[FF] Let Go *Part 4*   Leave a comment


annyeong readers!!!!

hahahah author balik lagi!!!

oke deh, pada penasaran selanjutnya?

yasud, nih silahkan di baca!!!

.

LET GO

Author: d_na

Length: 4 of ?

Genre: romance

Cast:

Kim Chae Ri aka Kwon Yuri as you

Choi Minho

the rest member FF [Kim Taeyeon, Lee Sun Kyu, Stephany Hwang, and Im Yoona]

Kim Kibum [SHINee]

Jung Jinyoung [B1A4]

Summary: Kim Chae Ri, seorang gadis SMA biasa. tapi siapa sangka dia adalah seorang artis terkenal yang merupakan personil sebuah girlband baru FF.  namun ia merahasiakan identitasnya karena tidak mau mendapat perlakuan berbeda dengan teman2nya. karena rasa simpati pada Minho, akhirnya ia memutuskan untuk menjadi kekasihnya. dan menceritakan semuanya pada sahabatnya, termasuk jati dirinya sebagai Kwon Yuri…

 

============================================

“Aku Kwon Yuri!” ucap Chae Ri lirih, kedua sahabatnya ternganga.

“Kau! Bagaimana bisa? Kau!” Eun Jo kehabisan kata-kata, jelas sekali ia tampak marah. Ia lantas pergi dan membanting pintu. Chae Ri menatap kepergian sahabatnya itu dengan sedih.

“Aku sudah tau! Kalian pasti tidak akan terima! Aku sudah tau! Hiks!” air mata Chae Ri tak bisa dibendung lagi. Yung In membelainya.

“Maafkan aku Chae Ri-ah!” ujarnya lantas ikut pergi. Chae Ri memeluk lututnya yang gemetar. Menangis sepuasnya. Inilah yang ia takutkan, sahabatnya akan membencinya. Hp Chae Ri menyala-nyala, seseorang meneleponnya. Namun ia tak peduli. Di atap sekolah ini hanya ada Chae Ri dan kesendiriannya.

“Jagi!” panggil Minho, ia tampak terengah. Melihat air mata Chae Ri ia lantas berlutut di hadapan Chae Ri.

“Maaf tidak mengangkat teleponmu!” Chae Ri menghapus air matanya.

“Ne, yang penting aku menemukanmu!” Minho duduk di samping Chae Ri. Air mata Chae Ri kembali menetes.

“Minho, saat kau tau aku adalah Kwon Yuri. Bagaimana perasaanmu?” tanya Chae Ri pelan.

“Kaget! Tapi selanjutnya aku senang!” jawab Minho tersenyum.

“Senang kenapa?” heran Chae Ri seraya menyeka air matanya.

“Karena, aku bisa mengancammu dan menjadi pacarmu!” Minho terkekeh. Chae Ri tersenyum simpul.

“Mereka tidak bisa menerima! Mereka membenciku, Min! Hiks!” Chae Ri menunduk.

“Bukan masalah! Yang penting kau sudah jujur pada mereka! Kalau mereka sahabatmu, mereka akan menerimamu!” sahut Minho menenangkan, ia membelai rambut Chae Ri.

“Gomawo!”

“Ne!” sahut Minho pelan.

“Tapi kalau mereka ga menerima, berarti mereka bukan sahabatku? Hiks! Ga mau! Aku udah menyayangi mereka seperti saudaraku sendiri!”

“Kalau memang seperti itu, mereka pasti juga menganggapmu sebagai saudara. Jadi ga ada alasan mereka membencimu. Mereka butuh waktu untuk percaya, jadi tenang saja.”

“Disini ternyata kau!” seru Key dan Jinyoung yang berlarian menuju mereka. Chae Ri lantas memakai kembali kacamatanya.

“O ow! Mereka lagi pacaran!” seru Jinyoung diikuti sorakan Key.

“Akhirnya noona!” Key menyikut Chae Ri.

“Yaa! Key! Dia pacarku, jangan dekat-dekat!” usir Minho.

“Huuuw!” Jinyoung menggoda.

“Noona! Noona rahasia kita kemarin jangan kasih tau siapa-siapa ya! Cuman kita berdua yang tau!” Key menggoda Minho.

“Rahasia apa?” tanya Minho cemberut.

“Aniyo, kau ga boleh tau! Hanya aku dan noona!” Key mengedipkan matanya.

“Yaa! Kau mau mati hah?” Minho lantas mengejar Key. Chae Ri tertawa melihat tingkah mereka berdua. Jinyoung lantas duduk di sampingnya menawarkan minum.

“Sudah lama tidak melihat Minho sebodoh itu!” gumamnya.

“Ne? Maksudmu?” tanya Chae Ri sambil meminum sodanya.

“Tuan muda itu selalu terlihat sempurna, ga bisa terbayang sebenarnya dia anak yang manja dan bodoh seperti itu!” tunjuk Jinyoung pada Minho dengan dagunya.

“Begitu? Seperti apa dia?” tanya Chae Ri mulai tertarik. Minho yang akhirnya berhasil mendapatkan Key segera bersiap mengeluarkan jurus-jurusnya.

“Yaa! Jung Jinyoung jangan cari kesempatan dalam kesempitan! Habis ini giliranmu!” kesal Minho melihat Jinyoung ngobrol dekat dengan Chae Ri. Jinyoung tertawa. Minho dan Key kembali dan membentuk lingkaran dengan Chae Ri dan Jinyoung.

“Jadi kalian benar-benar pacaran?” tanya Key, Chae Ri mengangguk.

“Bukan pura-pura?” tanya Jinyoung. Chae Ri menggeleng malu-malu.

“Kalau begitu, mari kita berkenalan secara formal!” Key membungkuk memberi hormat. Chae Ri juga membungkuk.

“Annyeong haseo! Jung Jinyoung imnida. Panggil aku adik ipar ya!” Jinyoung ikut-ikutan.

“Adik ipar?” tanya Chae Ri tidak percaya.

“Tentu kami kan bersaudara! Jadi panggil aku adik ipar!” suruh Jinyoung.

“Minho!!” adu Chae Ri tidak terima.

“Yaa! Jinyoung-ah!” tegur Minho.

“Aigoo! Jangan suka ngadu noona!” sindir Key.

“Terserah jagiya ku dong! Kenapa kamu yang repot!” sewot Minho.

“Oke adik ipar? Apa namanya?” tanya Jinyoung.

“Ga tau? Brother’s wife? Woman who married to our brother? Wife of brother?”

“Coba cari di internet, apa sebutan adik ipar?” suruh Jinyoung, Chae Ri lantas mengeluarkan hp nya dan mencari di internet.

“Aish lambat sekali konek nya!” Chae Ri menggoyang-goyangkan Hpnya.

“Pakai ini saja jagi!” Minho memberikan Hpnya.

“Wow wallpapernya!” seru Chae Ri melihat gambar interface di hp Minho. Ia langsung mencari sebutan dari adik ipar.

“Hmm? Ah-ji-baem? Ahjibaem!!” beritau Chae Ri.

“Ahjibaem?” ulang Jinyoung dan Key, lalu tertawa.

“Oke panggil kami, ahjibaem!” sahut Key.

“Ah ga mau! Udah gila apa?” tolak Chae Ri.

“Ah ga mau!” olok Jinyoung menirukan gaya Chae Ri namun dengan gaya yang lebih centil.

“Yaa! Ga lucu tau!” Chae Ri memukul lengan Jinyoung yang tertawa-tawa gaje.

“Noona, kamu pintar masak ga?” tanya Key, mengalihkan pembicaraan.

“Ne, lumayan!” dusta Chae Ri, dirumahnya juga ada pembantu yang selalu melayaninya. Jadi jangan heran kalau Chae Ri sama sekali kaku dalam hal rumah tangga begini.

“Kalau begitu kau harus membuatkannya bekal setiap hari!” usul Key yang diiyakan Jinyoung.

“Yaa kenapa gitu?”

“Aku mau! jagiya!” manja Minho. Chae Ri tersenyum.

“Kamu kan punya pembantu di rumah! Kenapa mesti aku lagi yang masak?” tolak Chae Ri.

“Aish! Kau ini payah jagi! Makan bekal buatan istri tercinta itu beda dengan buatan pembantu!”

“Aku bukan istri mu, tuan muda Choi!”

“Pokoknya harus buatin!” manja Minho kekanak-kanakan.

“Sekali ga ya tetap ga!” Chae Ri keras kepala.

“Ah kau mencurigakan noona! Jangan-jangan kau tidak bisa masak?” tuduh Key. Chae Ri mengerucutkan bibirnya.

“Aku bisa!”

“Kalau gitu buatin!” tantang Jinyoung.

“Oke!” Chae Ri termakan kata-kata Jinyoung dan menyetujuinya. Ow boy!

“Asyik!” senang Minho yang diikuti Key dan Jinyoung.

“Gimana nih?” jerit hati Chae Ri. Chae Ri berusaha untuk bersikap tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan, ia minum sodanya dengan anggun.

“Jagiya?” panggil Minho.

“Hmm?”

“Saranghae!” bisik Minho. Blush!! Wajah Chae Ri merona tak karuan, hingga ia menyemburkan soda yang diminumnya ke wajah Minho.

“Yaa jorok sekali!” Minho mengelap wajahnya dengan lengan bajunya.

“Itu karena kau mengatakan hal seperti itu!” jawab Chae Ri salah tingkah sembari memberikan sapu tangan miliknya.

“Pacaran kan biasa ngomong gitu!” protes Minho.

“Yah! Kalian ini pacaran atau bukan sih?” tanya Jinyoung meragukan.

“Tapi kita pacaran kan bukan karena itu!” ngeyel Chae Ri ga mau kalah.

“Tetap aja disebut pacaran noona!” sela Key.

“Awas kalau sampai kau menyukaiku, jagi!” kecam Minho bercanda. Chae Ri menjulurkan lidahnya.

“Paling-paling kamu yang jatuh cinta padaku! Week!” balas Chae Ri sambil tertawa. Sedangkan Key dan Jinyoung hanya bisa mengangkat bahu melihat tingkah mereka berdua.

Krompyang! Prang! (*bunyi piring sama panci jatoh gini ga sih?)

“Aduh!” Chae Ri menjilat ujung jarinya. Ia tak sengaja mengiris jarinya sendiri dan menyenggol rak piring.

“Ya ampun nona! Ada apa?” tanya Bibi Nim yang baru saja pulang dari pasar dan melihat dapur yang berantakan.

“Aku sedang masak, Bi! Lihat deh!” pamer Chae Ri bangga.

“Itu minyaknya kepanasan, aduh bahan-bahannya belum selesai dipotong lagi. Kalau begini bisa kebakaran nanti. Mana berasnya? Ya ampun belum dicuci? Nona, bau gosong apa ini?” heboh Bi Nim sambil berlari ke arah microwave. Chae Ri menggigit jarinya.

“Sudah nona duduk saja, biar bibi yang masak!” ujar Bi Nim sambil mengambil spatula dari tangan Chae Ri.

“Ah aku kan mau masak!” Chae Ri merebut spatulanya kembali.

“Nona, bisa masak apa? Hampir saja nona membakar rumah ini! Sudah biarkan bibi yang ngerjain!” Bi Nim merebut spatula dan terjadilah perebutan kekuasaan akan spatula (?)

“Tapi kan aku udah gede, masa ga bisa masak sih?” ngeyel Chae Ri ga mau kalah.

“Nona bukannya akan kehilangan jari nona lebih cepat?” sindir Bi Nim, Chae Ri lantas menyembunyikan jarinya yang terluka.

“Aniya, siapa yang kehilangan jari? Aku baik-baik saja! Tidak terluka kok!” angkuh Chae Ri seperti anak kecil. Bi Nim menarik tangannya Chae Ri yang terluka.

“Ini apa?” tanya Bi Nim.

“Ini terjatuh saat aku mencoba memanjat pohon di sekolahku!” jawab Chae Ri sekenanya. Bi Nim Cuma geleng-geleng kepala aja. Masa iya, jatohnya di sekolah masih berdarah sampai sekarang.

“Pokoknya aku mau masak!” paksa Chae Ri sambil mencuatkan bibirnya.

“Kenapa sih maksa gitu? Nona kan memang ga bisa masak!”

“Duh, aku udah terlanjur janji sama seseorang! Please Bi!” manja Chae Ri.

“Yasudah, kalau gitu nona potong bahan-bahannya biar bibi yang masak!”

“Yes Bibi emang baik!” senang Chae Ri sambil memeluk pembantunya itu.

“Chae Ri-ah? Kau masih disitu? Astaga? Kamu belum berangkat juga? Hari ini kan ada pemotretan! Gimana sih?” seru umma Chae Ri.

“Ne umma, aku kesana!” Chae Ri melepas celemeknya dan langsung menghampiri ummanya.

“Udah biar umma yang dandanin ya!” sahut umma Chae Ri sambil mengajak anaknya ke salon pribadinya.

“Umma!” panggil Chae Ri.

“Ne?” tanya ummanya sambil mendandaninya.

“Sampai kapan aku merahasiakan jati diriku?” tanya Chae Ri membuat ummanya terdiam.

“Chae Ri-ah, bukannya kamu tidak ingin diperlakukan layaknya artis? Bukannya kamu sendiri yang bilang ingin menjadi seorang Chae Ri?”

“Aku tau! Tapi punya 2 kehidupan sepertiku kan aneh!” umma Chae Ri tersenyum mendengar keluhan putrinya itu.

“Yang terbaik adalah kamu bisa menjadi siapapun yang kamu inginkan! Yang manapun umma tetap mendukungmu!”

“Umma, kira-kira appa bakal bilang apa sekarang?” tanya Chae Ri lagi membuat ummanya lagi-lagi terdiam.

“Kami berdua selalu mendoakan yang terbaik buat mu, Chae Ri-ah!” sahut ummanya pelan, ada tetes air mata di sudut mata ummanya.

“Umma angkat telepon dulu ya!” ummanya lantas pergi sambil menyeka air matanya.

“Appa! Walau aku tak pernah melihatmu, apakah kau sudi melihatku sekarang? Aku tumbuh untuk membahagiakanmu dan umma. Aku mencintai kalian berdua!” Chae Ri menatap wajahnya di cermin. Dia ingat betapa bodohnya dia selama bertahun-tahun karena tak pernah melihat ayah kandungnya sendiri. Ia baru sadar akan setiap tetes air mata ibunya karena ia ingin bertemu dengan ayahnya.

“Siapa itu umma?” tanya Chae Ri begitu melihat ummanya kembali.

“Direktur grup Asan, dia meminta umma untuk mendekor dan mempersiapkan pernikahan putrinya!” jawab umma Chae Ri sambil menyisir rambut anaknya.

“Wow! Grup Asan? Itu kan perusahaan besar! Proyek besar! Harus sukses tuh! Pasti bayarannya besar!” canda Chae Ri, ummanya tersenyum membuat hati Chae Ri kembali lega.

“Iya, dengar-dengar calon tunangannya pewaris perusahaan besar juga!”

“Nah udah selesai, mana coba umma lihat? Aduh cantiknya anak umma!” Chae Ri tersenyum dengan wajahnya yang merona.

“Kau mirip dengan tante Park loh! Kalau dipuji suka memerah wajahnya!” komentar umma Chae Ri sambil membersihkan dan merapikan kembali peralatannya.

“Siapa tante Park?”

“Sahabat umma mulai SMA! Orangnya cantik sekali!”

“Oh ya? Aku ingin melihatnya umma! Apa dia secantik aku?” tanya Chae Ri.

“Hah? Ayo sudah berangkat nanti kamu terlambat!” ujar umma Chae Ri sambil mengantarnya ke pintu depan. Chae Ri tanpa berpikir apa-apa lantas pergi menuju studio.

“Semua lengkap?” tanya Mr. Shim pada Taeyeon.

“Yuri belum datang!” jawabnya.

“Aneh sekali, biasanya Yuri onni selalu paling cepat datangnya. Kenapa sekarang?” tanya Yoona. Tiffany hanya mengangkat bahu.

“Tapi sebenarnya aku bingung, dia itu benar-benar mysterious black pearl. Pernah ga kamu tanya dia sekolah dimana atau tinggal dimana?” tanya Tiffany.

“Aku pernah bertanya, tapi Yuri selalu pintar berdalih untuk tidak menjawab!” Sunny menimpali.

“Kita ini gimana sih? Kok ga tau dengan teman sekelompok kita sendiri ya?” tanya Yoona.

“Kalau gitu entar kita tanya saja!” Taeyeon menengahi.

“Kalau dia berdalih lagi?”

“Kita sidang aja!” usul Tiffany bercanda.

“Ssstt!!” Taeyeon memberi isyarat diam.

“Maaf semua aku terlambat!” sahut Yuri sambil meletakkan tasnya. Tiffany dan Sunny berpandangan bingung. Kapan waktunya? Yuri sedang minum air mineral di pojokan.

“Yuri-ah, dimana kau bersekolah?” tanya Taeyeon memulai membuat Yuri jadi tersedak.

“Onni, gwaenchana?” cemas Yoona, sambil membelai punggung Yuri.

“Ne, airnya terasa aneh. Apa sudah diganti?” tanya Yuri mengalihkan pembicaraan.

“Biar ku tanya pada manager Shim nanti! Tadi aku juga minum dan rasanya memang sedikit aneh!” sahut Tiffany.

“Yuri!! Jangan mengalihkan pembicaraan!” seru Sunny kesal. Semuanya lantas kembali terfokus pada Yuri. Gimana nih?

“Hmm aku…”

“Kau tinggal dimana?” tanya Tiffany berusaha memojokkan. Yuri termundur saat Taeyeon merangsek mendekatinya. Bagaimana ini? Pikirkan alasan! Pikirkan jawaban yang bagus!

“Yuri! Kau tidak mungkin tidak tau alamatmu sendiri kan?” cecar Sunny.

“A…aku…” Yuri mulai gelagapan jantungnya berdegup tidak karuan. Ow God help me please! Jerit hati Yuri.

“Kenapa kau gugup begitu Yuri-ah? Bukankah kami hanya bertanya alamat rumahmu?” tanya Tiffany.

“Iya, kita teman kan? Kita pasti akan menjaga rahasiamu dari public!” janji Yoona. Mendadak ia teringat flashback tadi siang antara ia dan kedua sahabatnya itu. Padahal mereka berjanji akan menerima apapun yang terjadi, tapi nyatanya? Dan dia ga ingin terjadi untuk yang kedua kalinya.

“Aku…aku tinggal di Busan!” jawab Yuri makhirnya. Setidaknya mereka ga bakal mencecarinya dengan pertanyaan seputar kota yang jauh seperti Busan.

“Busan? Dimana itu?” tanya Tiffany pada yang lain. Yuri tersenyum, sepertinya kota kelahirannya itu adalah tempat yang bagus untuk menyembunyikan identitasnya.

“Aku tau, aku punya teman disana! Dimana onni sekolah?” tanya Yoona.

“Neul Paran High School!” Yuri menyebutkan sekolah ibunya dulu.

“Paran? Kebetulan sekali, apa onni kenal dengan ….”

“Sudah waktunya!” manager Shim datang di saat yang tepat. Yuri menghembuskan napasnya, lega untuk sementara.

“Yuri, Busan itu jauh?” tanya Sunny yang berjalan di samping Yuri.

“Ne, sekitar 500 km dari sini!” *sotoy bner dah

“Jadi gimana kau datang kesini?” tanya Sunny lagi.

“Aku menginap dengan bibiku, bibi Nim!” sahut Yuri sekenanya. Ia melihat ada sebuah pesan dari Minho di Hpnya.

‘Jagi, lagi apa?’ Yuri tersenyum, sepertinya Minho lagi dapat sms gratis dari operator setempat sampai ngirim sms ga penting begini. Sedang Minho menunggu balasan dengan perasaan gugup tak karuan.

“Yah, apa sudah dibalas?” tanya Jinyoung. Minho menggeleng.

“Mungkin dia lagi sibuk, kan udah kelas 3!” jawab Minho, tak lama Hpnya bergetar.

‘Aq lg d sidang! FF hampir tau identitas q!’ Yuri membalasnya dengan singkatan.

‘Kamu baik-baik saja kan? Mau ku jemput?’ tanya Minho.

‘Ne, baik2 aj kok! Gosah d jmpt sgla, emang Cinderella? Btw, lg dpt sms grtis ya?’ tanya Yuri sambil senyam-senyum sendiri.

‘Kamu kan memang Cinderellaku. Haha. Sms gratis kepalamu! Emang ada?’ balas Minho.

“Oke untuk hari ini temanya pendidikan!” ujar Mr. Shim mengejutkan Yuri.

“Ganti pakaian seragam sekolah, Yuri sini sebentar! Kamu pakai kaca mata ini!” suruh Mr. shim

“What? Kaca mata?” ulang Yuri kaget.

“Iya, supaya terlihat pintar!” ujar Mr. Shim sambil berlalu.

“Tapi sonsaengnim!”

“Udah biar aku aja yang pakai!” Tiffany lantas mengambil kacamata Yuri.

“Gimana cocok ga?” tanya Tiffany.

“Cantiknya!” Taeyeon lantas merebutnya dan memakainya.

“Ah aku terlihat seperti sonsaengnim saja!” celetuk Taeyeon.

“Aku mau coba juga!” Sunny ikut-ikutan.

“Cantik! Aku imut!” ujarnya narsis.

“Onni ga mau coba?” tanya Taeyeon. Yuri diam membeku. Tiffany lantas mengambi kaca matanya yang dipakai Sunny dan memberikan pada Yuri.

“Pakai!” Yoona tersenyum manis menunggu Yuri memakainya. Kalau pakai kacamata ini, bukankah identitasku bakal ketahuan? Yuri menggigit bibirnya. Ow boy! Dia menghela napas, dan memakai kacamata.

Mendadak suara hening terdengar, personil FF yang lain saling berpandangan.

“Yuri…!” Sunny yang pertama membuka mulutnya.

“Kau mirip dengan Chae Ri!” serunya lagi.

“Ne, kau mirip sekali dengannya!” sahut Taeyeon membetulkan.

“Chae Ri? Oh yang ngedance waktu itu?” timpal Tiffany.

“Chae Ri? Benarkah? Apa dia mirip denganku?” tanya Yuri mencoba menginterupsi pikiran yang lain.

“Ne, dia juga berkacamata! Kau sangat mirip dengannya, onni. Tapi tentu saja berbeda!” jawab Yoona. Yuri menghembuskan napas lega. Setidaknya Yoona bilang dia berbeda.

“Aku ingin bertemu dengannya! Apa benar dia secantik aku?” Yuri menimpali.

“Tapi kurasa dia sedikit aneh onni, nanti akan kucoba mengajaknya!” Yoona tersenyum senang. Mwo? Aneh? Yuri mencuatkan bibirnya, apa bagi mereka Chae Ri itu seorang yang aneh? Manager Shim kembali dan memanggil mereka, pemotretan dengan tema sekolah dan pendidikan dimulai. Mereka mulai beraksi layaknya model dan tertawa-tawa.

“Yuri-ah Busan itu seperti apa?” tanya Tiffany di sela-sela break.

“Kota metropolitan yang lumayan padat, namun ga sepadat di sini.” Jawab Yuri pelan.

“Apa mereka tau kalau kau seorang artis?” tanya Tiffany lagi.

“Aniya, mereka ga tau identitasku.”

“Hey, apa kau punya pacar? Atau punya teman yang cakep? Kenalkan padaku dong!” gurau Tiffany, Yuri tersenyum.

“Bukannya kau cantik sekali, kenapa harus mencari seperti itu? Pasti banyak yang ingin bersamamu Fany-ah!”

“Yoona, bagaimana hubunganmu dengan namja itu?” tanya Yuri.

“Minho-ssi maksudmu? Yah seperti itulah! Tidak ada kemajuan onni!” jawab Yoona lirih.

“Kudengar dia punya pacar lho!” Taeyeon menimpali.

“Siapa onni?” tanya Yoona.

“Kim Chae Ri dari kelas XII IPA-2 itu. Gosipnya udah menyebar tau. Kau ga tau?” tanya Taeyeon.

“Chae Ri yang mirip aku itu?” tanya Yuri sok polos. Sunny mengangguk menimpali.

“Kok bisa? Siapa yang nembak duluan?” tanya Tiffany.

“Dengar-dengar sih Minho!” ujar Taeyeon.

“Kau baik-baik saja Yoona?” tanya Tiffany.

“Aish, gwenchana, Chae Ri sunbae memang cantik. Dia cocok dengan Minho.” Yoona menunduk, berusaha tegar. Yuri tersenyum pahit, aish! Bodohnya ia menanyakan hal ini. Kini perasaan bersalah menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Mungkin Chae Ri itu punya alasan sendiri!” gumam Yuri pelan.

“Yuri, kau ngomong sesuatu?” tanya Sunny.

“Aniya, ayo kita mulai lagi pengambilan gambarnya!” elak Yuri.

Jam baru menujukkan pukul setengah 5 pagi, namun Chae Ri dengan penuh semangat bangun dan lantas pergi ke dapur setelah membangunkan Bi Nim.

“Nona, mau bawa bekal makan siang?” tanya Bi Nim yang masih sedikit mengantuk.

“Ne, sebenarnya sih ga juga!”

“Maksudnya?”

“Aku mau memberikannya pada seseorang!” jawab Chae Ri pelan sambil memotong-motong bahan makanan di depannya.

“Ah, buat pacar nona ya?” goda Bi Nim. Chae Ri mengangguk pelan, wajahnya terasa panas.

“Siapa nona? Apa dia cakep?” tanya Bi Nim.

“Namanya Minho, yah dia seperti malaikat! Hehe, ga sih. Dia cakep kok!”

“Akhirnya nona punya pacar juga setelah dengan tuan Kwon dulu!” goda Bi Nim lagi sambil menyenggol bahu Chae Ri.

“Yaa! Itu kan masa lalu! Palingan Jiyong oppa juga udah punya pacar!” Chae Ri menjulurkan lidahnya.

“Nah udah selesai!” senang Chae Ri, walau bentuknya sedikit aneh tapi yang jelas udah jadi. Bi Nim langsung memasaknya. Sedangkan Chae Ri lantas bersiap untuk berangkat sekolah.

Sesampainya di sekolah, ada yang berbeda dari biasanya. Yah, biasanya kedua sahabatnya Eun Jo dan Yung In akan menunggunya di pagar untuk bersama-sama ke kelas. Namun sekarang? Mereka berdua benar-benar tidak ada.

“Apa mereka masih marah padaku?” Chae Ri menggigit bibirnya sedih. Segitu salahkah ia? Padahal ia sudah berusaha jujur, namun apa yang ia dapat dari sebuah kejujuran? Sampai di kelas, suasana begitu mencekam. Yung In yang biasa duduk bersamanya, pindah ke belakang. Dan kini ia harus duduk sendirian. Bukannya ia ga bisa duduk sendirian, namun ini membuatnya ga nyaman. Bayangkan saja, sahabatnya yang berjanji akan menerima dirinya apa adanya saja bersikap demikian bagaimana dengan fans-fansnya di kota ini?

“Eun Jo-ah, bukankah kita tidak perlu memperlakukannya seperti ini?” bisik Yung In, sambil mengamati Chae Ri yang sedang menempelkan kepalanya di meja. Seperti orang yang sedang bosan, padahal ia sedang menahan tangisnya disana.

“Aish! Biar dia tau rasa! Bisa-bisanya menipu kita selama ini!” Eun Jo keras kepala.

“Ani, maksudku memang dia tidak memberitahu kita sebelumnya. Tapi setiap orang kan punya rahasia masing-masing!”

“Yaaah! Yung In-ah, kalau kau mau berteman dengannya ya pergi saja berteman! Tidak perlu menasihatiku seperti itu!” Eun Jo keluar.

“Eun Jo-ah, tunggu! Aku Cuma ingin kita seperti dulu lagi!” seru Yung In mengejar Eun Jo. Chae Ri menatap kepergian mereka berdua. Dan memutuskan mengejar.

“Song Eun Jo! Apa kau marah padanya karena kau adalah antifans?” tanya yung In yang berhasil mengejarnya.

“Aku marah padanya karena dia tidak pernah menganggap kita sebagai sahabatnya!” bentak Eun Jo. Sontak mereka berdua jadi bahan tontonan karena saat itu mereka berdua ada di tengah lapangan.

“Yaah!! Dasar pengecut!!” jerit Chae Ri sekuatnya, air matanya meleleh.

“Justru aku tak mau kalian bersikap seperti inilah makanya aku ga pernah bilang selama ini! Kalian berjanji padaku kan? Tapi apa? Kalian malah bersikap begini? Inikah yang disebut sahabat, Eun Jo-ah??” seru Chae Ri dengan suara serak. Sementara itu di kelas 1.1, Minho yang melihat kejadian dari jendela itu segera turun bersama dengan 2 ‘pengawal’nya.

“Aku ga ngerti! Bukankah kita sahabat! Seharusnya kalian bisa menghormati privasiku! Tapi apa?”

“Itu karena kau tidak pernah bilang apa-apa pada kami! Kau selalu menyembunyikan apapun dari kami! Kau dengan duniamu sendiri! Sedang kami hanyalah sampah yang tak berarti!” balas Eun Jo skeptic.

“Aku tak pernah menganggap kalian seperti itu! Aku menganggap kalian seperti saudaraku!!” Chae Ri tidak terima. Air matanya kembali menetes, namun di saat yang bersamaan Minho datang memeluknya, melindungi air matanya dari tatapan 1 sekolah. Perilakunya barusan membuat para fans Minho langsung histeris.

“Yah! Mau apa kau? Jangan ikut campur masalah kami!” bentak Eun Jo.

“Maafkan aku sunbae, tapi Chae Ri adalah pacarku sekarang. Orang yang membuatnya menangis akan berurusan denganku. Lagipula, disini terlalu ramai untuk membahas ini semua!” jawab Minho kalem.

“Kau sudah tau siapa dia?” marah Eun Jo.

“Dia tau lebih dulu daripada kami? Hoo! Hebat! Bagus sekali!” Eun Jo menepuk tangannya mengejek, jelas ia geram sekali dengan Chae Ri. Sahabat macam apa lebih mementingkan pacar yang baru dikenalnya di banding persahabatan mereka selama bertahun-tahun.

“Ayo jagi, kita pergi!” bisik Minho menguatkan pegangannya pada bahu Chae Ri. Chae Ri menggeleng, persoalan ini harus diselesaikan secepatnya.

“Jagi!” seru Minho pelan.

“Ayo, kita pergi. Tunggu mereka tenang dulu baru dibicarakan kembali!” Minho tersenyum bijak seraya menarik Chae Ri dari tengah lapangan.

“Yaah jangan lihat-lihat!” marah Jinyoung kepada mereka yang sedang menonton. Baru kali ini melihat si ‘cool’ Jinyoung bersikap seperti itu.

“Kau ga apa-apa noona?” tanya Key khawatir.

“Aku baik-baik saja!” jawab Chae Ri pelan.

“Memang ada apa masalah apa sih, kakak ipar?” canda Jinyoung. Chae Ri tersenyum simpul.

“Jangan ikut campur Jinyoung!” tegur Minho galak.

“Kan Cuma tanya, tuan muda sekarang galak banget sih! Sikapmu barusan kayak orang pacaran aja loh! So sweet!!”

“Kami memang pacaran babo!” jitak Minho.

“Yah, tapi kan ga ada perasaan-perasaan cinta gimana gitu kan? Emang itu disebut pacaran?” olok Jinyoung.

“Ya iyalah disebut pacaran!” angkuh Minho seperti anak kecil.

“Baru pacaran sekali aja gaya!” olok Key. Minho memicingkan matanya kesal.

“Daripada ga punya sama sekali?” balas Minho, Jinyoung tertawa sepuasnya mentertawakan kekalahan Key tepatnya.

“Hei, aku ini milik semua tau!” Key membela diri. Minho dan Jinyoung hanya mengolok-ngoloknya. Chae Ri yang mulanya sedih mulai bisa tertawa seperti biasa.

“Jagi, nanti makan siang bareng ya?” ajak Minho, sambil beranjak. Bel masuk sudah berdering. Chae Ri menarik jari Minho pelan.

“Aku ada kejutan buatmu!” Chae Ri tersenyum penuh arti. Minho mengangguk pelan seraya pergi dari sana. Chae Ri yang enggan ke kelas berjalan terus menuju ruang kesehatan.

“Annyeong?” sapa Chae Ri pelan sambil masuk ke dalam. Biasanya akan ada guru kesehatan, Song Ga In yang menjaga ruangan.

“Masuklah! Kau sedang kurang enak badan?” tanya seseorang dari dalam, suara namja! Siapa itu?

“Hmm, Ga In sonsaengnim dimana ya?” tanya Chae Ri basa basi sambil duduk di kursi dan mengisi buku pasien.

“Hmm, sebenarnya Ga In sonsaaangnim sedang ke ruang tata usaha. Ah, perkenalkan nama saya Yesung. Saya mahasiswa yang magang disini!” namja tampan bernama Yesung itu keluar dengan membawa secangkir teh dan disodorkan ke Chae Ri.

“Chae Ri imnida.” Chae Ri membungkuk kaku.

“Chae Ri-ah, apa kau sedang kurang sehat? Hmm sudah kelas 3 jangan sampai sakit loh!” nasihatnya.

“Hmm, anu sonsaengnim! Sebenarnya…”

“Panggil oppa saja, aku tidak setua itu juga kok!” selanya ramah.

“Oppa?” wajah Chae Ri mulai merona, hatinya berbunga-bunga tampaknya.

“Apa ini?” tanya Minho bingung sambil mengangkat ‘sesuatu’ yang dia maksud.

“Wortel!” sahut Chae Ri ketus. Dari tadi Minho terus saja mengomentari ‘bentuk masakannya’ yang unik itu.

“Masa sih?” Minho mencobanya dan mulai melahap habis makanan di depannya tanpa belas kasihan terhadap Chae Ri maupun Key dan Jinyoung yang sudah ngiler.

“Yah, kau tidak membaginya pada saudaramu?” tanya Key.

“Sorry ya bro, kalau mau minta buatin sama semua ‘cewe’ mu itu!” Minho menjulurkan lidahnya.

“Enak juga! Walaupun bentuknya sedikit? Hmm, unik?” komentar Minho lagi. Jelas saja enak, yang bikin kan Bi Nim.

“Aku Cuma ingin memotongnya dengan model yang ga biasa, tapi gagal!” jawab Chae Ri, Minho memandang jari telunjuk Chae Ri yang berbalut plester.

“Yah, aku sudah melihatnya! Terimakasih ya jagi!” Minho tersenyum sambil mengelus kepala Chae Ri, Chae Ri mengangguk puas sekali.

“Kudengar ada guru baru loh!” seru Key.

“Cantik ga?” tanya Jinyoung cuek.

“Cowo ndul!” jawab Key.

“Maksud kalian mahasiswa yang magang di ruang kesehatan itu?” tanya Chae Ri polos.

“Noona, udah bertemu dengannya?” tanya Key.

“Seperti apa orangnya jagi?” tanya Minho.

“Orangnya cakep sekali! Manis, namanya Yesung. Aku memanggilnya Yesung oppa!” jawab Chae Ri antusias sambil membayangkan kembali kejadian singkat di ruang kesehatan itu.

“Jangan dekat-dekat namja lain!” Minho mencubit pipi chubby Chae Ri dan membuyarkan khayalan Chae Ri.

“Memangnya kenapa?” protes Chae Ri.

“Kau lupa sudah punya pacar?” tanya Minho seram, ia menyipitkan matanya.

“Iya tapi kan kita ga saling cinta!”

“Pokoknya sekali ga tetap ga!” Minho mulai bersikap overprotective.

“Wah sepertinya aku mencium bau-bau api kecemburuan nih? Key apa kau juga menciumnya?” goda Jinyoung.

“Ga tuh, adanya juga bau kaus kakimu disini!” gurau Key, Jinyoung lantas menjitak kepalanya.

“Jangan mulai bersikap protektif gitu dong, Minho!” Chae Ri ikut-ikutan menyipitkan matanya.

“Itu kan wajar, karena kamu pacarku!”

“Itu ga wajar, itu berlebihan!” Chae Ri mulai kesal.

“Yah Min, noona benar. Itu berlebihan sebagai orang yang tak punya perasaan apa-apa…” Key menggantung kalimatnya.

“Kecuali kalau kamu memang punya perasaan khusus!!” seru Jinyoung heboh. Minho menunduk, wajahnya merah.

“Yah, siapa juga suka dengan yeoja aneh ini?” Minho menggembungkan pipinya.

“Jahat! Awas kalau kau sampai suka denganku!” Chae Ri memukul lengan Minho.

“Bercanda! Jangan marah gitu dong! Mian noona mian!”

“No way!” Chae Ri melipat tangannya dengan gaya angkuh sambil membuang muka.

“Noona neomu yeppo!!”

“Emang!!” Chae Ri meggembungkan pipinya.

“Jagiya! Saranghae!” rayu Minho.

“Ga ngaruh!” Chae Ri menjulurkan lidahnya, mengejek.

“Mestinya jawabannya ‘Na do saranghae’ dong!”

“Peduli amat!”

“Kau ini!” Minho mencubit pipi Chae Ri lagi, lebih keras.

“Appo!” Chae Ri meringis kesakitan.

“Jinjja? Mianhae!!” Minho menepuk-nepuk pipi Chae Ri pelan. Sedangkan Key dan Jinyoung jadi ikut cubit-cubitan karena iri.

“Ada syaratnya kalau mau minta maaf!”

“Mwo? Apa?” tanya Minho sambil minum air.

“Aku mau ice cream! Yang rasa moca! Ga mau yang lain!” jawab Chae Ri setengah maksa.

“Beli saja sendiri!” Minho mengambil Hp Chae Ri dan mengutak-atiknya.

“Oh gitu? Ya udah! Fine!” Chae Ri merampas Hpnya dan beranjak dari sana.

“Yaa! Jagi!” panggil Minho, namun Chae Ri terlanjur pergi dan tidak memperdulikan Minho.

“Minho, nih ada undangan ulang tahunnya Tiffany noona, kalau mau ajak Chae Ri noona aja sekalian! Biar bisa baikan!” Minho lantas mengambil undangan itu dari tangan Jinyoung.

Di tengah perjalanan menuju kelas Chae Ri bertemu dengan Yesung dan tersenyum manis.

“Chae Ri-ah!” tegur Yesung.

“Ne, oppa? Sedang apa disini?” tanya Chae Ri senang.

“Sedang menunggumu!” canda Yesung sambil berjalan mengiringi Chae Ri.

“Aish, oppa ini bisa aja!” malu Chae Ri yang hanya bisa tertunduk. Sementara Minho yang tadi berniat menyusulnya hanya merengut kesal melihatnya sambil meremas undangan dari Jinyoung.

“Wah! Diambil tuh!” Key mengompori.

“Diambil ya ambil balik dong!” timpal Jinyoung. Minho menatap tajam namja bernama Yesung itu. Dia memang tampan, dengan pipi chubbynya itu. Apa Chae Ri menyukai namja seperti itu?

“Jagi!!” panggil Minho, dia langsung menghampiri Chae Ri ketika gadis ini menoleh padanya.

“Sedang apa kau disini?” tanya Minho dengan nada tidak suka. Entah karena dia merasa tersaingi atau karena Chae Ri tampak begitu riang saat bersama pria ini.

“Annyeong, Yesung imnida!” sapa Yesung ramah.

“Saya tidak mengajak anda berkenalan!” jawab Minho jutek.

“Yah! Minho, apa-apaan kau? Tidak sopan!” tegur Chae Ri.

“Ani, tidak apa-apa Chae Ri-ah! Sepertinya ‘anak’ ini sedang tidak baik moodnya. Apa dia pacarmu?” tanya Yesung.

“Ne, kami pacaran! Kenapa?” ketus Minho seolah menantang, Yesung hanya tersenyum salting.

“Oh begitu. Tenang saja, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Chae Ri-ah.” Jawab Yesung tenang dengan senyuman khasnya.

“Sebaiknya begitu!” gumam Minho yang terdengar oleh Chae Ri yang lantas mencubit punggung Minho.

“Baik, saya pergi duluan Chae Ri-ah! Annyeong!” pamit Yesung sambil berlalu.

“Yah! Sakit! Kenapa mencubitku sih?” protes Minho.

“Kau mau apa lagi? Kalau mau minta maaf, pendaftaran udah ditutup. Anda kurang beruntung karena sudah mempermalukanku di depan Yesung oppa!” marah Chae Ri.

“Yeoja babo! Begitu caramu berbicara pada pacarmu sendiri?”

“Argh! Aku muak mendengarnya! Pacar, pacar, pacar melulu! Kau tau, kau dan aku tidak punya perasaan apa-apa! Jadi jangan bertindak berlebihan begini dong! Aku hanya ingin membantumu membatalkan perjodohanmu, itu saja! Jadi jangan halangi aku mendapatkan namja yang kusuka!” kesal Chae Ri meluap-luap.

“Jadi kau menyukai namja tadi, noona?” tanya Minho pelan.

“Ne! Memang kenapa? Dia ratusan kali lebih baik daripadamu!” jawab Chae Ri keterlaluan. Tak taukah ia, kertas undangan yang diremas Minho kini mulai hancur saking kuatnya Minho meremas.

“Tau darimana? Kau kan baru saja mengenalnya! Bisa saja itu hanya topeng!”

“Jangan menjelek-jelekkannya! Dasar namja menyebalkan!”

“Dasar gadis payah! Kau ga bisa menilainya hanya dengan sekali lihat begitu kan?”

“Terserahmu! Aku ga peduli padamu lagi! Hiks!” Chae Ri langsung pergi. Minho tega sekali membentaknya.

“Apa aku salah?” tanya Minho frustasi.

“Ga!” jawab Jinyoung sambil merangkul bahu sahabatnya.

“Kenapa ga?” tanya Key.

“Kamu menyukai Chae Ri noona, kamu hanya cemburu dia bersama namja lain!” jelas Jinyoung.

“Hei, aku ga ada perasaan apa-apa padanya!” sangkal Minho.

“Betul? Terus kenapa kau marah-marah ga jelas gitu?” tanya Jinyoung lagi.

“Aku hanya…dia pacarku, ga seharusnya dia bersama namja lain!”

“Itu namanya cemburu, babo!” jitak Jinyoung.

“Apa kau merasa nyaman berada dekat Chae Ri noona?” tanya Key.

“Biasa aja!” jawab Minho enteng.

“Kalau dia ga ada didekatmu, kamu merasa ada sesuatu yang hilang?” tanya Key lagi.

“Ga tuh, biasa aja!” jawab Minho.

“Tapi…”

“Tapi apa?” tanya Jinyoung.

“Selama bersamanya, aku seperti bersama ummaku!” jawab Minho sambil menerawang.

“Umma?” Key menaikkan sebelah alisnya bingung.

“Maksudmu, Chae Ri noona terlihat seperti umma-umma?”

“Entahlah, hanya perasaanku saja mungkin. Aku merindukan ibuku!” Minho tersenyum sedih. Key menepuk punggungnya, simpati.

“Bagian mana yang mirip ahjumma?” tanya Jinyoung.

“Entahlah, saat dia tertawa, tersipu. Sikapnya yang ceroboh, semuanya mengingatkanku pada ibuku!”

“Apa karena dia wanita pertama yang ada dalam hidupmu setelah ibumu?” tanya Key.

“Yah mungkin juga!” mereka bertiga masuk ke kelas dan belajar seperti biasa.

“Itu artinya dia berharga untukmu, kan?” gumam Key pelan. Kasihan Minho, tapi ia juga tidak bisa memaksakan kehendak Chae Ri noona. Chae Ri bukanlah siapa-siapanya, rasanya tak pantas kalau Key memintanya menerima perasaan Minho.

“Memang kalau suka bisa secepat itu?” gumam Minho. Aku ga mungkin menyukainya, kami baru saja pacaran dan tidak ada perasaan apapun. Tidak ada! Tapi kenapa aku bersikap begini? Minho merutuki diri di tengah kebingungan yang menimpanya. Perasaan apa ini?

 

 

TBC~

 

haaahh!! kayaknya makin gaje aja nih cerita, ckckck. bagaimana? anda penasaran dengan selanjutnya? haha semoga kalian ttp penasaran yah, heheh. kepuasan reader adalah kebahagiaan author.

thx yng udah mau komen nd baca ff q selama ini, aq tetep menunggu RCL kalian untuk menyemangatiku menyelesaikan ini FF.

ok deh, mungkin cukup sekian yang bisa saya post pada hari ini, selamat menunggu yang selanjutnya. gamsaaaaaaaeeee^^

Posted 18 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: