[FF] Here For You – Part 4   Leave a comment


Assalamualaikum!!

yeay!! istrinya siwon balik!!! wkwkwkw

oke deh, ini part 4 nya!! moga pd suka yaaa^^

happy reading guys^^

.

HERE FOR YOU

Author: dna

Genre: Romance

Length: 4 of ?

Cast:

Bae Suzy

You as Jung Hyorin

Jung Jinyoung

Lee Gikwang

Cha Sun Woo aka Baro

Gong Chan Shik

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

“Suzzy-ssi, kau sudah bangun?” Gikwang mengetuk pintu kamar Suzy. Aneh. Tidak ada jawaban sama sekali. Apa dia masih tidur? Gikwang memberanikan diri untuk membuka kamar itu. Kosong. Kemana dia? Gikwang lantas mulai mencari dan memanggil-manggilnya. Tetap tak ada jawaban. Akhirnya ia memerintahkan semua pembantu untuk mencari Suzy. Matanya tertuju pada sesuatu yang tergeletak di atas meja belajarnya. Sepertinya itu sepucuk surat. Gikwang lantas mengambilnya dan membacanya.

“Apa? Apa-apaan ini?” kagetnya saat membaca surat bertuliskan tangan Suzy yang memintanya untuk tidak mencarinya, jika ia mencarinya maka Suzy akan bunuh diri dihadapannya.

“Ada apa ini? Dia kemana?” bisik Gikwang panic, otak pintarnya terus berusaha memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Apa dia ada masalah? Makanya wajahnya begitu kusut kemarin. Aniya! Dia kemarin juga meminta untuk diajarkan bela diri! Apa untuk persiapan kabur?

“Ottokhae?” Gikwang lantas bergerak cepat, ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Suzy, namun nihil. Nomornya tidak aktif.

“Hyorin!! Mungkin dia tau!! Tapi…aku tak punya nomor Hyorin!!” Gikwang lantas pergi mengelilingi kota mencari nona muda itu. Bahaya kalau anak manja seperti itu dibiarkan dijalanan sendirian.

“Argh!!!” Gikwang memukul setir mobil ditengah kefrustasiannya. Entah apa yang terjadi pada Suzy, tapi yang jelas sebagai bodyguard ini sudah menjadi tanggung jawabnya.

.

Flashback

[Now Playing: SHINee – Lucifer]

“Ng??” Hyorin mengucek-ngucek matanya kesal saat mendengar Hpnya berdering beberapa kali. Siapa yang meneleponnya malam-malam begini? Nomor baru? Siapa sih? Siapapun dia, dia sudah berani mengacaukan waktu tidur Hyorin yang sangat berharga.

“Yeobose…?”

“Hyorin! Ini aku!!”

“Mwoga? Suzy-ah? Waeyo? Kau tidak tau jam berapa sekarang? Lagipula…kenapa kau ganti nomor?” Hyorin melirik jam dinding biru di kamarnya yang menunjukkan pukul 11 lewat.

“Nomorku ku buang!!”

“Kau buang? Dasar nona kaya!! Ada apa? Aku ngantuk banget nih!!”

“Bisakah aku ke rumahmu?”

“Mworago? Jam segini? Yaa! Memangnya kau tak punya rumah?” tanya Hyorin sambil menguap. Dia terlalu mengantuk sekarang, makanya bicaranya jadi ngelantur dikit.

“Aku kabur dari rumah!!” ujar Suzy, Hyorin manggut-manggut…oh kabur dari rumah. Pantesan! Tunggu dulu!! Kabur dari RUMAH?????

“MWORAAA?? Yah! Jangan bercanda!!??”

“Yaah!! Jangan teriak-teriak!! Nanti aku ceritakan! Beri tau aku alamat rumahmu!! Ppali!!”

“N…ne…ntar ku smsin…” Hyorin menutup teleponnya, tanpa berpikir panjang ia langsung mengirimkan alamat rumahnya. Hyorin lantas keluar dari kamarnya. Sepertinya Jinyoung sedang melakukan ritual mandi malamnya (tolong jgn tanya knp). Hyorin membasuh wajahnya dan mencari cemilan di dapur selagi menunggu Suzy yang akan ke rumahnya.

“Eh apa ini? Oppa sedang menulis puisi?” gumam Hyorin saat menemukan kertas-kertas bertuliskan tangan kakaknya. Iapun langsung membawa kertas itu ke kamarnya untuk dibaca.

If I had never see you, if I could live in another life, if I could be someone else…all this sadness…I would never know. Every day I tried to forget about you, every time I tried to leave you. But you kept on coming up. In my heart I still really love you, never want to get rid of this feeling.

Will I love you in my dream? Cry and cry again. Till sleep and wake again whenever, day just like be the same as before. This is me, love you painfully. I call you the loudest I can, but you never hear me. Because I’m just screaming in my heart.

I don’t care what anyone says. No matter who curse at me. I will only look at you. If I’m born again, it’ll still be you. To me it’s you. If it’s wrong to love you, then my heart just won’t let me be right. Saranghae HR.

“HR? Nugu ya?” Hyorin mengangkat bahu tak peduli. Kalau dipikir-pikir oppanya so sweet sekali, ternyata dia sudah punya yeojachingu ya? Atau seseorang yang disukai? Seseorang dengan inisial HR? Ha Ra? Hae Ra? Hyun Ra? Atau?

“Aigoo!! Oppa tak pernah bercerita padaku tentang itu!! Menyebalkan!!” kesal Hyorin. Kemudian ia dapat ide cemerlang untuk mengerjai kakaknya.

“Hyorin!!” Suzy meneriaki Hyorin ketika ia sampai di rumahnya. Dilihatnya Hyorin mengintip dari jendela kamarnya, Suzy menyipitkan mata menyuruhnya membukakan pintu. Setelah melakukan prosedur yang benar dalam bertamu (dalam hal ini berarti mengetuk pintu) akhirnya pintu rumah tersebut di buka.

“Tidak bisakah kau tidak berisik satu hari saja nona Suzy??” bentak Jinyoung. Suzy nyaris menjerit menyadari Jinyoung yang tidak memakai bajunya. Ternyata, dadanya sangat bidang dan seksi *seksi? Bukannya tipis begtoh? #dtendang ABERs kesumur*. Entah apa yang terjadi pada otak Suzy sekarang, melihat Jinyoung seperti itu malah membuatnya kagum. Ia KAGUM melihat dada sixpack Jinyoung! Ia KAGUM pada Jung Jinyoung!

“Uhm, tidak bisakah kau memakai pakaianmu dulu sebelum membuka pintu Jung Jinyoung?” bentak Suzy balik. Heran juga, Jinyoung tau namanya? Ah pasti karena Hyorin! Jinyoung menatap Suzy dengan tampang sangarnya, kentara sekali ia merasa tersinggung sehabis dibentak dengan gadis yang baru dikenalnya seperti itu.

“Apa pedulimu? Terserahku mau pake baju atau tidak!! Itu bukan urusanmu!”

“Tentu itu urusanku! Gara-gara kau, mataku yang suci jadi tercemar akan sesuatu yang ingin dilihat (?) Lagipula, kau pikir sopan bertelanjang dada begitu di hadapan seorang yeoja?” kesal Suzy.

“Heh? Tercemar katamu? Badanku tidak buruk juga kok! Matamu memang sudah dari sananya tercemar!”

“Mworago??”

“Suzy-ah, akhirnya kau datang!” Hyorin menyelamatkan Suzy dari tatapan galak kakaknya. Ia mempersilakan Suzy masuk sebelum Suzy didamprat oppanya dengan sukses.

“Oppa! Pakai bajumu dulu! Dasar!” sergah Hyorin sambil mendorong-dorong Jinyoung ke kamar.

“Suzy-ah!! Now tell me what’s going on!” Hyorin kembali ke ruang tamu berkacak pinggang setelah mempersilahkan Suzy duduk.

“Kupikir orang-orang di rumah sudah menggila! Appaku mulai mengatur kehidupanku lebih keras!”

“Maksudmu?” Hyorin ikut-ikutan duduk di sofa.

“Aku dijodohkan!” Suzy membuang wajahnya sebal jika mengingat kejadian itu.

“Mworago? Dijodohkan? Waeyo? Kau kan masih…”

“Arra! Tapi itulah!! Appaku itu memang seenaknya!! Apalagi orang itu adalah teman mendiang umma!!”

“Mendiang umma? Maksudmu ummamu sudah?” Hyorin menggigit bibirnya menyadari kebodohannya bertanya seperti itu.

“Ne, ummaku sudah meninggal!”

“Mianhae!!” sesal Hyorin.

“Gwaenchana…aku sudah terbiasa kok!”

“Hmm…”

“Makanya aku kabur dari rumah! Sejak jam 8 tadi, aku mencari tempat teman-temanku! Tapi sayangnya sejak dulu aku memang sudah dilarang berteman dengan siapapun!!”

“Waeyo?”

“Karena appaku pikir posisiku sebagai penerus perusahaannya membuatku harus bersikap sempurna sebagai nona muda. Ia tidak ingin aku terbawa arus pergaulan dari teman-temanku! Menyebalkan sekali! Aku tak tahan dengan sikap orang-orang rumah yang selalu mengekangku! Seperti seorang putri yang dikurung dalam sangkar emas saja!!”

“Jadi…sampai kau meneleponku, kau masih keliaran dijalan?” tanya Hyorin. Suzy mengangguk dengan wajah tanpa dosanya.

“Kau ini, mestinya kau datang ke sini lebih cepat! Kalau ada apa-apa gimana? Ayo cepat bereskan barangmu!” Hyorin menarik tangan Suzy dan membawa barang-barangnya. Setelah membereskan barang-barang nya sendiri, Suzy duduk di samping Hyorin yang sudah menunggunya.

“Hmm apa ini?” tanya Suzy saat menemukan kertas-kertas milik Jinyoung yang berisi ungkapan hatinya itu.

“Ah! Itu puisi buatan oppa!” jelas Hyorin sambil mencari-cari selimut di lemarinya.

“Buatan oppamu? Untuk siapa? HR? Hyorin? Maksudnya kau?”

“Aniya! Kau ini bicara apa?”

“Wah…ternyata namja mesum seperti dia bisa menulis puisi seperti ini ya? Benar-benar diluar dugaan!!” komentar Suzy.

“Yaa! Oppaku tidak mesum tau! Bodyguardmu tuh!!” ejek Hyorin yang masih terus mencari selimutnya. Aneh. Kemana ya? Kok ga ada!

“Bentar ya!!” Hyorin keluar ruangan mencari kakaknya, ia ingin bertanya tentang selimutnya. Oppanya pasti tau, karena dialah yang mencuci dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga di rumah ini selama ummanya pergi.

“Oppa? Apa yang kau cari?” tanya Hyorin mendapati kakaknya yang sedang mencari-cari sesuatu.

“Aniy…aku tidak mencari apa-apa!”

“Oh!!”

“Hmm, kenapa nona kaya itu ada disini?” tanya Jinyoung.

“Suzy maksud oppa? Dia kabur dari rumah!”

“Mworago? Yah! Kenapa kau izinkan dia tidur disini? Kalau orang rumahnya menyangka kita menculiknya bagaimana?”

“Aish!! Oppa terlalu berlebihan! Geokjeongmaseyo!”

“Hyorin! Kamu itu terlalu baik bahkan sama orang yang ga kau kenal, kalau ternyata dia itu penjahat gimana?”

“Aigoo!! Oppa nih ngomong apa sih? Aneh-aneh aja! Mana mungkin dia penjahat!”

“Tapi, kamu kan ga tau asal usulnya, siapa tau dia cuman pura-pura baik untuk menipumu!” Hyorin tertegun.

“Pernahkah oppa merasa sangat ingin mempercayai seseorang? Aku juga ingin mempercayai, yah walaupun it might be happen, tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk itu!” sahut Hyorin kemudian. Jinyoung mengangguk mengerti.

“Geurae! Itu memang kelebihan Hyorin! Kau memang yeodongsaengku yang baik!” Jinyoung mengelus kepala yeodongsaengnya. Tanpa disadari, sepasang mata menatap mereka misterius. Yah, dialah Suzy yang tak sengaja mencuri dengar pembicaraan barusan.

“Kau istirahat saja, lelah kan?” Hyorin yang baru masuk kamar –ia jadi lupa tujuan awalnya untuk mencari selimut- Suzy mengangguk, besok ia harus keluar dari sini. Bagaimanapun juga, meski Hyorin berusaha untuk mempercayainya, tapi kalau Jinyoung beranggapan demikian itu hanya akan membebani Hyorin saja. Terlebih Suzy tak mau hal itu terjadi pada Hyorin, teman pertamanya.

“Aku akan pergi besok pagi!” Suzy mengambil selimut Hyorin.

“Apa? Besok? Jangan bercanda Suzy-ah!! Kamu pikir kamu mau kemana?” marah Hyorin.

“Tapi Hyorin, aku…”

“Ga ada tapi-tapian, kalau kamu berani kabur tanpa sepengetahuanku. Aku akan melaporkanmu pada Bodyguardmu itu!”

“Kenapa Kwangie oppa dibawa-bawa dalam pembicaraan ini?”

“Dia dibawa-bawa dalam hal ini, karena cuman dia yang bisa menjinakkanmu!” tukas Hyorin membuat Suzy tertawa, menjinakkan? Itu berlebihan tau!

“Coba saja!” tantang Suzy bercanda.

“Oh gitu, oke aku bakalan ngelapor beneran!” Suzy kembali tertawa, Hyorin memang seorang mood maker. Sekejap saja, mereka sudah seperti teman lama.

“Apa ini?” tanya Hyorin yang menemukan buku berwarna ungu.

“Ah itu buku diaryku! Yaa! Kembalikan!!” seru Suzy.

“Ah my God!! Kau suka….dengan Gikwang sunbae?” Hyorin yang membaca buku itu tampak tidak terlalu terkejut. Suzy menunduk malu.

“Ne, tapi Kwangie oppa terlihat dekat denganmu!!” rajuk Suzy. Hyorin tersenyum.

“Aniya! Siapa yang mau dekat-dekat dengan namja mesum itu?”

“Mesuman oppamu tau!!”

“Hah! Kau ini! Oppaku itu baik!” bela Hyorin.

“Ah kau ini! Ngomong-ngomong soal oppamu, dia sudah punya yeojachingu ya? Puisi tadi…”

“Aniya, aku tidak tau!! Nanti akan kutanyakan…siapa ya? HR? Mungkin Hyun Ra atau…”

“Hyo Rin?” tebak Suzy.

“Yah! Mana mungkin! Kami kan saudara!! Baboya!” jitak Hyorin.

“Aduh! Aku kan cuma asal nebak! Lagian yang bernama Hyorin kan bukan cuma kamu!!”

“Ne, arra! Makanya! Jangan nebak yang aneh-aneh!!” rajuk Hyorin. Suzy tertawa senang menggodanya. Meski dibenaknya ada sedikit tanda tanya. Yah, kalian juga tau. Bukankah Hyorin sendiri yang bilang kalau selama ini kakaknya terlalu baik padanya sampai-sampai tak punya waktu mengurus dirinya sendiri. Bukankah dalam arti lain, yeoja terdekat dengan Jinyoung sekarang hanyalah Hyorin seorang? Selain itu…bukankah puisi itu sudah menjelaskan semuanya? Suzy mencoba menepis semua prasangka dalam kepalanya. Mana mungkin kan? Mana ada orang yang mencintai seseorang yang masih sedarah dengannya. Bukankah itu cinta terlarang?

“Sejak kapan kamu menyukai bodyguardmu?” tanya Hyorin tiba-tiba.

“Eh? Ehm…sejak aku melihatnya pertama kali!! Mungkin?”

“Jinjjayeo? Ternyata cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada!” komentar Hyorin. Suzy hanya mengangguk-angguk saja.

“Kau sendiri? Punya seseorang yang kau suka?”

“Aku…tidak mengerti apa artinya itu…sahabatku Min Tae pernah bilang…kalau menyukai seseorang itu perasaan akan berbunga-bunga jika melihatnya, seperti dia dan pacarnya itu, Lee Taemin!”

“Tunggu dulu! Min Tae yang kau maksud itu, Kwon Min Tae penerus keluarga Kwon itu?” tanya Suzy tiba-tiba.

“Ne, kau mengenalnya?”

“Ehm aniya…aku, maksudku appanya Min Tae dulu adalah dokter pribadi keluargaku!”

“Jeongmal? Wah!! Dunia sempit banget ya!”

“Sayang sekali kedua orang tuanya sudah meninggal!” sesal Suzy.

“Ne, tapi Min Tae sangat dewasa! Dia bisa hidup mandiri, tidak sepertiku!!”

“Ah jadi siapa orang yang kau suka itu?” tanya Suzy lagi. Hyorin menggigit bibirnya, apakah ia harus menceritakannya? Tapi…Suzy menceritakan tentang dirinya, masa dia tidak? Akhirnya Hyorinpun memutuskan menceritakan tentang dirinya dan Gong Chan.

“Wah! Kau beruntung sekali! Mestinya kau terima saja! Kelihatannya namja itu baik!” saran Suzy.

“Entah…aku tidak tau…tapi Min Tae juga menyarankan hal yang sama!”

“Kalau gitu tunggu apalagi? Terima saja?!”

“Akan kupertimbangkan…” gumam Hyorin. Jinyoung tersandar lemas di pintu kamar, setelah mencuri dengar pembicaraan itu tanpa sengaja. Ternyata, cintanya memang bertepuk sebelah tangan dan dia tak sanggup lagi mengubahnya. Kenyataan memang tidak seindah yang diinginkan, kini adik kecilnyapun mulai mengembangkan sayapnya dan terbang jauh meninggalkannya. Ia menyentuh dadanya yang terasa perih. Tegar. Itulah yang harus ia lakukan. Jinyoung pergi ke kamarnya dengan langkah gontai. Kenapa ia harus memiliki perasaan ini? Sangat melelahkan.

“Hmm…kalau dunia ini kiamat…yang tersisa hanya Kwangie oppa dan oppamu…siapa yang bakal kau pilih menjadi suamimu?” tanya Suzy.

“Hah? Kau ini bicara apa sih?”

“Jawab saja!!” Hyorin lantas menggigit bibirnya. Tidak mungkin ia memilih saudaranya sendiri untuk dinikahinya kan? Tapi…ia tak mungkin menyakiti Suzy dengan memilih Gikwang. So?

“Ehm…aku takkan menikah!!” jawab Hyorin, Suzy melengos.

“Aish kau ini!!”

“Biarin!! Kalau aku meninggal sebelum menikah, maka Tuhan akan memberiku penggantinya di surga!”

“Aigoo!! Itu kalau kau masuk surga, babo!!”

“Kau sendiri? Kalau misalkan hanya tersisa Jinyoung oppa dan orang yang dijodohkan denganmu, kau pilih siapa?”

“Si Cha Sun Woo maksudmu? Aku belum pernah bertemu orangnya sih…tapi, mungkin saja orangnya ganteng!”

“Jadi kau pilih orang itu?” tanya Hyorin lagi.

“Maybe…” Suzy mengangkat bahu.

“Eh besok, temani aku ke toko buku ya!! Jebal!! Komik Fairytale udah keluar nih! Aku penasaran soalnya Grey kan ganteng banget!!” cerocos Suzy. Hyorin mengangguk, tak lama kemudian mereka tertidur pulas.

End of Flashback

.

[Now Playing: Beast – Clenching a tight Fist]

Di jalanan sepi itu aku melihat sosok diriku berdiri di ujung jalan menggenggam sesuatu ditanganku seperti bintang? Diriku tampak tidak berdaya, seperti mencari sesuatu yang tidak akan pernah kutemui. Wajah seseorang muncul, wajah yang terkesan familiar dan entah kenapa membuatku bahagia melihatnya. Tapi tiba-tiba sosoknya menjauh dan menghilang bagai debu. Aku berteriak memanggilnya, sampai aku tak mampu mengeluarkan suara lagi. Tak lama kemudian volvo itu muncul dan…

Hyorin tersentak bangun, keringat dingin membanjirinya. Ada apa ini? Dengan mata mengerjap diliriknya jam, masih setengah lima. Bahkan Suzy saja masih tidak bergerak saking pulasnya. Mimpi itu sangat nyata baginya. Hyorin memeluk lututnya, gemetar dan takut. ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Tapi nihil, hanya potongan gambar sekilas yang bisa diingatnya. Hyorin menarik selimut, dan berusaha kembali memejamkan matanya. Napasnya memburu sesak. Apa ini pertanda? Ia mencoba mengabaikan mimpi itu. Perasaan kebas menjalari sekujur tubuhnya.

Hyorin langsung menuju kamar mandi, membasahi dirinya dengan guyuran air dingin. Berharap itu bisa sedikit menyegarkan kepalanya walau sedikit mustahil.

“Wajah itu…aku…mengenalnya…” air mata Hyorin berguguran. Ia masih bertekuk memeluk lututnya yang melemas. Tiba-tiba wajahnya menegang, tatapannya kosong. Bayangan mimpi itu kembali terlintas. wajah itu…bintang itu…Baro!!? Baro…nama itu..? Ini kan? Napas Hyorin kembali memburu.

Tidak!! Ingatanku! Tidak!! Jangan ingatkan aku. Kumohon. Aku tak mau mengingatnya lagi!!

“Umma!!! Umma!! Argh! Aaahhhhhhhhh!!!!!” Hyorin menyentuh kepalanya, memegang dengan kedua tangannya seolah menjaganya agar tidak meledak saat itu juga. Tiba-tiba terlintas di kepalanya kejadian 13 tahun yang lalu. Hyorin menyentuh dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak.

“Umma!! Umma!! Um…ma!!” Hyorin memejamkan matanya yang terasa panas. Kejadian tiga belas tahun yang lalu begitu menyakitkan baginya dan ia tak mampu menahan rasa sakitnya bila mengingat kejadian itu.

Tapi…kenapa Hyorin bisa kembali mengingat kejadian itu? Setelah bertahun-tahun ia berhasil melupakannya, tapi kenapa sekarang muncul kembali? Apa karena mimpi yang barusan dialaminya?

“ARGHHH!!!” Hyorin berteriak sekencang mungkin, dadanya semakin terasa sesak.

“Hyorin-ah!!” Jinyoung yang terkejut mendengar suara jeritan adiknya langsung menghambur menuju kamar mandi. Ia mendapati Hyorin memeluk lututnya yang gemetar.

“Hyorin??” panggil Jinyoung, ia menyentuh pundak Hyorin yang gemetar. Apa Hyorin menangis?

“Hyorin!!” Jinyoung lantas memeluk adiknya. Hyorin menangis sepuasnya di dada kakaknya.

“Baroo…Baro…” isak Hyorin. Rahang Jinyoung mengeras. Baro? Hyorin masih mengingat Baro? Bocah tengik yang menyebabkan kecelakaan adiknya itu?

“Sudah! Jangan dipikirkan! Itu cuma mimpi! Cuma mimpi!!” hibur Jinyoung, ia mengeratkan pelukannya.

“Uljimarayo Hyorin-ah! Uljima!” bisik Jinyoung berulang kali. Ia menutup matanya menahan kepedihan hatinya. Bagaimanapun, ia tidak ingin Hyorin mengingat kejadian itu. Kejadian yang nyaris merenggut nyawa adik satu-satunya itu.

.

“Suzy? Kau sedang apa?” Tanya Hyorin yang tiba-tiba muncul, dan menemukan Suzy yang memakai celemek yang biasa dipakai Jinyoung. Nampaknya ia sedang masak.

“Emm, Hyorin? Kau sudah bangun?” tanya Suzy basa-basi. Hyorin diam sebentar, melongo.

“Yang masih tidur itu kamu! Babo!” sembur Hyorin, ia langsung berlari ke meja makan.

“Baunya enak nih! Tampilannya juga menarik!” komentar Hyorin seolah ia adalah chef master di acara master chef Indonesia (?) Suzy tersenyum malu.

“Ehm…maaf aku lancing menggunakan dapurmu…tapi, ini sebagai rasa terima kasih untukmu! Karena kau telah mengijinkanku tidur dirumahmu!!”

“Duh Suzy-ah, anggap aja ini rumahmu! Memang sih kecil dan jelek, tidak seperti rumahmu maybe tapi kau bebas untuk tinggal di sini.”

“Bukan itu maksudku Hyorin-ah, aku ga mau…”

“Merepotkanku? Kamu buatin aku sarapan pagi, apa itu namanya ngerepotin?”

“Tapi…”

“Ga ada tapi-tapian…ngomong-ngomong kau memang pintar masak ya? Bukannya di rumahmu ada pembantu?”

“Hmm, di sekolahku dulu, aku ikut klub memasak! Makanya aku bisa beberapa!” jelas Suzy.

“Oh ya? Kau sedang masak apa?” tanya Hyorin yang langsung menghampiri Suzy.

“Hmm, aku hanya bisa membuat sarapan sederhana dari telur dan apel! Kau mau membantuku?”

“Ne…biasanya oppa yang membuatkan sarapan untukku! Sekali-sekali aku akan membuatkannya juga!!” Hyorin ikut-ikutan memakai celemek dan mulai memasak –sesuai petunjuk Suzy tentunya-

“Kau pernah membuatkan Gikwang sunbae sarapan?” tanya Hyorin.

“Aniya…kan dirumahku ada pembantu!!”

“Ah…geurae!”

“Sedang apa?” tanya Jinyoung yang tiba-tiba muncul sambil mencuri apel yang ada di atas meja.

“Yah! Oppa! Itukan buat ini, kenapa malah dimakan?” protes Hyorin. Jinyoung kaget dan langsung mengeluarkan apel yang ada dimulutnya.

“Yah! Kau itu jorok sekali sih, Jung Jinyoung!!” Suzy menatapnya dengan tatapan jijik.

“Terserah ku dong! Ini kan rumahku!”

“Tapi…tidakkan kau hormati aku sebagai tamu disini?”

“Ne? Buat apa? Memang kau itu tamu penting?” Suzy mencoba menahan dirinya. Sabar. Ini rumah orang. Jangan sampai dia mengamuk disini hanya karena ejekan dari pemilik rumah. Jinyoung duduk di meja makan sambil memainkan gitarnya, ia mulai bersenandung. Suzy melirik Jinyoung yang sedang serius memainkan gitar sembari menyanyikan sebuah lagu. Entah apa yang merasukinya saat itu, Suzy merasa aneh saat melihat ekspresi serius Jinyoung seperti itu. Mungkinkah karena tampang serius Jinyoung yang sangat ehm MANIS? Ataukah karena suaranya yang bisa dibilang err MERDU? Suara Jinyoung memang sangat indah dan walau hanya dengan iringan gitar akustik, tetap saja terdengar jernih dan lembut! Khas cowo!

Omo!! Apa yang barusan kupikirkan? Aku mengatai suara namja ini bagus?? Yah!! Suzy-ah, please!! Apa kau sudah gila?

“Apa lihat-lihat?” galak Jinyoung menyadari Suzy memperhatikannya dari tadi.

“Terpesona dengan suaraku? Atau dengan tampangku?” tanyanya lagi membuat Suzy mual.

“Mwoga? Adanya telingaku bakal rusak mendengar suara jelekmu! Belum lagi melihat tampang mesummu yang bakal buat aku muntah-muntah begitu!” bentak Suzy.

“Bagus deh kalau telingamu bisa rusak, aku malah berharap! Plus, aku ga butuh pujian yeoja jelek sepertimu! Dasar aneh!” balas Jinyoung.

“Jelek? Kau menyebutku jelek??” marah Suzy, ia melotot ke arah Jinyoung yang menatapnya dengan tampang polosnya itu.

“Wae? Kau tak dengar? Kalau gitu akan kukatakan berulang kali padamu dengan senang hati jelek jelek jelek jelek jelek! JELEK!”

“Yaaa!! JUNG JINYOUNG!!!”

“Aduh! Kalian ini kenapa sih? Kok bertengkar melulu? Ga usah bertengkar begitu. Ntar jadi cinta lagi!” Hyorin mencoba menengahi.

“Hahahahahaha!! Cinta? Dengan makhluk ini? Mending aku ga usah nikah seumur hidup!!” tukas Suzy.

“Apa-apaan sih kamu? Dasar yeoja cerewet! Bikin sakit telinga! Hyorin, kau harus hati-hati dengannya kalau ga kamu bakal ketularan virus cerewetnya dia!” cecar Jinyoung seenaknya.

“What? Virus?? Bisa-bisanya kau? Yah!! Kau pasti anak pungut atau semacamnya, kan? Makanya sifat mu dengan Hyorin jauh berbeda!!”

“Nanananana, anggap aja orang gila ngomong!!” Jinyoung menutup telinga dengan cueknya. Suzy menatapnya kesal. Akhirnya masakan itu jadi juga. Hyorin dan Suzy langsung mengambil tempat di meja makan dan memulai sarapan pagi mereka.

“Suzy! Nih ku kasih jempol deh buat masakanmu! Enak!!” seru Hyorin, Suzy tersenyum bangga.

“Ah kau ini! Kan kau juga ada ikut andil setengahnya, Hyorin-ah!” Suzy tersipu-sipu malu.

“Jangan memujinya Hyorin-ah, nanti telinganya makin gede lagi!” ejek Jinyoung.

“Oppa! Sudahlah!” sela Hyorin.

“Massita!! Kau bawakan buat Gikwang sunbae saja, Suzy-ah!” usul Hyorin.

“Jeongmal? Ehm, tapi…kalau aku bertemu dengannya aku akan dibawa pulang. Andwae!!”

“Oppa bagaimana menurutmu?” tanya Hyorin, Jinyoung yang tadinya sedang makan dengan tenang tiba-tiba ditanya oleh Hyorin lantas merona.

“Ah…rasanya aneh! Menjijikan! Aku belum pernah makan makanan setidak enak ini!!” ujarnya.

“Cih! Tapi kau makan juga! Dasar babo!!” gumam Suzy memicingkan matanya.

.

“Akhirnya kau bawakan juga! Dasar!” Hyorin mencubit pipi Suzy gemas.

“Tapi…aku tak tau harus bilang apa Hyorin-ah!!”

“Tinggal kasih aja apa masalahnya sih?”

“Aish! Kau benar, tapi aku malu!!” mereka berjalan, dan tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang yeoja yang sepertinya adalah sunbae mereka. Parahnya lagi, bekal makan siang yang terkhusus buat Gikwang itu jatuh dan tumpah.

“Uhm, mianhae!” Suzy menunduk dan membereskan bekalnya dengan perasaan sedih.

“Ck, kau tidak punya mata ya?” sunbae itu membentaknya dengan suara keras membuat mereka menjadi pusat tontonan.

“Ah, mianhae! Aku ga sengaja sunbae!”

“Dasar! Masih anak baru sudah belagu! Kau tidak tau siapa aku?” sunbae itu mendorong Suzy hingga ia terjatuh. Hyorin mengepalkan tangannya.

“Diakan sudah minta maaf!! Kenapa harus didorong seperti itu?” Hyorin maju menghadang sunbae itu.

“Kamu…Jung Hyorin kan? Yang kemarin memukul Gikwang dan pingsan di depan umum itu?” Hyorin tertegun. Apa dirinya seterkenal itu?

“Geurae! Wae?”

“Dasar tidak tau diri! Masih baru sudah berlagak sok menjadi pahlawan!!” sunbae itu melayangkan tangannya ke wajah Hyorin. Apa dia mau menamparnya? Hyorin menutup matanya.

“Kyyaaaa!!”

Braakk…

“Sudah kubilang jangan melakukan kekerasan pada anak baru, apa kau tak mendengarku Park Mi Hoon?” suara Gikwang yang tegas membahana di seluruh ruangan, sebagian merasa lega karena Gikwang berhasil menahan tamparan si sunbae itu. Namun buku-buku tebal yang sedari tadi dibawanya terjatuh hingga menimbulkan suara dahsyat.

“Gi…Gikwang?”

“Kau…dan Jung Hyorin-ssi, ikut aku ke ruangan!! Urusan kita yang kemarin belum selesai!” bisik Gikwang kejam, hingga membuat Hyorin merinding. Mau tak mau ia harus mengikuti sunbaenya itu ke ruangan.

“Mian…Hyorin-ah!!” sesal Suzy yang berlalu menuju kelasnya. Ia, tidak hanya sedih karena menyebabkan Hyorin dalam masalah. Bukan karena bekalnya yang hancur juga. Tapi…karena Gikwang yang tidak menyapanya, padahal jelas-jelas ia ada disana.

Hyorin menahan napasnya saat memasuki ruangan berwarna cokelat itu. Bagaimana ini? Argh!! Sial!! Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara Hpnya. Siapa yang meneleponnya?

“Yeoboseyo?”

“Hyorin-ssi? Ini aku, Gong Chan!”

“Go…Gong Chan??” kaget Hyorin. Kenapa dia menelepon? Omo ada apa ini? apa dia ingin meminta jawabannya sekarang?

“Yah! Jung Hyorin! Apa yang kau lakukan? Cepat masuk!!” perintah Gikwang.

“Ah ne…mian Chan…aku sedang…sibuk!! Aku akan telepon kau nanti, arra?” Hyorin memutuskan pembicaraan dan masuk ke dalam dengan patuh.

“Sebagai info tambahan untukmu, dilarang menggunakan Hp selama kegiatan ospek berlangsung! Arra?”

“Nah…bisa kalian jelaskan padaku ada yang terjadi? Jung Hyorin? Ini kali keduanya kau terlibat masalah dengan kakak tingkat!” Gikwang yang duduk tenang dikursinya bertanya dengan gaya angkuh.

“Aku…hanya membela Suzy…” jelas Hyorin.

“Membela??”

“Ne…Suzy tidak sengaja menabraknya. Suzy sudah minta maaf tapi malah didorong! Makanya aku tak bisa tinggal diam begitu saja! Aku….”

“Emosimu kurang bagus juga ya! Hmm…”

“….”

“Baik, detensi untukmu! Tulis kalimat ‘aku takkan melakukannya lagi’ sebanyak lima ratus kali! Dikumpul setelah selesai ospek, arra?”

“Mwo???” kaget Hyorin, gila aja! 500?? Yah! Kau pikir aku anak TK??

“Mengeluh jadi 800!!” tukas Gikwang dingin. Hyorin menggigit bibirnya. Sabar! Sabar!!!

Oh no!! Aku ingin meledak sekarang!!! Sial!!

Hyorin mengepalkan tangannya, sekeras mungkin meredam emosinya dan akhirnya mengangguk. Emosinya kalah dengan akal sehatnya.

Oke! Sabar Jung Hyorin, kalau kau meledak sekarang detensimu akan bertambah! Tapi….melihat wajah mesum ini membuatku ingin membunuhnya sekarang!! Argh!!

“Kau bisa keluar sekarang!” Hyorin membungkuk dan keluar dari ruangan. Ia mengambil Hpnya dan menekan nomor Gong Chan dengan ragu.

“Yeoboseyo??”

“Ah…mian Chan, ada apa?” Hyorin menyentuh dadanya merasakan detak jantungnya. Hmm, normal?

“Kau sedang sibuk tadi? Aku hanya ingin mendengar suaramu!” oh boy~ kenapa sekarang jantungnya berdebar kencang?

“Hey!! Bukankah tadi normal? Kenapa hanya kalimat sederhana seperti itu membuatku begini?” batin Hyorin.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya seseorang mengejutkan. Omo!! Itu Gikwang!!

“Hyorin? Kau masih ada disana?”

“Ah ne…”

“Yah! Jung Hyorin-ssi! Kau tidak mendengarku ya? Tidak boleh menggunakan Hp selama Ospek, dan sekarang kau masih…”

“Ah…Channie-ah kau bilang apa barusan??” tanya Hyorin nyaring, ia memang sengaja bicara keras agar Gikwang tidak mengusiknya untuk sementara.

“Ne? Kau memanggilku Channie?” tanya Gong Chan.

“Yah! Jung Hyorin! Kau mau aku menambahi detensimu?” seru Gikwang seraya mencubit pipi Hyorin. Hyorin melotot sambil memukul-mukul tangan Gikwang.

“Ehm…apa jawabanmu?” tanya Gong Chan.

“Siapa itu? Namjachingumu ya?” goda Gikwang.

“Ne!! Nae namjachingu!” ketus Hyorin agar Gikwang diam.

“Kau mau? Ah gomawo, Hyorin-ah!!” senang Gong Chan. Mata Hyorin terbelalak. Apa katanya? Kenapa Gong Chan berkata begitu? Oh boy~ jangan-jangan dia salah bicara!!

“Maksudmu?” tanya Hyorin.

“Kau berkata ‘ne, nae namjachingu’ kan? Makanya aku berterima kasih kau telah menerimaku! Ah ya! Bagaimana kalau minggu ini kita jalan?”

MWO?? Aku berkata ‘ne, nae namjachingu’??? Kapan??? OMO!! Ottokhae??? NOOOOOOO!!! Ini gara-gara Gikwang!! Siaaaaal!!! ARRRGGGHHHH!!!!!

.

TBC~~~

oke deh sampe sgtu dlu chingudeul!!! nantikan part selanjutnya yaaa. love u

wassalamualaikum!!

Posted 23 Juli 2012 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: