[FF] Here For You – Part 1   7 comments


annyeong ^^

lama gk update FF…

lagi-lagi FF ini udah pernah saia publish di fb author…so, kalo nemu yang mirip bukan plagiasi namanya…itu mank fb saia..kekkekek~~

.

Author: d_na

Genre: Romance

Length: 1 of ?

Cast:

Jung Hyorin as you

Bae Suzy

Jung Jinyoung

Lee Gikwang

Cha Sun Woo

Gong Chan

================================

13 years earlier at Chunahn city in South Choongchung Province….

Seorang yeoja kecil sedang asyik bermain pasir sendirian, ia tengah mengembangkan imajinasinya untuk membangun sebuah istana pasir meskipun itu hanya tampak seperti gundukan tanah yang tak berbentuk. Namun senyum manis yang menghias bibirnya mengisyaratkan kepuasannya pada hasil karyanya.

Zraakk….

Sebuah bola dengan mulusnya mendarat di gundukan pasir itu dan menghancurkannya.

“Yaah! Apa macayah mu?” teriak yeoja itu dengan suara cadelnya pada seorang namja kecil yang menjadi tersangka (?) itu.

“Apa macayahmu? Dasar cadel!! Ngomong aja ga bisa!” ejek namja itu seenaknya. Gadis kecil itu menggembungkan pipinya tidak terima.

“Dacal namja jeyek! Menyebalkan!!” teriak gadis itu lagi sambil berlari masuk ke kelasnya. Ia mengadu pada gurunya tentang keusilan temannya itu.

“Baro! Jangan begitu lagi ya! Ayo sekarang kalian temenan!” ujar ibu guru.

“Aniya concengnim, aku ga mau temenan cama namja jeyek itu!” gadis itu bersembunyi di balik gurunya.

“Aish ga boleh begitu, ayo temenan!”

“Andwae! Siapa yang jelek? Dasar gendut cadel! Lihat aja nanti kalau udah besar aku pasti jadi orang tercakep sedunia!!”

“Dacal tukang khayal! Balo jeyek! Payah!” ejek gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.

“Namaku Baro! Bukan Balo! Awas kalau kamu suka sama aku nanti!!”

“Aduh aduh jangan bertengkar!” guru itu sampai bingung mau mendamaikan kedua siswanya yang selalu bertengkar itu.

.

“Nah, hari ini kita bikin bintang yuk! Ada yang tau seperti apa bentuk bintang?” tanya ibu guru.

“Caya bu! Bintang itu cepelti ini kan?” yeoja berambut ikal itu menunjukan gambar berbentuk bintang.

“Ne, betul sekali! Oh ya, hari ini adalah hari terakhir kita bersama Baro, dia akan pindah! Jadi kita buat bintang yang bagus buat dia, ok?” ajak bu guru, seluruh murid di TK itu langsung membuat bintang dengan cara mereka sendiri.

“Kenapa tidak membuat?” tanya ibu guru pada yeoja kecil yang sedari tadi diam saja itu. Anak itu menggeleng.

“Kau tidak bisa membuatnya?”

“Ne…”

“Ahahahah payah! Dasar gendut payah! Buat bintang aja ga bisa!!” ejek Baro tiba-tiba, membuat gadis kecil itu merengut.

“Dacal Balo jeyek! Aku benci!!” marah anak itu kemudian berlari keluar kelas.

“Yaah tunggu!!” kejar Baro.

“Hikshikshiks umma!!”

“Dasar cengeng, diolok gitu aja nangis!” ejek Baro lagi. Gadis itu berbalik menatapnya kasar.

“Kamu mau apa? Pelgi cana jauh-jauh! Aku ga cuka ngelihat namja jahat cepelti kamu! Aku ga mau lihat kamu lagi!!” teriak yeoja itu. Tiba-tiba Baro memeluknya.

“Yaah! Aku memang akan pergi! Pergi jauh! Kau jangan kangen padaku ya cadel!”

“Balo…mian! Aku cuma belcanda! Jangan pelgi! Kalau kamu ga ada ciapa yang bakal nemeni aku?” gadis itu mulai menangis. Baro menghapus air mata gadis manis didepannya, ia tau setiap perpisahan itu berat. Tapi inilah yang harus ia jalani.

“Yah! Uljima! Tenang saja aku pasti akan kembali!”

“Ga mau! Ga mau! Shileoyo *shireoyo*!”

“Tapi kamu harus janji sama aku, kamu bakal jadi gadis yang tegar dan dewasa! Oke? Tetaplah tersenyum dan ceria! Saranghae…” ujar Baro seraya memberi sebuah bintang yang ia buat. Bintangnya memang tidak seindah aslinya, tapi bintang itu dibuat dengan penuh perasaan. Gadis itu menatap bintang itu dalam-dalam, Baro mengelus kepalanya dan tersenyum.

“Jaga baik-baik ya! Anggap saja itu aku!”

“Gomawoyo…”

“Kalau sudah besar kau harus menikah denganku, oke?” ujar Baro lagi dengan senyum lebarnya.

“Ne!!”

“Jeongmal? Janji?” yeoja itu mengaitkan kelingkingnya di kelingking Baro, pertanda sebuah janji.

“Aku tidak punya apa-apa untukmu, Balo. Ah ya ini…” gadis itu melepas kalung yang dipakainya, kalung perak dengan inisial namanya.

“Jangan campai ilang yah! Itu mahal, nanti umma malah kalau ilang!” pesan gadis itu. Baro tersenyum senang seraya merangkul gadisnya ke kelas. Bu guru yang menyaksikan tampak terharu. Anak-anak cepat sekali dewasanya.

.

Gadis kecil itu masih memandangi bintang sambil berjalan pulang ke rumah. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya tentang namja tampan di sekolahnya itu. ia berjalan tak lihat-lihat, sampai sebuah Volvo merah melaju dengan kencangnya, menghantam tubuh mungilnya. Bintang yang berlumuran darah itu terpental dari tangannya dan menggelinding masuk ke dalam selokan terdekat.

.

[Hyorin POV]

[Now Playing: BoA – Brand New Beat]

“Setelah menimbang-nimbang dengan badan siswa, kalian semua saya nyatakan….” Ratusan siswa SMA Mori berhenti bernapas sejenak menanti kabar kelulusan mereka. Usaha yang selama ini telah mereka lakukan selama 3 tahun. Apakah akan membuahkan hasil yang seperti yang diharapkan atau hanya untuk membuang waktu sia-sia. Semuanya dipertaruhkan hari ini, saat ini!

Dari sekian banyak siswa yang begitu gugup menanti sebuah kenyataan, tampak seorang siswa yang sama sekali tidak menunjukkan perasaan penasaran atau bahkan gugup sekalipun. Dialah Shik Gong Chan, cowo super cool di sekolah. Siswa paling cerdas seangkatan dan memiliki paras yang dapat menawan hati setiap hawa yang menatapnya. Dia memang paling popular di sekolah ini, seorang bintang lapangan basket yang menjadi pujaan setiap orang. Bahkan, walau sikapnya begitu cuek dan penuh kemisteriusan sekalipun, hal itu malah membuat para yeoja tergila memujanya. Semua kecuali aku!

Keheningan sejenak yang dibuat-buat oleh kepala sekolah itu membuatku sedikit merasa sesak. Aku bukanlah seorang yang sangat santai bahkan tak peduli apa aku lulus atau tidak, aku sangat gugup. Kenyataannya aku adalah anak kedua dari dua bersaudara, yang bisa dibilang pintar. Kakak pertamaku, Jung Jinyoung adalah seorang oppa yang sangat kukagumi sampai detik ini. Berkat dialah aku jadi memiliki tujuan hidupku sekarang. Membantuku terlepas dari bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui. Ayahku adalah seorang manajer yang bekerja di luar kota –Busan- sedang ibuku, hanya seorang wanita biasa yang sangat sibuk dengan perannya sebagai ibu rumah tangga.

“LULUSS!!!!!” jeritan bahagia, sorak sorai tepuk tangan sontak terdengar riuh. Aku tidak ingin begitu memperdulikan momen ini, tapi inilah jawaban atas segala mimpi dan harapanku. Aku berlutut penuh haru kepada yang kuasa. Terima kasih ya Tuhan!!

“Baiklah ibu akan mengumumkan nama juara-juara pada tahun ini! Jung Hyorin?” kepala sekolah memanggil sebuah nama. Aku tertegun, semua mata memandangku dan membuatku sedikit sulit bergerak. Aku merangsek maju, dan alangkah terkejutnya aku tatkala ketika sebuah kaki menghalangi langkahku.

Braakkkk!!!

Langkahku yang tersandung berbunyi keras dan menggema di seluruh aula. Hal terkikuk yang pernah kualami. Gelak tawa membahana keras ditelingaku, mengoyak-ngoyak harga diriku. Aku menahan malu sambil mencoba berdiri.

“Omo! Ga usah salting gitu dong, mentang-mentang juara umum!” celetuk seorang yeoja. Menambah keras tawa yang terdengar. Park Ri Rin, entah apa salahku padanya. Aku hanya bisa menghela napas dan menggeleng cuek menuju podium.

“Dan juara yang ke dua, Shik Gong Chan? Silahkan!” riuh kembali terdengar ketika Gong Chan naik ke podium dan berdiri di sebelahku. Dia memandangku aneh, mungkin dia bingung kenapa aku yang selama ini bukan apa-apa baginya tau-tau mengalahkan peringkatnya. Setelah menerima trofi dan semacam piagam penghargaan aku turun, dengan perasaan yang tidak karuan.

“Jung Hyorin-ssi!!” panggil seseorang di belakangku, membuat bulu kudukku berdiri. Tanpa menolehpun aku tau pemilik suara lembut khas seorang namja ini.

“Ada yang ingin kubicarakan!” lanjutnya menyerah saat aku diam tak berkutik tanpa menoleh ke belakang. Aku mengangguk seraya pergi menjauh menuju sebuah kafetaria yang tidak jauh dari aula, tempat favoritku.

“Wah si juara umum kok cemberut?” goda Min Tae, aku tersenyum sambil mengggandeng tangannya ke sebuah meja.

“Yaa, chukkae Hyorin-ah! Akhirnya kita lulus, ya walaupun kita bakal berpisah!” sahut Min Tae menunduk sedih.

“Walau kita pisah, selamanya kita tetap akan bersahabat!” ujarku menghibur, Min Tae tersenyum. Kwon Min Tae adalah sahabat terbaikku selama disini. Setidaknya kami selalu bersama semenjak tes masuk SMA hingga sekarang. *kesahnya aja*

“Aish! Kenapa juga kau mesti kuliah di tempat lain, Hyorin? Padahal kan kita masih bisa sama-sama!!”

“Ah, karena aku ini bukan anak sepintar kamu jadi aku ambil sastra bahasa asing saja. Kau taulah kemampuan berbicara berbahasa asing saat ini sangat diperlukan untuk mempertebal kemampuan kita dalam berkomunikasi dengan setiap orang di belahan bumi manapun.” Jawabku enteng. Min Tae lantas melengos sambil memutar bola matanya.

“Padahal kamu lebih muda daripada aku, tapi kesannya kau seperti telah berumur ratusan tahun saja professor!” ejeknya sambil tertawa.

“Emang salah? Pembicaran semacam ini akan kita temukan di dunia perkuliahan sebentar lagi, kalau tidak berlatih mulai sekarang kita akan tertinggal!” ucapku polos, membuat Min Tae tertawa lagi.

“Aduh bahasanya berat banget nih, berapa kilo coba? Kamu ini terlalu polos deh Hyorin!”

“Polos apanya?” tanyaku tidak mengerti. Min Tae sepertinya tidak paham maksudku, memang mungkin mereka pikir pada masa SMA seperti ini tidak perlu terlalu serius dengan hal-hal semacam ini. Tapi, kita tidak akan menjadi anak SMA selamanya kan? Suatu saat kita harus bisa berbicara atau setidaknya menempatkan diri dalam berbicara pada orang lain.

“Ah sudahlah, btw kau ga pesan minum?” Tanya Min Tae mengalihkan pembicaraan.

“Jeruk peras!” Seruku acuh sambil membaca sms dari oppaku. Yah, oppa memang sangat pengertian padaku. Buktinya, dia rajin sekali mengirimiku sms hanya untuk menyuruhku makan dan semacamnya. Kalau dipikir-pikir sikapnya itu seperti namjachinguku saja.

“Sms dari siapa? Pacarmu ya?”

“Aniya! Aku mana punya pacar! Dari Jinyoung oppa tau!” jelasku. Min Tae mengangguk-angguk.

“Wah, oppamu yang ganteng itu ya?” aku mendongak, apa katanya barusan? Baru saja aku mau membuka mulut untuk menanyakan maksudnya, ucapanku tertahan karena suara gaduh dibelakang kami, segerombolan yeoja sedang mengelilingi seseorang. Tindakan mereka seperti hendak meminta tanda tangan artis saja. Tapi mungkin juga begitu. Aku melihat sosok Gong Chan berdiri di tengah gerombolan itu. Apakah dia artisnya? Ck, seperti tidak ada orang lain saja.

“Gong Chan!!” seru mereka histeris, membuatku terpaksa menoleh.

“Kyaaaaa Channie!!!” jerit seseorang ga kalah nyaring, membuat telingaku sakit akan suara cemprengnya itu. Siapa lagi kalau bukan Park Ri Rin? Orang yang membuatku ingin menggigit lidahku sendiri setiap kali melihat wajahnya. Yah, aku lebih baik mati daripada melihatnya. Mungkin dia juga sebaliknya. Yeoja itu langsung berlari menghampiri Gong Chan dengan sikapnya yang terlalu berlebihan itu. Sayangnya, Gong Chan malah menolak perlakuan istimewa dari orang-orang di sekitarnya itu. Dia malah tampak seperti mencari-cari seseorang, dan yang membuatku heran adalah ketika dia menatapku dia seperti seseorang yang menemukan harta karun. Mwoga?? Dia menatapku??? Kenapa dia menatapku? Aku merasakan sedikit pandangan menusuk dari orang-orang di sekitarku.

“Yah, kayaknya dia lagi liatin kamu deh Hyorin!” sahut Min Tae berbisik padaku. Aku ingin saja membantah kenyataan itu, dengan pura-pura mengalihkan pandanganku ke Koran tadi. Kenapa Gong Chan menatapku seperti seolah-olah aku ini harta karun berharga? Atau pikiranku saja yang terlalu berlebihan.

“Ih ga banget deh!” komentarnya saat melihat Rin menggelayut mesra di lengan Gong Chan. Sekilas orang-orang akan berpikir mereka berdua adalah pasangan mesra, tapi itu hanyalah bayangan semu di mata Gong Chan. Sepasang mata cool itu terus memandangiku, seperti mencoba mencari celah atau apalah? Dan itu sungguh membuatku merasa tidak nyaman!

“Bisa aku bicara denganmu, Hyorin-ssi?” suaranya terdengar jelas, seisi kafetaria seakan tidak bernapas lagi mendengar kalimat sederhana yang terlontar dari bibir Gong Chan. Lebih-lebih saat itu Rin, tak henti-hentinya menatap sinis padaku. Bingung dengan segala keadaan aku hanya bisa mengangguk saja dan mengikuti Gong Chan di belakangnya.

Dia berjalan mendahuluiku, langkahnya sedikit cepat. Entah kemana dia akan membawaku pergi, asalkan aku bisa menyelesaikan segera pembicaraan ini dengannya. Hari ini siang begitu menyengat! Matahari kelihatan pas di ubun-ubun kepala. Panasnya sampai ke kulit. Menggigit dan sakit! Aku menggosok-gosokkan lenganku menahan rasa panas. Tau-tau kami sudah berada di taman belakang sekolah, kenapa dia membawaku kesini?

“Hyorin-ssi, selamat yah bisa juara umum!” ujarnya sambil menjabat tanganku gembira. Ekspresinya aneh, selama ini yang kutahu dia adalah anak yang cool dan tidak pernah memperlihatkan senyumnya kepada siapapun, kenapa dia jadi seramah ini padaku? Haruskah aku bersujud syukur karenanya?

“Ne…” sahutku santai, menunggu kata-kata yang akan diucapkannya lagi. Tapi dia malah diam saja. Air mancur memerciki pipiku, sekian lama ia tak bicara juga. Apakah ia membawaku kesini hanya untuk mengucapkan selamat? Rasanya sedikit tidak masuk akal dan hanya membuang-buang waktu.

“Yaa! Apa hanya itu? Kalau cuma itu, aku mau pergi!! Kau pikir aku orang yang tidak punya kerjaan lain selain menunggumu bicara disini?” ucapku kesal. Dia tersenyum, dan anehnya dadaku berdebar tak karuan. Aku menundukkan wajahku, senyumnya terus menerus membayang dalam memoriku.

“Oke, aku pergi!” sahutku tertahan seraya berbalik. Aneh, dalam sekejap saja dia sudah membuat perubahan aneh pada jantungku. Apakah ini bisa dijelaskan secara ilmiah?

Sesaat kemudian, dia menarik tanganku sehingga aku jatuh ke dalam pelukannya yang hangat dan sangat erat! Ige mwoya??? Apa yang dia lakukan sih!!? Aku berontak dan berusaha melepaskan diri dari dirinya. Namun dia kuat sekali!

“Jangan tinggalkan aku…” bisiknya manja, aku terkejut dengan ucapan itu. Satu lagi yang aneh, badanku tidak lagi berkoordinasi dengan otakku. Aku memaki bahkan memerintahkan badanku agar pergi menjauhinya, memberontak dan melepaskan diri. Namun badanku kaku tidak bergerak. Apa hal ini bisa terjadi dengan wajar?

“A…apa maksudmu? W…wae? Yaa! Waeire? Lep..as!” cih!! Dia pikir aku wanita gampangan yag bisa ia peluk seenaknya??

Hening sesaat, sampai dia melepaskan aku. Dia menatapku lama, seolah memintaku menyelami isi hatinya. Tapi aku tak tahan dengan kebisuan ini, sehingga mendorongnya jatuh.

“Yah baboya! Kau ini bisu atau apa? Aku tanya ga malah dijawab, apa maumu?” kesalku dia berlutut di hadapanku yang sedang melipat tangan dengan sombongnya. Dia menyorongkan tangannya kepadaku, seperti meminta bantuan. Mau tak mau aku menyambut tangannya, tapi yang aneh lagi dia hanya memegang tanganku dan kembali membisu.

“Mauku? Aku menginginkanmu!” DEG!! detik itu juga aku serasa mau pingsan. Apa katanya barusan? Oh boy~ Ini nyata?? Demi apapun yang ada di langit dan di bumi, apa artinya ini? Apa dia menyukaiku? Maksudku kenapa aku yang tidak suka dengannya malah beruntung disukainya? Apa yang harus kulakukan?

“Michyeoseo!!” ketusku, sambil berlari meninggalkannya. Jujur saja, jantungku seperti melompat dari rongganya. Ditambah lagi wajahku yang serasa kesemutan ini membuatku sulit berpikir jernih. Ada apa dengan diriku? Aku menjadi aneh! Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya, hingga pada aku lulus SMA ini, tidak pernah sekalipun! Mungkinkah Min Tae mengerti? Apa aku harus menceritakannya? Andwae! Aku malu! Lalu bagaimana?? Ah!! Gong Chan sialan!! Kenapa dia membuat hidupku berantakan hanya karena ucapannya sih??

.

[Author POV]

“Ah, terima kasih untuk hari ini Jinyoung-ssi. Sampai ketemu besok!!” ujar manajer Go saat Jinyoung berada di luar kafe. Ah hari sudah larut sekali malam ini. Udaranya begitu dingin. Jinyoung mengeratkan jaket abu-abunya.

“Ne, selamat malam sonsaengnim!!” ujar Jinyoung seraya menundukkan kepalanya.

“Oppa!!” panggil seorang gadis berambut ikal. Jinyoung menoleh kemudian tersenyum manis.

“Hyorin-ah?? Kau menungguku? Aigoo! Sudah kubilang jangan! Dasar!!” Jinyoung mengacak-acak rambut gadis itu. Hyorin hanya menggembungkan pipinya.

“Aish, umma tak ada di rumah, makanya aku menyusulmu kesini. Aku takut kau kenapa-napa oppa! Inikan sudah malam!!”

“Yaa! Yang perlu dikhawatirkan itu kamu tau!! Dasar! Kkaja!!” Jinyoung menggandeng tangan yeodongsaengnya.

“Sebenarnya…aku belum makan malam oppa…” aku Hyorin malu. Jinyoung tersenyum simpul.

“Ne, kkaja kita pulang! Nanti oppa buatkan ramyoun kesukaanmu!”

“Mwoya? Shireo…!”

“Wae? Kau kan suka ramyoun!”

“Sekali-sekali buatin yang lain dong oppa! Jajangmyoun misalnya, jebal….!” Pinta Hyoin dengan wajah memelas andalannya.

“Aigoo, oppa cuma bisa ramyoun tau!!”

“Ne…” Hyorin menggembungkan pipinya kesal. Jinyoung lantas mencubitnya.

“Yaa! Gendut! Jangan marah dong! Besok kita jalan ya, otthe??” ajak Jinyoung.

“Shireo…”

“Aish! Anak ini! Ayo dong!!”

“Ne, oppa! Tapi oppa harus membelikanku baju, arra?”

“Mwoga?? Aish, geurae! Mahal sekali mendapatkan maaf darimu! Ckck!!” Hyorin terkekeh seraya merangkul lengan oppanya. Mereka berdua pulang ke rumah.

.

“Nona Suzy, nona dipanggil tuan besar!” seru salah seorang pembantu di rumah keluarga Bae. Suzy yang saat itu sedang main game akhirnya berguling (?) menuju pintu kamarnya dengan malas.

“Aish! Apa lagi sih?” dumelnya dalam hati. Ia menemui ayahnya di ruang kerjanya dan langsung duduk tanpa diminta oleh sang ayah. Yah, memang dia adalah seorang nona muda. Siapapun tau itu. Tapi mannernya sangatlah buruk. Dia suka sekali memberontak sampai-sampai sekilas dia seperti bukan seorang keturunan bangsawan saja.

Ayah Suzy menyipitkan mata sipitnya itu saat melihat putri satu-satunya yang akan menjadi cikal bakal penerus perusahaannya duduk dengan gaya yang sangat tidak sopan.

“Bae Suzy! Tidakkah kau punya sikap pada ayahmu sendiri? Apa-apaan cara dudukmu itu? Tidak sopan sama sekali!” tegur ayahnya. Suzy melipat tangan di dadanya.

“Kalau appa mau bicara, bicara saja! Tak perlu mengomentari cara dudukku!” jawab Suzy kasar. Ayahnya mengeraskan rahang mencoba bersabar, entah kenapa putri kecilnya yang manja dulu bisa berubah menjadi seperti ini. Sejak ummanya tiada, kelakuannya semakin menjadi-jadi. Belum lagi, hampir disetiap minggunya Sekretaris Park –sekretaris appanya Suzy- harus ke sekolah menggantikan appanya yang sibuk dengan urusannya hanya untuk memenuhi panggilan guru BK akibat kelakuan yeoja pembuat masalah ini.

“Begini…sebentar lagi kau akan kuliah bukan?”

“Lalu?”

“Appa rasa dunia perkuliahan tidak begitu aman. Jadi appa sudah menyiapkan bodyguard untukmu!” ujar appanya. Mata Suzy terbelalak. Bodyguard???? Ige mwoya??? Jangan bercanda!!

“Mworago? Appa! Jangan bercanda keterlaluan seperti itu!”

“Appa tidak bercanda! Dia sudah ada disini, dia seorang yag ahli bela diri. Jadi jangan khawatir! Oke?  Masuklah Lee Gikwang!” seru Mr. Bae. Seorang namja tampan masuk ke dalam ruangan. Sekilas wajahnya seperti penyanyi terkenal AJ (emg iya kale!! Dsr author dodol*ditimpuk sandal sm reader*) namja tampan penuh kharisma itu berdiri tepat di sebelah Suzy. Ditilik dari wajahnya, sepertinya usianya tak jauh berbeda dengan Suzy. Mungkin satu dua tahun diatasnya.

“Appa!! Kau gila? Kau pikir aku anak berusia 5 tahun yang mesti dijaga oleh bodyguard begini?? Aish jinjja!! Michigata!! Argh!” seru Suzy frustasi.

“Aku sudah 18 tahun!! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Ini terlalu berlebihan!” protesnya lagi.

“Appa sudah tau kau akan bereaksi begitu…”

“Ho begitu? Terus kenapa? Naega wae?” omel Suzy kesal.

“Dengarkan appa! kau adalah calon penerus perusahaan appa! Akan banyak orang yang mengincar posisimu. Kau bukan orang biasa Suzy-ah, mereka bisa saja berbuat buruk padamu. Untuk itulah appa meminta Gikwang menjadi bodyguardmu! Inilah cara terbaik untuk menjagamu!! Arra?” Suzy melengos kesal. Selalu saja. Mau berargumen sepanjang apapun, takkan mungkin bisa mengalahkan kata-kata appanya. Appanya sangat sulit diajak kompromi. Suzy jadi sebal, appanya memang rese. Kalau sudah niat melakukan sesuatu susah banget dibengkokin lagi. Udah lurus terus aja. Mau tak mau Suzy harus mau mengiyakan permintaan semena-mena appanya ini. Oh dimana keadilan? Suzy mendecakkan lidahnya. Sekarang bagaimana? Tidak mungkin kehidupan kuliah yang begitu didambakannya selama ini hancur karena seorang bodyguard yang terus mengawasinya, kan? Padahal dia hanya ingin menjadi orang kebanyakan. Argh!!!

“Silahkan perkenalkan dirimu, Gikwang…” ujar appanya lagi. Mau tak mau Suzy melihat ke arah namja itu.

“Annyeong…Lee Gikwang imnida!” ia membungkuk memberi hormat di hadapan Suzy yang masih duduk sambil melipat tangannya plus dengan wajah angkuh yang dibuat-buat.

“Ne…” jawabnya malas. Namja tadi mengeluarkan senyum andalannya yang mematikan. Sedetik, Suzy bagai tersengat listrik karenanya. Senyum yang sukses membuat Suzy mematung seperti orang bodoh. Ia lantas memalingkan wajahnya. Yah, wajahnya panas!!

“Oke, Gikwang ini berusia 2 tahun di atasmu. Dia juga akan kuliah di tempat yang sama denganmu, untuk memudahkan menjagamu! Singkatnya, dia adalah seniormu!” ujar appanya lagi, namun Suzy tak mendengarnya karena sibuk akan pikirannya sendiri.

Bodoh!! Suzy bodoh!! Sadar dong!! Please!! Jatuh cinta pada pandangan pertama? Hueks!! Apaan tuh? Judulnya aja kacangan begitu!! Mana mungkin aku menyukai orang yang baru kutemui, kan? Tapi…kenapa? Kenapa jantungku berdebar begitu kencang saat melihat senyumnya? Kenapa wajahku panas? Kenapa senyumnya bisa membuatku seperti ini? Aku ini kenapa? Argh! Kenapa aku ga bisa mengendalikan diriku sendiri? Suzy please! Dia itu bodyguardmu! Jangan sampai kau ada perasan apa-apa padanya!

Suzy menepuk-nepuk dadanya pelan dan tersenyum geli pada dirinya sendiri yang tiba-tiba salah tingkah di depan seorang namja yang baru ia temui.

Aigoo! Kenapa jantungku berdebar-debar begini? Oke, jantungku berdebar menandakan aku masih hidup, tapi kenapa begitu cepat sehingga membuatku sesak? Aneh, dalam sekejap saja dia sudah membuat perubahan aneh pada jantungku.

Apa ini yang namanya suka? Apa tanpa sadar aku sudah menyukainya?

Deg! Jantung Suzy berdegup semakin kencang saat kata-kata ‘suka’ terbesit dalam pikirannya.

It’s impossible! Am I crazy? Baboya!! Sadar dong!! Jebal!! Jatuh cinta pada pandangan pertama? Mana ada yang seperti itu…

.

Rembulan di malam ini tengkurap sendirian. Bintang-bintang entah kemana perginya. Kabut begitu jahil menyelimuti, membuat pucat wajah sang dewi malam. Jarum jam begitu lambat berjalan. Sesekali suara jangkrik terdengar mengiringi hujan yang membasahi bumi. Sambil terus mendengarkan lagu-lagu favorit dari music player miliknya, Hyorin seakan memutar ulang rekaman kejadian yang dialaminya siang tadi.

“Kenapa Gong Chan berkata begitu?” gumamnya pelan sambil membalikkan posisi tubuhnya menghadap jendela kamar.

“Apa maksudnya sih? Menginginkan aku? Itu kan…?” Hyorin mengetuk-ngetukan jarinya di atas mp3. Tanda tanya super besar mucul di benaknya, bahkan otak pintarnya tak mampu menafsirkan apa tujuan Gong Chan sebenarnya mengatakan hal itu padanya.

“Apa dia menyukaiku??” batin Hyorin.

Andwae! Andwae!! Apa yang kau pikirkan barusan Hyorin?? Menyukaiku? Ieuh! Mending dia sama Park Ri Rin aja sana!! Kenapa mesti libatkan aku segala sih!! Hhhrrr…

“Hyorin?? Kau sudah tidur? Nih udah jadi ramyounnya!!” seru Jinyoung. Hyorin tersentak dari pikirannya dan langsung bangkit menuju ruang makan. Dilihatnya oppanya sudah duduk di meja makan sambil menyantap semangkuk ramyoun.

Dengan malas Hyorin menarik kursi dan mulai memakan makanannya. Jinyoung menatapnya bingung.

“Wae? Kau tak suka?” tanyanya.

“Ah…aniya oppa!!” Hyorin langsung memakan ramyounnya agar tak menimbulkan kecurigaan yang lebih mendalam terhadapnya. Namun, mata seorang kakak tak bisa diremehkan begitu saja. Jinyoung tau ada sesuatu yang mengganggu pikiran yeodongsaengnya sejak tadi. Tapi sepertinya Hyorin enggan membahasnya. Apa karena malu? Atau apa? Ah! Sepertinya adik kecilnya mulai memberi jarak padanya. Dan itu kenyataan yang sangat menyedihkan bagi seorang Jinyoung.

“Oppa….”

“Ne?”

“Sepertinya aku sedang sakit!!”

“Mwo? Sakit? Sakit apa?” Tanya Jinyoung yang mulai khawatir. Hyorin menatap oppanya ragu. Haruskah ia menceritakan semuanya?

“Saat aku melihat seyuman seorang namja… jantungku berdebar-debar, apa aku sakit jantung oppa? Wajahku kesemutan, ah pokoknya aneh sekali deh!” Jinyoung tersenyum kaku.

“Ah, itu namanya kau suka pada namja itu!”

“Mworago??? Andwae!!!!” tolak Hyorin tegas.

Menyukainya? Lelucon bodoh macam apa lagi itu? Cih! Mengacaukan selera makanku saja!!

“Wae?”

“Pokoknya aku ga mungkin menyukainya oppa! Iwh!!”

“Hmm…begitu? Entah kenapa hatiku jadi tidak tenang karena namja itu…” gumam Jinyoung sepelan mungkin.

“Hah? Oppa mwowaeyo? Kau barusan bicara apa?”

“Aniy…oppa hanya cemas. Rasanya dia akan membawamu pergi jauh dariku!”

“Ige mwoya? Oppa nih apa-apan sih? Bicara begitu seakan-akan aku akan menikah saja!”

“Aku bicara serius tau!!” Jinyoung menarik hidung Hyorin gemas.

“Appo!” ringisnya.

“Jinjjayeo? Mianhae!!”

“Kalau begitu, tenang saja! Aku tidak akan kemana-mana, oppa! Aku janji!”

“Tidak kemana-mana? Memangnya kau tidak mau kuliah?”

“Aish bukan dalam arti itu!!”

“Ne, oppa ngerti! Sudah jangan bicara aneh-aneh, Hyorin-ah! Ntar kualat loh!”

“Pokoknya kalau dibilang janji ya janji!!” Hyorin masih keras kepala.

“Ne, dasar! Keras kepalanya keluar deh!” Hyorin tersenyum senang sambil terus melahap habis ramyounnya.

Jinyoung terdiam, sibuk akan pikirannya sendiri. Entah kenapa ia merasa kalau suatu saat adiknya itu akan berkembang, terbang tinggi dan kemudian meninggalkan dirinya yang hanya dapat melihatnya di angkasa luas. Adik yang sangat disayanginya sepenuh hati itu suatu hari pasti akan menemukan cintanya sendiri dan pergi meninggalkan dirinya. Ah! Perasaan terlarang ini begitu melelahkan! Kapan Hyorin akan menyadarinya? Tapi…sebelum hari itu tiba, ia akan tetap menjaga Hyorinnya sepenuh hati.

.

TBC~~

 

nyahahaha…tunggu part 2 nya ya ^^ gomawo *bow with AJ+Baro+Jinppa+GongChan*

Posted 4 Agustus 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , ,

7 responses to “[FF] Here For You – Part 1

Subscribe to comments with RSS.

  1. keren…lanjut ya!! ngomong2 apa nama fb author??

  2. Min , lanjutin donk , jangan lama2 ya . Hehe seru banget .. Gomawo admin😀

  3. Bagus Dan jalan ceritanya tidak ganmpang di tebak.

  4. Bagus Dan jalan ceritanya tidak ganmpang di tebak. Aku suka

  5. Bagus Dan jalan ceritanya tidak ganmpang di tebak. Aku suka🙂

  6. Bagus Dan jalan ceritanya tidak ganmpang di tebak. Aku suka🙂
    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: