[OneShoot] Heroine Complex   3 comments


assalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh ^^

anyeooooooooong!!! lama ga update oneshoot, kangen ga??? ehehehehe….

ternyata saya dikenal sbg author narsis!! oke deh, untuk sekali ini saya kaga narsis!!

Terinspirasi dari sulitnya beradaptasi di kehidupan kampus yang baru membuat saia sedikit merasa jenuh dan akhirnya di sela-sela jadwal yang padat saia putuskan untuk membuat sebuah cerita yang semoga dapat menginspirasi teman-teman. ini adalah cerita yang masa pembuatannya paling singkat yang pernah saya buat, hanya 5 jam!! hohohoh, oke deh selamat menikmati^^^^

-ah, FYI heroine complex itu adalah sejenis penyakit psikologis yang mana seseorang selalu bersikap baik demi mencari perhatian orang lain-
.

.

HEROINE COMPLEX

author: dna

cast: Choi Minri as you

genre: romance, family, sad

length: oneshoot

 

==============================

Tanpa bermaksud apa-apa, aku hanya ingin membuka mata dan menunjukkan bahwa dunia tidak sesempit yang kau pikir. Meski hidup kadang tak adil, tapi yakinlah pada satu hal…

‘boleh jadi kau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang tidak kau ketahui’ [Q.S Al Baqarah: 216]

Intinya, apa yang kau inginkan belum tentu baik untukmu, begitu pula sebaliknya…apa yang buruk bagimu mungkin itulah jalan terbaik bagimu. Memang tidak mudah menjalaninya, namun Allah telah menjamin keniscayaan. Seperti yang telah di jelaskan dalam Al Qur’an surah Al Baqarah: 286…

‘Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya’

Jadi, syukuri saja apa yang telah diberikan Allah padamu ^^

+++

“Apa yang kau lakukan sampai malam begini, Ri Chan-ah?”

“Apa? Tentu saja aku bekerja!!”

“Kau minum-minum dan ga mengurus rumah…sungguh ibu yang baik! Mulai saat ini kau harus berhenti bekerja!!”

“Apa?? Jangan bercanda!! Aku kan sudah berusaha pulang cepat!!”

“Seorang ibu harus memprioritaskan rumah tangga!!”

“Tapi aku kan sudah berusaha!!”

“Nyatanya itu gagal kan? Sekarang berhentilah bekerja!!”

“GA!! Aku ingin bebas!! Aku ga mau kau kekang terus Choi Siwon!!”

“Yaa Park Ri Chan!!!”

“Kita bercerai saja! Dan Minri ikut denganku!”

“Kau gila? Minri itu anakku, bersamakulah seharusnya ia berada!”

“Tapi aku ibunya! Aku yang melahirkannya, kau tak berhak memisahkanku dari anakku! Pokoknya aku ga mau tau! Minri harus ikut denganku!!”

Seorang gadis yang sedari tadi menahan air matanya, akhirnya tak kuasa jua menangis. Ia bersandar lemas di pintu kamarnya dan memeluk lututnya yang gemetar. Apa itu tadi? Perceraian?? Maksudnnyaorang tuanya akan bercerai? Is it the ending? Minri, you have to be strong, no matter what…but…

“Can I??” desahnya berulang dalam hati.

+++

Ada banyak hal yang tak kuketahui di dunia ini. Yah, aku takkan pernah mengetahuinya sampai aku bertemu denganmu. Tahukah kau? Bahwa dirimulah yang mengajariku banyak hal. Dari yang begitu indah hingga yang begitu menyakitkan. Sekarang, aku hanya bisa termenung mencoba mengingat detail kenangan yang kumiliki bersamamu yang semakin hari semakin terasa menjauh dan akhirnya lenyap sama sekali.

Aku tau, bahkan sangat tau akan hal itu bahwa tak seharusnya aku terus bergantung pada kebaikan hati orang lain. Suatu saat aku harus mampu berdiri sendiri. Untuk itulah, bagaimanapun keadaannya aku harus kuat seperti batu karang.

Namun…hal itu tidaklah mudah. Aku bukanlah seorang yang begitu ceria, bebas, dan bisa tertawa sesuka hati seperti yang kalian lihat. Aku hanyalah seorang gadis rapuh nan cengeng yang pandai memakai topeng kehidupan. Memanipulasi sikap seolah aku orang yang kuat, tapi nyatanya…aku tetaplah seorang pecundang.

+++

“Hhh…apa aku harus bangga dengan topeng ini? Tawa palsu itu begitu menyebalkan…” gumam seorang gadis seorang diri. Ia sedang mencoret-coret buku ditangannya seraya terus memandang ke arah taman yang sudah sepi itu. Berkali-kali ia menghembuskan napasnya. Ia lelah dengan segalanya. Bersikap baik, tawa palsu, senyum palsu yang semua itu hanya untuk menyenangkan orang lain.

Mungkin kalian tidak mengerti apa yang ada dalam pikirannya, tapi…mungkin kalian sendiri pernah mengalami hal itu. Yah, being ignored by everyone siapapun mungkin pernah mengalaminya. Siapa yang tidak ingin punya teman? Semua mau…termasuk Choi Minri, seorang gadis yang sebenarnya manis namun sedikit boyish. Bukan berarti tidak ada yang mau berteman dengannya, hanya saja…mencari seseorang yang benar-benar tulus itu sulit. Seorang teman yang tidak akan berkhianat dan dalam keadaan apapun tidak akan mengkhianati. Seorang teman yang akan meneteskan air mata jika melihatnya berduka. Seorang teman yang benar-benar dapat menerima apa adanya.

Tapi nyatanya, seseorang seperti itu sangat sulit ia temui. Bahkan meski ia telah berusaha keras mempertahankan topeng miliknya, semua yang datang padanya hanya untuk menyakiti dan mengkhianatinya.

Rasa sakit seolah telah menjadi pelengkap kehidupannya sampai saat ini. Terkadang, ia pernah berpikir kenapa kenyataan begitu kejam padanya? Kenapa hanya ia? Kenapa orang lain dapat tertawa lepas sedang ia hanya menampilkan senyum palsu andalannya? Tidak adakah seorangpun yang benar-benar mengerti keadaannya? Perasannya? Rasa sakitnya?

Kalau ingin dimengerti, harus mengerti orang lain dulu.

“Aku sudah melakukannya! Aku berusaha mengerti semua orang, aku berusaha peduli, aku berusaha menyukai semuanya. Tapi…kenapa mereka tak pernah berusaha untukku?”

Kenapa kau tidak bilang saja kalau kau ingin dimengerti?

“Kalau aku bilang pada mereka, lalu aku tetaplah menjadi seorang Minri yang cengeng! Dan mungkin saja mereka akan menjauhiku…aku tidak mau menjadi orang yang begitu menyedihkan di mata mereka. Aku benci dikasihani…” tegas Minri yang sedari tadi berbincang pada dirinya sendiri, bergulat dengan pikiran-pikirannya.

Apa itu karena kau terlalu hati-hati? Jika kau tidak mempercayai mereka dan tidak memberi kesempatan, bagaimana mungkin kau tau?

“Menjadi orang sepertiku memang menyebalkan…sampai kapan aku harus begini? Aku tak bisa jujur dengan diriku sendiri. Dan yang paling menyebalkan…lagi-lagi aku kehilangan seseorang yang kusayang…” Minri bersandar lemas di bangku taman itu, senja sudah mulai terlihat. Cahaya keemasannya membakar cakrawala, perlahan sang surya mulai menghilang digantikan oleh rembulan yang muncul menggelar sinarnya yang temaram.

“Ah dingin…! Aku harus pulang sekarang!” Minri membereskan buku-bukunya dan kembali ke rumah. Orang tuanya masih juga bertengkar. Sepertinya mereka tidak lelah sama sekali untuk yang satu itu. Minri lantas mengurung diri dikamar sembari mendengarkan lagu favoritnya. Kembali mengenang satu persatu kejadian yang masih dapat diingatnya, dan berharap akan terus terkenang.

+++

[Minri’s POV]

Semua berawal saat aku baru pindah ke sebuah SMA swasta. Karena appa (ayah)ku dipindahtugaskan ke kota ini. Sekolah baruku tidak begitu besar tapi lumayan popular disini. Tanpa sengaja aku bertemu dengan sunbae (kakak kelas/kakak tingkat) yang dulu pernah kusukai sewaktu aku masih SMP. Namanya Jiyong. Kwon Jiyong. Seorang namja (laki-laki) berkharisma yang dapat menawan hati setiap orang yang melihatnya. Begitu pula denganku. Aku sungguh-sungguh menyukainya. Sejak pertama melihatnya, dan sampai aku bertemu dengannya kembali perasaanku tak pernah berubah.

Disini, aku punya seorang teman baru bernama Park Soyeon. Dia sangat baik padaku. Dia teman pertamaku disini. Aku bertanya macam-macam padanya, termasuk kegiatan-kegiatan disekolah ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti satu kegiatan ekstrakurikuler, yaitu klub musik.

Singkat cerita, aku mulai bersahabat dengan Soyeon. Kami sering berbagi cerita tentang apa saja. Namun, karena aku sedikit tertutup aku hanya menceritakan seperlunya saja. Lagipula, Soyeon bukan tipe pendengar, dia lebih suka didengarkan daripada mendengar. Selain itu, tentu saja aku masuk klub music yang ternyata Jiyong sunbae adalah ketuanya. Dari klub itu, aku bisa mengenal anggota yang lain termasuk Kyuhyun sunbae.

Semula, kupikir aku bisa akrab dengan Jiyong sunbae, namun aku salah. Tidak hanya aku yang mengharapkan itu, banyak anggota klub yang berpikir demikian. Bahkan ada yang rela mengejarnya dan ikut kegiatan klub. Usaha mereka sangat gigih dan bermacam-macam. Kupikir, aku tidak punya celah atau kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Sampai akhirnya kuputuskan untuk hanya memandangnya dari jauh saja.

+++

Waktu terus bergulir perlahan, tanpa kusadari, aku mulai dekat dengan Kyuhyun sunbae. Dia begitu baik dan ramah padaku. Selalu perhatian dan begitu lembut terhadapku. Karena kepribadianku yang sedikit boyish (tomboy) aku jadi lebih mudah akrab dengannya. Namun, bagiku itu semua semu. Aku tetap tak bisa berpaling dari Jiyong sunbae. Aku terus memandangnya, dan berharap suatu saat dia juga akan membalas tatapanku. Kenapa aku tak menyukai Kyuhyun sunbae saja ya? Kenapa harus menyukai orang yang mengabaikan aku?

Suatu hari, saat itu aku sedang makan siang bersama Soyeon. Ia terus bercerita tentang orang yang disukainya. Dan taukah kau siapa orang itu? Yep, dialah Kwon Jiyong. Sunbae yang juga ketua klub music, yang sangat sangat aku kagumi. Dan sekarang aku mulai merasakan getaran-getaran rasa sakit yang mulai menggerayangiku. Kenapa sahabatku juga harus menyukai orang yang kusukai? Oke, itu haknya untuk menyukai siapapun. Tapi kenapa aku tidak terima akan hal itu?

Di tengah dilemma hatiku, orang itu kembali menghiburku. Menemaniku seolah ia tau perasaanku. Membiarkanku menangis disisinya tanpa banyak bertanya. Membiarkan aku berkeluh kesah sampai merasa lelah sendiri. Yah, dia adalah Cho Kyuhyun. Namja dengan kelembutan hatinya, yang kemudian menyatakan perasaannya padaku. Namun…perasaanku tetap tak berubah, bagaimanapun keadaannya aku hanya bisa menganggapnya sebagai oppa (panggilan kakak laki-laki dari adik perempuan). Tidak lebih.

Kenapa aku tak menyukai Kyuhyun sunbae saja? Toh dia juga menyukaiku, tidak seperti Jiyong sunbae yang begitu sulit diraih (?) Aku menertawakan diriku sendiri. Betapa konyolnya diriku. Orang yang kusukai itu adalah Kwon Jiyong. Tidak mungkin aku menerima orang lain kan? Itu sangat tidak rasional dan hanya akan menyakiti perasaan Kyuhyun sunbae. Aku merasa pikiranku agak sedikit berlebihan karena kadangkala aku berpikir bahwa antara aku, Jiyong sunbae, Kyuhyun sunbae dan Soyeon terikat oleh benang merah kusut yang tak kasat mata. Begitu kusut, hingga kupikir lebih baik memotongnya saja. Dan harapan akan suatu saat nanti benang merah yang tadinya menghubungkan kami akan segera terlihat ujungnya.

Namun, kemudian masalah dimulai, kupikir semua akan berakhir dengan baik-baik saja. Tapi ternyata kenyataan begitu kejam mempermainkan nasib seseorang. Inilah sebuah babak baru yang justru makin menjerumuskanku. Teman menjadi musuh, begitu pula sebaliknya.

+++

Seiring dengan berjalannya waktu, keakrabanku mulai terlihat dengan Jiyong sunbae. Dia benar-benar orang yang mengagumkan. Dilihat dari sisi manapun, aku memang menyukainya dan dia memang orang yang pantas untuk disukai. Tapi aku sudah memutuskan untuk menyukainya diam-diam. Terlebih, aku tak ingin membebaninya dengan perasaan orang sepertiku yang mungkin sangat tidak penting baginya. Aku juga takut ditolak dan memperburuk hubungan kami. Makanya aku memutuskan hal itu. namun tentu saja itu tidaklah mudah, sekeras apapun usahaku untuk meredam perasaanku nampaknya tidak begitu berhasil. Hingga akhirnya aku sendirilah lagi-lagi memutuskan untuk menghindarinya agar perasaanku tak ketahuan.

Terlebih sejak aku tau, Soyeon sangat menyukainya. Aku tak lagi bebas dengan perasaanku. Hanya berusaha menahan tangis dengan menampilkan senyum palsu. Mungkin itulah awal mulanya aku mulai belajar memakai topeng, belajar menipu perasaan sendiri. Dan ya, itu sangat-sangat menyakitkan. Apalagi, Soyeon orang yang sangat menggebu-gebu, dia bercerita seolah hanya ada dirinya. Tanpa memperdulikan perasaan pendengarnya, tanpa meperdulikan perasaanku.

Berulang kali aku ingin mengatakan pada Soyeon betapa aku juga menyukai orang yang dia sukai. Namun niat itu segera kuurungkan, karena aku tak mau menyakiti orang lain. Biarlah aku sendiri yang menanggung semua ini. Setidaknya, aku tidak ingin merusak persahabatan kami hanya karena satu namja. Dan aku telah bersumpah pada diriku sendiri, aku tak ingin menyakiti siapapun. Aku tak ingin semua orang merasakan luka yang kurasakan. Cukup aku saja.

+++

Aku memperkenalkan Kyuhyun sunbae dengan Soyeon tanpa sengaja. Diluar dugaan, mereka terlihat sangat akrab meski masih canggung satu sama lain. Hari demi hari, tanpa terasa keakraban mereka benar-benar membuat semua orang salah paham. Aku berharap mereka bisa bersama, setidaknya seseorang yang kusayangi harus bersama orang kusayang juga. Aku ingin Kyuhyun sunbae menemukan cinta baru dan berbahagia.

Dan, aku benar. Sekali ini aku benar! setelah masa pendekatan hampir setahun Kyuhyun sunbae dan Soyeon akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih. Aku sangat bahagia mendengar kenyataan itu, dan berharap hubungan itu akan terus harmonis. Kyuhyun sunbae berjanji padaku untuk tidak akan menyakiti sahabatku.

Sekian waktu telah berjalan, hubungan kedua orang yang kusayang kian harmonis. Sikap Kyuhyun sunbae pun tak pernah berubah padaku, dia tetap baik padaku. Tetap menyayangiku seperti adiknya sendiri. Tanpa sadar aku selalu bermanja-manja padanya. Dan hal itu membuat keadaan semakin kompleks. Teman-teman menganggapku sebagai orang ketiga. Jujur, dikatai seperti itu membuatku sangat sedih. Belum lagi, Soyeon yang ‘bertekanan tinggi’ itu mulai menjauhiku karena rasa cemburunya.

Apa aku salah? Apa yang salah denganku? apa aku telah menyakiti Soyeon? Apa aku memang orang ketiga? Aku terus memikirkan hal itu. Sampai-sampai kesehatanku memburuk. Ah ya, ada satu hal penting yang kulupakan. Aku menderita suatu penyakit yang lumayan parah. apakah kaliah pernah mendengar tentang Alzheimer? Itu adalah penyakit dimanasemacam protein tak dikenal yang masuk ke dalam pembuluh di otak. Singkatnya, hal itu akan mengakibatkan kemunduran mental dan fisik. Seseorang yang terinfeksi Alzheimer akan melupakan banyak hal. Termasuk semua orang yang pernah mengisi hidupnya.

Aku mengetahui penyakit ini sejak aku masih SMP, dan itu semakin memukul batinku. Sampai hari dimana aku akan melupakan kedua orang tuaku, melupakan teman-temanku, bahkan semua orang yang berarti bagi hidupku, aku tak bisa membayangkan hari itu akan tiba. Walaupun demikian, itu akan semakin memperparah penderitaan hidupku. Awalnya kupikir, dokter itu sok tau. Menerka-nerka penyakit seseorang tanpa memperdulikan perasaan mereka, bagaimanapun jua dokter bukan yang Maha Tau. Tapi nyatanya, pelan-pelan aku mulai melupakan hal-hal kecil sampai yang fatal. Aku mulai kehilangan keseimbangan dan sering pingsan. Mungkin orang-orang disekitarku tidak pernah menyadarinya, aku mulai lupa cara berjalan, lupa cara membaca dan mulai melupakan wajah-wajah orang yang berarti bagiku. Hal yang paling menyakitkan yang pernah kurasakan adalah sewaktu dokter berkata padaku.

“Biasanya, justru orang pertama yang dilupakan adalah orang yang memberikan memori penting di dalam hidup…”

Namun sekali lagi, karena topeng yang kugunakan ini, tak ada yang mengetahui serapuh dan selemah apa aku ini. Aku selalu tetap berusaha ceria dan tertawa seperti biasa. Seolah aku baik-baik saja, seolah tak ada yang terjadi padaku. Seolah semua ini hanya lelucon belaka. Ataukah itu hanya harapanku??

+++

Dirundung berbagai macam masalah, belum lagi keadaan rumahku yang benar-benar ‘panas’. Orang tuaku bertengkar, entah karena apa. Aku tidak ingin ikut campur urusan mereka. Belum sempat aku menata perasaanku tentang kisah cinta segitiga ini, aku kembali dihadapkan masalah. Prestasi belajarku menurun. Yah kalian taulah, penyakit menyebalkan itu perlahan mulai menggerogoti ingatanku, membuatku serasa seperti orang bodoh. Yah, mungkin memang tidak ada gunanya belajar jika sudah teridentifikasi penyakit ini. Aku sudah membuang banyaknya cita-cita dan harapan yang kukumpulkan sejak kecil. Aku membuang semua pelajaran yang selama ini tersangkut di otakku. Tapi aku tak sanggup membuang kenangan yang kupunya. Kalian tau? Kepingan-kepingan cermin yang dikumpulkan dan direkatkan kembali dengan lem terekat di dunia sekalipun tetap tidak akan bisa mengembalikan cermin itu seperti sediakala, begitu pula dengan memori, ingatan-ingatan yang kupunya…

+++

Akhirnya kuputuskan untuk menjauhi Kyuhyun sunbae demi persahabatanku dengan Soyeon. Aku tau itu akan menyakiti kami berdua, tapi itulah yang terbaik –kupikir begitu. aku berusaha untuk tak memperdulikan perasaan Kyuhyun sunbae dan tetap konsisten dengan keputusanku. Meski aku juga terluka, tapi ini adalah keputusanku. Lagipula, memang tak seharusnya aku muncul di tengah-tengah mereka. Dan, aku berharap keputusanku adalah hal yang benar.

Hubunganku dengan Soyeon mulai menemui titik terang, semenjak hubunganku dengan Kyuhyun sunbae renggang, kami mulai bicara kembali. Namun sebaliknya, hubunganku dengan Kyuhyun sunbae malah hancur, dia membenciku. Mungkin karena aku keterlaluan menyakitinya. Tapi setidaknya, aku bisa mengembalikan persahabatanku dengan Soyeon.

Satu fakta yang kutau, dan itu sangat sangat menyakitkan. Walaupun Soyeon sudah punya kekasih, namun ternyata dia masih menyimpan sejuta rasa terhadap Jiyong sunbae. Dan sama seperti sebelumnya, akupun tetap menyukai orang itu. sangat suka. Aku bahkan tak tau bagaimana caranya untuk mengenyahkan perasaanku. Segala cara sudah kulakukan –termasuk menghindarinya- namun nihil, aku tetap menyukainya.

+++

3 tahun telah berlalu, tetap tidak ada yang berubah. Aku dan Soyeon tetap menjadi sahabat. Soyeon dan Kyuhyun sunbae tetap menjadi pasangan. Dan, hubunganku dengan Jiyong sunbae yang tidak pernah sedikitpun mengalami kemajuan.

Soyeon mulai bercerita padaku, betapa ia mengagumi Jiyong sunbae. Sama seperti 3 tahun yang lalu. Aku hanya bisa kembali menampilkan senyum palsu, membohonginya akan perasaanku. Membiarkan perasaanku tercabik kesekian kalinya setiap kali kudengar nama Jiyong sunbae keluar dari mulutnya. Yah, meski dia masih berstatus pacaran dengan Kyuhyun sunbae, dia tetap dengan gigih menyukai orang itu. Itukah yang dinamakan selingkuh hati?

Sebagai sahabat, aku hanya bisa memberinya saran seadanya. Tapi itu terserah yang bersangkutan untuk menerima saran itu atau tidak. Yang jelas, sampai detik inipun aku tak bisa melupakan sunbaeku itu. dan apakah egois jika aku menyukai orang yang disukainya? Kalau Soyeon tau, dia pasti akan membenciku seumur hidupnya. Aku memang sahabat yang buruk. Aku hanyalah seorang yang munafik.

+++

Hubunganku kembali membaik dengan Kyuhyun sunbae. Aku berusaha untuk mengembalikan sesuatu ke tempatnya semula. Namun disitulah masalahnya, sampai kapan takdir akan mempermainkanku.

Biarlah waktu yang akan menjawabnya…

Kau pikir aku sanggup? Demi Tuhan, aku sudah tak punya banyak waktu tersisa. Semua yang hidup pasti mati, hanya saja tak ada yang bisa mengira kapan kematian tersebut akan menjemput. Namun, siapapun pasti akan berpikir bahwa Choi Minri bukanlah seorang yeoja (gadis) yang berumur panjang. 3 tahun berlalu penyakit yang bersifat progresif ini semakin agresif memperpendek usiaku.

+++

Disuatu hari, terjadi pertengkaran hebat antara Soyeon dan Kyuhyun sunbae. Dan itu melibatkan aku. Mereka berdua berpisah karena Kyuhyun sunbae masih menyukaiku sampai sekarang. Dia tak bisa membohongi perasaannya dan tak mau menyakiti Soyeon walau pada akhirnya ia harus melakukan hal itu. tak urung hal itu membuat Soyeon semakin murka padaku. Dia membenciku. Aku menerima kebencian itu dengan besar hati, karena aku yakin dia pasti akan lebih membenciku jika dia tau perasaanku pada Jiyong sunbae yang disukainya itu.

+++

Lagi-lagi, ditengah kesibukanku dengan berbagai macam tugas. Orang tuaku telah menyebut-nyebut akhir dari segalanya. Yaitu…perceraian! Mereka benar-benar egois, tidak pernah bertanya pendapatku dan memutuskan seenaknya. Bukankah aku juga bagian dari mereka? Belum lagi masalahku dengan, Kyuhyun sunbae dan Soyeon yang tidak ada habisnya. Hal itu benar-benar membuatku kesulitan mengontrol diri. Ujung-ujungnya, kesehatanku ambruk kembali.

Mungkin sudah menjadi garis takdirku mendapat ujian seberat ini. Namun disetiap musibah selalu ada hikmahnya. Saat aku ambruk, orang tuaku berpikir ulang tetap keputusan mereka. Mungkin mereka baru menyadari kehadiranku selama ini. Mereka meminta maaf padaku dan menjanjikan hal yang sangat kuharapkan selama ini.

Tapi…apalah artinya itu semua?? Dokter sudah memvonis, bahwa umurku takkan lama lagi. Oleh karenanya, akan diadakan operasi dengan tingkat kesembuhan sangat rendah. Aku menertawakan usaha mereka untuk menyembuhkanku. Kalau saja umma (ibu) tidak memohon sambil menangis, aku takkan mau melakukan operasi itu. Tentu saja ada harga yang harus dibayar, selain tingkat kesembuhan yang rendah, kemungkinan yang akan terjadi kalaupun aku sembuh ialah aku takkan mengingat apapun. Bagaimana bisa aku hidup tanpa ingatanku? Bagaimana bisa aku melupakan orang tuaku, Soyeon, Kyuhyun sunbae atau bahkan Jiyong sunbae?? Kenapa hidupku begitu kejam?

Ditengah keputusasaanku, aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Pada orang-orang yang telah mengisi kehidupanku. Kepada Soyeon dan Kyuhyun sunbae. Tentang siapa orang yang kusuka selama ini. Dirumah sakit tentunya. Aku juga meminta Soyeon memanggil Jiyong sunbae.

Aku mengatakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Aku tak peduli mau mereka akan membenciku yang jelas setelah menjelaskan semuanya aku akan minta maaf. Memaafkanku atau tidak itu juga terserah mereka. Yang jelas, aku tak ingin berbohong lagi. Aku tak ingin menjadi orang munafik, aku ingin membuka topengku saat menghadap sang Khalik kelak.

Dimalam sebelum aku operasi, Jiyong sunbae datang menjengukku. Aku menceritakan segalanya padanya. Bagaimana aku memendam perasaanku sekian tahun, betapa aku menyukainya secara diam-diam. Betapa aku ingin memonopoli dirinya. Dan akhirnya, perasaan itu tersampaikan juga. Aku tersenyum penuh dengan kedamaian. Terima kasih Tuhan telah memberikan waktu untuk menyelesaikan semua urusanku di dunia ini. Dan kini aku bisa kembali ke hadapan-Mu dengan senyum yang indah. Aku menutup mataku dan mungkin takkan terbuka untuk kedua kalinya.

 

-END-

 

 

oke mungkin ceritanya agak membingungkan dan terlalu pendek. tapi saya harap dapat menghibur + menginspirasi teman2 semua….at least, komen seikhlasnya…bukan hanya dari segi isi cerita tapi juga bahasa dan gaya penulisan saya…demi kemajuan karya selanjutnya!!

Posted 23 Juli 2012 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , ,

3 responses to “[OneShoot] Heroine Complex

Subscribe to comments with RSS.

  1. agak membingungkan tp akhirnya bisa dimengerti dgn susah payah(?)
    openingnya(?) keren pake kutipan surat Al.Baqarah😀

  2. gaya dan bahasa penulisannya bagus. Kalau ada dialog pasti lebih bagus. Pasti kamu bikin ffnya pas lagi ada masalah, bikinnya cuma 5 jam trus kata-katanya sepertinya dari lubuk hati yg paling dalam. #reader sok puitis dan sok tau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: