[FF] A Dream *Part 6*   3 comments


aaaaaaaaaaaaannnnnnnyeeeeoooooongggg!!!

Haha balik lagi!!

kabar baiknya FF ini akan segera tamat, jadi di tunggu saja.

yuk di baca!!

.

A DREAM

Author: d_na

Length: 6 of ?

Genre: romance, fiction

Main Cast:

Jung Hyorin as you

Choi Sulli

Lee Taemin

Cha Sun Woo aka Baro

=================================

“Oppa? Tumben sekali!!”

“Wae? Memangnya seorang cowo ga boleh beli bunga?” tanya Jinyoung.

“Aniy, hanya saja…kenapa kau membeli bunga daisy itu? Untuk siapa? Ah pasti untuk yeoja chingumu, kan? Aish oppa!!” goda Hyorin sambil menyikut lengan kakaknya.

“Bukan kok!”

“Ah masih mau berdalih lagi. Sudah jelas jika namja seperti oppa membeli bunga, pasti untuk seseorang yang special, kan?”

“…”

“Oppa?”

“Ne…ini buat orang yang special!!”

“Jinjja? Nugu?” Jinyoung tersenyum, matanya menatap langit-langit. Namun tatapannya begitu hampa. Sehampa perasaannya saat ini.

“Ah, oppa harus berangkat sekarang! Kau jaga rumah baik-baik ya! Jangan nakal selama oppa pergi!!” ujar Jinyoung lagi.

“Oppa mau kemana sih?”

“Chunahn, mengunjungi sahabat oppa! Sudah ya!” Jinyoung lantas menyalakan mesin mobilnya dan berlalu.

Bunga Daisy, untuk seseorang yang begitu special baginya. Tidak. Bukan cuma satu orang. Setelah perjalanan yang cukup lama, Jinyoung sampai di kota itu. Kota kelahiran sahabatnya, dan kota dimana jasad sahabat dan orang yang dicintainya dikubur.

Jinyoung berlutut di antara kedua makam itu. Kini kekosongan di hatinya semakin menjadi-jadi.

“Maaf…aku baru mengunjungimu sekarang…”

“Aku terlalu takut…” lirihnya dengan air mata yang mengalir tanpa henti.

[Now playing: B1A4 – Only One]

Flashback

“Jinyoung-ah! Kenapa kau membawaku kesini?” tanya Rana pada Jinyoung. Mereka berada di sebuah pemakaman. Jinyoung berhenti di sebuah makam yang bertuliskan nama Cha Sun Woo.

“Dia adalah sahabatku…” gumam Jinyoung, ia berlutut di makam itu dan menaburkan bunga daisy di atasnya.

“Kau tau? Dia adalah orang yang sangat mencintaimu…selama 2 tahun ia selalu membicarakan tentangmu!!”

“Ma…maksudmu?” tanya gadis itu tak mengerti.

“Dia, Sun Woo. Dialah yang memintaku untuk menjagamu. Anak bodoh ini, sampai mengorbankan nyawanya!” Jinyoung menyeka air di sudut matanya.

“Maafkan aku Rana, aku mendekatimu karena dialah yang memintaku. Pada awalnya.”

“Jinyoung, apa maksudmu? Aku tidak mengerti!!”

“Aku salah! Aku melanggar janjiku sendiri! Aku mengkhianatinya!! Karena aku mencintaimu!!” Jinyoung mengguncang tubuh Rana.

“Jinyoung, aku…”

“Taukah kau, selama ini bukan aku yang mengirimu bunga-bunga Daisy itu, Sun Woo lah yang mengirimkannya…”

“Jinyoung-ah…” Rana meneteskan air matanya. Ia tidak percaya dengan yang ia dengar selama ini. Selama ini ia sudah salah mengira, bahwa yang mengirimi bunga Daisy adalah Jinyoung. Ternyata bukan! Padahal bunga Daisy adalah bunga favorit ummanya sebelum meninggal.

Tess…

Tanpa disadarinya tetesan demi tetesan cairan kental berwarna merah itu jatuh dan mengalir dari hidungnya. Rana menyekanya. Kepalanya terasa pusing. Lagi-lagi.

“Rana, kau kenapa?” Tanya Jinyoung khawatir. Dilihatnya leher Rana yang lebam-lebam biru dan darah di hidung Rana.

“Ra…Rana?” mendadak Rana ambruk di depan Jinyoung. Jinyoung yang panic lantas membawa gadis itu ke rumah sakit. Ada apa dengan Rana? Kenapa dia? Apa dia sakit?

Jinyoung berusaha mengusir semua pikiran-pikiran buruk yang menghantuinya. Dalam benaknya hanya ada rasa penyesalan. Yah, ia menyesali telah mengatakan segalanya pada Rana. Ia bahkan sama sekali tak menyangka jika Rana akan bereaksi seperti itu. Tapi bagaimanapun juga Rana harus tau! Kalau tidak perasaan bersalahnya pada Sun Woo akan semakin membelenggunya.

Seorang berpakaian putih –dokter- datang, Jinyoung lantas menghampirinya.

Hasil diagnosanya menunjukkan, gejala Polisitemia Vera. Lumayan akut!!” ujar dokter itu. Jinyoung mengerutkan alisnya, merasa sangat asing mendengar nama penyakit itu.

Po..polisitemia vera??”

”Ya, itu adalah penyakit keturunan. Setelah diadakan pemeriksaan, sel darah merahnya memang meningkat drastis. Anda lihat sendiri kan bagian lehernya yang dipenuhi lebam biru itu? Itu adalah gejala awal pembekuan darah. Darah Rana mengental dan tidak bisa mengalir dengan baik melalui pembuluh darah yang kecil!! kalau sudah begini, pembekuan darah akan menyebabkan gangren atau kematian jaringan!!”

Apa maksud anda dok? Gangren? Itu fatal dan kalau kelamaan bisa…” desah Jinyoung shock. Dia benar-benar terpukul dan menderita.

Sewajarnya anda marah, ketahuilah….sebenarnya Rana menderita penyakit yang sama dengan penyakit almarhum ibunya. Dan kondisinya sekarang semakin kritis, jika tidak segera dilakukan penanganan serius kemungkinan Rana bisa….” Dokter itu menatap Jinyoung sedih.

Meninggal!!” lanjutnya. Apa!!?? Sudah separah itu? Jinyoung sudah tak sanggup menahan air matanya, ia tak bisa bernapas dengan benar, semuanya terasa sesak. Jinyoung menjenguk Rana di kamarnya, dilihatnya wajah pucat Rana terlihat tidak berdaya. Disentuhnya pipi Rana, air matanya kembali menetes.

”Maaf….” gumamnya.

”Jin…young?” bisik Rana lemah, ia membuka matanya.

“Jin...young…apa aku akan mati? Aku ga mau berpisah denganmu.” ujarnya lagi, air matanya menetes untuk kesekian kalinya.

“Yah jangan bicara begitu! Kau pasti sembuh! Aku yakin itu!” Jinyoung berusaha meyakinkan gadis itu. Gadis itu menggeleng.

“Aku sudah tau semuanya…umurku takkan lama lagi!!”

“Itu tidak akan terjadi! Percayalah! Setelah operasi ini, kau akan sehat kembali seperti semula!! Percayalah padaku!!” Jinyoung menggenggam tangan Rana. Rana menutupi wajahnya, ia terisak. Sungguh, demi apapun yang ada di surga, ia tak mau berpisah dengan seorang yang dicintainya. Demi Jinyoung! Setidaknya ia berdoa adanya secercah harapan untuknya bertahan hidup sampai malaikat pencabut nyawa datang. Tapi kenyataan tak selamanya berjalan sesuai harapan.

Hari dimana Rana akan dioperasi tiba. Ia seakan menanti sang malaikat pencabut nyawa yang siap untuk mencabut nyawanya kapan saja. Gerbang kematian seakan terbuka lebar, menanti dirinya yang berada dipertengahan alam.

”Jin…young…”

”Berjuanglah!! Kau pasti akan sembuh!!” Rana tersenyum.

”Gomawo…untuk segalanya…” Rana kembali menampilkan senyum terbaiknya. Tak lama kemudian ia masuk ke dalam ruangan.

Jinyoung tersandar lemas di dinding rumah sakit, ia menyentuh dadanya. Perih! Bahunya gemetar. Ia menangis.

Aku tak menyangka. Sama sekali tidak, tapi inilah yang terjadi. Seandainya aku tak pernah melihatmu, seandainya aku bisa hidup di kehidupan yang lain dan bukan diriku, seandainya aku tak pernah mengenalmu. Segala perih yang kurasakan sekarang, aku takkan pernah mengetahuinya. Jika boleh meminta, aku ingin hidup sebagai orang lain dan bukan sebagai Jung Jinyoung. Akankah aku terus mencintaimu seperti ini? Menangis dan kembali menangis. Hingga tertidur, dan terbangun dimana hari tetap seperti ini. Hidup ini hanya ada air mata yang membuat luka.

Pintu ruangan operasi terbuka, Jinyoung menatap wajah pucat gadis itu. Matanya telah tertutup untuk selamanya. Air mata Jinyoung meleleh, dia menunduk di depan Rana.

“Saranghae Shin Ra Na!!”

End of flashback

Kenapa kenyataan begitu kejam? Padahal kami memulai kisah rumit ini dengan cara yang teramat sederhana. Tapi benang merah yang terjuntai dihadapanku begitu sulit terurai, hingga terkadang aku ingin memotongnya saja.

Rinai hujan turun satu persatu seperti bintang perak yang dijatuhkan dari langit. Gemuruh mulai terdengar bersahutan, bunyinya serasa mengiris hati.

Jinyoung membiarkan dirinya basah oleh rinai hujan yang jatuh semakin deras. Setetes, demi setetes air matanya mengalir. Bahunya terguncang, kini ia terisak. Teringat kembali pada gadis itu, ya bayangannya begitu lekat bahkan jika ia menutup mata sekalipun senyuman dari gadis itu masih melekat jelas di sudut-sudut otaknya.

.

”Mmmph!! Mmph!!” ronta Sulli, kini ia –lagi lagi- berada di sebuah gudang tua. Di sekap sepertinya. Tangan dan kakinya terikat di kursi yang ia duduki. Ia memandang berkeliling, tak ada satupun orang di sana. Daerah ini pun cukup terpencil, lantas siapa yang akan menyelamatkannya? Seperti kata Mi Hoon, keberuntungan tak pernah datang untuk yang kedua kalinya kan?

Salah seorang di antara mereka masuk dan mendekatinya. Sulli semakin merasa ketakutan.

Tolong aku!! Ya Tuhan tolong aku!! Demi apa saja yang hidup di dalam tanah!! Jebal…!

Sulli menggenggam Hpnya, tanpa disadari oleh orang itu ia menekan tombol nomor satu terus menerus. Laki-laki itu kemudian membuka bekapan mulut Sulli.

”Yah lepaskan aku!!” jerit Sulli.

”Bermimpi saja! Hal itu takkan pernah terjadi!”

”Kenapa kau membawaku kesini? Gudang tua ini kan jaraknya sekitar 20 km sebelah barat stasiun kereta!!” sahut Sulli, laki-laki itu menatapnya bingung. Terus kalau iya, kenapa?

”Karena tempat ini begitu terpencil! Tak ada yang bisa menemukan jasadmu ditempat seperti ini! Hahaha!!”

”Kau ingin membunuhku? Apa untungnya kalian membunuhku?”

”Tentu saja kami ga akan membunuhmu secepat itu! Tenang saja!” laki-laki itu kembali memasang bekapan mulut Sulli. Kemudian pergi. Sulli melirik layar Hp nya, yah tanpa disadari si namja tadi, Sulli menelepon seseorang yang dia sendiri tak tau siapa, yang jelas nomor seseorang yang tersimpan sebagai speed dial nomor satu. Itulah harapan satu-satunya Sulli.

Menit demi menit berlalu, Sulli sudah mulai gelisah menunggu sang penyelamatnya. Air matanya kembali menetes untuk kesekian kalinya. Sulli menunduk, harapannya musnah! Apa ini akhir dari segalanya? Apa dia akan mati? Apa ini hukuman dari surga karena ia melarikan diri?

Ya Tuhan!! Harapanku satu-satunya berikan aku satu kesempatan satu kali saja. Aku berjanji takkan pernah menyia-nyiakan hidupku! Kumohon padamu!!

Braakk…

“Sulli-ah!!” seru seseorang, Sulli yang setengah sadar itu mendongak menatap wajah pahlawannya.

Oh dear, apa aku sudah mati? Kenapa aku melihat Taemin di ujung sana? Apa aku sudah gila sampai mengkhayalkan hal yang tak mungkin begini?

“Sulli-ah!!” ujar Taemin lagi napasnya tampak terengah, ia menghampiri Sulli. Taemin memegang wajah Sulli dan menghapus air matanya. Ia lantas membuka bekapan mulut Sulli.

“Ta…taemin…ah…!” ujar Sulli terbata.

“Ne, tunggu sebentar kulepas dulu talinya!” ujar Taemin seraya mencoba memotong tali pengikat Sulli.

“Apa yang kau lakukan disini, Taemin? Kalau mereka datang…”

“Bukannya kau sendiri yang meneleponku? Aku langsung datang kesini begitu mendengar dimana kau disekap!! Tenang saja polisi akan segera datang!”

“Aku? Meneleponmu?” bisik Sulli.

Aku tidak menyangka, ternyata speed dial nomor satu di hapeku adalah Taemin!! Aku tak menyangka sama sekali! Kapan aku menggantinya?

Sialnya, gerombolan namja itu datang disaat yang tidak tepat! Padahal baru ikatan di kaki Sulli saja yang lepas.

“Yaah siapa kau!!??” tanya salah seorang di antara mereka, Taemin maju melindungi Sulli.

“Taemin…jangan!! Kau bisa mati! Kumohon!!” isak Sulli.

“Jangan menangis!! Aku akan melindungimu meski harus bertaruh nyawa!! Percayalah padaku!!” tukas Taemin.

“Hah!! Anak kecil sepertimu tau apa? Jangan berlagak menjadi pahlawan!!”

“Huh, ternyata kau banyak bicara juga! Majulah!”

Pertarungan pun tak terhindarkan. Tanpa disadari oleh Sulli selama ini, Taemin ternyata lumayan jago berkelahi. Gerakannya gesit dan pukulannya mantap. Beberapa dari laki-laki tadi tersungkur akibat jontosan Taemin.

Taemin berbalik menghadap Sulli yang masih tercengang. Taemin yang imut-imut itu ternyata sangat kuat!! Taemin tersenyum, baru saja dia akan melangkahkan kakinya menghampiri Sulli. Salah satu dari laki-laki itu bangkit dan memukulnya dengan balok kayu.

“Taemin!!!!” pekik Sulli saat melihat Taemin roboh di depannya. Darah segar mengalir dari kepalanya.

“Huh! Meski kau sekuat apapun, tetap saja anak kecil! Rasakan ini!!” pukulan demi pukulan bertubi-tubi di layangkan ke tubuh Taemin, Sulli terisak meminta agar mereka melepaskan Taemin. Ia sudah tidak sanggup melihat Taemin yang babak belur penuh darah begitu.

“MATI KAU!!!!”

TIDAK!!!!!

Serta merta Sulli langsung berlari menghampiri Taemin. Para namja itu hendak memukul Taemin dengan kursi. Tak ayal, kursi itu mengenai Sulli sampai hancur. Sulli melindungi Taemin yang tak berdaya itu.

“AAARRGGHH!!!” jeritnya. Darah yang mengalir dari sudut bibirnya, mengenai wajah Taemin yang sudah tak sadarkan diri. Pandangan mata Sulli mengabur, lama-lama semuanya terlihat gelap sekali.

.

”Yaah!! Jangan menarik-narik tanganku seperti itu!! Sakit tau!” omel Hyorin pada Baro yang lagi-lagi berbuat ulah padanya.

”Sakit? Memangnya aku sekuat itu?”

”Yaa!! Dasar kau namja babo! Kau buang kemana otakmu wahai shinigami gila? Tidakkah kau sadar aku ini seorang YEOJA?? Wajar saja kalau aku jauh lebih lemah darimu!” bentak Hyorin.

”Yeoja??? Apa aku tak salah dengar? Aduh sepertinya telingaku mulai rusak nih!” Baro mengorek-ngorek telinganya mengejek Hyorin yang mendesis kesal.

”Bagus deh! Aku malah berharap!!”

”Mwo?? Dasar yeoja gendut! Bodoh bodoh, weeks!!” Baro menjulurkan lidahnya, Hyorin lantas memukuli lengannya. Ugh! Kenapa namja ini begitu menyebalkan sih?

”Selamat pagi, Hyorin-ah!!” sapa Gong Chan yang tiba-tiba ada berdiri dihadapan mereka.

O…omo!! Gong Chan-ssi? Kenapa dia bisa ada disini?

Baro tersenyum kecut, kemudian menarik pipi Hyorin yang masih bengong.

”Yah! Jangan bertampang mupeng begitu, menjijikan tau! Dasar yeoja mesum!!” bisik Baro ditelinga.

Deg! Entah kenapa? Apa aku sudah gila? Kenapa bisikan Baro barusan terdengar sangat err SEXY di telingaku? Ada apa ini?

Tunggu dulu!!! Apa katanya tadi? Hyorin sadar babo!!! Kau tidak dengar apa yang dikatakan Baro padamu barusan? Dia bilang tampangmu mupeng, menjijikan dan MESUM??? Sh*t!!!

“Arghhh!!” seru Baro menyadari punggungnya yang terasa sakit karena cubitan Hyorin.

“Yaah!!” Hyorin menatap tajam Baro seolah berkata ‘kalau kau mempermalukan aku sekali lagi, kubunuh kau’. Baro sampai bergidik ngeri.

“Maaf Gong Chan, namja ini agak stress! Ehm, selamat pagi!!” ujar Hyorin.

“Ah begitu ya? Kalian terlihat akrab ya?”

“Ah…aniy! Mana mungkin!! Kau ini bicara apa sih?” sangkal Hyorin. Gong Chan terkekeh seraya mengacak-acak rambut Hyorin.

“Kkaja!!” ajaknya sambil menggandeng tangan Hyorin.

“Ah ya, Chan, hari ini ada latihan ya?” Baro tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka, membuat genggaman tangan itu terlepas. Baro merangkul bahu Gong Chan dan berjalan mendahului Hyorin seraya terus bercerita masalah klub, latihan, pertandingan dan semacamnya. Hyorin memicingkan matanya kesal. Melihat itu, Baro malah tertawa mengejeknya.

“Baro sialan! Awas kau nanti ya!!” geram Hyorin.

.

“Aigoo, Sulli ga datang ya? Kemana dia? Pasti lagi lovey dovey sama si Taemin! Dasar! Aku kan belum ngerjain PR Bahasa Jepang! Kemana sih dia? Lagi diperlukan juga!!” omel Hyorin. Dengan sangat terpaksa ia membuka buku bahasa Jepangnya.

“Ugh!! Kenapa juga ada bahasa Jepang di dunia ini? Ini kan Korea! Bahasa Korea aja udah ribet, pake belajar bahasa orang segala!!” dumel Hyorin menjadi-jadi. Ia membuka bukunya dengan pasrah, tak satupun dari huruf-huruf kanji itu diketahuinya.

“Ottokhe?” Hyorin mengacak-acak rambutnya.

“Perlu bantuan?” Tanya Baro, Hyorin memalingkan wajahnya. Ia masih kesal atas tindakan Baro tadi.

“Serius?” pancing Baro sambil memperlihatkan buku Bahasa Jepangnya, yang luar biasanya sudah terisi semua. Untuk sedetik, hal itu membuat Hyorin kagum padanya.

“Cih! Nyontek dimana kamu?”

“Nyontek? Memangnya kamu? Aku memang bisa bahasa Jepang tau! Bukannya udah kubilang, shinigami tau semua bahasa yang dipakai manusia!!” Hyorin mendecakkan lidahnya. Yah, ia lupa kalau Baro itu sebenarnya bukan manusia. Dia adalah shinigami yang tersesat dan ga bisa pulang!

“Jadi? Mau lihat tidak?” goda Baro. Hyorin tetap bersikukuh untuk tidak menyontek Baro.

Jangan Hyorin! Haram jika kau menyontek pada shinigami bodoh ini!

“Kayak temanku cuma kamu aja? Cih!” Hyorin berbalik dan mencari jawaban dari teman yang lain.

“Pagi anak-anak!!” sapa Mr. Kim, guru MTK.

“Hmm, ada yang ga turun ya? Ah Sun Woo, tolong duduk diisi tempat yang kosong!” suruh Mr. Kim. Baro mengangguk kemudian membereskan barangnya dan pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Kim sonsaengnim.

Mwo??? Kenapa dia duduk disebelahku??? Sial!!

Baro duduk dengan perasaan tidak yakin di sebelah Hyorin yang nampak sangat ingin membantah perintah Mr. Kim. Hyorin menatap Baro diam-diam, Baro sedang sibuk mencatat tugas yang diberikan Kim Sonsaengnim, mungkin dia anak yang rajin? Tapi…buat apa dia mencatat tugas? Dia kan shinigami! Memangnya ilmu begini bakal berguna untuknya? Lagian, sebentar lagi dia akan pergi.

Hyorin berusaha memperhatikan pelajaran dengan segenap konsentrasi yang dimilikinya. Berusaha menyelesaikan persamaan matematika di papan, meski telah membuka buku berulang kali tetap saja Hyorin tidak bisa memecahkannya. Diliriknya Baro yang duduk santai, apa dia telah menyelesaikannya?

“Heh, kau nyontek ya?” tuntutnya galak membuat Hyorin terkejut, apa-apaan sih? Bikin malu aja, yang lain kan jadi ngelihat ke arah mereka.

“Siapa kamu? Lagian memang itu jawaban benar? PD sekali!”

“Apa? Kamu pikir aku bodoh?” bentak Baro lagi sambil menunjuk papan tulis. Jiyeon sedang mengerjakan persamaan di depan. Jawabannya persis sekali dengan yang ada di buku Baro.

“Benar sekali Jiyeon. Silahkan duduk!” ujar Mr. Kim, Baro tersenyum sombong, Hyorin hanya mencibir saja.

“Berikutnya, Hyorin! Nomor 8!” hah? Apa?

“Hah? Saya?” tanya Hyorin kikuk, gila aja? Duh persamaan matriksnya rumit begitu, Kim sonsaengnim ini sengaja kali ya? Tega banget.

“Kenapa? Silahkan maju!” mau ga mau Hyorin maju, namun ia hanya terpaku menatap papan tulis.

Aduh, kenapa aku ini bodoh banget sih!?

Hyorin masih saja menatap papan tulis dengan bingung, melirik teman-teman yang lain berharap ada bisa membantu. Tapi itu ga berguna. Menit demi menit dihabiskannya hingga kakinya terasa pegal, Oh Tuhan!

“Bodoh sekali sih!” celetuk seseorang, dia langsung berdiri dan mengambil spidol di tangan Hyorin.

“Mau apa kau? Baro! Kembaliin!” Baro pura-pura tidak mendengar dan terus mengerjakan persamaan hingga selesai.

“Jadi, ini di sini dikali silang dengan yang ini! Habis itu, yang ini diselesaikan dengan metode yang sama!” Baro mengajari Hyorin yang hanya bisa bengong.

“Tapi, kenapa ini bisa jadi begini? Jelaskan faktornya?”

“Kau ini bodoh atau apa? Pernah SMP ga sih!” ejek Baro.

Cih, sial!! Dia membuatku malu saja. Tapi aku ga bisa mendebatkan masalah itu, kemampuanku memang hanya sedikit di atas rata-rata.

“Faktor x ini di dapat dari sini, persamaan awal ini di turunkan satu kali. Setelah itu di subtitusikan kesini, pindahkan ke ruas kiri dan x nya adalah 5.”

“Setelah itu masukan nilai x nya pada persamaan matriks ini, lalu sesuai rumus dikali silang dengan nilai yang sudah ditentukan sebelumnya! Mengerti?” Hyorin mengangguk, Baro lantas memukul kepala Hyorin dengan spidol lalu kembali ke mejanya. Hyorin menatapnya kesal. Beraninya dia membuatku malu!!!

.

“Hyorin-ah! Mau makan siang juga?” tanya Gong Chan, Hyorin mengangguk.

“Ah aku sudah buat bekal! Kau mau coba?” tanya Hyorin, Gong Chan tersenyum seraya mengelus kepala Hyorin membuat wajah gadis itu merona bukan main.

Mereka berdua lantas pergi ke atap untuk bersantap siang. Bisa kau bayangkan betapa indahnya suasana siang yang teduh dengan seorang namja setampan Gong Chan? Begitulah yang dirasakan Hyorin, ia masih saja tidak percaya bahwa ini nyata.

“Kapan pertandingannya?” tanya Hyorin basa-basi.

“Minggu depan!”

“Oh ya? Sukses ya, kapten!! Fighting!!” Gong Chan terkekeh.

“Ne! aku janji! aku pasti mennag!!” seru Gong Chan. Mereka makan siang dengan damainya sampai seseorang datang menginterupsi momen romantis itu.

“Ah Chan, jangan dimakan! Hati-hati! Cewe ini ga bisa masak lho, nanti kamu mati lagi!!” ejek Baro yang tau-tau duduk di tengah-tengah mereka. Cih, lagi-lagi makhluk sial ini datang mengganggu! Apa sih tujuannya?

Hyorin mencoba meredam emosinya, jangan sampai sifat aslinya diketahui Gong Chan! Bisa-bisa Gong Chan illfeel padanya dan langsung minta putus saat itu juga!

“Sedang apa kau disini?” tanya Hyorin dengan penuh penekanan, matanya mengisyaratkan agar Baro segera angkat kaki dari tempat mereka. Baro terkekeh dan mengacak-acak rambut Hyorin. Hyorin memicingkan matanya. Sepertinya Baro sedang mencoba kesabarannya sekarang.

“Yaa!! Jawab aku bodoh!!” kesal Hyorin.

“Dasar gendut! Kau lupa tentang bekalku?”

“Mwo? Bekal?”

“Ne! bukannya kau bilang tadi pagi mau membuatkanku juga! Aniy, bukannya memang aku yang memasaknya? Jadi mana sekarang!? Aku ga terima alasan lupa!”

“Yah! Dasar namja jelek! Kau ini apa-apaan sih? Jangan mengikutiku terus kenapa? Menyebalkan! Lagipula, kau itu punya tangan, masa tidak bisa membawanya sendiri sih? Memangnya aku siapamu, hah?!” bentak Hyorin seraya memukul dada Baro.

Apa-apaan sih shinigami mesum ini? Dia ga makan juga ga masalah! Kenapa malah meributkan masalah bekal? Alasan yang benar-benar tidak masuk akal!! Dia sengaja mau mempermalukanku di depan Gong Chan?

“Dasar yeoja bodoh! PD sekali kau, siapa yang mau mengikutimu? Kalau bukan karena masalah bekal juga aku ga mau datangin kamu!!”

“Mwo? Bekal? Apa maksudnya ini? Kalian…tinggal bersama?” tanya Gong Chan yang sedari tadi diam saja. Bisa dilihat ekspresinya yang terlihat seperti orang yang ehm CEMBURU?

“A…aniy, Gong Chan-ssi, yah! Ini semua karena kau!! dasar shinigami…hmmmphh!!” Baro refleks membekap mulut Hyorin. Takut kalau Gong Chan mendengar ucapan Hyorin barusan mengenai keshinigamian dirinya. [halah]

“Yaa! Kalau ada yang dengar gimana? Kau mau membongkar identitasku?” bisik Baro kesal. Hyorin megap-megap mencari udara, namun matanya menatap lurus ke mata Baro. Dan ini sukses membuat jantungnya bereaksi kembali.

“Se…sak…!!” Hyorin memukul-mukul lengan Baro memintanya melepaskan.

“Rasain! Dasar bodoh!!” senang Baro sambil tertawa-tawa.

Ah kenapa ini? Kenapa dadaku begitu sesak? Apa aku kehabisan napas? Tidak! Aku tak mungkin kehabisan napas hanya karena ini, pasti ada sesuatu…

“Yaa? Kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu merah seperti itu? Apa kau kehabisan napas, Hyorin-ah?” tanya Baro ragu. Hyorin terbatuk-batuk, dia mencoba menetralkan suasana hatinya.

“Yaa?” Baro menangkupkan kedua tangannya ke wajah Hyorin, dan menatap matanya memastikan apa gadis itu benar-benar kehabisan napas.

Andwae!! Jangan menatapku Baro! Jangan menatapku seperti itu!! Jebal! Tenanglah jantungku!! Ada Gong Chan disini! Jebal…!!

Batin Hyorin berteriak, napasnya kembali memburu. Apa yang dia lakukan sih!!? Apa dia tidak punya otak? Hyorin berontak dan berusaha melepaskan pandangan darinya. Namun tubuhnya –lagi lagi- tidak bisa berkoordinasi dengan otaknya. Hyorin memaki bahkan memerintahkan tubuhnya agar pergi menjauhi Baro, memberontak dan melepaskan diri. Namun badannya malah kaku tidak bergerak.

Sial! Shinigami bodoh ini!! Dasar menyebalkan!!

“Maaf, sepertinya kalian sedang sibuk! Lain kali saja Hyorin-ssi!!” pamit Gong Chan kesal. Ia berlalu tanpa menghiraukan panggilan Hyorin. Hatinya sakit. Entah rasa apa ini. Mungkin karena Gong Chan juga memiliki perasaan yang sama pada gadis itu sejak lama.

“Kau!!! AKU BENCI PADAMU!!!!! ENYAHLAH!!!!” jerit Hyorin menggelegar, air matanya menetes. Hancur sudah mimpi indahnya bersama Gong Chan. Dan ini karena shinigami bodoh bertampang sok innocent itu!!

“Yaa!! Hyorin!” panggil Baro, ia menarik tangan Hyorin.

“Lepas!!” Baro menatap mata gadis itu, mencoba menghapus butiran-butiran yang gugur membasahi pipinya.

“Uljima, Hyorin-ah!”

“Kau puas? Kau puas melihatku menderita begini? Kau benar-benar menyebalkan!! Jangan pernah bicara padaku lagi, aku ga mau mengenalmu!” tandas Hyorin kasar kemudian berlari meninggalkan Baro. Baro menatap punggung itu, kalau bisa dijelaskan dengan kata-kata perasaan Baro sekarang serasa seperti duka yang meninggalkan arang dan debu sebagai puing-puing yang berserakan dibalik dadanya. Yang terus membakar dan enggan untuk dijinakkan. Kenapa perasaannya begini?

.

[Now playing: CN Blue – Y, Why]

“Yaa!!”

“Mwo? Apa maumu? Sudah kubilang jangan pernah bicara denganku lagi!!” ketus Hyorin yang mendapati Baro berdiri di hadapannya.

“Kau masih marah?” tanya Baro yang langsung duduk di sebelah Hyorin tanpa diminta.

“Yah! Ngapain kau duduk disini! Pergi sana!! Menjauh dariku!!” Hyorin memukuli lengan Baro sebal, namun anehnya namja ini malah diam tak berkutik. ia tampak seperti menikmati.

“Oppamu tidak bisa pulang hari ini, dia terjebak banjir disana! Nih kunci rumah, aku ada latihan sepulang sekolah ini, jadi pulangnya agak telat! Kamu bisa kan tanpa aku? Kamu akan baik-baik saja kan?” tanya Baro. Mata Hyorin terbelalak.

What the- hello Cha Sun Woo, sejak kapan hidupku tidak akan baik-baik saja tanpa kau? Aniy, malah kurasa akan lebih baik jika tidak ada kau!! Kau pikir aku ini anak manja macam apa sampai tidak bisa apa-apa jika kau tinggal?

“Sejak kapan hidupku tidak akan baik-baik saja jika tidak ada dirimu?” desis Hyorin sambil mengambil kunci dari tangan Baro.

“Ahahaha! Dasar gendut! Ga usah sok deh kamu, nanti paling juga bakal nangis-nangis kangen sama aku!!”

“Bodoh!” Hyorin menggertakkan giginya meredam kekesalannya. Well, mungkin tidak bisa disebut sebagai kekesalan, lebih tepat jika disebut rasa malu.

“Ikut aku!!” seru Hyorin. Baro menatapnya bingung.

“Kemana?”

“Kemana pun aku pergi!! Doh, bisa ga sih ga banyak tanya, hah?”

“Sekarang?”

“Tahun depan!! Ya sekarang dong!!” Baro mengikuti Hyorin yang masih saja menceramahinya tentang betapa damai hidupnya tanpa Baro sekalipun, betapa beruntungnya dia jika Baro benar-benar pergi dan hal-hal lain yang sebenarnya tidak membuat Baro marah sedikitpun, malah sebaliknya Baro senang jika Hyorin terus-terusan bicara dengannya. Setidaknya itu berarti Hyorin ga marah lagi dengannya.

“Yaa!! Kau dengar ga sih???” Tanya Hyorin kesal.

“Ah ne? Kau bicara apa barusan?” goda Baro, Hyorin mencuatkan bibirnya kesal. Jadi dia bicara panjang lebar begini tak didengar kan oleh makhluk ini? Ck, menyebalkan!!

Mereka terus berjalan sampai ke toilet perempuan. Merasa Baro mengikutinya, Hyorin berhenti dan berbalik.

“Mau apa kau? Kenapa mengikutiku?”

“Kau bilang ikut denganmu kemanapun!” jawab Baro polos.

“Tapi tidak dengan toilet perempuan, BABO!!!” seru Hyorin. Baro tersenyum, Hyorin sudah sepenuhnya kembali menjadi Hyorin yang ia kenal.

“Dasar mesum! Ga usah senyum-senyum mencurigakan begitu deh!!” kesal Hyorin seraya masuk ke toilet dengan membanting pintu tentunya.

.

“Oppaaaa!! Aku takut!! Cepat pulang!!” suara cempreng Hyorin menyeru di telepon, membuat Jinyoung mengusap-usap telinganya. Ia masih teramat sayang akan pendengarannya.

“Yaa!! Kamu ngomong apa sih? Bukannya ada Sun Woo dirumah?” tanya Jinyoung.

“Ah! Lupakan saja makhluk bodoh itu!”

“Makhluk bodoh? Jangan ngomong gitu! Nanti naksir lho!”

“Aish oppa!! Jangan menggodaku tau! Aku kan sudah punya pacar! Mana mungkin aku menyukai shini…mmm…maksudku hamster jelek itu!!”

“Mwo? Hamster jelek? Hahaha, kau ini ada-ada saja!!”

“Ah!! Cepat pulang oppa! Aku takut!!”

“Ne, oppa usahain! Memang kau takut kenapa sih?”

“Habis tadi pas nyalakan TV tau-tau film SAW muncul. Selama 2 jam aku terus ketakutan!” Jinyoung memutar bola matanya. Ckck, adiknya memang sedikit bodoh!

“Kan bisa ganti saluran!”

“Kalau begitu nanti aku bisa-bisa aku diculik Jigsaw! Diakan memang begitu!!”

“Memangnya kamu kenal jigsaw, hah? Kau ini terlalu banyak nonton sih!! Sudahlah, oppa lagi dijalan nih! Teleponnya nanti saja ya!!” tutup Jinyoung.

Untuk menghilangkan ketakutannya Hyorin pergi ke dapur mencari cemilan yang bisa dimakan. Ia mengancingkan jaketnya, meski di dalam rumah sekalipun suhu tetap terasa begitu dingin. Bisa terdengar suara gemuruh yang bersahut-sahutan diluar sana. Bunyinya begitu mengiris hati.

“Aish! Kulkasnya kosong!! Ottokhe? Aku lapar sekali!!”

Blitzzz….listrik padam.

“Kyaaaaa!!!!!!” jerit Hyorin saat suara petir terdengar dan membuat listrik di rumahnya padam semua. Kilat menyambar memantulkan bayangan seseorang dipintu rumahnya!!

“S…siapa itu?” tanya Hyorin, ia berusaha mencari-cari senter.

“Baro?” tanyanya lagi.

Deg!! Bukan. Itu bukan Baro!! Itu bahkan bukan bayangan manusia!! Napas Hyorin memburu, apa itu Jigsaw? Hyorin menggeleng cepat.

Bodoh! Hyorin bodoh! Hentikan imajinasimu!! Kalau itu benar-benar dia bagaimana? Oppa!! Umma, appa!! Siapa saja!! Tolong aku!!

Bayangan itu semakin mendekat. Lutut Hyorin melemas, dilihatnya sesosok monster bertaring panjang itu tengah mengacungkan kapak besi berlumuran darah padanya.

“AAAAAAA!!!!” pekik Hyorin, ia berlari sekencangnya dalam kegelapan. Namun makhluk itu terus mengejarnya sembari menghunuskan kapaknya ke segala arah, membuat seisi rumahnya hancur berantakan.

“Tolong!! Tolong!! TOLONG!!!! Baro!! Baro!! Baro kumohon tolong aku!! BARO!!!” entah kenapa Hyorin mati-matian memanggil nama shinigami itu. Air matanya menetes semakin deras, kakinya melemas. Sialnya, kenapa rumahnya begini gelap?

Braakk…

Malang bagi Hyorin yang jatuh tersandung, ia terguling sampai ke lantai satu.

“Mm…bau ini? Black pearl…kau shinigami!!” makhluk itu menyeringai, dan dengan gerakan cepat ia mengayunkan kapaknya. Tepat di jantung Hyorin!

“ZETSUGA TENSOU!!!”

.

TBC~

hahahah, lanjutannya kapan ya? hmm, draft.a masih di otak neh!! yasud, segitu dulu readerdeul! hmm, jangan lupa share apa aja yang ada dipikiran kalian ttng FF saya seikhlasnya^^ gomapseumnida^^

Posted 3 Juli 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , ,

3 responses to “[FF] A Dream *Part 6*

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kasian Sulli ama Taemin…
    Tapi yg lebih kasian lg si Hyorin..
    Lanjutkan,author! Penasaran😀

  2. haaaah pnasaraan cpetaan iia author iang ke7,a ..
    gmana nanti nasib hyorin ? nsib,a baro?
    *bnerbnerpenasaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: