[FF] A Dream *Part 1*   2 comments


Annyeong!!

taraaaaaaa!! saya balik lagi!! dengan FF yang sedikit gaje^^

ini adlh FF terbaru saya, still in progress sih.

author pngen coba bikin yang rada nyeleneh gitu, hehehe fantasi maksudnya.

jadi kalau gaje, boring, aneh, atau gimana gitu harap maklum ya!!

oh ya, nih FF udah sy publish di fb, jadi kalau nemu yng rada mirip ya itulah sudah.

oke deh, slmat membaca ya!!

.

A DREAM

Author: d_na

Length: 1 of ?

Genre: romance, fiction

Main cast:

Jung Hyorin as you

Choi Sulli

Lee Taemin

Cha Sun Woo aka Baro

==========O=========

[Now playing; Emily Osment – Once upon a Dream]

Once upon a time, I dreamed we’d be together in love forever. Once upon a night, I was wishing for a never, a never ending. Once upon a time, once upon a night, once upon a wish, once upon a dream…

.

[Hyorin POV]

Dia berlutut di hadapanku, seraya menengadahkan tangannya padaku. Aku menyambut tangan dan mengikuti tuntunannya. Musik mengiringi langkah kami. Kami mulai berdansa di tengah cahaya rembulan yang membingkai malam. Dia tersenyum padaku. Wajahnya begitu sempurna di mataku. Aku tidak ingin semua berakhir. Dialah pangeranku.

Di setiap kehidupan manusia selalu ada titik terang dan gelapnya masing-masing.

“Saranghae Jung Hyorin…” bisiknya seraya menatap mataku dalam-dalam.

“Na do, Gong Chan-ssi…”

“Rin…Rin…Hyorin….?? Yaa!! Jung Hyorin!!” siapa itu? Siapa yang memanggilku barusan? Ada apa ini? Perlahan wajah pangeranku memudar…andwae!! Jangan pergi Gong Chan-ssi!!

.

“Rin…Rin…Hyorin….?? Yaa!! Jung Hyorin!!” seru seseorang di telingaku. Ah, siapa sih? Aku membuka mataku perlahan.

“Omo!!! Hwaaaaah!!!” seruku kaget, kulihat wajah Sulli berada 5 cm dari hidungku.

“Yaa! Jangan teriak-teriak!!” kesalnya seraya mengusap-usap telinganya.

“Aish! Kenapa kau mengganggu mimpi indahku? Baboya!!” kesalku.

“Yaa! Kau yang babo! Siapa suruh kau tidur di kelas?” ujarnya sambil berkacak pinggang.

“Aish! Aku ngantuk tau…!”

“Pasti semalam habis begadang?”

“Ne, film death note semalam seru banget!!” Sulli memutar bola matanya.

“Dasar! Kamu tuh kebanyakan nonton film tau!!”

“Biarin!! Memang bagus ceritanya, tentang shinigami gitu deh!! Dewa kematian! Keren kan?”

“Aigoo…mulai lagi! Bosen dengernya!” Sulli menutup telinganya.

“Ne, arra arra! Terus kenapa? Ani, apa maumu sampai menghancurkan mimpi indahku??”

“Hmm, ada pertandingan basket. Nonton yuk!!” ajak Sulli.

“Aish! Kau mengganggu tidurku hanya untuk itu?” tanyaku malas, aku mencoba memperbaiki rambutku.

“Eh!! Kamu ini, Taemin versus Gong Chan tau! Ayo nonton!!” paksa Sulli. Aku memutar bola mataku.

“Malas banget, mending aku tidur aja! Paling kamu ngajak aku cuma mau nonton Taemin kan?”

“Gong Chan loh, Gong Chan!! Kamu bukannya suka dengannya?”

“Mwo?”

“Kau bilang tadi ‘na do Gong Chan ssi…’ ya kan? Hahaha! Pasti mimpiin tentang Gong Chan!!” goda Sulli, kontan saja wajahku langsung memerah seperti tomat.

“Yaa! Jangan ngomong keras-keras! Nanti banyak yang dengar babo!!” seruku seraya menutup mulut Sulli.

“Kalau ga mau ada yang tau, ayo kita ke gedung olahraga! Nonton Taemin!!”

“Ne!!” seruku akhirnya.

.

“Heh? Itu oppa mu? Jadi dia kerja sambilan disini?” seru Sulli seraya menunjuk Jinyoung oppa.

“Geuromneyo. Itu oppaku, Jung Jinyoung, wae?” tanyaku seraya menggigit garpuku. Sekarang kami sedang menikmati sepotong cake di D.Lite café, tempat oppa bekerja.

“Omo! Aku ga nyangka aja! Ternyata dia ganteng banget! Beda banget sama kamu!”

“Yaa!! Tentu saja beda! Diakan laki-laki, aku perempuan! Ga mungkin sama lah! Lagian, mana ada cewe ganteng!!”

“Aniya! Bukan itu! Maksudku kalau kakaknya ganteng, biasanya adenya ga jauh-jauh dari ganteng atau cantik gitu. Lah kamu? Boro boro dah!!” ejek Sulli seenaknya. Kucubit pipinya tanpa ampun, seenaknya saja menghinaku. Begini begini, yang suka denganku lumayan banyak juga kok.

“Enak kuenya?” tanya Jinyoung oppa yang tiba-tiba datang menghampiri kami.

“Ne, oppa! Masitta! Nega joahae!” seruku antusias seraya mengacungkan dua jempolku. Jinyoung oppa lantas mengelus kepalaku.

“Ah ini! Umma dan appa sedang pergi keluar Kota. Oppa mungkin akan pulang telat. Jaga rumah ya!!” ujar oppa seraya memberi kunci rumah. Aku mengangguk.

“Langsung pulang! Jangan main-main dulu! Akhir-akhir ini banyak kasus pencurian rumah kosong tau!” ujar oppa lagi.

“Ne…Arrata oppa!! Geokjeongmal!” seruku sambil menjilat krim yang ada di jariku.

“Ah aku tau! Kasus yang ada di berita pagi ini kan? Katanya pencurinya sering mencuri pakaian dalam gitu! Idih menjijikan sekali!!” seru Sulli sambil bergidik.

Mwo? Pencuri pakaian dalam? Ada ada saja! Kayak ga ada barang lain aja yang mesti dicuri selain itu. Ckckc. Btw, memangnya bakal laku kalau dijual??

“Ne, berita yang itu. Kau tau juga Sulli-ah!” seru oppa dengan senyuman khasnya itu kemudian berlalu. Sulli tersenyum malu-malu. Aku memutar bola mataku. Sepertinya ada sesuatu yang mesti diperbaiki disini.

“Yaa! Kalau kau begitu, nanti Taemin menangis loh!!” ujarku.

“Ahahah, aku ga mungkin selingkuh kok dari Taemin kok!!”

“Bicara soal Taemin, sayang sekali teamnya kalah dari teamnya Gong Chan! Tapi ga apa! Bagiku dia tetap keren!! Omonaaa, saranghae Taemin-ah!!” gumam Sulli heboh. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Omo! Apa ini? Permen ya? Kenapa bentuknya lucu begini?” seruku ketika menemukan suatu benda berbentuk bulat sebesar kelereng di atas kue cokelatku.

“Mana? Kok aku ga ada?” tanya Sulli.

“Hehe, berarti aku beruntung!! Kamu ga!”

“Aish, oppa memang baik! Sebelumnya aku juga ga pernah menemukan ini!” tanpa berpikir lagi kulahap saja permen berwarna hitam mengkilat itu. Apa ini? Rasanya aneh? Hambar!! Sepertinya bukan permen? Aish! Jangan-jangan ini memang bukan makanan? Gimana nih?

“Wae? Enak ga?” tanya Sulli, aku menggeleng ragu. Hhh, apa itu tadi ya? Aish, ga apa deh, ntar besok pagi juga keluar. Hihihi!!

Pandanganku tercekat saat kulihat seorang namja berdiri di atap gedung sebuah mini market. Omo! Apa yang dilakukannya di atas situ?

“Hyorin-ah, kau kenapa?” tanya Sulli seraya mengibaskan tangannya di wajahku.

“Sulli-ah, kau lihat namja disana? Kenapa dia berdiri disitu?” tanyaku, Sulli mengikuti arah tanganku.

“Mana? Aku tak melihat siapapun?”

Tidak melihat siapapun? Jelas-jelas ada orang di atas sana.

“Itu!! Di atas daily mart!!” ujarku lagi, Sulli tampak mencari-cari orang yang kumaksud.

“Ga ada siapapun tau!”

“Aneh!! Tapi aku jelas-jelas melihatnya di atas sana!!” gumamku. Apa mataku rusak ya? Aku mengucek-ngucek mataku, tapi namja itu tetap disana. Berarti bukan mataku yang salah.

“Ngapain juga ada orang di atas sana? Kurang kerjaan banget deh, kecuali dia mau bunuh diri!” ujar Sulli cuek.

Mau bunuh diri? Mungkin juga sih, hahaha. Tunggu dulu!! Mau bunuh diri?? Apa dia sudah gila? Bunuh diri di tempat ramai begini?

Aku langsung bangkit dan keluar dari café. Aku menuju mini market itu dan melihat namja itu sekali lagi, memastikan dengan mataku bahwa aku tak salah.

“Yaa!! Apa yang kau lakukan?? Turun dari sana!! Jangan bunuh diri!!!” seruku. Namja itu melihatku dengan pandangan bingung dan kaget. Tentu saja, mungkin karena usaha bunuh dirinya telah diketahui olehku.

“Yaa!! Ppali! Turun dari sana!”

“Hyorin-ah!! Kau sedang apa sih?” tanya Sulli yang tampak ngos-ngosan karena mengejarku.

“Mencegah orang itu bunuh diri!!” aku menunjuk orang yang kumaksud.

“Orang itu? Siapa? Aku tidak melihat siapapun disana!!”

What? Tidak melihat siapapun? Orang itu jelas-jelas ada di…di…dimana? Kemana namja tadi? Barusan aku melihatnya di atas sana, kemana dia pergi? Apa jangan-jangan dia sudah bunuh diri?

Aku bergidik membayangkannya. Aku mencarinya berkeliling, tidak ada. Ada apa denganku? Jelas-jelas tadi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Masa dia sudah pergi secepat itu?

“Kau benar, tidak ada siapa-siapa disana…” gumamku pelan.

Aneh!! Ini benar-benar aneh!! Tadi aku melihatnya dengan jelas!! Tapi kenapa sekarang aku tak melihatnya lagi?

.

[Author POV]

Piip piip piip

“Ah sinyalnya semakin dekat!! Apa disini ya?” seorang pemuda yang memegang alat yang mirip transmisi itu memandang sebuah rumah berwarna cokelat di depannya. Dia lantas masuk ke dalam rumah itu.

“Ah!! Akhirnya sampai juga di rumah!!” seru Hyorin seraya meletakkan tasnya di ruang tamu.

“Hooaahm!! Aku ngantuk! Tapi lapar! Oppa lama gak ya? Aku udah lapar nih!!” gumam Hyorin sambil terus berjalan menuju kamarnya. Dia masuk ke kamarnya yang gelap dan mencoba meraba dinding mencari tombol lampu.

Piip piip piip piip

Eh suara apa itu? Apa hapeku bunyi? Tapi ringtone hape ku bukan itu kok! Masa aku menggantinya?

Hyorin menyalakan lampunya. Alangkah terkejutnya ia, seorang namja berdiri di hadapannya.

“Kyaaaaaaaa!!!!!!” jeritnya sekeras yang ia bisa.

“Yaa!! Siapa kau?? Hah?? Maling ya? Sialan!! Mau ngapain kamu!! Pergi!! Cepat pergi!! Atau ga ku panggil polisi!!” ancam Hyorin seraya mencoba memukuli namja itu dengan guling.

“Yaa! Yaa!! Jangan pukul!! Hei, kau bisa melihatku?” tanya namja itu. Mworago? Tentu saja ia bisa melihatnya.

“Kau pikir aku buta hah?? Yaah!! Mau apa kau!! Itu lemari pakaianku!! Kau mau mencuri ya?? Dasar sialan!!”

“Yaa! Aneh sekali kenapa kau bisa melihatku!!??”

“Mana kutau! Aku kan punya mata, makanya aku bisa melihatmu!” ujar Hyorin. Dia memandang tajam namja itu. Siapa dia? Kenapa dia bisa ada di kamarnya? Apa yang sedang dilakukannya? Apa dia pencuri pakaian dalam yang sedang marak di Koran-koran dan berita itu? Ani!! Jangan sampai!! Tapi!! Ah! Andwae!!

“HELP ME!!!!!” jerit Hyorin sekerasnya.

“Yaaa!! Jangan teriak-teriak!!” si namja lantas menabrak Hyorin hingga mereka berdua terjatuh ke atas tempat tidur.

“Hmmph…mmph…yaa…lep…as!!” Hyorin mencoba berontak dari bungkaman pria asing itu.

“Aneh!!” gumam namja itu seraya mengamati Hyorin. Tatapannya tajam, dan itu membuat Hyorin jadi ciut. Akhirnya Hyorin bisa lepas dari cengkraman namja aneh itu.

“Huaah!! Sial!! Memang apanya yang aneh? Kau itu manusia tentu saja aku bisa melihatmu! Dasar namja babo!!” kesal Hyorin seraya mendorong jatuh namja itu.

Bruaaggh!! Sebuah pukulan dilayangkan Hyorin tepat di hidung si namja.

“Manusia? Jangan samakan aku dengan makhluk rendah begitu…!” ujar namja itu mengejek.

“Mak…maksudmu?”

Piip piip piip. Lagi-lagi bunyi yang aneh itu terdengar semakin jelas.

“Sinyalnya semakin kuat. It can’t be…?” namja itu bangkit dan menatap Hyorin.

“Wae?” tanya Hyorin ketus.

“Kau tau tentang ini? Sebuah mutiara berwarna hitam sebesar kelereng?” tanya namja itu sambil menunjukan sebuah gambar. Eh itukan? Hyorin mengangguk.

Itu bukannya permen yang ada di kue ku tadi? Yang rasanya agak aneh dan hambar itu…? Kenapa orang ini bisa tau? Oh boy!! Jangan-jangan…

“Mana?”

“Ku…makan?” sahut Hyorin ragu. Bagaimana ini? Memangnya mutiara itu apa? Apa itu benda miliknya?

“Ap…apa? Kau makan??? Yaa!! Cepat muntahkan!!” suruh namja itu seraya mencekik leher Hyorin.

“Yaa!! Ap…lep…as!!” Hyorin memukul-mukul lengan namja itu.

“Aaarrgghhhh!!!” erang Hyorin sekuatnya.

Apa-apan orang ini? Apa dia mau membunuhku? Sakit! Leherku sakit!! Napasku sesak! Tolong aku! Siapapun tolong aku!!

“Hyorin-ah?? Wae?” tanya Jinyoung yang langsung masuk ke dalam kamar Hyorin setelah mendengar jeritannya.

“Oppa!!” isak Hyorin lega seraya memeluk pinggang Jinyoung.

“Wae? Gwaenchana? Kenapa menangis?” tanya Jinyoung.

“Namja…itu! Dia mau membunuhku!!” adu Hyorin seraya menunjuk namja yang sedang duduk santai di atas ranjangnya.

“Mwo? Namja apa? Siapa? Siapa yang mau membunuhmu?” tanya Jinyoung.

“Oppa? Kau tidak melihatnya? Itu!!” tanya Hyorin kaget. Jinyoung mengerutkan alisnya bingung, entah apalagi yang diracaukan adiknya ini. Hyorin melotot melihat namja aneh yang sedang membaca-baca buku hariannya sambil tertawa-tawa.

“Yaa!! Itu privasi!! Sialan!!” seru Hyorin seraya merebut buku diarynya.

“Yaa! Jung Hyorin, kau bicara apa? Kamu ngomong sama siapa sih?” tanya Jinyoung yang semakin khawatir akan adiknya itu. Jangan-jangan nih anak sudah mulai gila?

“Sama siapa? Tentu saja dengan namja itu!!” tunjuk Hyorin lagi. Aneh. Kenapa Jinyoung tetap tidak mengerti. Dia terlihat seperti orang buta saja. Masa dia tidak melihat siapapun? Jelas-jelas ada seseorang selain mereka di sana. Kenapa Jinyoung tidak melihatnya? Sama seperti Sulli saja! Tunggu dulu…Jinyoung bersikap seperti Sulli yang tadi siang saat dia menunjuk namja di atas Daily mart…apa artinya ini semua? Kenapa mereka berdua tidak bisa melihat apa yang dilihat Hyorin?

Apa ini? Kenapa cuma aku yang bisa melihatnya? Apa aku ini esper? Paranormal atau semacamnya?

“Kamu mimpi buruk lagi? Ga ada siapa-siapa tau!!”

“Tapi oppa!!”

“Tapi apa? Sudah! Makanya jangan keseringan baca buku misteri!! Makanya terbayang yang ga ga deh!” sahut Jinyoung seraya keluar kamar.

“Ah, ada kimbap di dapur. Makanlah, oppa mau mandi dulu!!” Hyorin terduduk di ranjangnya.

Apa mungkin aku bermimpi? Ani, maksudku berhalusinasi? Apa gara-gara film death note yang barusan ku tonton hingga aku jadi begini? Aigoo! Sebaiknya aku istirahat saja! Mungkin aku terlalu lelah sampai-sampai berhalusinasi yang ga ga!

“Hari yang aneh!!” gumam Hyorin seraya merebahkan dirinya di kasurnya.

“Yaa! Kurasa urusan kita belum selesai!!”

“Huuaaah!!” seru Hyorin saat mendapati namja tadi berada di atasnya. Wajahnya tadi dekat sekali! Deg! Deg! Deg! Napas Hyorin mulai tak karuan.

Aigoo! Bukan mimpi! Ini bukan halusinasiku! Tapi kenapa jantungku berdebar kencang begini? Ngomong-ngomong wajah namja itu ganteng juga. Kyaa!! Apa yang kupikirkan?? Sadar Hyorin!! Sadar!!

“Se…sebenarnya kamu tuh apa? Kamu pasti cuma halusinasiku aja!! Sadar dong Hyorin!! Sadar! Sadar!!” Hyorin menepuk-nepuk pipinya. Mencoba memastikan kalau dia sedang tidak bermimpi.

“Sudah?” tanya namja bertampang imut itu. Hyorin mengucek-ngucek matanya lagi.

Aigoo! Apa aku sudah gila? Kenapa aku masih bisa melihatnya? Apa aku belum sadar juga?

Hyorin memukul kepalanya dengan tangannya berulang kali.

“Pake ini aja, bisa membantu!!” ujar namja itu seraya memberi buku diary berwarna ungu itu.

“Mwo? Buat apa?” tanya Hyorin.

“Buku dengan hardcover seperti ini pasti sakit kalau dipukulkan ke kepalamu! Seperti ini!”

“Aww!!” Hyorin menyentuh keningnya yang dipukul oleh namja itu.

“Sudah yakin kalau kau sedang ga berhalusinasi?” tanya namja itu. Hyorin menggigit bibirnya. Jadi siapa yang sebenarnya sudah gila disini?

“Siapa sebenarnya kau? Ani, kau ini sebenarnya apaan? Mau apa kau kesini?”

“Aku? Aku Baro! Aku adalah seorang shinigami!!” jawab Baro dengan penuh percaya diri.

“Shinigami? Seperti yang ada di film death note itu? Hahaha…” Hyorin terkekeh.

“Hmm, aku ga tau tentang film itu. Tapi aku memang shinigami!!”

“KAU PIKIR AKU BEGO???? HAH?!!” jerit Hyorin seraya memukuli Baro dengan buku diary nya.

“Yaa! Yaa!! Sakit! Kau ini kenapa sih? Dari tadi memukuliku terus!” protes Baro.

“Karena kau bodoh! Mana ada shinigami di dunia ini! Kau pikir aku ini anak bodoh yang mudah di bohongi dengan tipuan anak kecil seperti itu? Dasar gila!!”

“Kau yang bodoh! Sudah jelas ada buktinya! Kenapa kakakmu ga bisa melihatku!! Masih tidak percaya juga kalau aku bukan manusia?”

“Terus kenapa hanya aku yang bisa melihatmu?” tanya Hyorin.

“Ya mana kutau! Hmm, ini sekedar dugaan saja. Mungkin karena kau telah menelan black pearl. Itu adalah shinigami’s soul! Setauku orang yang menyentuhnya bisa melihat si pemiliknya!!”

“Shinigami what?”

“Soul! Jiwanya shinigami!! Dan yang kau makan itu adalah milikku!!” jelas Baro.

“Jiwa? Dewa kematian juga punya jiwa? Lelucon bodoh macam apa itu? Cih!!”

“Tentu saja kami punya jiwa! Bukan cuma manusia saja yang punya!”

“Oke oke, tuan shinigami! Terus kenapa bisa ‘jiwa’ mu itu masuk ke dalam dunia manusia? Lebih tepatnya ke makananku!!?”

”Mana aku tau kenapa, sepertinya karena pertarungan dengan pasukan joker tadi! Jiwaku terlempar sampai masuk dunia manusia!”

“Jo…what? Tunggu dulu maksudmu…joker? Yang ada di kartu remi itu? Bagaimana bisa kau bertarung dengan joker yang ada di kartu remi? Heh! Apa kau sudah gila?”

“Kartu remi? Apa itu?”

“Kau tidak tau? Kartu yang seperti…ah punyaku sudah dibuang umma! Pokoknya sejenis kartulah, masa ga tau sih!” tanya Hyorin. Baro tampak manggut manggut, alisnya berkerut.

“Bukan, sebenarnya Joker itu adalah penguasa dari para hollow, arrancar dan espada. Mereka itu adalah kekuatan jahat yang tak bisa dikalahkan oleh shinigami sekalipun.” [Hahha bleach banget deh!!]

“What?? Hollow? Arrancar? Espada? Apaan tuh? Siapa mereka? Kenapa shinigami ga bisa mengalahkan mereka? Yaa! Kau ini bicara apa sih? Aku ga punya waktu untuk melayani ucapan orang gila macam kamu!!” ketus Hyorin seraya merebahkan dirinya lagi.

“Hollow itu adalah roh manusia yang telah berubah menjadi roh jahat. Arrancar itu adalah hollow yang melakukan shinigamifikasi sehingga dia berbentuk seperti manusia. Sedangkan espada adalah numero arrancar atau arrancar tingkat atas yang memiliki nomor berdasarkan tingkat kekuatan mereka. Mulai dari nomor 9 hingga nomor 1. Mereka adalah anak buah Joker yang terkuat!” jelas Baro.

“Yayaya terserahlah, aku ga peduli! Intinya, bagaimana caranya agar aku tak melihatmu lagi?” tanya Hyorin ketus.

“Aku tidak tau! Aku sedang mencari caranya…” gumam Baro seraya mengutak atik alat transmisinya itu.

“Apa itu? Hp?” tanya Hyorin sambil menunjuk benda yang dimaksudnya.

“Hp? Apa itu? Ini? Ini adalah transceiver. Alat untuk berkomunikasi sesama shinigami.” Hyorin memutar bola matanya. Apalah namanya itu, yang jelas fungsinya pasti seperti Hp!

“Cih, apa bedanya? Keren amat shinigami pake hp-hp an segala!”

“Yah, kau pikir cuma dunia manusia saja yang peradabannya maju? Kaum kami juga!!”

“Lantas mau apa lagi kau disini? Kenapa kau ga pulang saja ke duniamu?” tanya Hyorin lagi.

“Aku ga bisa pulang…!!”

“Mwo? Wae? Kau tidak diterima karena kalah perang melawan joker-joker itu?”

“Aniya!! Shinigami yang telah kehilangan jiwa shinigaminya tidak bisa masuk soul society yang telah di segel dengan jurus tertentu!! Singkatnya, black pearl itu adalah kunci untuk memasuki soul society!!”

“Jah! Emang naruto pake jurus-jurusan segala? Btw, kok kamu bisa bahasa Korea sih? Emang dunia shinigami pake bahasa Korea ya?”

“Ya ga lah!! Kami tau semua bahasa yang dipakai manusia tau! Selain korea, aku juga bisa bahasa Indonesia, Inggris dan yang lainnya!!” ujar Baro. Hyorin hanya ber-oh ria.

“Ah ngomong-ngomong namamu siapa?” tanya Baro lagi.

“Namaku? Hyorin! Jung Hyorin!” jawab Hyorin.

“Salam kenal Hyorin-ssi!!”

“Ne…”

.

TBC~

 

gimana? aneh? hahaha maklum lah^^

sya terinspirasi dri komik bleach tuh *pamer*

hahaha yasud, slmt menunggu the next ya, gomawo^^

Posted 20 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , ,

2 responses to “[FF] A Dream *Part 1*

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah lanjut author cerita dr komik kyk y keren tuh

  2. pantesan kea pernah baca,ternyata dr komik bleach..
    mirip bgt kisahnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: