[FF] A Dream *Part 4*   3 comments


annyeong ^^

author kembali dgn update-an FF yng a dream

moga pada suka ya^^

.

A DREAM

Author: d_na

Length: 4 of ?

Genre: romance, fiction

Main Cast:

Jung Hyorin as you

Choi Sulli

Lee Taemin

Cha Sun Woo aka Baro

 

==============O==============

[Hyorin POV]

Aku tau aku gila! Bukan. Bukan aku yang gila!! Hanya saja, kenapa umma tak pernah mempercayaiku? Kenapa aku selalu dianggap seperti anak kecil olehnya? Aku ingin sekali bilang bahwa, ‘hello mom usiaku sudah hampir menginjak 17 tahun!! Masih tidak mempercayaiku juga?’ Huh!! Kurasa beragumen sekuat apapun percuma, tak mungkin aku membantah omongan wanita yang telah melahirkanku itu.

“Yaa!! Ppali!! Kau ini lambat sekali jalannya! Dasar kura-kura!” Cih! Suara menyebalkan ini, selalu saja main perintah seenaknya!! Memang dia pikir dia siapa? Aku mempercepat langkah dan mensejajarkannya dengan makhluk gila ini. Kami sedang menyusuri pertokoan, mencari kado buat sahabatku. Dan yang sangat menyebalkan adalah aku harus mencarinya dengan makhluk ga jelas ini, dengan alasan yang sangat sangat sepele dan tidak masuk akal kurasa. Karena umma takut aku kenapa-napa!! Cih!

“Bagaimana kabar ramuannya, ya?” gumamnya sambil menatap langit. Aku terpaksa menoleh ke arahnya.  Wajahnya terlihat sangat kesepian, apa dia rindu dengan keluarganya? Teman-temannya sesama shinigami? Aniy, memangnya shinigami punya keluarga juga?

“Sedang mikir apa sih?” Tanya Baro. Eh? Dia mengajakku bicara?

“Aniy…”

“Ga usah bohong deh!”

“Memang lagi ga mikirin apa-apa kok, kenapa kau maksa gitu sih?”

“Ya, benar juga sih. Dalam kepalamu itu kan memang ga ada apa-apanya!!” ejeknya sambil menjulurkan lidah.

“Sial! Dasar jelek!! Hamster gila!!”

“Mwo??”

“HAMSTER GILA!!” ulangku lagi. Dia menarik pipiku dan mencubitnya.

“Aw sakit tau! Babo!” kesalku sambil memukuli tangannya.

“Rasakan! Makanya jangan suka mengolokku! Dasar gendut!!” balasnya dengan senyum jahat nan mesum andalannya itu. Aku menggembungkan pipiku, dia menghela tawanya. Aku menyipitkan mataku. Dasar hamster gila! Kau pikir tawa mu itu enak untuk didengar?

“Apa?” tanyanya galak. Aku memutar bola mataku, berusaha untuk mengacuhkannya dan mulai memandang berkeliling pertokoan yang sangat ramai. Aku merasa banyak sekali orang-orang yang memperhatikan kami, tapi setelah ku perhatikan ternyata Baro lah yang mereka lihat sejak tadi. Apa dia sepopuler itu? Cih! Apa bagusnya makhluk itu?

“Sepertinya banyak yang mengincarmu!” gumamku pelan.

“Hah?” tanyanya. Omo!! Apa yang barusan kau katakan, Hyorin? Aku jadi malu sekali setelah mengatakannya, pasti dia bakal berpikir yang aneh-aneh deh.

“Babo! Payah!” gumamku sebal. Nae neun babo babo babo! Aku merutuki diriku sendiri. Argh!!!

“Kau bilang apa barusan?”

“Eh? Anu itu…Itu, bagus banget gelangnya!” sahutku mengalihkan pembicaraan. Baro melihat apa yang kutunjuk. Sebuah gelang perak yang ada bintangnya, manis sekali. Aku berani bertaruh Sulli pasti akan sangat menyukainya.

“Ini? Gelang? Memangnya kamu perempuan?” ejeknya dengan pandangan illfeel yang dibuat-buat, aku mendengus.

“Tentu saja aku perempuan, kau buta ya? Oppa saja bilang aku ini cantik!” sahutku bangga.

“Ya, terserahlah! Perempuan kasar yang suka memukul orang lain sepertimu ini cantik dari mana sih?”

“Aish menyebalkan!” rajukku.

“Mungkin oppamu itu yang buta!” ejeknya lagi.

“Kamu kenapa sih? Jangan mengatainya seperti itu!”

“Ne, terserahmu saja!” ujarnya kesal, lalu kami tak banyak bicara lagi. Apa-apaan sih dia? Apa dia kesal padaku? Apa aku salah ngomong lagi? Apa yang harus kulakukan? Aku benci kebisuan seperti ini.

“Baro, kita foto yuk!” ajakku dengan segala keberanian yang kupunya.

“Hah?”

“Foto di sana!” tunjukku pada tempat yang sangat ramai disudut sana.

“Shireo! Seperti anak kecil saja foto sama badut!” tolaknya, aku menggembungkan pipiku.

“Itu bukan badut dasar payah! Itu mascot kota ini tau! Kan bisa jadi kenang-kenangan kalau kita pernah ke sini! Seenggaknya kamu bisa pamer sama teman-teman shinigamimu kalau kau pernah tinggal di dunia manusia!”

“Kubilang ga ya ga! Lagipula di sana terlalu banyak orang!”

“Aish, so what? Banyak orang aja kok, memangnya kamu malu ya?

“Kamu ga malu?” tanyanya balik, aku menggeleng. Ekspresi wajahnya berubah, aku jadi salah tingkah sendiri.

“Hyorin-ssi dengar, aku tidak punya keluarga atau teman-teman seperti dalam bayanganmu itu! Dunia Shinigami tidak mengenal adanya perasaan cinta atau benci seperti manusia!! Jadi kau tak perlu mengajakku untuk melakukan hal yang tak berguna seperti itu, arra?”

“M…mwo? Tak ada…rasa cinta kau bilang?”

“Ne, kami tidak perlu hidup dengan hal itu. Lagian ilusi semacam itu hanya akan melemahkan kekuatan kami!!”

“Jadi…kau tak tau rasanya cinta? Aniy, maksudku kau tak pernah mencintai atau dicintai?” Tanyaku lagi. Pantas saja waktu itu dia bertanya apa itu rasa suka padaku.

“Excacta (tepat sekali *bhsa spanyol*)!!”

“Kau membuatku penasaran dengan satu hal!! Hmm, kau ini dari lahirnya memang shinigami atau??” Baro menatapku aneh, tatapannya kosong. Tiba-tiba ia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.

“Ba…Baro…ini di tempat umum…lepasin, jebal!!” bisa kurasakan tubuh Baro bergetar hebat. Ada apa? Dia kenapa? Apa dia mau meledak? Aniy, Hyorin!! Apa yang kau pikirkan? Memangnya dia werewolf atau semacamnya?

“Baro, kau baik-baik aja?” tanyaku dengan ekspresi khawatir. Apa-apaan dia? Kenapa dia memelukku di tempat umum begini? Aku masih bisa terima kalau shinigami tak punya rasa cinta atau benci, tapi apa shinigami juga tak punya URAT MALU?? Sial!! Kenapa lagi-lagi tubuhku tak mau bergerak sesuai perintah otakku? Yaa!! Bergeraklah Hyorin! Merontalah kau, atau setidaknya minta tolonglah!! Jangan mempermalukan dirimu sendiri di depan umum begini! Ugh!! Sial! Aku tau Baro itu laki-laki, tapi kenapa dia begini kuat??

“Mian…” Baro melepaskan pelukannya, kemudian membuang wajahnya. Dari ekor mataku, bisa kulihat ekspresi ketakutan dan tersiksa itu. Apa yang terjadi? Apa masa lalu Baro sebelum menjadi shinigami membuatnya begitu trauma sampai ia tak mau mengingatnya kembali? Makanya dia memasang ekspresi seperti itu?

I only said it because I wished to smile.

Why can’t you understand how I feel?

I promised myself but again, Im crazily in love.

It’s gripping me viciously and controlling me.

I am standing where you left

And I am still watching you

It hurts so much, when we will ever become strangers?

Aku terkejut, menyadari sekelompok pemusik sedang menyanyikan lagu yang begitu sedih. Baro berhenti ketika melihatku berhenti.

“Kamu cape?” aku mengangguk. Kami duduk di kursi taman, aku memperhatikan sekelompok penyanyi itu lagi.

“Hei, cowok itu cakep banget ya?” bisik cewe-cewe di dekat pohon ketika melihat Baro, kulirik Baro yang tetap stay cool. Lagi-lagi.

“Tatapannya ga nahan! Lihat deh, manis ya kayak bintang film aja!” seru yang satu lagi.

“Eh iya ya! Eh siapa itu yang duduk di sebelahnya? Pacarnya ya?”

“Masa sih? Ga COCOK banget deh!” lalu mereka tertawa cekikikan, ugh! Aku jadi makin sebal mendengarnya. Baro mungkin juga berpikir seperti itu, kalau aku ini ga bakal pantas untuknya. Aku ini sama sekali ga manis dan sangat kasar! Tunggu!! Kenapa aku berpikir begitu? Peduli apa aku dengan pendapat Baro? Kenapa aku berkata kalau aku tak pantas untuknya? Apa aku tertarik padanya? Andwae!! Andwae!!! Jangan pikirkan itu Hyorin!! Lupain yang barusan! Anggap aja ga pernah terlintas dipikiranmu!!

“Aku mau ke sana sebentar!” sahut Baro, aku tidak mendengarnya karena terlalu sibuk dengan pikiran-pikiranku.

“Eh ternyata bukan pacarnya, ya? Haha bagus deh, kasihan yang cowo dong! Bakal MALU jalan sama cewe itu!” bisik mereka lagi, membuat aku benar-benar naik darah. Aku berkonsentrasi dengan para pemusik jalanan itu untuk mengalihkan pikiranku.

You, you probably dont know

Little by little, we are disappearing from you

Even if I put you back in my life

Because my heart is worn out

Words like love are starting to fade away

Aku jadi terharu dengan lirik-lirik lagu tersebut. Maknanya dalam, mereka benar-benar pemusik berbakat.

“Eh jadi nama kamu Sun Woo?” aku menoleh, ternyata cewe-cewe itu lagi. Mereka sedang bicara dengan Baro. Namun Baro tidak begitu menggubrisnya.

“Siapa sih cewe itu!” tunjuknya pada Baro, Baro melihat ke arahku. Aku langsung membuang mukaku dengan perasaan tak karuan. Kenapa Baro bicara dengan mereka sih? Kukira Baro itu cowo yang cool ternyata dia sama saja dengan yang lainnya, playboy! Aku benar-benar tidak suka melihatnya ngobrol dengan segerombol perempuan aneh yang suka menggodanya itu. Aku benci!!

The pain doesnt wash away

Although I tried several times to endure it,

It’s so hard to live day by day without you.

You’re my life…

“Hyorin-ssi, kau haus kan?” tiba-tiba Baro berdiri di depanku, dia membawa dua cone ice cream. Cih! Kau pikir bisa menyogokku dengan ice cream? Dasar Baro bodoh!! Hamster gila!! Shinigami mesum! Hhhrrr!

“Yaah! Kau tidak mau? Ini enak lho!” dia menjilat ice creamnya dengan tampang yang ehm sangat imut? Yak!! Apa yang kau pikirkan barusan Hyorin? Kau bilang namja ini IMUT??? Kau sudah gila?

“Shireo!! Ice cream hanya akan membuatku gendut!!” ketusku. Dia memandangku bingung. Kemudian terus menjilati ice creamnya dengan cuek. Seakan tak ada aku disampingnya. Sial!! Apa dia tidak ingat padaku? Setidaknya cowo normal pasti akan menawari sekali lagi, ditambah sekarang aku sangat lapar! Apa dia tak peka?

“Aku….penasaran suatu hal…”

“Mwo?” tanyaku, saat kulihat lidahnya yang menjilat ice cream disudut bibirnya. Oh boy~ demi apapun yang ada di laut maupun di darat, kenapa dia tampak begitu manis dimataku? Aniy!! Dia sangat cute!! Kyeopta!!

“Apa yang kau suka dari Gong Chan?” mwo??? Apa katanya barusan?

“Eh? dia sangat…cakep!! dan keren! Selain itu dia tampak dewasa dan cukup pintar! Aku suka kepribadiannya, dan caranya tersenyum…wae?”

“Aniya…aku hanya ragu…seperti apa sebenarnya rasa suka itu?”

“Hmm, menurutku saja ya…kalau kita tertarik dengan seseorang setiap kali memandangnya jantung akan berdetak lebih kencang, wajah memerah secara spontan, dan bila ia tak ada akan terasa seperti ada sesuatu yang hilang…”

“Itu yang kau rasakan pada Gong Chan?” tanya Baro lagi. aku terdiam.

“Ne…”

“Kenapa kau tidak katakan saja?”

“Aku…malu…”

“Malu? Kau tau malu juga ternyata? Kau malu karena kau jelek, gendut dan bodoh?” ejek Baro. Cih!! Beraninya dia mengataiku seperti itu!!! Memangnya dia punya nyawa berapa??

“Lagipula, aku hanya ingin menyukainya dari jauh saja. Aku sudah puas melihat wajahnya tersenyum bahagia. Meski yah senyum itu bukan untukku. Tapi aku senang…aku berharap dia tak tau perasaanku!!”

“Wae?”

“Yah pokoknya begitu!! Kau tidak mengerti sih!!”

“Kenapa? Kau takut dia menolak perasaanmu?” Tanya Baro. Dan itu sangat sangat menohok hatiku. Aku benci, karena Baro benar! Aku takut di tolak. Aku terlalu takut.

“Jangan sedih begitu donk!” dia tersenyum menggodaku, hingga lagi-lagi membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku menggelengkan kepala.

“Aniya, buat apa aku sedih?” tanyaku bodoh. Baro berlutut di depanku, ia mengangkat wajahku dan menatapnya penuh arti. Oh my, aku ga bisa menatapnya lagi.

“Hei, apa tidak bisa pulang ke soul society tanpa jiwa mu??” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Itu ibaratkan bunuh diri. Shinigami yang mencoba menembus barrier soul society tanpa black pearl akan musnah. Bahkan kepingannya pun takkan ditemukan…”

“Benarkah? Lantas…satu-satunya jalan adalah ramuan itu?”

“Ne…shinigami bangku ke 8 sepertiku sangat sulit menjadi level komandan. Aku harus membunuh shinigami level komandan dulu, baru akan di angkat menjadi komandan! Sedangkan komandan itu sendiri selalu berada dalam soul society untuk menjaga pertahanan dari serangan joker!” jelasnya. Aku membulatkan bibirku membentuk huruf o.

“Soul society itu seperti apa?”

“Pada dasarnya sama saja dengan dunia manusia. Tempat yang sangat indah! Di dalam sebuah kubah langit yang bernama Las Noches!” (hahah nda mungkin banged).

“Apakah manusia bisa pergi kesana?” tanyaku lagi. Baro menatapku bingung. Lalu dia menjitak kepalaku. Apa??? Berani sekali dia!!

“Shinigami yang sudah jelas-jelas tinggal disana aja ga bisa masuk tanpa jiwa. Apalagi manusia?? Dasar!! Bodoh kuadrat!!”

“Yaa!! Jangan mengataiku bodoh! Kau itu yang bodoh! Sial!!” seruku. Ah ringtone hp ku berbunyi.

“Yeoboseyo? Mwo? Su…Sulli??? Otthe?” mendadak air mataku mengalir deras. Napasku sesak. Kepalaku pusing! Sulli!! Andwae!! Andwae!!!!!

“Yah? Kau kenapa?” Baro mencoba menopang tubuhku yang gemetar hebat.

“Baro!! Sulli!! Sulli dia…dia….” isakku.

.

[Author POV]

“Eung….?” Sulli mencoba membuka matanya.

“Sulli-ah, kau sudah sadar?” tanya Hyorin yang kini sedang menggenggam tangannya.

“Hyo….rin?” tanya Sulli lemah. Hyorin mengangguk seraya menyeka air matanya.

“Ne, ini aku…bagaimana keadaanmu?”

“Mmm…Sun Woo-ssi? Kenapa kau ada…disini?” tanya Sulli. Omo!! Sulli belum tau kalau Baro tinggal di rumah Hyorin selama ini! Ottokhe??

“Ah…kebetulan ketemu dengannya…yaa!! Sulli-ah! Kau benar-benar membuatku khawatir!! Kenapa hal itu bisa terjadi sih?” dumel Hyorin.

“Kenapa aku bisa ada disini?” Sulli malah balik bertanya.

“Aku yang membawamu kesini! Mianahe!! Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian Sulli-ssi!! Jeongmal Mianhae!!” Taemin menunduk. Jelas sekali kalau ia sedang menyembunyikan air matanya.

“Gwaenchana Taemin-ssi, yang jelas Sulli sekarang sudah siuman!!” hibur Hyorin. Taemin mengangguk kemudian keluar untuk mencari angin segar.

“Ugh!!! Tidak seharusnya aku membiarkannya!! Seharusnya aku bisa menjaganya!! Tidak berguna!!” Taemin mengepalkan tinjunya dan langsung menghantam tembok kayu didepannya.

Flashback

“Sulli-ssi, kau sudah bangun?” Taemin mengetuk pintu kamar Sulli. Aneh. Tidak ada jawaban sama sekali. Apa dia masih tidur? Taemin memberanikan diri untuk membuka kamar itu. Kosong. Kemana dia? Taemin lantas mulai mencari dan memanggil-manggilnya. Tetap tak ada jawaban. Akhirnya ia memerintahkan semua pembantu untuk mencari Sulli, siapa tau dia lagi kabur atau tersesat.

“Oppa? Kau sedang apa? Kau kehilangan sesuatu?” tanya Mi Hoon tiba-tiba.

“Ne, aku kehilangan Sulli. Kau lihat tidak?” tanya Taemin. Mi Hoon berdecak kesal.

“Buat apa kau mencarinya oppa? Ada aku disini. Oppa…aku sangat merindukanmu…” Mi Hoon memeluk Taemin dari belakang. Hal itu cukup membuat Taemin terkejut.

“Mi Hoon-ah, jangan seperti ini…” Taemin melepas pelukan Mi Hoon dan menatap gadis itu.

“Aku sudah pernah bilang kan? Aku tak bisa bersamamu!! Mian! Mengertilah!”

“Apa karena gadis itu?” tanya Mi Hoon kesal. Taemin membuang wajahnya.

“…”

“Oppa??” mata Mi Hoon berkaca-kaca tak percaya dengan ekspresi yang ditujukan Taemin. Ia berharap yang ia lihat ini hanyalah mimpi baginya. Sebuah mimpi yang teramat buruk. Perlahan air matanya menetes.

“Ada kebakaran di gudang tua itu!!” seru seorang pembantu. Taemin menatap gudang itu kemudian berlari kesana secepat mungkin. Entah kenapa ia merasa Sulli ada disana. Berharap semuanya belum terlambat.

“Kumohon!! Pada apapun juga! Kumohon selamatkan gadis itu Tuhan!! Kumohon!!”

“Sulli!!!” seru Taemin. Dilihatnya seorang gadis terbaring lemah dengan kedua tangan terikat di dinding oleh rantai besi.

“SULLI!!!” jerit Taemin seraya masuk ke dalam gudang itu. Ia lantas menghampiri gadis yang sudah tak sadarkan diri karena kepulan asap yang memenuhi ruangan. Sepertinya ia kehabisan oksigen. Taemin melepas pakaian yang dikenakannya dan menyelimuti Sulli. Ia mencoba membuka rantai yang membelenggu pergelangan tangan Sulli. Keras sekali. Ia terbatuk, kepulan asap semakin tebal. Pandangannya mulai kabur.

“ARGGGHHH!!!!” jeritnya sambil menarik paksa rantai itu. Bongkahan besi berapi jatuh tepat diatas mereka. Taemin dengan sigap melindungi Sulli dan membiarkan punggungnya yang terbuka itu terkena baranya. Ia mengerang pelan. Rasa sakitnya benar-benar diluar dugaan. Bayangkan saja besi panas yang mengenai kulitmu begitu saja. Tapi ia –Taemin- akan lebih sakit lagi jika melihat Sulli yang harus terluka seperti ini. Dengan susah payah Taemin menyingkirkan puing-puing bangunan di tengah panasnya api yang menghadangnya. Kepulan asap menyakiti matanya, dan serasa membakar paru-parunya. Panas dan menyengat. Ia menggendong tubuh Sulli. Sambil terus melindunginya, ia menerobos keluar sebelum akhirnya gudang tua itu runtuh.

“Bangunlah…kumohon bangunlah Sulli-ah!!” air mata Taemin jatuh berderai. Ia membaringkan Sulli di tepi sebuah  pohon.

“Maafkan aku…maaf…” sesal Taemin. Air matanya menetes membasahi wajah Sulli. Kemudian ia membawa Sulli kembali ke kamar untuk mengobati lukanya. Sepanjang perjalanan ia terus mengucapkan kata maaf tanpa henti.

End of flashback

Baro menatap Taemin dengan pandangan misteriusnya. Dalam benaknya, apakah seperti ini rasanya mencintai seseorang? Seperti Taemin kepada gadis yang bernama Choi Sulli itu?

.

“Saengil chukkae, Sulli-ah!!” seru Hyorin seraya memeluk sahabatnya.

“Ne, gomawo…” sahut Sulli lemah. Ia sedang duduk dikursi di kelilingi oleh teman-teman dan keluarganya.

“Saengil chukkae, Sulli-ssi!!” ujar Taemin seraya memberi sebuah kotak berwarna biru elektrik itu.

“Omo!! Aku lupa!! Baro!! Kadonya!!” bisik Hyorin. Baro tersenyum simpul.

“Tenang saja, nih!! Saengil chukkae, Sulli-ssi!!” ujarnya seraya memberikan sebuah bungkusan berwarna cokelat.

“Ah itu dari kami berdua!!” tambahnya lagi.

“Omona? Dari kalian berdua? Aku jadi mencurigai sesuatu!! Apa kalian sudah resmi?” tanya Sulli.

“A…aniy…kenapa kau berpikir seperti itu? Shireoyo!!” ujar Hyorin yang langsung mendapat jitakan dari Baro.

“Yaah! Dasar hamster! Kau ini! Kenapa memukulku terus sih?” balas Hyorin.

“Apanya yang ga? Kalian akrab begitu?” goda Sulli. Hyorin hanya menunduk salting. Sedang si Baro hanya nyengir-nyengir gaje.

“Sulli-ssi. Selamat ulang tahun ya. Mulai sekarang kau sudah resmi menjadi kepala keluarga Choi!!” ujar nenek.

“Ne, gamsahamnida halmoni!!”

“Kalau begitu, ayo kita makan dulu!!” ajak si nenek.

“Yaah! Apa bungkusan itu ada isinya?” tanya Hyorin khawatir. Lagi-lagi Baro menampilkan senyum imutnya. Dan sekali lagi, hal itu membuat jantung Hyorin bereaksi.

“Tentu saja bodoh!!”

“Bagaimana bisa? Sejak kapan kau? Bukankah kita?”

“Jangan meremehkan shinigami dong!!” Baro tersenyum bangga. Hyorin jadi bernapas lega. Entah dengan kekuatan shinigami seperti apa, yang jelas Baro benar-benar berjasa hari ini.

“Gomawoo Baro!!” Hyorin memeluk Baro senang. Membuat Baro jadi tak berkutik.

“Yah! Jangan memelukku disni! Dasar yeoja mesum!!” bisik Baro. Hyorin tercengang. Yeoja…mesum katanya?? Ige mwoya???

“Huaaah!!!” Hyorin lantas melepaskan diri, wajahnya merona dan terasa sangat panas.

“Yaa! Kaulah yang mesum! Dasar hamster!! Bukannya kau yang sering memelukku seenak dengkulmu? Dasar mesum!!” dengus Hyorin kesal bercampur malu. Baro terbahak, menertawakan Hyorin lebih tepatnya.

“Yaa!! Dasar jelek!! Diam kau shinigami bodoh!” rajuk Hyorin. Tapi, dasar si Baro emang rada juga ia malah makin bersemangat mengganggu Hyorin.

.

“Omo!! Itu Taemin!! Kyaa!! Taemin-ssi semangat!! Fighting!!” seru Sulli saat menonton latihan Taemin di gedung olahraga. Hyorin tersenyum simpul. Beruntungnya Sulli, kini ia dekat dengan namja yang ia suka. Sedangkan dirinya? Boro boro dah.

“Eh, tapi si Sun Woo hebat juga ya! Padahal siswa baru tapi sudah bisa masuk team sebagai cadangan! Padahal masuk team basket kan susah sekali!!” ujar Sulli, Hyorin menatap Baro yang sedang bermain basket di lapangan bersama yang lain.

Yah, kalau boleh aku mengakui shinigami mesum itu terlihat ehm KEREN?? Andwae!! Apa yang kau pikirkan Hyorin? Kerenan juga Gong Chan!! Lihat Gong Chan, Hyorin!! Lihat dia saja!! Cih, kenapa lagi nih? Kenapa mataku selalu mencari-cari sosok Baro? Padahal ada Gong Chan di sana. Cukup Hyorin cukup!! Jangan memandangnya lagi!! Buang saja matamu!! Membuang mata? Emang bisa? Err, setidaknya kau bisa menutup matamu.

“Ah menyebalkan! Kenapa aku bisa kehilangan akal sehatku begini!!?” sergah Hyorin kesal. Ia keluar dari gedung olahraga. Dia menyusuri lorong-lorong kelas yang sudah sepi itu. sepi? Wajar saja, karena sebagian besar siswanya pergi menonton latihan basket. Terlebih karena ada 3 pangeran SMA Mori disana. Siapa lagi kalau bukan Taemin, Gong Chan dan yang paling mengejutkan adalah hasil polling terakhir minggu ini Baro!! Entah kenapa dia jadi begitu popular. Mungkin karena tampang innocentnya yang sangat ehm IMUT? Ataukah karena sikapnya yang bisa dibilang err COOL?

“Aduh!! Bisakah kau tidak memikirkannya sekali saja Hyorin? Jebal jebal!!” Hyorin memegangi kepalanya bersiap untuk membenturkannya ke dinding terdekat. Ia sampai di loker milik Gong Chan. Ia menyentuh loker itu.

“Berjuanglah untuk pertandingan nanti, Gong Chan-ssi! Sampai kapanpun aku akan tetap mendukungmu!! Kau tau? Sejak awal aku sudah menyukaimu, aku bahkan bermimpi kau menjadi kekasihku…bisakah…itu terwujud? Maukah kau jadi kekasihku?” gumam Hyorin seorang diri sambil menatap loker Gong Chan. Berharap isi hatinya akan tersampaikan. Entah bagaimana caranya.

“Jadi kekasihmu? Boleh saja!” ujar sebuah suara. Eh? Eh??? Suara siapa ini? Omo!! Ada yang mendengar gumamannya tentang Gong Chan barusan??? Ada orang yang tau tentang perasaannya? Wajah Hyorin memanas, ia harus membungkam mulut namja ini. Ia berbalik dan…

MWO?????????? OMO!!! ANDWAE!!!! Kenapa Gong Chan bisa ada disini? Terlebih lagi…apa dia dengar yang barusan? Ottokhe??? NOOOOOO!!!!

.

TBC~

 

heheh, tunggu aja lanjutannya ya^^

jangan lupa RCL.a seikhlasnya readers^^

Posted 24 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , ,

3 responses to “[FF] A Dream *Part 4*

Subscribe to comments with RSS.

  1. ceritanya seru !!
    lanjutin terus iia..

  2. ini blog dwinta kan?! kenapa cast nya diganti ma sulli??!! kan seharusnya itu KWON MINTAE!!! kyaaaaaaaaaaaaa!! >>,,<< andwaaaaeeee!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: