! Kau sendiri? Ah! Jangan-jangan kau mengikutiku?” tuduh Jinyoung.

“Mwo? Menjijikan! Buat apa aku mengikutimu!! Aku kesini untuk makan!!”

“Kau sendirian? Mana bodyguardmu itu?” Tanya Jinyoung basabasi.

“Aku kabur tau!! Kalau bodyguardku ikut, itu namanya bukan kabur!!”

“Aish!! I yeoja!! Suka sekali kabur!!”

“Aku kabur dari perjodohan tau! Appaku mau menjodohkanku sepulang kuliah ini!! Aku mana mau!” kesal Suzy berapi-api.

“Stop!! Aku ga mau dengar! Aku ga tertarik dengan kehidupanmu!!” sergah Jinyoung. Suzy hanya mencibir kesal.

“Ngomong-ngomong, kau tidak kuliah? AH! Kau bolos ya?” tebak Suzy.

“Sembarangan!! Aku ini ga perlu kuliah juga ga masalah! Karena pada dasarnya aku sudah pintar!!”

“Pfft!! Apaan tuh! Dasar sombong!”

“Pesananmu?”

“Hm, salad buahnya satu! Pasta nya dua, sama ice coffee satu!!”

“Tunggu sebentar!” Jinyoung lantas masuk dan membuatkan pesanan Suzy. Yeoja itu!! Kecil-kecil makannya banyak juga!! Dasar!!

.

“Semuanya 200 ribu won!!”

“Ah? Ne!!” Suzy lantas memberikan ATM cardnya. Si kasir mengernyitkan keningnya.

“Wae geurae?” Tanya Suzy.

“Joseonghamnida, credit card anda tidak bisa di pakai! Sepertinya sudah di blokir!”

“Mwo?? Ehm, kalau begitu pakai yang ini saja!!” Suzy menyerahkan kartu kreditnya yang lain, namun nihil semua kartu kreditnya sudah dicoba tapi tetap tak bisa. Semuanya telah terblokir.

“Aish!! Apa-apaan ini!! Ini pasti ulah appa!! Orang tua itu!!” kesal Suzy berapi-api.

“Nan ottokhae?? Kalau aku menelpon oppa! Dia pasti akan membawaku paksa! Tapi…!”

“Agassi *nona* semuanya 200 ribu! Bagaimana anda akan membayarnya?” tanya si kasir.

“Ne, sebentar…”

“Aish bagaimana ini?” gumam Suzy.

“Kalau aku pulang dulu bagaimana? Aku akan mengambil uang, karena aku tak bawa uang tunai!”

“Agassi, anda harus membayarnya sekarang! Kalau tidak saya akan memanggil keamanan!”

“Ne…mian…”

“Jinyoung-ssi, tolong antarkan pesanan ke meja nomor 5!” Suzy menatap Jinyoung. Tiba-tiba saja ide cemerlang melintas di otaknya.

“Yeogie *permisi*…bagaimana kalau namjachinguku saja yang membayarnya!!” ujar Suzy sembari menunjuk Jinyoung.

“Namjachingu?” Tanya si kasir memandang Jinyoung bingung. Sejak kapan Jinyoung punya pacar? bukankah selama ini dia selalu bersama yeodongsaengnya?

“Geurom!! Naeui namjachingu!!”

“Jagiya!!” seru Suzy sambil melambai ke arah Jinyoung yang menatapnya bingung kemudian mengacuhkannya. Mwoya!!

“Omo! Dia pasti malu! Sebentar ya!! Jagi!!!” Suzy lantas mengejar Jinyoung.

“JAGI?” Tanya Jinyoung sinis.

“Eh..mian…tolong bantu aku!! Jebal! Appaku memblokir semua kartu kreditku!! Aku tidak bawa uang tunai…”

“Geuraeso *lalu*?”

“Geuraeso, ehm!! Pinjamkan aku uang!!” seru Suzy sambil menengadahkan kedua tangannya.

“Mworago?? Yah!! Jookgoshipo *kau mau mati*??” Tanya Jinyoung sambil berkacak pinggang dengan angkuhnya.

“Nae saeng gakke *kupikir begitu* jebal!! Jebal!!”

“Andwae! Andwae! ANDWAE!! Aish!! Memangnya aku siapamu, hah? Neo jinjja!!”

“Ayolah Jinyoung-ssi!” pinta Suzy lagi.

“Minta bayarkan sama bodyguardmu sana!”

“Aniya!! Mana bisa! Kalau aku meneleponnya, dia pasti akan membawaku pulang!! Jebal!! Hanya kamu yang bisa kuharapkan!!”

“Omo!! Ottokhaeneunde *apa yng harus kulakukan*? Seorang nona kaya sepertimu, tidak membawa uang saat makan diluar? Ckckck!!” lagi-lagi Jinyoung menunjukkan wajah sinisnya.

“Aigoo! Kan sudah kubilang semua kartu kreditku di blokir appa!! Makanya….jebal…”

“Wae? Wae? Wae? Naega wae? Yah!! Siapa kau? Kenapa mesti aku?”

“Jebal…!!” pinta Suzy dengan wajah memelas yang dibuat-buat. Ia bahkan sampai menitikkan air matanya demi memperkuat aktingnya.

“Yaa! Kau bahkan bukan orang yang ku kenal!! Aniy! Kau pikir aku temanmu?!” kesal Jinyoung.

“Aniya…kau kan namjachinguku!!”

“NAMJACHINGU???” Jinyoung melotot membuat gadis itu mulai ketakutan.

“Yah!! Sekali ini saja! Aku pasti akan menggantinya berkali lipat!!”

“Cih! Sial! Hutang budi ke aku itu mahal loh!!” Jinyoung lantas berjalan menuju counter kasir dan membayar pesanan Suzy.

“Arraseo!!” Suzy tersenyum, meskipun galak dan bermulut tajam…Jinyoung ternyata baik juga!

.

Suzy duduk dengan patuh di ruang tamu. Ia benar-benar tak percaya! Padahal ia sudah menyusun rencana dengan sebaik-baiknya, namun ia selalu saja ketinggalan langkah dalam menghadapi appanya itu. Dan kini ia harus menanggung semua yang telah ia perbuat. Mimpi buruknya selama ini akan terjadi dalam beberapa menit lagi! Suzy menahan napasnya, seharusnya ia bisa melewati hal ini dengan mudah…tapi…kenapa bibirnya kelu sekarang?

“Seperti yang kita tau, hari ini anak saya Bae Suzy akan dijodohkan dengan putra keluarga Cha, Cha Sun Woo!”

“Baik, masuklah Sun Woo!” seru Mr. Cha. Perlahan tapi pasti seorang namja masuk. Dan..

“OH BOY!!!! KAU???” seru Suzy nyaring yang langsung menjadi pusat tontonan.

“Annyeong Suzy-ssi! Kita bertemu lagi!” senang Baro sambil membungkukkan badannya. Suzy menatapnya tak percaya…apa ini sebuah kebetulan? Atau…TAKDIR??

.

 

“HYORIIIINNNNN!!!!!” seru Suzy, Hyorin menjauhkan telinganya dari Hpnya. Masih teramat sayang akan pendengarannya.

“MWO? MWO? MWO??” balas Hyorin kesal.

“Kau tau tidak?”

“Aniy!! Aku tidak tau!!”

“Ternyata Baro, namja yang aku temui di took buku itu adalah tunanganku!! Cha Sun Woo!!! Ah! I can’t believe it!! Is it real? Is it dream?”

“Mwo? Maksudmu?”

“Baro!! Adakan namja yang waktu itu kuceritakan padamu!! Ternyata dia adalah Cha Sun Woo!!”

“Kenapa namanya Baro?”

“Tau deh! Katanya sih panggilannya dari lahir! Eh, gimana kalau kita ketemu? Aku ingin memperkenalkanmu dengannya! Jangan lupa bawa pacarmu yang ganteng itu ya!”

“Gong Channie? Aniya…oppa bakal marah kalau aku bersamanya!”

“Wae? Oppamu itu sensi sekali! Geurom, aku akan bawa Gikwang oppa saja ya! Jangan lupa hari minggu!!”

“MWO? Gikwang sunbae? Ya! Tunggu…! Cih! Sial!!” Hyorin menutup flip Hpnya dengan kesal. Kekesalannya pada Gikwang masih belum berakhir!! Dan ia harus bertemu dengan namja itu lagi? ANDWAE!! Bikin sial saja!!

.

 

[Now playing: M2M – Don’t mess with my love]

“Sebentar lagi dia akan datang!” seru Suzy senang, dia membalas pesan di handphonenya dengan kecepatan super. Kini mereka berada di salah satu restoran yang lumayan terkenal, Pledis restaurant.

“Nugu? Sun Woo-ssi tunanganmu itu?” tanya Hyorin, Suzy menggerak-gerakkan alisnya.

“Ne…who else?” Hyorin mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau tidak makan, Hyorin-ah?” Tanya Gikwang.

“Geumanhae *stop it*! Jangan sok akrab begitu, sunbae!!” ketus Hyorin. Ia memandang berkeliling restoran dengan kesal.

Kenapa namja bernama Sun Woo itu lama sekali sih datangnya? Lagipula seperti apa sih orangnya? Kenapa Suzy begitu ingin bertemu aku dengannya? lagian…apa-apaan sih tatapan Gikwang sunbae ini!!! benar-benar menyebalkan!!

Tunggu dulu!!! Pandangan mata Hyorin terhenti pada sosok yang sangat dikenalnya. Itu kan? Bukankah dia?

“Gong…Chan?” bisiknya pelan.

“Hmm? Nugu?” Tanya Suzy. Hyorin menggeleng, matanya panas. Ah, meski ia tau ia tidak punya perasaan lebih pada namja itu, tapi…dia adalah pacarnya sekarang. Bayangkan bagaimana sakitnya jika pacarmu merangkul gadis lain di depanmu? Meskipun kau tak punya perasaan suka padanya, tapi tetap saja rasa sakit hatinya tak tertahankan. Mungkin lebih ke perasaan marah dan kecewa.

Tess…

Tanpa disadarinya, ai rmatanya menetes perlahan. Buliran bening nan hangat itu mengalir dipipinya. Ia tak sanggup menguasai dirinya sendiri. Ia berdiri perlahan dan menghampiri namja yang membuat hatinya serasa teriris.

“Hyorin, kau mau kemana?” Tanya Suzy sembari mengejarnya.

“Hyorin!! Bentar lagi Baro datang nih!! Kau mau kemana?”

”Gong Chan…” panggil Hyorin lemah.

”Terima kasih untuk segalanya…” lirihnya.

”Hyo…Hyorin?” kaget Gong Chan.

”Hyorin! Kau salah paham, ini tidak seperti…”

”Cukup! Aku gak mau dengar apapun!! Semuanya udah jelas kan?” Hyorin berusaha tegar. Gong Chan menarik tangan Hyorin mencoba menjelaskan segalanya namun Hyorin mengibaskannya. Ia benar-benar marah sekarang.

“Jangan sentuh aku!” bentak Hyorin tajam. Sontak, mereka jadi bahan tontonan di restoran itu.

“Maaf, aku bisa jelaskan ini semua…”

“Apa? Apa yang mau jelaskan? Bahwa kau selingkuh di belakangku? Dengan yeoja ini?” Hyorin mendengus kesal saat menatap Park Ri Rin dengan pandangan jijiknya.

“Kau berjanji padaku…tapi apa? Kau mengkhianatiku!! Itu yang mau kau jelaskan?” bentaknya lagi.

“Hyorin, please dengarkan aku dulu…” Gong Chan memegang bahu Hyorin. Memohon.

Plaakk…

Tamparan keras dilayangkan Hyorin ke wajah Gong Chan saudara-saudara!! Rin berteriak, Gikwang langsung menahan tubuh Hyorin dan merangkulnya. Namun Hyorin tetap ga merasa puas. Gong Chan menatap Hyorin kaget ga menyangka Hyorin bakal memukulnya.

“Jung Hyorin!” bentak Rin berapi-api. Ia menyiram Hyorin dengan segelas soda. Tepat di wajah Hyorin.

“Yaaa!!! Apa-apaan kau?” marah Suzy. Air mata Hyorin jatuh untuk kesekian kalinya, ia merasa begitu hina direndahkan semacam itu. Suzy lantas maju dan hendak menampar Rin, namun gerakannya di tahan oleh Gikwang.

“Oppa!! Lepas! Aku akan membuat perhitungan dengannya!!” ronta Suzy. Sementara Hyorin masih tertunduk menahan tangis dan rasa malunya. Bayangkan saja jika kau berada di posisi Hyorin. Dikhianati dan dipermalukan seperti itu, siapa yang tidak sakit hati?

“Suzy-ssi, itu bukan urusanmu!” tegas Gikwang menatap Suzy tajam sembari menahan tubuhnya. Meski Gikwang tidak tampak kekar *ditabok ACEs*, namun ternyata dia kuat sekali. Suzy pun tak bisa berontak karena cengkraman Gikwang di kedua lengannya.

“Yaa!! Memang itu bukan urusanku! Tapi dia SAHABAT ku!” tandas Suzy berang dengan mata berapi-api. Sahabat?? Hyorin menyentuh dadanya, kata itu…meski sangat sederhana, namun ia bahagia mendengarnya.

“Gong Chan Shik!! Kau pikir kau siapa berani membuatnya menangis seperti itu? Memang apa kurangnya dia? Bukankah selama ini kalian baik-baik aja? Tapi kenapa?” Suzy mencengkeram kerah baju Gong Chan, namun dengan mudahnya Gong Chan melepas cengkraman itu.

“Itu bukan urusanmu!” sahut Gong Chan dingin, ia mendorong jatuh Suzy. Hyorin memalingkan wajahnya, tak tega melihat Suzy yang diperlakukan seperti itu karenanya. Hyorin merangsek maju. Ia menginjak kaki Gong Chan dan meninju wajahnya sampai ia benar-benar terpental menghancurkan piring dan gelas di atas meja.

Sejurus kemudian, Hyorin melihat gerakan Park Ri Rin yang sepertinya ingin membalasnya. Hyorin tak bisa menghindar, ia hanya bisa menutup matanya.

Bruakkk…!!

“Hyorin-ah, gwaenchana?” Hyorin melihat sosok penyelamatnya, seorang namja yang berdiri dengan berani membelakanginya menahan balasan dari Rin.

Dia melindungiku!! Aku tidak bisa mempercayai mataku. Tapi…ini nyata? Gikwang sunbae yang itu!! melindungiku!! Kenapa? Kenapa? kenapa dia melindungiku?

“Kamu? Yaa! Apa maumu?” bisik Hyorin tercekat, Gikwang berpaling. Sorot matanya tampak khawatir.

“Jangan sok pahlawan seperti itu dong! Dasar payah! Aku bisa membelaku diriku sendiri!” cecar Hyorin tanpa sadar. Ia langsung pergi dari sana. Air matanya jatuh berderai.

“Hyorin-ah!!” seru Suzy yang mengejarnya, namun Hyorin mengabaikannya dan terus berlari seakan rasa sakit itu akan menghilang saja jika ia berlari.

“Suzy-ssi? Ehm…ada apa ini? Maaf aku baru datang!” panggil seseorang, Suzy terdiam. Itu Sun Woo!! Gimana nih?

“Biar aku yang mengejarnya, Suzy-ssi! Kau temani saja tunanganmu!” seru Gikwang yang lantas menyusul Hyorin.

“Ada apa ini?” Tanya Sun Woo bingung menatap restoran yang berantakan –entah kemana pemilik restorannya-

“Err, ceritanya panjang Sun Woo-ssi…kkaja! Kita kejar mereka!” baru saja Suzy mau melangkahkan kakinya, ia dihadang beberapa orang.

“Maaf agassi, anda harus membayar semua kerusakan!”

“Mworago?? Naega wae??” kaget Suzy.

“Ne…totalnya sekitar ***** won!”

“MWO????? Yaa! Michyeoseo?? Ige mwoya!!!”

“Kalau anda tidak membayarnya, akan kami laporkan ke pihak yang berwajib!”

“Sudah, biar aku saja!!” Sun Woo lantas menangani masalah ganti rugi.

Bisa kurasakan tetesan air mata yang menjatuhi pipiku. Aku menangis, kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku mengatakan hal itu padanya. Aku menangis bukan karena sakit hati oleh tindakan Gong Chan barusan. Tapi…karena kata-kata kasarku pada Gikwang sunbae. Bisa kulihat wajah terlukanya saat aku mengatakan hal itu.

Kesedihanku memuncak, kepalaku benar-benar pusing. Bahkan napaskupun sesak. Apa kata-kataku terlalu kejam padanya? Ya Tuhan! Padahal aku tau dia bermaksud baik, tapi… Ah! aku benar-benar ga sanggup lagi.

“Mianhae sunbae…” gumam Hyorin pelan. Ia bersandar di salah satu dinding kemudin meringkuk menahan tangisnya.

“Hyorin-ah!!” seru Gikwang yang mengejar Hyorin.

“Gwaenchana?” Tanya Gikwang pelan. Ia mendongakkan wajah Hyorin.

“Uljimarago!” sahut Gikwang seraya menghapus air mata Hyorin. Hyorin menatapnya tak percaya. Kenapa Gikwang melakukan ini padanya? Kenapa?

“Aish!! Aku sudah menyatakan perasaanku pada oppa!! Tapi…oppa hanya menyukaimu, Hyorin!!”

“Joahae…”

Mendadak kaki Hyorin melemas, namun Gikwang menahan tubuhnya.

“Hyorin gwaenchanikka?” ekspresi khawatir Gikwang itu terlihat samar-samar di mata Hyorin yang mulai sembap oleh air mata. Gikwang memeluk Hyorin erat, dan Hyorin menangis sejadi-jadinya daam dekapan yang semakin erat itu.

“Uljima…uljima!! Lupakan saja dia…ada aku disini…” bisik Gikwang.

“Mainhae…” desah Hyorin berulang kali. Gikwang melepas pelukannya masih menatap wajah Hyorin yang basah.

“Kau bau soda!” Gikwang mengernyitkan hidungnya, ekspresinya lucu sekali sehingga membuat Hyorin tertawa.

“Tapi…aku suka…” Gikwang tersenyum tipis. Hyorin menatapnya tidak percaya. Apa katanya barusan?? Dia bilang? SUKA???

“Aku suka bau soda! Manis!! Jangan berpikir yang aneh-aneh donk!!” jitak Gikwang.

“Appo!!” Hyorin mengelus kepalanya yang sakit.

“Aigoo, aigoo!! Ibwa *lihat deh*!! Mereka itu! dasar anak muda jaman sekarang! Sudah tau tempat umum malah bermesraan begitu!” omel Suzy yang menatap mereka dari kejauhan. Jujur saja, ada rasa yang membakaar dadanya saat ini.

“Nugundeyo?” Tanya Baro.

“Itu Lee Gikwang, bodyguarku! Sedangkan yang dipeluknya itu Hyorin! Sahabatku! Orang yang ingin kuperkenalkan denganmu!” Baro menatap gadis itu. Hyorin? Nama itu kan??

Aish! Apa yang kau pikirkan? Mana mungkin dia Hyorin yang kau maksudkan? Lagipula, yang bernama Hyorin di dunia ini banyak!!

Tapi…Baro menatap gadis itu sekali lagi. Entah kenapa ia merasa sangat yakin bahwa dia adalah Hyorin, teman masa kecilnya. yeoja yang dicintainya selama ini. dan satu-satunya alasan kepulangannya ke Korea.

“Wae? Kau mengenalnya?” Tanya Suzy.

“Ah aniy…”

“Yah!! Oppa!! Jung Hyorin! Sampai kapan kalian mau begitu? Tak sadar kalau ini tempat umum??” seru Suzy yang langsung menghampiri kedua pasangan itu.

“Jung….Hyorin??” bisik Baro tercekat.

.

TBC~~~

 

hahaha!! lagi-lagi mas TBC dateng! oke deh! sampe segitu dulu yak readers!! jangan lupa kritik dan sarannya seikhlasnya!! sampai ketemu di kesempatan yang akan datang! bye bye!!

akhir kata, author mengucapkan wassalamualaikum wr wb

Posted 31 Juli 2012 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , , ,

2 responses to “[FF] Here For You – Part 6

Subscribe to comments with RSS.

  1. ciatttt…. daebak thor…😄
    lnjut bca dlu y thor… kkk~

  2. Nice FF thor🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: