[FF] A Dream *Part 3*   2 comments


annyeong^^

balik lagi! oke deh! nih lanjutannya ya.

selamat membaca^^

.

A DREAM

Author: d_na

Length: 3 of ?

Genre: romance, fiction

Main Cast:

Jung Hyorin as you

Choi Sulli

Lee Taemin

Cha Sun Woo aka Baro

 

============O=============

[Now Playing: Hannah Montana – This is the Life]

Yep, semua udah siap!! Hari ini aku akan kencan bersama Taemin!! Hmm, umma tolong doakan aku ya!! Aku berharap kisah cintaku akan semanis kisah cinta umma dan appa. Seperti kisah cinta Romeo dan Juliet yang abadi, yang akan terus dikenang semua orang meski mereka sudah tak ada di dunia ini.

“Taemin-ssi!!” seru Sulli sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Taemin yang tengah menunggunya. Tampak sosok sempurna bak malaikat itu menoleh dan membalas lambaian Sulli. Kemeja hitam yang dikenakannya, terlihat begitu indah dikulitnya itu. Bibir tipisnya tersenyum indah, memamerkan sederet gigi putih yang rapi. Sulli sengaja menyisakan matanya untuk terakhir ia lihat. Batu obsidian yang begitu hangat dan berkilau. Tidak ada kesempurnaan di dunia ini, tapi melihat Taemin seperti ini. Apa Tuhan telah membuat pengeculian?

”Kau sudah lama, mian aku terlambat!!” sesal Sulli.

”Aniy, kkaja!!” Taemin menggandeng tangan Sulli yang telah dag dig dug dibuatnya.

Omo?! Apa ini mimpi? Taemin menggandeng tanganku??? Kalaupun ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku! Aku berharap momen ini takkan berakhir…selamanya. Taemin-ah!! Seandainya kau adalah orang yang ditakdirkan untukku!!

Mereka berdua lantas naik mobil dan melintasi jalan-jalan di kota Seoul. Melewati lembah dan pegunungan. Tunggu dulu! Dimana ini?

Kenapa aku tidak bertanya pada Taemin kemana dia akan membawaku pergi? Tempat ini asing sekali!!

”Ehm, Taemin kita dimana?” tanya Sulli, Taemin menghentikan mobilnya, ia turun dan membukakakn pintu buat Sulli. Sedetik Sulli merasa ia seperti tuan putri saja.

”Kemarilah, sebentar lagi kita sampai!” ujar Taemin seraya menggandeng tangan Sulli, lagi!! Omona!! Mereka melanjutkan perjalanan, dan sampai di depan sebuah rumah tradisional Korea yang terkesan familiar.

”Ini? Ini rumahmu, Taemin-ssi?” tanya Sulli kagum, Taemin tersenyum misterius.

”Bukan!!”

”Heh? Jadi??”

”Kau ini mudah sekali diajak jalan sama namja yang bahkan tidak kau kenal baik!! Payah sekali!” heh? Apa katanya barusan? Jadi dia membawaku kesini untuk?

”Kalau kepala keluarganya cewek bodoh macam kau, masa depan keluarga Choi patut dikasihani!!” lanjut Taemin lagi sembari melipat tangannya di dada.

Ce…cewe bodoh?? Kepala keluarga? Apa maksudnya sih? Kenapa Taemin mengataiku bodoh? Kenapa sikapnya beda sekali dengan Taemin yang kukenal?? Kemana Taemin tang ramah dan cool barusan.

”Tunggu dulu! Apa maksudmu dengan cewe bodoh? Kepala keluarga apa?” tanya Sulli tak mengerti.

”Artinya ya sesuai dengan kata-katanya, kan?” jawab Taemin. Seorang nenek datang menghampiri kami. Taemin lantas membungkuk memberi hormat. Sulli refleks melakukan hal yang sama.

”Aku sudah membawanya, halmamama!” ujar Taemin pada nenek itu.

”Ne, terima kasih Taemin. Selamat datang Sulli-ssi. Syukurlah kau sampai dengan selamat!” ujar nenek itu. Sulli mengerjap beberapa kali. Rasanya ia mengenal siapa orang ini.

”Nenek??” tanya Sulli.

”Ne, sekarang kau semakin mirip dengan ibumu!”

”Jinjjayeo?” Sulli tersenyum tipis. Ia mengikuti nenek itu masuk ke dalam rumah.

”Maaf ya, Sulli-ssi. Nenek memanggilmu di saat-saat seperti ini. Sebenarnya, begini…”

”Johsuhamnida halmamama, apa tidak sebaiknya kita bicarakan masalah ini di dalam saja?” sela Taemin. Nenek itu mengangguk.

”Geurae! Ayo masuk!” ajak si nenek. Begitu pintu ruangan terbuka, seluruh pembantu disana lantas membungkuk hormat.

Wow! Sambutannya menakjubkan! Hebat sekali!! Apa mereka sedang menyambutku? Tapi, tapi…

Sulli melihat sekeliling rumah itu. Tampak sangat kuno dan masih begitu tradisional. Apa ini rumah neneknya ya? Seperti istana tradisional saja.

Aku tau umma itu orang kaya! Tapi aku ga menyangka akan sekaya ini!!

Sulli juga membungkuk memberi hormat pada para pembantu itu, kemudian berlari mengikuti nenek masuk ke dalam sebuah ruangan.

Yang kutau adalah, umma kawin lari dengan appaku yang merupakan dokter pribadinya.

”Ta…Taemin-ssi, kenapa semuanya membungkuk melihatku?” tanya Sulli, Taemin menatapnya misterius.

Deg! Kenapa ini? Aku tau aku memang menyukai tatapan Taemin. Sangat. Tapi kenapa tatapannya barusan membuatku merinding begini? Sebenarnya ada apa ini?

”Anjalseumnida (duduk) Sulli-ssi!!” suruh si nenek.

”N…ne…” ujar Sulli bingung sambil duduk bersimpuh. Taemin juga duduk bersimpuh di sebelahnya.

”Kau pasti bingung kan? Haha,itu wajar Sulli-ssi!”

”A…anu, iya sedikit. Ngomong-ngomong panggil aku Sulli saja, karena kita keluarga.”

”Hahaha. Terserah saja. Baik sebenarnya, ibumu adalah seorang pewaris dari harta kekayaan kakekmu. Tapi sayang dia sudah meninggalkan kita semua dan pergi ke surga…” nenek itu mengusap ujung matanya. Sulli menggigit bibirnya, ia jadi teringat akan ummanya. Dan itu membuatnya sangat sedih. Bayangkan saja, kau harus tinggal sendiri di usia semuda ini. Tanpa ayah dan ibu. Taemin menatap Sulli yang juga tampak menitikkan air mata dibalik senyumnya. Ia tau, beban yang dipikul Sulli sangatlah berat.

”Karena itulah Sulli-ssi karena kau adalah satu-satunya keturunan dari Choi Min Ji, maka kaulah yang akan meneruskan tradisi keluarga.”

”N…ne? Meneruskan tradisi keluarga?”

”Iye, kau adalah penerus keluarga Choi berikutnya. Kepala keluarga Choi. Tentu saja semua yang ada disini adalah milikmu!” lanjut si nenek. Sulli menyemburkan teh yang disuguhkan padanya.

”Ini…” Taemin memberikan sapu tangannya. Sulli mengambil sapu tangan itu dan membbungkuk sedikit untuk berterima kasih.

MWO???? Aku tak salah dengar? Semua yang ada di rumah ini milikku?? MILIKKU???? Aku pewaris berikutnya? Tunggu!! Ini pasti cuma khayalan!! Mana mungkin aku seberuntung itu!!

”Nenek, jangan bercanda!! Mana mungkin aku…”

”Tenang saja, Sulli-ssi! Maka dari itu aku telah meminta Taemin untuk mengurusmu! Kau bisa bertanya apapun padanya!” ujar si nenek lagi lalu meminum teh nya dengan gaya seperti bangsawan.

Ige mwoya??? Haruskah aku senang? Tentu aku senang! Terutama karena Taemin yang akan mengurusku. Itu berarti, itu berarti…aku akan lebih dekat dengan Taemin!! Yess!! Selangkah menuju pacar Taemin akhirnya tercapai!!

Tapi…tunggu dulu Choi Sulli!!! Kau tidak tau apa artinya ini semua?? Kau pewaris!! Kau sekarang adalah seorang bangsawan muda!! Aku harus menjalankan tugas sebagai seorang bangsawan!!? Mengolah semua harta warisan yang telah diberikan padaku secara cuma-cuma ini? What the…

”Ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Taemin yang melihat Sulli kebingungan dengan situasi yang begitu cepat ini. Sulit dipercaya memang. Karena dia bukanlah seorang cinderella.

”Baik, nenek tinggal dulu ya!!” ujar nenek itu kemudian berlalu. Kini tinggal mereka berdua yang berada di ruangan ini.

Omo! Ottokhaji??? Aku bingung!! Kenapa semuanya jadi begini?? Apa ini mimpi? Aniy!! Apa yang harus kulakukan?? Apa yang harus kurasakan? Sedih atau senang?

”Yaah! Aku tau kau itu bodoh, tapi tidak perlu memasang tampang bodoh seperti itu, kan? Berkelas sedikit kenapa?” sindir Taemin, sebenarnya ia sedikit tersiksa dengan kebisuan yang tercipta.

”A…anu, kalau boleh tau…berapa total kekayaan kakekku?” tanya Sulli seolah tuli akan sindiran Taemin barusan.

”Mwo? Hmm, kalau dikira-kira sekitar ****** milyar!” Sulli kembali menyemburkan teh yang diminumnya. ****** milyar???? Apa kau gila? [saking banyaknya ga bsa disebut]

”Itukan…itukan 2 kali lebih besar dari APBN negara ini!! Ottokhe?” Sulli jadi bingung sendiri.

”Ne, dan itu milikmu semua!”

”MILIKKU???? SEMUA???”

O boy~ demi apapun yang ada di langit dan di bumi. Apa aku tidak salah dengar? Apa ini mimpi? Aku seorang pewaris harta kekayaan yang jumlahnya dua kali lebih besar dari APBN negara ini???

”Sepertinya kau terlalu syok! Istirahatlah!” seru Taemin yang kemudian keluar. Sulli masih menggunakan jarinya untuk menghitung kekayaan yang dimilikinya.

”Omo!! Barapa ton donat yang bisa ku beli dengan uang sebanyak itu? Aigoo! Bukan waktunya mikirin donat Sulli-ah!! Sadar! Sadar! OMG!!! Demi Tuhan! Aku orang kaya sekarang!!” seru Sulli dengan kehebohannya sendiri. Taemin yang masih berdiri di dekat pintu ruangan tersenyum. Anak yang polos, pikirnya. Kemudian berlalu.

.

”Yaaah!! Apa-apaan kau! Ini kamarku, kau mau apa disini?” seru Hyorin saat melihat Baro berbaring santai di tempat tidurnya sambil membaca komik-komiknya.

”Istirahat lah! Kau pikir aku kesini untuk rapat denganmu, heh?” sahut Baro cuek sambil makan kripik kentang milik Hyorin.

”Yaah!! Itu milikku!! Pergi! Cepat keluar!!!” marah Hyorin saat melihat makanan kesukaannya ludes di makan oleh si makhluk yang sebenarnya ga perlu makan itu.

”Hmm, ini enak juga!” ujar Baro sambil makan kepingan terakhir keripik itu. Dan bisa kau bayangkan betapa marahnya ekspresi yang ditujukan oleh wajahnya Hyorin saat melihat remah-remah keripik itu berhambur di atas tempat tidurnya.

”YAAA!!!!”

”Ssst!! Kau ini berisik sekali, aku jadi ga konsen baca nih!”

”Yaa!! Kau kan punya kamar sendiri!! Kenapa harus istirahat di kamarku, sih? Dan apa-apaan ini! Ga ada ijin sama sekali! Kau pikir kau siapa hah??” Hyorin mengambil komik yang ada di tangan Baro.

”Yaa, aku belum selesai baca itu.” protes Baro. Hyorin mengeraskan rahangnya. Bisa-bisa ia keriput sebelum waktunya kalau marah-marah terus karena namja babo ini.

”Bodoh!! Apa peduliku!!”

”Tentu saja kau harus peduli padaku! Aku tidak tanggung kalau rahasia buku ungu itu akan tersebar ya!! Aku sering lupa kalau itu adalah rahasia…!” goda Baro, wajah Hyorin lantas memerah. Tangannya mengepal.

”Kau pikir aku takut dengan ancaman bodoh macam itu?” ujar Hyorin menguatkan hatinya. Baro bangkit dan menatap tajam Hyorin. Membuat gadis itu membeku untuk sesaat.

Andwae!! Andwae!! Kenapa jantungku berdebar kencang begini setiap bertemu pandang dengannya? Wajah Baro begitu teduh dan sangat manis!! Kenapa aku begitu lengah hingga memandangnya? Wajahku pasti bersemu merah!! Ah, aku jadi kesulitan bernapas.

“Hyorin-ssi, kau baik-baik saja?” Tanya Baro khawatir, dia memegang wajah Hyorin.

Deg! Deg! Deg! Jantungku serasa mau meledak. Tubuhku juga tak bisa bergerak. Kenapa ini? Kenapa tubuhku tak mau bekerja sama dengan otakku? Adakah yang bisa menjelaskan padaku, AKU INI KENAPA???

“Wajahmu merah, kamu sakit?” ekspresi khawatirnya membuat Hyorin semakin tak bisa berkata apa-apa.

“Ah!! Jangan bilang kalau kau mulai menyukaiku?” Tanya Baro lagi. Mworago?? Ige mwoya??

Hyorin mengerjap-ngerjapkan matanya, kaget mendengar ucapan Baro barusan. Ia kemudian mencoba –semampunya- untuk melepaskan wajahnya dari tangan Baro yang hangat itu.

“Hahaha, jangan bercanda, bodoh!!”

“Yaa!! Kau menjitak kepalaku!!!” keluh Baro saat Hyorin menjitak kepalanya.

“Siapa bilang aku sedang membelai kepalamu, hah?”

“YAA!! JUNG HYORIN!!” kesal Baro seraya bertolak pinggang dengan mata yang melotot.

“YAAA!! CHA SUN WOO!!!!” tak kalah Hyorin ikut bertolak pinggang dan melotot.

“Kau berani melawanku sekarang, hah? Tidak takut kalau Gong Chan tau perasaanmu??” ancam Baro. Hyorin menyipitkan matanya kesal. Apa-apaan namja bodoh ini? Apa dia pikir aku takut dengan ancaman murahannya itu??

“Tuan Shinigami yang bodoh, silahkan sekarang juga kau keluar dari kamarku! Aku lelah, tidak ingin ribut denganmu, mengerti?!!” perlahan Hyorin mendorong Baro agar keluar dari kamarnya hingga Baro berjalan mundur.

“Shireooo, aku tidak ingin keluar!”

“Keluaaaaaar!! Cha Sun Woo. Keluar!!”

“Tidaaak!!!!”

“Keluaaaar!!!”

Brakk!!!

Hyorin berhasil mendorong Baro keluar dari kamarnya dan membanting pintunya dengan keras. Hyorin bersandar di pintu kamarnya, dan menyentuh dadanya yang berdetak tak karuan.

Entah mengapa dan sejak kapan aku ga bisa menatap matamu lagi, Baro. Perasaanku berkecamuk setiap kali aku melihatmu. Bernapas jadi lebih sulit dan sekarang aku benar-benar tak tau harus berbuat apa. Aku bahkan tak tau apa yang sedang terjadi padaku!!

“Ah!! Jangan bilang kalau kau mulai menyukaiku?”

ANDWAE!!! Aku ga mungkin menyukaimu, shinigami bodoh!! Berhenti memikirkannya Hyorin!! Kau kan hanya menyukai Gong Chan seorang!!

Hyorin mengacak-acak rambutnya, kalau orang awam melihatnya ia pasti sudah dikirim ke rumah sakit jiwa sekarang.

.

[Sulli POV]

“Selamat pagi, Sulli-ssi!” sapa Taemin. Omo!! Bertemu dengan Taemin sepagi ini? Terlebih dia menyapaku!!! Ah…aku serasa tak menapak bumi lagi!!

“Pa..pagi, Taemin-ssi!!”

“Bagaimana tidurmu semalam?” Tanya Taemin. Mwo? Taemin menanyakan bagaimana tidurku semalam!! Apa yang harus kujawab??

“Te…tentu saja nyenyak…kau sendiri?” Taemin tersenyum manis sekali! TAEMIN TERSENYUM PADAKU!!! Omonaaa!! Kupikir senyumnya itu hanya akan menjadi bagian dari khayalanku saja!!

Braakk!!

“Aww!!” seruku saat seorang gadis menabrakku. Siapa dia? Berani sekali menghancurkan momen terindah bersama Taeminku!

“Oppa! Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya gadis itu manja, tunggu dulu!! Apa-apaan lirikan matanya itu? Kenapa dia menatapku sinis begitu? Aniy, tatapannya itu lebih dingin, seakan ingin membunuhku saja!! Omo!! Apa-apaan dia? Kenapa dia bergelayut manja pada Taeminku?? Yaaah!! Menjauh darinya dasar gadis bodoh!!

“Ah dia Choi Mi Hoon, sepupumu! Mi Hoon-ah, dia Sulli!” ujar Taemin.

“Mau apa kau kesini? Kau pasti hanya mengincar harta keluarga Choi, kan? Kalau memang itu sebaiknya kau pulang saja!!” whaaatt?? Apa-apaan cewe ini? Kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal itu padaku? Apa maksudnya?

“Mi Hoon-ah, jangan bicara seperti itu padanya!” bela Taemin.

“Oppa! Aku kangen sekali padamu! Kenapa kau baru pulang sekarang sih??” ujar gadis itu. taemin mengelus kepala gadis itu dan TERSENYUM!!

“Mian! Seharusnya aku lebih sering kesini untuk mengunjungimu!!” sahut Taemin. Mi Hoon melirikku sekilas. Dari ekspresinya ia seolah berkata ‘jangan pernah bermimpi kalau Taemin akan bersamamu. Dia milikku.’

“Aniy!! Taemin hanya milikku seorang!! Aku sudah memutuskannya menjadi pangeranku sejak pertama kali aku bertemu dengannya!!” gumamku. Ugh! Aku kesal sekali melihat tingkah gadis itu. Dan yang membuatku lebih kesal adalah dia jauh lebih cantik dari pada aku!!! Sial!!

“Kenapa juga Taemin harus baik-baik dengan gadis itu?” dumelku sebal.

“Itu wajar saja, karena Taemin adalah teman bermain Mi Hoon sejak kecil makanya mereka begitu akrab!”

“Omo! Halmoni! Sejaka kapan halmoni ada disini? Apa halmoni dengar yang barusan?” Tanyaku kaget saat menyadari nenek berdiri dibelakangku. Nenek terkekeh, tawa khas nenek-nenek.

“Kau benar-benar sangat mirip dengan ibumu, Sulli-ssi!” ujar nenek lagi.

“Halmoni…”

“Ne?”

“Apa aku memang seorang pewaris? Kenapa kakek mewariskan hartanya padaku?”

“Hmm…itu karena ibumu adalah anak kami tunggal kami!”

“Mwo? Lalu orang tuanya Mi Hoon? Bukankah dia sepupuku? Artinya orang tuanya juga mendapat hak yang sama bukan?” tanyaku bingung.

“Orang tuanya bukan keluarga kandung Choi. Dan tidak ada hubungan darah sama sekali!” apaan tuh? Berarti kedudukanku lebih tinggi daripada Mi Hoon? Baguslah! Kalau begini dia takkan berani macam-macam padaku! Hahahah, tidak akan berani macam-macam dengan nona Sulli ini. Ah aku harus telepon Hyorin nih!!

.

[Author POV]

Brakk! Suara bantingan pintu terdengar keras di kamar Hyorin. Pelakunya? Siapa lagi kalau bukan Baro!

“Ada telepon untukmu!!” seru Baro sambil mencubit pipi Hyorin yang masih ngulet di tempat tidur. Hyorin membuka matanya perlahan. Dilihatnya wajah tampan yang sangat…sangat…sangat dekat dengan wajahnya!

“Huaaaaaaaahhh!!!” teriak Hyorin seraya menampar si pemilik wajah.

“Aw!” Baro mengelus pipinya. Dia menatap kasar Hyorin yang menyembunyikan diri di balik selimut. Tentu saja Hyorin tak sengaja menampar Baro sekeras itu. Dan sekarang ia takut untuk menghadapi kemarahan shinigami itu.

“Ya!!” Baro menarik selimut Hyorin yang masih bertahan. Terjadilah pertarungan dahsyat memperebutkan selimut. Hyorin masih tetap keukeuh mempertahankan dirinya dalam selimut sementara kekuatan seorang shinigami tak bisa ia remehkan begitu saja, Baro terlalu kuat.

“Kyaa!! Lepas! Lepas!!” seru Hyorin seraya menendang-nendang Baro.

“Kau yang lepas! Dasar gadis babo! Ini hukumanmu karena seenaknya memukulku tanpa ijin!”

“Hah!! Buat apa ijin hanya untuk memukul shinigami mesum sepertimu! Sekarang lepaaaass!!!” Hyorin menarik selimutnya sekuat tenaga.

“Hyyaaah!!”

Deg…deg…! Baro menindih tubuh Hyorin. Ia menatap manik mata Hyorin dengan tatapan aneh.

“Yaa…ya!!! Menjauhlah Baro…!” Hyorin mulai meronta-ronta. Baro memenjarakannya di antara kedua lengannya.

“Baro…kumohon…jangan seperti ini, jebaaal!!” pinta Hyorin, ada air mata disana. Ia takut sekali! Baro mendekatkan wajahnya ke wajah Hyorin, membuat gadis itu semakin ketakutan. Andwae!!!

“Bisa kau beri tau aku, apa artinya suka?” bisik Baro. Hyorin mengerjap-ngerjap. Apa katanya barusan? Oh noo!! Jantungku!! Badan Hyorin sampai gemetar karena debaran di jantungnya. Melihat air mata yang mengalir di pipi Hyorin, Baro kemudian melepaskannya dan duduk disisi tempat tidur Hyorin dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.

Hyorin duduk, dan menyentuh dadanya merasakan detak jantung yang memukul-mukul rongga dadanya.

“Ada telepon untukmu…” ujar Baro lalu pergi dari sana, meninggalkan Hyorin yang masih mematung.

.

“Mwoooo?? Kau seorang pewaris? Dan Taemin adalah ajudanmu?? Kau sedang mengkhayal apa Sulli-ah??” Tanya Hyorin. Sulli mendengus kesal. Kenapa Hyorin tidak mempercayai kata-katanya?

“Ih beneran tau!!”

“Yah kau pikir aku percaya dengan cerita Cinderella versimu itu?” Tanya Hyorin yang kini asyik menyalin PR matematika punya Sulli.

“Kenapa ga? Sabtu kemarin Taemin mengajakku ke rumah nenekku, dari sanalah aku diberitau segalanya. Bahwa aku adalah seorang mewarisi harta kekayaan keluargaku yang nilainya lebih dari APBN Negara ini!” Hyorin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak percaya pada ucapan sahabatnya itu.

“Kyyyaaa! Sun Woo-ssi, kau ini ganteng sekali sih!!” teriak para yeoja di kelas.

“Kyaa! Kamu emang manis banget sih!”

“Sun Woo keren ya?”

“Cakep!”

“Foto bareng dong!”

“Mau jadi pacarku ga?” Hyorin menoleh ke sisi kelas yang ramai sekali. Baro sedang di kelilingi fans-fansnya lagi. Hyorin tersenyum kecut, tampaknya Baro menyukai ketenarannya itu.

“Sun Woo-ssi, kencan yuk!” ugh! Hyorin jadi mual sendiri, apa-apaan mereka? Ga tau ini kelas apa? Atau seenggaknya mereka bisa melihat ada seorang cewe yang ga bisa konsentrasi menyalin PRnya gara-gara kebisingan mereka. Mereka ga tau sih sifat asli Baro sebenarnya. Kalau mereka tau, mereka pasti mundur semua. Hyorin jadi teringat insiden minggu pagi kemarin.

“Sial!! Kenapa aku mengingatnya? Lupakan Hyorin!! Lupakan tentang itu, bodoh!!” Hyorin membenturkan kepalanya sendiri ke meja belajarnya. Kalau bukan karena Sulli sangat hapal keanehan pada sahabatnya itu, ia pasti sudah illfeel berteman dengan Hyorin yang entah mengapa sedang membenturkan kepalanya sendiri sekarang.

“Argh!! Berhenti mengatai dirimu sendiri babo, Hyorin!!” desis Hyorin. Dia menghela napas kasar dan meneruskan kegiatannya lagi.

“Hmm, Hyorin…kudengar katanya sekolah kita akan ikut pertandingan basket se-Seoul. Taemin dan Gong Chan cs ikut loh! Kau mau menonton mereka??”Tanya Sulli. Hyorin menatapnya tajam, membuat Sulli jadi takut sejenak.

“Tentu saja aku ikut!! Aku harus rehabilitasi!”

“Ne? Rehabilitasi?” Sulli memiringkan kepalanya, bingung.

Yep! Harus rehabilitasi akan perasaanku sendiri. Aku kan hanya menyukai Gong Chan seorang. Dan akan kubuktikan kalau aku tak mungkin yang namanya menyukai shinigami atau apalah itu! Seorang Hyorin tak mungkin menyukai shinigami bernama Baro! Itu sangat sangat tidak normal!! Dan mustahil terjadi!  Tapi…aku harus membuktikan pada siapa?

.

“Oppa!! Kenapa akhir-akhir ini kau selalu tak punya waktu untukku?” protes Hyorin. Jinyoung menghela napas berat. Dia mengelus kepala yeodongsaengnya.

“Mianhae, Hyorin-ah! Oppa benar-benat sibuk mengerjakan job training di kampus! Mengertilah!!” sahut Jinyoung lembut. Hyorin menggembungkan pipinya, masih kesal.

“Ya! Pipimu itu sudah gendut, jangan digembungin gitu dong!! Nanti jelek! Ayo, senyum dong!!” Jinyoung menggoda Hyorin dan menggelitikinya.

“Kyaa oppa! Kau ini!! Hahahahah! Sudah berhenti!!”

“Nah gitu dong!! Hyorin itu cantik kalau tersenyum! Oppa pergi dulu ya!”

“Oppa!!”

“Kalau mau beli kado buat Sulli, minta temani sama Sun Woo saja! Oppa benar-benar ga bisa! Jeongmal mianhae!!” Hyorin mengangguk pasrah.

“Aigoo, aku males negur Ba…jangan sebut namanya, Hyorin!!” gumam Hyorin seraya masuk ke kamarnya. Baru saja Hyorin mau masuk ke dalam kamarnya, Baro keluar dari kamarnya. Mereka bertemu pandang, namun Baro malah membuang mukanya.

Apa aku tak salah lihat? Dia memalingkan wajahnya? Ige mwoya!! Yang salah kan dia, kenapa dia yang marah? Mestinya akulah yang marah, karena aku adalah korban disini! Tapi, apa-apaan sikapnya itu? Sudahlah Hyorin, tak usah kau pedulikan makhluk jelek itu! Tapi kenapa lagi-lagi mataku tak mau berkoordinasi dengan otakku? Kenapa aku terus melirik namja yang seharusnya tak ingin kulihat? Hyorin!! Tutup saja matamu! Jangan pandangi wajah namja itu!

“Gong Chan! Aku harus melihat foto Gong Chan!!” Hyorin lantas masuk ke kamarnya dan membuka buku hariannya yang terdapat foto Gong Chan disana. Sejurus kemudian bibirnya kembali membentuk seulas senyuman, setidaknya makhluk yang namanya tak boleh disebut itu hilang dari kepalanya.

.

“Hmm, besok umurku 17 tahun…aku berharap akan ada sesuatu yang indah terjadi besok!!” Sulli berbaring di kamarnya yang luas itu. Ya, ia kembali ke rumah tradisional itu. Ke rumah warisannya.

Sreekk!!

Pintu geser kamarnya terbuka, tampak dua orang laki-laki bertubuh kekar menghampirinya. Wajah kedua orang itu tak nampak karena gelapnya kamar.

Mereka menarik kasar tubuh Sulli yang kaku. Yah, Sulli entah mengapa jadi tak bisa bergerak, bahkan bersuara. Ia begitu ketakutan. Tubuhnya diseret sampai ke sebuah gudang tua. Air matanya mengalir deras.

Ya Tuhan! Apa ini? Siapa mereka? Apa yang akan mereka lakukan? Kumohon!! Tolong aku! Siapa saja tolong aku!!

Salah satu laki-laki itu menampar wajah Sulli keras sampai gadis itu tak sadarkan diri.

.

Bangun bangun Sulli mendapati dirinya terikat di gudang. Ia mencoba melepaskan diri, namun rantai ini begitu keras. Sulli menangis, ia berteriak minta tolong sekeras mungkin. Tapi nihil, tidak ada yang bisa mendengarnya.

“Ottokhe?” gumam Hyorin, ia terlalu lelah karena terus-terusan berteriak.

“Wah ternyata kau sudah sadar ya?” Tanya Mi Hoon. Sulli menatapnya tidak percaya.

“Mi Hoon-ah! Syukurlah kau datang! Tolong epaskan rantai ini!!” seru Sulli senang. Mi Hoon malah tertawa mengejek.

“Bagaimana rasanya hampir dibunuh?” tanyanya.

“M…mwo? Hampir dibunuh katamu? Apa kau yang…? Kenapa?”

“Ternyata benar apa kata oppa! Kau ini terlalu bodoh! Hmm, baiklah akan kukatakan ini padamu supaya kau tidak perlu bersusah payah menggunakan otakmu itu untuk berpikir! Mulai sekarang hal ini akan sering terjadi padamu kalau kau tetap mau jadi kepala keluarga ini!!”

“Ap…pa?”

“Kau tetap bersikeras menjadi penerus? Kau itu sampah! Tidak ada bagusnya sama sekali! Kau sama saja seperti mendiang ibumu!”

“Kau yang sampah!! Aku adalah cucu kandung kakekku!! Sekarang lepaskan aku!!” marah Sulli. Mi Hoon tertawa sakartis.

“Kau pikir aku sebodoh apa? Kenapa aku harus melepaskanmu? Aku bukan orang sebaik itu, mengerti?”

“Taemin!! TAEMIN!!!! Tolong aku!! Taemin!!” jerit Sulli.

“Oppa takkan mendengarmu. Kau tau? Taemin dan seluruh harta warisan ini adalah milikku!” ujarnya lagi. Ia menumpahkan jerigen berisi minyak tanah. Air mata Sulli kembali mengalir. Apa yang akan dilakukannya? Apa dia akan membakarku hidup-hidup?

“Min! Taemiiiin! Taemiiinn!” jerit Sulli sekuat tenaga.

“Selamat tinggal nona Choi Sulli. Sayang ya, kau baru menikmati umur 17 belas mu dengan sangat singkat…” Mi Hoon menyalakan korek dan menjatuhkannya. Sekejap si jago merah melahap gudang tua itu.

 

TBC~

 

oke, sampai segtu dulu yaa^^

gomawo readers…love u^^

Posted 22 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , ,

2 responses to “[FF] A Dream *Part 3*

Subscribe to comments with RSS.

  1. Aiih, penasaran banget.. Btw ‘aura’ Bleach kerasa banget di sini. Lanjutkan, author!🙂

  2. keren banget ide ceritanya..
    lanjutin thor.
    di tunggu next chap nya..
    fighting…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: