[FF] A Dream *Part 7*   1 comment


annyeong haseyo readerdeul!!!!

author balik lg neh, udah pda kangen kan? #plakk

oke deh, here we go

.

A DREAM

Author: d_na

Length: 7 of ?

Genre: romance, fiction, action

Main Cast:

Jung Hyorin as you

Choi Sulli

Lee Taemin

Cha Sun Woo aka Baro

======================================

[Now playing: The Moffats – If I Only Knew]

[Sulli POV]

Semuanya terasa gelap, dan berat. Kupaksa mataku untuk terus bertahan saat kulihat setitik cahaya kecil diujung sana. Aku melangkah susah payah menuju cahaya terang namun lembut itu. perlahan, semakin dekat.

Tiba-tiba saja aku berada ditempat asing. Aku sedang berjalan seorang diri dipesisir pantai, aku melihat sosok yang sangat kurindukan selama ini, umma. Tanpa terasa aku meneteskan air mata. Aku mencoba memanggilnya tapi sepertinya suara ku tidak terdengar.

“Umma, umma jangan tinggalkan aku!? Aku takut…umma!!! Jangan kesana!!” jeritku saat kulihat umma mendekati ombak yang besar.

”Umma!!!!” jeritku sekali lagi, akhirnya umma menoleh padaku. Umma tersenyum dan menyentuh bahuku, tangan umma terasa sangat lembut dan hangat.

”Sulli, belum saatnya kau pergi bersama umma, kembalilah ke alam sana! Masih banyak yang harus kamu selesaikan didunia ini. Kau adalah harta umma yang paling berharga! Umma tidak pernah menyesal melahirkanmu!” Tiba-tiba cahaya itu meredup dan aku sendiri dalam kegelapan.

Aku membuka mata dan mencoba untuk melihat tapi aku buta oleh cahaya putih yang menyilaukan, cahaya apa ini? Sangat terang dan menyilaukan. Apa aku sudah mati? Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku berusaha bangkit tapi aku tak bisa merasakan kaki dan tanganku.

“Ng?”

“Kau sudar sadar, Sulli-ah?” Kulihat seorang berwajah sangat tampan itu duduk di sebelahku. Apa aku benar-benar sudah mati? Kenapa aku bisa melihat seorang berwajah seperti malaikat itu? Apa dia malaikat pencabut nyawa?

“Sulli-ah?” tanyanya sekali lagi membuatku tersadar, bahwa aku belum mati.

“Tae…min?” bisikku lemah. Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum lega. Manis sekali.

“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.

“Kenapa aku ada disini?” aku malah balik bertanya.

“Aku juga tak begitu ingat, yang jelas…saat aku sadar kita sudah disini! Mungkin polisi yang membawa kita!”

“Taemin…”

“Hmm?”

“Aku bermimpi…bertemu dengan umma…” kulihat ekspresi sedih Taemin, dia lantas mengelus puncak kepalaku.

“Umma bilang aku adalah hartanya yang paling berharga. Aku senang mendengarnya, Taemin…” kurasakan butir air mataku yang perlahan jatuh.

“Itu sudah pasti…”

“Taemin…”

“Ah ya, aku sampai lupa. Mian! Ini, kutemukan dikamarmu! Kukira sudah kau baca, kau bahkan belum membuka hadiah dariku! Ini dari ibumu!” Taemin memberikan amplop yang sudah agak lusuh dan ada bercak darah disana. Aku bangkit perlahan dan menerimanya dengan perasaan tak yakin.

‘Sulli, selamat ulang tahun yang ke 17! Saat kau baca surat ini…itu berarti kau sudah mengetahui semua tentang keluarga Choi. Gara-gara umma, kau pasti mengalami kenangan yang buruk. Umma mengerti kalau takdirmu terasa begitu berat. Mianhae. Tapi kalau kau mau menerima atau menolaknya, itu semua tergantung padamu.

Saat umma bertemu dengan appa, begitu pula saat umma melahirkanmu. Umma merasa menjadi seorang yang paling bahagia di dunia. Kau adalah harta umma yang paling berharga! Umma tidak pernah menyesal melahirkanmu! Umma dan appa sangat mencintaimu, Sulli.’

Air mataku meleleh semakin deras. Aku tak tahan lagi, aku langsung menjatuhkan tubuhku padanya. Aku menangis, Taemin membelaiku. Dalam pelukannya aku merasa sangat damai. Dia menghapus air mataku…

”Uljimarayo, Sulli-ah…ada aku disini, kau takkan sendirian lagi!!”

”Taemin…aku…!”

”Hmm?”

”Aku menyukaimu!!” ujarku seberani mungkin kulihat ekspresi wajah Taemin menegang, dia lalu melepaskan pelukannya padaku. Aku menatapnya heran.

”Nggak ada hubungannya dengan kepala keluarga atau apapun! Aku menyukaimu sejak dulu!! Tolong beri tau aku, bagaimana perasaanmu padaku, Taemin!!”

”…”

”Sulli, apa kau bisa mengerti? Bagaimana rasanya menyukai seseorang yang ga boleh kau sukai?” tanya Taemin. Aku terperangah. Apa maksudnya? Apa aku tak boleh menyukai Taemin? Karena aku adalah kepala keluarga Choi?

”Aku…aku takkan jadi kepala keluarga Choi! Karena itu…biarkan aku bersamamu!!” isakku sesunggukan.

”Perasaanku ini…”

”Saat ku tau kau adalah kepala keluarga selanjutnya, aku ditugaskan untuk mencarimu. Aku menyelidiki dan mengawasimu hampir setiap saat. Saat itulah, tanpa kusadari aku semakin menyukaimu!!”

”Tapi aku tak bisa! Aku tak mungkin bisa bersamamu dalam arti lain!!” sergah Taemin. Kulihat butir-butir air mata Taemin menetes. Taemin menangis!!

”Tapi aku menyukaimu!!” ujarku keras kepala, Taemin menggeleng. Wajahnya tersiksa, dia terlihat begitu menderita.

”Sulli, dengarkan aku…!”

”GA!! Kau yang dengarkan aku! Aku menyukaimu! Hanya kamu! Aku ga peduli dengan yang lainnya, mau aku kepala keluarga atau apapun aku ga peduli!!”

”Sulli…”

”Harus kukemanakan perasaanku Taemin?? Aku tak ingin membuangnya! Aku tak sanggup!!”

Aku percaya bahwa cinta membawa kebahagiaan, tetapi ketidakmampuan mengatakan cinta hanyalah hukuman dari surga. Aku tau aku mencintaimu, tapi entah mengapa jika rasa ini ada hanya menyakitiku. Jika mencintaimu, hatiku sakit. Apakah hidup ini hanya ada cinta (air mata) yang membuat luka?

Taemin menghapus air mataku, kemudian tersenyum.

“Arraseo! Jangan menangis lagi Sulli-ah…”

“Taemin, kau tidak berhak untuk menolak permintaan kepala keluarga!!” ancamku bercanda. Taemin tersenyum geli dan mengacak-acak rambutku.

“Saranghae, Choi Sulli…” lirihnya.

”Na do…”

”Aku akan selalu ada disisimu sampai kau bosan dan memintaku pergi menjauhimu!!” janjinya sambil mengecup telapak tanganku.

”Kau tau itu takkan pernah terjadi!!” bisikku.

.

[Author POV]

“Mm…bau ini? Black pearl…kau shinigami!!” makhluk itu menyeringai, dan dengan gerakan cepat ia mengayunkan kapaknya. Tepat di jantung Hyorin!

“ZETSUGA TENSOU!!!”

Mendadak kilatan cahaya yang menyilaukan membutakan mata Hyorin.

”Kyaaaaa!!!” jeritnya.

”Argh!!” erang makhluk itu, ia tersungkur bersimbah darah. Seorang pemuda di depan Hyorin berdiri dengan gagahnya.

”Ba…Baro?? Baro!!” seru Hyorin. Ia bernapas lega, karena Baro datang menyelamatkannya.

”Iya ini aku! Ga usah di panggil berulang kali juga bisa, kan?”

”Cih! Apa-apaan kau? Kenapa malah sewot begitu sih?”

”Zetsuga tensou? Itukan perubahan zanpakutou (*sejenis katana yang dipakai oleh shinigami) tahap ke dua! Jadi kau shinigami?” makhluk itu berdiri dengan susah payah.

”Zanpakutou?”

”Zanpakutou adalah senjata yang digunakan shinigami. Pelepasan pertama adalah dengan menggunakannya layaknya katana (*pedang Jepang) biasa. Pelepasan tahap kedua adalah dengan memanggil nama zanpakutou! Zetsuga adalah kekuatan zanpakutouku!” jelas Baro.

”Ba..Baro, hati-hati! Dia membawa kapak!!”

”Huh! Tanpa kau beri tau juga aku tau! Kau…kau bukan hollow biasa!!”

”Huh! Jangan samakan aku dengan makhluk tak berguna itu!” makhluk itu maju menerjang Baro. Lagi-lagi kilatan cahaya yang menyilaukan mata muncul diiringi tebasan dan erangan diantara keduanya. Gerakan Baro yang gesit tak mampu menahan serangan demi serangan yang dilancarkan makhluk itu.

”Argh!” erang makhluk itu saat Baro menendangnya hingga ia membentur dinding. Namun ia tidak menyerah, dan kembali menyerang Baro dengan kapak besinya itu.

Bruagh…

”Ugh! Sial! Tubuh gigai ini menghalangi kekuatanku!” Baro mengelap darah di sudut bibirnya, tangan kanannya tercabik. Hyorin yang menyaksikan itu menegang, air matanya tumpah melihat cairan berwarna merah yang menetes dari tangan Baro.

”Hahahaha!! Ternyata kau lemah sekali shinigami!! Kekuatanmu itu setara dengan bangku ke 8! Mana mungkin bisa mengalahkan aku!”

”Rasakan ini!!” makhluk itu mengarahkan serangannya sekali lagi, tapi tidak pada Baro namun Hyorin!!

”Hyorin merunduk!!! Dia akan mengeluarkan cero (*jurus terkuat yang dimiiki bangsa hollow)!!” seru Baro.

”Ce…what? apa itu?”

”Ugh! Sial!!” sudah tak ada waktu lagi. Cahaya putih itu menerjang tepat ke tubuh Hyorin. Baro mencoba menahannya.

”Charm capsule (*barrier pelindung yang tak bisa ditembus)!!!” mendadak perisai bulat menelan Baro dan Hyorin. Mereka masuk ke dalam barrier yang berbentuk seperti kapsul. Serangan dahsyat cero tadi gagal. Baro masih memeluk tubuh Hyorin yang gemetar hebat.

”Diamlah di dalam sini! Barrier ini akan melindungimu dari serangan apapun. Termasuk cero yang barusan!”

”Cero itu apa? Siapa makhluk itu?” tanya Hyorin [doh, sempet2nya nanya ckck]

”Dia adalah menos grande, perubahan hollow sebelum menuju arrancar! Dia lumayan kuat! Cero adalah jurus terkuat mereka, jika terkena maka kau akan lenyap selamanya. Bahkan kepingan tubuhmu juga lenyap.” Baro keluar dari kapsulnya. [ini juga, smpet2nya jelesin]

”Baro! Jangan!!” Baro menatap Hyorin sebentar, hatinya sakit jika harus membiarkan gadis itu terluka. Makanya, ia akan melindungi gadis itu sampai titik darah penghabisan.

”Menos grande!? Meski aku adalah shinigami bangku ke 8, bukan berarti aku bisa dikalahkan semudah itu!!”

”Aku bukan menos, aku Grand Fisher (setingkat di atas menos)! Huh! Berlagak sekali kau! Sepertinya gadis itu berharga untukmu! Kudengar shinigami tidak punya perasaan, apa tubuh gigai itu mempengaruhi perasaanmu?”

”Tidak ada hubungannya. Ayo, kita akhiri sekarang!”

”Akhiri? Jangan mengejek! Rasakan ini!” menos kembali menerjang Baro, ia mengayunkan kapaknya tepat ke kepala Baro.

”Release of the dead (*nama jurus) Mizubunshin (*bayangan air, lol)!!”  kapak itu menancap kuat, namun sayangnya kapak itu malah menancap di lantai. Sedang Baro sudah berdiri di belakang si menos, dengan gerakan yang tak bisa diikuti oleh mata.

”Sial!! Apa itu shunpo (*langkah kilat) shinigami?” menos kembali menyerang Baro, mereka berdua bergerak begitu cepat. Sampai-sampai tak bisa menebak pasti ada tidaknya mereka. Mereka berputar, dan terlihat seperti orang yang sedang menari saja.

Traang…

Baro terdesak saudara-saudara!! Kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan menos raksasa itu! Menos itu terus-terusan melancarkan serangannya. Baro sampai jatuh bangun menghadapinya. Mungkin jika ia dalam wujud shinigami, akan lebih mudah mengalahkannya. Namun sayangnya, gigai (*tubuh pengganti) ini menahan kekuatan serta reiatsunya (*semacam cakra klw di naruto).

”Barooooo!!!” pekik Hyorin.

”Ukh!!” Baro yang terdesak di dinding mencoba melepaskan diri dari cengkraman menos yang mencekik lehernya. Dengan satu gerakan cepat menos itu mengeluarkan ceronya sekali lagi. Tepat diwajah tampan Baro [lol, dasar author sedeng]

”ARRRGGGGHHH!!!”

”BAROOOO!!!!”

Ya Tuhan! Aku mohon padamu! Jangan biarkan Baro mati! Ku mohon selamatkan dia! Demi apapun!! Apapun akan kulakuan, tolong dia Tuhan!!!

”Zetsuga…TENSOU!!!!!”

Kilatan cahaya menebas makhluk itu. Ia terkapar tak berdaya.

”Release of the dead! Fuinjutsu (*jurus segel. emang ad? wkwkw)” perlahan makhluk itu sirna. Baro terduduk lemas, rasa nyeri ditangannya menjadi-jadi.

”Kemana makhluk tadi?”

”Dia berteleportase ke Hueco Mundo! Sarangnya para hollow!” Hyorin memegangi kepalanya, rasanya terlalu banyak istilah asing yang di dengarnya hari ini.

”Baro!! Keluarkan aku!!” Baro sampai lupa kalau Hyorin masih ada di dalam kapsul. Baro mengeluarkannya. Tanpa disadarinya Hyorin langsung memeluknya erat. Hyorin terisak di dadanya.

”Kupikir kau akan mati…huhu! jangan lagi! Aku tak mau melihatnya…”

”Hmm, aku takkan mati semudah itu. Lagipula, aku tak mungkin meninggalkanmu!!” Baro balas memeluknya. Sedikit demi sedikit tubuhnya merileks.

”Jangan tinggalkan aku!!” pinta Hyorin, Baro tersenyum samar. Dia mengeratkan pelukannya.

”Kenapa kau ketakutan begitu? Bukannya kau suka nonton film action? Lebih baik nonton live daripada nonton pertarungan dari kaset, kan?” goda Baro.

”Yaah! Aku serius bodoh! Aku khawatir padamu tau!”

”Mwo? Kau khawatir padaku? Kau tidak ingin kehilanganku?” goda Baro lagi. Hyorin memukul lengan Baro yang tidak terluka.

”Dasar shinigami bodoh! Menyebalkan!” rajuk Hyorin. Baro tersenyum senang.

”Bagaimana dengan kekacauan ini?” tanya Hyorin yang memandang rumahnya yang kacau balau. Baro memegangi lengannya yang terluka. Dia memejamkan matanya menahan sakit.

”Release of the dead! REPARO!!” sekejap saja, laksana sihir yang ada di film harpot rumah yang awalnya hancur itu kembali utuh seperti semula.

”Wah!! Hebat!! Kau seperti Harry Potter saja!!”

”Ah…jin..jja? Itu…mudah…!” napas Baro tersengal. Sial! Sepertinya tubuh gigai ini benar-benar menguras tenaganya.

”Omo! Lenganmu! Baro, gwaenchana?”

”Kau pikir aku yang terluka parah begini bisa disebut baik-baik saja? Bo…doh!!”

”Baro!! Mian! Hiks! Ini salahku!!” Hyorin mulai terisak lagi.

”Bo…doh!! jangan…menyalahkan dirimu begitu…aku…juga tak mau kehilanganmu!!” Baro mengecup pipi Hyorin [HWHATTT?? NOOOO!!! Author iri T.T] sebelum akhirnya ambruk.

”Baro!!!? Baro!!”

.

Hidupku bagaikan malam tanpa bulan. Gelap pekat, tapi ada bintang-bintang, titik-titik cahaya dan alasan. Kemudian kau muncul melintasi langitku bagaikan meteor. Tiba-tiba saja semua seperti terbakar, ada kegemerlapan, ada keindahan. Setelah kau tidak ada, setelah meteor tadi lenyap dibatas cakrawala, semuanya hitam kembali. Tidak ada yang berubah, tapi mataku sudah dibutakan oleh cahaya terang meteor tadi. Aku tidak bisa melihat bintang-bintang lagi. Jadi tidak ada alasan untuk apapun juga.

Seperti inilah aku, mencintaimu dengan sejuta rasa perih. Bila kau tiada, aku terus mencoba mengatakannya. Tapi hati ini tidak pernah merasa puas, mungkin suatu hari nanti kau akan mendengarnya langsung dari bibirku. Tapi mungkin saat itu juga kau akan lari dan meninggalkan aku. Sungguh, itu saat yang menakutkan bagiku. Siapapun tak peduli rasa cinta ini perlahan membakarku. Bahkan kaupun tidak.

.

“Omo! Apa ini?” gumam Hyorin saat menemukan sesuatu di atas meja belajarnya. Ia menatap benda yang ia maksud. Ini kan…?

“Eh? Anu itu…Itu, bagus banget gelangnya!” Baro melihat apa yang kutunjuk. Sebuah gelang perak yang ada bintangnya, manis sekali.

“Ini? Gelang? Memangnya kamu perempuan?”

Hyorin memakai gelang itu di tangan kirinya, perasaannya semakin tak karuan. Meski Baro bersikap cuek kemarin, tapi ia benar-benar telah membuat Hyorin terharu. Gelang ini buktinya. Padahal Hyorin hanya bercanda waktu itu.

“Gomawo, Baro…” Hyorin menyentuh pipinya, kemudian teringat tentang hal terlarang yang dilakukan Baro semalam. Meskipun Hyorin sedikit ehm MENYUKAI hal itu, tapi tetap saja ia sudah punya seseorang yang ia cinta.

“Argh! Memangnya aku cewe gampangan yang bisa kau cium seenaknya? Dasar hamster mesum!!!”

.

Brakk…

Pintu kamar Baro terbuka nyaring membuatnya tersentak dari pikirannya.

“Mau apa?” Tanya Baro saat menyadari Hyorin lah yang membukanya dengan kasar, Baro menarik selimut menutupi tubuhnya. Tangannya terasa kebas.

“Kamu ga makan?” Tanya Hyorin pelan, apa? Apa katanya? Dia tanya hal itu? Kenapa dia menanyakan hal itu? Apa dia lupa, bahwa shinigami tidak perlu makan? Atau dia ingin Baro yang menyiapkan makanan untuknya?

“Memangnya kenapa? Kamu mau aku menyiapkannya?” Tanya Baro lagi.

“Makanlah, aku sudah membuatkan bubur!” sahut Hyorin sambil keluar. Mwo? Hyorin masak? Ada angin apa nih? Jangan-jangan malah ada apa-apanya nih? Baro mengikuti Hyorin. Di meja makan sudah terhidang makanan. Hyorin duduk dan langsung melahap bubur buatannya.

“Duduklah lalu makan!” serunya.

“Kenapa kau membuatkanku bubur?”

“Cuma itu yang kubisa! Ga usah cerewet deh!” jawabnya dingin, Baro mengerucutkan bibir dan memakan buburnya dengan susah payah. Hyorin menatapnya kesal. Haruskah ia menyuapinya?

“Nih!!” Hyorin akhirnya menyendoki bubur itu ke mulut Baro. Baro terkejut saat melihat gelang perak berbintang itu berada di pergelangan Hyorin. Ia sama sekali tak menyangka Hyorin akan memakainya.

“Aku ga makan juga masalah, tau! Kalau ga ikhlas menyuapiku ya ga usah dipaksakan!”

“Cerewet! Makan saja, kenapa?!! Dasar bodoh!” kesal Hyorin menjadi-jadi. Mau tak mau Baro memakannya.

“Bagaimana?” tanya Hyorin.

“Ne? Oh! Enak kok!” ujar Baro lagi sambil melahap bubur sesuap demi sesuap dibantu oleh Hyorin. Sementara itu, entah dengan cara apa Hyorin menghabiskan satu mangkuk bubur bagiannya dan mulai mengeluh ga kenyang.

“Kau mau makan lagi? Biar aku…”

“Ga perlu!”

“Aish! Kenapa jawabnya seperti itu? Kau marah padaku?” tanya Baro lagi-lagi dengan wajah innocentnya itu.

“Ne, aku marah padamu! Bisa-bisanya kau melakukan hal itu semalam! Kau pikir kau siapa? Dasar mesum!!”

“Ne? Melakukan hal apa maksudmu?”

“Ga usah pura-pura ga tau! Menyebalkan! Habiskan saja makananmu! Aku sudah membuatnya dengan susah payah, awas kalau masih tersisa!” perintah Hyorin sambil berlalu, Baro tersenyum. Sedang Hyorin masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan ga karuan. Yah ini pertama kalinya, pengalaman pertama baginya. Tapi kenapa mesti dengan Baro? [Ah reader pasti tau maksud.a author apa, wkwkw^^]

“Hyorin-ah? Kau tidak menyuapiku? Tangan kananku kan terluka!!” seru Baro. Hyorin menghantupkan kepalanya ke bantal. Ia lupa.

“Cih!! Sial!!” Hyorin kembali ke ruang makan dan menyuapi Baro yang terkekeh senang.

.

Tak terasa hari demi hari berlalu. Pasangan Sulli Min terlihat makin mesra dari hari ke hari [hoeks!!] Taemin sangat lembut dan perhatian pada Sulli. Hari-hari terbaik sejak ada Taemin disisi Sulli, menemani dan menjaganya. Taemin sekarang begitu sadar sepenuhnya bahwa ia telah mencintai gadis itu. Begitu pula sebaliknya. Entah mengapa, bila berada jauh dari Sulli, Taemin merasa tidak tenang. Sulli seperti candu baginya. Hyorin sering berkomentar bahwa ia dan Sulli seperti planet dan satelit. Setiap gerakan Sulli, sekecil apapun itu Taemin selalu bisa menyesuaikan posisinya dengan Sulli.

[Now Playing: Beast – Clenching a tight fist]

Di suatu pagi yang damai, terjadi kehebohan di rumah keluarga Jung. Penyebabnya? Siapa lagi kalau bukan Hyorin dan Baro yang kini sedang meributkan hal yang sangat sepele. Jinyoung sampai mesti menutup telinganya, karena ia sedang berkonsentrasi untuk menyelesaikan small project di kampusnya.

”Ya!!! Baro kembalikan!!” jerit Hyorin sambil menarik-narik kaus Baro.

”Andwae!! Aku duluan dapet!! Siapa cepat dia yang dapat bodoh!!” ejek Baro.

”Aish! Kau ini! Mengalah sedikit kenapa? Dasar pelit!”

”Mwo? Buat apa aku mengalah darimu? Gendut!!”

”KAU!!!!!”

”Yah! Kalian bisa tenang sedikit ga sih? Kenapa meributkan coklat kecil begitu?” tegur Jinyoung.

”Oppa!! Dia jahat…! Hiks!” adu Hyorin.

”Sudahlah, nanti oppa belikan sepuasnya! Kalian ini kekanak-kanakkan sekali!”

Bel rumah berbunyi. Hyorin langsung pergi ke pintu depan. Hmm, tapi tak ada siapa pun disana.

”Hwaaaah!!!” jerit Hyori terkejut saat melihat seorang pria asing didepannya. Namja itu menatapnya bingung.

”Hey? Kau bisa melihatku? Kau kan manusia?” tanyanya. Hyorin menghela napasnya. Jangan katakan kalau namja di depannya ini satu spesies dengan Baro.

”Sandeul??” seru Baro. Ia langsung menghampiri namja yang dipanggil Sandeul itu.

”Baro? Ternyata itu benar kau!” senang Sandeul.

”Ah, kenapa kau ada disini?”

”Aku datang sebagai agen shinigami. Soul society memerintahkan untuk pergi ke dunia manusia, katanya ada reaksi dahsyat yang berhubungan dengan hollow!” jelas Sandeul.

”Ah, mungkin hollow yang waktu itu! Aku sempat melawan Grand Fisher!”

”Mwo? Grand Fisher? Kau hebat sekali!! Padahal cuma bangku ke 8!”

”Ah kau mengejekku, sial!!”

”Hmm, ngomong-ngomong kau keren juga dalam tubuh gigai ini! Aku sampai tidak mengenalimu!!”

”Begitukah? Kau tidak tau kalau aku ini memang keren?” sergah Baro.

”Yaa!!! Tunggu dulu!! Jangan anggap aku tidak ada disini!!” kesal Hyorin yang sedari tadi diam saja.

”Siapa dia? Kenapa dia bisa melihatku?” tanya Sandeul sambil menatap Hyorin dari atas sampai bawah. Pandangan mata seorang pervert!! Menjijikan!!

”Ah!! Kau gadis bodoh yang menelan black pearl itu!!” seru Sandeul. Hyorin terbelalak, gadis bodoh katanya??? What the-

”Yaa!! Jangan mengataiku gadis bodoh!!!” kesal Hyorin.

”Hmm, masuklah!” tawar Baro. Sandeul langsung masuk mengiringi Baro, sedang Hyorin masih saja mematung seperti orang bodoh di luar sana.

”YAA!! Baro!! Jangan seenaknya! Kau pikir ini rumah siapa? Kenapa membawa orang asing masuk seenakmu, hah?” protes Hyorin, Baro yang mengacuhkannya terus berjalan ke lantai dua.

”YAAA!! CHA SUN WOO!!!” kesal Hyorin. Jinyoung hanya menggeleng-geleng melihat tingkah adiknya itu. Semenjak Baro datang, rumah terasa semakin hidup saja. Yah, karena pertengkaran mereka tentunya. Sampai-sampai ia tak tau harus menjelaskan apa pada tetangga sebelah tentang keributan dirumahnya.

”Kenapa Hyorin selalu memanggilnya Baro? Bukannya namanya Sun Woo??” gumam Jinyoung. Cha Sun Woo, namanya mirip dengan nama sahabatnya dulu. Wajahnya pun identik. Jangan-jangan…tapi itu hal yang mustahil kan? Sun Woo sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Tidak mungkin kalau mereka adalah orang yang sama. Jinyoung menhela napas, dan kembali fokus dengan apa yang dikerjakannya.

”Hhhh, gara-gara Hyorin nih! Aku jadi ketularan suka berfantasi yang ga ga!”

”Yaah! Itu kamarku! Apa yang kalian lakukan dikamarku, hah??” seru Hyorin.

”Aigoo, manusia ini cerewet sekali, kau tahan ya Baro!!” ejek Sandeul, Baro tersenyum mengejek Hyorin. Mereka lantas masuk ke dalam kamar Hyorin tanpa seizin pemiliknya. Hyorin memicingkan matanya kesal, namun toh akhirnya ia masuk juga. Takut-takut kalau dua makhluk aneh ini akan berbuat macam-macam dengan kamarnya.

”Omo! Lenganmu kenapa? Kau terluka?” tanya Sandeul sambil memegang tangan kanan Baro yang dibalut perban.

”Ne, gigai ini menyebalkan! Dia menghalangi reiatsuku! Jadi lukanya lambat sekali sembuh!” Baro membuka perbannya, terlihatlah luka bekas tercabik itu. Hyorin bergidik ngeri melihatnya.

”Hmm, kau jadi seperti manusia saja, Baro! Biar aku…” Sandeul menutup matanya, ia menyapukan jarinya di atas luka Baro.

”Release of the dead, RETURN SHIELD!!” mendadak cahaya berwarna ungu lembut meresap ke dalam lengan Baro dan hanya meninggalkan garis berwarna merah muda. Luka tadi lenyap entah kemana. Sekali lagi Hyorin terperangah kagum.

”Ah thanks dude!!” Baro mencoba menggerak-gerakkan lengannya, memastikan bahwa ia sudah sembuh total.

”My pleasure!!”

”Lukanya sembuh! Jadi, kalian tak memerlukan rumah sakit?” Tanya Hyorin polos, mendengar itu dua shinigami itu tertawa.

”Kita tidak memerlukan tempat seperti itu! Tapi ruang penelitian! Untuk mengembangkan jurus terbaru!”

”Yah! Kenapa kau tidak menyembuhkan lukamu sendiri? Aku kan tidak perlu bersusah payah menyuapimu makan!!” kesal Hyorin pada Baro.

”Mwo? Makan? Kau perlu makan Baro? Bukannya gigai tidak perlu…”

”Aku manusia sekarang. Well, pretending to be one! Ga mungkin aku ga makan, itu akan menimbulkan kecurigaan!!” jelas Baro.

”Yah! Jawab aku! Kau sengaja kan?!” Hyorin memukul lengan Baro.

”Aniya, aku tidak bisa menyembuhkan diriku sendiri. Aku bukan shinigami kelompok penyembuh seperti dia! Aku ini tipe petarung!!” jelas Baro lagi seraya menunjuk Sandeul.

”Oke, jadi mau apa kau datang? Kau tidak mungkin datang hanya untuk menyembuhkan shinigami petarung ini, kan?” ketus Hyorin pda Sandeul.

”Hmm, kau ini to the point sekali, manusia!” komentar Sandeul.

”Jangan panggil aku manusia! Namaku Hyorin!”

”Oke nona Hyorin! Aku datang kesini karena diminta oleh ketua markas penyembuh untuk mengantarkan ini!” Sandeul memberikan sebuah botol kecil berwarna bening, didalamnya terlihat cairan berwarna ungu keperakan.

”Professor Shinwoo maksudmu?” tanya Baro, Sandeul mengangguk.

”Apa ini?” tanya Hyorin seraya mengamati cairan itu. Warnanya cantik sekali.

”Itu ramuan yang bisa mengeluarkan black pearl yang kamu telan!” jelas Sandeul.

”Jinjja? Ah ramuan yang itu?”

”Cepat sekali, katanya setengah tahun lagi?” tanya Baro.

”Hmm, kemarin ketua dewan shinigami (emang ada?) mengadakan pertemuan antar komandan kelompok. Mereka mendiskusikan masalah hollow yang aktif menyerang dunia manusia beberapa hari yang lalu. Setelah diselidiki, ternyata serangan hollow itu terjadi karena transmisi yang berasal dari reiatsu black pearl mu. dan jika hal itu berlanjut akan berdampak sangat buruk bagi keseimbangan antar dunia. Oleh karenanya, ketua dewan memerintahkan professor Shinwoo untuk menyelesaikan ramuannya secepat mungkin agar kau bisa kembali ke soul society! Jadi hollow takkan mengincarmu, dan manusia ini!

”Begitu? Wah akhirnya!! Mimpi burukku akan segara berakhir!!” senang Hyorin. Baro menatapnya misterius.

”Baguslah! Dengan begitu Baro juga bisa kembali ke soul society dan semua kembali seperti semula!!”

Ah!! Aku tak menyangka hari ini akan datang! Tapi… Baro akan  kembali ke Soul Society? Benar juga sih, kalau black pearl nya sudah keluar Baro tak perlu lagi melindungiku. Tak ada lagi alasan baginya untuk tinggal disini. Itu artinya…aku takkan bisa melihatnya lagi!! Andwae! Aku seharusnya tau itu. Tapi…kenapa aku merasa ga rela begini? Aku…rasanya aku…ingin terus bersamanya. Kenapa ini? Aku tak seharusnya begini! Berhenti menangis Hyorin!!

”Tunggu apa lagi? Ayo cepat diminum!!” suruh Sandeul. Hyorin masih terdiam, ia menyeka air matanya. Ia mengepalkan kedua tangannya, kemudian pergi dari sana tanpa membawa ramuannya.

”Aneh! Dia kenapa sih?” tanya Sandeul, Baro terdiam. Dia menyentuh dadanya yang terasa perih saat melihat ekspresi Hyorin barusan. Ekspresinya tidak bisa ditebak, ia seperti marah tapi menderita. Baro tak pernah melihatnya sampai tertekan seperti itu.

”Baro…kau kenapa? Kenapa ekspresimu seperti itu? tidak mungkin kau…mempunyai perasaan padanya?” Baro tersenyum kecut.

”Aniy, mana mungkin. Itu tidak seperti yang ada di dalam pikiranmu!” dustanya. Baro mencoba menyangkal semua kenyataan di hadapannya, mencoba memungkiri perasaannya sendiri namun siapapun bisa menebak jika melihat mata gelapnya yang indah memancarkan ketidakberdayaan, seolah ia sedang disiksa. Baro kembali termenung. Benarkah begitu? Benarkah ia tidak memiliki perasaan lebih pada gadis itu? Kalau boleh egois, kalau ia diperbolehkan untuk memilih…ia ingin tetap bersama Hyorin, menjaga dan melindungi gadis itu.

”Baro, kau bisa jujur padaku!”

”Aniya!! Shinigami tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu. Aku tidak apa-apa! Lagian…setelah black pearl kembali, setelah aku kembali ke soul society…semuanya akan kembali seperti semula!”

”Kau terlihat begitu sedih, kau yakin kau tidak ada perasaan apa-apa? Meskipun kau shinigami, tapi sekarang wujudmu adalah manusia!!” mata Baro kembali menerawang.

”Aku…hanya ingin disisinya, menjaga dan melindunginya…tanpa sadar aku selalu memikirkannya…tapi, hal itu mustahil terjadi! Dia tak mungkin memandangku sebagai seorang manusia!”

”Jadi kau menyukainya?”

Deg!! Hyorin menyentuh dadanya berdebar kencang. Ia berada di balik pintu, ketika mencuri dengar pembicaraan itu. Apa? Apa yang dirasakan Baro terhadapnya?

Kenapa aku gugup begini? Aku kan sudah punya pacar! Tapi…kenapa aku seperti ini? Apa tanpa sadar aku sudah menyukainya? Apa yang harus kulakukan? Aku tak mau berpisah dengannya!! Tapi…

”Ya, aku menyukainya…” lirih Baro. Air mata Hyorin semakin deras mengalir. Ia menutup mulutnya agar tak ada yang mendengar suara tangisnya.

”Sepertinya, ini bukan pembicaraan rahasia lagi!!” gumam Sandeul, ia memandang pintu lalu dngan mantra Kidou ia membukanya. Tampak seorang gadis yang menunduk menahan air matanya. wajahnya merah karena air matanya. Baro langsung menghampirinya, mengangkat wajahnya dengan hati-hati. Pandangan kalut Baro terlihat jelas terpantul di mata Hyorin.

”Uljima, Hyorin-ah!!” ia memeluk Hyorin yang masih terisak di dadanya.

”Aku…takkan meminumnya…ja…ngan…tinggalkan aku…Baro!!”

.

TBC~~

oke smpe sgtu dulu ya author kabur dulu!! Baro dah narik2 tuh!! bye2

hahahah, kritik nd sarannya jgn lupa gomaaaaawoo!!

Posted 5 Juli 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , ,

One response to “[FF] A Dream *Part 7*

Subscribe to comments with RSS.

  1. sedih deh…………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: