[FF] Let Go *Part 7*   10 comments


annyeong readers!!

author kembali nih, dgn lanjutan FF ini!!

pada penasaran? oke!!

yuk check it out!!

.

1

LET GO

Author: d_na

Length: 7 of ?

Genre: romance

Cast:

Kim Chae Ri aka Kwon Yuri as you

Choi Minho

the rest member FF [Kim Taeyeon, Lee Sun Kyu, Stephany Hwang, and Im Yoona]

Kim Kibum [SHINee]

Jung Jinyoung [B1A4]

Summary: Kim Chae Ri seorang gadis SMA biasa, tapi siapa sangka dia adalah seorang artis terkenal dikotanya. Namun ia menyembunyikan identitasnya, dan malah diketahui oleh salah seorang adik kelasnya. untuk itu ia harus berpura-pura menjadi pacar Minho dan membantunya untuk membatalkan perjodohan. hubungan mereka semakin dekat, dan mulai menyadari perasaan masing2. tanpa di duga2, tunangan Minho adalah Yoona, sahabatnya…

=======================O=========================

[Minho’s POV]

[Now playing : CN Blue – Teardrop in the rain]

Ditengah hujan yang deras ini aku berjalan seorang diri. Tak ada yang meihat, tak ada yang peduli. Hatiku terasa hampa, yah sakitnya serasa ingin membunuhku. Pikiranku kembali mengawang, seolah memutar balik kejadian itu. Dadaku perih setiap kali mengingatmu. Yah, mungkin karena kau yang pertama bagiku. Kau begitu nyata di setiap sudut memoriku. Kau benar-benar ada, bahkan apabila aku menutup mata sekalipun bayangmu tetap terekam jelas. Kenapa harus seperti ini? Kenapa aku harus merasakan hal ini? Kenapa aku tidak mati saja sekarang? Toh kau tak peduli juga. Egoiskah jika aku tak ingin merasakan sakitnya?

I don’t know which way to choose, how can I find  way to go on…

“Minho…maafkan aku. Aku tau aku begitu egois dan tak adil padamu. Aku tak memperdulikan perasaanmu, aku menyakitimu. Tapi, percayalah padaku aku tak pernah berniat melakukannya…” aku memejamkan mataku, kulihat bahumu gemetar. Apa kau sedang menangis? Tidak taukah kau, aku sangat terluka melihat air yang menetes dari matamu?

I don’t know if I can go on, without you…

“Aku tidak bisa bersamamu. Tidak! Memang kita tak seharusnya bersama, meski aku ingin sekalipun. Maafkan aku. Aku tau aku memang tak pantas mendapatkan permaafan darimu. Tapi setidaknya, kau bisa melupakanku dengan cara membenciku..” Aku menelan ludahku, bagaimana mungkin aku membencimu? Bagaimana mungkin aku melupakanmu? Kau pikir aku sanggup?

Even if ma heart is still beating just for you, I really know you are not feeling like I do…

“Aku tidak mungkin membencimu, noona!! Aku tidak bisa melupakanmu…” jawabku.

“Kau harus bisa! Dengan begitu, kau takkan merasakan hal yang membuatmu menderita begini kan? Kau pasti bisa mendapat yang lebih baik daripada aku!”

“Kau ingat? Aku pernah bilang bahwa kau seperti bintang bagiku. Kau begitu indah, berkilauan dengan sinarmu yang terang hingga menyilaukan mataku. Jadi jangan paksa aku untuk melupakanmu ataupun mencari penggantimu…karena semakin aku mencobanya bayang tentangmu makin melekat jelas…” aku memohon padanya. Aku hanya berharap, adakah keajaiban itu?

Even if the sun is shining over me, how come I still freeze?

“Minho, listen to me! You’ll be okay! Everything will be alright! I know that, just don’t ever look back and leave me alone. If we meet up someday, pretend like you didn’t know me and keep going. Day by day it’ll fade away for sure. These tears will dry up too, so don’t worry about me…” kau tersenyum, dengan air mata yang meleleh dipipimu. Mengatakan semuanya akan baik-baik saja? Benarkah? Tapi mengapa kau tetap menangis jika semua akan baik-baik saja? Kenapa aku merasa ada yang salah dengan semua ini?

No one ever sees, no one feel the pain…

“Mianhae Minho…” kemudian kau berlalu meninggalkanku, mungkin itu adalah kata-kata terakhirmu. Kau pergi tanpa pernah menoleh padaku lagi.

I shed teardrops in the rain…

Aku menutup mataku, membiarkan air hujan membasahiku, menyapu air mata dan menghapus memori kita. Bisakah? Sungguh, aku tidak ingin mendengar kata-kata yang begitu menyakitiku. Aku tak peduli meski kamu menyumpahiku, kau membenciku, atau apapun tapi jangan katakan kita tak bisa bersama. Harus kukemanakan perasaan ini? Aku tak ingin membuangnya, maka dari itu, izinkanlah aku satu kali ini saja. Menjaga perasaan ini agar tetap hangat sampai kau memutuskan untuk kembali padaku.

== flashback ==

“Dia adalah putri keluarga grup Asan, Im Yoona! Orang yang akan dijodohkan denganmu!!” sahut ayahnya Minho, seakan menjawab pertanyaan mereka kenapa Yoona ada disini. Oh Boy!!! Bukannya perjodohan masih seminggu lagi? tapi kenapa? Yoona?

 “Yoon…yoona? Yoona…aku…” Yuri tak bisa berkata apa-apa, ia melihat tetesan air di sudut mata Yoona.

“Onni? Kau peng…khianat…bisa-bisanya…aku…ga…habis pikir…” Yoona mulai terisak, ia lantas berlari keluar ruangan. Yuri langsung menyusulnya.

“Yoona, maaf!! Aku…”

“Jangan sentuh aku!” Yoona mengibaskan tangannya.

“Maaf, aku bisa jelaskan ini semua…”

“Apa? Apa yang mau onni jelaskan? Bahwa onni adalah Kim Chae Ri? Orang yang menipu kami selama ini? Onni tau perasaanku padanya, onni bahkan berjanji padaku…tapi apa? Onni mengkhianatiku!! Itu yang mau onni jelaskan?” bentak Yoona, seorang gadis anggun seperti dirinya ternyata bersikap seperti itu. Itu artinya, kesalahan Yuri sudah terlalu fatal.

“Yoona, please dengarkan aku dulu…” isak Yuri, dia memegang bahu Yoona. Memohon.

Plaakk…

Tamparan keras dilayangkan ke wajah Yuri.

“Noona! Apa-apaan kau?” marah Minho yang tiba-tiba datang. Yoona menatap tajam Minho, laki-laki itu juga sama saja. Semuanya sama saja, mereka sudah mengkhianatiku!!

“Yoona, please…” isak Yuri.

“Onni mau tau apa yang kurasakan sekarang? Aku benar-benar benci orang sepertimu, onni!! Kau pengkhianat!!”

“Noona! Ini semua salahku! Akulah yang merencakan ini, aku tak mau dijodohkan makanya aku memaksa Chae Ri untuk membantuku. Tidak! Aku mengancamnya, kalau dia tidak mau, maka aku akan menyebarkan rahasianya!!” jelas Minho.

“Kau tidak perlu membelanya, Minho! Sekarang semua sudah terlambat! Aku ga habis pikir, kenapa bisa sahabat yang kupercaya sepertimu…bisa-bisanya mengkhianatiku…!!”

“Maaf, maafkan aku Yoona…Aku tau aku salah, dan aku bodoh. Aku telah menipu kalian selama ini dengan menyembunyikan identitasku…itu semua karena aku tak mau mendapat perlakuan yang berbeda…aku…hiks…” Yuri tertunduk.

“Aku kecewa padamu, onni…” Yoona langsung berbalik, emosinya berusaha diredam. Yah dia sangat marah, bayangkan saja siapa yang ga sakit hati diperlakukan seperti itu oleh sahabat sendiri? Padahal meraka selalu berbagi dalam banyak hal, tapi kenapa? Apa Yuri tidak menganggapnya sebagai sahabat? Terlebih, Yuri telah mengambil orang yang disukainya. Memang Minho berhak memilih, tapi kenapa Yuri tak memikirkan perasaanya sama sekali? Mata Yoona memerah menahan amarah, bahunya gemetar. Yuri sahabat yang disayanginya, tapi kenapa dia tega? Sakit rasanya…

“Noona….?” panggil Minho, mendapati Yuri yang terduduk lemas memeluk lututnya yang gemetar. Minho menyentuh pundaknya yang gemetar.

“Lepas!! Jangan sentuh aku!!” jerit Yuri kasar seraya mengibaskan tangan Minho.

“Noona…aku..”

“Kau berbohong padaku, Minho! Kenapa kau tak pernah bilang bahwa Yoona adalah tunanganmu? Kenapa kau tak pernah bilang apa-apa padaku? Aniy, aku tak seharusnya menanyakan hal itu sekarang. Semuanya sudah jelas! Kau tidak pernah menganggapku, kan? Bagimu hubungan kita ini hanya seperti permainan anak kecil?” serta merta Yuri kembali terisak. Minho menatap matanya, tersiksa.

“Noona, please. Biarkan aku bicara…”

“GA! Ga ada yang perlu kita bicarakan! Semuanya udah berakhir! aku, well aku udah menjalankan tugasku untuk membantumu kan? Itu artinya semua udah selesai! Sekarang anggap aja kita ga kenal, seperti semula! Seolah-olah kita tak pernah bertemu…” Yuri lantas berlalu. Ia tak ingin air matanya terlihat oleh Minho. Minho menggigit bibirnya, tak kuasa menahan rasa sakit hatinya. Detik berikutnya ia menarik tangan Yuri, menjatuhkannya ke dalam pelukannya.

“Apa kau bodoh? Harus kukemanakan perasaanku?”

“Noona, kau mencintaiku, kan? Katakan padaku kalau kau mencintaiku…!” pekik Minho putus asa. Dia memandang Yuri, mengangkat wajahnya dan menghapus air matanya.

“Aku mencint…”

“Hentikan Minho! Jangan katakan itu!” Yuri mencoba melepaskan diri.

“Ini semua cuma perasaanmu saja! Ga ada, aku tidak punya perasaan apa-apa!” Minho menatap Yuri tajam, entah sekian kalinya ia memohon pada Yuri. Namun, Yuri tak bisa jujur, biarlah ia pendam saja rasa cinta ini. Walau toh dia ga bisa merahasiakannya lama-lama, pasti cepat atau lambat semuanya akan terbuka.

“Jangan bohong Noona, aku tau semuanya! Cukup! Jangan sakiti dirimu lagi!”

“Kau sendiri yang bilang harus jujur pada diri sendiri!” tuntut Minho.

“Jangan memendamnya sendiri, aku ada di sini sekarang. Katakan saja padaku!” sahutnya lagi.

“Minho…maafkan aku. Aku tau aku begitu egois dan tak adil padamu. Aku tak memperdulikan perasaanmu, aku menyakitimu. Tapi, percayalah padaku aku tak pernah berniat melakukannya…” Yuri mulai terisak-isak lagi. Minho memejamkan matanya, membiarkan rasa sakit yang menggerogotinya itu pergi menjauh, namun nihil…rasanya setiap kali ia melihat air mata gadis itu, hatinya serasa makin terkoyak.

“Aku tidak bisa bersamamu. Tidak! Memang kita tak seharusnya bersama, meski aku ingin sekalipun. Maafkan aku. Aku tau aku memang tak pantas mendapatkan permaafan darimu. Tapi setidaknya, kau bisa melupakanku dengan cara membenciku..”

“Aku tidak mungkin membencimu, noona!! Aku tidak bisa melupakanmu…” jawab Minho.

“Kau harus bisa! Dengan begitu, kau takkan merasakan hal yang membuatmu menderita begini kan? Kau pasti bisa mendapat yang lebih baik daripada aku!”

“Kau ingat? Aku pernah bilang bahwa kau seperti bintang bagiku. Kau begitu indah, berkilauan dengan sinarmu yang terang hingga menyilaukan mataku. Jadi jangan paksa aku untuk melupakanmu ataupun mencari penggantimu…karena semakin aku mencobanya bayang tentangmu makin melekat jelas…” Minho memohon.

“Minho, listen to me! You’ll be okay! Everything will be alright! I know that, just don’t ever look back and leave me alone. If we meet up someday, pretend like you didn’t know me and keep going. Day by day it’ll fade away for sure. These tears will dry up too, so don’t worry about me…” Yuri terenyum dengan air mata yang masih mengalir deras dipipinya.

“Mianhae Minho…” kemudian berlalu meninggalkan Minho seorang diri…

== end of flashback ==

[Chae Ri’s POV]

Aku terus berlari, tak peduli dengan derasnya hujan yang menerpaku. Kenapa aku begini? Kenapa perasaanku seperti ini? Inilah yang kuputuskan, aku harus bisa! Walau apapun yang akan terjadi, ini sudah keputusanku!

Aku tersiksa, memang itulah yang kurasakan. Rasa sakitnya melebihi dari segala-galanya yang pernah kurasakan. Aku lebih memilih sakit ditusuk oleh ribuan pedang daripada yang kurasakan sekarang, itu ibaratkan berenang di air yang sejuk dan dingin. Aku lebih memilih mati sekarang, daripada menanggung perasaan sakit yang kian hari makin menggerogoti. Menangis  pun percuma, meski sampai aku menangis darah rasa sakit ini takkan hilang begitu saja.

Akankah aku berusaha begitu keras memerangi perasaanku sendiri? Ataukah aku harus mengatakan hal sejujurnya dan membiarkan semua dinding yang telah susah payah ku bangun hancur seketika?

Apakah harus seperti itu, Minho? Aku telah meninggalkannya dengan kejam. Masih adakah kesempatanku lagi? Itu hal yang mustahil kan? Satu-satunya jalan keluar, ialah dengan membunuh perasaan cinta itu. Membiarkannya berlalu dan melupakan segalanya. Seperti aku sanggup saja? Bahkan pembunuh keji sekalipun, akankah ia membunuh perasaan cinta yang demikian kuat mengakar di hatinya? Karena rasa itu semakin kita berusaha membuangnya, semakin kuat mengakar dan bercabang-cabang.

”Umma?” seruku tercekat saat melihat seorang wanita dengan seorang laki-laki di sebelahnya.

”Chae Ri? Sedang apa hujan-hujan begini?” tanya umma.

”Umma? Dia?” aku menatap laki-laki yang tampak sangat familiar itu.

”Ne, dia teman umma, Mr. Song! Kenalkan, dia anakku Chae Ri…” umma memperkenalkanku pada laki-laki itu.

”Chae Ri imnida, bangapseumnida…” aku membungkuk memberi hormat. Siapa laki-laki itu? Rasanya aku pernah melihatnya…tapi aku lupa…ah kalau ga salah dia kan!!!

”Eun Jo appa?” tanyaku refleks. Laki-laki itu tersenyum, sepertinya ia tidak terkejut seperti aku. Apa dia tau kalau aku dan Eun Jo berteman?

”Ne…” singkatnya. Aku baru dengar soal itu, Eun Jo adalah korban broken home. Orang tuanya bercerai, dan ia tinggal bersama appanya. Dan sekarang laki-laki ini –maksudku appanya Eun Jo- apa hubungannya dengan umma? Apa mereka sedang menjalin hubungan? Aku menggigit bibirku ragu, menjawab pertanyaan hatiku.

”Kau basah kuyup, Chae Ri…masuklah…” umma menyuruhku masuk, aku menurutinya dengan sejuta tanda tanya dalam hatiku. Bukannya ga senang umma menjalin hubungan dengan pria itu, tapi…hubunganku dengan Eun Jo sekarang memburuk. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan…

Song Eun Jo, Han Yung In dua sahabat yang sangat kusayang, tapi mereka pergi karena kesalahanku. Sekeras apapun aku berusaha menjelaskan, semua orang tak mau mendengarnya. Mereka adalah sahabatku yang sudah mengenal kepribadianku, bagaimana dengan fans-fansku diluar sana. Akankah mereka juga membenciku seperti sahabat-sahabatku itu? Layaknya Im Yoona, seorang yang telah benar-benar kusakiti hatinya. Kenapa aku tidak pernah berpikir tentang semua itu? Aku menyesal, sangat menyesal. Kenapa aku harus menyembunyikan identitasku? Kenapa aku harus menyakiti semua yang kusayang? Kenapa aku mengkhianati kepercayaan mereka?

Aku menyentuh dadaku lagi, satu orang yang belum kusebutkan, seseorang yang telah kusakiti. Yah, laki-laki yang belakangan ini menghias hidupku. Membuatnya berwarna dan penuh kilau yang menyakitkan. Choi Minho.

Bagaimana caranya agar semua kembali seperti semula? Bagaimana caranya aku memperbaiki kesalahanku? Bagaimana caranya aku bertahan dengan segala keadaan ini? Aku ga sanggup!! Inikah akibatnya jika aku serakah? Ingin mempertahankan segala yang kupunya? Sementara aku harus memilih salah satu diantaranya. Apa yang harus kulakukan? Apa? Apa? Apa? Arrgghh!!!!

[Author POV]

“Hmm, tampangmu sangat kacau. Tuan muda!!” suara seseorang menghentikan langkah Minho. Seorang laki-laki berdiri angkuh didepannya.

“Yesung hyung?” gumam Minho, lebih pada ejekan. Kenapa harus bisa bertemu dengan Yesung disini, sekarang?

“Mau apa kau?” Tanya Minho, Yesung hanya tersenyum. Yah, senyum penuh kemenangan.

“Melihatmu hancur…” jawab Yesung. Minho membuang mukanya, cih…lalu dengan cueknya ia pergi meninggalkan Yesung.

“Kau tidak tau sopan santun ya? Begitukah caramu berbicara dengan orang yang lebih tua darimu?” Minho mengacuhkannya dan terus berjalan.

“Kau tau kenapa aku kembali? Tentu saja aku ingin menghancurkan hidupmu…mengambil kembali semua yang telah keluargamu ambil. Semuanya!!” langkah Minho terhenti, apa maksudnya?

“Tidak ingat apa yang keluargamu lakukan pada keluargaku? Kalian semua sama saja! Sampah! Kalian sudah menghancurkan keluargaku…”

“Lalu? Kau ingin balas dendam padaku?” Tanya Minho sakartis. Yesung tersenyum kecut.

“Aku tidak akan melakukan perbuatan rendah seperti itu tuan muda…”

“Lantas mau apa kau kesini?” tuntut Minho.

“Sudah kubilang sebelumnya kan? Aku ingin melihatmu hancur…!!”

 “Onni?” kaget Rana, pada sosok yang sangat di kenalnya itu.

“Rana-ah!!” seru Chae Ri seraya memeluk sepupunya erat.

“Onni? Ada apa? Kenapa kau kesini?”

“Kau tidak suka aku kesini? Tentu saja mengunjungimu, yeodongsaeng babo!! Hey, aku kangen sekali dengan pipi gendutmu ini!!” Chae Ri mencubit pipi Rana-ah gemas.

“Aish onni! Kau ini tidak pernah berubah, ayo masuk!! Appa!! Ada Rana onni!!” seru Rana seraya mengangkat koper bawaan Chae Ri ke dalam.

“Lalu…kau kesini karena ada sesuatu kan onni? Tidak mungkin seorang Kim Chae Ri mengunjungi sepupunya yang malang hanya karena kangen dengan pipinya!” tebak Rana-ah. Chae Ri terdiam, anak ini memang. Tidak mungkin bisa menyembunyikan rahasia kalau bersama Rana. Anak ini terlalu tau, meski polos dan sedikit oon, tapi sebenarnya dia anak yang sensitive dan mengerti  perasaan seseorang.

“Seperti biasa, kau terlalu mengenalku Rana-ah!!” ujar Chae Ri sembari merebahkan dirinya di atas sofa.

“Lantas apa itu?” tanya Rana antusias. Chae Ri terdiam dan mengalihkan dirinya dengan menatap Hapenya.

“Onni!!” rajuk Rana.

“Masalah cinta?” tebak Rana lagi. Chae Ri tersenyum tipis, lagi-lagi. apa dirinya terlalu mudah di tebak? Sampai-sampai Rana yang polos saja bisa menebak dengan mudah.

“A, jinjja? Aigoo!! Onni, onni!! Kau ini, pabo atau apa? Masa bertanya masalah cinta pada dongsaeng yang tak punya pengalaman sepertiku?” tanya Rana.

“Ne. aku memang pabo, Rana-ah…” air mata Chae Ri menetes.

“Onni, waeyo??” Rana mulai panic melihat onninya menangis seperti itu.

“Aku pabo…aku…hiks!! aku menyakitinya…!!” Chae Ri mulai terisak. Rana mengelus kepalanya.

“Aku punya seorang hoobae yang manis, namanya Choi Minho. Dia…dia sangat manis…” kenang Chae Ri seraya memutar kembali pertemuan pertamanya dengan Minho.

“Aku tak tau kenapa dan bagaimana dia bisa tau identitas asliku dan mengancamku.”

“Mworago?”

“Ne, hanya agar aku membantunya membatalkan perjodohan. Aku menerimanya, tak taukah kau siapa tunangannya saat itu? Im Yoona, salah satu personil FF yang sangat menyukainya!!”

“Lalu?”

“Saat perjodohan, aku datang untuk mengacaukannya…Yoona melihatku dan dia sangat marah!!”

“Kau bertengkar dengannya onni? Sampai sekarang?” tanya Rana. Chae Ri mengangguk lemah.

“Onni!! Paboya! Hanya karena seorang namja kau merusak persahabatanmu dengan Yoona onni? Itu kekanak-kanakan!!”

“Aku tau…”

“Kalau gitu kenapa? Minta maaf lah padanya!!” Rana menyodorkan Hp pada Chae Ri.

“Aku sudah meminta maaf padanya, tapi dia selalu menolakku. Mungkin aku takkan pernah termaafkan!!” Chae Ri bersandar lemas, Rana menatapnya iba.

“Onni…”

“Rana-ah, apa menurutmu ini waktunya?”

“Mwo? Waktu apa?” tanya Rana bingung.

“Onni! Kamu tidak berpikir untuk membuka identitasmu kan? Onni!?”

“Ne, aku rasa ini waktunya…” jawab Chae Ri lagi.

“Mereka bisa membencimu, onni! Lagian…kalau kau seorang artis maka kehidupanku juga akan berpengaruh! Padahal aku hanya ingin hidup biasa-biasa saja!!” heboh Rana, Chae Ri tersenyum tipis.

“Aku memang pantas dibenci Rana-ah…”

“Onni!! Berhenti bicara putus asa begitu! Kau seperti bukan onniku saja!!”

“Ah ya, bagaimana kabar bibi Yoon? Kudengar dia akan menikah dengan seorang pria?” tanya Rana lagi.

“Ne, Mr. Song!!”

“Aish!! Onni bakal punya ortu lengkap!! Tidak seperti aku!!” rajuk Rana. Chae Ri tersenyum kemudian merangkul adik sepupunya itu.

“Yuri belum datang ya?” tanya Taeyeon pada Yoona yang sedari tadi diam saja.

“Aku tak peduli onni!!” gumam Yoona.

“Yaa! Im Yoona! Kau ini kenapa? Kau sedang ada masalah?”

“Aniya…mian! aku mau cari angin dulu!!” Yoona beranjak, Taeryeon menatapnya bingung. Begitu pula Sunny dan Tiffany.

“Maaf aku telat!!” seru Chae Ri.

“Kau?? Siapa?” Tanya Taeyeon.

“Aku Kim Chae Ri…” jawab Chae Ri.

“Chae Ri-ah!! Apa yang….kau??” Tiffany menatapnya tak percaya, Sunny dan Taeyeon menjadi bingung dibuatnya.

“Sudahlah Fany-ah! Kurasa ga ada alasan lagi bagiku menyembunyikannya dari kalian!! Kuharap kalian bisa menerimaku!!” seru Chae Ri.

“Maksudmu?” tanya Taeyeon bingung. Chae Ri melepas kacamatanya perlahan.

“Kau tidak mengenaliku onni? Aku Kwon Yuri!!” seru Chae Ri, Taeyeon  terkejut. Yuri? Chae Ri?

“Kau??? Yuri? Kwon Yuri? Kim Chae Ri?”

“Jadi kau itu Kim Chae Ri??” tanya Sunny. Chae Ri mengangguk.

“Maaf menyembunyikannya dari kalian…aku…”

“Kyaaa!! Kau hebat sekali!! Yuri-ah!! Aku tak menyangka kalau kau…” heboh Sunny yang langsung memeluknya. Tiffany memandangnya heran.

“Kau tau, selama ini aku selalu mencari tau kemiripan kalian! Ternyata firasatku memang benar!!”

“Onni? Kau tak marah padaku?”

“Mwo? Buat apa aku marah padamu?” air mata Chae Ri meleleh pelan.

“Mianhae…” isak Chae Ri. Taeyeon lantas memeluknya.

“Gwaenchana Yuri-ah…”

“Ne, gwaenchana…” mereka berempat lantas berpelukan dalam tangis.

“Noona…ada waktu?” tanya Key pada Yoona yang saat itu sedang duduk termenung di depan kelasnya. Yoona lantas berbalik.

“Please!!” hadang Jinyoung.

“Kalian mau apa? Kalau hanya ingin membela teman kalian itu sebaiknya kalian pergi saja…aku tak punya waktu!!”

“Noona! Maaf! Ini semua ideku! Akulah yang mengusulkan ide itu. aku menyuruh Minho mencari pacar untuk membatalkan perjodohannya, dan aku juga yang memaksa Chae Ri noona untuk menyetujuinya!” sesal Key.

“Ne noona, ini juga salahku yang menyuruh Minho nembak Chae Ri noona!!” sesal Jinyoung. Yoona menatap mereka berdua dengan pandangan kesal.

“Hanya itu?” tanya Yoona sakartis.

“Kumohon noona, tolong jangan bersikap seperti itu. kami benar-benar tidak tau kalau tunangan Minho adalah kau!!”

“Sudahlah Key! Semua sudah terjadi!!” sahut Yoona.

“Noona!!”

“Dengarkan aku! Meski bukan aku yang menjadi tunangannyapun, kau pikir aku tidak merasa sakit hati dikhianati sahabatku sendiri?”

“Mwo? Maksud noona apa? Sejak kapan Chae Ri noona adalah sahabatmu noona?”

“Tentu saja dia sahabatku!! Orang yang telah mengkhianatiku, membohongiku dan menipuku selama ini!!” marah Yoona, air matanya merebak tanpa dikomando. rasa sakit hatinya menjadi-jadi.

Air mataku meleleh, persahabatan itu ga ada artinya!! Padahal yang kuinginkan darinya adalah seorang sahabat yang tak akan berkhianat, dan dalam keadaan apapun takkan mengkhianati. Hanya itu, sebuah persahabatan yang murni. Apa salahnya dengan harapan kecil itu? Apakah itu terlalu muluk untuk diharapkan? Kata orang persahabatan adalah mutiara dunia, itu semua hanyalah omong kosong!! Buktinya, aku dikhianati oleh sahabatku sendiri!!

“Chae Ri noona bukan orang seperti itu…dia pasti punya alasan sendiri…” gumam Jinyoung.

“Apa alasannya? Dia tetap mengkhianati kami!! Dan seluruh fans FF!!” isak Yoona dengan suara serak.

“Fans FF??” Jinyoung dan Key berpandangan bingung.

“Dia adalah Kwon Yuri…” jelas Yoona lagi.

“Eun Jo-ah, sudah donk!! Kenapa kita harus mendiamkan Chae Ri seperti ini?” tanya Yung In.

“….”

“Yaah? Kau dengar tidak sih? Apa yang harus dilakukannya agar kau mau memaafkan? Dia sudah berkali-kali minta maaf, tapi kenapa kau terus bersikap seperti ini?”

“Eun Jo-ah!!”

“Shikuro!” bentak Eun Jo kasar.

“Kau ini kenapa sih? Diakan sudah berusaha jujur!!” Yung In masih mencecarinya.

“Aku benci orang munafik seperti dia!! Dia tidak hanya menipu kita, tapi juga seluruh fansnya!! Dia itu sok ‘berbuat baik’ padahal itu demi kepentingannya sendiri!!”

“Eun Jo-ah…jebal!! kita dulu kan sahabat yang akrab! Aku ga suka hubungan seperti ini…”

“Jangan menyalahkanku, dialah yang membuat keadaaan kita seperti ini!! Lagipula, siapa menabur dia yang menuai. Dia harus bertanggung jawab dengan kebohongannya, terutama pada fansnya! Kalau dia sudah mengakui…” sergah Eun Jo.

“Kau!! Kau mau dia mengakui identitasnya? Yah, itu akan menghancurkan karirnya! Berpikirlah rasional, Eun Jo-ah…itu kan tidak mungkin…!”

“…”

“Yaah!! Kau dengar tidak? Kalau kau tidak mau berteman dengannya! Biar aku yang akan menemaninya!!” ujar Yung In lagi seraya mendatangi Chae Ri yang sedang termenung di beranda kelasnya. Ia sedang menatap kosong taman bunga mawar yang ada di depannya. Sedih. Tapi air matanya tak sanggup mengalir lagi. jika ia mengalir, maka dadanya akan terasa perih kembali, seakan merobek luka lama saja.

“Tegarlah Chae Ri…” bisiknya pelan pada dirinya sendiri.

“Kenapa semua begitu sulit?” Minho menatap Chae Ri dari jendela kelasnya. Menatap wajah penuh kesedihan itu, apa yang harus ia lakukan? Sedih, semua terasa kosong. Hatinya terasa hampa. Semuanya hampa.

“Saranghae noona…” Minho menutup matanya, mencoba meredam perih di hatinya. Ia tau jelas ini semua salahnya, ia telah menyakiti Chae Ri dan Yoona. Ia terlalu egois dan membuat semuanya runyam. Membuat gadis yang ia cinta itu kini terlihat seperti mayat hidup. Kosong. Sakit.

“Chae Ri…” panggil Yung In membuat Chae Ri tersentak kemudian berdiri menghadap Yung In. Yung In menatap Chae Ri dengan mata yang menunjukkan kesedihan yang mendalam.

”Yung In…a…aku…” Chae Ri terbata, ia tak tau apa yang harus dikatakannya, mendadak matanya basah.

”Maafkan aku…” ucap Yung In pelan. Hembusan angin yang lembut menyapu wajah keduanya. Chae Ri sungguh tak percaya apa yang ia dengar. Ia tak sanggup menyembunyikannya, dan kembali menangis. Menangis sejadi-jadinya. Rasanya semua beban yang menghimpitnya ia keluarkan semua. Chae Ri menunduk dan terduduk. Yung In membelainya. Chae Ri menangis dipelukannya, dia hanya diam dan terus memeluk Chae Ri. Chae Ri tak tahan dengan semua masalah yang kini membebaninya.

”Arggghhh!!” serunya di tengah kefrustasiannya.

”Gwaenchana? Ceritakan semuanya Chae Ri-ah….” Yung In tersenyum tulus seraya memeluk Chae Ri. Sementara itu Eun Jo yang melihat mereka hanya berdesis kesal.

”Baik! Ini adalah fan meeting kedua kalian! Jadi, lakukanlah sebaik mungkin, arraseo?” seru Manajer Shim.

”Ne!” jawab FF serempak. Meski dalam keadaan yang sangat tidak memungkinkan, tapi pekerjaan adalah pekerjaan, tidak boleh di campur adukkan dengan masalah pribadi. Begitu pula dengan Yuri dan Yoona, sebisa mungkin mereka tampil profesional.

Mereka memasuk ruangan fan meeting yang sudah penuh dengan Fivers yang menunggu sambil membawa spanduk-spanduk, menyerukan nama-nama mereka. FF tersenyum dan mengambil tempat. Acara berlangsung lancar, seperti biasa. Yung In dan Eun Jo juga ada disana. Begitu pula putra keluarga Choi dan teman-temannya.

Yuri mengepalkan kedua tangannya. Ia menghela napas dan menatap ragu para fansnya.

Inikah saatnya?

Yah, ia sudah menetapkan hati. Ia tidak ingin menipu semua orang lagi. tidak peduli bagaimanapun hasilnya. Ia akan keluar dari FF. Yuri berdiri saat acara benar-benar akan berakhir. Membuat yang lain jadi menatapnya bingung. Ia langsung mengambil alih mic yang di pakai MC.

“Apa yang akan dilakukannya?” bisik Taeyeon.

“It Can’t be…?”

“Yuri tunggu!!”

“Annyeong haseo, Kwon Yuri imnida!”

“Aku…menulis sebuah lagu…tentang seseorang…gadis berusia 11 tahun yang ingin menjadi seorang penyanyi dan menjadi seorang trainee. Tapi…ia juga menginginkan kehidupan yang normal, tanpa diperlakukan berbeda dari yang lainnya, jadi…dia berpura-pura hidup senagai orang lain.” Jari Yuri mulai gemetar. Sedang keempat FF yang lain hanya bisa diam, tanpa bisa melakukan apa-apa.

“Gadis itu sekarang sudah berusia 17 tahun…dan…kehidupannya semakin rumit! Ia tidak ingin berpura-pura lagi…” air mata Yuri menetes pelan. Membuat semua orang yang ada disitu bertanya-tanya, apa yang telah dan yang akan terjadi.

“Mungkin…dia adalah seorang munafik yang sangat tidak pantas untuk dimaafkan.” Tiffany dan yang lain menunduk meneteskan air mata. Mereka tidak bisa bebrbuat banyak untuk menghentikan tindakan Yuri. Bagaimanapun, hal ini tidak bisa disembunyikan terus-menerus. Sedang Yoona hanya memandangnya dengan pandangan dingin.

“Tapi…yang ia perlukan bukanlah sebuah permaafan! Gadis itu…hanya ingin menebus kesalahannya, dan akan berhenti menjadi penyanyi…”

“Gadis itu…adalah…Kim Chae Ri…” Yuri memakai kacamatanya dan melepas wig yang tadi dipakainya.

~TBC~

hahahah!! oke deh!! sgitu dulu yaaaa!! swelamat m,enunggu yang selanjutnya readers!! love u!

jangan lupa share apapun yang ada dalam kepala kalian, jadi author tau gimana FF ini menurut sudut pandang reader *halah bahasaq*

Posted 3 Juli 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , ,

10 responses to “[FF] Let Go *Part 7*

Subscribe to comments with RSS.

  1. wew

    alice pngen .....
  2. Pendek banget chingu..
    Hehe..
    Lanjutin ya.. Kalo bisa post tiap hari donk.. Hehe

  3. wwwooowww…
    bgs author
    yuri ya berni bgt bwt jujur
    ah jd terharu
    d tunggu lanjutannya y author

  4. my yoong mengapa kau jadi jahat sprti ni…… Huaaaaaaaaaaaaaaaa :-“

  5. lanjutin chingu..
    penasaraaan

  6. tetep ditunggu lanjutannya chingu..

  7. Lanjutannya kapan nih?

  8. sedih ya chingu,, akk aja ampe mw nangis,, kasian yuri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: