[OneShoot] THE REASON   5 comments


assalamualaikum…

annyeong readerdeul!!! balik lagi ne dengan cerita baru…wkwkwkkw…

akhir-akhir ini saia jatuh cinta dengan salah satu member EXO yang tiba2 saja sering masuk2 seenaknya dalam mimpi q, siapalagi kalo bukan KAI…kyaaaaa >,<

#abaikan

okedeh, kalau gitu langsung aja deh yaaa…..

THE REASON

Author: gw si cantik…haha (dna)

Genre : Romance

Length : OneShoot

Cast   :

Kai EXO K

Hyorin Jung as you

Lee Taemin (Just cameo)

Kwon Min Tae as sahabatnya Hyorin (just cameo again)

==============================================

Lee Taemin, salah seorang pelajar di sekolah Mori High School sebuah sekolah yang cukup bergengsi di salah satu kota besar di Korea Selatan (kesahnya). Sekolah yang memiliki ribuan siswa dengan berbagai talenta ini didirikan sejak zaman dulu dan sudah memiliki reputasi mengenai prestasi yang bisa dibilang terbaik untuk sekolah-sekolah sekelasnya.

Dan kini seorang namja tampan –Taemin- tengah mengitari sekolah itu. Tujuannya cuma satu, yakni menemukan sahabat sejatinya yang kini bahkan tidak mengangkat teleponnya atau sekedar membalas pesannya sejak kemarin sore tepatnya saat Taemin mendarat di bandara internasional Incheon kemarin. Taemin tau, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mencari sahabatnya itu ditilik dari kesibukan yang akan dihadapinya. Namun sekali lagi, sebagai sahabat yang baik disini ia harus memastikan setidaknya Kim Jong In atau yang biasa ia panggil Kai itu masih hidup dan punya banyak hal lain yang harus di lakukan selain menghindarinya –entah mengapa Taemin berpikir bahwa Kai sedang menghindarinya.

Mungkin hal itu cukup beralasan, meski mereka bersahabat karib namun Taemin dan Kai juga bersaing dalam hal apapun. Termasuk menari. Terlebih setelah comeback Shinee kemarin, nama Taemin semakin bersinar. Hal tersebut membuatnya cukup sibuk bolak balik Jepang-Korea hingga tak sempat menyapa Kai beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya, hal tersebut memberi waktu cukup untuk Kai berlatih lebih giat agar bisa menyaingi sahabatnya itu.

Taemin berhenti di salah satu ruangan yang tertutup yang ia tau sebagai tempat persembunyian Kai. Perlahan ia menarik gagang pintu, dan di lihatnya Kai sedang berlatih menari di sana. Mungkin tidak bisa dikatakan bahwa ia sedang menari, karena Kai hanya mencoba beberapa gerakan sulit, memiringkan kepalanya, mengangguk dan kemudian melakukan gerakan tersebut, begitu berulang-ulang.

Mungkin itulah yang menyebabkan Kai tidak membalas pesan Taemin, karena ia sedang latihan koreografi untuk MV EXO selanjutnya. Tepat pada saat Kai berputar horizontal dilihatnya Taemin sedang bersandar di pintu. Ia berhenti kemudian menatap Taemin lama. Cukup lama untuk reaksi seseorang yang melihatnya sahabatnya yang telah lama tak dilihatnya datang.

“Lee Taemin…” gumamnya pelan sembari mematikan musik dari CD player.

“Yahh!! Kim Jong In!! Begitu kah sikapmu terhadap temanmu yang baru datang??” ejek Taemin setengah hati. Kai tersenyum kilat dan langsung menghampiri Taemin kemudian memeluknya.

“Lalu, kau kesini untuk memamerkan kemenangan mu pada music award kemarin?” tanya Kai. Taemin terkekeh.

“Aku kesini karena setidaknya aku masih berpikir untuk memastikan apakah sahabatku itu masih hidup atau tidak…! Dan soal memamerkan diri, kukira kau mengenalku cukup baik!!” Kai tertawa mendengar jawaban Taemin.

“Yah seperti kau mengenalku!” tambahnya.

“Jadi…itu koreografi untuk MV EXO selanjutnya?” tanya Taemin. Kai mengangkat bahu tidak acuh.

“Banyak hal yang mengganggu pikiranku beberapa hari ini, rasanya sulit untuk berkonsentrasi meskipun kau professional sekalipun!”

“Benar-benar Kai! Bagaimana kalau kita keluar dulu? refreshing! Kau tidak mungkin selamanya mengurung diri disini bukan? Setidaknya kau harus keluar dan bertemu orang-orang!” saran Taemin.

“Aku tidak sedang mengurung diri disini! Dan aku keluar tadi sewaktu membeli ini!!” bantah Kai sambil meminum kopi kalengnya.

“Kau tau bukan itu maksudku. Ayolah! Sekarang kita keluar dari sarangmu ini, dan ah ya! Aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang!”

“Aku sedang tidak ingin berbasa-basi dengan siapapun!” tolak Kai sambil menyesap kopi kalengnya lagi.

“Kau tidak perlu berbasa-basi dengannya. Jung Hyorin orang yang menyenangkan! Kau ingat? aku pernah menceritakannya beberapa kali padamu!” Kai menerawang, mungkin dia pernah mendengar Hyorin atau siapa itu disebut-sebut oleh Taemin.

“Orang yang kau sukai itu?” Kai memiringkan kepala untuk mengingat-ingatnya, Taemin lantas mengangguk antusias.

“Kau tidak takut kalau Hyorin atau siapalah itu melihatku dia malah menyukaiku?” sindir Kai yang malah membuat Taemin terbahak.

“Hyorin tidak mungkin seperti itu! Dia bukan orang yang mudah menyukai sekalipun kau begitu dekat dengannya!”

“Maksudmu…?”

“Dia…dia tidak bisa di tebak! Dari caranya bicara, menatap, tersenyum terkadang kupikir dia juga menyukaiku….yah sampai aku sadar bahwa dia juga memperlakukan semua orang seperti itu!” Taemin tertawa kecil. Kai menatap sahabatnya itu sebentar, kemudian melanjutkan aktivitasnya –minum kopi- sambil berjalan keluar mengikuti Taemin.

“Jadi…dia mempermainkanmu?”

“Tidak! Hyorin bukan orang seperti itu!” sergah Taemin cepat. Terlalu cepat sehingga Kai bisa menarik kesimpulan lain sendiri.

Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan mereka dengan bercerita banyak hal, yah salah satunya mengenai gadis berambut ikal yang disebut-sebut Taemin sebagai malaikat hatinya. Jung Hyorin. Ia juga salah satu siswi di sekolah mereka, berbeda dengan Taemin dan Kai yang memang terkenal karena bakat mereka, yeoja bermata hitam legam itu merupakan siswi biasa. Bahkan terlampau biasa. Ia bukan seorang penari maupun penyanyi seperti kebanyakan siswa di sekolah mereka. Gadis ini hanya menyukai alat musik, seperti gitar dan piano. Tidak heran ia juga mengambil kelas musik akustik, dan belajar banyak dari sana. Termasuk melatih vokalnya yang terlampau biasa-biasa saja jika di dengar.

“Selain itu…Hyorin juga…” Taemin meneruskan ceritanya tentang gadis impiannya itu hingga terkadang membuat Kai muak mendengarnya. Demi Tuhan! Apabila memang Taemin menyukai yeoja yang terlampau biasa itu kenapa ia tidak menyatakan perasaannya saja? Bukankah sudah menjadi impian setiap orang untuk bisa menjalin hubungan dengan seorang yang terkenal seperti Taemin? Jadi mengapa Taemin harus menunggu seperti itu?

“Apa yang kau sukai dari Hyomin itu?” tanya Kai. Taemin mengernyitkan alisnya.

“Namanya Hyorin..!” koreksi Taemin, Kai menggembungkan pipinya tak peduli.  Taemin melanjutkan, “Dia orang yang sangat menarik, aku suka caranya tersenyum dan astaga kalau ia tertawa matanya seolah ikut tertawa!”

“Kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu kalau kau sesuka itu padanya?” kini Kai meletakkan sebelah tangannya di kantong celananya dan kembali meminum kopinya itu.

“Aku…aku sedang mencari kesempatan yang bagus untuk hal itu…” Taemin memiringkan kepalanya sambil menerawang. Kai menyipitkan matanya kesal sembari menatap Taemin, menurutnya Taemin begitu bodoh dengan dalih mencari-cari kesempatan seperti itu. Kesempatan bukan untuk dicari-cari, melainkan harus diciptakan. Dan Kai yakin seyakin-yakinnya kalau Taemin tau akan hal itu. Namun ia memutuskan untuk diam saja, bagaimanapun juga itu hidup Taemin, dan dia bukan orang yang berhak untuk memutuskan segala sesuatunya.

Mereka berhenti di sebuah ruangan, seorang yeoja cantik seusia mereka sedang duduk di sebuah kursi. Ia –gadis itu- tidak menyadari kedatangan dua orang namja tampan karena sedang sibuk mendengarkan sebuah lagu dari mp3 player di tangannya. Gadis berkulit mulus bagaikan porselen itu kemudian memejamkan mata seolah menghayati lagu yang ia dengarkan. Rambut hitamnya tergerai tertiup angin. DEG!

Jantungnya serasa berhenti detak, saat menatap gadis yang kini mengganti posisi duduknya. Sempurna. Mungkin itu satu kata yang dapat mendeskripsikan keindahan yeoja di depannya. Itukah Jung Hyorin?

“Oh? Taemin?” sapanya ramah. Gadis itu memperbaiki duduknya, Taemin tersenyum kecil. Tunggu! Kai menatap sahabatnya heran, kenapa Taemin menunjukkan sikap biasa-biasa saja di hadapan gadis yang sedari tadi di puja-pujanya?

“Itu Jung Hyorin?” bisik Kai ragu. Taemin menatapnya sebentar kemudian tertawa renyah membuat Kai hanya bisa memiringkan kepalanya bingung.

“Kau bercanda? Itu Kwon Min Tae! Dia ketua klub musik, masa kau tidak tau?” Kai mengerjap-ngerjapkan matanya, tentu saja dia tidak tau. Kalau ia tau, ia tidak akan bertanya!

“Min Tae-ah! Sedang apa kau disini?” sapa Taemin. Min Tae tersenyum sambil mengubah duduknya lagi.

“Aku sedang menunggu Hyorin, dia sedang mengambil sesuatu di atas! Kau kapan datang?” Taemin mengambil posisi di sebelah gadis itu, sementara gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan meletakan sikunya di kedua pahanya. Kai yang enggan terus berdiri seperti orang bodoh itu akhirnya mengikuti Taemin, namun belum semenit ia duduk ia mulai merasa tak betah.

Entah kenapa dia merasa begitu kesal kepada gadis yang bernama Jung Hyorin itu, yang entah mengapa sangat lama. Dia merasa kesal pada Taemin yang malah setia menunggu gadis itu. Dan ia kesal melihat Min Tae atau siapapun itu namanya berbicara pada Taemin seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Kai mulai berjalan-jalan gelisah dan menggosok-gosokkan dagunya dengan sebelah tangannya. Apa ia harus pergi saja? Oh, baiklah ia harus mencari alasan agar bisa pergi dari sana.

“Min Tae-ah!! Aku benar-benar minta maaf karena sangat lama…aku..AKH!!!!!” jeritan wanita yang disusul suara benturan yang keras. Kai merasa kepalanya sejenak pusing, ia bahkan tidak bisa bangun. Sesuatu menindih tubuhnya, dan itu sangat berat.

“Hyorin?? Kau baik-baik saja?” seru Taemin. Kai menatap gadis yang tadi menindih tubuhnya dan kini di papah oleh Taemin. Kalau tidak salah tadi Taemin memanggilnya…Hyorin?

“Kau tidak terluka kan? Apa ada yang sakit?” suara Taemin bergetar karena khawatir.

“Apa perlu ke ruang kesehatan?” tanya Min Tae.

“Tidak. Aku baik-baik saja, terima kasih!” Kai menatap yeoja mungil yang dipanggil Hyorin itu, namun saat ia hendak bangun rasa sakit menjalar di kaki kirinya.

“Sebaiknya kita ke ruang kesehatan!!” tukas Kai cuek. Hyorin menatapnya yang berdiri dengan susah payah.

“Aku tidak apa-apa. Sungguh!! Maafkan …”

“Bukan untukmu, tapi untukku!!” ketus Kai dengan wajah yang sama sekali tidak bersahabat. Mata hitamnya mengisyaratkan kemarahan yang jelas. Dan ketika menatap mata itu, Hyorin merasa ingin di telan bumi saat itu juga. Ia takut.

“Kau tidak apa-apa Kai?” tanya Taemin, belum sempat Kai menjawab Taemin berbalik menghadap Hyorin dan menggenggam tangannya.

“Jangan berwajah begitu, Kai akan baik-baik saja!” hiburnya. Kai membuang muka kesal, baik-baik apanya? Bisa jadinya kakinya patah sekarang, dan Taemin masih bisa berkata begitu pada gadis yang telah membuatnya cedera? Demi apapun yang ada di dunia ini, Kai adalah seorang penyanyi terkenal. Dia juga harus memikirkan gerakan tarian untuk MV terbarunya yang sebentar lagi rilis, dan Taemin yang tau itu masih bisa berkata begitu?!! Kai menyipitkan matanya kesal.

Apabila kakinya benar-benar patah, maka…apa yang harus dilakukannya? Apakah Taemin masih akan tetap membela gadis itu? Gagasan itu benar-benar membuat Kai merasa jengkel. Demi Tuhan! Padahal yeoja itu tidak apa-apa, buat apa ia di hibur seperti itu?

Tanpa mengubah ekspresi wajahnya Kai menyeret kaki kirinya itu dan berjalan dengan terseok-seok menuju ruang kesehatan. Peduli apa dengan Taemin yang lebih memperhatikan yeoja itu!

Tau-tau ia merasa ada seseorang yang menyentuh tangannya.

“Aku akan membawamu ke ruang kesehatan, kau sungguh tidak apa-apa?” tanyanya. Mata hitamnya masih menyiratkan rasa takut, namun berusaha di sembunyikan. Kai menatapnya kasar, kemudian membuang wajah dan melanjutkan perjalanan. Namun Hyorin tidak menyerah, ia menghampiri Kai dan mencoba memapah tubuh besar Kai.

“Jangan sentuh aku!!!” sergah Kai kasar sambil menghempas tangan Hyorin, membuat yeoja itu semakin ketakutan.

“Kai!” tegur Taemin, Kai memutar bola matanya dan kembali tak menggubris Taemin.

“Sudahlah, dia akan baik-baik saja! Dia memang seperti itu. Tapi sebenarnya orangnya baik!” lagi-lagi, Taemin menghibur gadis berambut ikal yang menatap sedih kepergian Kai. Sedih, cemas dan takut.

“Apa yang harus kulakukan?” Taemin mengangkat bahu. Menurutnya Kai pasti tidak membutuhkan bantuan Hyorin. Lagipula, cukup tidak adil rasanya menempatkan posisi dimana Kai yang sedang marah besar seperti itu, bisa-bisa Hyorin akan dimakannya.

“Jangan khawatir!” Taemin mengelus kepala Hyorin dan tersenyum.

.

[Now Playing: EXO K – History]

Kai melempar botol minumannya frustasi, dengan langkah tertatih ia menghampiri kursi. Susah payah Kai meredam emosi dan bad mood nya hari ini, bagaimana tidak? Satu gerakan mudahpun ia tak bisa melakukannya! Jangankan meloncat, berdiri dengan benar saja ia kesulitan. Meski manajer dan teman-temannya cukup mengerti keadaannya, tapi hal itu tetap tidak membuat perasaan Kai lebih baik. Dan semua itu gara-gara dia! Gadis berambut ikal kecoklatan dengan mata besarnya yang hitam yang dipanggil Hyorin itu. Gara-gara gadis itu bahkan untuk berjalan saja, ia harus dibantu tongkat penyangga!

“Ah!!!” tongkat penyangga Kai terhempas ke lantai, dengan perlahan ia mencoba meraih tongkat namun tetap menstabilkan kaki kirinya. Sebuah tangan mengambil tongkat penyangga Kai, Kai menyadari si empunya tangan dan kembali membuang wajah.

“Mau apa kau kesini?” sahutnya ketus. Gadis itu terpekur sesaat kemudian menyerahkan tongkat penyangga itu. Kai lantas menuju kursi, berjalan dengan kaki seperti ini benar-benar membuatnya lelah. Dan kelelahannya itu serta merta bertambah ketika melihat si pembuat ulah itu berdiri di depannya.

“Aku kesini untuk menjengukmu…dan…” ia kembali tertunduk menatap kaki kiri Kai. “Meminta maaf!!” lanjutnya. Kai masih diam, tidak menggubrisnya lebih tepatnya.

“Kata maaf mu tidak berguna disini!” Kai memandangnya tajam, dan sekali lagi Hyorin merasa ketakutan. Dia menggigit bibirnya kebingungan. Menurut cerita Taemin kemarin, Kai sedang mempersiapkan tarian untuk MV EXO yang berikutnya. Makanya, Kai bersikap begitu dengan cedera yang di alaminya. Kata Taemin, Kai adalah orang yang keras kepala. Dia lebih suka berlatih menari daripada melakukan hal lain, termasuk istirahat. Jadi wajar saja kalau ia depresi seperti ini. Tapi kewajaran itu membuat perasaan bersalah Hyorin menjadi-jadi.

“Apa yang harus kulakukan? Aniy, Ada yang bisa kubantu?”

“Kau bisa menari?” tanya Kai, Hyorin menggeleng.

“Dengan begitu, keberadaanmu disini benar-benar tidak berguna! Pergi!!”

“Ta…tapi…”

“Kubilang pergi!!”

“Kai!! Hyorin hanya ingin membantumu! Kau tidak perlu berkata kasar begitu padanya!!” sergah Taemin tiba-tiba, sambil menatap Kai lurus-lurus. Kai membuang wajahnya kesal kemudian meraih tongkat penyangganya dengan cepat.

“Kalau begitu aku yang akan pergi!!” tukasnya tajam sambil berjalan keluar. Hyorin lantas mengejarnya. Demi Tuhan! Apakah Kai harus bersikap sinis begitu? Oke baiklah, Hyorin tau dan mengerti dengan jelas mengapa Kai bersikap begitu. Kai memang berhak bersikap sinis begitu, terutama padanya.

“Sampai kapan kau mau mengikutiku?” Kai berhenti di depan ruang kesehatan tanpa menoleh pada Hyorin, ia langsung masuk dan di sambut oleh Ms. Han, guru kesehatan.

“Kai, bagaimana kakimu? Lebih baik? Astaga!! Apa yang terjadi pada matamu? Kau tidak tidur semalam? Oh hai Hyorin, masuklah sayang!” Kai menempatkan dirinya di sebuah kasur sementara Ms. Han mengambil peralatannya untuk mengganti perban di kaki Kai.

Hyorin yang sedang mengamati ruang kesehatan terpaku pada sebuah gitar. Ia mencoba memainkannya sebentar kemudian tersenyum. Kai meliriknya sekilas, kemudian mendengus. Di saat seperti ini, yeoja itu masih bisa tersenyum seperti itu? Bukannya merasa bersalah telah mematahkan kaki –well lebih tepatnya membuat terkilir- malah tersenyum seperti itu.

“Gitar yang bagus!” komentarnya pada Ms. Han yang menghampirinya sesaat kemudian kembali untuk mengganti perban Kai.

“Kai, kau belum pernah mendengarnya menyanyi, kan?” ujar Ms. Han, Kai berpura-pura tidak mendengarkannya.

“Sekarang istirahatlah, dan jangan coba-coba melakukan gerakan berbahaya! Kau tau ligamenmu robek, jadi jangan nekat untuk menari sementara ini! Mengerti?” Ms. Han menghadap Hyorin yang asyik sendiri dengan gitar di tangannya. Dan yang membuat Kai bertambah heran ialah mengapa yeoja pembuat ulah itu begitu senang melihat sebuah gitar? Ia bahkan tersenyum pada sebuah gitar, dan itu adalah senyum yang sama seperti ketika ia melihat Taemin, Min Tae, Ms. Han, dan…Kai? Kai menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghapus pikirannya barusan. Tersenyum padanya? Yang benar saja! Buat apa Jung Hyorin harus tersenyum padanya? Lagipula Kai tidak pernah memberikan alasan pada gadis itu untuk tersenyum padanya.

“Hyorin-ah, aku harus ke ruang kepala sekolah sebentar, kau mau kan menjaga Kai sementara aku pergi?” pinta Ms. Han, Hyorin tersenyum dan mengiyakannya. Kai menutup matanya, berpura-pura tidur.

“Kau keberatan jika aku menyanyi disini?” tanya Hyorin setelah Ms. Han pergi, Kai masih berpura-pura tidak mendengarkannya.

“Aku anggap sebagai iya!” ujar Hyorin sesaat setelah menghela napas berat. Ia mulai memetik gitar perlahan, dari intronya Kai tau lagu siapa itu. Itu adalah lagu Hoobastank, the reason. Lagu yang lumayan sering di dengarnya.  Kai tidak menyangka sama sekali saat gadis itu membuka mulutnya, suara yang terdengar begitu ringan.  Ringan seperti udara. Suaranya memang tidak semerdu Kelly Clarkson atau Mariah Carey. Suaranya…terdengar lebih ringan dan menenangkan. Kai tidak tau mengapa, ia menyukai suara ini. Ia suka alunan musik yang di dengarnya sekarang, ia suka harmonisasi dan improvisasi yang dilakukan oleh gadis berambut ikal itu.

Hyorin tersenyum, ia terus tersenyum sambil menyanyikan salah satu lagu favoritnya itu. Perasannya jauh lebih baik sekarang. Suara yang dimilikinya memang tidak sebagus suara teman-temannya yang penyanyi, tapi ia suka memainkan gitar di tangannya. Ia suka mendengarkan petikan gitar akustik yang menurutnya pas dengan suaranya yang biasa-biasa itu. Dan yang terpenting ialah, ia bisa melupakan segalanya saat ia terhanyut dalam permainan gitarnya.

I’ve found a reason for me

To change who I used to be

A reason to start over new

And the reason is you

Kai menatap gadis bergitar itu tanpa kedip. Ia masih menyanyi sambil tersenyum lebar. Lagi-lagi ia heran mengapa gadis itu bisa terus tersenyum seperti itu padahal sedang menyanyi? Oh, demi Tuhan mengapa yeoja itu memiliki sepasang mata yang indah untuk dipandang? Yang membuat Kai terus memandang matanya…seolah ada emosi yang tersirat di dalamnya. Sebagai seorang penyanyi, tentu Kai mengerti emosi apa yang tersirat disana.

Kai mencoba menahan kantuknya, kelelahan yang ditahannya selama ini, terasa lebih berat dari sebelumnya. Mungkin karena ia tidak tidur semalam dan malam-malam sebelumnya, makanya ia merasa selelah ini. Ataukah karena suara yang ringan dan menenangkan ini mampu menghipnotisnya? Entahlah, yang manapun itu, Kai akhirnya terlelap. Dan itu untuk pertama kalinya sejak 2 minggu yang lalu.

.

I knew I loved you before I met you

I think I dreamt you into life

I knew I love you before I met you

I have been waiting all my life

Siang itu, Hyorin sedang berlatih di ruang musik saat sahabatnya, Kwon Min Tae datang menghampirinya.

“Kau tidak menemuinya?” tanya Min Tae menghentikan latihan Hyorin. Hyorin tersenyum singkat, sudah seminggu sejak insiden dengan Kai. Dia baru saja akan menemuinya. Hyorin menarik napas perlahan, sejak seminggu lalu juga ia resmi menjadi pembantu pribadi Kai. Mulai dari mengumpulkan semua tugasnya, membersihkan dorm –lebih tepatnya kamarnya-, membuat makanan untuknya, bahkan mengantar namja itu kemanapun. Kai memang tidak banyak bicara, dan tatapan matanya masih seseram saat mereka pertama bertemu dulu…seandainya saja matanya bisa membunuh, mungkin Hyorin sudah terkapar saat ini.

“Ms. Han menyuruhku memberikan ini padanya…kurasa aku harus pergi sekarang!” Hyorin kembali tersenyum dan beranjak dari sana sesaat Hpnya berdering.

“Taemin-ah? Wae?” Hyorin tertawa kecil mendengar suara Taemin di sebrang sana. Min Tae hanya menggeleng-geleng saja melihat tingkah sahabatnya itu. Jelas-jelas Lee Taemin menunjukkan perasaan lebih padanya, namun Hyorin selalu menganggapnya sama seperti teman-temannya yang lain. Tapi begitulah Jung Hyorin yang ia kenal.

Kai menyipitkan matanya kesal, kenapa gadis ini tidak bisa di hubungi? Apa dia benar-benar mau membantunya saat ini? Bukankah Kai sudah memerintahkannya dengan jelas untuk selalu mengaktifkan Hpnya? Ia terus menatap benda kecil di tangannya seolah Hp itu punya salah padanya. Merasa semakin kesal Kai melempar botol minumannya kasar tepat saat pintu terbuka.

“Aw!! Kai!!” kesal Hyorin yang menatapnya kasar. Kai berpura-pura tidak melihatnya dan malah asyik membuka buku pelajarannya.

“Jung kau darimana saja? Kalau kau memang tidak mau membantuku seperti yang kau katakan dulu…”

“Aku dari ruang musik!” sela Hyorin sebelum Kai sempat menyelesaikan kalimatnya. Kai hanya memandangnya dingin.

“Aku akan mengumpulkan tugas kalkulusmu, sementara itu kau makan saja ini!” Hyorin meletakkan kotak makanannya di hadapan Kai.

“Apa ini?” Hyorin menghembuskan napasnya tidak sabar, pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja Kai tau apa isinya kotak itu!! Apa-apaan tatapannya itu?

“Kau tidak berpikir aku sedang meracunimu, kan? Kenapa harus bertanya dengan pandangan jijik seperti itu?” dengus Hyorin kesal.

“Kenapa tidak? Bukankah kau sudah mematahkan sebelah kakiku?”

“Aku tidak mematahkannya!! Kakimu hanya terkilir! Dan akan segera sembuh! Jadi berhentilah bersikap dramatis begitu!” lagi-lagi Kai menggertakan giginya sebal, gadis ini pintar berdalih sekarang. “Apa?” tanya Hyorin yang merasa diperhatikan sedari tadi. Kai mengerjap beberapa kali dan langsung mengalihkan pandangannya.

“Belum ada yang bisa memastikan kalau kakiku akan sembuh, Jung!” balas Kai datar. Oh namja ini benar-benar…Hyorin hanya bisa menggigit bibirnya dan menahan kesabaran untuk tidak melempar buku tugas yang dipegangnya saat itu.

Hyorin hanya bisa menggeleng-geleng, bagaimana bisa ia dulu malah menjadi sukarelawan dan melemparkan diri menjadi pembantu pribadi Kai? Siapa sangka Kai begitu menyebalkan? Ia sedikit terbantu karena member yang lain masih bersikap bersahabat padanya, dan membantunya menghadapi sikap sewenang-wenang Kai.

“Oh ya Jung, setelah ini kau harus ke dorm, bersihkan kamarku!” Hyorin mendesah dalam hati, mengapa Kai bisa membuat perasaan seseorang menjadi berat dan muram begini hanya karena satu kalimat darinya?

Memang benar kata orang, penyesalan selalu datang belakangan.

.

Kwon Min Tae baru saja hendak mengunci pintu ruang klub saat melihat Hyorin berjalan menuju mobilnya bersama…Kai. Min Tae memandang pasrah pada sahabatnya itu, sebenarnya ia kasihan pada Hyorin yang diperlakukan benar-benar seperti pembantu oleh Kai. Apa Kai tidak pernah berpikir bahwa Hyorin telah dengan sukarela menawarkan bantuan sebagai penebus rasa bersalah karena membuat namja itu tidak bisa berjalan, apakah masih perlu memperlakukan Hyorin seperti memang Hyorin lah yang sengaja mencelakainya? Demi apapun juga, kalau Hyorin memang sengaja membuat namja itu cedera, ia pasti tidak membuat kaki namja itu hanya sekedar terkilir.

“Min Tae-ah, kau ada waktu?” seorang namja mengejutkannya. Ia kemudian mengangguk ragu.

“O, waeyo Taemin-ah?”

“Mau makan siang denganku?” tawar Taemin, Min Tae mengangguk. Ada apa lagi? Apakah Taemin akan menceritakan kekesalan pada sahabatnya yang telah menjadikan orang yang disukainya sebagai pembantu? Seperti yang biasa ia lakukan.

“Apakah Hyorin ada bilang sesuatu padamu?” tanya Taemin tanpa basa-basi. Min Tae mengangkat bahu, begitulah Hyorin yang ia kenal. Ia tidak pernah menunjukkan emosinya dengan kata-kata. Namun siapapun kalau melihat wajah tertekannya itu pasti akan menyadarinya kalau ia berada dalam situasi yang tidak bisa dikatakan menyenangkan.

“Ah ini salahku membawa Kai hari itu!! Padahal aku sudah berulang kali memberitaunya untuk tidak menyulitkan Hyorin!” sesal Taemin. Tapi itu tidak ada gunanya, bukan? Tidak ada yang bisa mengulang terjadinya hari itu, dan sekarang Hyorin tetap dijadikan budak oleh Kai!

“Tenang saja, Hyorin pasti akan baik-baik saja! Dia cukup kuat kok!” entah mengapa Min Tae malah menghibur Taemin sekarang, bahkan dengan kata-kata yang tidak terpikirkan sama sekali oleh otaknya, bahkan tidak diproses dulu oleh logikanya. Kata-kata yang langsung meluncur begitu saja itu cukup membuat Taemin senang mendengarnya. Tidak cuma kata-kata itu, tapi semua kata-kata yang pernah diutarakan gadis disisinya ini. Taemin tersenyum penuh arti, seolah baru menyadari bahwa Kwon Min Tae adalah gadis yang menarik dan sempurna yang pernah dilihatnya.

.

“Jung bersihkan itu, dan jangan sentuh barang-barangku!”

“Cuci pakaian yang di keranjang itu!”

“Bukan yang itu, itu punya Sehun! Berapa kali harus kukatakan padamu?”

“Kau tidak tau caranya menyapu ya? Disini masih kotor!! Yaa! Kau tidak berpikir untuk menyuruhku melakukannya sementara kakiku begini, kan?”

“Jung! Siapa yang menyuruhmu berhenti? Cepat selesaikan tugasmu, dan buatkan aku makan siang!” perintah Kai seenaknya, kini ia sedang duduk di atas kursi dapur yang agak tinggi sambil memperhatikan yeoja itu melakukan dengan benar sesuai apa yang disuruhnya. Kalau bukan karena rasa sabarnya yang luar biasa, Hyorin pasti akan membuat lantai ini licin sehingga namja itu terpeleset dan tidak bisa berjalan sama sekali.

Demi Tuhan apa yang barusan dipikirkannya? Kalau begitu bukankah Kai akan semakin sengit memerintahnya? Gagasan tersebut membuat Hyorin kembali mendesah kesal.

“Berhentilah mengeluh Jung, bukankah kau sendiri yang menawarkan bantuan?” Hyorin mendecakkan lidahnya kesal, padahal dulu Kai lah yang tidak ingin bantuannya bahkan menyuruhnya jauh-jauh darinya. Kalau seperti ini sih…

“Aku tidak mengeluh!! Aku bahkan tidak berkata apa-apa sejak tadi! Bukankah kau yang sejak tadi menyuruh dan menceramahiku dengan kata-kata sinis andalanmu itu?” omel Hyorin membuat Kai menyipitkan matanya. Memang benar sih, Hyorin tidak berkata apa-apa. Tapi ekspresinya itu seolah menunjukkan protes besar pada Kai.

“Apa? Tidak punya kata-kata untuk membalasku?” cecar Hyorin lagi.

“Kau pintar melawan sekarang Jung! Itu menakutkan!” Hyorin tiba-tiba tertawa kecil mendengar komentar Kai. Aneh! Yah hal ini memang aneh. Mungkin mood Kai sudah berubah pelan-pelan, meski ia terkadang tetap sejutek dulu. Tapi setidaknya ia tidak keberatan untuk berbicara dengan Hyorin sekarang.

Suara dering Hp terdengar memecah kebisuan yang tercipta kembali di antara mereka. Hyorin tersenyum lebar melihat siapa yang menelponnya kali ini.

“Jinyoung oppa!!” sapanya ramah. Kai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hampir setiap hari gadis ini selalu menerima telepon dari namja yang entahlah dia tidak peduli –selain dari Taemin tentunya- dan setiap kali menerimanya, ia selalu terlihat bahagia dan tersenyum lebar. Kai menautkan kedua alisnya, kenapa yeoja itu selalu bersikap begitu pada semua orang? Bahkan pada tukang kebun atau tukang parkir, ia juga bersikap seolah mengenal mereka sejak lama.

Kenapa dia harus selalu tersenyum seperti itu kepada semua orang? Pikir Kai sementara matanya terus mengawasi Jung Hyorin dari tempat duduknya sekarang.

Kai merasa terusik saat melihat Hyorin tertawa lepas seperti itu. Tawanya…Taemin benar, tawanya benar-benar menyenangkan untuk dilihat dan didengar. Matanya seolah ikut tertawa. Dan astaga mata itu! Kai tidak bisa berkedip saat menatap mata besar milik Hyorin.

Demi Tuhan! Kenapa Jung Hyorin yang sedang tertawa lepas seperti itu malah membuat perasaan Kai muram, semuram langit mendung ketika badai menjelang?

Karena gadis itu tertawa dan tersenyum untuk orang lain? Sebuah suara kecil terlintas dalam pikirannya. Kai mendengus dalam hati. Oh yang benar saja? Pikiran macam apa itu?

“Makan malam? Boleh juga oppa!! Ne, di tempat biasa ya!” Hyorin yang sejak tadi menyapu akhirnya selesai juga.

“Kalau kau bertelponan seperti itu, kapan tugasmu akan selesai?” sindir Kai, Hyorin menatapnya tajam seolah memberi peringatan kemudian dia melanjutkan pembicaraan dengan orang itu sebentar dan menutup telponnya.

“Kau tidak bisa melihat orang senang sebentar ya?”

“Kau senang karena ditelpon penggemar-penggemarmu itu?” tanya Kai sakartis.

“Kai…” Hyorin menutup mulutnya, sepertinya lagi-lagi Kai sedang kesal.

“Aku ga akan mendengarmu! Jadi jangan mengajakku bicara!” kesal Kai seperti anak kecil, membuat Hyorin malah tertawa. Kai terperangah, baru kali ini Jung Hyorin tertawa seperti itu padanya.

“Jangan tertawa Jung, itu tidak lucu! Dan cepat selesaikan tugasmu!! Menyebalkan!” Kai mengalihkan pandangannya, entah kenapa wajahnya terasa panas sekarang.

.

[Now playing: Super Junior – Miracle]

“Bagaimana kakimu?”

“Kata dokter tidak akan sembuh secara ajaib selama 2 minggu! Kenapa? Kau ingin menikmati masalah yang kau buat?” tanya Kai kesal sambil mengibas-ngibaskan tangannya dan membuka pintu dorm. Hyorin mengikutinya ke dalam sambil menggigit bibir menahan kekesalan. Dan ia pasti sudah gila saat membantu namja di hadapannya melepas sepatu.

Semula Hyorin pikir Kai akan memarahinya karena menyentuh sepatu miliknya, namun di luar dugaan Kai hanya diam saja. Ia malah menyandarkan dirinya dikursi sembari menutup mata. Lama Hyorin menatap wajahnya. Sebenarnya Kai memiliki wajah yang manis, kalau saja ia bisa tersenyum pada orang lain mungkin akan banyak yang menyukainya. Hyorin menahan napas ketika melihat namja yang sedang ditatapnya itu menatap balik dirinya. Dan tatapan itu bukan tatapan seram seperti dulu. Tatapannya…

Ada apa denganku? Kenapa aku berdebar-debar begini melihatnya? Bukankah aku sudah sering melihatnya? Tapi kenapa sekarang? Hyorin mencoba menenangkan dirinya dengan mengatur napas yang sempat tersendat tadi. Tarik…keluarkan…tarik…keluarkan….

Merasa sedikit tenang, Hyorin lantas duduk di sebelahnya. “Berapa jam kau tidur semalam?”

“Kenapa kau begitu penasaran dengan jam tidurku?” jawab Kai malas.

“Kau terlihat lemah, pucat dan astaga! Matamu seperti mata panda!! Mestinya kau istirahat, kau tidak mau kan dilihat penggemarmu dengan keadaan seperti ini!?”

“Aku tidak bisa tidur, kau tau? Kaki ini menyiksaku!!”

“Tapi kau tidur nyenyak di ruang kesehatan waktu itu!! Seharusnya kau tidur di sana saja!”

“Lucu!” balas Kai datar. Ia kembali menyandarkan tubuhnya, kini lebih dekat dengan Hyorin hingga ia mampu mencium bau shampoo yang dipakai yeoja itu. Bau apel…dan jujur saja Kai kurang suka baunya, tapi entah mengapa saat ini ia merasa lebih tenang.

DEG!! Jantung Hyorin serasa meloncat dari rongganya saat disadarinya tangan milik Kai menggenggam tangannya. Ia bergumam pelan dan melirik Kai hati-hati, matanya terpejam. Apakah ia tertidur?

Kai tau ia seharusnya melepaskan genggaman tangannya sebelum keadaan berubah menjadi canggung. Tetapi anehnya, ia tidak ingin melakukan itu. Anehnya, tangan Hyorin terasa pas di tangannya. Anehnya memegang tangan gadis itu semuanya terasa benar. Begitu pula dengan perasaannya yang terasa lebih ringan sekarang. Seolah beban dan segala kepenatannya selama ini menguap tak berbekas.

“Kau bilang tidak bisa tidur karena kakimu? Tapi kenapa sekarang malah tidur?” gerutu Hyorin. Ia melirik jam tangannya. Sebaiknya ia membangunkan namja itu dan pulang sebelum malam semakin larut. Namun ia segera mengurungkan niatnya saat memandang wajah namja yang terlihat pucat dan lelah itu. Mungkin sebaiknya ia membiarkan Kai tidur sebentar.

Hyorin tidak tau mengapa ia melakukannya, tetapi ketika melihat kepala Kai yang terkulai miring seperti itu ia perlahan bergeser lebih dekat ke arah Kai. Lalu dengan satu tangan meraih kepala Kai dan meletakannya dengan hati-hati di bahunya sementara Kai masih terus menggenggam tangannya.

“Kai, kau benar-benar merepotkan!” gumamnya pelan.

Namun ia tidak bisa menjelaskan mengapa ketika kepala Kai bersandar di bahunya, segalanya terasa sempurna.

.

Hari demi hari berlalu, semenjak Hyorin menawarkan bantuan untuk menjadi kaki kiri Kai ia jadi semakin sering menghabiskan waktu bersama namja itu. Pelan tapi pasti, Hyorin mulai terbiasa dengan keadaannya. Ia mulai terbiasa datang ke dorm dan melakukan tugasnya. Ia terbiasa untuk melihat Kai dan mendengarkan celotehan panjangnya di setiap harinya. Seakan berada di dorm EXO itu adalah tempatnya yang seharusnya.

“Yo, Hyorin-ah…kenapa kau tahan sekali diperlakukan seperti itu oleh Kai?” tanya Sehun, salah satu member EXO padanya suatu hari saat ia tengah membuat makan siang.

Hyorin menghela napas sejenak, “Bagaimanapun juga aku harus bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat, kan?” Sehun memberengut mendengar jawaban Hyorin. Menurutnya itu bukan jawaban yang sebenarnya. Itu hanyalah jawaban standar yang biasa diberikannya kepada orang-orang yang bertanya. Tapi Sehun memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut mengenai itu.

“Kau percaya tidak kalau Taemin memiliki perasaan lebih padamu?” tanya Sehun lagi dengan tampang imutnya membuat Hyorin tertawa kecil. Kenapa semua orang menanyakan hal itu padanya?

“Aku tau…” jawab Hyorin jujur.

“Geurae? Jadi kau akan menerimanya jika ia menyatakan perasaannya?” Hyorin menggigit bibirnya, kilatan masa lalu menghujam dirinya. Otaknya sejenak membeku membuatnya susah untuk berpikir. Kemudian ia menutup mata, tersenyum dan mengibaskan tangannya, “Taemin itu temanku yang baik, lagipula dia artis! Mana mungkin seperti itu!”

“Lalu bagaimana jika aku yang menyatakan perasaanku? Kau tidak akan menerimanya?” tanya Sehun lagi polos, Hyorin hanya mengernyitkan hidungnya kemudian tertawa renyah seperti biasa.

“Bagaimana dengan Kai?” Hyorin tertegun. Bagaimana dengan Kai? Ya, bagaimana jika Kai mempunyai perasaan lebih padanya? Senyum Hyorin merekah, kemudian dia berbalik menghadap Sehun yang meletakkan dagunya di atas kedua tangannya.

“Kalaupun dia memiliki perasaan lebih padaku, itu bukanlah perasaan cinta! Tidak mungkin!” Hyorin kemudian mengalihkan matanya, kenapa perasannya jadi muram begini? Padahal memang seperti itulah kenyataannya. Hyorin memang tidak berharap Kai akan berhenti membencinya, namja itu berhak membencinya atas semua yang dilakukannya untuk menghancurkan hidupnya.

Hyorin menghela napas, matanya menerawang teringat akan malam saat Kai tidur di bahunya, dan menggenggam tangannya.

Itu bukan perasaan cinta. Bukan. Pikirnya sambil memantapkan hati dan pikirannya.

Lalu…bagaimana dengan perasaan Hyorin terhadap Kai? Entah mengapa ia sendiri ragu untuk menjawabnya.

.

[Now playing: Sabrina – The Reason]

Hyorin-ah, kutunggu di D.Lite café jam 8 nanti malam

Hyorin tersenyum menatap layar Hpnya dan dengan cepat membalas sms dari oppanya tersebut. Sungguh, bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan untuk bertemu oppanya yang telah lama tidak dilihatnya semenjak perceraian orang tuanya.

Hyorin menghembuskan napasnya kasar apabila mengingat kejadian 10 tahun itu. Ia berbaring sambil memandang keluar jendela ke arah sekumpulan rumah-rumah tua yang terbuat dari batu abu-abu licin. Terkadang ada orang-orang yang keluar masuk menjemur cucian di balkon-balkon rumah mereka. Kemudian ia menatap pigura di sisi kanan dinding kamarnya, pigura itu adalah foto keluarganya. Setidaknya ia, Jinyoung, dan umma.

Ia ingat sekali gambaran ketika orang tuanya berkelahi setiap malam, tangisan dan raungan ummanya yang memilukan, serta kata-kata kasar beserta sumpah serapah yang kerap terdengar.

Bagaimana sosok appa yang dulu dibanggakannya berubah menjadi monster mengerikan yang hampir menghabisi nyawa ummanya. Bagaimana harta dan tahta dapat mengubah manusia menjadi penguasa yang bersikap sewenang-wenang, bahkan menganggap dirinya Tuhan yang bisa menghabisi nyawa orang lain.

Dan di malam itu…

[Hyorin’s POV]

Aku terbangun dari tidurku, saat itu hujan turun dengan lebatnya. Aku lantas beranjak menuju jendela kamarku yang terbuka. Jinyoung oppa sedang pergi bersama teman-temannya ke tempat ulang tahun salah satu temannya yang lain. Appa? Dimana appa? Ah iya, tentu saja appa sedang mengadakan jumpa pers di Kota lain. Makanya hari ini oppa bisa dengan bebas keluar tanpa harus berseteru keras dengan appa.

Appa adalah seorang model laki-laki yang cukup terkenal. Ia sama terkenalnya dengan artis-artis papan nama Korea lainnya. Tidak ada orang yang tidak mengenal appa yang dikenal dengan ketampanan dan kemurahatiannya. Semua orang tergila memujinya. Termasuk umma.

Ngomong-ngomong, dimana umma?

“Hyorin-ah, jangan berdiri disini, nanti kau masuk angin! Cepatlah tidur ya!” umma tersenyum lembut sembari menggendongku kembali ke tempat tidur.

Umma masih membelai kepalaku seraya menceritakanku sebuah dongeng yang setiap malam kudengar. Begitu terus sampai aku nyaris terlelap saat kudengar suara pintu yang terbanting nyaring. Aku bergidik dan menarik tangan umma agar tetap berada disisiku, namun teriakan appa yang terdengar mabuk membuat umma harus meninggalkanku sendiri.

Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, aku tak tau mengapa appa pulang dan marah-marah seperti itu, aku bahkan tidak tau mengapa tiba-tiba kudengar suara benturan dan jeritan umma. Air mataku menetes deras saat kudengar jeritan memilukan dari wanita yang telah melahirkanku itu. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bergelung di bawah selimut gemetar dan ketakutan, berharap semua itu cepat berakhir. Seperti malam-malam sebelumnya.

“Oppa…aku takutt…cepatlah pulang…”

Namun tiba-tiba saja rasa penasaranku bangkit ketika mendengar tak ada jeritan dan suara barang-barang yang dibanting. Aku memberanikan diriku keluar dan mencari ummaku. Saat kutemukan, umma sedang meringkuk bersandar di dinding. Rambutnya berantakan, dan darah dari bibirnya yang robek tercecer dimana-mana.

“Umma? Gwaenchana?” tanyaku dengan suara serak menahan tangis. Kulihat umma berusaha mengelap bibirnya ketika menyadari keningnya juga turut mengeluarkan banyak darah. Bahkan dindingpun terdapat tetesan darah umma.

Umma memelukku dengan tubuhnya yang bergetar hebat, “Kenapa kau bangun lagi sayang, masuklah!” ujarnya sambil menghapus air mataku. Tiba-tiba kulihat appa muncul dengan mata yang berkilat-kilat penuh emosi. Ia langsung melempar semua pakaian umma ke lantai.

“Dasar yeoja tidak berguna, pergi dari rumahku sekarang juga!!” seru appa menggelegar. Dan begitulah sosok appa yang dulunya kubanggakan, tiba-tiba berubah drastis dimataku. Ya, pada saat ia memukulkan ikat pinggang berkepala besi itu kepada kami, begitu terus menerus. Sampai kurasakan napas umma yang tersengal. Aku menjerit histeris ketika kulihat umma tumbang dimataku dengan darah bersimbah dari sekujur tubuhnya.

Dan itu semua karena appa.

Begitu sadar kulihat umma terbaring lemah disisiku, kini aku bisa melihat dengan jelas luka-luka serta lebam di sekujur tubuhnya. Rasa berat dimataku kembali menyerang, aku berusaha keras memeranginya. Kalau aku memejamkan mataku, kejadian malam itu akan kembali menghantuiku. Dan, aku menutup telingaku keras-keras agar bayangan itu berhenti berkelebat dalam pikiranku

Kuselusuri wajah umma yang pucat dan lemah itu, luka di bibirnya sudah mulai mengering dan luka di keningnya juga sudah di perban.

“Kau mau makan?”  tanya Yong ahjumma, aku masih menatap umma kemudian menggeleng lesu. Nampaknya Yong ahjumma mengerti perasaanku, kemudian ia mengelus kepalaku perlahan.

“Entah apa yang dipikirkannya saat memilih menikahi model itu! Padahal orang itu selalu saja menyiksanya seperti ini!! Tapi dia malah berusaha menutupi dan tidak pernah berpikir untuk menceraikannya!” gerutu Yong ahjumma, aku menunduk. Apakah yang dimaksud Yong ahjumma itu appa?

“Dia pikir dia bisa menyelamatkan pernikahannya, tapi apa yang didapatnya setelah membela laki-laki itu?” Yong ahjumma masih saja menggerutu.

Seminggu kemudian umma telah kembali sehat seperti sedia kala, tapi kami tidak kembali ke rumah. Umma membawaku tinggal di Chunhan, tinggal bersama kenalannya. Sedangkan oppa melanjutkan sekolahnya ke Amerika, dan sebulan kemudian umma meninggal dunia.

Kemudian aku kembali ke Seoul, tinggal bersama Yong ahjumma sampai aku SMP. Selanjutnya, aku memutuskan segalanya untuk diriku dan mulai hidup mandiri sampai sekarang. Tanpa menoleh pada masa lalu yang terkunci rapat dalam memoriku.

Kabar terakhir yang kudengar, appa meninggal karena keracunan alkohol. Dan sejak saat itu aku bertekad untuk tidak berurusan dengan orang-orang terkenal seperti appa.

.

[Author POV]

Sekarang baru jam setengah tujuh lewat, Hyorin yang tidak bisa menahan diri akhirnya bangkit dari tempat tidurnya dan mulai mencari baju yang bisa ia pakai untuk makan malam bersama oppanya. Mungkin sedikit berlebihan apabila ia harus mempersiapkan segala sesuatu jika hanya untuk sebuah makan malam, kan? Yah, mau bagaimana lagi jika acara makan malam yang di tunggu-tunggu ini di adakan oleh oppa yang telah lama tidak kau lihat.

Hyorin kembali mengaduk pakaian yang ada di lemarinya, mencoba mencari sesuatu yang tidak terlalu mengerikan untuk dipakai. Mata Hyorin tertuju pada gaun hijau daun yang lembut pemberian oppanya. Gaun ini tidak begitu mengerikan, satin dan lembut. Ia mencoba mengenakannya.

”Hmm? Tidak buruk? Sebenarnya aku lumayan cantik juga, kan?” bisiknya seraya mematut diri di depan cermin. Lama ia berputar-putar di depan cermin sampai dering Hp nya terdengar.

DEG! Mendadak jantung Hyorin seperti berhenti berdetak, ”Kai??” kening Hyorin mengerut melihat sebuah pesan yang ditujukan Kai padanya.

 Jung, apa yang kau lakukan malam ini?

Belum sempat membalasnya, Kai sudah mengambil tindakan lain. Mau tak mau Hyorin mengangkat telponnya dengan perasaan tak yakin.

”Yeoboseyo.” jawab Hyorin malas.

”Kau terdengar bosan?” Hyorin menggigit bibirnya, mencoba menenangkan diri ketika mendengar suara namja itu. Kendalikan dirimu Hyorin!

”Kau baik-baik saja?” tanya Kai lagi. Aku baik-baik saja, malah jauh lebih baik sekarang.

”Aku baik-baik saja, Kai! Ada perlu apa?” Kai mendesah pelan.

”Kau tidak keberatan menemaniku ngobrol, kan?” Hyorin tersenyum singkat, sejak kapan Kai menanyakan apakah ia keberatan atau tidak? Apa yang terjadi padanya? Apa dia salah makan?

”Baiklah, apa yang ingin kau obrolkan?”

”Entahlah, aku juga tidak tau…” Kai mengerutkan alisnya, ”Kenapa kau tidak kesini saja? Aku merindukan…” Kai menarik napasnya perlahan.

”Kau merindukanku?” gurau Hyorin sebelum Kai sempat melanjutkan kata-katanya.

”Kopimu, Jung! Aku merindukan kopimu!” bantah Kai, membuat Hyorin tertawa. ”Apa bedanya? Kopiku. aku!” ia masih tertawa. Kai benar-benar membuat perasaannya jauh lebih baik sekarang.

”Apa yang bisa kau lakukan tanpaku, Kai? Tapi maaf, aku tak bisa malam ini aku ada janji dengan oppaku!” Kai menyipitkan matanya. ”Kau akan berkencan dengan salah satu pengagummu?” sinisnya.

Hyorin menarik napas pelan, lagi-lagi mood namja ini berubah. ”Jam berapa kau tidur semalam?” tanyanya.

”Jangan mengalihkan pembicaraan, Jung! Lagipula, kenapa kau begitu terobsesi dengan jam tidurku?”

”Karena kau akan berubah menjadi mengerikan kalau kau tidak tidur dengan nyenyak. Jadi, jam berapa kau tidur semalam?” tanpa disadari, senyum merekah dibibir Kai. Bagaimana bisa yeoja ini tau kebiasaan yang bahkan tidak diketahui banyak orang bahkan teman-teman satu dormnya?

”Seperti biasa, memangnya kenapa?”

”Kau harus tidur sekarang, sebelum kau mulai memangsa orang lain lagi!”

”Aku tidak bisa tidur!!”

”Oh! Berhentilah bersikap kekanak-kanakkan, Kai! Kau cukup berbaring dan pikirkan hal-hal gembira yang membuatmu lebih tenang!” hal-hal gembira yang membuatku lebih tenang? Kai mengerutkan alisnya. Sepertinya tidak ada.

Tunggu! Saat itu…hanya dengan mendengar petikan gitar akustik dan suara yang sehalus dan seringan udara itu mampu membuat perasaannya jauh lebih tenang.

”Nyanyikan aku sebuah lagu!” pinta Kai manja. Dan suara berat milik Kai barusan kembali sukses membuat perubahan signifikan terhadap debaran jantung Hyorin.

”Kau pikir akan tertidur dengan laguku? Memangnya suaraku segitu membosankannya kah sampai-sampai kau akan tertidur begitu mendengarnya?” Hyorin mendengus kesal, namun Kai malah tertawa,  ”It’s working at the last time!” balasnya. Hyorin memiringkan kepalanya sebentar sembari menimbang-nimbang dan akhirnya ia putuskan untuk mengambil gitarnya dan memposisikan Hpnya dengan benar. Ia berdeham sebentar, kemudian mulai memainkan gitarnya.

Maybe it’s a intuition

Something you just don’t question

(Look in your eyes) I see my future in an instant

(And there it goes) I think I’ve found my best friend

 

I know that it might sound more than a little crazy

But I believe…

 

I knew I loved you before I met you

I think I dreamt you into life

I knew I love you before I met you

I have been waiting all my life

[Sabrina- I Knew I Loved You]

”Terima kasih, aku merasa jauh lebih sekarang!” Kai menatap dinding lurus-lurus, seolah Hyorin berdiri di depannya sekarang.

”Apa sih yang bisa kau lakukan tanpaku?” Hyorin terkekeh seraya meletakkan gitarnya kembali.

”Entahlah…aku tak bisa membayangkannya…” gumam Kai pelan, sangat pelan sampai-sampai angin mampu menenggelamkan suaranya.

”Aku tau. Selamat malam, Kai!” Hyorin menutup flip Hpnya dan kembali mendesah pelan.

Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku berdebar-debar begini? Apa aku…menyukainya?

DEG!! Jantungnya kembali bereaksi lebih cepat dari yang sudah-sudah saat kata ’suka’ terbesit dalam pikirannya.

Apa yang kau lakukan Hyorin? Kai adalah seorang artis! Kau tidak mau hal yang sama terulang lagi padamu, kan? Kau tidak ingin memiliki nasib yang sama seperti umma, kan? Demi Tuhan Hyorin…seharusnya kau tak boleh begini…kau tak boleh menyukai namja itu! Kau tak boleh menyukai Kai!

.

“Kai tidak melakukan apapun padamu, kan? Dia tidak menyusahkanmu?”

“Hmm, begitulah! Tenang saja Taemin-ah, aku sendiri yang menginginkan ini…” Hyorin menggigit bibirnya. Menginginkan ini? Yang benar saja!!

“Jadi…aku harus melakukannya!” benarkah? Hyorin sendiri mulai meragukan kata-katanya.

“Kau mau aku membujuk Kai untuk itu? Dia memang keras kepala, tapi dia tidak pernah…”

“Tidak apa-apa, Kai…bersikap sangat …” Hyorin menghela napas panjang, tidak mungkin ia mengakui apa yang sempat melintas dalam pikirannya, kan? “Jauh lebih baik sekarang!” lanjutnya.

“Kau sudah makan? Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku tau restoran yang enak di sekitar sini!” ajak Taemin, Hyorin kembali menggigit-gigit bibirnya sejenak. “Ah mianhae, Kai memintaku menemaninya hari ini!” sesal Hyorin.

Taemin terdiam sesaat, Kai? Oke, sekarang dia merasa tidak aman ketika nama ‘Kai’ disebut-sebut oleh yeoja yang sedang ditelponnya ini. Bukan karena khawatir Kai akan melakukan sesuatu pada Hyorin, tapi justru ia khawatir apabila Kai tidak melakukan apa-apa. Akhir-akhir ini mereka sering menghabiskan waktu bersama. Seolah tak ada waktu lagi buatnya.

Tapi bukan itu yang ditakutkannya. Kai memang bukan orang yang mudah ditebak, dan meski ia keras kepala sekalipun perasaan seseorang bisa berubah. Terutama bila berhadapan dengan Jung Hyorin. Taemin khawatir bila Kai mengambil gadis itu dari sisinya.

Gagasan itu membuat Taemin semakin khawatir dan kacau. Demi Tuhan, selama ini ia dan Kai tidak pernah memperebutkan apapun. Bahkan meski mereka sering bersaing dalam berkarir, tidak pernah sekalipun membuat perasaan Taemin menjadi uring-uringan seperti ini.

”Taemin, gwaenchana??” yeoja disebrang sana cukup mengejutkan Taemin. Ia mengerjap-ngerjap. ”Gwaenchana, aku bisa makan bersama para hyung ku hari ini!” kemudian mematikan teleponnya.

Tidak mungkin terjadi sesuatu di antara mereka, kan? Taemin tersenyum dengan kata hatinya yang cukup optimis. Tak sampai semenit kemudian ia kembali menekan sebuah nomor.

”Hello? Min Tae-ah, ini aku. Kau sibuk? Bagaimana kalau kita makan siang? Ada yang ingin kubicarakan!”

.

”Kau bilang kau tau restoran paling enak disini, kau yakin ini tempatnya?” tanya Kai pada Hyorin ketika mereka sudah keluar dari mobil lalu ia berdiri di depan restoran dan mengintip ke dalam dari jendela.

Hyorin mengangguk. ”Ya, aku dan Min Tae sering makan disini. Ayo masuk!”

Kai masih terlihat ragu. ”Jung aku tidak berpikir aku akan masuk.” Hyorin, yang sudah berdiri di depan pintu masuk menoleh dan menatap Kai dengan alis terangkat. ”Kenapa?”

”Entahlah…kurasa disini terlalu ramai. Bagaimana kalau ada yang tau identitasku?” Hyorin tertawa. ”Kau ini terlalu konyol, memangnya semua orang disini harus mengenalmu? Berhentilah mengeluh kalau kau mau makan dan masuk!”

Kai masih tidak bergerak dari tempatnya. ”Oh, jangan merajuk disini Kai, kau membuatku malu dilihat orang-orang!” Hyorin lantas menggandeng siku Kai berusaha membujuk namja keras kepala itu agar mau mengikutinya. ”Kau boleh meneruskan rajukanmu di dalam! Bagaimana?”

Hyorin membiarkan tangannya meluncur mendekati pergelangan tangan Kai dan menarik-narik ujung jaket Kai. Sepertinya usahanya cukup berhasil ketika dilihatnya Kai mendesah tanda menyerah dan membiarkan dirinya ditarik oleh Hyorin masuk ke dalam. Namun tiba-tiba Kai memutar pergelangan tangannya dan menggenggam tangan Hyorin. Dan saat itu Hyorin yakin jantungnya telah berhenti berdetak ketika merasakan kulit Kai menyentuhnya.

”Baiklah!” gumam Kai pelan sambil membuka pintu restoran dengan tegas. ”Ayo selesaikan ini dengan cepat sebelum semua orang menyadari kehadiranku!”

Hyorin tersenyum seraya menatap Kai, namun ia membiarkan Kai tetap menggenggam tangannya sampai mereka masuk ke dalam.

.

Lee Taemin sedang berjalan menyusuri trotoar bersama Min Tae yang siang itu sedang menemaninya makan siang ketika melihat Kai turun dari mobil hitam yang diparkir di sebrang jalan sana.

”Oh lihat! Itu Kai!” seru Min Tae sambil menunjuk namja berjaket hitam itu. Sebelum sempat Taemin memanggilnya, ia melihat Hyorin turun dari mobil itu. Taemin tidak bisa menahan senyum yang otomatis tersungging di bibirnya. Ia baru hendak bergegas menghampiri Hyorin dan Kai ketika ia melihat Hyorin mendadak menggandeng siku Kai, lalu mendongak menatap Kai dan mengatakan sesuatu sambil tersenyum lebar. Lalu Hyorin menarik ujung lengan mjaket Kai, berusaha mendesak namja itu mengikutinya.

Namun bukan itu yang Taemin mematung di tepi jalan.

Yang membuat Taemin mematung di tepi jalan ialah ketika ia melihat Kai meraih dan menggenggam tangan Hyorin. Cara Kai menggenggam tangan Hyorin terlihat ringan dan akrab, seolah-olah ia sering melakukannya.

Taemin memang tidak bisa melihat raut wajah Kai saat itu, namun ia bisa melihat raut wajah Hyorin dengan jelas. melihat Hyorin menatap Kai dengan tatapan seperti itu membuat dada Taemin terasa nyeri dan berat. Jelas sekali gadis itu tidak menatapnya dengan cara yang sama ketika menatap Kai. Jelas sekali terlihat di matanya bahwa Jung Hyorin menyukai Kai.

”Hei, itu…Hyorin kan?” tanya Min Tae, Taemin menghembuskan napas perlahan dan rahangnya mengeras. ”Ayo kita pergi!” ujarnya sambil berbalik arah.

.

[Now playing: Sabrina – Telephone]

”Ayo kita rayakan kesembuhan kaki Kai dan kemenangan kalian di Mnet tadi!! Cheers!” seru manajer EXO, para member yang lain langsung bertos ria dan tertawa-tawa sementara Kai bersandar di salah satu kursi sambil menatap layar Hpnya tajam.

Ia mendesah keras, sudah seminggu sejak perban di kakinya dilepas dan sudah sejak seminggu yang lalu itu pulalah ia mulai merasakan kehidupannya lagi kembali seperti sedia kala. Rasanya seperti bernapas lega, namun bedanya bernapas kali ini tidak menggunakan oksigen. Terasa lebih aneh dan hambar. Kai mengalihkan pandangannya ke arah para penyanyi di panggung atas sana. Ia menutup mata menahan kekosongan dan rasa hambar tadi.

Dan sudah seminggu itu juga gadis itu tidak menghubunginya.

”Apa karena kakiku sembuh lantas dia mau pergi begitu saja?” lagi-lagi Kai mendesah, kali ini Suho menatapnya dengan alis terangkat sebelah.

”Kau tidak minum?” tanya Suho. Kai tetap tak bergeming dan mengabaikan pertanyaan itu. Suho beringsut mendekatinya.

”Dia tidak ada menghubungimu lagi?” tanya Suho seolah tau apa yang sedang dipikirkan Kai. Kai menatapnya sebentar kemudian meraih segelas soju yang disodorkan padanya dengan cepat. Ia menghabiskannya dengan cepat kemudian kembali memandang penyanyi-penyanyi panggung. Kondisi klub hari ini cukup ramai, dan itulah yang membuat Kai semakin kesal.

Kenapa dari sekian banyak orang yang lalu lalang ia juga tidak melihat gadis itu? Apakah gadis itu tidak pernah ke klub atau semacamnya?

Tapi mungkin juga, sebaiknya aku mengajaknya lain kali…lain kali? Kai memberengut, memangnya bakal ada lain kali? Sekarang saja yeoja itu tidak menghubunginya. Apa dia tidak penasaran dengan keadaan kaki Kai sekarang? Bisa jadi kakinya patah lagi, kenapa yeoja itu malah bersikap seolah dia tak peduli?

”Hyung, hyung! Itu Hyorin bukan?” celetuk Sehun yang bertanya pada Suho. Mendengar nama ”Hyorin” terlintas lantas mengaktifkan setengah jiwa Kai yang tadinya hilang entah kemana. Ia mulai mencari-cari sosok yeoja yang bernama Hyorin.

”Ah ne, itu Kim Hyorin Sistar, dia mempunyai suara yang seksi, dan lagu Alone yang dibawakan Sistar tadi sangat bagus!” ujar Suho. Kai memberengut kesal. Ternyata mereka malah membicarakan yeoja lain. Ia kembali menenggak gelas-gelas yang disodorkan padanya dengan cepat sampai ia mulai merasa pusing.

”Baiklah, bagaimana dengan penampilan penyanyi kita tadi?” seorang MC mengambil alih panggung. ”Satu lagu lagi akan dibawakan oleh, ah silahkan Miss Jung Hyorin ssi.” MC itu memanggil sebuah nama, dan seorang gadis berambut ikal kecoklatan naik ke atas panggung. Ia lalu menghadap ke depan dan membungkuk sebentar.

Kai tidak dapat mempercayai penglihatannya sekarang. Selama seminggu ia tidak melihat yeoja itu, dan sekarang ia melihatnya persis di depan mata kepalanya sendiri. Entah kenapa ia merasa begitu ingin berteriak memanggil nama yeoja itu sekarang.

”Annyeong…” sapa yeoja bernama Hyorin itu. Ia kemudian duduk sambil memangku gitar di tangannya. Tak lama kemudian terdengar suara petikan gitar yang terasa begitu jernih, ia membuka mulutnya.

Everybody’s laughing in my mind

Rumor’s spreading about this other girl

Do you do what you did when you did with me?

Did you forget all the plan that you made with me?

Cause baby I didn’t

Suaranya terdengar halus, dan lagi-lagi Kai menatapnya tanpa kedip. Seolah-olah hanya ada mereka berdua di ruangan ini. Ia bahkan tidak mendengar suara-suara yang lain selain suara Hyorin dan musiknya. Tangan Kai terangkat ke dada menyadari jantungnya yang entah mengapa berdebar-debar kencang. Entah pengaruh alkohol atau karena ia tersentuh dengan suara yang begitu dihayatinya itu.

Jung Hyorin…kau benar-benar… Kai menatap mata yeoja yang tersirat akan kepedihan, kesendirian, dan rasa sakit yang mendalam. Apa yang terjadi padanya?

That should be me holding your hands

That should be me making you laugh

That should be me this is so sad

That should be me, that should be me

That should be me feeling your kiss

That should be me buying you gifts

This is so wrong, I can’t go on till you believe

That, that should be me

 

I need to know should I fight for ourlove or disown

It’s getting harder to shield this pain in my heart… [Sabrina – that should be me]

Hyorin mendongak sambil tersenyum lebar, terdengar riuh tepuk tangan sesaat setelah ia menyelesaikan lagunya. Tanpa sadar Kai berdiri dan bertepuk tangan, ia tak bisa menyembunyikan perasaannya ketika menyunggingkan senyum terbaiknya.

”Waahh! Aku tidak tau kalau Hyorin bisa menyanyi sebagus itu!” komentar Baekhyun. Kai merangsek maju tanpa sadar kemudian terhenti begitu saja saat dilihatnya seorang namja lain memeluk dan mencium yeoja itu. Tangan Kai lantas terkepal disisinya.

Siapa namja itu? Kenapa dia memeluk dan mencium gadisku seenaknya? Mungkin karena sudah setengah mabuk hingga Kai tidak bisa memproses pikiran-pikirannya lagi. Yang jelas saat ini ia merasa benar-benar marah dan ingin menyakiti secara fisik namja yang sedang menggenggam tangan Hyorin.

”Kai!!! Aku tidak menyangka bertemu denganmu disini!”  Hyorin terkejut melihat Kai yang berdiri dua meter di hadapannya itu. Sudah seminggu ia tak melihat Kai, dan entah mengapa begitu melihat namja ini Hyorin tak bisa mengendalikan perasaannya. Lagi-lagi jantungnya berulah.

”Jung!” gumamnya pelan saat dilihatnya yeoja itu bicara sebentar dengan namja disebelahnya kemudian tersenyum dan kembali menghadap Kai.

”Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu? Kakimu sudah lebih baik?” tanya Hyorin ragu saat menyadari suasana terasa canggung sekarang.

”Fantastis! Bagaimana denganmu? Ah, tentu saja kau menikmati hidupmu dengan berkencan dengan namja-namja lain, kan?” Hyorin menyadari adanya nada tajam disetiap kata yang dilontarkan Kai padanya. Sepertinya namja itu sedang kesal sekarang.

”Mungkin..” jawab Hyorin yang tidak ingin menambah kekesalan Kai. Kai tersenyum kecut. Mungkin katanya? Cih!

Jinyoung yang merasa situasi semakin canggung lantas menengahi. ”Perkenalkan aku Jinyoung, aku adalah…!”

”Salah satu pengagum Hyorin? Yah aku bisa menebaknya dari pelukan dan ciuman tadi…” Kai tidak bisa menahan emosinya ketika mengatakan hal itu. Mata Hyorin membulat, apa-apaan ini? ”Apa? Kai! Apa maksudmu? Dia itu oppaku…!” kesalnya. Namun Kai nampak tidak memperdulikannya. Ia menatap tajam ke arah Jinyoung dengan pandangan yang tidak bersahabat sama sekali.

”Kai, kau sedang mabuk! Hentikan celotehanmu itu! Ga lucu!!”

”Aku tidak mabuk!! Kau tidak perlu membela diri Jung, aku tau kok! Setiap hari kau menerima telepon dari namja-namjamu itu. Kemana mereka membawamu? Kesini? Jadi ini kerja sambilanmu? Sebagai gadis panggilan?” Hyorin yang tidak bisa menahan kekesalannya lantas menarik tangan Kai dari sana.

“Kai!! Apa-apan kau? Kalau kau mau bersikap menyebalkan padaku silahkan saja, tapi tolong jangan di depan oppaku!! Kalau kau segitu inginnya aku jauh darimu oke! Aku akan pergi dari hidupmu, dan aku tidak akan pernah mengganggu ataupun berada di sekitar mu!” Kai terdiam, memang Hyorin sering melakukan perlawanan padanya, tapi baru kali itu Jung Hyorin membentaknya. Dan entah mengapa ia merasa ingin menghancurkan apa saja saat itu.

“Kau itu seorang idola, jadi bersikaplah sopan sedikit!!” ujar Hyorin kemudian meninggalkannya yang masih menatap Hyorin.

”Kau mau aku bersikap sopan padanya? Baiklah aku akan bersikap sopan!”

”Kai!!” belum sempat Hyorin mencegahnya Kai lantas melangkah maju mendekati Jinyoung. ”Dia ingin aku bersikap sopan padamu!! Baiklah akan kucoba, namaku Kai! Dan dia Hyorin, ah tapi kau pasti sudah tau ya? Tapi perlu kau tau bahwa selain kau dia juga punya banyak simpanan namja lain!”

”Kai!!” marah Hyorin, ia lantas menarik tangan Kai lagi namun Kai mengibaskannya. Matanya –Hyorin nyaris tidak bernapas melihatnya- mata Kai mengingatkannya pada masa lalunya yang kelam. Mata berkilat-kilat penuh emosi itu…sama persis dengan mata appanya!

”Kai cukup!! Kau membuatku malu!” jerit Hyorin saat orang-orang mulai memperhatikan mereka semua. Kai lantas menarik tangan Hyorin dan detik berikutnya yang dirasakan adalah ciuman Kai yang sarat dengan emosi. Hyorin mencoba memberontak namun Kai mengunci gerakannya.

”Kai kau!!!” air mata Hyorin merebak saat ia berhasil menjauhkan diri dari Kai, Kai masih menatapnya dengan tatapan mengerikan itu dengan napas terengah-engah menahan emosi.

”APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA HAH???!!” Jinyoung lantas menjontoskan pukulan mautnya pada Kai sampai ia jatuh terjerembab.

”OPPA!! Geuman!!” Jinyoung lantas memeluk Hyorin yang tubuhnya bergetar hebat, sementara Kai berdiri terhuyung-huyung namun langsung ditahan oleh member EXO yang lain.

”Hyorin gwaenchana???” Jinyoung menatap wajah pucat Hyorin setelah membawanya keluar. Aneh sekali, apa yang terjadi pada Hyorin? Mengapa ia terlihat seperti mayat hidup begini?

”Hyorin-ah, kalau kau memang masih merasa kesal biar aku menghajarnya sekali lagi!” Hyorin menahan Jinyoung. ”Aku tidak apa-apa oppa…” hanya saja tadi sekilas ia melihat mata appanya berkelebat di mata Kai. Dan kenyataan itu benar-benar membuatnya takut. Ia takut.

”Kenapa artis selalu bersikap seperti itu ya?” gumam Jinyoung pelan sambil mengelus-elus punggung yeodongsaengnya itu. Hyorin bersandar pada oppanya, air matanya tak bisa berhenti menetes. Bayangan-bayangan masa lalu yang ia kira telah terkunci rapat dalam sudut memorinya ternyata kembali menghantui. Dan bagian yang paling menakutkan adalah, kenyataan bahwa Kai mulai berubah seperti appanya. Ya, Kai yang selama ini mulai menghiasi mimpinya setiap malam, Kai yang selama ini mampu membuat jantungnya berdebar-debar hanya karena mendengar suaranya. Kai yang selama ini disukainya.

Sebuah nada pendek mengejutkan Hyorin, sekaligus membuatnya lega. Setidaknya, ia bisa mengalihkan pikirannya untuk sementara.

Maafkan dia, dia sedang depresi akhir-akhir ini. Suho.

Hyorin menutup flip Hpnya dengan kesal. ia tidak ingin tau kenapa namja itu berbuat begitu. Mengatainya dengan kata-kata sekasar itu di depan oppanya, bahkan melakukan hal yang –oh Hyorin bahkan tidak mau mengingatnya lagi! Tiba-tiba Hpnya berbunyi nyaring. Hyorin berdeham sebentar menetralkan suaranya sebelum akhirnya menjawab. “Ne, Taemin-ah, wae?”

”Aku tau ini sudah larut, tapi aku ingin bicara padamu!” Hyorin mendesah, apalagi sekarang? Tapi akhirnya ia pun beranjak menemui namja itu.

.

Suara bel interkom terdengar nyaring memaksa Kai membuka matanya pagi itu. Ia mengucek-ngucek matanya, kepalanya terasa berat sekali. Ia mengamati sekeliling, ada beberapa hal yang membuatnya bingung pagi ini. Pertama, mengapa ia tidur di ruang tamu? Dan yang kedua mengapa kondisi ruang tamu ini berantakan sekali?

Sekali lagi suara bel interkom yang dapat menulikan telinga orang-orang sekampung itu mengejutkan Kai. Dengan malas ia menyeret kakinya menuju pintu dan menekan tombol untuk mebuka pintu. Dilihatnya manajernya datang sambil membawa koran-koran pagi.

”Kai bagaimana perasaanmu?” tanya manajernya, Mr. Kim (kesahnya). Kai mengabaikan dan malah berjalan menuju dapur.

Rasanya ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang ia sendiri tidak tau apa itu. Kai mencuci wajahnya dan baru menyadari bengkak di pipi kirinya.

”Aw, apa yang terjadi padaku?” desisnya pelan sambil mengamati bengkak di wajahnya. D.O yang sedang membuat kopi pagi mengintip sebentar mengamati Kai.

”Kau tidak ingat apa yang kau lakukan semalam?” tanya D.O, Kai menggeleng. Memang apa yang dilakukannya semalam?

”Kau mau kopi, Kai? Sepertinya kepalamu masih berat karena mabuk semalam?” tawar D.O yang membawa kopinya ke ruang depan. Disana sudah berkumpul member-member EXO yang lain. Sepertinya mereka tengah membicarakan hal yang serius.

Kai meniup-niup kopi panas ditangannya saat kembali ke ruang depan. Semua member lantas memandang ke arahnya, termasuk Mr. Kim yang kini memasang wajah pasrah dan kesal. ”Apa?” tanya Kai heran.

”Baca ini!!” Mr. Kim melemparkan koran-koran pagi yang dibawanya tadi. Kai menghirup kopinya sebentar lalu ikut beringsut membaca koran denga kening berkerut. Dibolak-baliknya koran dengan perasaan bingung meliputinya. Mengapa berita-berita ini…

”Itu yang kau lakukan semalam, kau benar-benar tidak ingat?” tanya D.O, Mr. Kim hanya bisa menggeleng-geleng. ”Aku akan menjelaskan pada media setelah ini, dan jangan lupa kau harus mengadakan konferensi pers Kai!” kemudian ia beranjak dari sana.

Kai masih tak bisa berkata apa-apa, ia kembali memandangi koran-koran itu dengan pandangan tak percaya.

HEADLINE! KAI EXO BERKELAHI DI KLUB MALAM

SETELAH COMEBACK MEREKA, KAI TERLIBAT MASALAH

BERKELAHI KARENA SEORANG YEOJA, KARIER KAI EXO TERANCAM

Dan masih banyak berita-berita lainnya yang membuat kerutan di keningnya bertambah dalam. Ditambah lagi terpampang foto dirinya yang dengan ukuran besar yang hampir memenuhi halaman depan sedang dipukul oleh seorang namja. Siapa namja itu? Kenapa dia memukul Kai?

”Adakah yang bisa menjelaskan padaku apa yang terjadi?” tanya Kai pada semua membar yang terdiam. Suho akhirnya membuka suaranya.

”Semalam kau mabuk, kau…well kau mencium Hyorin dan oppanya marah sehingga memukulmu!” jelas Suho. Kai menautkan alisnya, apa katanya tadi? Ia mencium Hyorin lalu oppanya marah? Ia MENCIUM Jung Hyorin?? ”Aku menciumnya?” sangsi Kai. Masa ia tidak ingat telah mencium gadis itu?

”Ya, kau menciumnya di depan semua orang Kai. Kau benar-benar tidak ingat?” tegas Suho lagi. Kai kembali mematung. Aku menciumnya?

”Sebaiknya kau menghubungi Hyorin dan memastikan keadaannya baik-baik saja, soalnya kemarin malam dia tampak…terkejut dan pucat!” ujar Baekhyun. Kai masih bergeming.

Aku menciumnya? Kenapa aku menciumnya? Bagaimana reaksinya tadi? Terkejut? Pucat?

Seakan jiwanya baru kembali, Kai dengan cepat menghubungi nomor di Hpnya. Lama ia mendengar nada tunggu. Aneh. Kenapa Hyorin tidak menjawabnya? Apa ia masih tidur? Kai mencobanya beberapa kali, namun nihil. Yeoja itu tetap tidak mengangkat teleponnya.

jung, kau baik-baik saja?

Kai mencoba menelepon gadis itu lagi, lagi dan lagi sampai  akhirnya nada tunggu itu berubah menjadi nada non aktif. Keesokan harinyapun ia kembali mencoba menghubungi gadis itu namun hasilnya tetap nihil, bahkan besok besok dan besoknya lagi.

Ada apa dengan yeoja itu?

.

Suara dentingan piano terdengar nyaring dari salah satu ruangan di Mori High School. Seorang yeoja tengah duduk diam di hadapan pianonya sambil terus menekan-nekan tutsnya. Wajahnya seperti orang yang telah kehilangan kehidupannya. Pandangannya kosong, namun jari-jarinya masih saja menekan asal tuts piano. Berulang kali ia mendesah dan akhirnya menelungkupkan wajahnya.

Kwon Min Tae baru saja akan mengambil salah satu dokumen di ruang tersebut ketika dilihatnya sahabatnya duduk termenung seorang diri dengan tatapan kosong. Nampaknya ia sedang tidak berada pada dirinya sekarang, hal itu terbukti dari dering Hpnya yang nyaring tak sedikitpun mengusik gadis itu.

”Hyorin?” panggilnya, namun Hyorin masih terdiam.

”Yaa! Jung Hyorin!!” seru Min Tae lebih keras membuat Hyorin tersentak. ”Ne?” jawabnya singkat. Min Tae menghembuskan napasnya kasar sambil menunjuk Hp Hyorin yang masih berbunyi nyaring. Hyorin menatap benda kecil itu sebentar kemudian lantas mematikan dan mencabut baterainya.

Alis Min Tae terangkat heran, tidak biasanya Hyorin bersikap begini. Dan yang lebih mengherankan lagi ia terus bersikap begini sejak seminggu yang lalu. Seolah ada sesuatu yang hilang darinya.

”Akhir-akhir ini kau sering melamun? Apa yang kau pikirkan?” tanya Min Tae sambil menarik kursi di depan Hyorin. ”Melamun? Aku? Aku tidak melamun!” bantah Hyorin, Min Tae memutar bola matanya seakan ia tau bahwa Hyorin sedang mencoba menyembunyikan sesuatu darinya.

”Terjadi sesuatu antara kau dan Kai?” tanyanya lagi, wajah Hyorin menengang. Sesuatu? Hyorin mengepalkan tangannya setiap kali mengingat sesuatu itu.

”Tidak ada yang terjadi!” jawabnya datar sambil menekan-nekan kembali tuts piano. ”Aku tidak pernah melihatmu bersamanya belakangan ini!” pancing Min Tae yang kini mengamati perubahan ekspresi wajah Hyorin yang tampak terluka itu.

”Kalian bertengkar?” tebak Min Tae. ”Tidak!” jawab Hyorin cepat. Terlampau cepat. Kemudian ia kembali menekan-nekan tuts piano didepannya. ”Aku hanya membantunya karena kupikir itu tanggung jawabku, dan sekarang kakinya sudah sembuh. Jadi kupikir tidak ada alasan lagi bagiku untuk terus bersamanya, kan?” tambahnya. tidak ada alasan lagi. Hyorin memejamkan mata dan menetapkan hati. Tapi, benarkah begitu? Mengapa ia tampak ragu setelah mengatakan itu?

”Benarkah?” tanya Min Tae menyangsikan. ”Kukira hubungan kalian lebih baik daripada itu?” Hyorin memalingkan wajahnya. ”Kami tidak ada hubungan apa-apa!” Hyorin memejamkan matanya, entah kenapa dadanya terasa perih sekarang.

”Aku kira dia menyukaimu!” ujar Min Tae hati-hati. Deg deg deg, jantung Hyorin kembali bereaksi. ”Apa?” sahutnya kaget.

”Aku melihatmu beberapa waktu lalu di D.Lite cafe…sedang bergandengan tangan!” ujar Min Tae lagi. ”Kupikir saat itu kalian…” Min Tae kemudian terdiam sesaat. ”Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak mau mengangkat telponnya? Kenapa kau malah mematikan Hp mu seperti itu?”

Bibir Hyorin bergetar, ”Karena aku…tidak mungkin bersamanya.” gumamnya sedemikian pelan. Air matanya jatuh bergulir, dan kini dadanya terasa begitu sesak. Sampai-sampai ia tidak tau harus bagaimana caranya agar rasa sakit dan sesak yang muncul itu hilang.

“Astaga Hyorin….” Min Tae menutup mulutnya dengan sebelah tangan seolah baru sadar apa yang terjadi sekarang. Memang selama ini Hyorin selalu tersenyum kepada semua orang dengan cara yang sama. Termasuk pada Kai dan Taemin. Tapi…Min Tae mengerutkan alisnya yang indah itu, Hyorin menatap keduanya dengan cara yang berbeda. Jung Hyorin menyukai namja itu.

Min Tae membelai punggung Hyorin kemudian memeluknya, mencoba menenangkan sahabatnya itu. Hyorin terisak-isak semakin keras di dada Min Tae.

”Aku mencintainya…”

Seorang namja tersandar lemas di depan pintu ruang musik setelah mencuri dengar pembicaraan barusan. Ternyata, cintanya memang bertepuk sebelah tangan dan dia tak sanggup lagi mengubahnya. Bagian terburuknya, kenapa harus Kai? Kenapa harus sahabatnya?

.

[Now playing: Samson – Bukan diriku]

Kai mendesah, entah mengapa dorm terasa begitu sepi sekarang meskipun semua member EXO berkumpul disana. Ia memandang sekeliling, dan kembali mendesah. Rasanya, ada yang kurang disana.

Ya, karena Jung Hyorin tidak ada disana.

Kai juga tidak tau, sejak kapan ia merasa keberadaan yeoja itulah yang membuat suasana hatinya terasa berbeda. Dan selama dua minggu terakhir, tak ada satupun pesannya di angkat oleh yeoja ini. Jangankan pesan, telepon saja selalu dimatikan. Seringkali Kai mencarinya di kelas, ruang musik, bahkan rela jauh-jauh mencari rumahnya juga tak satu kalipun ia berkesempatan untuk bertemu dengannya.  Hal itu membuat perasannya menjadi kacau balau dan uring-uringan sepanjang hari.

Bahkan selama ia konferensi pers pun ia selalu merasa frustasi di sepanjang harinya. Tidak ada yang bisa memperbaiki suasana hatinya yang buruk semua terlihat salah di matanya. Semua terasa salah baginya. Tidak ada satupun hal yang membuatnya senang. Udara musim panas membuatnya marah, suara orang-orang yang mengobrol didekatnya membuatnya semakin jengkel. Pokoknya Kai begitu terlihat menakutkan dan tidak segan-segan membentak siapapun yang kebetulan lewat di dekatnya sampai orang-orang itu menjauhinya seperti wabah penyakit.

Dan begitu sampai di dorm, suasana hatinya juga tak berubah. Dormnya terasa aneh. Aneh karena Kai tidak pernah menduga dormnya akan terasa begitu kosong. Ia berharap meskipun itu sangat, sangat, sangat kecil di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin yeoja itu disana. Ia ingin yeoja itu berdiri di dapurnya dan menyiapkan makanannya. Ia berharap bisa melihat yeoja itu tersenyum padanya lagi. Ia ingin berbicara dengan yeoja itu lagi.

Ia berharap Jung Hyorin ada disana.

Kai memejamkan matanya. Entah apa lagi yang ia pikirkan sekarang. Kenapa tiba-tiba keinginan yang mustahil itu melintas dalam pikirannya. “Apa dia membenciku?” desah Kai lagi.

Akhirnya ia menyerah disaat logikanya terkalahkan oleh keinginan yang ia sendiri tak tau darimana asalnya dan langsung bergegas menuju rumah yeoja itu. Lagi.

.

“Aku benar-benar minta maaf, Kai. Tapi dia…tidak ingin menemuimu sekarang!” Jinyoung menghela napasnya, dilihatnya wajah Kai yang sarat kekecewaan itu. “Aku akan berbicara dengannya lagi, aku juga tidak mengerti apa yang terjadi padanya sekarang!”

“Sudah seharusnya ia tidak mau menemuiku, aku mengerti. Kata-kataku malam itu memang benar-benar kasar. Dan aku benar-benar minta maaf karena mengganggumu setiap hari. Terima kasih sudah mau bicara dengannya.” Kai membungkuk berpamitan.

“Tunggu!” seru Jinyoung saat Kai berbalik, “Bagaimana kalau kau masuk dulu dan menemaniku ngobrol sebentar?” ia tersenyum ramah. Kai bisa menangkap persamaan yang dimiliki Hyorin dan oppanya. Ya, mereka sama-sama memiliki senyum yang menyenangkan untuk dilihat. Kai mengikuti Jinyoung masuk ke dalam dan duduk di kursi sementara Jinyoung mengambil minum.

“Kopi? Aku tau kau pasti menyukainya, Hyorin sering menceritakannya padaku!” ujar Jinyoung sambil meletakkan secangkir kopi di hadapan Kai. Kai tersenyum singkat, “Apalagi yang diceritakannya?”

“Ia bercerita bahwa ia membuat kaki seorang artis terkilir, dan harus membantunya!” Kai kembali tersenyum mengingat-ingat kejadian itu. “Dia telah berusaha keras untuk membantuku!”

“Ya, seperti itulah memang cara kami dibesarkan. Umma…” Jinyoung menelan ludahnya, “Mendiang umma akan sangat marah jika kami menyusahkan orang lain.” Alis Kai bertaut. Mendiang?

“Mendiang?” tanyanya. Jinyoung mengangguk. “Umma meninggal sewaktu Hyorin masih kecil, mungkin sekitar umur 7 tahun! Dia tidak cerita padamu?” Kai menggeleng, “Dia tidak pernah benar-benar menceritakan dirinya!”

“Memang, anak itu…terkadang aku juga tidak mengerti mengapa ia suka menyimpan semuanya sendiri!” Jinyoung menggosok-gosokkan dagu dengan kedua tangannya. Matanya menerawang.

“Tapi dia menceritakan tentangku padamu, kan?” balas Kai sambil meminum kopinya. Jinyoung tersenyum singkat, “Itu kebetulan yang menyenangkan, kan? Dan itu pertama kalinya ia bercerita padaku!” kenang Jinyoung.

“Pertama kali?” ulang Kai. “Ne, pertama kali setelah sekian lama. Dia tidak pernah benar-benar bercerita tentang perasaannya maupun apa yang dipikirkannya….sejak…sejak perceraian orangtuaku dulu!” kening Kai kembali berkerut, perceraian orang tua?

“Kupikir…karena trauma yang pernah dialaminya makanya ia tidak pernah bicara tentang apa-apa!”

“Trauma?”

“Ne, kurasa kau perlu tau. Dan kupikir itu alasan mengapa Hyorin menghindarimu selama ini. Karena ia teringat akan luka masa lalunya. Trauma yang dialaminya saat masih kecil.”

“Saat itu, Hyorin masih kecil dan sangat ceria. Namun segalanya berubah pada suatu malam. Ya, pada malam itu appa sedang bekerja di luar kota. Ah ya, appaku adalah seorang model terkenal. Dan ketika ia tidak ada di rumah aku merasa bebas. Kami merasa bebas. Aku, umma dan Hyorin. Makanya aku keluar bersama teman-temanku malam itu…”

“Aku tidak tau persis bagaimana kejadiannya, Hyorin enggan bercerita padaku. Dan aku tidak mungkin bertanya pada umma mengingat kondisinya saat itu. Yang jelas saat itu Hyorin melihat orang tuaku bertengkar dan dia sangat ketakutan. Dia…dia melihat ummaku nyaris…” Jinyoung menahan napasnya sejenak. “Ia melihat appa memukul umma sampai tak sadarkan diri.” Kai terkejut dengan apa yang didengarnya. Jadi itu alasannya? Tapi…apa hubungannya?

“Sejak saat itu Hyorin bertekad untuk tidak berhubungan dengan artis-artis seperti appa!” wajah Kai terlihat sedikit pucat mendengarnya. Jantungnya berdebar keras, napasnya terasa sesak. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia merasa begitu bersalah pada yeoja itu. Selama ini Kai tidak pernah berpikir sedikitpun akan kemungkinan itu. akan beban yang disimpan Hyorin seorang diri.

“Karena aku artis, makanya dia menolak menemuiku?” tanya Kai lagi. Oh apa yang harus dilakukannya sekarang? Haruskah ia berhenti menjadi artis demi gadis itu?

“Bukan.” Jawab Jinyoung kemudian. “Karena dia melihat sosok appa dalam dirimu!” wajah Kai terlihat syok, ia memejamkan mata seraya mengacak-acak rambutnya.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya dengan bibir bergetar. Dan Jinyoung berani bersumpah ia melihat setitik air mata disana. Air mata penyesalan.

“Kau…menyukainya?” tanya Jinyoung. Kai mengangguk, “Ya.” Singkatnya. Jinyoung bisa merasakan kesungguhan pada mata itu.

“Kau cukup membuatnya bahagia!” Jinyoung kembali menyesap kopinya. “Bagaimana jika dia bahagia jika melihatku?” tanya Kai lagi. Jinyoung tersenyum singkat. “Kau mau menemuinya?” Kai memiringkan kepalanya.

“Bukankah dia tidak mau menemuiku?”

“Dia akan sangat marah padaku karena itu. mungkin. Tapi sebaiknya kau lihat saja sendiri bagaimana keadaannya sekarang!”

.

Suara dentingan piano terdengar begitu lirih dan sarat emosi dari sebuah kamar. Seorang gadis berambut ikal sedang duduk sambil menarikan jari-jari lentiknya di atas piano. Ia begitu menghayati lagu yang ia nyanyikan. Meski hanya permainan sederhana, namun baginya itu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan perasaannya yang kacau balau beberapa hari terakhir.

Hyorin tengah memainkan sebuah lagu yang mampu menghantarkan emosi yang ada dalam jiwanya. Ia bahkan tak menyadari bahwa Kai menatapnya dari pintu kamarnya. Ia begitu menghayati musiknya dan mulai melantunkan lirik demi lirik dengan suara nyaring namun tetap terdengar jernih.

I’m not a perfect person

There’s many thing I wish I didn’t do

But I continue learning

I never meant to do those things to you

And so I have to say before I go

That I just want you to know

 

I’ve found a reason for me

To change who I used to be

A reason to start over new

And the reason is you…

 

I’m sorry that I hurt you

It’s something I must live with everyday

And all the pain I put you through

I wish that I could take it all away

And be the one who catches all your tears

That’s why I need you to hear

 

I’ve found a reason for me

To change who I used to be

A reason to start over new

And the reason is you…

Kai menatapnya tanpa kedip. Beribu pertanyaan muncul di otaknya, namun tak satupun logikanya dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Mengapa ia begitu merindukan yeoja yang sedang ditatapnya itu, mengapa ia selalu tersentuh mendengar lagu yang dinyanyikannya, mengapa dadanya berdebar kencang begini, mengapa ia ingin Hyorin berada disisinya sekarang, mengapa bila ia bersama gadis itu hidupnya terasa berbeda dan jauh lebih baik dan mengapa ia berharap Hyorin merasakan hal yang sama dengan yang dirasakanya sekarang.

Air mata Hyorin menetes deras, ia menghentikan permainannya dan menelungkupkan wajahnya menangis sekeras yang ia bisa seolah-olah beban yang ada dalam pikirannya akan lepas saat itu juga.

“Kai…” gumamnya pelan. Entah mengapa ia ingin melihat namja itu. Ia ingin mendengar suara namja itu, ia ingin berbicara seperti biasanya, ia ingin berada disisinya. Ia ingin bisa bersama namja itu selamanya. Bersama Kai.

Hyorin menarik napas panjang dan mencoba menenangkan diri. Kau tak bisa seperti ini terus Hyorin, Kai itu artis. Ingat itu! Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk tidak mengingatnya lagi!!

“Who’s the reason?” sebuah suara mengejutkan Hyorin. Suara ini? Ga, ga mungkin ini suaranya! Jantung Hyorin kembali berdesir, dan hal itu membuatnya yakin akan siapa pemilik suara itu. Ia menoleh ragu dan mendapati seorang namja bersandar di dinding kamarnya sambil melipat tangan dengan gaya angkuh khasnya. Sosok namja yang begitu dirindukannya saat ini, yang selama ini menghiasi mimpinya setiap malam, yang membuatnya seperti mayat hidup hanya karena tidak melihatnya. Dia. Kai.

“K…Kai?” kaget Hyorin. Belum sempat pulih dengan keterkejutannya dilihatnya Kai berderap mendekatinya. Tiba-tiba saja bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu. Air matanya jatuh untuk kesekian kalinya ketika melihat namja yang setiap malam hadir dalam mimpinya itu berjalan menghampirinya.

“Stop!!” jerit Hyorin. “Jangan mendekat!!” namun Kai tidak memperdulikannya, kemudian ia berlutut di hadapan gadis itu.

“Aku sudah mendengar semua dari oppamu. Aku kesini …” Kai menelan ludahnya. “Meminta maaf padamu! Kata-kataku malam itu…aku benar-benar tidak tau apa yang merasukiku sampai-sampai aku melakukan…” Kai berhenti sebentar mengamati ekspresi Hyorin. “Ketika aku menciummu…”

Hyorin menahan napasnya, jantungnya kembali berulah. “Maaf mu tidak berguna disini!” sahut Hyorin datar. Kai tersenyum sinis. “Aku tau.” Singkatnya kemudian tersenyum kembali. “Aku memang tidak pernah memberi alasan mengapa kau harus memaafkanku saat ini. Aku hanya ingin mengatakannya saja!”

“Pergilah!”

“Hyorin..” panggil Kai sambil menggeleng. “Maukah kau mendengarkanku sekali ini saja?” ia menatap mata yeoja yang basah itu.

“Tidak ada yang perlu kudengarkan, bukankah kau bilang kau sudah tau semua. Mengapa kau tidak mengerti?” Hyorin menghapus jejak air matanya. “Jangan menangis, Jung! Kau tau kalau kau sangat jelek kalau menangis seperti itu!”

“A…aku juga tidak tau…air mataku mengalir begitu saja…” Hyorin terpekur, Kai mengangkat wajahnya dan menatapnya lama seolah memintanya untuk menyelami isi hatinya. Mungkin agar Hyorin tau betapa tersiksanya ia setiap kali melihat air mata gadis itu. Tersiksa karena ia tak bisa mengukir senyuman melainkan hanya membuat tetesan bening sarat kepedihan itu jatuh berderai.

“Aku mencintaimu…” Kai menatap kedua bola mata Hyorin, memastikan pada gadis itu bahwa ia bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. “Aku juga tidak tau kenapa dan sejak kapan kau berada disini…” Kai menyentuh dadanya. “Aku terbiasa dengan kehadiranmu dalam hidupku, dan aku tidak ingin melepaskannya!”

“Kau pernah bertanya apa jadinya aku tanpamu, well aku tersiksa tanpamu!” Kai menggenggam tangan Hyorin namun Hyorin melepaskannya.

“Maafkan aku, Kai…aku…” Hyorin menelan ludahnya. “Aku tidak bisa menerimanya!”

“Aku mengerti!” Kai mecoba tegar dan tersenyum getir. “Jangan jadikan beban ya, aku berjanji akan pergi dari kehidupanmu kalau itu maumu!” Kai bangkit dan mengelus kepala Hyorin.

“Senang bisa mengenalmu, Jung!” Kai menunduk pedih. “Aku benar-benar senang!” kemudian ia pergi dari sana dengan perasaan hancur.

Hyorin meringkuk memeluk lututnya, menangis sepuasnya. Perasaan perih yang mengoyak-ngoyak hatinya. “Maaf…maafkan aku…” desahnya berulang kali.

Sungguh, percayalah padaku. Aku juga mencintaimu! Aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu…tapi…aku…

.

[Now playing: EXO K – Baby don’t cry]

HEADLINE! KARENA INSIDEN DI KLUB MALAM, KAI EXO MEMBUNGKUK DALAM-DALAM

Taemin yang sedang meminum susu banananya itu berhenti sebentar menatap layar televisi dengan alis mengerut. Lag-lagi berita tentang Kai, entah apa yang sudah dilakukan namja itu.

Apa Kai tau bagaimana perasaan Hyorin padanya?

Taemin meminum susunya lagi sambil mengambil remote TV, ia mendesah sejenak dan mematikan TV. Ia meletakkan gelas yag di pegangnya di atas meja dan mengambil Hpnya.

“Kai? Dimana kau? Aku kesana!” ujarnya yang lantas mengambil jaket dan bergegas keluar.

.

Suasana klub malam ini tetap seramai biasanya, hiruk pikuk orang-orang yang sedang menari di lantai dansa dan yang sekedar duduk-duduk sambil minum atau melakukan kegiatan lain yang sudah sewajarnya dilakukan di tempat semacam ini. Mata Taemin mengawasi seluruh penjuru ruangan dan terhenti pada suatu sudut tempat seorang namja yang kini sedang duduk minum-minum sendiri.

Taemin kemudian langsung menghampiri namja berjaket abu-abu yang sedang menelungkupkan kepalanya di meja bar. Sepertinya ia sudah setengah mabuk.

“Kai!” seru Taemin sambil duduk di sebelahnya. Ia mengamati Kai yang terlihat begitu tersiksa hari ini.

“O? Kau sudah datang?” tanya Kai tanpa dijawab oleh Taemin. Ia menuangkan minumannya ke gelas lain dan menyodorkannya pada Taemin. “Ini, minumlah!”

“Aku tidak minum!” tolak Taemin. Kai memiringkan kepalanya sebentar kemudian mengangguk lalu meminum gelas yang tadinya ia sodorkan buat Taemin.

“Kai apa yang terjadi padamu?”

“Patah hati!” ujar Kai skeptis, kemudian tertawa senyaring-nyaringnya seakan-akan ia bisa mengubah rasa sakit di hatinya dengan tertawa seperti itu.

“Kai, kau sudah mabuk!” Taemin menghentikan tangan Kai yang ingin meminum soju lagi. Namun Kai mengibaskannya dengan cepat. “Aku tidak mabuk! Aku….” Raut wajah Kai berubah, nampaknya rasa sakit yang mengoyak-ngoyak perasaannya selama ini benar-benar membuatnya hilang kendali.

“Aku melihatmu di D.Lite café waktu itu…” ujar Taemin ragu, Kai masih belum memperhatikannya. Ia sibuk sendiri bergulat dengan pikiran-pikiran yang terus menerus mengusik kesadarannya.

“Bersama Hyorin!” lanjut Taemin, Kai menoleh sebentar kemudian kembali menatap gelas-gelas yang tersusun di lemari bartender. Perhatian mereka teralih akan berita perkelahian Kai di malam itu. Sebuah video yang merekam kejadian itu. Video yang telah menjadi top pencarian di search engine seluruh dunia selama seminggu ini.

“Aku menyatakan perasaanku padanya malam itu…” ujar Taemin lagi. Kai meraih gelasnya untuk menyembunyikan bagaimana perasaannya berubah ketika mengetahui Taemin telah menyatakan perasaannya pada yeoja yang juga dicintainya itu.

Taemin menghembuskan napasnya, “Tapi dia menolakku!” Kai menatapnya, Taemin hanya meringis. “Aku tidak mengerti apa yang membuatnya menolakku, sampai akhirnya aku tau mengapa.” Ia menelan ludahnya.

“Karena dia…karena dia mencintaimu Kai!” Taemin menatap sahabatnya, Kai menunduk. Perasaanya semakin kacau. Ia bahkan tidak punya kata untuk mendeskripsikan rasa sakit yang kini dirasakannya. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, rasa sakit di dadanya membuatnya ingin menangis. Kai tau, dan ia sangat mengerti perasaan gadis itu. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa dirinyalah yang membuat gadis itu terluka. Dirinyalah yang membuat Jung Hyorin terjebak dalam ingatan masa lalunya.

“Aku tau!” pendek Kai. “Tapi dia juga menolak perasaanku tadi…” ujarnya lagi. Taemin menatapnya heran. Jadi…jadi Kai sudah menyatakan perasaannya juga? Tunggu, Kai juga…memiliki perasaan pada yeoja itu?

Taemin menepuk-nepuk punggung Kai seolah berkata bahwa ia akan baik-baik saja. Namun ia tidak bisa mengabaikan tatapan terluka Kai saat ini. Ia memang tidak tau apa yang tengah terjadi, dan apa alasan Hyorin menolaknya. Tapi satu hal yang ia tau dengan sangat jelas. Bahwa Kai mencintai gadis itu, dan ia begitu terluka karenanya. “Mungkin aku harus pergi dari hidupnya demi kebaikannya!” gumam Kai dengan mata menerawang.

“Kau yakin dengan begitu dia akan bahagia?” Kai tersenyum singkat. “Tidak.”

“Tapi setidaknya ia tidak akan terluka melihatku!” Kai kembali meraih gelasnya dan menghabiskannya dalam sekali tegukan. Matanya terpejam, menikmati lagu yang samar-samar terdengar.

This moment feels like I was born as a child who knew nothing

I closed my eyes again in case it would be a dream

You were standing in front of my desperate self and praying

Just once, I want to walk side by side with you

 

I always want to protect you

So that even the small things won’t tire you out

I’m eternally in love

 

As your guardian, I will block the stiff wind

Even though people turn their backs to you

If I could become the person

Who can wipe your tears on a tiring day

It will be a paradise

 

I, who has fallen in love with no other place to

Go back, my wings has been taken away

Even though I lost my everlasting life,

The reason to my happiness

You still my eternity eternally love

[Terjemahan lagu EXO K – Angel]

“Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri, Kai?” Kai kemudian tersenyum lagi, membuat Taemin bertanya-tanya mengapa ia bisa tersenyum seperti itu.

“Aku? Aku tidak tau luka ini bisa sembuh atau tidak. Tapi aku lebih memilih aku yang terluka ketimbang dia yang merasakannya. Pada saat dia menangis di depanku, aku berharap bisa mengambil seluruh beban yang menghimpitnya. Air matanya terlalu berharga bagiku.”

“Dan disaat dia memintaku untuk pergi dari hidupnya, tak ada yang bisa kulakukan lagi selain menjauh dari hidupnya.” Mata Kai kembali menerawang, ia menghembuskan napasnya perlahan. “Meski aku terluka sekalipun, aku takkan membiarkan rasa sakit sedikitpun menghampirinya. Aku akan menjaganya seumur hidupku.”

Sejenak Taemin tidak bisa berkata apa-apa, hanya terpana dalam diam ketika menyadari perasaan Kai. Lalu ia menghembuskan napas yang ditahannya dan membuka mulut menanyakan suatu hal yang sebenarnya sudah diyakininya, tetapi hanya ingin mengucapkannya untuk menegaskan kenyataan. “Kau…sangat mencintainya, bukan?

Kai mengerjap. Matanya yang gelap terlihat berkaca-kaca ketika menggumamkan dua patah kata yang berasal dari lubuk hatinya yang terdalam.

“Sepenuh hati.”

.

Hyorin berbaring lesu dikamarnya. Ia menatap kosong layar laptop di hadapannya. Berita mengenai mini konser EXO yang akan diadakan di Thailand besok. Sebuah gambar muncul membuat jantung Hyorin kembali berdetak lebih kencang lebih dari biasanya. Seorang namja dengan kacamata hitam dan topi putihnya sedang menenteng tas besar. Hyorin tak kuasa menahan air matanya saat melihat wajah namja itu.

Kai…

“Kai…Kai…” racaunya. Tangisnya semakin pecah. “Kai maafkan aku…” ia mulai terisak-isak lagi sambil memeluk lututnya yang gemetar. Aku harus bisa, bagaimanapun juga akulah yang memintanya pergi dari hidupku.Hyorin menggigit bibirnya sekuat mungkin sampai mengeluarkan darah. Ia berharap rasa sakit di bibirnya akan mengalihkan rasa sakit di dadanya saat ini. Namun, tak ada artinya juga.

Akankah ia berusaha begitu keras memerangi perasaannya sendiri? Ataukah ia harus mengatakan hal sejujurnya dan membiarkan semua dinding yang telah susah payah dibangunnya hancur seketika? Sungguh bagaimanapun ia berusaha bertahan dalam kecamuk perasaannya saat ini, tetap tak ada artinya. Ia tetap kalah dengan rasa sakit yang ada. Lalu harus bagaimanakah ia agar menjaga hatinya untuk tetap konsisten dengan pilihannya sendiri? Bahkan ia sendiri tak tau bagaimana suara hatinya saat ini.

Apa yang harus kulakukan? Aku mencintainya…mencintai laki-laki itu. Tapi aku tidak bisa terus begini…apa yang harus kulakukan?

Satu-satunya jalan keluar yang memungkinkan ialah dengan membunuh perasaan cinta itu. Membiarkannya berlalu dan melupakan segalanya. Hyorin tersenyum sinis, ”Seperti aku sanggup saja? Bahkan pembunuh keji sekalipun, akankah ia membunuh perasaan cinta yang demikian kuat mengakar di hatinya? Karena rasa itu semakin kita berusaha membuangnya, semakin kuat mengakar dan bercabang-cabang.”

Hyorin bersandar di dinding kamarnya, berusaha berpikir jernih. Bagaimanapun ia sudah memikirkannya sebelumnya, ini adalah keputusannya. Ia tidak boleh menyesalinya. Ia menghapus air matanya saat mendengar pintu kamarnya diketuk.

“Boleh masuk?” tanya oppanya yang lantas duduk di tepi ranjangnya.

“Kenapa matamu bengkak begitu?” tanya Jinyoung sambil mengamati mata adiknya itu. Hyorin menghela napas dan menggeleng lemah. “Aku hanya kurang tidur oppa!” Jinyoung menyipitkan matanya. Sudah seminggu lebih adiknya seperti ini terus. Keadaan Hyorin membuatnya tersiksa, Hyorin menolak bicara dan hanya meringkuk di kamarnya seharian. Kalaupun keluar, hanya untuk pergi sekolah dan selebihnya ia menghabiskan waktunya di dalam kamar.

Hyorin bahkan tak pernah menyentuh gitarnya lagi, dan ia tidak pernah mau menyanyi lagi. Baginya, lagu-lagu yang dinyanyikannya hanya mengingatkannya pada laki-laki itu. Hyorin lebih sering melamun sekarang, dan itu semakin membuat kondisinya kacau. Seolah ia seperti tidak punya kehidupan lagi.

“Hyorin berhentilah bersikap begini!” pinta Jinyoung, ia menatap mata adiknya dan berharap masih ada Hyorin yang dikenalnya disana. “Aku tidak apa-apa oppa! Sungguh, aku baik-baik saja!” dustanya.

“Kalau kau baik-baik saja kenapa kau bersikap begini? Kau tidak tau betapa khawatirnya aku melihat keadaanmu? Begitu juga teman-temanmu, Taemin, Min Tae…Kai…” Jinyoung berhenti disaat melihat adanya reaksi kecil yang ditujukan Hyorin ketika mendengar nama Kai.

“Maafkan aku oppa, tapi aku…aku baik-baik saja! Aku…hanya ingin sendiri sekarang!”

“Kau tidak bisa hidup seperti ini terus Hyorin!”

“Lalu aku harus apa? Apa aku harus mengatakan bahwa aku tersiksa tanpanya? Bahwa hidupku tidak lebih baik setelah kepergiannya? Apa yang harus kulakukan oppa?” Hyorin kembali terisak-isak.

“Kalau kau memang mencintainya, lalu kenapa kau menolaknya?” Hyorin tertegun mendengar pertanyaan oppanya. Ia memalingkan wajahnya. Sungguh ia tidak mau mendengar apapun yang bisa mengingatkannya dengan namja itu.

“Oppa, kau lapar?”

“Tidak. Dan berhentilah membolak-balikan pertanyaanku, Jung Hyorin!”

Hyorin menghembuskan napas panjang. Setelah menggigit-gigit bibir sejenak, ia memalingkan wajah dan berkata, “Saat ini bukan saat yang tepat untukku menjalin hubungan dengan namja manapun!”

“Kenapa? Padahal kau tau dia mencintaimu!”

Hyorin kembali menggigit bibirnya dan menatap Jinyoung sejenak seolah semestinya oppanya tau benar seperti apa keadaannya saat ini.

“Kau tau benar keadaanku saat ini oppa, dan kurasa aku tidak perlu menjelaskan alasan kenapa aku memilih untuk menolak perasaannya…” Hyorin menelan ludahnya kemudian melanjutkan, “Aku hanya tidak ingin hal yang sama terulang. Aku tau penderitaan umma, dan aku tidak ingin merasakannya. Aku tidak ingin melihat sosok yang kucintai harus berubah menjadi orang yang ku benci!”

Jinyoung tampak ingin membantah kata-kata Hyorin barusan, namun ia memutuskan untuk diam sementara.

“Aku hanya ingin tau, apakah kau akan menerima Kai seandainya saja keadaannya berbeda?” Hyorin menarik napas sedalam-dalamnya. Seandainya? Terlalu sering ia memikirkan kata seandainya, samai-sampai kata tersebut terasa tabu ditelinganya. Seandainya ia tidak pernah melihat appanya memukul ummanya. Seandainya keluarganya seperti keluarga yang lain yang saling mencintai. Seandainya Kai bukan seorang artis. Seandainya ia tidak melihat sosok appanya dalam sinar mata Kai kemarin. Seandainya ia bisa mencintai namja itu sebebas keinginannya. Seandainya ia tak pernah terikat akantrauma masa lalu. Seandainya dan seandainya saja.

Seandainya saja ia bisa menunjukkan apa yang dirasakannya…

“Mungkin inilah alasan mengapa umma tetap bersikeras mempertahankan pernikahannya!” Hyorin memandang foto ummanya. “Karena umma merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan sekarang. Karena umma mencintainya, dan apapun yang terjadi umma tidak bisa membencinya maupun melepaskannya!” air mata Hyorin menetes mengingat bagaimana ekspresi wajah Kai saat ia memintanya pergi dari hidupnya. Meski Kai memiliki sorot mata yang sama dengan appanya, namun ekspresinya kemarin menunjukkan kesungguhan dan ketulusan seperti ummanya.

Saat Kai mengelus kepalanya, ia seperti merasakan tangan umma yang membelainya di malam itu.

“Oppa? Apakah menurutmu aku akan bernasib sama dengan umma?” tanya Hyorin tiba-tiba.

“Tidak!” Jinyoung menelan ludahnya, “Karena aku melihat kesungguhan dimata namja itu! Kesungguhan bahwa dia tulus mencintaimu!”

Lama Hyorin terdiam sembari memiringkan kepala meresapi kata-kata oppanya.

“Hyorin-ah, aku tidak tau apa yang membuatmu merasa lebih baik. Tapi kau bisa membuat pilihan, dan pilihan itu ada pada hatimu. Jika kau menginginkannya, maka kejar dia. Tapi jika tidak, berhentilah bersikap seolah-olah kau tidak punya kehidupan lagi! Umma pasti akan sedih melihatmu seperti ini!” Jinyoung mengelus kepala adiknya.

Mungkin inilah saatnya aku membuat pilihan. Dan aku memilihnya….

.

Suara hiruk pikuk terdengar nyaring. Semua orang tampak sibuk berseliweran dengan keperluan mereka masing-masing. Ada yang sedang duduk menunggu, berpelukan untuk berpisah bahkan ada pula yang berjalan-jalan sambil menenteng tas-tas besar mereka. Terlalu banyak orang disini dan hal itu membuat Hyorin bingung. Suara dari pengeras suara membuat Hyorin pusing, orang-orang yang lalu lalang disekitarnya membuatnya bingung. Matanya mencari-cari namja yang ia tau sedang ada di bandara saat ini. Namun ia tak melihat siapapun yang dikenalnya disini. Bahkan member lain pun dia tak melihatnya.

Bagaimana ini? Apa aku akan kehilangannya? Demi Tuhan aku tak sanggup lagi bila terus menerus seperti ini. Hyorin mengepalkan jari-jarinya menahan air mata yang menggenangi kelopak matanya. Dimana? Dimana dia? Kenapa ia tak melihat namja itu? dimana namja itu?

“KAAAAIIIIIII!!!!!” jerit Hyorin sekeras yang ia bisa. Berharap Kai akan mendengar dan menghampirinya. Berharap masih ada kesempatan untuknya. Berharap ia masih bisa bertemu dengan laki-laki itu.

“Kai…KAAAII!!” napas Hyorin terengah-engah, air matanya jatuh. Namun ia masih belum putus asa. Ia terus menerus mencari sosok Kai di setiap sudut bandara ini.

“Kai!! Kai!! Kai!!”

“Hyorin?” kaget Sehun. Hyorin lantas bernapas lega saat melihatnya.

“Sehun-ah!!” serta merta ia langsung memeluk Sehun sambil berlinangan air mata membuat Sehun bingung dibuatnya.

“Yaah! Sedang apa kau disini?” tanya Sehun setelah Hyorin melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Hyorin yang terlihat pucat dan lebih kurus itu.

“Kai…dimana dia?” tanya Hyorin buru-buru. Sehun menatapnya sedih.

“Kai…dia…”

“Kenapa dia? Dimana dia sekarang?”

“Hyorin, rileks!! Kai baik-baik saja, ia sedang di toilet sekarang! Kau kenapa? Kenapa bibirmu? Matamu bengkak! Demi Tuhan Hyorin kau lebih kurus sekarang, apa yang terjadi padamu?? Kau baik-baik saja, kan?” tanya Sehun.

“Akan kujelaskan nanti, sekarang aku perlu menemuinya!”

“Ah itu dia!” tunjuk Sehun, Hyorin lantas menoleh cepat ke arah yang ditunjuk Sehun. Dilihatnya seorang namja berkacamata hitam yang sedang memperbaiki posisi topinya.

“KAAAII!!” seru Hyorin, namja itu berhenti dan melihat ke arah yeoja yang memanggilnya. Bibirnya tak bisa menyembunyikan senyuman yang tersungging disana.

“Hyorin?” gumamnya tidak percaya. Dilihatnya yeoja berambut ikal itu berlari-lari menghampirinya dan langsung memeluknya erat.

“Kai!!” isaknya. Kai yang masih belum pulih dari keterkejutannya hanya bisa mengelus-elus kepala gadis dipelukannya itu.

“Maaf..maafkan aku…aku bodoh…aku keras kepala!! Maafkan aku Kai…aku…aku…aku mencintaimu…” Hyorin terisak-isak, Kai menatapnya sambil menahan senyum yang terlanjur merekah dibibirnya.

“Iya, aku tau! Sudah jangan menangis lagi!” ia lantas menghapus air mata Hyorin dengan ibu jarinya.

“Tidak bisa!! Air mataku ga bisa berhenti…bagaimana ini?” Kai akhirnya membiarkan dirinya tersenyum dan memeluk gadis itu lagi. “Kau mau aku menghentikannya?” tanyanya.

“Bagaimana caranya?”

Kai melepaskan pelukannya. “Baiklah tunggu sebentar!!” ia kemudian mundur beberapa langkah, dan entah mengapa seluruh member EXO tiba-tiba ada disana semua. Begitu pula orang-orang yang lalu lalang berhenti sejenak untuk menonton apa yang akan dilakukan namja berkacamata itu.

“SARANGHAMNIDAAA JUNG HYORIN!!!!!” teriak Kai sekeras-kerasnya. Semua orang yang sat itu sedang menonton langsung bertepuk tangan meriah. Wajah Hyorin memerah, jantungnya berdebar begitu kencang.

“JUNG HYORIN!!! NEO JEONGMAL SARANGHAMNIDAAAA!!!!” teriak Kai seperti orang gila.

“NEOMU NEOMU SARANGHAE!!! JEONGMAL SARANGHAE JUNG HYORIN!!” akhirnya Hyorin tersenyum dan tertawa lepas seperti biasanya hingga membuat Kai ikut tertawa juga. Ia menarik tangan Hyorin dan tersenyum dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang mendapatkan kejutan.

“Aku tidak pernah mencintai siapapun seperti aku mencintaimu! Saranghae!” Kai berlutut di hadapannya dan mengecup jari-jarinya. Hyorin tak kuasa menahan tangisnya, Kai berdiri dan menghapus air mata yang jatuh itu. Hyorin bergumam pelan.

“Hmm?” tanya Kai lagi. Hyorin berdeham pelan, “The reason is you…”

Dan semua orang disana kembali bertepuk tangan meriah melihat kedua pasangan itu.

.

HEADLINE!! KAI EXO MENYATAKAN PERASAANNYA DI DEPAN UMUM

”Kau yakin tidak apa-apa setelah melihat ini, Taemin-ah?” tanya Min Tae sambil melipat koran yang dibacanya. Taemin tampak tersenyum sambil menyeruput kopi paginya.

”Asalkan mereka bahagia, tidak ada yang membuatku lebih bahagia lagi!” ujarnya. Min Tae menngenggam tanganya membuat Taemin sedikit terkejut.

”You deserve better, Taemin-ah!” Min Tae tersenyum manis sekali. ”Aku yakin kau akan menemukan orang yang benar-benar bisa memahami perasaanmu!”

Taemin mengangguk dan tersenyum. Ia tetap membiarkan Min Tae menggenggam tangannya. ”Kurasa aku sudah menemukannya!” ujarnya kemudian.

”Ne?” alis mata Min Tae bertaut. ”It’s you…” Taemin tersenyum menatap yeoja di hadapannya dengan wajah merona.

-END-

Posted 29 Juli 2012 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , ,

5 responses to “[OneShoot] THE REASON

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wah,bisa gila aq kalau kai benar2 menyatakan perasaan nya ke aq dengan cara begitu,,chukae,buat min tae sama taemin,thor kok nama min tae menurut aq unik deh,keep writing,,aq suka sama ini fanfic

  2. aku baru nemuin nih blog……
    pertama liat EXO
    sudah langsung suka sama KAI……..
    ceritanya baguuuss, saeng !

    Min Tae….lucu amat namanya…
    pikirpikir……eehhmmm.Temin dibalik …

  3. Aaa!!! Kalau kai beneran nyatain perasaannya senang banget dah guee beneran deh , keep writing thor! Lanjutkan karyamu ‘-‘)9

    anita diana kusuma
  4. Keren thor !!
    Rajin2 buat oneshot yang panjang kayak gini thor, kalo perlu lebih panjang😀
    KAI SARANGHAE !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: