[FF] Let Go *Part 6*   4 comments


annyeong readers^^

mian lama gk update FF yng ini

author lg gak fit nih, heheh *curcol*

doain moga cepet sembuh yak^^

oke deh, bgi yng dah penasaran…

silahkan dibaca

.

LET GO

Author: d_na

Length: 6 of ?

Genre: romance

Cast:

Kim Chae Ri aka Kwon Yuri as you

Choi Minho

the rest member FF [Kim Taeyeon, Lee Sun Kyu, Stephany Hwang, and Im Yoona]

Kim Kibum [SHINee]

Jung Jinyoung [B1A4]

Summary: Kim Chae Ri seorang gadis SMA biasa, tapi siapa sangka dia adalah seorang artis terkenal dikotanya. Namun ia menyembunyikan identitasnya, dan malah diketahui oleh salah seorang adik kelasnya. untuk itu ia harus berpura-pura menjadi pacar Minho dan membantunya untuk membatalkan perjodohan. hubungan mereka semakin dekat, dan mulai menyadari perasaan masing2…apa yang akan terjadi?

===============O===============

”Chae Ri-ah? Kau tidak apa-apa?” tanya seseorang, saat melihat Chae Ri tersandar lemas di dinding sekolah karena lelah berlari.

”Oppa?” kaget Chae Ri menyadari Yesung dihadapannya, dan membawanya ke ruang kesehatan.

”Ceritakan, apa yang terjadi denganmu? Hmm?” tanya Yesung sambil memberikan air pada Chae Ri. Namun Chae Ri hanya diam. Yesung hanya bisa menahan dirinya.

”Kau habis bicara dengan Minho?” tebaknya, Chae Ri menatap Yesung kaget. Bagaimana ia bisa tau?

”Dari ekspresimu barusan, pembicaraan kalian kurang berjalan lancar? Apa yang terjadi?” tanya Yesung lagi. Lagi-lagi! Minho membuat gadis manis ini terluka. Apa yang ada di otaknya sih? Kalau toh memang ga ada perasaan apapun jangan buat gadis ini menangis seperti ini.

”Apa kalian putus?” tanya Yesung lagi, lagi-lagi Chae Ri terkejut. Apa Yesung punya indra keenam? Chae Ri menggigit bibirnya. Putus? Hubungan ku bahkan berakhir sebelum dimulai.

”Lupakan saja laki-laki itu! Dia hanya bisa menyakitimu!” tegas Yesung, marah.

”Aku…ga…tau! apa aku bisa melupakannya?” Chae Ri bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.

”Disini kau ternyata! Aku kan belum selesai bicara! Jangan main kabur gitu aja dong!” seru Minho tiba-tiba.

”Mau apa kau kesini?” tanya Yesung dengan nada tak bersahabat.

”Ah hyung! Tentu saja aku ingin menjemput pacarku!” jawab Minho santai.

”Pacar? Bukannya kau sudah putus dengannya?” sindir Yesung. Rahang Minho mengeras.

”Chae Ri sendiri yang mengatakannya padaku!” lanjutnya.

”Tidak, itu hanya salah paham!” sangkal Minho. Chae Ri yang terdiam lantas bersuara juga.

”Kalian saling mengenal!?”

”Ah aku lupa bilang padamu, chagi. Karena aku baru ingat bahwa dia adalah Kim Jong Woon, dulu ayahnya salah satu pemegang saham terbesar di perusahaanku. Aku tidak ingat, kapan ia mengganti namanya menjadi Yesung?” jawab Minho santai.

“Benar begitu oppa?” tanya Chae Ri pada Yesung.

“Pantas saja oppa tau banyak tentang Minho!”

“Apa maksudnya?” tanya Minho sambil memicingkan matanya

“Ah tidak, Chae Ri hanya merasa ia tak dianggap oleh pacarnya sendiri. Karena ia tak tau apa-apa tentangmu, makanya aku memberitahunya!” jelas Yesung.

“Oppa!!” marah Chae Ri, bisa-bisanya Yesung mengatakan hal memalukan itu pada Minho.

“Benarkah? Makanya kau bersikap begitu?” tanya Minho lagi. Wajah Chae Ri kembali merona.

“Aku ingin bicara, chagi!” pinta Minho.

“Ga ada lagi yang harus dibicarakan!” tolak Chae Ri.

“Chagi….?”

“Bel sudah masuk, kau tidak masuk kelas tuan muda? Lagipula Chae Ri tidak mau bicara padamu!” sela Yesung.

“Tidak ada hubungannya denganmu, hyung!”

“Jangan memaksanya! Kau sudah melukainya, apalagi yang kau mau?” Yesung serta merta mencengkram kerah baju Minho. Emosinya memuncak. Chae Ri lantas berdiri, mencoba menghentikan mereka berdua.

“Aku takkan mengampunimu, kalau kau membuatnya menangis!! Kamu hanya bisa menyakitinya!!” cecar Yesung.

“Oppa! Stop! Jangan!” seru Chae Ri.

“Memangnya kau mau apa?” tantang Minho. Ia lantas melepas cengkraman Yesung dengan mudahnya.

“Bicaralah!” ujar Chae Ri.

“Kau yakin?” tanya Minho menatap Chae Ri yang mengangguk.

“Masalah yang tadi itu, tentang hmmm…sahabatmu. Aku akan bicara padanya!” Minho menggaruk-garuk kepalanya, ia tidak ingin pembicaraan ini didengar oleh Yesung, tapi Chae Ri ingin di sini.

“Sebaiknya kita tidak bicara disini?” ujar Minho akhirnya. Chae Ri mengikutinya.

“Noona! Katakan padaku, apa yang dikatakan Yesung hyung itu benar?” tanya Minho mengalihkan pembicaraan.

“Tadi kau tidak bicara tentang itu!” protes Chae Ri.

“Maafkan aku, aku sebenarnya ingin memberitahumu segalanya. Tapi kau terkesan tak peduli dan tidak menanyakan apapun padaku. Aku kan tidak mungkin membicarakan diriku begitu saja!” jawab Minho.

“Aku tidak tau harus bertanya apa!” jawab Chae Ri.

“Aku juga tidak tau apa-apa tentangmu selain rahasiamu itu!” ujar Minho manja. Chae Ri tersenyum, Minho benar! Bodoh benar dia seharian ini menganggap Minho tidak serius atau semacamnya padahal ia juga sama saja. Tapi setidaknya, Minho masih mengetahui rahasianya. Sedangkan dia?

“Jadi?”

“Jadi pacarku lagi! Aku janji, aku akan memberitahumu segalanya! Apa saja! Aku akan membahagiakanmu!” janji Minho.

“Tapi Yoona…”

“Ssstt!!” Minho menempelkan jari telunjuknya itu di bibir Chae Ri.

“Kamu adalah kamu! Yoona adalah Yoona! Yang kuinginkan itu Kim Chae Ri, bukan Yoona! Mengerti?”

“Mana bisa aku mengkhianati Yoona! Aku ga mau bersikap egois padanya!”

“Argh! Kamu memang gadis yang baik! Lantas aku harus bagaimana? Aku ga mau kamu menyiksa dirimu dengan memendam perasaanmu seperti itu!”

“Tidak masalah, aku akan berusaha untuk baik-baik saja!”

“Hei…? Aku ga mau kau menyiksa dirimu lagi! Please! Kau bukannya juga menyukaiku?”

“Minho aku…”

“Aku tetap boleh memanggilmu ‘jagiya’?” tanya Minho penuh harap. Chae Ri hanya terdiam, itu tidak mungkin, kan?

“Min, itu! Ga mung…”

“Aku hanya akan memanggil jagi pada orang yang kusuka, jadi jangan pernah melarangku memanggilmu itu!” ujar Minho egois.

“Terserahmulah!”

“Kau masih ingin mengenalku?” tanya Minho lagi.

“Tentu saja aku ingin mengenalmu!” jawab Chae Ri pelan.

“Bagaimana kalau hari Minggu nanti, well….” Minho terpekur menatap tanah.

“Aku ingin kencan denganmu!” lanjutnya mantap.

“Minho, itu ga mungkin. Kita kan udah putus!”

“Ssstt! Nanana, aku ga dengar kata putus! Aku tetap ingin bersamamu apapun yang terjadi!” ujar Minho keras kepala.

“Minho!!”

“Kutunggu, di taman yang kemarin. Jam 10. Oke?”

“Aku ga janji datang!”

“Sebaiknya kau datang, karena aku ga akan pulang sampai kau datang!”

“Jangan bersikap bodoh!”

“Kamulah satu-satunya orang yang membuatku bersikap seperti ini!”

“Jangan menyalahkanku!”

“Forever you’re ma girl, forever be ma world! You’re the only one; the only one that I’ll ever need my love is you and me! Forever you’re ma girl, forever be my world, you’re the only one. I’ll never break you heart no! So baby, don’t LET GO!!!” Minho mulai bersenandung (*np Make Love; Big Bang) merayu Chae Ri yang hanya memutar bola matanya.

“Oke, aku senang kau bersikap begini. Tapi keputusanku ga akan berubah! Kita memang ga bisa bersama! Mengerti?” Chae Ri melipat tangannya angkuh.

“Oh ya? Aku ga yakin!!” Minho menampilkan senyum penuh artinya.

“Terserah! Yang jelas apapun yang terjadi, aku akan tetap pada keputusanku!” dengan penuh percaya diri Chae Ri tersenyum, seakan ia dapat membuang segala perasaannya dengan sikapnya itu.

“Aku berani bertaruh kau pasti akan semakin menyukaiku! Akan kubuat kamu menyukaiku!” kecam Minho sambil menampilkan senyum manisnya itu. Chae Ri menyipitkan matanya, Minho juga percaya diri bahwa ia bisa membuat Chae Ri merubah keputusannya.

Suasana ramai tampak terdengar dari gedung olahraga, yah anak kelas IPA 2 sedang berolahraga disana.  Termasuk Kim Chae Ri yang sedang asyik bermain basket di lapangan bersama teman-teman sekelasnya.

“Chae Ri pass bola ke aku!!” teriak salah seorang temannya, dengan sigap Chae Ri lantas melempar bola itu. Namun sayang, lemparannya kelewat jauh hingga malah membentur kepala seseorang!!

“Aww!” seorang cewe meringis kesakitan seraya memegangi kepalanya.

“Oops!! Sorry, gwaenchanikka?” Tanya Chae Ri sambil mendatangi yeoja itu.

“Omo!! Hidungmu berdarah!!! Kau baik-baik saja? Ayo kita ke ruang kesehatan, Fany-ah!!” Seru Chae Ri sambil menarik tangan Tiffany. Mereka langsung menuju ke ruang kesehatan.

“Mianhae…aku tak sengaja…” Chae Ri menyesal dan hanya bisa menunduk.

“Rasanya aneh sekali, berbicara denganmu di sekolah! Yuri-ah!” seru Tiffany sambil menyeka darah di hidungnya.

“Benarkah? Yah rasanya memang aneh! ini pertama kalinya bukan?” Chae Ri tersenyum. Mereka sampai ke ruang kesehatan dan disambut oleh seorang namja tampan, siapa lagi kalau bukan Kim Jong Woon alias Yesung.

“Ah, Chae Ri-ah ada apa? Kau sakit? Atau kangen padaku? Hehe..” Tanya Yesung sambil bercanda.

“Aniy oppa, aku hanya mengantar temanku.” Jelas Chae Ri malu-malu, Yesung tersenyum melihat Tiffany yang tersenyum kaku. Ah suasananya begitu janggal.

“Ini! Seka pakai ini dulu!” Yesung langsung mengambil kapas dan obat dan memberikannya pada Tiffany.

“Kenapa bisa sampai terluka begini sih?” Tanya Yesung.

“Ah itu kesalahanku oppa! Karena aku melempar bola padanya!” jelas Chae Ri.

“Aish!! Kamu ini dasar trouble maker!” ejek Yesung sambil mengacak-acak rambut Chae Ri, Tiffany hanya tersenyum janggal melihat keakraban Chae Ri dengan namja itu. Bukannya Chae Ri masih pacaran dengan Minho? Ya walaupun itu Cuma pura-pura, tapi masa Chae Ri tipe orang yang suka selingkuh? Maksudnya, kalau ia membantu seseorang biasanya ga penah setengah-setengah. Kalau dia pura-pura pacaran, maka iapun ga setengah-setengah juga.

“Aish oppa! Jangan rusak rambutku!” rajuk Chae Ri sambil merapikan rambutnya.

“Ah ya kalian pasti belum kenalan kan? Oppa kenalkan dia adalah Tiffany, salah satu member FF! Fany, dia adalah mahasiswa yang magang disini, namanya Yesung!” seru Chae Ri memecah kejanggalan yang ada.

“Yesung imnida, senang bertemu denganmu Fany-ah!” sapa Yesung dengan senyumnya. Fany hanya memberikan eye smiling andalannya sebagai balasan. Ah ada suara ringtone hp, sepertinya itu milik Yesung.

“Kau akrab sekali dengannya Yuri-ah!” ujar Tiffany sambil menyikut perut Chae Ri saat Yesung beranjak mengambil Hpnya dan menerima telepon.

“Ah aniya! Kau ini! Dia itu memang baik sekali, jadi wajar kalau aku mudah akrab dengannya!” sangkal Chae Ri.

“Kau yakin hanya itu?” goda Tiffany.

“Yaah! Memang Cuma itu tau, memangnya apa?”

“Hmm, mukanya familiar, rasanya aku pernah melihatnya sebelum ini…” Tiffany berusaha mengingat.

“Benarkah? Kok aku ga merasa begitu?”

“Kamu kan tinggal di Busan, makanya ga tau apa-apa!” sindir Tiffany.

“Yaah! Kau ini…” rajuk Chae Ri, Tiffany malah tertawa senang.

“Tapi serius! Rasanya aku memang pernah melihatnya! Tapi dimana ya? Kapan?”

“Apa jangan-jangan dia itu stalkermu?” canda Chae Ri sambil tertawa.

“Aniya, masa sih? Kok dia bersikap biasa aja tadi?”

“Iya yah, dia bahkan tidak tau kamu…”

“Hmm, siapa ya?”

“Aish lupakan saja! Otakku kepenuhan kapasitas nih, susah ingatnya! Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Minho?” Tanya Tiffany lagi.

“Kami putus!” jawab Chae Ri, Tiffany terkejut.

“Mworago?? Kenapa? Kok bisa?”

“Tidak apa-apa, kurasa Minho bisa mengerti posisiku. Aku tak mungkin mengkhianati Yoona, sahabatku sendiri kan?” jelas Chae Ri, ia tertunduk. Ah, apa ini keputusan yang benar? Kenapa ia masih merasa tidak rela?

“Bagaimana dengannya? Maksudku apa yang ia katakan?” Tanya Tiffany lagi.

“Hmm, dia bilang tidak akan menyerah. Tapi keputusanku sudah bulat.”

“Tidak menyerah? Apa jangan-jangan dia benar-benar menyukaimu?” Chae Ri hanya tertunduk. Apa ia harus menceritakan pada Tiffany? Tapi Tiffany sudah banyak tau tentang rahasianya.

“Ceritalah kalau kau ingin cerita. Aku ga akan bilang pada siapapun!” janji Tiffany saat membaca raut keraguan di wajah Chae Ri. Chae Ri menarik napas panjang.

“Iya…dia mengatakannya beberapa hari yang lalu!” jawab Chae Ri akhirnya.

“Lalu kau sendiri? Apa kau menyukainya?” Tanya Tiffany lagi. Apa yang harus Chae Ri jawab? Semua itu sudah jelas bukan? Semenjak Minho menyatakan perasaannya, Chae Ri sudah yakin bahwa perasaannya pada Minho juga sama. Tidak! Bahkan ia sudah mulai menyadari saat Minho mulai menghiasi mimpinya setiap malam. Tiffany menggigit bibirnya, ia tau jawabannya dari ekspresi Chae Ri.

“Aku harus….bagaimana? Aku…tidak ingin ini…terjadi…”

“Kau tidak benar-benar menyukainya, kan?” Tiffany menyangsikan. Chae Ri menatapnya, bola matanya mulai berair. Tiffany menutup mulutnya.

“Yoona…bagaimana dengannya? Kau tau Yoona menyukainya…” air mata Fany mulai berjatuhan. Ah! Ini dia yang paling ia takutkan!

“Maaf! Maaf! Aku memang payah, aku bodoh dan sangat jahat!” sesal Chae Ri.

“Seharusnya aku tak menerima Minho dari awal! Maafkan aku!” lanjut Chae Ri lagi.

“Yuri-ah…”

“Makanya aku memutuskan Minho…” lanjut Chae Ri lagi. Tiffany hanya tersenyum simpati. Ia bingung sepertinya. Kenapa cinta segitiga itu rumit sekali? Padahal pada akhirnya mereka akan bersama pasangan masing-masing tapi kenapa mereka malah terjebak kedalam dilemma dramatis ini. Antara cinta dan persahabatan? Antara karir dan cinta? Bagaimana perasaan Yoona yang sangat mempercayai Chae Ri tapi Chae Ri malah mengkhianati Yoona dengan menyukai Minho? Bagaiamana perasaan Chae Ri merelakan orang yang disukainya demi sahabatnya? Bagaimana perasaan Minho yang telah ditolak oleh Chae Ri dengan alasan persahabatan itu?

“Hmm, mungkin itu pilihan yang bijak. Kau dan aku masih bisa cari cowo lain lagi!” canda Tiffany.

“Yah, kau ini! memangnya siapa?”

“Namja tadi boleh juga! Sepertinya dia menyukaimu, kekekek~” goda Tiffany, Chae Ri mencubitnya gemas.

“Yah! Mana mungkin kan!”

“Apanya yang ga mungkin Yuri-ah? Ga ada yang ga mungkin di dunia ini, kalau kau bisa menggodanya sedikit saja, maka aku yakin dia pasti takluk! Hahaha!”

“Takluk? Kau pikir aku ini cewe macam apa?”

“Perumpamaan…” sahut Tiffany.

“Aku ga tau, Fany-ah. Minho pasti tidak akan tinggal diam. Dia sangat sensi sama Yesung oppa!”

“Aish dasar tukang cemburu! Sudahlah jangan dipikirkan! Sabtu ini kan ulang tahunku, kau wajib datang Yuri-ah! Kita bisa cari teman kencan nanti!” Tiffany mengalihkan pembicaraan tepat saat Yesung kembali ke ruangan.

“Yuri?” Tanya Yesung bingung, sambil menatap Chae Ri yang mulai gelagapan.

“Ah tentu saja kau wajib datang!!” Tiffany lantas menempelkan Hpnya ke telinga diam-diam agar terlihat seperti sedang menelepon. Saat melihat anggukan kepala Yesung, Chae Ri sudah mulai bisa bernapas lega.

“Sepertinya aku berbakat menjadi aktris!” bisik Tiffany, Chae Ri hanya mencubitnya gemas.

“Kau ini hampir saja aku ketahuan! Jangan panggil aku Yuri!”

“Hehe…mianhae, mianhae!! Kebiasaan!”

“Sebenarnya yang lebih cocok jadi aktris itu aku, karena aku pintar sekali berakting!!” sela Chae Ri bangga.

“Huuu!!” Chae Ri tersenyum, setidaknya beban yang menghimpitnya sedikit berkurang. Ngomong-ngomong, apa kabar Minho ya? Beberapa hari ini tak terlihat batang hidungnya, apa yang sedang ia rencanakan? Ditilik dari kata-katanya dulu, bahwa dia akan membuat Chae Ri merubah keputusannya. Apa yang direncanakannya?

“Minho! Yaa! Choi Minho! Kau sudah siap belum sih?” seru Key. Minho lama sekali dandannya, sampai ia dan Jinyoung jadi bosan menunggu. Tak lama Minho keluar.

“Huh dasar Mr. perfect!” sindir Jinyoung.

“Hei menurut kalian kalau aku nembak Tiffany bakalan di terima ga ya?” Tanya Jinyoung sangsi. Key melongo.

“Hah? Sejak kapan kau suka dengan Fany noona?” Tanya Key polos.

“Sejak masih dikandungan babo!” sewot Jinyoung sambil menjitak kepala Key.

“Tiffany noona sepertinya juga tertarik padamu, terbukti dia sering menonton latihan basketmu!” seru Minho.

“Jinjja? Ah senangnya!!” Jinyoung tersenyum sambil merapikan rambutnya.

“Yaa! Jinyoung-ah jangan pacaran! Kalau kau pacaran maka Cuma aku yang jomblo disini!” rajuk Key.

“Salahmu sendiri maunya jadi jomblo abadi!” ejek Jinyoung.

“Bukannya kau bilang kau milik semua?” sindir Minho.

“Yah memang sih, aku ga mungkin hanya jadi milik 1 orang. Nanti yang lain pada marah!”

“Hwahahahah!!! Aku mau muntah mendengarnya!” ejek Minho.

“Ah aku gugup!!!” seru Jinyoung lantas menggosok-gosok tangannya.

“Semoga ditolak!” harap Key yang langsung menjadi sasaran jitakan Jinyoung.

“Kalau berharap jangan yang jelek-jelek dong!! Jangan ajarin aku menyumpahimu dong!” Jinyoung menyipitkan matanya. Mereka lantas pergi ke tempat acara. Gedung yang luar biasa megah, entah berapa juta nyewanya padahal hanya digunakan untuk ulang tahun sehari. Dekorasinya pun menarik, dengan bunga mawar putih yang berada di dalam kaca Kristal menghias di setiap sudut ruangan. Permainan warna putih dan pink susu yang lembut memanjakan mata bagi setiap undangan, belum lagi music yang mengalun lembut, dan hidangan yang tersedia yang dijamin mampu menggoyang lidah (*apa sih aku ini?)

Berpuluh-puluh orang terkenal dari kalangan selebritis hingga orang-orang penting dari perusahaan ayahnya Tiffany tampak mulai menikmati acara. Tidak berlebihan, girlband dan boyband di Korea juga banyak terlihat. Sebut aja Kara, T-ARA, F(x), 2Ne1, After School, Wonder Girls, Super Junior, SHINee, TVXQ, Big Bang, B2ast, 2AM, 2PM, MBLAQ, SS501, TMax, Nine Muses, Miss A, BEG, F.Cuz, ZE:A, Teen Top, B1A4, CNBlue, FT Island dan yang lainnya (*gak hapal).

Mereka semua sangat menawan pastinya. Mata Minho terhenti pada sosok gadis yang dibalut gaun hitam itu. Yah gadis yang dijuluki si mysterious black pearl terlihat sangat anggun dan cantik. Rambut ikal sepinggangnya diurai, ia tidak menggunakan kacamata berarti ia datang sebagai Yuri. Dilihatnya juga Yoona yang juga memakai gaun hitam, kulitnya yang pucat semakin membuat kecantikannya terasa. Kalau dilihat-lihat siapa yang lebih cantik? Yuri atau Yoona?

“Tiffany yang paling cantik kan?” komentar Jinyoung saat menangkap sosok Tiffany dengan gaun putihnya.

“Mereka semua cantik!!” jawab Minho.

“Kau tidak mengajak Chae Ri noona?” Tanya Jinyoung. Minho hanya terdiam mengamati sosok Yuri yang tertawa riang, seakan telah lupa dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Deg! Deg! Deg! Jantung Minho berdetak lebih cepat, tangannya mengepal. Ia melihat seorang namja mendekati Yuri, Minho menyipitkan matanya. Ia kenal orang itu, bukankah itu Young Bae? Salah satu personilnya Big Bang? Tapi Minho kemudian tersenyum, melihat Yuri mengabaikan laki-laki itu.

“Awas kalau kau berani selingkuh, chagi!” gumam Minho yang berjalan menuju kumpulan FF.

“Itu Minho!! Dia jalan ke arah sini! Apa dia mendatangimu Yoona?” seru Taeyeon, Yuri dan Yoona lantas menoleh ke arah Minho dengan perasaan gugup.

“Ayo Yoona, samperin!” Sunny mendorong-dorong Yoona ke depan.

“Yah! Onni! Jangan membuatku malu!” Yoona tersipu.

“Malu kenapa?” Tanya Minho dengan senyum khasnya, membuat wajah Yoona merona.

“A…aniya!!” Yoona hanya menunduk, sementara Sunny dan Taeyeon makin senang menggodanya. Sementara Yuri melihatnya dengan pandangan menahan diri.

“Saengil chukkae noona!!” Minho meyapa Tiffany yang berdiri disebelah Yuri, tanpa memandang Yuri sedikitpun.

“Yah, kau bilang dia tau rahasiamu?” bisik Tiffany pada Yuri.

“Dia memang tau, sudahlah tidak usah dibahas sekarang!” bisik Yuri.

“Kenapa kau menolak Young Bae tadi?” tanya Tiffany, Yuri hanya tersenyum.

“Annyeong Taeyeon noona, Sunny noona, Yoona noona!” sapa Minho diikuti Jinyoung.

“Annyeong Minho-ah, kau tidak bersama pacarmu?” Tanya Taeyeon, Minho hanya tersenyum.

“Aniya, sepertinya dia sedang sibuk! Kan sudah kelas 3, harusnya belajar tidak ke pesta atau semacamnya. Lagipula dia itu bodoh, jadi harus banyak belajar!” jawab Minho seenaknya, Yuri mengeraskan rahangnya tidak terima. Apa katanya? Bodoh? Enak saja!

“Ah mestinya kau mengajarinya, Minho!” timpal Sunny.

“Begitukah? Tapi dia begitu keras kepala, susah mengajari orang seperti itu!” lagi-lagi Minho bicara seenaknya membuat Yuri hanya bisa memajukan bibirnya kesal.

“Bodoh?” ejek Tiffany sambil tertawa. Yuri menyikut perut Tiffany.

“Tapi kau menyukainya, kan?” goda Taeyeon lagi, diikuti tawa renyah Sunny dan senyum paksa Yoona.

“Ne, aku sangat MENYUKAINYA!!” jawab Minho, Yoona hanya bisa tertunduk seperti kalah? Yuri mengalihkan pandangannya dengan perasaan gugup.

“Ah ya, kenalkan dia Yuri. Satu satunya personil kami yang tidak sekolah di Sung Hak. Dia ini jauh-jauh dari Busan kesini demi Tiffany!” Taeyeon memperkenalkan Yuri pada Minho.

“Busan?” Tanya Minho dengan tatapan mengejek. Yuri menyipitkan matanya.

“Dia Minho, putra dari keluarga Choi. Minho yang itu….” Taeyeon menggantung kalimatnya, sambil melirik Yoona. Yuri mengangguk.

“Ah! Kwon Yuri imnida.” Yuri menyambut jabatan tangan Minho. Pandangan mereka berbenturan, membuat detak jantung Yuri mulai tidak karuan.

“Ah, dia yang punya pacar yang mirip aku itu?” Tanya Yuri sok polos. Minho mengernyitkan alisnya.

“Kau tau soal pacarku?” tanyanya. Yuri hanya mengangguk.

“Ah, kenapa dia jadi terkenal begitu ya?”

“Mungkin karena dia sangat cantik!” jawab Yuri.

“Oh ya? Kenapa kau bisa tau kalau dia cantik. Kau belum pernah melihatnya kan?” pancing Minho.

“Yang lain bilang dia mirip aku, jadi ya cantiklah!”

“Memangnya kau cantik?” Tanya Minho lagi, Yuri mencuatkan bibirnya kesal.

“Kau menyebalkan! Pantas saja pacarmu tidak mau menemani kesini!”

“Aku sudah bilang, dia sedang sibuk. Atau kau mau aku meneleponnya sekarang?”

“Kurasa itu tidak perlu, karena ga ada hubungannya! Hati-hati, cowo menyebalkan sepertimu bisa saja membuatnya pindah ke lain hati!” Yuri melipat tangannya, sementara Tiffany yang sedari tadi di sebelahnya tau-tau menghilang. Jinyoung juga tidak ada?

“Tenang saja! Aku tau dia juga menyukaiku! Tapi kalau dia pindah ke lain hati…ya aku juga akan melakukan hal yang sama!” jawab Minho. Yuri memicingkan matanya. Apa katanya barusan? Melakukan hal yang sama? Bukannya Minho bilang menyukainya, tapi kenapa dia bilang begitu?

“Ah! Diantara Yuri dan Yoona, siapa menurutmu yang paling cantik?” Tanya Sunny sambil mengedipkan matanya ke arah Yoona. Yuri menunggu jawaban Minho, siapa yang bakal dipilihnya? Dirinya atau Yoona? Ia jadi merasa sesak saking gugupnya.

“Yoona noona!” jawab Minho membuat wajah Yoona kembali merona. Sunny dan Taeyeon bertepuk tangan saking senangnya.

“Gomawo…!” Yoona tersipu.

“Mau berdansa denganku, noona?” ajak Minho pada Yoona, tanpa pikir panjang Yoona mengiyakan ajakan itu. Yuri hanya memandang mereka dengan perasaan aneh.

“Please Chae Ri! Mereka memang serasi kan? Memang seharusnya mereka bersama!” Yuri menguatkan hatinya. Pesta dansa dimulai, Sunny dengan Key, Tiffany? Wow! Sepertinya Jinyoung sukses! Buktinya sekarang mereka berdua sedang berdansa. Lalu dimana Taeyeon?

“Kau? Kenapa bisa ada disini?” Tanya Taeyeon pada seorang namja.

“Taeyeon-ah?”

“Sudah lama tak berjumpa, apa kabarmu Yesung oppa?” Tanya Taeyeon pada Yesung.

“Well, tentu aku baik. Mau berdansa?”

“Yea! I’d love to!”

Yuri hanya bisa melihat Yesung dan Taeyeon yang entah kenal darimana, berdansa juga. Hanya dia yang tak punya pasangan. Kenapa tadi dia menolak ajakan Young Bae ya? Hhhh…rasanya sedikit menyesal. Padahal Young Bae lumayan juga!

“Aku keluar saja deh!” gumam Yuri sambil pergi ke beranda. Malam berbingkaikan bintang yang berkelap menghias angkasa membuat hati Yuri senang. Ia sangat suka bintang, begitu cantik dan anggun. Yah, Yuri sangat mengagumi bintang, yang mampu memancarkan cahayanya sendiri, dan menjadi penerang jutaan penduduk dunia. Ia ingin seperti bintang. Menit demi menit dihabiskannya dengan memandang salah satu ciptaan Tuhan yang begitu indah.

“Noona, kenapa sendirian begini? Ga punya pasangan ya?” seru seseorang mengejutkan Yuri.

“Mi..Min…Minho?”

“Mau apa kau kesini? Jangan bicara padaku! Mereka akan curiga!”

“Aku hanya ingin menemanimu!” Minho lantas berdiri disamping Yuri.

“Aku…ga butuh! Sebaiknya kau masuk, Yoona pasti mencarimu!” Minho menatap Yuri yang tertunduk.

“Benarkah? Kenapa wajahmu seperti orang patah hati begitu noona?” goda Minho.

“Bukan urusanmu!” kesal Yuri

“Ah kau cemburu melihatku dengan Yoona noona?”

“Aniya! Kalian sangat serasi, buat apa aku cemburu? Memangnya cemburu itu penting? Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa, ingat itu!” sangkal Yuri.

“Benarkah? Hmmm…” Minho memandang langit malam yang indah.

“Bintangnya berkilauan, cantik sekali..” gumamnya, Yuri memandangnya.

Ada satu bintang yang lebih berkilauan disini, sangat indah namun begitu sulit digapai. Hanya dengan memandangnya saja. Yah, semua juga tau. Tidak ada manusia yang sempurna didunia ini. Tapi dengan memandangmu, aku hanya bisa pada 1 kesimpulan. Apa Tuhan telah membuat pengecualian? Aku tau aku salah! Yah aku salah jika terus memandangmu. Karena perasaanku akan semakin mengakar kuat. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku ingin menatapmu, aku ingin bersamamu. Biarkan aku mencintaimu, biarkan aku memandangmu malam ini. Kenapa ini semua terjadi? Aku seharusnya tidak begini, aku tau! Tapi aku hanya manusia biasa, aku tak sanggup melawan kuasa Tuhan atas perasaan ini. Yuri menunduk, menyadari pikiran konyolnya. Yah, perasanku semakin menjadi-jadi.

“Kau tau tidak?” Minho memecah keheningan.

“Bagiku kau seperti bintang! Sangat cantik, berkilauan namun susah didapat!” lanjutnya, Yuri hanya terdiam. Padahal tadi ia malah berpikir Minholah bintang itu.

“Tentu saja aku bintang, aku kan artis!” jawab Yuri tenang.

“Haha, kau benar!”

“Makanya, jadilah bintang hatiku!!” ingin sekali Minho mengatakan hal itu. Namun ia sadar, ia tak mungkin menyakiti Yuri, dengan membiarkannya bersamanya dan mengkhianati sahabatnya sendiri.

“Ah, aku mau masuk!! Disini dingin sekali!” seru Yuri yang lantas masuk. Minho menatapnya misterius.

“I don’t wanna be without you, girl…” gumam Minho di tengah kepedihan.

I don’t care what anyone says. No matter who curse at me. I will only look at you. If I’m born again, it’ll still be you. To me it’s you. If it’s wrong to love you, then ma heart just won’t let me be right. Aku ingin tetap berada disisimu, tak peduli kau membenciku. Aku akan tetap ada, sampai kau mengatakan kau tidak memerlukanku. Sampai kau katakan kau bosan denganku. Tidak! Aku akan tetap ada untukmu, meski kau bosan sekalipun.

Jam sudah menunjukan pukul 11 lewat 10 menit. Minho masih duduk di bangku taman dengan setia, dengan mawar putih di tangannya. Kenapa Chae Ri belum datang ya? Sudah lewat sejam dari waktu yang dijanjikan, apa dia lupa? Atau dia memang tidak mau datang?

“Dia menolakku?” gumam Minho dalam hatinya, sebenarnya ia gelisah. Tapi apa yang bisa ia lakukan selain menunggu?

Menit demi menit berlalu, jam demi jam. Berulang kali Minho melirik jam tangannya. Orang-orang lalu lalang, menatapnya aneh. Jam berapa sekarang? Masih belum ada tanda-tanda juga Chae Ri datang. Minho menghela napasnya. Apa ia pulang saja? Sepertinya Chae Ri benar-benar tidak datang? Mawar putih yang sedari tadi masih segar kini malah tampak layu.

“Jam 5 lewat 35?” desah Minho. Sudah 7 jam ia duduk dan menunggu. Tapi Chae Ri malah tak ada. Apa benar Chae Ri tidak ingin kencan dengannya? Minho menutup matanya, kenapa? Kenapa harus begini? Kenapa menyukaimu itu terasa perih? Ringtone Hp Minho berbunyi, salah satu pembantunya menelepon. Tapi Minho malah mengabaikannya. Ia masih ingin menunggu Chae Ri meski hatinya pasrah. Tapi lagi-lagi Hpnya berbunyi, sepertinya memang ada masalah. Minho mengangkatnya dengan malas. Ternyata, pembantunya mengatakan bahwa ayah Minho barusan menelepon katanya ia akan pulang hari ini, jadi perjodohannya akan dimajukan jadi seminggu lagi!!

“Ah apa yang harus kulakukan?” bisik Minho.

“Kau masih disini?” panggil seseorang, Minho mendongak kemudian tersenyum.

“Akhirnya kau datang juga, apa kau tersesat chagi?” Tanya Minho pada Chae Ri. Chae Ri hanya tersenyum, gaun putihnya menari-nari tertiup angin.

“Bunga itu untukku?” tanyanya. Minho lantas memberikannya.

“Tentu saja untukmu, maaf sudah agak layu…”

“Ayo kita pergi!” ajak Minho. Ia lantas menggandeng tangan Chae Ri. Aneh sekali? Chae Ri bahkan tidak keberatan sama sekali.

“Kau cantik sekali, chagiya…” puji Minho. Mereka berdua duduk ditepi sungai Han, hanya duduk dan kemudiam kembali membisu.

“Perjodohanku dipercepat…1 minggu lagi..” Minho memecah keheningan.

“Oh ya? Kau sudah bicara pada Yoona?” Tanya Chae Ri.

“Tentang?”

“Tentu saja, dialah yang akan menggantikanku membatalkan perjodohanmu!”

“Berhenti membicarakannya!” tegas Minho, ia kesal kenapa Chae Ri selalu mengungkit masalah Yoona.

“Kenapa?”

“Apa kau bodoh? Kau menyuruhku dengannya padahal kau tau aku hanya menyukaimu!!”

“Kau juga pasti akan menyukainya, Yoona itu gadis yang sangat baik, anggun dan menyenangkan!”

“Aku tidak suka dengan gadis yang anggun, aku lebih suka gadis yang apa adanya sepertimu! Mengertilah!”

“Hhaha, kau salah pilih orang, Minho! Kau tau aku ini bodoh? Bukankah kau sendiri yang bilang?”

“Aku tau…!”

“Aku ga bisa masak!”

“Aku juga tau itu!”

“Kenapa bisa tau?”

“Tampangmu itu memang ga bisa masak! Aku heran, gimana nanti kau menikah jika kau ga bisa masak sama sekali?”

“Aku nanti akan menikah dengan orang kaya! Jadi punya pembantu, dan tidak perlu memasak!” sela Chae Ri.

“Aku adalah orang yang tepat berarti…” senang Minho.

“Aku….”

“Karena itulah aku menyukaimu. Meski memiliki banyak kekurangan, kau selalu berusaha dan berjuang untukku. Aku menghargainya.”

“Gomawo…” Chae Ri tertunduk, ia senang.

“Ngomong-ngomong, kau sudah pernah pacaran sebelum ini?” Tanya Minho tiba-tiba.

“Aish! Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Loh ga apa-apakan? Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat saja!”

“Aniya, itu rahasia!” tolak Chae Ri. Minho mencubit hidung Chae Ri gemas.

“Aku juga akan memberitahumu!”

“Janji?”

“Janji! Sayang…” Minho tersenyum.

“Oke, jadi kau pernah pacaran?” ulang Minho.

“Ne…”

“Kapan? Dengan siapa? Berapa kali? Berapa lama?”

“Banyak sekali pertanyaanmu!”

“Jawab saja!” ujar Minho.

“Oke, sekali. Waktu SMP kelas 3 sampai SMA kelas 1 dengan teman masa kecilku.” Jawab Chae Ri.

“Siapa?”

“Kau ga tau orangnya. Percuma saja ku kasih tau!”

“Siapa? Seperti apa orangnya?”

“Oke, namanya Kwon Jiyong. Dia orangnya baik, manis dan begitulah pokoknya!”

“Siapa yang lebih ganteng? Aku atau dia?” Tanya Minho.

“Aku ga tau…”

“Kau pernah ciuman dengannya?” Tanya Minho. Chae Ri lantas memukul lengannya.

“Yaah!! Kau ini apa-apaan! Itukan privasi! Jangan bertanya hal memalukan begitu tanpa malu-malu!”

“Aku Cuma bertanya…”

“Aniya, aku ga pernah. Aku hanya akan mencium suamiku saja!” jawab Chae Ri akhirnya.

“Kalau gitu aku akan jadi suamimu…” manja Minho, Chae Ri memutar bola matanya.

“Sekarang giliranmu!! Hmm, aku tau kau tak pernah pacaran. Tapi apa kau pernah menyukai seseorang sebelum ini?” Tanya Chae Ri.

“Aniya…bagiku hanya ada belajar! Aku tidak pernah memikirkan hal itu!” jawab Minho.

“Jadi aku yang pertama?” tanya Chae Ri malu-malu.

“Ne! tentu sja kau yang pertama dan yang terakhir!”

“Aneh sekali! Ah begini saja, apa ada orang yang kau benci?”

“Ada!” pendek Minho.

“Siapa?”

“Dia adalah sahabat ibuku sejak SMA, aku sangat membencinya. Karena dialah yang membuat keluargaku hancur!”

“Memangnya apa hubungannya?” kening Chae Ri berkerut.

“Dia adalah selingkuhan ayahku…” jawab Minho.

“Minho, mianhae…”

“It’s ok…”

“Yah, aku masih kecil saat mengetahuinya. Orang tuaku hampir setiap malam bertengkar!” mata Minho menerawang. Chae Ri hanya menggigit bibirnya. Apa benar ia boleh mendengar ini?

“Ayahku seorang workaholic, emosinya sangat tidak stabil. Ia sering berbuat kasar pada ibuku! Dia bahkan pernah menampar…”

“Minho, kau baik-baik saja?”

“Ne, tapi ibuku selalu sabar dan mengatakan padaku kalau mereka tidak ada masalah…”

“Suatu hari, saat ibuku baru pulang mengantarku. Ia melihat ayahku di kafe bersama seorang wanita. Yah, wanita itu sahabat ibuku waktu SMA.”

“Tau darimana kalau mereka sedang selingkuh?”

“Aku ga yakin, yang jelas wanita itu pernah pacaran dengan ayahku waktu SMA. Dan aku tau, wanita itulah yang disukai ayahku. Mungkin sampai sekarang!”

“Ibuku marah, dan pergi ke klub untuk menghilangkan penatnya. Ketika ia pulang, dalam keadaan mabuk berat. Terjadi kecelakaan yang membuatnya koma!”

“Minho??”

“Hmm, ibuku sempat sadar dan meminta maaf padaku. Juga pada sahabatnya, aku tak tau apa-apa saat itu.”

“Ayahku merasa terluka, dan tidak pernah mau membahas tentang ibuku lagi! dari situ aku sadar bahwa dialah penyebab ke…kema…kematian ibu…ku…hiks!” Minho menyeka air mata di sudut matanya.

“Minho, maaf…aku membuatmu mengingat semuanya…” sesal Chae Ri. Minho menatapnya kemudian tersenyum.

“Gwaenchana noona…aku senang membagi dukaku bersamamu. Selama ini, semuanya terasa menghimpit…aku tidak tau harus bagaimana…”

“Aku akan tetap menjadi pendengar setiamu!” hibur Chae Ri, Minho mengelus kepala Chae Ri.

“Tetaplah disisiku, aku membutuhkanmu…” bisiknya. Chae Ri menyandarkan kepalanya di dada Minho. Apakah ini salah? Kalau aku boleh egois, aku juga ingin berada disisimu.

Ringtone Hp Minho berbunyi.

“Angkat saja!” suruh Chae Ri, mau tak mau Minho mengangkatnya. Ternyata dari ayahnya, sudah pulang dan menyuruhnya cepat pulang.

“Kalau gitu, aku ingin memperkenalkanmu dengan ayahku!”

“Minho, itu kan ga mung…!”

“Ssst!! Kkaja!” Minho menarik tangan Chae Ri ke mobilnya, matahari terbenam dengan indahnya.

“Kau punya saudara?” Tanya Minho basa basi.

“Ga, aku anak tunggal, tapi aku punya sepupu yang sudah kuanggap sebagai dongsaengku sendiri.”

“Oh ya? Siapa namanya?”

“Namanya Shin Rana! Aku biasa memanggilnya Rana.”

“Oh ya? Dia tinggal dimana?”

“Di Busan!!”

“Oh ya? Seperti apa orangnya?” Tanya Minho.

“Hmm, dia cantik sekali. Tapi mungil, tingginya hanya 160 cm. Dia lumayan pintar, dan sangat suka memasak. Tapi sangat payah dibidang seni, padahal ibunya model dan ayahnya fotografer. Yah, dia memang memiliki daya tarik tersendiri sih!”

“Apa?”

“Pipinya! Benar-benar chubby!!” senang Chae Ri.

“Aku suka sekali mencubit pipi gendutnya itu, tapi dia pasti akan sangat marah kalau ada yag mengomentari ukuran pipinya. Hahaha…”

“Memangnya sebesar apa?”

“Dia sering dijuluki rombong bakpau oleh teman-temannya!”

“Oh ya? Haha?!! Dia kelas berapa?”

“Dia masih SMP! Mungkin dua tahun dibawahmu, Minho?”

“Ah…bisa nih!” senang Minho.

“Yah, kau mau selingkuh dengan anak dibawah umur?”

“Ah aniya, chagi…aku ga akan selingkuh kok! Jangan cemburu, hehe…” Minho terkekeh, Chae Ri lucu sekali kalau dia cemburu begini.

“Siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu!” Chae Ri menggembungkan pipinya, Minho mengacak-acak rambut gadisnya dengan gemas. Ah sayang sekali kalau hari ini harus berakhir. Akhirnya mereka sampai dirumah keluarga Choi, yang bisa dibilang lebih mirip istana itu. Rumahnya cukup besar, dengan halaman yang luas. Garasinya saja, seperti show room mobil. Ckckck, namanya juga orang kaya.

“Bagaimana kalau aku jadi Yuri saja?” usul Chae Ri.

“Mwo? Waeyo chagi? Cukup jadi Kim Chae Ri saja…”

“Aish, aku malu! Kau sangat kaya, sedang aku hanya gadis biasa. Kalau Yuri kan bukan!”

“Percayalah jagiya! Aku ga peduli orang bilang apa, yang penting kau percaya padaku itu sudah lebih dari cukup!” Minho menatap mata Chae Ri dalam-dalam.

“Ayahmu, mungkin akan setuju jika aku adalah Yuri. Secara Yuri kan bukan artis biasa!” timpal Chae Ri keras kepala.

“Lalu?”

“Perjodohannya batal! Kalau aku hanya orang biasa kecil kemungkinan ayahmu akan bersedia membatalkan perjodohanmu!” Minho tampak berpikir, Chae Ri ada benarnya juga.

“Bagaimana?”

“Terserahmulah sayang! Tapi kalau ayahku setuju membatalkan perjodohan. Kau harus mau menikah denganku!”

“Mwo? Kenapa jadi begitu?”

“Iya donk!”

“Jangan-jangan, kau memang sengaja menjebakku? Agar aku mau menikah denganmu!!” tuduh Chae Ri.

“Hahaha, itulah tujuanku yang sebenarnya…”

“Ah dasar namja babo!! Dang it!!” Chae Ri menggembungkan pipinya.

“Hwahahahahaha!!” Minho mencubit kedua pipi Chae Ri.

“Ah aku jadi nerveous!” gumam Chae Ri sambil melepas kacamatanya. Ia merapikan rambutnya sedikit dan tada…ia menjadi Kwon Yuri!

“Kita latihan dulu…” ajak Yuri.

“Panggil aku Yuri!” pinta Yuri pada Minho.

“Jagi…!!” ngeyel Minho.

“Aish! Kau ini! Kubilang panggil aku Yuri!” rajuk Yuri.

“Ne, ne…Yuriku tercinta…” goda Minho, Yuri tersenyum malu. Aw Boy!! Mereka berdua masuk.

“Minho darimana saja kau?” taya ayahnya Minho, Mr. Choi Siwon.

“Ah aku baru saja pulang dari kencan bersama pacarku…” jawab Minho dingin. Ayahnya melihat ke arah Yuri, dahinya berkerut. Rasanya ia mngenalnya? Yuri tersenyum sopan. Yess!! Ayah Minho tampak mengenalinya, ternyata idenya menjadi Yuri ga salah kan?

“Pacar kau bilang? Jangan bercanda!! Kau akan dijodohkan!!” seru ayahnya, marah.

“Aniya! Aku tidak mau! Aku sekarang punya pacar! Ayah tak berhak menyetir kehidupanku!”

“Tidak!!”

“AKu ga peduli! Kwon Yuri adalah pacarku sekarang!” seru Minho tak kalah nyaring.

“Kwon…Yuri?” seru seseorang kaget. Yuri dan Minho melihat ke arah orang itu. Alangkah terkejutnya mereka, melihat siapa gadis cantik berambut gelombang itu.

“Dia adalah putri keluarga grup Asan, Im Yoona! Orang yang akan dijodohkan denganmu!!” sahut ayahnya Minho, seakan menjawab pertanyaan mereka kenapa Yoona ada disini. Oh Boy!!! Bukannya perjodohan masih seminggu lagi? tapi kenapa? Yoona?

TBC~

oke deh segitu dulu ya yng bisa di post hri ini. share apapun yng ada di pikiran kalian ttng FF ini. KRITIK dan SARANnya juga untuk kemajuan dlm pembuatan karya2 berikutnya, gomawo readers^^

Posted 24 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , ,

4 responses to “[FF] Let Go *Part 6*

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ternyata calonnya Minho itu Yoona,ya? Wah,wah! Lanjutkan,author. Penasaran^^

  2. waha author aku doain semoga cepet sembuh dech jd bs nls ff n post y cptan
    d tunggu y lanjutannya penasaran nich itu cerita y bkal gmn?

  3. Makin seru aj nih..
    lanjut y,..

  4. ne, gomawo udah baca^^
    author akan post lanjutannya secepat mungkin….so, tunggu aja ya^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: