[FF] A Dream *Part 8 – END*   2 comments


annyeong haseyo!!

akhirnya!!

inilah yang author tunggu saat ini!!

kata TAMAT~~

oke, the last but not least.

so, keep happy read guys^^

.

A DREAM

Author: d_na

Length: 8 of 8

Genre: romance, fiction

Main Cast:

Jung Hyorin as you

Choi Sulli

Lee Taemin

Cha Sun Woo aka Baro

Shik Gong Chan

=======================>>>>>>>

[Now playing: FT Island – The Cool versus The Pretty]

“Game On!” seru team basket serempak. Mereka sedang latihan untuk pertandingan melawan SMA Sung Hak nanti. Kemenangan yang dipertaruhkan, demi nama baik sekolah.

“One, two, three, MORI HIGH SCHOOL!!” mereka mulai bersemangat dan latihan seperti biasanya. Gong Chan sebagai kapten tim mulai memimpin barisan untuk melakukan latihan passing.

“Siapa yang bakal menang?” serunya.

“Mori!! M.H.S game on!” seru tim basket putra menyerukan yel yel tim mereka.

“Gotta get it together! Yeah pull up nd shoot! Score!” seru Baro melanjutkan yel yel a la Mori High School.

“TEAM! TEAM! TEAM! Yeah!!”

“Tell me what are we here for?”

“To win!” mereka menjawab.

“Cause we know we’re the best team!” Gong Chan bersorak lagi.

“Come on boys!”

“This is the last time to get it right! This is the last chance to make it or not!”

“One, two, three Mori High School! M.H.S Game On!” Gong Chan bertepuk tangan, ia tersenyum bangga akan tim yang dipimpinnya. Meski minus Taemin yang masih cedera, tapi kesolidan tim mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi semenjak Baro masuk ke dalam tim inti, kekuatan mereka semakin tak tertandingi.

“Wah mereka semakin solid saja!” komentar Taemin.

“Ne, terutama sejak Sun Woo masuk, semuanya terasa lebih bersemangat!!” balas Sulli. Hyorin menatap Baro, bibirnya membentuk seulas senyum kecil.

Flashback

”Aku…takkan meminumnya…ja…ngan…tinggalkan aku…Baro!!”

“Yah! Apa maksudmu tidak meminumnya? Aku sudah membawanya susah payah dari soul society tau!! Lagipula, kalau kau tidak segera meminumnya, kau akan menjadi sasaran para hollow! Kalau grand fisher seperti kemarin mending masih bisa ditangani, kalau yang muncul arrancar? Kalian berdua bisa musnah!!” marah Sandeul.

“Aku…tak peduli…” gumam Baro keras kepala seraya mengeratkan pelukannya. Yah, ia tak peduli apapun. Asalkan gadis itu terus disisinya, ia tak peduli meski maut adalah taruhannya.

“Apa maksudmu tak peduli? Yah! Baro! Ingat! Kau itu shinigami!! Kau bukan manusia!”

“…”

“Ah! Sudahlah! Aku tak mau peduli lagi! Yang jelas simpan saja ramuannya!!”

End of Flashback

“Eh kita kesana yuk!” ajak Sulli, ia langsung menarik tangan Hyorin tanpa persetujuan dari pemiliknya dulu.

“Ah! Sayang sekali aku tidak bisa ikut!” keluh Taemin.

“Ne, kau bisa ikut tahun depan! Lagipula, Sun Woo cukup hebat dibanding kau!!” seru Seung Ho.

“Sial! Yah! Sun Woo! Selamat ya…!” ujar Taemin, namun Baro hanya bergeming. Yah, ia sibuk menatap gadis yang tengah mencuri perhatiannya. Entah dimana batas teman dan musuh, semenjak ia mengakui perasaannya semuanya terasa berbeda.

“Yah! Kau dengar tidak? Kau sedang melihat apa sih?” Tanya Taemin seraya mengibas-ngibaskan tangannya.

“Wow! Kau sedang memperhatikan Hyorin?” seru Seung Ho nyaring. Mendadak semua yang ada di sana hening, Hyorin yang merasa namanya disebut-sebut menoleh ke arah sumber suara. Ia mendapati Baro yang sedang memandangi dirinya. Hyorin tersenyum seraya melambaikan tangannya, Baro membalas lambaiannya dan segera menghampiri gadis itu.

“Hyorin-ah, kau sudah lama?” Tanya Gong Chan yang tiba-tiba langsung merangkul bahu Hyorin. Langkah Baro terhenti, ia menatap Hyorin dengan pandangan kecewa.

“Kau lapar? Mau makan sekarang?” Tanya Gong Chan seraya membawa Hyorin pergi.

Tidak! Jangan bawa dia pergi…cih, kau bodoh Baro!! Hyorin memang semestinya bersama Gong Chan. Mereka berdua sama-sama manusia, tidak seperti dirimu…akankah aku memendam perasaan yang begini perih mengoyak hatiku?

.

“Kau kenapa? Dari tadi melamun saja?” Tanya Gong Chan yang mendapati Hyorin yang tidak seperti biasanya.

“Makanannya ga enak ya?” Hyorin menggeleng lesu. Gong Chan menghela napas kasar.

“Ga suka!!” serunya.

“Ne?” Tanya Hyorin.

“Aku ga suka melihatmu seperti ini! Kau tidak seperti Hyorin yang kukenal! Dari tadi bengong saja, Hyorin yang ku kenal tidak seperti itu!” Hyorin menunduk. Ia merasa bersaah pada Gong Chan. Tapi mau bagaimana lagi? Perasaanya sekarang sangat kacau. In modern words, it called as a dilemma.

“Hyorin yang ku kenal adalah gadis ceria yang selalu tersenyum!! Kau tau tidak? Orang yang kusuka adalah orang yang selalu mendukungku dari pintu masuk tanpa berani masuk ke dalam gym! Bagiku, Hyorin yang seperti itu sangat manis!!” Gong Chan menunduk, wajahnya merona.

Apa itu pernyataan cinta? Seharusnya aku senang! Inilah mimpiku! Tapi kenapa? Padahal Gong Chan adalah orang yang kusukai sejak awal! Baro…entah kenapa, karena dirinyalah aku bisa seperti ini. Karena dia aku bisa menangis, marah, tertawa, takut dan segala macam sisi lemahku bisa kutunjukan padanya. Hanya padanya.

“Aku menyukaimu, Hyorin-ah!” tegas Gong Chan. Air mata Hyorin jatuh untuk kesekian kalinya. Bahunya gemetar.

“Aku tau perasaanmu padaku…tidak bisa dibandingkan dengan Sun Woo…”

“Mian…! Mianhae Gong Chan-ah!! Jeongmal mianhae…! Hiks!” isak Hyorin. Gong Chan mengeraskan rahangnya, mencoba meredam rasa sakit hatinya. Persendiannya lemas. Inikah yang namanya patah hati?

“Aku…takkan memaksamu untuk memilihku! Asalkan kau tetap bisa menjadi dirimu sendiri, itu sudah lebih dari cukup!!” bisik Gong Chan akhirnya.

“Aku akan menunggu…sampai kau memilihku…” Gong Chan mengelus kepala Hyorin kemudian berlalu. Hyorin menelungkupkan kepalanya di atas meja. Menangis sepuasnya.

Akankah aku berusaha begitu keras memerangi perasaanku sendiri? Ataukah aku harus mengatakan hal sejujurnya dan membiarkan semua dinding yang telah susah payah ku bangun hancur seketika? Satu-satunya jalan keluar ialah dengan membunuh perasaan cinta itu. Membiarkannya berlalu dan melupakan segalanya. Seperti aku sanggup saja? Bahkan pembunuh keji sekalipun, akankah ia membunuh perasaan cinta yang demikian kuat mengakar di hatinya? Karena rasa itu semakin kita berusaha membuangnya, akan semakin kuat mengakar dan bercabang-cabang.

“Hyorin…?”

“Hyorin? Kau kenapa?” Tanya Sulli, ia mengguncang-guncangkan tubuh Hyorin.

“Omo!! Hyorin? Gwaenchanayo? Please pull yourself together!!” Sulli lantas menyuruh Taemin memapah Hyorin ke ruang kesehatan.

“Kau baik-baik saja?” Sulli bertanya cemas, setelah mereka sampai di ruang kesehatan. Taemin memberinya minum.

“Apa perlu kupanggil Chan kesini?” tanyanya. Hyorin menggeleng lemah. Sulli dan Taemin berpandangan.

“Gelang ini?” Sulli menunjuk gelang yang dipakai Hyorin.

“Ini pemberian Sun Woo…” jawab Hyorin, tentu saja ia tau hal itu. meski Baro tidak berkata apa-apa, tapi bisa dilihatnya ekspresi senang Baro ketika ia memakai gelang itu. terlebih lagi, hanya Baro yang tau tentang gelang ini.

“Ceritakan pada kami apa yang terjadi? Hyorin…” pinta Sulli.

“Tidak ada yang terjadi…” Sulli menggeleng, ia memaksa Hyorin berbicara hingga untuk kesekian kalinya ia menangis.

“Aku…aku mencintainya…mencintai orang itu!” isak Hyorin. Sulli memeluknya, dan ikut terisak.

Jerit pilu dari hatiku terdengar kemudian, air mata sudah tak mampu menjinakkan luka yang kini bersarang di hatiku. Tangisanku malah membuat lubang di hatiku semakin membesar saja. Akankah aku mencintainya walau ini hanyalah mimpi belaka saja? Aku menangis dan terus menangis, hingga lelah dan tertidur. Namun, sampai kapanpun begitu aku bangun hari akan tetap seperti ini.

“Aku mengerti perasaanmu. Tapi bagaimana dengan Gong Chan? Dia pacarmu! Dan kau menyukainya!!” Hyorin menggeleng.

Gong Chan maafkan aku. Aku mengkhianatimu dengan mencintainya.

“Pikirkan kata hatimu Hyorin…siapa yang kau pilih?” bisik Taemin akhirnya. Hyorin mengangguk, ia menyeka air matanya dan tersenyum kembali.

.

Hyorin duduk termangu di beranda kamarnya, menatap kosong langit malam berbintang itu. Pikirannya melayang-layang tak tentu arah. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia memendam perasaan khusus pada seorang shinigami. Namun tak bisa dipungkiri bahwa dirinya juga mencintai laki-laki bernama Gong Chan. Hyorin memandang gelang pemberian Baro, ia menggigit bibirnya. Tidak seharusnya ia mencintai seorang shinigami. Itu bahkan sangat tidak masuk akal!! Tapi…lagi-lagi ia terlalu lambat menyadari, ia terlanjur memiliki perasaan terlarang ini. Sekarang apa? Apa yang harus ia lakukan?

“Hyorin?” panggil Jinyoung.

“Ne, oppa…”

“Kau sedang apa sih? Melamun saja! Jangan melamun malam-malam, nanti ayam tetangga sebelah bisa mati semua lagi!” canda Jinyoung, Hyorin tersenyum simpul. Jinyoung mengacak-acak rambutnya.

“Oppa…percintaan itu…rumit sekali yah…”

“Ne? percintaan? Ah!! Kau sedang jatuh cinta ya? Aigoo! Yeodongsaeng ku sudah besar rupanya!!” goda Jinyoung.

“Kenapa begitu menyakitkan ya?” Hyorin tak menanggapi gurauan kakaknya. Jinyoung menatapnya sedih. Ia mengerti, teramat mengerti perasaan itu. tapi ada kalanya seorang manusia harus memilih salah satu dari banyaknya pilihan yang dihadapkan padanya. Meski itu sulit dan butuh waktu. Hyorin menyandarkan dirinya pada Jinyoung, menceritakan segalanya.

“Jadi…ceritanya kau sedang diperebutkan?” Tanya Jinyoung, ia tersenyum tidak menyangka adik kecilnya yang sangat biasa ini –dan malah terkesan aneh- bisa diperebutkan dengan dua namja yang bisa dibilang sangat ganteng itu.

“Mereka berdua sama-sama keren ya?” Tanya Jinyoung, Hyorin menatapnya kesal.

“Kalau ga keren, bukan cobaan dong namanya! Huh! Oppa gimana sih?” Jinyoung terkekeh.

“Ne, arra!! Hhh, semuanya tergantung denganmu Hyorin, tapi…ingatlah satu hal ini, jika disuruh memilih…pilihlah sesuai apa kata hatimu…arrachi?” Jinyoung mengelus kepala Hyorin dan berbalik ke kamarnya.

“Memilih…sesuai apa kata hati?” gumam Hyorin. Entah seperti apa caranya, tapi kalau tidak di coba, mana tau…

“Oke…mari kita dengar apa kata hatiku…” Hyorin terdiam sejenak, mencoba mendengarkan kata hatinya. Namun hanya keheningan yang ada, dan itu membuatnya gila. alisnya berkerut.

“Heart? Come on…”

“Still listening? Hello, heart? I’m waiting for your answer!! Don’t be shy, and tell me what…” tukasnya bodoh. Ckckc. Ia kembali ke kamarnya, dan menatap foto Gong Chan di meja belajarnya. Ia melepas gelang dari Baro. Bersebelahan dengan foto Gong Chan.

“Omo! Hpku kenapa bisa ada disini?” bisik Hyorin seraya mengambil Hpnya yang terjatuh di kolong meja.

Braakk..

“Aww!” Hyorin mengelus kepalanya yang terantup meja. Sesuatu jatuh di hadapannya. Sebuah gelang perak dengan hiasan bintang!

“Apa ini jawabannya? Heart?” gumamnya seraya menyentuh dadanya.

.

Hari pertandingan basket tiba! Di dalam gym bangku penonton telah penuh sesak. Semuanya terlihat bersorak dan bertepuk tangan mendukung tim masing-masing. Band sekolah tampil, tim cheerleaders menari dengan semangat, berbagai spanduk melambai-lambai di udara. Saatnya menentukan juara, sekarang dan untuk selamanya.

Di ruang ganti, Hyorin mendatangi Baro yang sedang mengikat tali sepatunya. Ia akan memberikan jawabannya. Pilihan atas kata hatinya.

”Hmm? Jadi begitu?” tanya Baro. Hyorin mengangguk.

”Gelang pemberianku jatuh di depanmu…?” lagi-lagi Hyorin mengangguk.

”Dan kau kecewa karenanya? Karena itu bukan pilihan hatimu?”

”Ne…mian…” Baro mengacak-acak rambut Hyorin.

”Aish! Gwaenchana! Jangan menangis seperti itu! Sudah jelek, nanti malah tambah jelek!!” ejeknya berusaha menghibur diri. Baro lantas menuju lapangan dengan langkah gontai. Yah, tidak seharusnya ia sedih. Itukan memang jawaban yang seharusnya, tapi…kenapa rasanya begitu sakit?

“Baro!! FIGHTING!!” seru Hyorin sekencangnya, berharap Baro dapat mendengarnya.

Sementara itu, Gong Chan yang baru saja hendak keluar melihat Hyorin sedang menyemangati Baro. Ia menyentuh dadanya yang terasa panas itu.

“Apa itu pilihanmu, Hyorin-ah?” bisiknya sedih.

Pertandingan dimulai, semua penonton riuh memberikan semangat pada tim kesayangan mereka. Para yeoja semakin histeris ketika melihat Gong Chan cs memasuki lapangan. Menit demi menit berlalu, pertandingan sengit itu masih saja berlanjut. Mempertaruhkan sebuah gelar juara. Masing-masing tim berjuang sekuat tenaga untuk menang. Gong Chan berusaha sebaik mungkin sebagai kapten untuk memimpin teman-temannya. Score demi score berhasil mereka kumpulkan. Keringat membanjiri, kelelahan mulai menyergapi mereka.

Semua dipertaruhkan! Latihan mereka selama ini. Gong Chan tidak akan membiarkan dirinya gagal, apapun yang terjadi. Ia ingin membuktikan bahwa dialah yang terbaik.

Brakkk…

Tanpa diduga-duga tim lawan melakukan kecurangan. Salah seorang di antara mereka menjegal kaki Gong Chan hingga ia terjatuh. Gong Chan mencoba bangkit, namun kakinya terkilir. Pelatih menyuruhnya kembali untuk beristirahat, namun ia menolak digantikan dan tetap meneruskan pertandingan. Demi harga dirinya. Demi Hyorin yang bahkan tak menontonnya sama sekali.

“Yaaah!! Hyorin!! Apa yang kau lakukan disini?” bentak Sulli yang tampak terengah, ia mencari Hyorin kemana-mana dan menemukannya di ruang ganti ini.

“Gong Chan!! Dia terluka!!”

“Mworago?”

”Kaki Gong Chan keseleo karena pelanggaran tim lawan! Namun ia menolak untuk digantikan!!”

“Dia bilang dia takkan mundur sampai kamu datang!!” lanjut Sulli. Tanpa sadar air mata Hyorin menetes, ia langsung berlari kesana kemari mencari Gong Chan. Dilihatnya Gong Chan sedang duduk di bangku cadangan, mereka sedang break.

“Chan! Jangan paksa dirimu! Kau terluka begini! Biar Sun Woo saja yang menggantikanmu menjadi kapten!” seru pelatih. Namun Gong Chan tetap keras kepala. Ia ingin membuktikan pada semua orang bahwa inilah impiannya, dan dialah yang akan mewujudkannya. Ia ingin Hyorin tau, bahwa ia bukan orang yang setengah-setengah dalam berjuang.

“Maaf…! Maafkan aku!! Aku keras kepala!” isak Hyorin yang baru saja datang dan menghampiri Gong Chan. Gong Chan mengelus pundak gadis itu.

“Tenang saja, aku pasti menang!” bisiknya.

“Nggak!! Kamu cedera! Jangan buat aku semakin mengkhawatirkanmu!” Gong Chan tersenyum dan merangkul Hyorin.

“Kau…mengkhawatirkanmu? Kau tau…? Aku senang mendengarnya, Hyorin-ah!”

”Aku…memilihmu! aku menyukaimu, Gong Chan-ah. Aku berjanji, aku akan menjadi kekasih yang baik untukmu!!”

”Benarkah? Gomawo…kau tidak perlu berjanji apapun padaku. Jadilah Hyorin yang biasanya, karena aku menyukaimu apa adanya!”

Peluit kembali berbunyi, waktu istirahat selesai. Gong Chan berlari menuju lapangan, ia menghadap Hyorin yang masih menatapnya khawatir.

”Aku akan membawa kemenangan ini untukmu! SARANGHAE JUNG HYORIN!!!” seru Gong Chan nyaring, membuat semua orang melihat ke arah mereka. Hyorin menunduk malu, tidak menyangka Gong Chan akan mengatakan hal itu, di depan umum.

”Omo! Chan so sweet banget yah!” komentar Sulli, Taemin mecubit pipinya.

”Ya! Aku juga bisa seperti itu!”

”Wae? Kau cemburu, Taemin-ah?”

”Makanya jangan memuji namja lain di depanku!!” tukas Taemin.

Pertandingan dimulai kembali, Mori makin bersemangat. Gong Chan kembali ke permainan terbaiknya. Namun semuanya masih belum cukup untuk menandingi kekuatan dan kekompakkan tim dari sekolah Sung Hak.

”MORI FIGHTING!!!”

“One, two, three Mori High School! M.H.S Game On!” berbagai yel-yel di sorakkan oleh pemandu sorak dan para pendukung.

“GONG CHAN!!! FIGHTING!!”

Saat itu menjelang detik-detik terakhir pertandingan basket. Tim Mori masih tertinggal. Detik demi detik berlalu…

“Serang dari arah kiri, Sun Woo! Seung Ho jaga di depannya!” seru Gong Chan.

“Sun Woo, serang dari arah kiri!”

Baro langsung berputar melewati Seung Ho, melompat, menunduk untuk kemudian melakukan gerakan lay up terbalik. Suara bola yang masuk ke keranjang terdengar nyaring. Bel berbunyi dan Mori menang dengan keunggulan satu poin! Teman-teman lantas bersorak bertepuk tangan.

Di tengah keriuhan suasana, Hyorin menerobos dan menemukan Gong Chan bersama timnya. Ia memeluknya dengan gembira. Sementara itu Baro hanya bisa menatapnya dengan pandangan yang tak bisa ditebak.

”Jadi…kamu mau pergi ke pesta perayaan denganku?” tanya Gong Chan, Hyorin tersenyum dan mengangguk.

.

[Now Playing: SNSD – Star Star Star]

Sekarang baru jam setengah tujuh lewat, Hyorin yang tidak bisa menahan diri akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia lantas cepat-cepat bersiap untuk berangkat. Hari ini hari yang ditunggu-tunggu, pesta dansa perayaan kemenangan tim basket SMA Mori.

Hyorin mulai mencari baju yang bisa ia pakai untuk acara ini. Namun ia tidak punya long dress, dan akan sangat memalukan jika ia tampil dengan kaus oblong favoritnya, kan? Hyorin lantas berlari menuju kamar ummanya, bagaimanapun umma pasti punya banyak gaun yang indah. Disibaknya dengan kasar gaun-gaun cantik itu, mencoba mencari sesuatu yang tidak terlalu mengerikan untuk dipakai. Mata Hyorin tertuju pada gaun ungu lavender yang lembut pemberian appanya pada saat anniversary mereka. Gaun ini tidak begitu mengerikan, satin dan lembut. Ia mencoba mengenakannya, dan mengikalkan sedikit rambutnya.

”Hmm? Tidak buruk? Sebenarnya aku lumayan cantik juga, kan?” bisiknya seraya mematut diri di depan cermin. Tanpa sengaja Baro yang sedang menimang-nimang (?) ramuan di tangannya lewat dan menatap takjub pada Hyorin.

”Wow! Kau terlihat….ehm…menarik?” entah itu semacam pujian atau apa, tapi yang jelas hal itu kembali membuat jantung Hyorin bereaksi.

”Ini seharusnya seperti ini…” Baro memperbaiki selendang ungu itu dan menyampirkannya di pundak Hyorin. Hyorin menunduk, wajahnya merona. Baro berbalik salting.

”Ehm…maaf…” gumamnya. Hyorin menarik napasnya pelan-pelan, berharap itu akan membantu mengendalikan dirinya.

”Kau…akan berdansa dengan Gong Chan?”

”…”

”Ah! Aku mengerti…selamat bersenang-senang…semoga…bahagia…!” Baro lantas keluar namun tangannya ditahan oleh Hyorin.

”Mian…” Hyorin tertunduk sedih, Baro tersenyum sakartis.

”Jangan memasang wajah yang menyulitkan seperti itu! Aku jadi susah tau…”

”Hajiman Baro…”

”Ssshh, aku…ga mau mendengar kata maaf darimu lagi! Mengerti? Tenang saja Hyorin-ssi, setelah ini aku takkan mengganggu kehidupanmu lagi. Aku akan pergi secepat mungkin! Jadi jangan merasa bersalah begitu!!”

”Baro, kau ga bermaksud untuk…”

”Pergi…meninggalkan…aku?” air mata Hyorin kembali menetes. Setetes demi setetes lelehan hangat itu mengairi pipinya. Baro merengkuh wajah Hyorin.

”Sudah kubilang jangan pasang wajah menyulitkan begitu!!” Baro menghela napasnya. Sulit! Yah ini terlalu sulit. Ia sudah mencapai klimaksnya untuk bersikap sok dewasa begini. Tapi mau bagaimana lagi? Apa yang bisa dilakukannya?

”Aku mohon Baro…jangan tinggalkan aku!!” isak Hyorin, dan tangisan itu membuat Baro semakin bimbang. Ia tau, ia begitu menyukai gadis di depannya namun disisi lain hal ini adalah hal yang tak seharusnya terjadi. Ia harus meninggalkan Hyorin demi kebaikan gadis itu sendiri. Tapi…apakah hatinya sanggup?

”Baro!! Ku mohon tunggu aku!!” jerit Hyorin sekencang yang ia bisa saat Baro pergi dari sana. Hyorin menyusul Baro dan langsung memeluknya. Air matanya jatuh, wajahnya sangat menderita.

”Maafkan aku!!” ucap Baro berulang-ulang.

”Cobalah untuk melupakanku!! kau pasti bisa mengalihkannya!!” bisiknya lagi.

”Kenapa Baro? Aku tidak mau kau meninggalkanku!! kau bilang kau ga akan meninggalkanku…” ujar Hyorin sambil terisak-isak.

”Kalau menangis seperti itu, make up mu bisa luntur Hyorin-ah!!” sela Baro.

”Berjanjilah padaku Baro…”

”…” Baro hanya terpekur menatap lantai. Semua begitu sulit. Ah! Ia tak pernah mengira percintaan akan serumit ini? Hyorin melihat porsche silver milik Gong Chan tiba, ia lantas melepas pelukannya.

”Pangeranmu sudah datang! Hapus air matamu dan tersenyumlah! Oppamu benar, Hyorin…kau…lebih cantik saat tersenyum!!” Baro mengelus kepala Hyorin.

”Ne…”

Hyorin lantas berlari menuju pintu depan dilihatnya Gong Chan yang memakai tuksedo. Dan dia terlihat sangat sangat tampan seperti itu.

”Kau…cantik sekali!” puji Gong Chan, Hyorin tersenyum simpul. Ia lantas mengikuti Gong Chan dan masuk ke mobil. Mereka lantas melaju meninggalkan Baro yang memandang kepergian mereka dari beranda.

”Inikah saatnya?” bisik Baro pada dirinya sendiri.

”Ya, tentu saja ini waktunya!” seru seseorang mengejutkan Baro.

”Ah kau ini! Muncul secara tiba-tiba itu tidak baik buat jantung!!” omel Baro pada Sandeul yang cengar-cengir. Sandeul merangkul sahabatnya.

”Aku tidak tau pengalaman apa yang kau dapat, tidak tau perasaan seperti apa terhadap gadis itu. Aku juga tidak tau tentang kenangan-kenangan yang kau miliki disini. Tapi bijaksanalah Baro, kau bukan manusia! Seorang shinigami harus membuang rasa cinta dan masa lalu mereka demi kehidupan di Soul Society!”

”Arraseo…”

”Kau akan lupa segalanya setelah memasuki gerbang Soul Society…percayalah!”

”Arra…”

”Dia juga…akan lupa…tentang keberadaanmu!”

”Yah itu yang kuharap!” Baro menghela napasnya untuk kesekian kali.

 Begini sakitkah kalau mencintai seseorang? Tidak. Semestinya tidak. Yah, tidak akan sesakit ini kalau cintamu tak bertepuk sebelah tangan, right? Kenapa harus seperti ini? Kenapa aku harus merasakan hal ini? Egoiskah jika aku tak ingin merasakan sakitnya?

 ”Sun Woo-ssi?” merasa namanya dipanggil, Baro berbalik. Ia menemukan Jinyoung disana. Matanya tertuju pada sesuatu yang tengah digenggam Jinyoung. Bunga Daisy.

”Ne?”

”Aniya, tadi kudengar…ehm, apa kau sedang bicara sendiri?” tanya Jinyoung ragu.

”Ah…kau terlalu banyak berpikir, mana mungkin kan aku…”

”Ah kau benar…” Jinyoung mengangguk, ia berdiri di sebelah Baro.

”Bunga itu…?” gumam Baro.

”Ah ini? Ini bunga favorit sahabatku, setiap kali melihatnya…aku merasa orang itu selalu ada!”

”Sahabatmu pecinta lingkungan?”

”Ahaha, aniya…dia hanya…menyukai bunga ini. Karena baginya bunga ini sama seperti seorang gadis yang ia sukai…” Baro menatap Jinyoung tajam. Ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang serasa hilang dari ingatannya. Ia mencoba menarik-narik kembali memori itu namun tak bisa.

”Sahabatku…juga bernama Sun Woo…” Jinyoung tak kuasa menahan pedih di hatinya. Lagi, dan lagi. Ia mencoba untuk meredam namun ia sendirilah yang membangkitkan kepedihan itu berulang kali. Bisa kau bayangkan rasa pedihnya saat kau menaburkan asam cuka di atas luka. Seperti itulah sakitnya yang dirasakan Jinyoung.

”Kalau kau mau…aku bisa mendengarkanmu…” bisik Baro.

.

Aula Mori High School  sudah sangat ramai. Gong Chan dan Hyorin yang baru tiba di sambut oleh Sulli dengan organza putihnya terlihat begitu menawan. Serta Taemin yang selalu menempel disisinya seperti anak kambing (?) lol, maksudnya seperti perangko.

”Astaga! Kalian serasi sekali!” puji Sulli. Hyorin tersenyum malu saat Gong Chan merangkul bahunya, mempertontonkan kemesraan mereka. Musik mulai terdengar sayup-sayup, lama kelamaan semakin meriah. Sorak sorai pendukung Mori yang begitu gembira merayakan kemenangan mereka terdengar riuh. Gong Chan berdiri di podium dan menerima piala kemenangan mereka.

“Akhirnya, pada hari setelah kita dinyatakan menang. Latihan-latihan kita selama ini telah terbayar. Saya berharap setelah ini kita akan terus bersama, menghadapi hidup sesungguhnya yang telah terbentang di depan mata kita saat ini.” Gong Chan menyampaikan sambutannya, ia menatap Hyorin dengan tatapan yang sangat lembut.

“Untuk itulah, saya berdiri di sini. Menyampaikan setidaknya segelintir perasaan dan emosi dari kalian. Tapi satu hal yang pasti, hari ini bukanlah akhir dari segalanya! Ini adalah awal kita, awal bagi generasi kita untuk melanjutkan kehidupan yang akan kita jamah tak lama lagi. Kehidupan yang menjadi alasan mengapa kita berjuang hingga hari ini.”

“Maka, mulai dari sekarang. Mari kita raih apa yang telah kita inginkan. Mari kita perbaiki, apa yang telah kita lakukan dan tetaplah tersenyum menatap masa depan!” ia tersenyum. Hyorin menatap Gong Chan dengan kagum.

“MORI HIGH SCHOOL!! GAME ON!” seru Gong Chan diikuti oleh para pendukungnya. Tepuk tangan meriah mengakhiri pidatonya itu.

”Oke!! Dan inilah saat yang kita tunggu-tunggu, pengumuman nama-nama yang masuk sebagai kandidat Mister dan Miss Mori High School!” MC mengambil alih setelah Gong Chan turun.

“Begitu mengejutkan lho teman-teman, ternyata banyak sekali orang yang memilih kandidat-kandidat berikut. Sampai terasa susah menentukannya! Banyak nama-nama baru ternyata!! Siapakah mereka????”

“Hmm, baiklah! Ga usah banyak cingcong! Untuk Mister Mori High School adalah….”

“Lee Taemin!!!” fans Taemin mulai riuh menyerukan nama namja itu.

“Nominasi selanjutnya….? Ehm siapakah dia???”

“Uri basketball captain!! Shik Gong Chan!!”

“Dan….” Hening sesaat.

“CHA SUN WOO!!” tak ayal para Baro lovers langsung histeris dan mulai bersorak.

“Wuah! Para fans histeris banget ya? Oke!! Mungkin udah ga asing lagi kali yah? Mereka bertiga baru-baru ini juga menduduki puncak polling!!”

“Baiklah, sekarang untuk nominasi sebagai Miss Mori!!”

“Seperti biasa, ketua osis kita kembali masuk sebagai salah satu kandidat Miss Mori, siapa lagi kalau bukan PARK JIYEON!!”

“Lalu…ketua klub music! Choi Sulli *kesahnya begitu*!!” tepuk tangan meriah terus terdengar.

“Yang terakhir…yang paling mengejutkan…JUNG ehm Hyorin?” senyap seketika. Mereka mulai bertanya-tanya.

“Jung Hyorin? Siapa itu?”

“Hah? Kelas mana?”

“Kok bisa masuk nominasi?”

“Eh dia bukannya pacarnya Gong Chan itu ya?”

“Heh???? Impossible!!” Hyorin kaget bukan main. Ini…mustahil? Ia lantas bersembunyi di kolong meja menghindari tatapan-tatapan sinis yang ditujukan padanya.

“Wah! Hyorin, kau hebat!” seru Sulli.

“Mana Hyorin?” tanyanya pada Taemin yang mengangkat bahu.

“Oke! Untuk pengumumannya akan diumumkan di akhir acara! Sekarang saatnya…LET’S GO CRAZY (*scra harfiah, artinya ialah ayo berpesta)!!!!”

Semuanya kembali berpesta, music menggema di aula itu. namun jangan bayangkan music hingar bingar seperti yang ada di klub malam atau sejenisnya. Music mellow yang mengalun dramatis, masing-masing pasangan mulai berhadap-hadapan dan berdansa.

Hyorin keluar dari tempat persembunyiannya dan duduk di pojokan menikmati indahnya malam terkejut oleh sebuah suara yang memanggilnya.

“Go…Gong Chan?”

Dia berlutut di hadapanku, seraya menengadahkan tangannya padaku. Aku menyambut tangan dan mengikuti tuntunannya. Musik mengiringi langkah kami. Kami mulai berdansa di tengah cahaya rembulan yang membingkai malam. Dia tersenyum padaku. Wajahnya begitu sempurna di mataku. Aku tidak ingin semua berakhir. Dialah pangeranku.

Di setiap kehidupan manusia selalu ada titik terang dan gelapnya masing-masing.

“Saranghae Jung Hyorin…” bisik Gong Chan seraya menatap mata Hyorin dalam-dalam.

“Na do, Gong Chan-ssi…what?? Hyorin terkejut mendapati Baro berdiri di depannya. Baro tersenyum manis, menampilkan sederet gigi hamsternya yang imut itu (?).

“Yaa! Baro! Ap…yang…?”

“Mian Chan! Bolehkah ku pinjam gadismu sebentar?” Gong Chan menatapnya lama, kemudian mengangguk. Baro menarik tangan Hyorin keluar dan menuju beranda.

“Yaa! Apa-apaan kau? Kenapa main tarik seenaknya begitu sih?” kesal Hyorin. Padahal tadi sedang asyik-asyiknya berdansa dengan pangerannya. Seperti yang ada dalam mimpinya.

“Kau keterlaluan! Masa tidak mau berdansa denganku? Aku cukup lihai lho!” goda Baro.

“Shireo!! Akh!! Ba..” Baro memeluk Hyorin erat. Terlalu erat hingga terasa sesak.

“Ba…Baro? Lepas!!” bisa dirasakannya tubuh Baro yang bergetar hebat menahan emosi.

”Ba…ro…se..sak!! ga bisa napas!!” ujar Hyorin dengan napas tersengal. Tapi Baro tidak mengendurkan sedikitpun pelukannya, malah semakin erat saja.

”Baro…sa..kit! lepas! Jebal!!” pinta Hyori lagi sambil mendorongnya. Berhasil, Baro mundur sedikit. Baro mengambil ramuan itu dari saku celananya, ia lantas memberikannya pada Hyorin.

”Baro? Kau!!” marah Hyorin, air matanya kembali menetes. Akh! Sesak di dadanya semakin menjadi-jadi. Kenapa Baro? Kenapa dia bersikap begitu? Apa dia mau pergi?

”Aaaaa!!” seru Hyorin saat Baro mendorongnya ke tembok dan menguncinya di antara kedua lengannya.

”Ka…ka…kau mau apaaa?” Baro meminum ramuan itu kemudian dengan satu gerakan cepat ia mencium bibir Hyorin dan menumpahkan isi ramuan dalam mulutnya itu ke kerongkongann Hyorin [NOOOOOO!!!!! ANDWAE!!! *author mulai menggila* huaaa! Hikshikshiks! Baro’s mine, Baro’s mine! *diinjek ABERs* #tolong diabaikan readers!].

Tiba-tiba sinar putih nan lembut membalut tubuh Hyorin. Mengelilingi seolah ada gravitasi disana. Perlahan cahaya itu memudar, mengelilingi sesuatu dan tampaklah sebuah mutiara berwarna hitam, black pearl.

Plaaakk…

”Beraninya kau!!! AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU!! SHINIGAMI RENDAH!” kemarahan Hyorin benar-benar memuncak. Ia pergi dari sana, tak peduli pada siapapun yang memanggilnya. Sekarang hanya ada air mata, dan luka yang terus menerus mengoyak hatinya. Ia tak menyangka, sama sekali tidak bahwa Baro akan melakukan hal itu padanya. Rasa kecewa, marah, malu, sedih, kesal semua bercampur menjadi satu. Perlahan tapi pasti, keadaan ini semakin menggiringnya menuju rumah sakit jiwa (?)

”Aku menyakitinya….” gumam Baro, ia menggenggam black pearl dan mengembalikannya menjadi jiwa. (entah dgn cara apa, authorpun tak tau, hhe). Baro keluar dari tubuh gigainya, dan kini ia sepenuhnya kembali menjadi seorang shinigami.

”Kau sudah melakukan hal yang benar, dude!”

”Yah!! Bisakah kau tidak muncul tiba-tiba begitu? Seperti hantu saja!!” kesal Baro. Sandeul malah tertawa-tawa senang.

”Tapi…kau benar…! mungkin dengan ini ia akan membenciku, dan akan lebih mudah untuk melupakanku!!”

”Ne…so! kau siap untuk kembali ke Soul Society?”

”Tunggu! Ada satu hal yang belum kulakukan!” seru Baro.

”Aigoo! Apalagi?” Baro tersenyum.

.

“Oke!! gimana? Pasti seru banget dong ya! Iya kan ya dong benar kan benar donk? Nah bagi kalian yang udah menunggu dengan sabar sampai acara ini selesai, gomawo banget! Cha! Ini dia hasil polling Mister and Miss Mori High School!”

“Oke, sebelumnya shout out your bias!!!! Lee Taemin, Shik Gong Chan, Cha Sun Woo!!”

“TAEMIN!!!!”

“SUN WOO!!”

“SHIK GONG CHAN!!”

“Oke!! MISTER MORI HIGH SCHOOL jatuh kepada…” siswa-siswi mulai bersorak menyerukan nama seseorang.

“Benar sekali!!! LEE TAEMIN!”

“Oke, selamat kepada Mister SMA Mori, Lee Taemin silahkan maju ke depan! Baiklah selanjutnya! Untuk MISS MORI HIGH SCHOOL…”

“Aku ga nyangka ternyata si Taemin yang menang!”

“Kukira Gong Chan atau Sun Woo!”

“Ya ampun Taemin menang!”

“Kyaaa! Taemin emang keren!”

“Taemin! Taemin! Taemin!”

“Taemin aku suka kamu! Saranghae Lee Taemin” seru fans-fans Taemin ramai. The Taemints, entah apa nama grup pecinta Taemin itu.

”Oke untuk MISS MORI….” jreng jreng jreng!

”CHOI SULLI!!!”

”Kyyyaaaaa!! Aku menang!!” sorak Sulli seorang diri. Semuanya hening memperhatikan gadis itu yang melompat-lompat kesenangan. Taemin menahan tawanya, kemudian menarik tangan Sulli ke atas panggung bersamanya. Para fans Taemin histeris.

”Chukkae Miss Mori, saranghae!” bisik Taemin, membuat wajah Sulli merona.

”Chingudeul, perkenalkan…Miss Mori High School 2011, Choi Sulli naeui yeoja chingu!!”

”HUAAAPPPAAAAAAAAAAAAAAA???????”

.

”Hyorin, kau tidak apa-apa?” tanya Jinyoung khawatir sembari mengetuk pintu kamar Hyorin. Bagaimana tidak khawatir, pulang-pulang Hyorin langsung membanting pintu dengan wajah mengerikan karena make up nya luntur, lalu setelah itu mengunci diri di kamar.

”Hyorin?”

Hyorin menyeka air matanya dengan tissu, ia menatap gelang pemberian Baro kemudian melemparnya. Dan ternyata, gelang itu masuk ke tempat sampah saudara-saudara! Sepertinya Hyorin berbakat main basket (loh?).

”Benci…benci!! kotor…kotor…” gumam Hyorin berulang-ulang laksana kaset tape yang rusak.

Hyorin kemudian menghempaskan diri di atas kasurnya. Ia memejamkan matanya, pikirannya mengawang seakan memutar ulang kejadian tadi.

Sial!! Breng**k!! apa-apaan dia? Beraninya mengambil ciuman pertamaku!! Mestinya dengan siwon yang pertama (?) *biasa…author maruk #dibakar readers*

Kemudian dengan emosi yang meluap-luap ia berdiri dan menghempas semua benda yang ada di atas meja belajarnya. Ia memegang kepalanya seakan menjaga agar tidak meledak. Setetes, demi setetes air matanya mengalir. Bahunya terguncang, kini ia terisak.

“Aku…tak peduli…pergi…sana! Aku…sudah…ga peduli…dengan..mu! Pergi!! Pergi…dari hidup…ku!!”

“Hyorin??” panggil Jinyoung lagi, namun Hyorin benar-benar sakit hati sampai enggan menegur semuanya. Ia terus-menerus menangis sampai ia tak sadarkan diri dan terlelap. Baro masuk ke dalam kamarnya, ia menatap wajah gadis yang dicintainya kini tidur. Dielusnya pelan rambut yang menutupi wajah Hyorin. Ia menggendong gadis itu ke tempat tidurnya.

I pray no tears in your dream…I know you’ll fly high in your life…

“Saranghae Jung Hyorin!” gumamnya. Ia menutup matanya, air matanya bergulir satu demi satu. Dadanya terasa sesak seolah mau pecah. Kini luka itu semakin membuka lebar, dan sangat menyakitkan.

“R…re…release…of the…dead…” tangis Baro serasa semakin meledak, air matanya mengalir deras membasahi wajah Hyorin.

“S…SPREAD ILLUSION!!” Baro mengecup kening Hyorin, kemudian berbalik dan mengambil gelang perak itu.

“Selamat tinggal…kuharap kau selalu bahagia…” lalu ia pergi dari sana. Tanpa pernah menoleh lagi.

.

“Apa ini?” Jinyoung kembali ke kamarnya dan menemukan sesuatu di kamarnya.

Ah, Jinyoung-ssi cerita tentang sahabatmu tadi. Kurasa ia sudah memaafkanmu, jadi tak perlu kau jadikan beban. CSW.

“Benarkah begitu? Well, it might be…” Jinyoung berbaring di tempat tidurnya. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur. Perlahan tapi pasti, kertas yang berada di samping tempat tidurnya memudar dan akhirnya lenyap sama sekali.

Well, kita semua tau itu. perpisahan memang takkan mudah, namun itulah keniscayaan. Perpisahan adalah sisi lain dari lorong perjumpaan. Namun…setiap kehilangan tetap saja menorehkan luka dan kesedihan.

.

[Now Playing: Big Bang – Always]

“Hyoriiiinnnn!!! Ironaa!! Ppaliii!!” seru Jinyoung dari dapur. Hyorin mengucek matanya, seraya mencoba meregangkan tubuhnya. Matahari telah bersinar terik, cahayanya merambat memasuki jendela.

“Hooaahhmm!! Hmm? Udah pagi ya?” Hyorin melirik jam dinding dan langsung bangun.

“Ah rasanya aku melupakan sesuatu yang penting? Apa ya? Ehm? Ah bodoh ah!” Hyorin menyentuh keningnya. Kepalanya terasa sedikit sakit. Ah ini pasti karena dia memaksakan kemampuan minim otaknya itu untuk berpikir pagi-pagi.

“Mimpi yang aneh…” gumamnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Huuaaaahh!! Mukaku!!!” serunya saat mendapati make up luntur di wajahnya mengering dan sangat mengerikan! Ia lantas bergegas menuju kamar mandi dan bersiap ke sekolah.

“Yah! Kau tak sarapan dulu?”

“Aniyaa! Sudah telat oppa!!” seru Hyorin seraya memakai sepatunya. Jinyoung hanya geleng-geleng, sejak kapan Hyorin tak merengek-rengek padanya minta diantar kesekolah?

Selama dalam perjalanan menuju sekolahnya Hyorin terus mencoba mengingat apa yang terjadi di dalam mimpinya. Tapi nihil, hanya potongan gambar sekilas yang bisa ia ingat. Ia tidak ingin mendebatkan masalah memori otaknya yang sedikit bermasalah itu, jadi ia putuskan untuk mengabaikan mimpi aneh yang samar itu.

“Pagi Hyorin!!” seru Sulli di gerbang sekolah, Hyorin tersenyum seraya melambaikan tangannya.

“Sulli-ah!!”

“Hey, kita ada pr apa nih?” Tanya Hyorin seraya menggandeng lengan Sulli.

“Hmm, kesenian. Resensi film, udah belum?”

“Ahahaa, udah donk! Aku resensi film…death note!”

“Mwo? Dasar kau maniak film!!” mereka berdua tertawa-tawa sambil berjalan menuju kelas.

“Aku mimpi aneh lho semalam! Masa aku dan Taemin jadian terus kami terpilih menjadi mister dan miss Mori?”

“Hahaha, nda mungkin banget tuh! Pasti cuma mimpi belaka! Lagian kamu jadi Miss Mori? Hello? Kau pikir mereka yang memilihmu sudah gila? Ckckc, dasar aneh!”

“Aish! Kau ini! Namanya juga mimpi, ya aneh-aneh gitu donk!” Sulli mencubiti lengan Hyorin.

“Ampun..ampun…ngomong-ngomong soal mimpi…aku juga bermimpi jadian sama Gong Chan loh!” Sulli terbahak.

“Huahahahahahahahahahahahahhahahahhahahahahahha!! Kau buang kemana otakmu Hyorin? Seenggaknya meski itu cuma mimpi, sadarlah! Bersikaplah lebih rasional akan HAL YANG GA MUNGKIN TERJADI!!!”

“Aigoo! Yah mana aku tau…lagian mimpiku samar-samar banget kok. Rasanya…ada sesuatu yang kurang, ehm…sesuatu yang semestinya ada…tapi apa? Ada yang hilang, tidak jelas, samar-samar seperti potongan puzzle yang hilang…”

“Meneketehe, memang aku esper? Lagian, rasanya ga etis aja kalau kita membahas tentang kemampuan mengingatmu yang pas-pasan itu sekarang!” ejek Sulli.

“Ah! Baboya! Beraninya kau mengataiku begitu?” Hyorin lantas mencubiti pipi Sulli sebal.

“Selamat pagi, Sulli-ah! Hyorin-ah!!” Sulli dan Hyorin menghentikan langkah mereka, dilihatnya dua sosok namja berdiri di hadapan mereka.

“Waeyo jagi? Kenapa bengong begitu?” Tanya mereka. Jagi? JAGI???? MWO????

“Ini…nyata?” Hyorin dan Sulli saling menampar untuk memastikan kesadaran mereka.

“AAAAHHHH!!” jerit mereka bersamaan, membuat Taemin dan Gong Chan bingung dibuatnya.

“Kau kenapa Miss Mori?” Tanya Taemin pada Sulli yang menatapnya bingung.

“Miss MORI??”

“Ne…pura-pura lupa ya? Dasar! Duro kkaja!” ajak Taemin sambil mengacak-acak rambut Sulli yang masih bengong seperti sapi ompong (?)

“Jagi, ayo masuk!” ajak Gong Chan seraya menggandeng tangan Hyorin yang masih setengah sadar akan kejadian ini.

“Kenapa kau memanggilku jagi?”

“Wae? Tidak bolehkah aku memanggil yeoja chinguku sendiri jagi?” mata Hyorin melebar, apa katanya barusan? YEOJA CHINGU?????

.

[sementara itu di Soul Society]

“Baro! Bengong aja! Di panggil professor Shin Woo tuh!!” seru Sandeul pada Baro yang sedang memandang kagum kubah langit Las Noches yang indah. Didalam kubah ini, tak pernah ada yang namanya kegelapan. Semua langitnya berwarna biru, tak peduli meski siang atau malam. dalam Las Noches tak mengenal perbedaan waktu. Para shinigami tak pernah mati, mereka juga takkan bertambah tua. Hanya saja, jika jiwa mereka hancur maka tubuh roh mereka juga akan ikut lenyap. Itulah yang namanya kematian bagi seorang shinigami.

“Ne…” mereka berdua lantas menghilang sekejap dengan shunpo shinigami.

Yeah, y’all know what? This is just A DREAM, a dream who comes true…so never give up to get anything you’ve dreamt. It doesn’t matter what people say, it doesn’t matter how long it takes. Just believe in yourself and you’ll fly high. It only matter how true you are, be true to yourself and follow you heart.

~END~

 

haaahhhh!!! cape ah!! akhirnya ne FF gaje tamat juga!!! oke deh, nantikan FF saia yang lain ya!! gomawo readerdeul!! love u….^^

Posted 8 Juli 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , ,

2 responses to “[FF] A Dream *Part 8 – END*

Subscribe to comments with RSS.

  1. kereeeenn :’)
    miaan.. baru koment di part inii…

  2. COOL!!!
    Kegalauan(?)nya dapet banget thorr kereeen! Daya khayal nya juga keren abis!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: