[FF] A Dream *Part 5*   6 comments


annyeooooong^^

author cantik kembali *plaakk

hehehe, mian ru bisa ngpost yaa

oke, silahkan di baca…

.

A DREAM

Author: d_na

Length: 5 of ?

Genre: romance, fiction

Main Cast:

Jung Hyorin as you

Choi Sulli

Lee Taemin

Cha Sun Woo aka Baro

===============================

[Now Playing Beast – Oasis]

“Sulli-ssi, bagaimana keadaanmu?” Tanya Taemin di suatu sore yang tampak berkilauan bermandikan cahaya mentari. Mereka berdua kini tengah menikmati detik detik menuju sunset di area taman –kalau itu bisa disebut taman- sebenarnya itu adalah sebuah dataran tinggi yang ditumbuhi rerumputan dan bunga-bunga liar.

“Aish, Taemin-ssi…kau tak perlu terlalu formal begitu padaku. Panggil Sulli saja ya. Mmm, aku lebih baik sekarang. Gomawo!!” seru Sulli, ia membentangkan kedua tangannya merasakan hembusan angin sore yang menerpa wajahnya. Dengan kedua mata tertutup dan bibir yang membentuk seulas senyuman. Taemin terpana. Bukan karena kecantikan yang dipancarkan oleh alam dihadapannya. Namun inner beauty dari gadis di sebelahnya.

“Cantik…” pujinya tanpa sadar. Sulli menatapnya bingung. Taemin hanya tersenyum salting dan menunduk malu.

Senja sempurna membakar cakrawala. Matahari menyebarkan sinarnya yang keperakan. Menyemburat….mengurai mega yang berarak-arak. Kedua insan ini begitu terbuai menikmati detik demi detik sang surya yang perlahan meninggalkan mereka ke balik tebing cakrawala.

“Sudah gelap, ayo kita pulang…Sulli-ah!!” ujar Taemin tersipu. Sulli terperangah, seumur hidupnya baru kali ini ia merasa begitu bahagia. Dan itu karena seorang namja di depannya yang sedang menuntunnya kembali ke rumah.

“Mandilah dulu, aku akan siapkan makan malam!!” ujar Taemin. Sulli mengangguk. Sebenarnya Taemin tidak perlu melakukan hal itu.  Karena hampir di setiap sudut rumah ini, kita bisa menjumpai pembantu. Namun Taemin tetap bersikukuh untuk merawat Sulli, untuk menebus sesuatu yang bukanlah kesalahannya. Setelah Taemin pergi, Sulli berbaring-baring gaje di kamarnya, sambil mengkhayalkan hubungannya yang semakin bernasib baik itu.

Braakk…

Pintu kamar terbanting keras mengejutkan Sulli, seorang gadis yang nampak angkuh berdiri di sana. Dengan melipat tangan di dada, ia menatap lurus ke arah Sulli yang masih keheranan.

“Kuakui kau hebat bisa lolos dari maut kemarin!! Tapi asal kau tau saja, aku takkan menyerah semudah itu, mengerti?” tatapan mengejek Mi Hoon kembali ditujukannya pada Sulli yang kini mengepalkan tangannya.

“Kenapa kau lakukan hal itu kemarin, Mi Hoon-ah? Aku salah apa padamu?” Tanya Sulli berusaha meredam emosi yang ada.

“Kau salah karena telah hidup di dunia ini!! Asal kau tau saja, aku takkan pernah menyerah akan Taemin ataupun rumah ini!!”

“Lagipula yang kemarin sepertinya belum apa-apa!! Keberuntunganmu takkan dua kali, nona Choi Sulli. Pergilah dari rumah ini kalau kau takut!!”

“Aku takkan pergi dari rumah ini!! Selama 17 tahun aku hidup sendiri tanpa keluarga! Kau pikir aku akan semudah itu pergi dari sini?” ujar Sulli.

“Hmm, kalau begitu bencilah aku. Kau sendiri yang meminta hal ini. Bersiaplah!!”

“Jadi dalang dari kejadian kemarin adalah kamu, Mi Hoon-ah?” Tanya Taemin yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.

“O…oppa!!” kaget Mi Hoon.

“Kalau kau menggunakan cara kotor itu lagi untuk menyakitinya, kau akan lihat sendiri akibatnya. Aku serius! Aku tak peduli meski itu kamu!!” marah Taemin. Bisa dilihat ekspresinya yang hampir meledak itu.

”Kenapa? Kenapa kau memilihnya, Oppa? Aku lebih mengenalmu!! aku mencintaimu lebih dari yang kau tau!! aku lebih daripada dia!!” tunjuk Mi Hoon kasar pada Sulli. Lelehan hangat mengalir dari pipinya.

”Apa kurangnya aku, oppal? Aku lebih cantik, lebih pintar dan kau pasti bahagia denganku!! bukan dengan gadis aneh dan bodoh seperti dia!!” jerit Mi Hoon, air matanya tumpah. Taemin memandangnya dengan pandangan jijik. Mi Hoon sampai menahan napas melihat ekspresi Taemin yang seperti itu.

”Kau memang tidak mengenalku!! Kau pikir aku menilai orang dari itu?” jawabnya tenang namun mematikan membuat Mi Hoon terdiam seribu bahasa.

”Aku tidak suka caramu menilai Sulli. Meski dia bodoh, tapi dia tetaplah kepala keluarga Choi. Kalau ada yang berniat jahat padanya, takkan pernah kuampuni!!” sahut Taemin lagi sambil meraih jemari Sulli. Dia tersenyum manis. Mata hitamnya begitu lembut dan hangat.

”Wajar saja dia yang menjadi kepala keluarga!! Karena dia lahir setelah membunuh ibunya sendiri!!!”

”Mi Hoon, kau ini!!” marah Taemin.

Apa? Apa katanya  barusan? Membunuh ibuku sendiri? Aku…PEMBUNUH???

”Membunuh ibuku? Apa maksudnya?” air mata nya merebak tanpa bisa ditahannya.

”Itu benar! Ibumu menderita penyakit yang tidak bisa di sembuhkan! Bahkan ayahmu saja tak mampu menyembuhkannya! Ibumu sudah tau kalau ia akan mati jika melahirkanmu!! Dasar PEMBUNUH!!!” geram Mi Hoon berapi-api. Perasaannya yang hancur perlahan berubah menjadi api yang berkobar. Yang kapanpun siap untuk membakar apa saja.

Apa-apaan ini? Ugh! Kepalaku terasa berdenyut! Aku sudah tak sanggup menahan air mataku, aku tak bisa bernapas, sesak. Aku sudah tak tahan mendengar pernyataan demi pernyataan yang menyakiti hatiku ini.

Sulli langsung berlari pergi. Tak memperdulikan Taemin yang mengejarnya. Perih…itu lah yang ia rasakan. Ia tak tau harus berbuat apa lagi. Sulli sudah kehilangan kontrolnya. Ia tak bisa mengerem kakinya.

Aku tidak tau…aku tidak tau bahwa akulah yang membunuh ibu kandungku sendiri…Tidak mungkin! Tidak mungkin!! Aku tidak tau akan hal itu…

”Sulli tunggu!!” seru Taemin.

Bruukk….!

”Tenanglah Sulli-ah!! Tenangkan dirimu!! Kematian ibumu bukan kesalahanmu!!” Taemin memeluk Sulli.

”Ugh!!” Mi Hoon mendecakkan lidahnya kemudian pergi dari sana. Bisa dilihat mata merah itu, benar-benar menampakkan kebencian yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Rasa cemburu telah membakar semuanya.

”Ukh, hiks…aku…hiks…seandainya aku tidak lahir ke dunia ini, umma…umma…hiks…”

”Dengarkan aku, yang memilih untuk melahirkan itu ibumu sendiri kan? Aku jamin itu semua bukan kesalahanmu! Jadi jangan pikirkan soal tadi, mengerti?”

Semula kupikir Taemin tidak akan membela dan menenangkanku seperti ini. Tapi…dia mengatakan hal yang ingin kudengar. Bagaimana nih? Perasaanku semakin mendalam padanya…aku ga bisa mengontrolnya lagi…

”Kau ini!! Kenapa tidak bilang padaku kalau dia pelakunya? Seenggaknya bantahlah omongannya!! Bela dirimu sendiri! Hhh!!” kesal Taemin tia-tiba setelah melepaskan pelukannya, Sulli mengerucutkan bibirnya.

”Habisnya…”

”Kau tidak tau betapa khawatirnya aku hari itu? Kau ini benar-benar!!” geram Taemin, lebih ke dirinya sendiri.

”Mian…”

”Aku tidak peduli kau ini makhluk sebodoh apa!! Tapi, tolong jangan buat aku seperti ini Sulli-ah! Kau nyaris membuatku berhenti bernapas karena khawatir!”

”Mian, aku takkan melakukannya lagi…aku janji mulai sekarang, aku akan melaporkan semua kegiatanku meski itu tidak penting!!” Sulli masih saja tertunduk. Jujur saja, ia takut pada ekspresi marah yang baru kali ini dilihatnya. Taemin merengkuh bahu Sulli dan memeluknya kembali.

”Maaf sudah membentakmu…maaf!! kau takut? Aku hanya tidak ingin kau kenapa-napa…” pelukan hangat itu semakin erat.

”Jangan membuatku khawatir lebih dari ini…” bisik Taemin. Sulli tersenyum…ah seandainya waktu bisa berhenti.

“Ehm, Taemin-ah…”

“Ne?”

“Aku baik-baik saja!!” ujar Sulli seraya melepas pelukan Taemin. Wajahnya sangat merah.

“Ne, maaf!!” sahut Taemin yang memalingkan wajahnya. Ia berbalik

“Pokoknya, jangan terlalu dipikirkan!!”

Bagaimana dengan Taemin? Apa perasaannya sama denganku? Aku penasaran tentang apa yang dipikirkannya padaku…

“Tu…tunggu!!” Sulli menarik kaos Taemin.

“Kenapa kau begitu baik padaku? Padahal aku ini hanya cewe bodoh dan aneh!!” Taemin menatapnya serius. Jantung Sulli menderu kencang.

“Itu karena…”

“Kau adalah kepala keluarga ini! Pekerjaanku adalah menjaga kepala keluarga ini. Selain itu tak ada perasaan lain! Hanya itu saja…” ujar Taemin sambil berlalu.

Deg! Aku tak tau kenapa lagi. Kenyataan menghujam hatiku. Ugh! Jadi begitu…karena aku kepala keluarga ini, dia bersikap baik padaku dan membelaku sampai seperti itu…hanya karena pekerjaannya. Selain ga ada…ga ada perasaan sama sekali! Ah benar juga bodohnya aku, mana mungkin Taemin punya perasaan lebih padaku. Itu mustahil kan? Aku tau itu, tapi kenapa air mataku jadi menetes?

.

“WOOOOHHHHOOOOOW!!! KYAAAAAA!!” Hyorin bersorak seraya melompat-lompat dia atas tempat tidurnya.

“YAYAYAAYAYAYYAYAYAIIII!! HAHAHAHHAHA!!” serunya seperti orang gila.

“GONG CHAN-SSI SARANGHAEEEEEEEEEEEEEEEE!!!”

Flashback

“Berjuanglah untuk pertandingan nanti, Gong Chan-ssi! Sampai kapanpun aku akan tetap mendukungmu!! Kau tau? Sejak awal aku sudah menyukaimu, aku bahkan bermimpi kau menjadi kekasihku…bisakah…itu terwujud? Maukah kau jadi kekasihku?” gumamku seorang diri sambil menatap loker Gong Chan. Berharap isi hatiku akan tersampaikan. Entah bagaimana caranya.

“Jadi kekasihmu? Boleh saja!” ujar sebuah suara. Eh? Eh??? Suara siapa ini? Omo!! Ada yang mendengar gumamanku tentang Gong Chan barusan??? Ada orang yang tau tentang perasaanku? Wajahku memanas, aku harus membungkam mulut namja ini. Aku berbalik dan…

MWO?????????? OMO!!! ANDWAE!!!! Kenapa Gong Chan bisa ada disini? Terlebih lagi…apa dia dengar yang barusan? Ottokhe???

“G…Gong…Gong Chan-ssi? A…ah…a…aku hanya…bercanda…” Kyaaa!! Hyorin bagaimana ini? Aduh aku malu!! Malu sekali!!! Tuhan tolong selamatkan aku!! Demi apapun yang hidup di bumi!!

Tunggu dulu…tadi rasanya dia bilang…OMO!! Barusan dia bilang dia mau jadi PACARKU????

“Kenapa?” Tanya Gong Chan yang heran melihat Hyorin yang terus mematung seperti orang bodoh. Perlahan tapi pasti tanganku terangkat dan…

Plakk!!

Aku menampar diriku sendiri, memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi. Gong Chan terlihat terkejut dan semakin bingung karenanya, namun ia hanya tertawa geli melihat tingkahku yang mengejutkan ini.

“Jadi merah begini? Sakit kan?!” Gong Chan menyentuh pipiku yang merah, dan sentuhannya itu malah membuatnya semakin merah.

“Kau…serius??” Tanya Hyorin ragu.

“Ne, aku serius. Hyorin-ssi!!” jawab Gong Chan.

APA KATANYA??? SETUJU???? Kyaa!! Ini mimpi? Ini pasti cuman mimpi?!! Tapi pipiku sakit. Itu artinya ini nyata? Ini nyata? Oh boy~

Gong Chan menampilkan senyum terindahnya. Omona! Wajahnya begitu sempurna, halus dan lembut. Matanya gelap kontras sekali dengan warna kulitnya yang seputih marmer. Garis wajahnya keras dan tegas, namun senyumnya mematikan. Mampu menghipnotisku. Rambutnya yang hitam legam dan terkesan berantakan membingkai wajahnya dengan sempurna. Sangat kontras dengan wajahku yang buruk rupa ini.

Aku mengangguk, ia kemudian meraih jemariku dan menggenggamnya.

[Now playing: Beast – take care of my girlfriend (say no)]

Baro tersandar lemas di dinding kelas, setelah mendengar pembicaraan itu tanpa sengaja. Ia menghela napasnya. Seorang shinigami tidak mungkin mempunyai perasaan seperti ini. Tapi…kenapa dadanya terasa begitu perih? Shinigami seharusnya tidak mempunyai perasaan cinta ataupun benci. Tapi kenapa begini?

End of flashback

Braakk..

Pintu kamar Hyorin terbuka lebar, Baro berdiri di ujung sana.

“Hwwwaahhhh!!”

Bruk…

Hyorin yang tadinya sedang lompat-lompat kesenangan terkejut melihat Baro tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya sehingga ia terjatuh dari tempat tidurnya.

“Hyorin-ssi!!” seru Baro. Ia segera berlari mennghampiri Hyorin yang bersembunyi di bawah kolong tempat tidur karena malu. Melihat itu, Baro malah tertawa kesenangan. Dia punya bahan olokan lagi buat Hyorin.

“Yaah!! Udah gila ya ketawa-ketawa terus!!” sungut Hyorin. Baro mengulurkan tangannya, Hyorin menyambut namun ternyata tangan Baro malah menjitak kepala Hyorin sambil terus tertawa.

“Yaa!!” Hyorin memukul lengan Baro yang masih saja tertawa. Ia bangun dengan susah payah.

“Ahjumma memanggilmu!” tukas Baro. Hyorin lantas langsung berdiri namun lagi-lagi kesialan menimpanya, kepalanya terantup lemari.

“Ah!! Appo!!” Hyorin mengusap-usap kepalanya yang sakit. Baro lantas mengusapnya juga.

“Yah! Mau apa kau? Mau menjitakku lagi?” bentak Hyorin mengibaskan tangan Baro.

“Aniya, diamlah sebentar!” Baro berdiri di hadapan Hyorin dan mengelus kepalanya. Napas Hyorin memburu, jantungnya serasa mau meledak. Degup jantung Hyorin berbunyi keras saat menatap mata teduh Baro. Rasanya seperti sengatan listrik yang menjalar di seluruh tubuhnya. Panas dan terasa sesak!

“Apa masih sakit?” Tanya Baro menatap mata Hyorin. Hyorin mengerjap beberapa kali…

“Ah…tidak…” ia lantas pergi meninggalkan Baro yang menatap punggungnya dengan pandangan misterius.

.

Krompyang prang!

“Aw!!” Hyorin tak sengaja menyenggol panci disebelahnya hingga terjatuh. Mendengar suara seberisik ini, Baro yang sedang menonton TV pun akhirnya terusik karena rasa penasarannya.

“Ya! Kau sedang apa?” Tanya Baro.

“Tidur!!” dengus Hyorin.

“Ya masaklah! Kau tidak lihat apa?” lanjutnya, Baro hanya tersenyum geli.

“Yah! Jangan senyum-senyum begitu!! Kau pikir kau sendiri bisa? Kalau bukan karena umma pergi ke Busan, aku takkan mau membuat makan siang begini!!” kesal Hyorin.

“Tapi kan itu untukmu sendiri! Aku, well tidak makan juga ga masalah!!” sindir Baro, Hyorin memutar bola matanya kesal. Ia tau hal itu. Tapi perutnya yang sudah menjerit-jerit minta diisi membuatnya terpaksa melakukan hal yang tak pernah dilakukannya.

“Yaa! Babo! Setidaknya kau tidak perlu berdiri disitu sambil tersenyum gaje, kan? Cih, mengganggu pemandangan saja!!”

“Bilang saja kalau kau perlu bantuanku? Tidak usah ditutupi!!” sindir Baro lagi. Wajah Hyorin memerah, memang benar sih.

“Sial!!” gumam Hyorin setelah mendengar tawa renyah Baro. Baro lantas membantunya, memasak. Dalam sekejap saja, suasana kembali cair. Sebenarnya Baro adalah tipikal orang yang mempunyai sense of humor yang tinggi. Perlahan debar kencang di jantung Hyorin kembali normal, berganti dengan perasaan rileks. Entah kenapa disisi namja ini, ia merasa sangat nyaman.

“Baro, aku sudah jadian dengan Gong Chan lho!!” senang Hyorin. Baro terdiam.

“Oh? Chukkae!!” gumamnya pelan.

“Hahaha, aku ga nyangka aja! Ternyata mimpiku jadi kenyataan!!”

“Baro coba rasain, enak ga?” Tanya Hyorin sseraya menyuapkan masakannya. Baro memakannya kemudian tampak berpikir.

“Hmm, lumayan kok!!” ia tersenyum.

“Jinjja? Aigoo!!” senang Hyorin, ia berpikir untuk membuatkan Gong Chan juga. Baro tersenyum sedih melihat tawa bahagia gadis di sebelahnya. Tidak seharusnya ia seperti ini. Argh!! Perasaan berkecamuk yang mulai menggerogotinya, lagi.

“Aww!!” erang Hyorin lagi, ia tak sengaja mengiris jarinya sendiri.

“Plester!!” seru Hyorin sambil mencari-cari plester di kotak obat. Baro meraih tangannya.

Deg!! apa yang dilakukannya? dia…dia…menjilat JARIKU? Lebih tepatnya lukaku?

“Ba…Baro…?”

“Lebih cepat sembuh kalau begitu!” ujarnya dengan wajah tanpa dosanya. Hyorin berbalik dengan perasaan yang semakin tak karuan.

Duh gimana nih? Kenapa aku malah deg-degan begini? Dosa deh aku udah punya pacar masih mikirin namja lain!!

.

“Yaa hyung!! Kau lihat gadis disana? Dia Shin Ra Na!! Cantik sekali bukan?” ujar Baro sambil menunjuk seorang gadis cantik di seberang jalan. Jinyoung tampak manggut-manggut, bosan. Yah, bosan karena Baro selalu mengungkit tentang yeoja yang telah disukainya selama 2 tahun itu. Hampir setiap hari Baro selalu bercerita tentang setiap detil yang dilakukan yeoja itu. Bahkan ia selalu mengiriminya bunga daisy setiap hari sebagai bentuk perasaannya yang selalu semerbak untuk gadis itu.

“Kau berkata seperti itu seolah-olah aku tak mengenalnya saja? Aku ini sekelas dengannya! Lagian kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu saja?” sahut Jinyoung.

“Yaah! Aku masih belum punya keberanian, apalagi dia lebih tua dari pada aku!”

“Babo! Kau malu? Kau takut di tolak?” sergah Jinyoung sambil meminum kopi hangatnya. Mereka berdua adalah sahabat yang sangat akrab. Setidaknya selama 2 tahun ini. Karena mereka berdua satu klub di sekolah.

“Yaah! Rana noona mana mungkin mau? Apalagi aku adalah hoobaenya!”

“Yaah! Kalau kau berpikir seperti itu, nanti dia diambil orang loh!!”

“Makanya hyung, maukah kau menjaganya demi aku? Aku akan menyatakan perasaanku saat aku lulus sekolah! Karena kau kan sekelas dengannya!”

“Ne…terserahmu saja!!”

“Aish! Gomawo hyung!!” Baro memeluk Jinyoung senang. Jinyoung tersenyum kecil.

Atas nama persahabatan, Jinyoung mulai mendekati yeoja itu, berteman akrab dengannya serta menjaganya untuk Baro, setidaknya sampai Baro lulus SMA dan siap untuk menyatakan perasaannya. Tanpa disadari, kedekatan itu malah membuat perasaannya berubah. Enam bulan waktu yang cukup singkat bagi Jinyoung untuk memupuk cinta kasih pada gadis yang dicintai sahabatnya itu. Ia mulai menyukainya, seakan tak ada yang bisa merubah posisi gadis itu dihatinya. Karena panah yang telah ditancapkan oleh sang malaikat cinta telah tertancap dalam bahkan mengakar kuat di hatinya. Tumbuh dan semakin besar laksana pohon yang tumbuh subur dikebun hatinya. Berbunga mekar nan indah seindah kisah cinta yang perlahan ia rajut dengan benang kasih.

Jinyoung tau, ini bukanlah hal yang seharusnya terjadi. Namun perasaannya membutakan segalanya. Bahkan janji atas nama persahabatan.

”Hyung, kurasa aku ini waktunya aku untuk meyatakan perasaanku pada Rana, bagaimana menurutmu?”

”Hah? Ehm, ya terserah kau sajalah!!”

”Doakan aku ya hyung! Aku sudah berjanji dengannya di D.Lite cafe, tempatmu kerja sambilan!!”

”Ne…”

”Ah ya…aku bisa minta tolong padamu?” tanya Baro serius.

”Jika aku…tidak bisa bersamanya, maukah kau menjaganya untukku selamanya?”

”Apa maksudmu?” tanya Jinyoung.

”Aniy, hanya saja…aku merasa tak ada orang lain yang pantas bersamanya selain kau, hyung! Maka dari itu, jika aku pergi…aku ingin kau…”

”Yaa!! Babo!! Kau ini kenapa berbicara pengecut seperti itu? Kau berkata seolah-olah kau akan mati saja!”

”Itukan hanya perumpamaan, hyung! Kalau aku mati, aku ingin kau yang bersamanya! Bukan namja lain!!”

”Memangnya kau akan mati?” tanya Jinyoung lagi.

”Aniya, kau mau menyumpahiku hyung?”

”Makanya jangan berkata hal bodoh seperti itu!” sergah Jinyoung kasar. Ia meninggalkan Baro seorang diri dan menuju kafe tempatnya kerja sambilan. Disana ia bertemu dengan Shin Ra Na yang tengah duduk manis.

”Jinyoung-ah!!” sapanya ramah. Jinyoung menampilkan senyum manisnya.

Baro yang sedang menuju tempat tujuannya itu, berbalik arah. Dia sebaiknya memberikan kejutan untuk Rana. Ia berlari mencari tempat penjual bunga. Bunga Daisy yang menggambarkan keindahan Rana dimatanya.

Setelah mendapatkan bunga itu, ia kembali menuju kafe. Bisa dilihatnya dari seberang jalan Jinyoung duduk bersama gadis itu, sedang bercanda tawa.

”Hyung!!” Baro melambaikan tangannya.

Mendadak cahaya terang membutakan mata Baro. Suara decit mobil memekakkan telinga. Bisa dilihatnya dengan jelas sebuah Volvo merah melaju dengan kencangnya nyaris menghantam tubuh seorang anak perempuan. Tepat sebelum mobil itu menyentuh anak itu, Baro mendorong anak itu hingga terpental jauh ke jalanan. Ia sendiri jatuh, dan tak sanggup untuk bangun. Darah segar yang mengucur dari kepalanya begitu menyengat hidung. Samar-samar ia masih bisa melihat Jinyoung dan Rana yang menghampirinya. Namun bau darah serasa mengaduk-aduk perutnya sampai ia tak sadarkan diri.

”SUN WOO!!!!!” jerit Jinyoung sekuatnya. Air matanya jatuh berderai membasahi kedua pipinya. Dipeluknya sahabatnya yang berlumuran darah itu.

Jinyoung tersentak bangun, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ada apa ini? Dengan mata mengerjap diliriknya jam, masih setengah lima. Mimpi itu sangat nyata baginya. Aniy! Itu bukanlah sebuah mimpi belaka. Itu adalah masa lalunya. Ia memeluk lututnya yang gemetar. Sudah beberapa hari ini ia terus dilanda mimpi buruk, mimpi yang sama. Jinyoung menarik selimut, dan berusaha memejamkan mata. Napasnya memburu sesak. Ada apa ini? Kenapa ia harus mengingat kejadian 2 tahun yang lalu? Ia mencoba mengabaikan mimpi itu. Perasaan kebas menjalari sekujur tubuhnya.

”Itukan hanya perumpamaan, hyung! Kalau aku mati, aku ingin kau yang bersamanya! Bukan namja lain!!”

”Maaf…maafkan aku Sun Woo!! Maafkan aku! Maaf aku telah mengkhianatimu!! Maafkan aku! Ku mohon maafkan aku!” desah Jinyoung berulang kali. Air matanya kembali meleleh di pipinya. Perasaan menyesal dan tersiksa terus-terusan menggerogoti tubuhnya.

.

”Baro, bolehkah aku bertanya padamu?” tanya Hyorin, Baro yang duduk disebelahnya hanya mengangguk cuek. Ia sedang sibuk menonton film death note.

”Bagaimana awalnya kau bisa menjadi shinigami?” tanya Hyorin. Baro menatapnya kaget. Tak menyangka pertanyaan itu akan meluncur dari bibir Hyorin.

”Aku hanya ingin tau, kalau tidak mau kasih tau jug ga apa…” rajuk Hyorin. Baro tersenyum kemudian merangkul bahunya.

”Tidak ada shinigami yang ingin mengingat masa lalunya! Begitu juga denganku!” ujarnya lembut.

”Apa dulu kau juga seorang manusia?” tanya Hyorin lagi. Baro menggigit bibirnya kemudian mengangguk.

”Ya. Aku dulunya juga seorang manusia. Setiap yang menjadi shinigami adalah roh manusia yang masih menyisakan penyesalan dan sakit hati. Kami, shinigami diberi kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki segalanya dengan melupakan masa lalu kami! Mengerti?”

”Jeongmal? Bukannya yang begitu itu disebut hantu penasaran?” tanya Hyorin lagi. Baro menarik hidung Hyorin gemas. Kalau mengantuk seperti ini, Hyorin terlihat menggemaskan karena sikapnya yang manja itu.

”Dewa kematian memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada hantu penasaran. Kami adalah prajurit dari soul society, sudah menjadi tugas kami untuk mengumpulkan jiwa-jiwa seperti roh penasaran itu dan mensucikannya di soul society!”

”Wae? Kenapa mesti disucikan?”

”Kalau tidak, mereka akan berubah menjadi hollow!! Dan bisa menyerang manusia!”

”Oh jadi hantu-hantu yang sering menyerang manusia itu hollow?”

”Ne!!” Baro mengangguk. Hyorin menutup mulutnya ketika ia menguap, rasa kantuknya benar-benar tidak bisa ditahannya. Sialnya, bahu Baro merupakan tempat yang sangat pas untuk tidur.

Ah sudahlah! Tidak ada waktu untuk berperang dengan perasaanmu sendiri, Hyorin!

.

”Kalau aku terus disini, aku hanya akan terus menyakiti diriku sendiri!!” gumam Sulli. Ia lantas mengambil tasnya dan pergi dari rumah besar itu. Ia memutuskan untuk kembali kekost-annya yang lama. Ia tak peduli meski harta warisannya menumpuk disana. Rasa sakit hatinya mengalahkan segala-galanya. Rasa sakit karena cinta yang bertepuk sebelah tangan ini.

Subuh mulai mengambang di udara. Matahari mengintip dari celah kabut yang masih menyelimuti. Sulli mengancingkan mantel abu-abunya dan terus berjalan menenteng tas besarnya.

Sebuah mobil berhenti di depannya.

”Kau Choi Sulli, kan?” tanya seseorang. Tidak! ada beberapa orang laki-laki bertubuh kekar di dalam sana. Sulli mengangguk polos.

”Kenapa bisa tau namaku?”

”Ah, aku tau dari Mi Hoon! Hmm, kenapa kau bawa tas sebesar itu?”

”Ah aku mau pulang ke rumahku!!” ujar Sulli.

”Tapi dari sini stasiun masih jauh lo! Mau kami antar saja? Lagipula kami ada urusan disana!”

”Boleh sih, tapi…”

”Tenang saja! Ayo naik!!”

Asalkan mereka mau mengantarku, aku tidak peduli apa yang terjadi. Entah apa reaksi Taemin menyadari aku tak ada di kamar. Ah sudahlah jangan memikirkan dia, Sulli-ah!! Yang jelas jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Aku ga akan menyia-nyiakan kesempatan pulang ini. Ga ada yang bakal terjadi, kan? Lagian mereka kelihatan baik.

Sulli masuk ke dalam mobil itu. Ia memandang kosong ke arah jalanan. Menit demi menit berlalu. Dimana ini? Apa stasiun masih jauh? Tunggu dulu!!

“Maaf, sepertinya ini bukan jalan menuju stasiun?” Sulli memberanikan diri untuk membuka mulutnya. Anehnya, para namja itu malah tertawa.

“Kau baru sadar sekarang?” tanya salah satu di antara mereka.

“Habisnya kau bisa dijadikan uang yang banyak. Kau sudah dengar dari Mi Hoon kan? Beberapa hari yang lalu kami lah yang menyeretmu ke gudang tua itu atas perintah Mi Hoon!”

“Sayang sekali kau masih hidup!”

“Entah dengan cara apa kau hidup. Tapi kurasa lebih baik aku mengambil keuntungan langsung darimu!!” mereka tertawa-tawa. Salah satu dari mereka menyergap mulut Sulli dan mengikat tubuhnya.

“Hmmph, mmmphh…mmmp!!” ronta Sulli. Air matanya menetes. Ia takut sekali. Entah apa yang akan dilakukan sekumpulan pria ini padanya.

“Kau lumayan juga!! Bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu?”

Mereka yang waktu itu? Sial! Kenapa aku tidak menyadarinya? Ugh! Apa? Apa katanya? Tidak!! Tolong!! Tolong aku!! Tolooong!!!!

.

TBC~

nyahahaha!!! tunggu kelanjutannya yaaaaaa😀

share apapun yanga da di kepala kalian ttg FF ini!! gomawo readers^^

Posted 1 Juli 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , ,

6 responses to “[FF] A Dream *Part 5*

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sulli polos amat sih! Mau aja naik mobil sama orang yg dia gk kenal..!

  2. akhir,a di post juga ni ff..
    lama bgt ni nunggunya..😀
    iang slanjut,a jngan lama2 iia author..

  3. akhir,a nongol juga ni ff😀
    iang ke enam dan sterus,a jngan lama2 iia author..

  4. ahirnya keluar juga, aku suka aku suka ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: