[FF] Here For You – Part 2   3 comments


Assalamualaikum!!

Annyeong haseyo readers!! saia datang kembali dengan part 2.a!!!

oke deh! langsung check it out yeaaa!! moga pd suka^^

.

HERE FOR YOU

Author: d_na

Genre: Romance

Length: 2 of ?

Cast:

Bae Suzy

Reader as Jung Hyorin

Jung Jinyoung

Lee Gikwang

Cha Sun Woo

Gong Chan Shik

=====================O==================

[Now playing: Big Bang – Oh My Friend]

Lee Gikwang atau Gikwang begitu ia biasa di panggil mendapati dirinya grogi bahkan dahinya basah oleh keringat yang mengalir cukup deras. Pekerjaan sebagai bodyguard memang sudah dilakoninya bertahun-tahun. Dan ia sudah bekerja untuk berbagai tipe majikan. Mulai dari majikan yang pemarah, majikan yang ramah, orang tua, kakek-kakek, nenek-nenek, maupun anak muda seusianya. Dan sekalipun tidak pernah ia merasakan pengalaman seperti ini saat melayani majikannya terdahulu.

Gikwang berusaha tersenyum mengingat kejadian 1 jam yang lalu dimana Suzy memintanya dengan sangat manis untuk menemaninya pergi ke suatu tempat. Tapi jika dalam keadaan begini tentu saja bukan senyum yang tampak di wajahnya. Melainkan ketakutan setengah mati. Ia menahan nafasnya saat mobil itu berbelok dengan tajam, hampir menabrak kotak pos yang ada di ujung jalan. Ia melihat sekilas ke arah Suzy yang duduk tenang di bangku kemudi. Ekspresinya tidak terbaca. Seolah ia sedang bermain game saja. Gikwang beralih ke speedometer mobil yang tertulis angka 100 km/jam! Ok! Suzy memang majikan paling unik dan beda yang pernah ia temui selama ini.

Ckiiiiittttttt….

Suzy menginjak pedal rem mendadak, membuat Gikwang –untuk beberapa detik- berhenti bernapas. Namun senyum bangga yang menghias sudut bibir Suzy membuat Gikwang hanya bisa geleng-geleng kepala. Kalau begini, ia seharusnya menjadi bodyguard untuk dirinya sendiri bukan untuk Suzy. Karena nyawanya lebih dipertaruhkan sekarang. Ga lucu kan kalau ada berita tentang Bodyguard yang mati karena naik mobil yang dikendarai majikannya?

“Oppa gwaenchana?” Tanya Suzy. Gikwang membuang mukanya dan menatap kosong jalanan di luar sana. Suzy menypitkan matanya dan mendesis kesal.

“Cih! Mengacuhkanku terus! Akan kubuat kau menyesalinya!” gumamnya. Ia lantas membuka sabuk pengaman dan langsung keluar dari mobilnya tanpa disadari oleh Gikwang.

“Yah! Nona Suzy!!! Suzy-sii! Odieyeo? Chamkan!!” seru Gikwang sambil mengejar Suzy yang melarikan diri itu.

.

“Oppa? Otthe?” Tanya Hyorin yang sedang memamerkan gaun ungu lavender yang dikenakannya. Jinyoung terperangah, kemudian tersenyum tipis.

“Warna hijau lebih cocok!”

“Hijau? Shireo! Aku benci warna hijau!” tolak Hyorin. Jinyoung menghampiri adiknya dan memutar tubuh Hyorin sambil terus mengamatinya dengan seksama.

“Sudah kubilang, warna hijau akan jauh lebih bagus dikulitmu!”

“Jinjja? Tapi aku suka yang ini…”

“Yasudah, kita beli yang ini saja!”

“Ah permisi, kami mau ngambil yang ini!” seru Jinyoung pada seorang pramuniaga.

“Tolong berikan yang warna hijau padaku!” sela Hyorin pada pramuniaga. Jinyoung menatapnya bingung.

“Ne?” Tanya si pramuniaga, yang kemudian segera mengambil gaun yang berwarna hijau.

“Bukannya kau bilang tidak suka?” Tanya Jinyoung. Hyorin tersenyum penuh arti.

“Asal oppa yang belikan yang mana aja aku terima!”

“Hehe bercanda! Apapun pilihan oppa padaku, aku pasti akan menyukainya!” Jinyoung mengelus kepala Hyorin sayang.

Hal yang paling kusukai dari Jinyoung oppa ialah, dia mampu membaca perasaanku dan menenangkannya. Sekejap, setelah sentuhan tangannya di kepalaku, aku merasa lebih rileks.

“Gomawo oppa…oppa memang oppaku yang terbaik! Saranghae!” ujar Hyorin. Jinyoung memeluknya dari belakang, dan berbisik.

“Na do saranghae, yeodongsaengku tersayang!” lirih Jinyoung. Ia sangat serius ketika mengatakan hal itu. ia tidak tau apa arti dibalik kata-kata Hyorin –apakah itu perasaan seorang adik terhadap kakaknya atau apa- Tapi yang pasti Jinyoung tidak mengucapkannya dengan arti yang sama dengan Hyorin. Jinyoung benar-benar mencintai Hyorin, perasaan cinta seorang namja terhadap yeoja.

Seorang pramuniaga datang dan mengacaukan momen kedua kakak adik itu. Ia datang membawakan pesanan Hyorin. Melihat pesanannnya datang, Hyorin lantas mencobanya. Ternyata tidak seburuk dugaanya.

“Bagus kan?” ujar Jinyoung. Hyorin mematut dirinya sendiri seraya mengangguk-angguk.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Jinyoung pada pramuniaga yang sedang melihati mereka.

“Ne? oh bagus kok! Nona lebih bagus dengan warna hijau! Ternyata pilihan seorang namjachingu memang tidak salah!!” goda pramuniaga itu.

“Namjachingu?” ulang Hyorin tak percaya, Jinyoung hanya tersenyum-senyum salting.

“A…aniya!! Dia oppaku, bukan namjachingu!!” jelas Hyorin.

“Jeongmalyeo? Ah mian! Saya pikir dia namjachingu anda!!” pramuniaga itu terpekur malu.

“Gwaenchana, banyak yang bilang begitu kok! Kami memang seperti pasangan kekasih!! Hahaha!”

“Dasar!!” Jinyoung mengacak-acak rambut adiknya.

“Aish oppa!! Rambutku sudah kurapikan susah payah! Jangan diberantakan dong!!” Jinyoung malah tertawa senang menggoda adiknya.

“Memangnya kenapa?” Tanya Jinyoung polos.

“Aigoo!! Kalau aku berantakan tidak akan ada namja yang melirikku!! Oppa mau kalau yeodongsaengmu menjomblo seumur hidup?” Tanya Hyorin kesal.

“Kan ada oppa!!”

“Hah? Maksud oppa apa?” mata Jinyoung melebar kaget dengan ucapannya sendiri.

“Maksudnya, meski oppa sudah menikah nanti oppa masih bisa menampungmu!”

“Oh…geurae…”

“Entah bagaimana nantinya, oppa ga bisa bayangkan kamu hidup sendiri Hyorin-ah!! Masak nasi saja kau tak bisa! Bagaimana nanti kau menikah??”

“Aigoo! Ituka masih lama? Yang jelas nanti suamiku harus orang yang seperti oppa! Yang bisa apa aja!! Jadi meski aku ga masak, ga masalah dong?? Hehe!” Hyorin tertawa dan Jinyoung tersenyum tipis sembari mengelus kepala adiknya, membuat pramuniaga itu jadi salah tingkah sendiri. Setelah membayar, mereka berdua keluar dan berjalan-jalan di taman.

“Kau haus?” Tanya Jinyoung. Hyorin mengangguk, gaun hijaunya menari-nari tertiup angin. Jinyoung berhenti di sebuah kedai kopi membeli dua cup espresso dan Ho-tteok (*sejenis pancake namun diisi dengan bahan sirup seperti gula merah, madu, kacang parut dan kayu manis).

“Gomawo!” Hyorin meminum kopinya dan mengunyah Ho-tteok miliknya.

“Ah massitta!!”

“Ne…” Jinyoug menghabiskan Ho-tteok miliknya. Begitu juga Hyorin.

“Ah! Udaranya bagus sekali!! Gomawoyo oppa untuk hari ini!” DEG! Senyuman Hyroin barusan meggetarkan hati Jinyoung. Ah! Perasaannya semakin menjaadi-jadi!!

“Nih!” Jinyoung mengelap sisa sirup gula merah di bibir Hyorin dengan sapu tangannya.

Brakkk

“Ah! Panas!!” erang sebuah suara.

“Aw! Sakit!”

“Hyorin-ah, gwaenchana?” Tanya Jinyoung seraya membantu Hyorin berdiri. Seorang gadis menabrak Hyorin hingga kopi yang di pegangnya tumpah ke baju si gadis. Yeoja itu berdiri dan mecoba membersihkan bajunya.

“Ah! Mianhae!!” sesal Hyorin, gadis itu mendongak dengan wajah kesalnya.

“Yaa!! Kau punya mata atau tidak? Lihat apa yang kau lakukan padaku!!” bentak gadis itu.

“Joseonghamnida joseonghamnida!!” Hyorin membungkuk berulang kali.

“Kau tidak tau berapa harga pakaian ini? Memangnya cukup kalau hanya dengan kata maaf?”

“Anu…aku akan…mengganti biaya pencuciannya!!”

“Hah? Kau pikir kau sanggup?”

“Sudah cukup! Kaulah yang salah, mestinya kau yang minta maaf padanya!!!” seru Jinyoung menengahi. Gadis itu menatapnya tak percaya, seumur hidup baru kali ini ia dibentak oleh orang yang tak dikenalnya. Apa mereka tidak tau siapa dia?

“Mworago???”

“Apa? Cepat minta maaf!!” suruh Jinyoung lagi. Gadis itu malah melipat tangannya dengan gaya angkuh.

“Buat apa aku minta maaf? Yang menumpahkan kopi kan dia, bukan aku!!” sahutnya tak mau kalah.

“Itu karena kau yang menabraknya! Minta maaf! Ppali!”

“Oppa! Sudahlah!!” Hyorin menarik lengan Jinyoung. Tapi Jinyoung masih tetap keukeuh untuk mempertahankan hak adiknya itu (?).

“Suzy-ssi! Suzy-ssi!! Odieyeo?? Suzy-ssi!!” seru Gikwang yang terus menerus mengejar-ngejar Suzy.

“Omo! Dia datang! Ottokhe?” Suzy lantas berlari lagi. Ia menarik tangan Hyorin tanpa sadar.

“Eh? Kita mau kemana?” Hyorin yang terseret ikut berlari, melihat itu Jinyoung pun lantas mengejarnya.

“Ya! Mau kau bawa kemana Hyorinku?” seru Jinyoung.

“Suzy-ssi!! Chamkan!!!!” Gikwang yang terus berlari mengejarnya sudah mulai merasa lelah. Mereka berempat sedang asyik kejar-kejaran a la film India *ditabok Gikwang, asyik palelu!* Dengan gerakan yang begitu cepat, Gikwang sudah berdiri di depan Suzy!

“Sudah cukup main india-indiaannnya, Suzy-ssi! Ayo kita pulang!”

“Shireooooooooooooooo!!!” seru Suzy dengan gaya kekanak-kanakkannya.

“Suzy-ssi!!” Gikwang melotot, ia menarik paksa lengan majikannya. Namun bukan Suzy yang ditariknya, melainkan lengan Hyorin! Sementara Jinyoung yang menyusul langsung menarik lengan adiknya.

“Yah kau apakan Hyorin!!! Lepaskan dia!” marah Jinyoung.

“Mwoga? Hwaah!! Sejak kapan aku menarik lenganmu??” Tanya Gikwang bingung.

“Kau yang menarikku, kenapa malah bertanya padaku?” kesal Hyorin.

“Yaa!!” marah Jinyoung.

“Lepaskan dulu nona Suzy!! Atau gadis ini…” Gikwang merangkul bahu Hyorin dari belakang. Jinyoung menatap namja itu heran. Melepakan nona Suzy?? Maksudnya? Dia lantas melihat tangannya yang sedang memegangi lengan seorang gadis –yang semula ia kira itu adalah lengan Hyorin- ternyata adalah lengan Suzy!!

“Hwaah!!!” jerit keduanya.

“Yah! Apa-apaan kau? Dasar pervert!!” jerit Suzy sambil memukul-mukul lengan Jinyoung.

“Yah! Kau yang apaan? Kenapa memukulku? Aku kan tidak sengaja!!”

“Apanya? Kau pasti sengaja kan? Dasar mesum!!!”

“Enak aja mesum! Kau tuh!” balas Jinyoung

Sementara kedua orang itu sedang bertengkar gaje, Gikwang yang memeluk Hyorin masih belum sadar akan tindakannya sampai Hyorin harus menginjak kakinya.

“Ah! Sakit!” keluhnya.

“Sampai kapan kau mau memelukku seperti itu bodoh!” sahut Hyorin marah. Ia ingin sekali menampar wajah namja itu. Hyorin berbalik dan…

Deg! Deg! Deg!

Apa ini? Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa seperti tak menginjak bumi lagi saat melihat gadis ini? Apa yang terjadi padaku? Ah, gadis ini matanya sangat indah. Besar, bulat, hitam dan jernih. Wajah innocentnya juga begitu bening. Angin yang berhembus menerbangkan rambut gelombangnya menyapu wajahnya. Wanginya seperti wangi jeruk. Apa ini shampoo gadis itu?

Plakkk…

Tamparan keras yang membekas di wajah Gikwang memerah. Hyorin lantas langsung pergi dari sana tanpa memperdulikan apapun. Bahkan di juga lupa akan oppanya yang masih asyik bertengkar dan tertinggal di sana.

“Cih!! Apa-apaan mereka! Menyebalkan!!” kesal Hyorin meluap-luap.

“Dasar pervert!!! Nuts!! Jangan sampai aku bertemu dengannya lagi! Menjijikan!!!” Hyorin menghentakkan kakinya.

Hmm, tapi itulah permainan takdir. Benang merah tak terlihat yang menjerat mereka ke dalam kisah rumit dan membelenggu kini sudah membentang tanpa mereka sadari.

.

[Now Playing: Park Shin Hye – Lovely Day]

“Hahhh??? Ga salah??!!! Shik Gong Chan??” seru Min Tae nyaring membuat telinga Hyorin nyeri ketika ia menceritakan apa yang dikatakan Gong Chan padanya beberapa waktu yang lalu.

“Ne…”

“Hahahaha!!!” tiba-tiba Min Tae malah tertawa, Hyorin mendesis sebal.

“Kenapa sih?”

“Akhirnya, Gong Chan bilang juga!” sahut Min Tae.

“Hah? Maksudmu?”

“Kenapa kamu bisa begitu buta sih? Gong Chan itu suka sama kamu!” ujarnya lagi.

“Mwoga? Kau tau darimana?” Tanya Hyorin tidak mengerti.

“Kamu ingat ga dia pernah bantuin kamu pas di kolam renang? Waktu kamu hampir tenggelam?” tanya Min Tae.

“Ehm ya? Tapi masa sih cuman karena itu? Kan aneh! Cuma ngebantuin belum tentu suka!”

“Waktu itu anak-anak mau kasih kamu napas buatan, tapi dia marah dan langsung menggendongmu ke ruang kesehatan. Baru kali itu kulihat Gong Chan berekspresi seperti itu!”

“Hah? Napas buatan??? Apa-apan sih!!” wajah Hyorin kembali merona.

“Dia melindungimu tau! Dia takkan berbuat macam-macam kepadamu Hyorin, dia cowo sopan sih!!” sergah Min Tae sambil tertawa. Apaan sih?

“Min Tae-ah, itu tak bisa di sebut suka. Menurut buku yang aku baca…”

“Hah teori mulu!! Cape deh!! Kau tau sendiri dia mulai memperhatikanmu, sejak itu kan? Lagian sekarang ia bilang dia suka. So apa salahnya kalau kau terima?” sela Min Tae.

“Dia ga ada memintaku…”

“Aigoo! Cape ngomong sama kamu!” Min Tae menghela nafas lalu terbahak lagi. Hyorin hanya bisa menggigit bibirnya, apa memang begitu seharusnya?

“Lagipula pacaran itu apa sih?” Tanya Hyorin lagi. Ia memang ga pernah yang namanya pacaran sampai sekarang. Memang ada beberapa namja yang bilang mau pacaran dengannya, tapi ia ga tau caranya jadi ia hanya menolak yang datang padanya. Lagipula baginya pacaran itu tidak penting, selama dia punya keluarga dan teman-teman yang menyayanginya.

“Ah kamu ini payah deh! Udah SMA masa ga pernah pacaran?” Hyorin mengangkat bahu sebagai respon terbaik yang bisa diberikannya pada Min Tae –seakan Min Tae bisa lihat saja-

“Emangnya kamu pakar cinta apa?” Tanya Hyorin.

“Aigoo! Ga perlu jadi pakar cinta tau! Lagian Chan itu orangnya baik, terima saja!! Udah ganteng, pintar, popular, kurang apa coba?” Hyorin tertegun, ia jadi bimbang sendiri.

“Aku ga tau, aku kan ga pernah!”

“Yah, jadiin pengalaman gitu!” sahut Min Tae. Pengalaman? Maksudnya?

“Hmm, kupikir-pikir dulu deh! Aku akan minta saran dari umma!!”

“Aish! Dasar anak mami! Geurae, nanti kalau udah jawab kasih tau aku ya!!”

“Ne…bye!” Hyorinpun menutup flip Hapenya dan berbaring di tempat tidurnya.

“Pacaran?” gumamnya. Ia tidur dengan gelisah, padahal sudah bolak-balik selama satu jam. setelah  gagal memejamkan mata, Hyorin duduk dengan gelisah bersandarkan pada bantal hamster kesayangannya. Hyorin menarik nafasnya dengan seluruh kekacauan di hatinya.

“Aigoo! Ga perlu jadi pakar cinta tau! Lagian Chan itu orangnya baik, terima saja!! Udah ganteng, pintar, popular, kurang apa coba?”

Ne, kurang apa coba Hyorin? Kenapa tidak kau terima saja? Lagipula itu bukan sebuah kesalahan, kan? Argh!! Kenapa aku jadi begini??

Hyorin menutupi wajahnya sambil menjatuhkan kepalanya ke tempat tidurnya semula. Tiba-tiba bayangan namja pervert itu membayang dalam kepalanya. Namja bermata gelap yang memeluknya tadi siang.

Akh!! Menyebalkan!! Kenapa aku harus ingat dia di saat-saat seperti ini? Yaks!!!

Hyorin mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia melirik jam dinding kamarnya dan menghela napas berat.

Duh! Udah hampir pagi nih!!

.

“Hyorin-ah, irona! Udah pagi nih! Kamu ga siap-siap?” Jinyoung membangunkan Hyorin yang masih saja ngulet di tempat tidurnya yang nyaman. Tak lama ia terbangun, matahari begitu menyilaukan mata menembus gorden jendela kamarnya yang sudah usang.

“Ugh…jam berapa nih?” tanyanya sambil mengucek-ngucek mata.

“Udah jam setengah 9 tau!”

“Hah??? Omo!! Aku kan belum kembaliin formulir pendaftaran ulang di Clamp University! Aigoo! Oppa kenapa kau tidak membangunkanku!” Hyorin langsung menghambur ke kamar mandi.

“Oppa, tolong ambilkan amplop coklat di atas meja!” seru Hyorin, Jinyoung hanya geleng-geleng kepala saja.

“Hyorin, kau ini pintar, cantik dan baik. Betul-betul perfect, kecuali dirimu yang terlalu cepat panik itu. Hhhh.” Gumam Jinyoung sambil mengambil amplop coklat.

Pagi ini begitu cerah dan sangat panas. Hyorin terus berdoa dalam hati, semoga tempat pendaftarannya belum tutup.

“Ya Tuhan, ku mohon! Jebal!” desahnya berulang kali. Ia berlari mendekati tempat itu.

Brakkk!!

“Aduuduh…!” eh? Lagi-lagi ia menabrak seorang yeoja.

“Mian…mian!!” sahutnya reflex sambil membantu yeoja itu berdiri.

“Aku yang minta maaf, aku tidak lihat-lihat. Aku buru-buru, hari ini kan pendaftaran terakhir. Eh?”

“Kau?????”

“Yang kemarin kan?” Tanya yeoja itu. Hyorin mengangguk kaku, matanya berkeliling kalau-kalau namja kemarin juga ikut. Dan ternyata dugaanya tepat. Ada namja mesum itu berdiri tak jauh dari mereka.

“Sepertinya kita berjodoh! Ah, Suzy imnida!” sahut yeoja bernama Suzy itu ramah.

“Eh? Hyorin! Jung Hyorin!” Hyorin menyambut tangan yeoja itu sambil tersenyum kaku menatap namja mesum yang memperhatikannya dari atas sampai bawah. Tatapan khas seorang pervert!!

“Ah dia…bodyguardku. Namanya Lee Gikwang! Dia juga senior kita disini!” ujar Suzy memperkenalkan namja itu. Tunggu dulu!!! Bodyguard katanya?? Igemwoya????

“Annyeong, Lee Gikwang imnida! Kita bertemu lagi!” Gikwang membungkuk hormat. Hyorin menatapnya dengan pandangan tak percaya. Namja ini…seorang bodyguard? Hah!!! Itu mustahil! Kalau dia memiliki tubuh atletis seperti Siwon super junior atau Taecyeon 2 pm masih wajar, tapi ini? Namja bertubuh sedikit ehm mungil (?) ini adalah seorang bodyguard? Apa dia takkan mati lebih dulu kalau begini? Siapa yang bakal melindungi siapa?

“Jung…Hyorin!” Hyorin membungkuk sedikit.

“Salam kenal Hyorin-ssi!”

“Ne…na do…”

“Jung Hyorin?” seseorang memanggil nama Hyorin. Ternyata panitia penerimaan mahasiswa baru, Hyorinpun langsung menghampirinya.

“Ah ne?”

“Kau…Jung Hyorin-ssi?” Tanya panitia.

“Ne…”

“Ah Kwangie-ah! Kau ada disana? Masuklah! Bantu kami!” seorang namja memanggil Gikwang yang hanya mengangguk sebentar.

“SMA Mori kan?” Tanya namja itu dingin, Hyorin mengangguk. Wah kenapa dia bisa tau?

“Jurusan?”

“Eh? Jurusan sastra asing!” jawab Hyorin. Orang itu nampak mencari-cari namanya di berkas.

“Kau jurusan sastra asing?” Tanya Gikwang, Hyorin pura-pura tak mendengarnya.

“Wah kalau begitu, kau akan menjadi juniorku!” senang Gikwang. Hyorin terbelalak. Junior katanya? Maksudnya? Dia itu….jurusan sastra asing juga? Ige mwoya!! O boy~ ottokhaji?? Andwae!!! Kenapa ia harus satu kampus dengan makhluk nuts ini!!!!

“Wah kalian satu jurusan ya? Ah aku jadi iri!! Belum-belum oppa sudah punya teman baru! Menyebalkan!” sergah Suzy kesal.

“Memang kau masuk apa, ehm Suzy-ssi?”

“Ah kau terlalu formal! Panggil Suzy juga bisa, ehm aku ambil Administrasi bisnis *wkwkwk*” jawabnya. Jujur saja, ia merasa agak iri dengan Hyorin yang satu jurusan dengan Gikwang, iri dengan Hyorin?? Yah, mungkin ia tidak mau juga namja tampan ini akrab dengan Hyorin.

Kwangie oppa adalah milikku!! Karena aku menyukainya!

Batinnya menjerit, ia seakan memutar kembali kejadian tadi pagi saat Gikwang membangunkannya.

Flashback

“Suzy-ssi! Bangunlah, sudah pagi!!”

“Ng?? Yaah!! Kenapa kau masuk ke kamarku seenaknya???” jerit Suzy yang mendapati seorang namja tampan tepat berada 5 senti dari hidungnya. Ia lantas memukul si empunya wajah dengan bantal boneka anjing berwara kuning kesayangannya *kkk~*.

“Yah, what the…” Suzy langsung berdiri.

“Dasar mesum!! Kulaporkan pada appa kamu! Pergi sana!!” usirnya. Pemuda itu bergeming.

“Mandilah, hari ini pengumpulan terakhir formulir daftar ulang!”

“Yah! Siapa kamu menyuruhku mandi? Mau aku mandi atau tidak itu bukan urusanmu!!”

“Sekarang itu menjadi urusanku!!” tuntut Gikwang.

“Aku ga butuh pengasuh bayi!!” Suzy menyipitkan matanya.

“Aku bukan pengasuh bayi, aku ini bodyguard!”

“Maka dari itu, kau tak perlu mengurusi hal-hal kecil seperti itu!!”

“Pokoknya, semuanya yang berhubungan denganmu menjadi urusanku. Sekarang mandilah!!” suruh Gikwang sembari mendorong-dorong Suzy ke kamar mandi.

“Andwae!!! Aku ga mau mandi!!” tolak Suzy sambil menarik diri dari dorongan Gikwang.

“Yah! Bersikaplah seperti anak berusia 18 tahun!!” Gikwang terus-terusan mendorongnya.

“Aigoo!! Apa-apaan kau? Kenapa mendorong-dorong majikan seenak dengkulmu? Kau mau kupecat!!!?” ancam Suzy. Gikwang mengacuhkannya.

“Cepatlah mandi! Kau bisa terlambat!! Kalau tempat pendaftarannya tutup, kau tidak akan bisa kuliah! Dan urusanku akan jadi lebih banyak! Ppali!!”

“Aigoo! Tapi lepas….oppa!!!” Gikwang terhenyak. Oppa? Apa dia tak salah dengar? Suzy memanggilnya oppa?

“Mwoya? Wajahnya merah! Hahaha!! Rasakan kau!! Kwangie oppa~~” goda Suzy dengan agyeonya, membuat wajah Gikwang memerah semakin menjadi-jadi.

“Hahahahahaha!!” senang Suzy.

“Yah! Cepat mandi!!!” bentak Gikwang, yang dibentak malah ketawa tambah nyaring.

“Oppa! Oppa! Oppa!” goda Suzy lagi. Gikwang menatap tajam dirinya, tatapan khas yang sangat tajam dan menusuk itu membuat reaksi pada jantung Suzy. Yah, kini jantungnya berdebar lebih kencang. Napasnya memburu. Ia lantas masuk ke dalam kamar mandi untuk menyembunyikan perasaanya.

“Ah jantungku…!” desahnya seraya meraba dadanya. Apa boleh begini? Apa aku boleh menyukainya?

End of flashback

.

“Ne, Mr. Cha! Ah alguissumnida! Ah dia akan kembali? Baik kalau begitu perjodohannya akan di majukan sebulan lagi. Ne…gamsahamnida!” Mr. Bae So Bin menutup teleponnya. Ia tersenyum penuh arti. Kini putri kecilnya akan memiliki pasangan hidup. Memang usianya masih tergolong belia, tapi mengingat kelakuannya yang udah ga bisa ditolerir, Mr. Bae berharap calon suami anaknya akan mampu menghadapi keakuan ‘liar’ anaknya.

Cha Sun Woo, seorang musisi terkenal yang tinggal di Amerika saat ini. Bulan depan dia akan kembali ke Korea untuk melaksanakan perjodohan dengan Suzy. Mereka berdua sama-sama seorang pewaris perusahaan terkenal. Jika kedua insan ini bergabung, maka kekayaan mereka takkan tertandingi. Pernikahan politik, singkatnya.

“Aigoo, anakku akan menikah!! Kenapa aku jadi sedih begini ya?” gumam Mr. Bae sembari menatap foto istrinya. Istri yang teramat dicintainya namun telah meninggalkan hidupnya. Yah, sesuai wasiat istrinya itu pula Suzy harus dinikahkan dengan orang yang pantas mendampinginya. Dilihat dalam berbagai sudut, hanya Cha Sun Woo lah yang memenuhi kriteria tersebut.

.

TBC~

nyahahaha si Mr. TBC dateng!! oke deh sampe sgtu dulu yaa!! kritik dan sarannya jgn lupa yaa !!

wassalamualaikum !!!🙂

Posted 23 Juli 2012 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , ,

3 responses to “[FF] Here For You – Part 2

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah keren apalagi suzy mau di jodohin ama baro jadi seru deh. eh aku kok nyari yg part 1gak ketemu? aku jadi gak bisa baca+komen keren kok thor

  2. Menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: