[FF] Here For You – Part 5   1 comment


Assalamualaikum!! hai hai readers!!! author kurang kerjaan balik!! ad yng kangen gaaa??? pasti gak ada T__T

oke deh!! gak sah bnyak cincong!! nih part 5 nya!! check it out….

.

.

HERE FOR YOU

Author: dna

Genre: Romance

Length: 5 of ?

Cast:

you as Jung Hyorin

Jung Jinyoung

Lee Gikwang

Cha Sun Woo aka Baro

Gong Chan Shik

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

[Now Playing: Big Bang – Heaven]

“Jangan terlalu memaksakan diri Kwangie-ah!! Jangan keras kepala begitu!”

“Arrayo!”

“Kau lihat sendiri, hasilnya tidak begitu bagus! Kalau kau terus bersikap keras kepala begini, bisa-bisa nyawamu…”

“Ini hidupku!! Aku hanya ingin melakukan sesuatu dalam hidupku! Biarkan saja waktu berjalan semestinya! Aku akan siap saat hari itu tiba!” sergah Gikwang.

“Sudah cukup!! Entah apa yang akan dikatakan ummamu padaku! Kalau kau terus seperti ini…”

“Lantas aku harus apa? Berdiam diri menanti maut datang?”

“Aku tidak bisa melakukannya ahjussi!! Aku tidak bisa hanya diam seperti itu!” lanjut Gikwang, ia terlalu emosi sampai membentak ahjussi yang telah menampung hidupnya selama ini.

“Tapi…menjadi bodyguard itu bukan pilihan hidup yang tepat! Kau bisa terluka!! Aniy, kau bisa mati!! Seharusnya kau menyayangi dirimu sendiri! Setidaknya lakukanlah operasi itu!”

“Ahjussi!!” Gikwang menelan ludahnya, “Maaf, tapi ini hidupku!!” gumamnya kemudian pergi dari sana.

“Yah!! Mau kemana kau? Lee Gikwang!! Kau sudah tidak punya banyak waktu!!” seru ahjussi itu. Gikwang mengacuhkannya. Ia tau, bahkan ia sangat sadar bahwa penyakit ini tidak hanya menggerogoti tubuhnya, tapi juga telah mengambil segalanya dari hidupnya. Umma. Tidak banyak yang memiliki penyakit ini, hemophilia. Yah kalian sendiri tau itu penyakit apa, kalau tidak…carilah di mister google.

Gikwang duduk di teras beranda rumah keluarga Suzy, terbayang kembali akan ucapan dokter tentang keadaannya yang semakin parah itu.

“Aku hanya ingin…melakukan sesuatu dalam hidupku…jadi aku takkan pernah menyesali…sampai hari itu tiba…” Gikwang menunduk.

“Hari dimana aku menutup mata selamanya…”

“Oppa!!” seru Suzy yang tiba-tiba muncul di depan Gikwang.

“Ne?”

“Kenapa wajahmu seperti itu? Kau ada masalah oppa?” tanya Suzy yang langsung duduk di sebelahnya tanpa diminta. Ia terus menatap Gikwang yang nampak muram itu.

“Aniya…gwaenchana!” Gikwang menampilkan senyum mautnya itu, membuat jantung Suzy kembali berdetak kencang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Gikwang. Untuk sesaat, perasaan berkecamuknya barusan mulai merileks.

“Oppa!! Aku membencimu!!!” gumam Suzy pelan, Gikwang menunduk kemudian tersenyum.

“Arrayo!!”

“Kenapa kau tak menegurku tadi? Kau selalu saja bersama Hyorin, Hyorin, Hyorin terus! Memangnya kau bodyguardnya Hyorin?” tuntut Suzy. Gikwang mengelus kepala Suzy. Ia jadi teringat saat membawa paksa Suzy pulang tadi.

“Mianhae…”

“Aku sedang ada masalah tadi!!” bisik Gikwang.

“Oppa!!”

“Ne?”

“Kau marah padaku?”

“Ne! Kau benar-benar membuatku dalam masalah tadi!!” jawab Gikwang, Suzy mengerucutkan bibirnya.

“Oppa kau tau alasanku kabur?”

“Aku dijodohkan!!” Gikwang terdiam, ia menatap langit.

“Mworago?? Suzy kabur?”

“Ne, joseonghamnida!”

“Sudah kuduga dia akan bereaksi begitu! Tapi…Lee Gikwang ini adalah tanggung jawabmu!!”

“Bawa Suzy kembali, atau kau aku pecat!!”

“Ne sajjangnim!”

“Keluarlah!!” Gikwang membungkuk dan keluar dengan patuh. Ia menghela napas panjang.

“Bagaimanapun juga, rencana ini harus berhasil…” Mr. Bae menekan sejumlah nomor.

“Ah annyeonghaseyo Mr. Cha, ne? Saya pikir kalau perjodohannya dipercepat akan lebih baik! se…seminggu lagi? Ah iye, gamsahamnida!”

“Ne, aku tau!!” jawab Gikwang.

“Aku tidak mau dijodohkan!! Memangnya siti nurbaya apa? Aku kan sudah memiliki orang yang kusukai!!”

“Oh ya? Nuguya??”

“Oppa!! Aku menyukaimu…!!”

“NE??” mata Gikwang terbelalak kaget mendengar ucapan majikannya itu.

.

 

“OTTOKHAE MIN TAE-AH??? Ah!! Nan molla!!”

“Hah? Bagus dong kalau udah jadian!!” ujar Min Tae lagi. Saat ini mereka berada di halaman belakang rumah Hyorin. Menikmati indahnya sore hari di kebun daisy milik keluarga Jung.

“Tapi…tapi…aku ga ada perasaan apa-apa padanya!!” Hyorin mulai mencak-mencak namun tetap menjilati ice cream moca favoritnya.

“Yah! Kau bilang kau berdebar-debar padanya!! Seengaknya itu artinya kau suka padanya!!”

“Aish!! Aigoo!! Bagaimana aku harus menjelaskan padanya? Ah!! Ini gara-gara Gikwang sunbae!! Menyebalkan!!”

“Yah ga usah di jelaskan juga ga apa kan! Jadian saja! Toh ga ada ruginya juga! Chan itu sudah pintar, ganteng pokoknya sempurna deh!!” Hyorin menunduk. Aish!! Semuanya terasa begitu sulit.

Nanti, kapan-kapan kita double date ya!!” ajak Min Tae yang langsung mendapat jitakan dari Hyorin.

“Baboya!! Double date apa lagi! Aku dan dia itu ga mung…”

“Hyorin! Berhenti bersikap begini! Mestinya untuk anak gadis normal seusiamu setidaknya sudah pernah pacaran 2 kali! Nah kau? Disaat yeoja-yeoja bersusah payah mendapat perhatian darinya kau malah ga mau menjadi pacarnya!!”

“Habis…”

“Sudahlah!”

“Ne…ne arraseo!! Huh!” Hyorin menjilati ice creamnya yang hampir meleleh itu sedang Min Tae yang sedang asyik memandangi Hpnya tiba-tiba menghempas Hp itu.

“Wae? Mentang-mentang orang kaya! Jangan menghempas benda seenaknya gitu donk!!” tanya Hyorin yang menangkap sorot kekesalan di wajah Min Tae.

“Taemin! Lagi-lagi dia sibuk! Dia bilang tidak bisa menjemputku hari ini karena ada latihan gabungan!”

“Cih!! Ajudan macam apa itu? Kalau nona muda yang cantik seperti aku diculik orang bagaimana?” kesal Min Tae.

“Cantik??” ejek Hyorin.

“Yah!! Orang buta pun tau kalau aku cantik!!”

“Ne..! percaya…” ujar Hyorin setengah hati.

“Aish! Sudah 3 kali selama sebulan ini dia begitu! Kenapa sih? Menyebalkan!!”

“Dia memang sibuk kali! Dia kan pemain pro! Apalagi setelah lepas dari SMA dia bergabung di SM club! Wajar dong kalau dia sibuk! Kau tuh yang sebagai pacarnya harusnya terus mendukungnya bukan malah marah-marah begini!” sindir Hyorin.

“Wah kau sudah pintar sekarang ya! Seakan sudah menjadi pakar cinta saja!!”

“Aigoo! Ga perlu jadi pakar cinta tau! Lagian bukannya kau dan Taemin itu adalah pasangan sejati? Jadi jangan mengkhawatirkan hal-hal yang ga perlu!! Bukankah kau selalu mendeklarasikan hal itu?”

“Aish!! Dasar kau!!” Min Tae mencubit pipi Hyorin.

“Appo!! Rasakan!!” Hyorin mencipratkan air mineral di tangannya ke wajah Min Tae.

“Yah!! Beraninya!! Awas ya!!” balas Min Tae. Mereka malah main simbur-simburan sekarang. Jinyoung memandangnya sekilas, kemudian tersenyum tipis.

“Dasar anak bodoh!!” ejeknya sambil menggeleng-geleng sendiri. Ia berjalan menuju ruang tamu kemudian merebahkan dirinya di atas kasur sembari menatap album-album fotonya bersama Hyorin.

“Kau cantik…” bisik Jinyoung saat menatap foto Hyorin yang sedang tersenyum lebar disisinya. Entah sejak kapan ia menyukai Hyorin. Yang jelas saat itu adalah hari-hari terbaik baginya.

Kemudian ia kembali teringat kejadian beberapa waktu lalui. Baro!! Ya, saat Hyorin kembali mengingat namja itu. Jinyoung menahan kemarahannya.

“Aku…takkan membiarkanmu memasuki kehidupan Hyorin!!”

Flashback

[Jinyoung POV]

“Jinyoung oppa!!!” teriak seorang yeoja. Ah!! Lagi-lagi dia!! Pagi-pagi begini dia sudah seberisik ini!!

“Oppa!! Celamat pagi!!” serunya dengan penuh semangat. Huh!! Mengganggu sekali!

“Oppa!! Oppa cedang macak ya?” tanyanya dengan suara cadel. Aku mengacuhkannya seperti biasa, tidak peduli.

“Oppa! Aku coba ya!” serunya lagi. Namun lagi-lagi aku tetap tak memperdulikannya. Yah, kau taulah!! Aku begitu membenci yeoja cadel di depanku ini! Aku benci umma yang telah melahirkannya ke dunia. Karena dia kasih sayang orang tua berkurang dua kali lipat!! Karena dia aku harus menjadi ibu rumah tangga dan mengurusnya seolah aku ini pengurus bayi! Umma dan appa memang sering bepergian seenaknya. Dan akulah yang harus menggantikan tugas rumah. Bayangkan saja kalau aku yang masih berusia tujuh tahun ini harus melakukan semuanya sendiri. Rasa kesepian karena sering di tinggal orang tuaku. Rasa tersisih karena anak ini. Segala kesedihan yang memenuhi hatiku melebur menjadi satu.

“Oppa! Kenapa kau tidak makan? Oppa cakit?” tanyanya. Akh!! Kekesalanku benar-benar sudah di luar kendali.

Braakk

Aku memukul meja makan membuatnya terkejut. Dia memandangku kaget.

“Oppa? Waegeulae???”

“YAAAH!!! Bisakah kau diam? Sudah berapa kali kukatakan padamu jangan pernah bicara denganku! Sampai kapanpun aku takkan pernah menganggapmu sebagai adik, arra?” bentakku. Dia menatapku bingung.

“Dan jangan menangis! Aku benci sekali orang cengeng!!” marahku sambil beranjak meninggalkan meja makan. Kulihat wajahnya yang dihiasi mendung itu, nampaknya dia menangis! Ah biarlah! Aku tak peduli! Mau dia nangis guling-guling juga, bodo amat! Aku menuju ruang depan dan memakai sepatu, bersiap untuk berangkat sekolah.

“Ah!! Oppa!! Oppa!!” kudengar lagi jeritannya membahana menyakiti telingaku. Ia mengejarku sampai pintu depan.

“Oppa!! Celamat jalan!! Hati-hati ya! Jangan pulang lama-lama ya oppa!! Oppa!! Calanghae *saranghae*!!” serunya berisik.

“Dasar gila!!” sergahku sambil membanting pintu depan. Tidakkah bagi kalian aku begitu kejam? Yah tentu saja! Biasa-skenario author- Aku benar-benar membenci yeoja aneh itu. Namun, entah kenapa kendatipun aku selalu menunjukkan wajah kesalku, selalu mengacuhkannya bahkan kerap bertindak kasar padanya ia tak pernah marah padaku. Ia selalu tersenyum dan ya, senyumnya itulah yang membuatku muak! Aku bahkan tak pernah memanggilnya dengan namanya, tapi dia tak pernah mengeluh dan tetap ceria seperti biasanya. Dia selalu mengantarku di depan seperti tadi. Kalau aku pulang dia juga akan menyambutku –seperti yang biasa dilakukan umma padaku-

Di sekolah, aku termasuk anak yang bisa dikatakan pintar. Aku selalu juara umum, disayang semua guru dan teman-temanku (ehm, penjelasan yang tak begitu penting) hidupku sempurna! Yah kecuali satu! Punya seorang yeodongsaeng aneh seperti Hyorin!

“Oke! Sampai sini dulu pelajaranya ya! Pulangnya hati-hati!!” ujar Ahn sonsaengnim. Kami langsung berhambur keluar kelas. Aku berjalan cool seperti biasa. Tanpa menghiraukan teriakan yeoja-yeoja yang bertampang rawan radioaktif itu!! (dlm artian, mupeng! Meski masih kecil, tapi ternyata Jinyoung popular juga)

“Aku pulang!!” sahutku pelan, aku langsung menaruh sepatuku dan menarik napas sekuat mungkin. Mencoba meredam kekesalan kalau-kalau yeoja menyebalkan itu muncul.

“Aneh!” gumamku saat menyusuri lorong menuju ruang tamu. Tidak ada sambutan seperti biasanya? Kenapa? Biasanya meski anak itu sakit sekalipun dia pasti bangun ketika aku pulang. Tapi sekarang kenapa sepi begini? Apa dia sudah bosan?

“Ehm…rasanya agak sepi…”

Ah!! Bodo amat lah!! Yah! Jung Jinyoung! Apa pedulimu pada bocah itu? Berhenti memikirkan yeoja bodoh itu!!

Aku duduk di sofa sambil meregangkan tubuhku! Saatnya santai!! Baru saja aku mau memejamkan mataku, suara telepon mengusikku.

“Yeoboseyo?” sapaku malas.

“Apa benar ini nomor keluarga Jung? Kami dari pihak kepolisian!”

“Ne! Wae geurae? Ada masalah?” Tanyaku bingung. Pihak kepolisian?? Kenapa ya?

“Tolong dengarkan dan jangan panic. Kami menemukan seorang anak perempuan yang disinyalir sebagai anak keluarga Jung.  Dari buku siswa yang kami temukan, namanya Jung Hyorin. Kami sudah mengkonfirmasi ke sekolahnya, ternyata dia adalah anak keluarga ini!” lagi-lagi!! Apa lagi yang anak itu lakukan sekarang?? Kenapa melibatkan polisi?

“Ne?? Dia kenapa?”

“Dia kecelakaan! Sekarang telah di bawa ke Rumah Sakit Harapan Tipis (?)!”

“Mworago?? Dia kecelakaan??” sejenak aku merasa seperti tidak bernyawa saat mendengarnya. Pikiranku mendadak kosong. Tanpa berpikir panjang kuambil jaket biru yang tergantung di dekat tangga dan langsung mennuju rumah sakit. Aku terus berlari hingga sampai di rumah sakit. Saat kutanya nama adikku di resepsionis, mereka mengatakan bahwa Hyorin ada di ruang gawat darurat. Aku lantas berjalan menyusuri lorong ruangan itu.

“Yeoboseyo?”

“Jinyoung!! Jinyoung-ah!! Hyorin…Hyorin dia…” kudengar suara umma terisak-isak diseberang sana.

“Tolong jaga Hyorin sampai kami kembali! Kami terjebak banjir, Jinyoungie!” kali ini suara appa!

“Ne!” jawabku singkat. Kumatikan Hpku dan bersandar lemas di dinding rumah sakit. Kulihat seorang ahjussi berpakaian putih keluar, kurasa dia adalah dokter! Aku lantas menghampirinya.

“Dimana orang tuamu, nak?” tanyanya.

“Di Busan, mereka terjebak banjir!” jawabku.

“Aduh! Bagaimana ini?” tanyanya pada seorang suster.

“Ada apa? Apa yang terjadi padanya?” tanyaku pada mereka. Mereka memandangku aneh. Kemudian dokter itu mendesah pelan.

“Terjadi pendarahan cukup parah pada kepalanya. Kami harus melakukan operasi untuk mengangkat sisa darah yang menggumpal di kepalanya agar tidak terjadi gangren!” ujar dokter itu. aku menutup mulutku, tanpa sadar air mataku meleleh. Bisa kurasakan tubuhku yang gemetar hebat.

“Kalau tidak dilakukan secepatnya, kemungkinan nyawa anak itu akan…” dokter tak melanjutkannya ketika melihat wajahku yang pucat. Apa? apa yang akan terjhadi? jangan katakan padaku kalau anak itu akan…Apa yang harus kulakukan? Apa? Ya Tuhan!!

“Lakukan saja!! Lakukan saja operasinya!”

“Kau yakin?”

“Kalau itu…bisa menyelamatkan nyawa adikku…” mendadak kakiku lemas. Aku terduduk menahan tangisku. Sesak. Napasku mulai sesak! Andwae!! Jangan pergi Hyorin!!

“Kalau begitu tolong tanda tangan disini!” tanpa berpikir lagi kuraih pulpen yang disodorkan padaku dan kutanda tangani kertas itu.

“Baik! Persiapkan ruang operasinya! Kita akan melakukan secepat mungkin!” ujar dokter memberi perintah, kemudian berlalu entah kemana.

Berjam jam aku telah duduk di depan pintu ruang operasi. Apa keputusanku tepat? Tak lama  berselang, kulihat pintu ruang operasi terbuka dan dokter itu keluar.

“Mian…dia…” apa? Mian? Kenapa ahjussi ini minta maaf padaku? Apa jangan-jangan? Air mataku mengalir tanpa dikomando. Ini bohong, kan? Ga! Ga mungkin! Aku panik, seluruh tubuhku gemetaran.

“Kau bilang operasi akan menyelamatkan hidupnya!!” jeritku menggelegar.

“Joseonghamnida! Tingkat kesembuhannya memang lemah! Tapi dia pasti akan sadar!” eh? Maksudnya?

“Keadaan Hyorin tidak stabil! Dia dalam keadaan koma sekarang!” Apa? Apa maksudnya itu? Koma? Ga! Aku ga mau dengar, aku ga percaya! Ini pasti hanya kebohongan! Dokter berdiri dihadapanku dengan wajah yang sangat pasrah, aku menahan nafasku. Ga! Jangan beritau aku! Aku sudah tak sanggup menahan air mataku, aku tak bisa bernapas, sesak. Dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Bangun-bangun aku mendapati diriku di salah satu kamar rumah sakit. Apa yang telah terjadi? Apa aku pingsan ya? Dimana Hyorin? Aku mencoba bangun dan keluar mencari Hyorin.

Aku mengetuk pelan pintu berat itu, karena tak ada jawaban aku masuk kedalam. Kulihat Hyorin sedang terbaring lesu di tempat tidur. Aku memaksa kakiku mendekatinya, saat kulihat wajah pucatnya masih menutup mata, air mataku kembali mengalir deras. Kusentuh wajah yang bahkan aku tak pernah berpikir untuk menyentuhnya itu. Kuelus pelan rambut Hyorin dan merapikannya.

“Hyorin…” gumamku lirih. Ini pertama kalinya aku memanggil namanya, berharap ia akan bangun saat aku memanggilnya. Namun itu hanya harapan kosong, ia masih bergeming.

“Hyo…Hyorin!!” panggilku lebih keras.

“Yah!! HYORIN!! Irona!! Irona!!” kini aku mengguncang tubuhnya agar dia bangun. Namun nihil, ia tetap tak membuka matanya.

“Mian…mian aku…” aku kembali terisak. Entah rasa apa ini, aku tau aku membenci Hyorin tapi…entah kenapa aku tak mau kehilangannya. Aku tak mau dia pergi. Rasa kesepian karena sering di tinggal orang tuaku. Rasa tersisih karena anak ini lahir dan masuk ke dalam keluarga. Segala kesedihan yang memenuhi hatiku melebur. Tanpa kusadari aku mengubur diri dalam kesendirianku. Tanpa menyadari sepotong kasih sayang yang disodorkan, perhatian yang ditujukan padaku oleh seorang Hyorin, adikku satu-satunya. Seseorang yang harusnya kulindungi dengan sepenuh hatiku. Apakah sudah terlambat? Inikah akhir dari segalanya? Tidak adakah kesempatan untukku?

“Irona…irona Hyorin-ah! Kumohon…buka matamu…” desahku berulang-ulang.

. 

 

“Jinyoung-ah! Kau tidak makan?” tannya umma, aku menggeleng lesu. Sudah hari keempat semenjak kecelakaan itu. Dan kondisi Hyorin masih tetap seperti dulu, koma.

“Jangan seperti ini Jinyoung-ah! Kalau kau sakit…umma…umma!!” kulihat umma mulai terisak, namun ia segera menutupi wajahnya dan pergi keluar. Yang kutau, umma adalah orang yang tegar. Ia tak pernah menunjukkan wajah sedihnya di depan anak-anaknya. Tapi kali ini kulihat umma menangis! Tanganku mengepal, aku melirik Hyorin yang masih terbaring di tempat tidurnya.

“Hyorin-ah!! Kau tak lihat? Umma menangisimu!! Jangan membuatnya seperti itu Hyorin-ah! Sadarlah!! Kumohon!!” pintaku. Kugenggam tangan Hyorin dan mengecupnya.

“Aku berjanji padamu…aniy!! Aku bersumpah! Aku akan selalu disisimu, aku akan menjagamu! Aku akan melakukan semua yang kau inginkan!!”

“Maka dari itu…sadarlah!! Kumohon!!” aku kembali terisak. Air mataku membasahi tangan Hyorin yang kugenggam.

“Jinyoungie…” appa memegang pudakku, kemudian tersenyum bijak.

“Makanlah nak! Jangan siksa dirimu seperti ini…pulanglah ke rumah dan mandilah!! Kau harus turun sekolah dan menjalani kehidupanmu!!”

“Tapi…”

“Hyorin pasti akan sembuh!! Appa jamin itu, makanya…pulanglah! Saat kau kembali kesini, Hyorin pasti sudah sadar!!” sahut appa bijak. Aku menurutinya tanpa berkata apa-apa. Aku pulang ke rumah.

Ditengah perjalanan aku bertemu dengan salah satu guru Hyorin.

“Bagaimana? Apa dia masih…?” aku mengangguk. Pedih. Itu yang kurasa.

“Ini…polisi menemukan ini di selokan!” Mrs. Han menyerahkan sesuatu.

“Apa ini?” tanyaku.

“Itu adalah bintang, pemberian Baro. Hyorin dan Baro adalah teman akrab!” jelas Mrs. Han.

“Hari itu…Baro pindah ke luar negri. Hyorin sangat sedih mendengarnya, makanya ia memberikan itu pada Hyorin! Mungkin benda itu bisa menyadarkan Hyorin lebih cepat.” Aku menatap bintang yang berlumuran darah itu. Baro…

Tiba-tiba saja kemarahan membuncah di dadaku. Entah kenapa rasanya sangat marah pada anak bernama Baro itu. Kuremas bintang itu. Pikiranku kosong. Setelah Mrs. Han pergi, aku membuang bintang itu.

“Kau!! Kau yang menyebabkan Hyorinku seperti ini!! Aku…takkan membiarkanmu…!!”

“Aku…takkan membiarkanmu memasuki kehidupan Hyorin!!”

.

 

Tanpa terasa, sudah hari ke 12, dan Hyorin masih juga belum mau membuka matanya. Keluarga sudah pasrah akan tingkat kesadaran Hyorin yang menipis. Umma bahkan menjadi aneh sejak saat itu, dia hampir gila. Umma sering menyiksa diri sendiri, kemudian pingsan dan semacamnya. Aku tak tau lagi apa yang akan terjadi. Hyorinku…kenapa ia tak sadar juga?

“Hyorin-ah!! Sudah hari ke 12! Kau tidak bosan tidur terus? Bangunlah!!” ujarku seraya menyeka wajahnya dengan air.

“Yah!! Kau tak penasaran dengan dunia sekarang?” dia tetap diam. Tapi aku tak menyerah, aku selalu mengajaknya ngobrol setiap hari. Meski aku tau itu takkan berpengaruh apa-apa.

“Hyorin-ah! Kalau kau sadar oppa akan membuatkanmu ramyeon setiap hari! Kau suka kan?” aku mengelus dahi Hyorin.

“Hyo…rin-ah!! Buka matamu!! Kenapa kau tega melakukan hal ini padaku? Kumohon buka matamu!!” aku mulai terisak.

“Hyorin….” Panggilku untuk kesekian kalinya, namun Hyorin tetap membisu.

“YAAAH!! JUNG HYORIN!!” bentakku dengan emosi yang meluap-luap.

“BANGUN!! BUKA MATAMU!!!”

“Kalau kau tak sadar juga, aku akan!!!”

“Jinyoungie!! Hentikan itu!!” appa menahan tubuhku. Bisa kurasakan tubuhku bergetar hebat. setetes, demi setetes air mataku mengalir. Bahuku terguncang, dan kembali terisak.

“Kembalikan Hyorinku!! Kembalikan Hyorinku!! KEMBALIKAN!!!” jeritku sekuat tenaga.

“Hyorin!! Sadarlah!!!” aku berteriak-teriak memanggil Hyorin dan berharap ia akan datang menyambut panggilanku.

“HYORIIIINN!!!” aku terduduk, napasku sesak. Tangisku tak berhenti juga. Appa membawaku keluar.

“Tidak berguna!! Tidak berguna!!” desisku berulang kali. Seharusnya aku bisa menjaganya!! Tidak berguna!! Sial!! Aku mengepalkan tinjuku dan langsung menghantam tembok kayu didepanku.

.

Hari ke 23

Keadaanku setiap harinya semakin memburuk, seperti mayat hidup. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Aku lebih suka melamun, dan melamun. Tidak bisa focus dalam suatu hal, terkadang mengamuk, terkadang tertawa sendiri, bahkan menangis.

“Kenapa kau tak sadar juga Hyorin-ah? Kenapa? Kenapa kau membuatku seperti ini??” jeritku. Lagi, aku lantas menghantam kaca di hadapanku, hingga tanganku bercucuran berdarah.  Namun aku tak peduli, rasa sakit di hatiku telah merajalela dan membuatku lupa akan jati diriku sendiri.

“Jinyoung-ah!! Appa tau kau terpuruk saat ini! Tapi hentikan menyiksa diri begitu!!” aku tak memperdulikannya. Umma langsung mengobati tanganku.

“Mian….” sahutku lemah.

“Hyorin belum mati…jadi…jangan seperti ini…” umma kembali terisak, appa yang memeluknya juga meneteskan air mata.

Aku kembali ke kamar Hyorin dan menemukannya masih terbaring. Aku menatapnya sedih. Entah sejak kapan wajahnya selalu menghiasi hidupku. Meski aku sudah terbiasa melihatnya seperti ini, tetap saja aku merasa terpukul melihatnya. Sampai aku tak tahan dan terus menangis.

“Hyorin…aku…aku…”

“Sadarlah! Hyorin-ah!! Jebal!!”

“Sadarlah Jung Hyorin!! Jebal!! Aku mencintaimu!! Aku membutuhkanmu!! Jangan begini terus!! Kumohon!! Apapun kulakukan untukmu!!” aku kembali terisak-isak, aku mengecup telapak tangannya.

“Kumohon…!”

“Jebal…apa yang harus kulakukan?”

“Hyorin-ah!!” seruku putus asa. Aku menunduk membiarkan air mataku kembali jatuh. Kumohon, sadarlah! Apapun kulakukan untukmu! Apapun!! Asal kau sadar! Aku tak peduli kau akan membenciku tau apapun, yang jelas kau harus hidup! Kau harus sadar! Demi Tuhan, kenapa kau seperti ini?

“Ng??” aku mendongak. Kurasa aku mendengar suara tadi!! Kurasakan jari Hyorin bergerak. Hyorin? Hyorin sadar?? Benarkah?

“Hyorin?? Hyorin-ah!!” panggilku. Kurasakan butir air mataku meleleh saat kulihat mata itu membuka kembali.

“Hyoriiinn!!!” seruku senang. Ia melihatku, menatapku dengan pandangan bingung.

“Umma!! Appa!!” seruku lagi memanggil kedua orang tuaku. Mereka masuk bersama dokter. Hyorin menatap satu persatu wajah kami dengan pandangan linglung. Kemudian ia tersenyum, senyum yang biasa ia perlihatkan. Senyum yang selama ini kuabaikan. Tapi!! Aku merindukan senyum itu!!

“Hyorin-ah!!” mata umma berlinangan, ia memeluk Hyorin.

“Umma…”

“Umma uljimalayo!!” ujarnya dengan suara cadel andalannya.

“Akhirnya…Hyorin…” kini giliran appa yang memeluknya.

“Appa!!” setelah melepas pelukan appa, dia menatapku. Ada yang aneh dengan pandangannya.

“Umma, nuguseyo?” tanyanya pada umma seraya menunjukku.

“Mwora? Dia oppamu! Jinyoung oppa! Kau tidak ingat padanya?” Hyorin berpikir kemudian menggeleng. Aku hanya terdiam, tak sanggup berkata apa-apa. Hyorin…tidak mengingatku?

“Kenapa bisa begini, dok??” dokter langsung memeriksanya.

“Sepertinya…ia terkena amnesia sebagian! Beberapa dari memorinya hilang!” ujar dokter. Aku mengepalkan tanganku. Yah!! Mau bagaimana lagi? Aku adalah seorang kakak yang buruk bagi Hyorin, wajar dia tak mengingatku.

“Biasanya hal ini terjadi pada seorang yang benar-benar disayanginya! Atau sesuatu yang benar-benar melekat di otaknya. Tapi itu hanya bersifat temporary, dia pasti bakal ingat lagi!” aku merangsek maju menghampiri Hyorin.

“Nugundeyo?” tanyanya. Aku tersenyum seraya mengelus kepalanya.

“Aku adalah oppamu! Meski kau tak mengingatku, aku akan selalu disismu Hyorin-ah!! Saranghae!!” aku mengecup keningnya kemudian memeluknya erat. Aku takkan membiarkan siapapun menyakitinya. Aku akan memulai dari awal, aku berjanji menjadi kakak yang baik bagi adikku. Aku berjanji akan selalu bersama dan melindunginya. Aku berjanji!!

End of Flashback

 

[Author POV]

“Entah sejak kapan…perasaan itu berubah…mungkin…karena aku selalu disisimu…sejak itu…” desah Jinyoung. Ia bersandar di sofa ruang tamu.

“Satu hal yang takkan berubah! Aku akan tetap disisimu Hyorin-ah! Saranghae!” bisiknya pelan sembari menutup buku album itu.

.

[Now playing: B1A4 – OLBT]

“Yossha!! Aku sudah siap!!” gumam Hyorin pada dirinya sendiri sembari mematut diri di cermin. Ia menatap matanya mecari kesipan mental dalam dirinya. Ia akan menjelaskan kesalahpahaman ini pada Gong Chan sebelum semuanya terlambat. Siapkah ia?

“Otthe? Aku cantik, kan? Hmm, kalau kau cermin ajaib kau pasti bosan berkata bahwa aku cantik, kan? Karena aku memang cantik!!” Hyorin memutar tubuhnya memamerkan gaun hijaunya pada cermin.

“Ini…gaun pemberian oppa! Oppa marah ga ya kalau aku pakai gaun ini pergi bersama Channie?”

“Aish!! Baboya!! Hyorin neo babonikka!! Kenapa oppa harus marah? Oppa kan sangat baik padaku!!” Hyorin merapikan rambut ikalnya kemudian meirik jam dinding di kamarnya.

“Omo!! Aku nyaris terlambat!! Ppali Hyorin!!” Hyorin langsung berlari menuju pintu depan dan tempat janjiannya dengan Gong Chan.

“Aigoo! Mudahan aku tidak terlambat!!” gumam Hyorin sembari menatap jam di layar Hp nya.

“Channie-ah!!” seru Hyorin sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Gong Chan yang tengah menunggunya. Tampak sosok sempurna bak malaikat itu menoleh dan membalas lambaian Hyorin. Kemeja hitam yang dikenakannya, terlihat begitu indah dikulitnya itu. Bibir tipisnya tersenyum indah, memamerkan sederet gigi putih yang rapi. Hyorin sengaja menyisakan matanya untuk terakhir ia lihat. Batu obsidian yang begitu hangat dan berkilau. Tidak ada kesempurnaan di dunia ini, tapi melihat Gong Chan seperti ini. Apa Tuhan telah membuat pengecualian?

”Channie-ah? Aku tidak datang terlambat kan?” tanya Hyorin ragu.

”Aniya! Aku saja yang terlalu cepat! Kkaja!!” Gong Chan tersenyum hangat dan berjalan di sisi Hyorin.

”Gomawoyo…”

”Mwora? Buat apa?” tanya Hyorin bingung.

”Karena telah menerimaku…aku senang!” Hyorin menggigit bibirnya, kenapa ia menjadi merasa serba salah begini? Ottokhae?

”Hyorin? Waeyo? Kenapa kau diam begitu? Kau sakit?”

”A…aniya!! ehm…!” Hyorin memandang sekelilingnya mencoba menginterupsi suasana yang awkward.

”Wuaah!! Ini bunga daisy kan? Masih kuncup!” seru Hyorin saat mereka melewati toko tanaman hias.

”Hah? Jadi ini namanya daisy ya? Dari dulu aku selalu cari tau!!” ujar seseorang. Hyorin melirik namja itu.

”KAU!!!!” kaget mereka berdua.

”Jung Hyorin!!” tunjuk Gikwang.

”Gikwang sunbae?”

”Hyoriiiin!!!” seru Suzy tiba-tiba.

”Suzy-ah!! Kenapa…kalian?” Hyorin menatap mereka bingung.

”Oppa mengajakku mencari bunga buat temannya, kau? Omo!! Dia…?” Hyorin memandang Gong Chan kemudian beralih ke Suzy.

”Ah!! Jangan bilang dia namja yang kau ceritakan itu!! Gong Channie?” tebak Suzy, Gong Chan tersenyum mendengar namanya disebut-sebut.

”Ne! Dia Gong Chan!” Hyorin tertunduk malu. Tiba-tiba Suzy bertepuk tangan senang.

”Kalian sudah jadian? Ah!! Chukkae! Chukkae! Akhirnya kau terima juga dia! Yah! Kubilang juga apa? Ga ada salahnya kan? Aigoo!!”

”Ne…” Hyorin kembali menggigit bibirnya. Aish!! Kenapa jadi serumit ini sih?

”Mwo? Kau sudah punya namjachingu? Yeoja kasar macam kau?” tanya Gikwang seenaknya.

”Yah!! Sunbae! Jangan mengataiku yeoja kasar! Kau tau aku hanya memukulmu! Dasar pervert!!” kesal Hyorin.

”Ah! Aku lupa meperkenalkan kalian. Suzy-ah! Ini Gong Chan! Channie, dia Suzy teman baruku!!”

”Annyeong, Bae Suzy imnida!”

”Shik Gong Chan imnida!”

”Ah kau memang tampan seperti kata Hyorin!!” puji Suzy.

”Ne?” tanya Gong Chan.

”Yah!! Bicara apa kau?” bisik Hyorin seraya mencubit lengan Suzy.

”Wae? Kau memang berkata begitu kan?”

”Kau tidak memperkenalkanku?” tanya Gikwang.

”Omo! Buat apa aku memperkenalkanmu dengannya?” ketus Hyorin.

”Yah! Kalian selalu saja begitu! Begini saja, bagaimana kalau kita jalan? Shopping, double date gitu! Otthe??” usul Suzy. Gikwang menggeleng tegas. Hyorin menatap Gong Chan yang mengangguk setuju.

”Oppa jebal!!” pinta Suzy.

”Andwae! Suzy-ssi, perjodohannya telah dimajukan kau harus siap-siap! Tak ada waktu buat main-main!! Cha Sun Woo-ssi sebentar lagi akan kembali kesini!” tolak Gikwang. Suzy mengerucutkan bibirnya.

”Mwo? Dimajukan?” tanya Hyorin bingung. Suzy mengangguk-angguk kesal.

”Tidak ada hubungannya dengan anda, Jung Hyorin-ssi!” sahut Gikwang. Mwo?? Hyorin menatapnya kesal, apa-apaan sih namja pervert ini!!

”Oppa!! Sekali ini saja!!” pinta Suzy.

”Andwae! Ayo kita pulang!!”

”Oppa….!”

”ANIYA!!”

”Aish! Kau dasar bodyguard jahat! Sunbae, mestinya kau sedikit lebih lembut terhadap majikanmu sendiri!” sindir Hyorin. Gikwang menatapnya tajam.

”Itu bukan urusanmu!”

”Kalau oppa melarangku, aku akan kabur lagi!!” ancam Suzy. Ia kemudian menarik tangan Hyorin dan berlari dari sana. Mau tak mau Gikwang mengejarnya. Sedangkan Gong Chan? Ia yang sedari tadi diam saja akhirnya mengikuti dua yeoja gila itu.

“Oppa!! Aku menyukaimu…!!”

“NE??”

“Geurom…aku menyukaimu oppa!! Oppa adalah cinta pertamaku!!”

“Suzy-ssi! Aku…”

“Arrayo…aku tau oppa akan menolakku…”

“…”

“Meski ditolak sekalipun…kalau aku tak bilang padamu, hatiku tidak tenang…makanya, oppa!! Aku menyukaimu!”

“Suzy-ssi…mian!! Aku…”

“Oppa tak perlu menjawabnya…aku…sudah tau jawabannya!!”

“Ne? Maksudmu?”

“Oppa menyukai Hyorin, kan?”

“…”

.

“Hyorin!! Kau coba yang ini!!” suruh Suzy seraya memberikan Hyorin gaun berwarna pink. Mereka telah sampai di salah satu toko baju. Gong Chan dan Gikwang hanya duduk dan diam saja memperhatikan 2 yeoja ini.

“Aish! Ini terlalu pendek, Suzy-ah!!” tolak Hyorin.

“Aigoo!! Coba saja! Ppali!!” Suzy mendorong-dorong Hyorin ke kamar ganti, ia sendiri kemudian masuk ke kamar ganti dan mencoba pakaian.

Tak lama kemudian mereka keluar. Hyorin yang nampak risih hanya menarik-narik ujung gaunnya yang terlalu minim itu.

“Ah!! Pendek sekali! Malu nih!!” sergah Hyorin sambil menutupi wajahnya dengan rambut.

“Yeppo!!” komentar Gong Chan, Hyorin menunduk malu.

“Oppa otthe?” Tanya Suzy seraya berputar memamerkan gaunnya. Gikwang menggeleng.

“Warna hitam saja!” ujarnya.

“Aish!! Aku suka warna ini!! Hyorin, what do you think?”

“Ehm…aku setuju dengan sunbae!! Warna kuning terlalu mencolok untukmu!!” jawab Hyorin.

“Aish!! Oppa! Menurutmu Hyorin bagaimana?” Tanya Suzy membuat Gikwang terkejut. Ia menatap Hyorin dari kepala sampai ujung kaki membuat Hyorin semakin merasa risih.

“Yah!! Hentikan pandangan mesummu itu, sunbae!!” kesal Hyorin.

“Terlalu seksi!! Mengundang saja!” komentar Gikwang.

“Mworago?? Yah!! Aish jinjja! Apa maksudmu dengan mengundang? Kau pikir aku yeoja murahan!?”

“Suzy-ah!! Aku kan sudah bilang ini bukan gayaku!! Lepas saja ya bajunya? Aku cari model lain!!” usul Hyorin.

“Mwo? Melepas baju? Disini? Wow!!” Gikwang kembali menatap Hyorin dengan pandangan super mesumnya itu.

“Yaks!! Dasar menjijikan!!! Tentu saja aku takkan melepasnya di depanmu babo, dasar NUTS!!” Hyorin melempar high heels yang dipakainya ke arah Gikwang, namun Gikwang dengan mudahnya menghindar.

“Itu yang kau sebut melempar? Aish! PAYAH!!!” ejeknya seraya mengambil sepatu Hyorin.

“Yah!! Kembalikan sepatuku!!” Hyorin lantas menghampiri Gikwang dan mencoba meraih sepatunya yang diangkat Gikwang tinggi-tinggi.

“Andwae!! Bermimpi saja!! Suruh siapa kau melemparku?”

“Aish!! Balikin!! Sunbae!!”

“Andwae!! Andwae!!” Gikwang malah menggodanya dan menjulurkan lidah. Hyorin menatapnya kesal. Namun ia terus berusaha mengambil sepatunya. Karena ia hanya memakai sepatu sebelah, langkahnya pun menjadi kacau dan…

Bruukk…

“Hyyaaah!!”

Deg…deg…! Hyorin menindih tubuh Gikwang. Gikwang menatap manik mata Hyorin dengan tatapan aneh.

“Joahae…” bisik Gikwang sepelan mungkin. Angin menelan suara lembutnya. Ia meraih dagu Hyorin.

“Aku…aku…”

Apa katanya barusan? Joahae? Dia….menyukaiku?? Namja mesum ini? Andwae!! Aniya!! ANIYAA!!! Apa yang kau pikirkan Hyorin? Mana mungkin dia berkata seperti itu!! Aku pasti salah dengar!!

“Ige mwowaeyo?” suara Suzy menyadarkan Hyorin.

“YAKS!! Lepaskan aku dasar namja bodoh!!!” jerit Hyorin yang langsung berdiri.

“Apa? Namja bodoh? Yah!! Kau kan yang terlalu agresif sampai menyerangku seperti itu!!” tuntut Gikwang tak terima.

“Mworago? Serang? Ige mwoya!!! Itu karena kau duluan yang mulai!! Siapa suruh kau tidak mau mengembalikan sepatuku hah?”

“Siapa suruh kau lempar?”

“KAUUUU!!!! YAH LEE GIKWANG!!”

“Mwora? Kau memanggil namaku begitu saja? Mana sopan santunmu, hah? Mau detensimu kutambah??”

“Kau pikir aku takut dengan ancaman itu?”

“Kalau gitu 800 kalimat!! Dikumpul besok!!” kecam Gikwang. Hyorin terhenyak. Apa katanya barusan? 800?? Hyorin hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Rasanya berargumen pun percuma.

Sementara kedua orang ini terus-terusan bertengkar, Gong Chan yang sedari tadi memperhatikannya hanya bisa tersandar lemas.

“Kenapa…Hyorin…tidak memperdulikanku ya?” bisiknya sedih.

.

“Hmm? Wanginya lezat!! Aku memang berbakat!!” seru Jinyoung sambil mengaduk-aduk jajangmyeon di depannya.

“Ah! Hyorin pasti suka!! Ngomong-ngomong, dia kemana ya?” bisik Jinyoung seraya melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 4 sore. Jinyoung mematikan kompor dan menyiapkan jajangmyeon itu di atas meja makan.

“Cha!! Tinggal tunggu Hyorin…aku…akan bersiap-siap dulu!!” Jinyoung melepas celemek yang dipakainya dan menuju kamar. Ia ingin merapikan dirinya karena hari ini adalah hari special baginya. Ia ingin hari ini menjadi hari terindahnya bersama Hyorin. Yah, ini adalah hari dimana pertama kalinya Hyorin sadar setelah kecelakaan 13 tahun yang lalu.

“Apakah aku siap menyatakan perasaanku?” gumam Jinyoung sembari menatap wajahnya di cermin.

“Gong Channie!! Mianhae…” Hyorin menunduk sedih, Gong Chan mendongakkan wajahnya. Mereka sudah sampai di pintu rumah Hyorin.

“Gwaenchana!! Jangan sedih begitu!”

“Ini semua gara-gara Gikwang sunbae!! Aish namja itu!! Benar-benar menyebalkan!! Btw, gomawo sudah mengantarku pulang!!”

“Ne, durokkayeo!!” Hyorin mengangguk.

“Ne!! Jinjja gomawo untuk hari ini!!”

“Hmmm…”

“Hyorin? Kau sudah pulang?” tiba-tiba Jinyoung membuka pintu depan.

“Oppa!!” Jinyoung menatap Hyorin kemudian Gong Chan, Gong Chan lantas membungkuk memberi hormat.

“Annyeong haseyo Gong Chan imnida, Hyorin ui namjachingu!”

“Mwo? Namjachingu??” Tanya Jinyoung tak percaya. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang tiba-tiba muncul. Hyorin…sudah punya namjachingu?? Ige…

.

“Akhirnya…aku kembali!! Kota ini sudah banyak sekali berubah!!” Baro menghela napasnya pelan sembari melihat sekeliling. Digenggamnya kalung yang berinisial HR itu. Yah, itu adalah kalung yeoja kecil yang sangat dicintainya.

“Aku kembali, Hyorin…” gumamnya pelan sambil merapikan jaket coklatnya kemudian berlalu. Hujan mulai turun rintik-rintik dan ia lenyap ditelan keramaian.

.

 

TBC~~~

Posted 31 Juli 2012 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , , , , ,

One response to “[FF] Here For You – Part 5

Subscribe to comments with RSS.

  1. daebakkk…daebak..daebak…😀
    nangis bombay dah… lnjut bca dulu y chingu..😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: