[FF] A Dream *Part 2*   Leave a comment


annyeoooong!!

d_na balik lg!! mo ng.publish yng ke.2 biar kagak bingung ama cerita.a

bagi yng uda baca crita.a makasih bnget yaaa^^

oke deh

gak sah berlma2, yuk check it out!!

.

A DREAM

Author: d_na

Length: 2 of ?

Genre: rmance, fiction

Main Cast:

Jung Hyorin as you

Choi Sulli

Lee Taemin

Cha Sun Woo aka Baro

============O============

“Hyoriiiinnnn!!! Ironaa!! Ppaliii!!” seru Jinyoung dari dapur. Hyorin mengucek matanya, seraya mencoba meregangkan tubuhnya.

“Hooaahhmm!! Hmm? Udah pagi ya?” Hyorin melirik jam dinding dan langsung bangun.

“Ah rasanya aku melupakan sesuatu yang penting? Apa ya? Ah tau deh!! Kalau PR ntar nanya aja ma Sulli!!” gumam Hyorin seraya mengambil handuknya dan bergegas mandi. Selesai mandi dan berpakaian, Hyorin langsung menuju ruang makan. Dilihatnya oppanya yang sedang memasak dan menggunakan celemek milik ibunya.

“Umma belum pulang?” tanya Hyorin sambil duduk.

“Aniya! Cha!! Ini sudah jadi, makan dulu!!” seru Jinyoung seraya mengambilkan bubur yang dimasaknya untuk Hyorin.

“Ne, gomapta oppa!! Hmm, beruntung sekali orang yang menjadi yeoja chingumu oppa!!” Jinyoung terkekeh.

“Ne? Kau ini bicara apa?” Jinyoung tersipu.

“Aish! Beneran, oppa ini selain ganteng, baik hati, kau juga pintar masak! Kurang apa lagi? Beruntung sekali yang jadi yeoja chingumu!”

“Hahaha, dasar anak kecil! Tau apa kamu? Sudah habiskan saja sarapanmu, nanti terlambat lagi!!” ujar Jinyoung sembari melepas celemeknya.

“Ne!!” Hyorin langsung melahap habis sarapannya dan pergi ke sekolah.

.

“Pagi Sulli-ah, kita ada PR ga?”

“Aniya!! Wae?” tanya Sulli cuek seraya membaca komik berjudul bleach.

“Eh komik apaan tuh?” tanya Hyorin yang langsung merebut buku itu seenaknya.

Ichigo Kurosaki, seorang pelajar berusia 15 tahun dan seorang shinigami. SHINIGAMI????!!

“Pagi anak-anak!!” seru Mrs. Park. Hyorin lantas langsung duduk di tempatnya.

“Ibu ada pengumuman penting! Kita kedatangan murid baru!” Mrs. Park tersenyum. Anak-anak bersorak.

“Ayo, masuklah!!” panggil Mrs. Park. Seorang laki-laki masuk, wajahnya terlihat familiar.

“Dia Sun Woo, pindahan dari kota Chunahn di provinsi Choongchung Selatan! Berteman baiklah dengannya! Ayo, perkenalkan dirimu!!”

“Annyeong, Cha Sun Woo imnida! Bangapseumnida!” laki-laki itu membungkuk memberi hormat.

Gubraakk!!

“Kau!!!!???” seru Hyorin nyaring, tak ayal semua orang jadi memandangnya heran. Termasuk anak baru bernama Cha Sun Woo itu. Sun Woo tersenyum tipis.

“Yaah! Kau mengenalnya?” Tanya Sulli bingung. Hyorin terdiam, mana mungkin ia mengatakan bahwa namja ini semalam menyelinap ke dalam kamarnya dan mengaku bahwa dia adalah shinigami, kan? Bisa-bisa dia dicap sebagai orang gila lagi!!

“A…aniya…hahah!!” Hyorin kembali duduk di kursinya.

“Hmm, kalau gitu kamu duduk di…” Mrs. Park mulai meneliti tempat duduk yang kosong.

“Sonsaengnim, saya mau duduk di sana!!” ujar Sun Woo seraya menunjuk kursi di depan Hyorin.

“What????” seluruh penghuni kelas lantas melihat ke arah mereka berdua.

“Tuh kan, kamu pasti kenal sama dia!!” tuntut Sulli.

“Aniya!! Mana mungkin aku mengenalnya, dia kan pindahan dari Busan atau semacamnya!!” sangkal Hyorin.

“Chunahn!”

“Ne, apalah itu!!”

“Ah, oke…kau boleh duduk disana, Sun Woo ssi!!” ujar Mrs. Park. Sun Woo lantas langsung duduk di kursinya dengan senyuman khasnya yang membuat yeoja pada melting.

“Kyaa!! Dia imut banget sih!!” seru Sulli, Hyorin menatap namja itu tak percaya.

Ottokhe? Kenapa dia bisa ada disini? Jadi yang semalam itu bukan mimpi? Jadi, dia benar-benar shinigami? Omo!! Tunggu! Katanya cuma aku yang bisa melihatnya, tapi kenapa sekarang Sulli dan yang lain juga bisa melihatnya? Apa dia bohong soal semalam? Mungkin juga!! Sial! Namja gila ini pasti sudah menipuku! Yak! Kenapa pula aku hampir mempercayainya semalam? Babo! Babo!! Hyorin, neo baboya!!

“Hai! Aku Sun Woo!! Salam kenal!” Sun Woo berbalik menghadap Hyorin dan Sulli.

“Omonaa!! Aku Choi Sulli, panggil Sulli saja! Salam kenal Sun Woo-ah!!” ujar Sulli sembari tersenyum senyum senang.

“Dan…err??” Sun Woo menatap Hyorin yang diam saja, sebenarnya Hyorin sedang memikirkan kejadian semalam.

“Yah, yah!! Dia mengajakmu berkenalan!!” bisik Sulli sambil menyikut lengan Hyorin.

“M…mwo? Ah, a…aku Hyorin!!” jawab Hyorin kikuk, Sun Woo tersenyum geli melihat tingkahnya.

“Dia ganteng!!” bisik Sulli seraya meremas (?) lengan baju Hyorin. Hyorin menatapnya kesal.

“Yaah! Aku menyetrikanya dengan susah payah, malah kau kumalkan begitu!!”

“Mohon bantuannya, Hyorin-ssi!!” sahut Sun Woo, Hyorin hanya mengangguk kaku.

Aneh! Dia bersikap seolah tak ada yang terjadi diantara kami? Apa jangan-jangan aku salah orang ya? Apa dia bukan Baro, si shinigami itu? Tapi mereka mirip sekali!! Aku tak mungkin salah! Hmm…

Pelajaran pun dimulai, tapi Hyorin masih sibuk dengan pikirannya.

Mungkin aku cuma berhalusinasi saja semalam! Hahaha! Mana ada shinigami di dunia ini kan? Dasar gila! Kayaknya aku harus mengurangi nonton Death note mulai sekarang!

“Hyorin-ah, kau tau maksud soal ini?” Tanya Sulli.

“Eh? A…ah…yang mana?” Tanya Hyorin.

Tapi kalau itu mimpi, kenapa terasa nyata? Ada apa ini? Kenapa aku begini? Please!! Aku ga mau jadi gila sebelum waktunya (?)

“Yaah Hyorin!! Dengar ga sih? Melamun mulu dari tadi!”

“Ahhahah mian, yang mana tadi?”

“Kamu mikirin apa sih? Hayo jangan-jangan mikir yadong ya?” goda Sulli yang mendapat jitakan secara langsung dari Hyorin, saudara-saudara!!

“Jadi apa dong? Ah!! Pasti mikirin Gong Chan kan??” Tanya Sulli lagi.

“Yaah! Suaramu keras sekali!” sela Hyorin.

“Haha, apa aku bilang! Pasti Gong Chan!!”

“Bukan kok!! Aku hanya berpikir apa aku sudah gila?” Tanya Hyorin.

“Hahaha, kenapa kau mesti repot-repot memikirkannya? Kau itu memang sudah gila dari lahir, tau! Hahhahaha! Itu kan bukan hal yang perlu dipertanyakan lagi!!” tawa menyebalkan Sulli membahana membuat Hyorin hanya bisa mencuatkan bibirnya. Sementara itu Sun Woo yang tak sengaja mencuri dengar pembicaraan yeoja di belakangnya hanya tersenyum tipis. Sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi.

.

“Sulli-ah, apa menurutmu shinigami itu benar-benar ada?” Tanya Hyorin, saat mereka di kafetaria untuk makan siang.

“Hah? Ya ga ada lah! Kamu tuh kebanyakan nonton!!”

“Ah benar juga, mana ada yang seperti itu di dunia ini…” gumam Hyorin.

“Hyorin-ssi, bisa bicara sebentar?” Tanya seseorang, Hyorin mendongakan wajahnya. Omona!! Dia kan?

“Kkaja!!” Sun Woo lantas menarik tangan Hyorin yang belum bilang apa-apa. Lebih tepatnya, tidak bisa berkata apa-apa.

“Yaa!! Lepas! Kau ini apa-apaan sih?” bentak Hyorin kesal, mereka berada di taman belakang sekolah.

“Tolong jaga pikiranmu itu, Hyorin-ssi! Kau tau, keberadaan shinigami tak boleh diketahui manusia yang lain!!”

W….what? WHAT???? Shinigami katanya? Tunggu dulu! Tunggu dulu!!!

“Jadi…kau…Baro? Kau? Yang semalam? Ah…shi…shini! Argh!! Yaa!! Kau pikir aku ini apa, hah??” bentak Hyorin lagi.

“Ne, aku Baro! Tapi jangan panggil aku Baro di sekolah ya! Baro itu nama shinigamiku.” Ujar Sun Woo.

“Huh! Memangnya aku peduli? Manusia bodoh macam apa yang bakal percaya pada ucapanmu? Dasar gila!!”

Kalau kau memang shinigami, mana buktinya? Aniy, kenapa yang lain bisa melihatmu? Apa eksistansi shinigami sekarang memang bisa diketahui oleh semua orang?

“Ini gigai namanya! Makanya mereka bisa melihatku!” ujar Sun Woo lagi.

“Gi…apa?”

“Gigai, tubuh pengganti. Shinigami yang telah kehilangan jiwanya akan menjadi sasaran oleh para hollow. Karena shinigami yang kehilangan jiwa adalah makanan bagi hollow. Tapi, lain halnya jika shinigami itu masuk ke dalam gigai. Hollow ga akan tau jika itu shinigami, karena rupa dan reiatsunya seperti manusia!!”

“Ya apalah itu, I don’t care!! Lantas kenapa kau mengikutiku kesini?” tuntut Hyorin.

“Tentu saja untuk melindungimu!!” jawab Sun Woo. Deg! Apa ini? Hyorin menyentuh dadanya, ada perubahan signifikan pada detak jantungnya.

Melindungi katanya? Kenapa aku berdebar-debar begini? Andwae! Hhrrr!!

“Buat apa? Aku tak perlu dilindungi olehmu, tuan Shinigami!!”

“Aku bukannya mau melindungimu, tapi melindungi jiwaku yang ada di dalam tubuhmu!! Arra??”

“Cih, kalau gitu cepat keluarkan jiwamu itu dari tubuhku!!” Hyorin melototkan matanya sebal.

“Tidak semudah itu. Hhhh, coba baca ini!” suruh Sun Woo. Hyorin menerima transceiver yang diberikan padanya.

“Jiwa Shinigami atau yang biasa disebut black pearl adalah suatu mutiara yang berisikan jiwa seorang shinigami. Jika tertelan mutiara ini tidak akan bisa dikeluarkan begitu saja. Hanya shinigami level 2 ke atas saja yang bisa mengeluarkannya.” Hyorin membaca apa yang tertulis di layar transceiver itu.

“Shinigami level 2?” Tanya Hyorin bingung.

“Itu setara level komandan! Mereka yang bisa melakukan ‘bankai’!”

“Bankai? Apaan tuh?”

“Bankai adalah perubahan wujud dan perubahan jenis kekuatan shinigami! Kalau kita…”

“Stop!! Aku ga mau mendengarnya!! Aku ga peduli apa itu hollow, joker, bankai, level komandan atau apapun itu! I DON’T CARE!!!! Oke? Jadi kau ini level berapa?” sela Hyorin.

“Aku? Hehehe, aku adalah shinigami level 8!!” jawab Sun Woo. Mwo? Level 8? Hyorin menepuk dahinya sendiri. Yak! Jangan katakan kau level 8 dengan wajah bangga begitu, dong! Dasar menyebalkan!!

“Jadi aku harus bagaimana?” Tanya Hyorin.

Oh kehidupanku yang malang!! Kenapa aku harus seperti menderita begini?

“Tenang saja, aku sudah mendapat jalan pintasnya!” ujar Sun Woo.

“Ne, jeongmal?? Gimana???” Tanya Hyorin kembali bersemangat.

“Dengan ramuan!! Aku sudah meminta professor shinigami di soul society membuatkannya!” professor? Memang ada juga professor disana?

“Oh ya? Mana? Mana ramuannya?”

“Hehe, untuk itu…diperlukan waktu setengah tahun untuk membuatnya!!” jawab Sun Woo.

“Mwo? Andwae! Andwae!!!! Mana bisa aku menunggu selama itu? Aku bisa gila!! Umma!! Nan molla!! Ottokhaji?? Hidupku…bagaimana dengan hidupku? Aku ga mau terlibat dengan dunia shinigami lebih jauh! Aku bisa gila!! Huwaah!!” rutuk Hyorin seraya memegangi kepalanya.

“Mohon kerja samanya ya untuk setengah tahun ini, Hyorin-ssi!!” Sun Woo tersenyum jahil dan berlalu.

“Neo!!!!! YAAAH!!!!” seru Hyorin seraya mengejar Sun Woo. Hyorin menarik seragam yang dipakai Sun Woo.

“Kau harus bertanggung jawab!!” bentak Hyorin.

“Ne, untuk itulah aku sekolah disini!”

“Tunggu dulu! Kau sekolah disini untuk menjagaku, ehm maksudku ‘jiwa’mu itu selama setengah tahun. Lalu dimana kau akan tinggal?” Tanya Hyorin. Sun Woo tersenyum lebar.

“Wae? Kenapa senyum-senyum mesum begitu? Kau tidak berpikir untuk tinggal bersamaku, kan? Haha, mana mungkin! Ada orang tua dan oppaku, mana mungkin mereka mengijinkanmu!”

“Kau lihat saja sepulang sekolah nanti, nona Hyorin!” lagi-lagi senyum mesum itu ditunjukkan Sun Woo pada gadis di depannya.

“Mworago? ANDWAE!!!!!!!”

.

“Taemin oppa!! Kyyaaaaa Taemin!! Oppa!! Oppa!!” seru para yeoja saat melihat ‘pangeran’ SMA Mori itu. Sulli memandang Taemin dari jendela kelas dengan sedih.

“Hhh, lihat saja yeoja-yeoja berisik itu! Kasihan sekali Taemin diteriakin begitu, kayak dia maling aja!” gumamnya. Hyorin ikut-ikutan duduk disebelah Sulli dan memandang ke arah namja bertampang imut itu.

“Kalau kau memang suka, mestinya kau bilang padanya Sulli-ah! Jangan dipendam seperti itu!!” ujar Hyorin.

“Tidak semudah itu Hyorin-ah! Taemin terlalu jauh…kami bagaikan pungguk merindukan bulan…” gumam Sulli lesu. Hyorin terpekur mendengarnya. Jujur saja, dia jadi sedih melihat Sulli yang tidak bersemangat seperti ini.

“Ayo kita pulang!” ajak Hyorin. Sulli mengangguk, mereka keluar dari kelas.

“Sebentar lagi ulang tahunmu! Bagaimana kalau kita…”

“Sulli-ssi, bisa aku bicara denganmu?” Tanya Taemin yang tiba-tiba saja berada di hadapan mereka. Aduh apa ini mimpi? Sulli masih saja bergeming.

“Yah! Ppali!!” Hyorin memukul punggung Sulli. Sulli mengangguk kemudian mengikuti Taemin. Hyorin tersenyum simpul.

“Hmm, begini…selasa depan ulang tahunmu, kan? Mungkin ini terlalu cepat! Tapi sabtu ini ada tempat yang ingin kudatangi bersamamu!!” ujar Taemin. What? Apa katanya barusan? Apa ini ajakan kencan? Sulli bahkan tak bisa bernapas dengan benar sekarang. Bagaimana ini??

.

“Aku pulang!!” seru Hyorin lemah.

Hmm, gimana soal Sulli dan Taemin tadi ya? Apa yang mereka bicarakan? Jangan-jangan Taemin nembak Sulli? Yah ga mungkin sih!!

“Selamat datang sayang! Oh ya, ayo duduk sini!” ajak umma Hyorin.

“Hmm? Ada tamu ya? Siapa?” gumam Hyorin, kemudian duduk di sofa ruang tamu. O boy!! Napas Hyorin tercekat menyadari siapa yang duduk dihadapannya.

“Annyeong Hyorin-ssi!!”

Andwae! Ini ga mungkin! Impossible! Kenapa dia bisa ada disini? Andwae!!!

“Ini Sun Woo, anaknya paman Cha, tukang daging yang ada di Chunahn itu loh!” ujar umma memperkenalkan. Mwo? Anak tukang daging? Apa-apaan ini?

“N…nugu?” Tanya Hyorin.

“Paman Cha! Masa kamu lupa, itu loh paman yang sering memberimu permen waktu kecil!” Hyorin memiringkan kepalanya, memang ada? Sun Woo menatap tajam dirinya membuat Hyorin bergidik.

“N…ne, ah!! Ahjussi yang itu…”

“Nah, Sun Woo ini akan tinggal sementara disini bersama kita!” ujar umma lagi.

“Mwo? Kenapa? Umma! Dia ini orang asing! Kenapa umma mengijinkan orang ini tinggal bersama kita?” protes Hyorin.

“Aigoo! Orang asing dari mana!? Dia ini kan anak paman Cha! Bukan orang asing! Sudah cepat ganti bajumu! Ah, Sun Woo-ssi kamarmu adalah kamar Jinyoung, yang disebelah kiri kamar Hyorin. Kalau ada apa-apa minta tolong saja sama dia.” ujar umma seraya berlalu menuju dapur. Hyorin melipat tangannya di dada.

“Yaa!! Apa maksudnya ini semua?” Tanya Hyorin angkuh.

“Wae? Aktingku sempurna?” Tanya Sun Woo.

“Mwo? Kau membohongi ummaku??”

“Aniya!! Hipnotis itu adalah dasar bagi seorang shinigami!!” sahut Sun Woo kemudian ia pergi menuju kamarnya. Hyorin mendecakkan lidahnya kesal. Hhhhrrr!!!

.

“Jeongmal? Diajak kencan? Hwah!! Keren tuh, terus kamu jawab apa?” Tanya Hyorin di telepon.

“Aish, aku malu sekali!! Tapi untungnya aku sempat mengangguk!!” ujar Sulli.

“Hahaha bagus, bagus! Hmm chukkae!” pintu kamar Hyorin terbuka, dilihatnya Baro masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin dan membongkar lemari kasetnya.

“Yaa!! Apa yang kau lakukan, hah??” bentak Hyorin.

“Hyorin? Aku ga melakukan apa-apa, aku cuma mengiyakan permintaan Taemin saja!” jawab Sulli polos.

“Aniy, bukan kamu! Itu Baro, kucing tetangga!!” jawab Hyorin asal.

“Mwo? Kucing tetangga?” ulang Sulli.

“Ne, ah sudah dulu ya Sulli-ah! Aku harus mengusir kucing jelek ini dulu! Dia mau mencuri sepertinya!!” tutup Hyorin. Ia berdiri sambil berkacak pinggang di belakang Baro yang masih asyik membongkar koleksi kasetnya.

“Hmm, kau punya banyak kaset tentang shinigami ya? Death Note, Bleach, Full Moon? Dasar maniak!” komentar Baro.

“KELUAR!!!!!” seru Hyorin di telinga Baro.

“Hussh! Jangan berisik!” Baro menempelkan jarinya dibibir Hyorin.

“M…mwo? Yaa! Mau apa kau?” Tanya Hyorin kesal seraya merapikan kaset-kaset yang dibongkar Baro.

“Wah ini kamu ya? Jelek sekali!!” komentar Baro saat menemukan album foto Hyorin sewaktu kecil.

“Yaaah!! Dasar gila! Namja bodoh! Menyebalkan!!” Hyorin merebut kembali albumnya setelah memukul kepala Baro dengan bantal.

“Oh ya, kakakmu itu namanya Jinyoung ya?” Tanya Baro.

“Ne, wae?”

“Aniy, hmm…” tatapan Baro terlihat menerawang, kosong dan sedih. entah apa yang sedang dipikirkannya. hening sesaat, Hyorin menatapnya bingung.

“Hyorin!! Sun Woo-ssi, makan dulu!!” seru umma memecah keheningan.

“Ne!!” jawab Hyorin, Baro terdiam sejenak.

“Wae? Kau tidak mau makan?” Tanya Hyorin.

“Sebenarnya kami tidak perlu makanan kalian sih! Karena tubuh gigai ini sudah diciptakan untuk dapat bertahan dalam kondisi apapun. Lagipula, pada dasarnya shinigami memang tidak makan!”

“Yah! Sekarang kau ada di dunia manusia, kalau tidak makan akan mencurigakan tau! Ppali kkaja!!” ajak Hyorin seraya menarik tangan Baro.

“Hei, ada yang ingin kutanyakan…” tanya Hyorin.

“Apa?”

“Kalau manusia tau tentang keberadaan shinigami, apa yang akan terjadi?”

“Keseimbangan antar dunia akan kacau! Jadi manusia yang tau keberadaan shinigami harus dihancurkan!!” jawab Baro, Hyorin bergidik. Dihancurkan katanya?

“Ja…jadi…aku?”

“Tenang saja, Hyorin-ssi! Sebenarnya ada cara lain untuk menghapus ingatan tentang eksistensi shinigami bagi manusia. Misalnya hipnotis, tapi kurasa itu kurang efektif untukmu…”

“Jadi?”

“Mungkin dengan menjadi shinigami akan membuat rahasia itu tetap terjaga!” Hyorin mengangguk mengerti.

Jadi shinigami ya? Hmm, intinya kalau aku jadi shinigami seperti mereka maka eksistensi mereka takkan diketahui oleh manusia lain. Yah, ada benernya juga sih!! Tapi…tunggu dulu, ‘kalau aku jadi shinigami seperti mereka’?? Aku? Seorang SHINIGAMI???? Yang bener aja!! ANDWAE!!!

“Andwae!! Kau pikir aku bakal setuju apa?” tolak Hyorin. Baro memandangnya misterius. Kemudian terus berjalan menuju ruang makan dengan cueknya.

.

“Apa aku ga salah lihat?? Kau dengan Sun Woo-ssi berangkat bersama???” seru Sulli heboh. Hyorin melengos kesal, sudah dia dilihati orang-orang sepanjang perjalanan bersama makhluk itu sekarang dia harus menjawab interogasi teman-temannya. Argh ini semua salah oppa!!!

Flashback

“Oppa! Chamkan!!” seru Hyorin sambil berlari-lari menuju ruang depan dan memakai sepatunya.

“Aigoo! Oppa sudah telat nih! Kau berangkat sama Sun Woo saja ya!”

“Iye?? Andwae! Oppa! Tunggu!”

“Hyorin! Makan dulu!” seru umma dari dalam.

“Aniy umma, oppa sudah mau pergi tuh!!” tunjuk Hyorin.

“Yasudah kau pergi dengan Sun Woo saja kenapa? Kalian kan satu sekolah!! Ya kan Sun Woo-ah?”

“Ne, ahjumma!!” jawab Baro sambil menyuap bubur kedalam mulutnya.

“Aish…!!” kesal Hyorin seraya menatap garang Baro yang masih mengunyah makanan dengan santainya. Aish lihat gayanya! Lagaknya seperti dia benar-benar manusia saja! Kalau makan begitu, kira-kira makanannya jadi apa ya? Kalau manusia kan setelah dioksidasi akan menjadi energy, kalau shinigami?? Ah yucks!! Like the hell I care!! Kenapa aku malah mikirin hal ga penting begitu? Hyorin geleng-geleng kepala sendiri.

“Yaa! Jangan menatapku seperti itu, aku jadi ga nafsu makan!” sindir Baro lagi membuat Hyorin tersadar akan Pikirannya. Hyorin menggembungkan pipinya dan mulai makan sarapan paginya.

“Cih, bukannya kalian memang ga perlu makan? Nafsu makan apaan?” dumel Hyorin sambil mengadu-aduk kasar buburnya.

“Kalau makan seperti itu kamu bisa terlambat lho, Hyorin-ssi!” Baro yang sedang mencuci tangan memperingatkan Hyorin.

Selesai makan, Baro lantas menarik tangan Hyorin kasar.

“Ayo pergi!” ajaknya.

“Hah? A…apa maksudmu?” dia langsung menarik tangan Hyorin lagi dan menyeretnya.

“Hyaaa….Omo, Baro lepasin!! Aduh! Sakit!” Hyorin meronta-ronta, apa-apan dia? apa dia mau menculikku? Tidak!!

“Naik!” perintah Baro, ia menyuruh Hyorin naik ke atas motornya. Namun Hyorin hanya diam saja, bingung. Sejak kapan shinigami punya motor? Aniy, memangnya dia tau cara mengendarainya? Baro menarik tangan Hyorin lagi.

“Apaan sih? Kamu ini kenapa?” bentak Hyorin sambil menarik tangannya kembali.

“Kamu tuli ya? Kubilang cepat naik!” Baro menatap Hyorin, seram!

Hyorin langsung naik tanpa berpikir dua kali, ia tak sanggup menatap Baro lama-lama. Jantungnya semakin berdebar kencang! Entah karena takut, gugup atau apa yang jelas sikap Baro barusan, meski kasar ia tau maksudnya baik. Mereka berdua melaju kencang di atas jalanan selaju degup jantung Hyorin. Baro benar-benar liar! Dan akhirnya perjalanan mereka berakhir di depan sekolah.

“Oh…aduh!” Hyorin turun dengan terhuyung-huyung, Baro memeganginya.

“Gwaenchanayo?”

“Kupikir aku akan mati! Gimana caramu mendapat SIM sih?” Baro mengacuhkan Hyorin kemudian memarkirkan motornya dan langsung masuk, Hyorin mengikutinya dengan perasaan tak yakin. Ah dia kan shinigami!! Masa punya SIM? Hyorin geleng-geleng kepala sendiri, dan masuk ke kelasnya.

End of flashback

“Ah, cuma kebetulan saja tadi ketemu di jalan! Oh ya, gimana kemarin? Ciehhh!!” goda Hyorin, wajah Sulli langsung merona seperti kepiting rebus.

“Dia bilang mau mengajakku ke suatu tempat sabtu ini. Untuk merayakan ulang tahunku!!” ujar Sulli lagi.

“Jeongmal? Wah!! Taemin itu kan popular sekali!! Kenapa dia bisa mengajakmu kencan ya?”

“Jahat!! Jangan pake bilang ‘kenapa’ dong!! Itu udah jelas kan? Taemin akhirnya menyadari pesonaku!!” ujar Sulli.

“Hoeks!! Pesona apaan? Padahal kemarin bilangnya bagai pungguk merindukan bulan!!” sindir Hyorin.

“Yaa! Itu kan kemarin, bukan sekarang!!”

“Omo! Itu Gong Chan!!” seru Sulli, Hyorin lantas mencari-cari ‘pangeran’nya itu. Ia berdiri di dekat jendela untuk menikmati keindahan wajah Gong Chan lebih jelas.

Ah itu dia!! Wah dia ganteng sekali!! Aku suka!! Gong Chan-ssi, lihat ke arah sini dong!!

“Ah, jadi itu yang namanya Gong Chan?” bisik Baro yang tiba-tiba berdiri di sebelah Hyorin.

“Mau apa kau kesini? Menjauh sana!!” usir Hyorin.

“Hmm…ganteng juga, ga heran kalau kau menyukainya!” komentar Baro, Hyorin menatapnya heran. Kenapa dia bisa tau? Hyorin tak pernah menceritakannya pada siapa-siapa, atau jangan-jangan Baro bisa membaca pikirannya? Apa ini salah satu kemampuan shinigaminya? Sial!! Aku tak bebas lagi dengan pikiranku!!

“Aku tidak bisa membaca pikiranmu, tenang saja!” ujar Baro lagi.

“Yaa!! Kau memang bisa baca kan??” kesal Hyorin.

“Aniya! Aku ga bisa baca pikiran orang!”

“Terus kau tau darimana?”

“Kau itu orang bodoh yang mudah ditebak tau!! Kalau tentang Gong Chan, aku tau dari ini!” Baro mengacungkan sebuah buku berwarna ungu.

“Mwo?? Kau!!! Yaa!! Itukan buku harianku!! Kembalikan!!” Baro mengangkat buku itu tinggi-tinggi hingga Hyorin ga bisa menggapainya. Bayangin aja 160 versus 178.

“Yaa!! Baro!! Balikin bukuku!!”

“Andwae! Andwae!!” Baro menjulurkan lidahnya mengejek. Lalu ia berlari keluar kelas, mau tak mau Hyorin mesti mengejarnya demi rahasia terbesarnya itu.

.

TBC

gimana? bingung? sama! hahahh, at least bagi kalian yng ud bca silahkan tinggalkan jejak sesukanya supaya author tau komen2 tntg FF2nya author ^^ gamsahamnida

Posted 21 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: