[FF] Let Go *Part 3*   2 comments


annyeong haseyo ^^

apa kabarnya nih readers?

moga tetap healthy aja buat baca kelanjutannya nih FF yang kaga jelas juntrungannya.

maklum, author pan masih amatir gtoh!! hehehe, yasud, di baca sajo…

happy read ea!!

.

LET GO

Author: d_na

Length: 2 of ?

Genre: romance

Cast:

Kim Chae Ri aka Kwon Yuri as you

Choi Minho

the rest member FF [Kim Taeyeon, Lee Sun Kyu, Stephany Hwang, and Im Yoona]

Kim Kibum [SHINee]

Jung Jinyoung

Summary: Kim Chae Ri, seorang gadis SMA biasa. tapi siapa sangka dia adalah seorang artis terkenal yang merupakan personil sebuah girlband baru FF.  namun ia merahasiakan identitasnya karena tidak mau mendapat perlakuan berbeda dengan teman2nya. tanpa sengaja, seorang hoobae yang ditolaknya mengetahui rahasia terbesarnya dan menyusun rencana untuk balas dendam.

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

“Terus ceritanya itu, bapaknya Nate masuk penjara. Ketahuan deh skandal narkobanya itu. Gara-gara itu Nate kena masalah dan banyak hutang, rumahnya di ambil bank!” Yung In bercerita pada Chae Ri tentang film favoritnya, Gossip Girl (*sekalian promosi) dengan penuh semangat sementara Eun Jo sedang sibuk mengutak-atik hpnya.

“Jadi Nate nya tinggal dimana sekarang?” tanya Chae Ri, ia jadi tak mengerti karena tidak mengikuti ceritanya setiap hari.

“Dia tinggal sama Dan!” seru Yung In.

“Dan? Daniel Humphrey? Kok bisa mereka kan musuhan?” tanya Chae Ri lagi.

“Daniel ga sengaja dengar tentang keadaan Nate, jadi dia menawarkan rumahnya deh!” jelas Yung In, Chae Ri memiringkan kepalanya dan berpikir.

“Lalu Chuck gimana? Bukannya dia sahabat baik Nate, kenapa ga dia yang bantu Nate?” tanya Chae Ri lagi. Tiba-tiba para siswi di kelas Chae Ri bersorak, namun Chae Ri cs ga menghiraukannya.

“Chuck minjamin duit buat nebus bapaknya si Nate, tapi Nate nya tau terus marah! Ga tau deh kenapa…!”

“Duh ceritanya makin kompleks aja yah!”

“Oh cari Kim Chae Ri? Tuh dia lagi duduk di pojokan!” seru salah seorang teman Chae Ri. Merasa namanya di panggil, Chae Ri langsung menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya mereka bertiga melihat siapa yang datang menghampiri, tuan muda Choi Minho!!

“Chae Ri noona!” sapanya dengan senyuman khasnya itu.

“Ne?” tanya Chae Ri sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Bisa bicara sebentar?” pinta Minho. Chae Ri menggigit bibirnya, apa lagi yang direncanakan Minho? Setelah mengangguk Minho lantas berjalan dengan angkuhnya, diiringi tatapan takjub setiap pasang mata yang memandangnya. Chae Ri tersenyum bingung pada kedua sahabatnya dan langsung melesat menyusul Minho. Setelah Chae Ri pergi kedua sahabatnya bertanya-tanya dengan histeris. Minho membawa Chae Ri ke taman belakang sekolah. Situasi menjadi aneh, angin bahkan serasa berhenti bertiup. Tatapan Minho penuh arti, dan menyeramkan di mata Chae Ri.

“Kwon Yuri?” pancing Minho. Deg! Jantung Chae Ri berdetak lebih cepat! Bagaimana bisa Minho mengetahui rahasianya? Ow boy! Ga! Ga mungkin dia tau!

“A…apa maksudmu?” tanya Chae Ri gugup.

“Pura-pura ga tau? Aku sudah tau semuanya noona!” ujar Minho dengan penuh penekanan membuat sekujur tubuh Chae Ri membeku.

“Aku ga mengerti maksudmu! Apa kau membawaku kesini hanya untuk mengatakan itu?” tanya Chae Ri.

“Kau Kwon Yuri, seorang artis. Dancer terkenal dari girlband terkenal di Seoul. Apa jadinya kalau hal itu tersebar?” Minho tersenyum licik.

“Kau berkata seolah-olah aku adalah Kwon Yuri! Apa kau punya bukti?” tantang Chae Ri, ada air mata yang berusaha ditahan di sana.

“Bukti itu tidak penting, aku sudah memastikannya.” Minho penuh percaya diri menunjukkan Hpnya, Chae Ri menatap dengan bingung. Hanya ada tulisan bahwa Minho menelepon Chae Ri pada jam 15.37. Lantas apa itu semacam bukti?

“Tidak mengerti? Kemarin tepat jam segini, Kwon Yuri tertangkap kamera salah satu stasiun televisi sedang mengangkat telepon seseorang.” Jelas Minho. Ia lantas membuka kacamata yang dikenakan Chae Ri dan tampaklah wajah asli seorang Kim Chae Ri, Minho tersenyum puas. Chae Ri berbalik reflek, ia bingung. Bagaimana ini? Kenapa harus Minho yang tau wajahnya? Chae Ri menggigit bibirnya menahan air matanya.

“Jangan menangis, Chae Ri!” perintah Chae Ri pada dirinya sendiri. Minho takkan melakukannya, dia takkan meyebarkan rahasiaku! Pikir Chae Ri positif.

“Apa hanya itu? Kalau cuman itu, aku permisi!” pamit Chae Ri seraya memakai kacamatanya dengan cepat. Namun tangannya ditarik oleh Minho.

“Tenanglah, aku ga akan menyebarkan hal itu! Kau tau aku bukan orang macam itu!” Minho membujuknya. Chae Ri mengangguk, Minho memang bukanlah orang sejahat itu.

“Tapi…” lanjut Minho.

“Kalau kau ga mau aku melakukannya, kau harus mau jadi pacarku!” syarat Minho. Chae Ri mencuatkan bibirnya.

“Aku ga mau!” tolaknya keras.

“Harus mau!” paksa Minho dengan mata melotot.

“Pokoknya ga!” tolak Chae Ri lagi.

“Please!” pinta Minho dengan puppy eyes. Chae Ri menghela napas.

“Sekali ga mau, tetap ga mau!” Chae Ri keras kepala sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Paling ga, pura-pura jadi pacarku saja!”

“Kenapa sih kamu maksa gitu?” tanya Chae Ri. Minho menatapnya sebentar lalu menarik napas panjang.

“Aku dijodohkan oleh ayahku. Tapi aku ga mau!”

“Ya tolak saja!” jawab Chae Ri enteng.

“Ga semudah itu! Aku ga bisa menolak permintaan ayahku. Makanya itu bantu aku! Setidaknya ayahku ga akan memaksaku menikah muda jika aku punya pacar!”

“Kenapa musti aku?”

“Cuma noona yang terpikir! Makanya, jebal!”

“Oke! Aku akan membantumu membatalkan perjodohan! Tapi jangan harap aku akan jadi pacarmu!” kecam Chae Ri, Minho terkekeh.

“Memang bukan pacar, noona Cuma pacar pura-puraku!” ralat Minho.

“Kalau gitu, hari minggu kita jalan yah!” ajak Minho.

“Hah? Buat apa? Kita kan Cuma pura-pura!”

“Latihan membuat acting sempurna!” Chae Ri hanya mengangkat bahu, tak mengerti maksud Minho.

“Dalam teater, kalau kita sering latihan pastinya aktingnya makin bagus!” jelas Minho.

“Mana ku tau! Aku kan bukan anak teater!” Chae Ri mencuatkan bibirnya.

“Well, aku juga bukan!” balas Minho.

“Anyway, ekskul noona apa ya?” tanya Minho.

“Ga ada! Kan udah kelas 3, tapi kalau dulu sih osis sama kopsis! (*emang ada?) Kamu?”

“Cuman ikut osis aja!” jawab Minho. Mereka mulai berjalan kembali.

“Oh ya! Kenapa noona merekomendasikanku sebagai ketua osis?” tanya Minho, Chae Ri terdiam sebentar.

“Kupikir selama MOS, kamu bukan anak yang bermasalah. Kepribadian, dan pola pikir mu juga bagus. Sikap juga!” jawab Chae Ri, Minho tersenyum senang.

“Itu aja?” pancing Minho. Chae Ri menggeleng dan berpikir.

“Kamu cakep! Punya ketua osis cakep itu kan seperti yang ada di komik-komik gitu deh! Hehe!” gurau Chae Ri, Minho tertawa pelan dan mengacak-acak rambut Chae Ri.

“Gadis bodoh!” ejeknya.

“Enak aja! Begitu sikapmu terhadap orang yang kau mintai tolong?” Chae Ri menyipitkan matanya tak terima.

“Mwo? Siapa ya? Ga tuh!” Minho menjulurkan lidahnya.

“Terserah! Aku ga jadi bantu ah!” rajuk Chae Ri.

“Hehe! Maaf deh noona! Maaf!”

“Aniya!”

“Suka banget sih ngomong ga? Dasar!” Minho balik merajuk, Chae Ri tertawa puas merasa berhasil mengerjai Minho.

“Hehe! Iya deh! Hari minggu ya!” ajak Chae Ri.

“Asyik! Noona baik! Oops! Aku ga seharusnya memanggilmu noona lagi.” heboh Minho seperti anak kecil.

“Jagiya!” goda Minho. Tampak semburat merah di pipi Chae Ri, tak ada yang pernah memanggilnya begitu. Tapi sekarang, seorang namja tampan memanggilnya begitu dengan senyumnya yang begitu sempurna. Adakah yeoja yang masih tidak berbahagia seperti Chae Ri setelah diperlakukan demikian?

“Mwo? Mukanya merah? Jangan bilang kau mulai menyukaiku, noona!” goda Minho, Chae  Ri memukul lengan Minho.

“Yaa! Percaya diri sekali kau! Namja payah, bodoh!” rajuk Chae Ri sambil menggembungkan pipinya. Minho tersenyum penuh kemenangan, namun entah mengapa ada yang berbeda. Ia merasa benar-benar senang sekarang.

Song Eun Jo tersedak saat melihat seorang Kim Chae Ri bercanda dengan akrabnya dengan Minho, demikian juga Han Yung In yang saat itu berada di sebelahnya. Kim Chae Ri yang melihat teman-temannya langsung melambaikan tangannya dan pamit pada Minho.

“Apa aku ga salah lihat? Kau! Seorang Kim Chae Ri, 5 menit yang lalu bersama namja tampan bernama Choi Minho???” seru Eun Jo heboh saat Chae Ri menarik kursi untuk duduk.

“Ada berita apa, Chae Ri?” tanya Yung In ga sabar.

“Ga ada kok!” elak Chae Ri dengan wajah tersipu.

“Ah! Bohong! Apa sih? Apa?” desak Eun Jo. Chae Ri makin merona dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ga apa-apa!”

“Ga mungkin!” desak Yung In ikut-ikutan. Tiba-tiba seisi kafetraia mulai heboh! Mereka bertiga melihat ke arah ‘kehebohan’ itu.

“Kyaa! Itu Taeyeon! Ya ampun cantiknya!” seru seseorang. FF masuk kafetaria dan duduk dikelilingi fans-fans mereka.

“Cih! Mereka itu seperti lalat-lalat yang mengerubungi sesuatu saja. Lagaknya Taeyeon udah kayak artis terkenal aja!” sewot Eun Jo.

“Mereka memang artis terkenal, Eun Jo! Kenapa sih kau sewot begitu?” jawab Yung In.

“Padahal dance mereka biasa aja tuh!”

“Hey, mereka kan kalau ngedance pake highheels, kalau loncat-loncat ntar kepelecok gimana?” balas Yung In lagi. Sebagai Fivers, dia merasa tersinggung kalau idolanya di jelek-jelekkan begitu. Chae Ri menyeruput jus jeruk yang sudah di pesankan teman-temannya. Dia menatap tajam ke arah FF. seharusnya ia ada disana, sebagai Yuri. Pandangannya berbenturan dengan tatapan lembut dan bingung milik Im Yoona. Chae Ri lantas mengalihkan pandangannya. Ia sadar ia berbuat salah, dan kini menyesalpun ga mungkin. Chae Ri ga mungkin mengecewakan Minho yang begitu menaruh harapan besar padanya, lagipula ini semua hanya acting! Namun disisi lain, ia merasa telah mengkhianati sahabatnya sendiri. Dan itu terasa menyakitkan!

Chae Ri bangkit dan langsung pergi tanpa memperdulikan panggilan teman-temannya. Ia pergi ke kamar kecil dan menghabiskan waktu merenung di sana. Kenapa hidup terasa begitu sulit?

“Hanya karena sebuah reputasi aku mengorbankan persahabatanku dengan Yoona!” Chae Ri mengantup-antupkan kepalanya ke dinding, frustasi. Kenapa dia tidak berpikir dulu tadi? Apa yang akan dilakukan Minho jika ia menolak permintaannya? Ow boy!

“Sepertinya bel udah berdering!” gumam Chae Ri sambil membetulkan letak kacamatanya. Ia langsung keluar dan tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.

“Yo…Yoona?” Chae Ri terbata, Yoona menatapnya heran kemudian tersenyum.

“Chae Ri sunbae, kan?” tanya Yoona singkat, Chae Ri mengangguk kikuk.

“Kau sangat terkenal sejak kejadian itu!” Chae Ri berpikir sesaat, kejadian itu?

“Ah! Dance maksudmu? Hanya kebetulan saja kok, yang jelas tidak seterkenal kamu, kan!”

“Bukan begitu, hanya saja kalau mengingat bagaimana gaya sunbae tempo hari, mengingatkanku pada temanku!” Yoona tersenyum.

“Temanmu?” tanya Chae Ri gugup.

“Ne, Kwon Yuri! Sunbae pasti tau! Dia salah satu personel FF juga. Dialah yang menciptakan gerakan dance dalam lagu itu! Dia koreografer sekaligus lead dancer di FF!!” Chae Ri terdiam, jangan lagi! jangan sampai rahasianya terbongkar lagi!

“Waeyo sunbae?” tanya Yoona menyadari ekspresi kaku Chae Ri.

“Ani, kamu bukannya mau ke dalam?” tunjuk Chae Ri ke kamar kecil, Yoona terkekeh dan masuk ke dalam.

Di taman belakang sekolah, Chae Ri duduk seorang diri menunggu Minho. Ia sudah memutuskan segalanya, bahwa ia tak bisa membantu Minho. Ia tak peduli meski Minho harus membocorkan rahasianya atau bagaimana. Dilihatnya Minho berjalan dengan senyuman khasnya itu.

“Sudah menunggu lama?” tanya Minho seraya duduk di sebelah Chae Ri.

“Ani..!” deg! Deg! Deg! Detak jantung Chae Ri mulai bergemuruh. Ia merasa sulit bernapas.

“Mm, Minho! A…aku…!”

“Mau menolakku?” tanya Minho, sakartis. Chae Ri menelan ludahnya, dan hanya menunduk. Minho menggosok-gosokkan tangannya gelisah.

“Mian!” sesal Chae Ri. Minho tersenyum lemah. Menghela napas dan melipat kedua tangannya.

“Noona pasti punya alasan sendiri kan? Jadi tidak masalah bagiku!” Minho kembali tersenyum, lebih tulus.

“Maaf! Aku menyesal tidak bisa membantumu!” Chae Ri menundukkan kepalanya.

“Tidak apa-apa!” gumam Minho menerawang. Harusnya ia tau beginilah akhirnya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Chae Ri khawatir.

“Gwaenchana! Geokjeongmal!” Chae Ri hanya menggigit bibirnya.

“Boleh aku tau alasannya noona?” tanya Minho memecah keheningan. Chae Ri semakin merasa bingung, haruskah ia beri tau semuanya?

“Kau taulah…aku…Yuri! Aku, maksudku salah satu sahabatku ada yang mmm, bercerita? Padaku, bahwa dia menyukai, well seorang namja!”

“Dan namja itu aku?” tanya Minho senang. Chae Ri malah terkekeh, seorang Minho yang terlihat begitu ‘cool’ bisa bersikap seperti anak kecil di depannya.

“Ne…semacam itulah, aku tau rasanya egois! Jadi aku putuskan ga ingin menyakiti sahabatku itu!”

“Susah ya, punya pacar ganteng seperti aku!” Minho tersenyum-senyum kePDan.

“Yaa! PD sekali!” Chae Ri menahan tawanya, sehingga kedua pipinya memerah.

“Tapi itu saat noona sebagai Yuri, yang akan menjadi pacarku adalah Kim Chae Ri, bukan Kwon Yuri. Jadi kurasa itu bukan masalah!”

“Kau benar Minho, seharusnya itu bukan masalah. Tapi aku tetap merasa tidak enak hati dengan temanku itu!”

“Memang siapa dia?” tanya Minho.

“Siapa aja boleh!” gurau Chae Ri. Minho mendengus.

“Itu rahasia, maaf!” ujar Chae Ri akhirnya.

“Baik aku mengerti! Noona akan menyesal telah menolakku yang kedua kalinya noona!” ancam Minho bercanda sambil berlalu. Chae Ri menatap punggung itu dengan perasaan bersalah, sekarang siapa yang harus di prioritaskan? Sahabat atau harga diri? Tentu saja untuk seorang ‘anak yang baik’ kita pasti memilih sahabat. Tapi jika harga diri kita itu malah akan menghancurkan kehidupan kita nanti? Seperti telur di ujung tanduk, seorang Kim Chae Ri harus berusaha mencari jalan tengah dari dilemma yang di hadapinya. Masalahnya, kenapa harus dia? Kenapa bukan orang lain?

Minho berbaring lesu di kamar tidurnya yang luas. Dia yakin seyakin-yakinnya bahwa ia tak punya perasaan apapun pada sunbaenya itu. Tapi kenapa ia merasa begitu terluka? Perasaannyakah? Atau harga dirinyakah yang terluka? Minho memandang foto MOS anak kelas 1.1, saat ia dan teman-temannya juga sunbaenya yang kebetulan adalah walikelas MOSnya berfoto untuk kenang-kenangan.

== Flashback ==

Suasana kelas yang begitu ramai hingga tak begitu jelas terdengar. Saat itu, Minho, Key dan Jinyoung baru masuk ke kelas mereka dan telah di sambut hampir seluruh yeoja di kelasnya yang menjadi histeris.

“Yaa! Jung Jinyoung! Kau terlalu tampan sih! Mereka jadi histeris seperti habis melihat hantu saja!” Key menutupi telinganya. Jinyoung hanya mengangkat bahu, ia setuju dengan Key bahwa ia terlalu tampan. Mereka berdua duduk, sedangkan Minho yang tampak ogah-ogahan akhirnya keluar mencari angin segar.

“Yaa! Kau yang di sana! Siapa suruh kau boleh keluar seenaknya?” seru seorang yeoja mngejutkan Minho. Seorang perempuan cantik berkaca mata yang sedang mengacungkan penggaris besi kepadanya.

“Cepat masuk! Materi akan segera dimulai!” perintah perempuan itu, serem. Minho menolak dan mulai bertingkah.

“Di dalam berisik!” Minho melipat tangannya seolah menantang. Dia memandang seniornya itu dan mengeluarkan senyuman andalannya. Cewe-cewe yang berada disana semakin histeris dan heboh. Sayangnya, senyuman itu tak berhasil. Seniornya itu bahkan tak melihatnya sama sekali.

“Cepat masuk!” galak senoirnya. Mau tak mau Minho menuruti.

“Baiklah semua. Annyeong haseo. Kim Chae Ri imnida. Mulai sekarang saya adalah wali kelas 1.1. mohon bantuannya!” Gadis yang bernama Chae Ri itu membungkuk hormat, sehingga yang lain ikutan membungkuk. Lagi-lagi, hanya Minho yang tidak melakukannya.

“Yaa! Choi Minho! Kau tidak membungkuk? Tidak tau tata cara hormat yang benar?” bentak Chae Ri sambil membaca nama pada pen name Minho.

“Tidak mau!” ngeyel Minho. Chae Ri menahan tawanya, membuat Minho heran.

“Apanya yang lucu?” tanya Minho tidak terima di tertawakan.

“Pen name mu terbalik! Harusnya seperti ini!” Chae Ri membetulkan pen name Minho dan tersenyum geli. Minho hanya tertunduk malu.

“Wajahmu dari dekat cakep juga!” puji Chae Ri tanpa sadar.

“Maaf?” tanya Minho. Cjhae Ri lantas tersadar dari lamunannya.

“Aniya! Aku ga berkata apa-apa!” jawab Chae Ri enteng. Minho menyipitkan matanya, ia dengar yang barusan.

“Sunbae, di belakangmu!” bisik Minho dengan mimik wajah ketakutan. Chae Ri yang sejak dulu lemah dengan hal-hal berbau ‘horror’ berteriak heboh.

“Mana? Mana? Ada apa di belakangku??? Ada apa??!!” jerit Chae Ri sekuatnya. Minho tertawa, membuat yang lain ikut-ikutan tertawa.

“It’s a lieee!!!” Minho menjulurkan lidahnya. Entah kenapa ia senang dan puas sekali setelah mengerjai sunbae polosnya itu.

== End of flashback ==

“Dasar gadis polos yang bodoh!” umpat Minho. Haah! Dia menghela napas, kemudian tertawa mengingat kecerobohan sunbaenya itu. Dia membalas pesan Key dan menceritakan segalanya.

“Ternyata Minho itu bisa bersikap kekanak-kanakan begitu ya?” Chae Ri tersenyum membayangkannya main mobil-mobilan sama Key dan Jinyoung.

“Ga cocok ah! Apalagi Jinyoung!” komentar Chae Ri pada khayalannya sendiri. Ia lantas membuka-buka buku yang sedang di hadapinya. Kemudian tenggelam dalam buku Fisikanya itu.

“Chae Ri sunbae!!!!” seru Key tepat di telinga Chae Ri membuat jantung Chae Ri hampir melompat keluar.

“Aw! Santai dong datangnya!” protes Chae Ri sambil mengelus-elus telinganya. Heran juga, kenapa Key bisa ada di sini?

“Kenapa kau ada di sini?” tanyanya sambil memandang berkeliling, jangan-jangan Minho juga ada?

“Aku sedang jalan-jalan, kemudian menemukanmu di kafe ini! aku sudah mengetuk-ngetuk jendela! Tapi sunbae malah tidak mendengarku. Ku panggil-panggil dari tadi juga ga dengar!” jelas Key.

“Mwo? Kau memanggilku? Kapan?”

“Aku memanggilmu berulang kali, tapi kau malah ngomong sendiri!” kesal Key. Kontan saja wajah Chae Ri memerah, jangan katakan kalau Key mendengar apa yang di omongkannya barusan.

“Mikir apa sih? Hayooo! Jangan-jangan!!” goda Key.

“Apa coba? Ngapain kamu?” tanya Chae Ri sambil menyeruput teh susunya.

“Kenapa kau begitu kejam sih sunbae!!” protes Key, membuat Chae Ri tersedak. Namun berusaha untuk tetap terlihat anggun.

“Kejam bagaimana maksudmu?” tanya Chae Ri pelan, dan berkelas. Key memutar bola matanya.

“Sunbae!!” rajuknya.

“Ne, ne! apa maksudmu? Apa kau tak lihat aku sedang belajar untuk persiapan ujian akhir?” tanya Chae Ri sambil memamerkan buku Fisikanya.

“Kenapa kau menolaknya lagi?” tanya Key.

“A?” Chae Ri meminum tehnya lagi, tenang.

“Aku punya alasanku sendiri.” Lanjutnya.

“Apapun itu, kenapa kau mesti menolaknya sih? Kenapa tidak berusaha untuk membantunya? Apa kau tidak kasihan padanya? Perjodohan! Coba kalau sunbae yang merasakan terus di tolak oleh orang lain yang sunbae harap bisa membantu.” Key berusaha memojokkan Chae Ri.

“Kenapa mesti aku? Kenapa kalian melibatkanku dalam masalahnya?” sahut Chae Ri kesal, hilang sudah ‘attitude’ nya barusan.

“Nah itu dia! Minho memang cowo yang punya pemikiran aneh! Dia mengingkanmu, sunbae. Hanya untuk membatalkan perjodohannya!”

“Aku ga bisa! Kenapa kalian ga mengerti sih? Ngertiin aku juga dong!” kesal Chae Ri.

“Lantas apa kau mengerti perasaan Minho, sunbae?”

“Like the hell I care!” Chae Ri mengangkat bahu tak peduli.

“Sunbae!!” Key mencubit pipi Chae Ri gemas, kenapa sunbaenya ini begitu menyebalkan! Terlalu oon atau semacamnya!

“Apa-apaan kamu? Don’t touch me!” ketus Chae Ri memukul Key dengan bukunya.

“Kau tau perasaan seorang anak yang kehilangan ibu sejak kecil!?” tanya Key sakartis.

“Well, ayahku meninggal dalam tugas bahkan sejak aku masih ada dalam perut ibuku.” Ngeyel Chae Ri ga mau kalah.

“Serius sunbae! Itulah yang dialami Minho! Terlebih ibunya meninggal di tangan ayahnya sendiri!”

“Mworago? Kau tak salah bicara?” Chae Ri terkejut, kenapa Key tiba-tiba menceritakan aib keluarga Minho? Bukannya ia tak mau mendengar, tapi ia tak ingin terlibat lebih dalam lagi dengan Minho.

“Anio. Sekarang sunbae tau alasan Minho begitu membenci ayahnya?”

“Lantas mengapa ia? Perjodohan? Ah! Aku ga ngerti!”

“Ibunya menulis pesan, semacam wasiat gitu deh. Katanya jangan pernah isi hatimu dengan kebencian pada ayahmu. Begitu!” jelas Key

“Jadi?”

“Mau tak mau ia harus, demi permintaan terakhir ibunya!”

“Terus? Kenapa harus aku? Bukannya Minho itu cakep, masih banyak wanita lain yang pastinya akan menerimanya dengan senang hati, kan?” tanya Chae Ri.

“Aku juga udah bilang sama Minho, tapi dia ngeyel. Keras kepala banget, ga mau di kasih tau!” Key curcol.

“Tapi aku nih biasa benget tau! Takut sama hantu, rada aneh, tapi cantik sih!” rutuk Chae Ri.

“Ya apa katamu sajalah sunbae, ternyata sunbae sadar juga. Oops!”

“Hey? Maksud loh? Dasar!”

“Ku rasa dia menyukai ‘daya tarik’ mu!” ujar Key.

“Daya tarik?” ulang Chae Ri, penasaran.

“Ya, semacam itulah pokoknya!” jawab Key malas membahasnya.

“Baik kuusahakan untuk mengerti. Aku akan bicara padanya lagi.” Chae Ri memutuskan untuk bicara lagi pada Minho, entah apa yang akan dikatakan Minho padanya. Chae Ri adalah orang paling plin-plan sedunia.

“Bagus! Gomapta sunbae, asal kau tau saja kehidupan Minho tidaklah seindah yang terlihat. Yang dia tau hanyalah belajar, belajar dan belajar untuk mewarisi perusahaan ayahnya. Jujur saja, ia tak punya pacar karena itu salah satu alasannya.”

“Kim Kibum, apa Minho pintar berkelahi?” tanya Chae Ri, Key menggaruk-garuk kepalanya.

“Taekwondo ban hitam, segitulah!” Chae Ri manggut-manggut mengerti.

“Apa kamu tak takut dia akan membunuhmu, jika tau bahwa kamu mengatakan semua aibnya padaku?” tanya Chae Ri, Key bergidik.

“Tenang saja! Aku dalam rangka membantunya! Tapi sunbae juga jangan bilang padanya ya!” bisik Key, Chae Ri terkekeh.

“Buatlah ia senang sunbae!” pinta Key. Chae Ri mengangguk.

êêê

“Yaa! Park Ri Chan! Sampai kapan kamu mau minum-minum di klub terus?” Tegur Choi Siwon, suaminya.

“Apa pedulimu, Siwon? Bukannya yang kau urus itu Cuma pekerjaanmu saja?” jawab Ri Chan yang setengah sadar.

“Setidaknya hentikan kebiasaan burukmu itu, kalau Minho melihatnya…”

“Apa pedulimu pada Minho? Ani, apa kau pernah menganggapnya sebagai anakmu?” bentak Ri Chan.

“Yang kau pedulikan hanya wanita itu! Kau bahkan tak pernah mencintaiku! Apa pedulimu? Minho anakkupun tak pernah kau anggap seperti anakmu!!” jerit Ri Chan sekeras yang ia bisa.

Plakk!!

Tamparan keras melayang di wajah Ri Chan, dengan wajah memerah karena pengaruh alcohol dan basah bersimbah air mata karena tak percaya suaminya menamparnya.

“Kau benar! Aku tak pernah mencintaimu! Karena kau, aku harus berpisah dengan wanita yang kucintai. Tapi Minho anakku, dia darah dagingku! Aku mencintainya lebih dari nyawaku sendiri!” bentak Siwon.

“Appa! Kenapa appa menampar umma? Umma sakit kan??” Minho kecil tiba-tiba masuk karena mendengar pertengkaran orang tuanya, dilihatnya ibunya memegang pipinya yang memerah.

“Aku benci appa!! Jangan sentuh ummaku!” marah Minho, ia ingin melancarkan jurus-jurus taekwondo yang ia pelajari namun ibunya menyentuh pundaknya.

“Minho, masuklah ke kamarmu, nak!” ujar ibunya lembut, Minhopun menuruti ibunya. Ibunya mengikutinya sampai di kamar, tanpa bicara apa-apa.

“Umma baik-baik saja?” tanya Minho khawatir.

“Ne, umma baik-baik saja! Tidurlah sayang!” ibunya tersenyum lembut nan rapuh.

“Umma, saranghae!” bisik Minho, menggoda ibunya. Ibunya terkekeh, wajahnya merona.

“Na do saranghae nae baby! Sekarang tidurlah!”

[Now playing CN Blue : Y, Why]

If you wanna one time, girl. I gotta give you more than. Whenever wanna some thing. I’m gonna with you somewhere. I gotta show you what I’m gonna do when your eyes. Contact to me, It doesn’t work it out. You know too hard to breathe it. Baby I love you indeed. Nothing is lie we need. I can’t see it any tear dropping on your face, girl. I just wanna say I love it.

Minho terbangun, ringtone Hpnya mengejutkannya. Siapa yang menelponnya malam-malam begini?

“Yeobose…?”

“Yaah! Choi Minho! Apa maksudmu?” seru orang di telepon. Minho mengerjap-ngerjap, siapa nih?

“Kau mau membuatku menunggu sampai kapan? Sekarang aku ada di depan stasiun! Bukannya kau mau mengajakku jalan hari Minggu ini!”

“Nugu ya?” tanya Minho.

“Kim Chae Ri imnida!” jawab Chae Ri manis.

“Noona? Apa-apaan sih? Ini kan masih malam?”

“Malam kepalamu! Sudah mau jam 10 pagi nih!”

“Hah?” Minho lantas membuka tirai kamarnya, matahari begitu menyilaukan matanya.

“Yaa! Choi Minho!” seru Chae Ri lagi.

“Tapi bukannya noona? Menolakku? Lantas kenapa? Tiba-tiba? Aku ga ngerti!” Minho menggosok-gosok matanya yang masih mengantuk, ia beranjak dari tempat tidurnya menuju ruang makan.

“Ne, makanya datanglah akan kujelaskan! Hihihi!” Chae Ri terkekeh senang mengingat hari ini.

“Kenapa sih? Ketawa aneh begitu? Bikin curiga aja?”

“Eh oops! Mandi sana! Kamu bau tuh!” Chae Ri mengalihkan pembicaraan. Minho duduk di meja makan.

“Tau darimana kalau aku belum mandi?”

“Katanya Key, jam segini kamu pasti masih tidur, kan?” jawab Chae Ri, Minho tersentak. Key? Maksudnya Kim Kibum? Kenapa bisa? Apa mereka diam-diam bertemu? Kening Minho berkerut tak suka. Apa maksud Key?

“Kalian bertemu?” tanya Minho ragu.

“Ne, kemarin kami minum teh di D.Lite kafe! Menyenangkan juga ngobrol bersamanya!” jawab Chae Ri jujur, dada Minho mulai panas. Ada apa ini?

“Noona, aku mau mandi dulu!” tutup Minho akhirnya.

“Appa kemana?” tanya Minho pada salah seorang pembantunya.

“Tuan besar pergi ke Jepang tadi pagi, tuan muda. Kata beliau ada masalah di perusahaan cabang, makanya beliau pergi pagi-pagi sekali.” Jawab pembantunya.

“Ck, tak pernah berubah! Pantas saja umma bersikap seperti itu!” gumam Minho dan bergegas membersihkan diri untuk menemui sunbaenya itu.

Chae Ri melirik jam tangannya, lagi. Apa Minho akan datang ya? Ia menggigit bibirnya cemas.

“Bodohnya aku! Siapa yang bakal datang?” gumam Chae Ri. Ia tau, kesalahannya jelas. Ia telah menolak Minho 2 kali, menghancurkan harapannya dan sekarang membangunkannya dan menyuruhnya menemui Chae Ri. Chae Ri melirik jam tangannya lagi, hari mulai mendung.

“Aish! Mau hujan! Apa ini pertanda buruk? Apa aku tak di restui jalan bersama Minho hari ini?” Chae Ri cepat-cepat mencari tempat berteduh. Sepertinya Minho benar-benar tidak datang.

Hujan turun dengan derasnya, meluruhkan harapan Chae Ri. Mana mungkin Minho datang hujan begini? Orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh.

“Argh! Ini semua salahku! Tak pantaskah aku mendapat pemaafan?” jerit Chae Ri frustasi, orang-orang melihatnya dengan pandangan bingung.

“Aku pergi saja deh!” gumam Chae Ri menghindari tatapan orang-orang. Ia mulai berhujan.

I know a girl who is naive, lively and cute, waiting for a person who can give her 3000 loves. Don’t need to be rich, don’t need to be handsome. She has a weird attitude, sometimes containing sometimes you need to endure.

Chae Ri mulai bergumam menyanyikan lagu yang ia suka, menikmati guyuran air hujan yang menerpa wajahnya. Menikmati sensasi dingin yang menjalar di kulitnya. Langkahnya terhenti, hujan sudah berhenti kah? Tidak! Ada seseorang yang meneduhinya.

“Apa kau bodoh? Kau bisa sakit noona!” marah Minho, napasnya beruap. Minho menarik Chae Ri yang masih diam mematung ke sebuah pertokoan.

“Kau ini!” Minho mulai marah-marah lagi.

“Mianhae! Kupikir kau tidak datang!” sahut Chae Ri pelan. Minho lantas mendorong Chae Ri masuk ke sebuah toko pakaian.

“Ganti bajumu! Kalau aku sudah janji, aku akan menepati.” Suruh Minho, Chae Ri menunduk mengikuti. Jujur saja, hatinya dag dig dug ga jelas, ia takut dengan Minho. Ekspresi Minho barusan benar-benar marah, bagaimana ia akan mengahadapi 1 hari bersama Minho yang seperti itu?

Chae Ri keluar dengan perasaan tak yakin, dilihatnya Minho berdiri membelakanginya.

“Hmm…!” Chae Ri berdeham, Minho menoleh kemudian tersenyum manis. Membuat Chae Ri kaget, perubahan perasaan mendadak terjadi dalam hatinya. Hanya karena 1 senyuman.

“Cantik!” puji Minho jujur. Wajah Chae Ri merona, membuat Minho terkejut. Ia teringat kepingan-kepingan yang tak ingin ia ingat, mimpi buruknya semalam.

“Minho, gwaenchanayo?” tanya Chae Ri khawatir, Minho langsung menggeleng lemah.

“Ani! Aku baik-baik saja! Ayo kita jalan!” ajak Minho.

“Kalau sakit, kamu ga usah memaksakan diri!” kesal Chae Ri.

“Aku tidak memaksakan diri!” ngeyel Minho.

“Keras kepala!” Chae Ri melipat tangannya, cemberut.

“Aku hanya teringat ibuku saja noona, saat wajahmu merona seperti. Ibuku juga sering merona jika kupuji.” Jawab Minho, Chae Ri menggigit bibirnya.

“Mianhae!” sesalnya.

“Ga apa-apa, aku suka bagian itu kok!” jawab Minho menenangkan Chae Ri. Mereka mulai jalan-jalan.

“Kemarin noona bertemu Key?” tanya Minho, Chae Ri mengangguk.

“Membicarakan apa?” tanya Minho.

“Ani, hanya ngobrol biasa, ternyata dia menyenangkan juga yah!” Minho menggembungkan pipinya.

“Jangan terlalu dekat dengannya!” gumam Minho pelan.

“Mwo? Kenapa? Apa kau cemburu?” goda Chae Ri, wajah Minho merona.

“Ani! Dia punya banyak fans, nanti noona bakal diapa-apain lagi.” jawab Minho.

“Benar? Cuma itu?” goda Chae Ri lagi.

“Ne. mau apa lagi?” Chae Ri tersenyum sambil mengangkat bahu. Apa Key benar tentang Minho yang menyukai ‘daya tarik’nya itu?

“Jadi…..?” Minho menghentikan langkah Chae Ri.

“Noona mengajakku jalan, karena berubah pikiran?” tanyanya lagi.

“Menurut lo?” Chae Ri bertanya balik.

“Gimana ya? Noona udah menolakku 2 kali!” Minho tampak berpikir. Chae Ri memasang puppy eyes.

“Jangan galak gitu donk!” Minho mengangguk senang, Chae Ri lantas bersorak girang.

“Kita pacaran deh!” ujar Minho bermaksud menggoda, tapi Chae Ri mengangguk setuju.

“Noona! Apa yang kau suka dari Key?” tanya Minho memaksa.

“Mwo? Itu lagi? kenapa sih?” Chae Ri membulatkan matanya.

“Jawab saja!”

“Dia manis, cakep juga!” jawab Chae Ri.

“Aku juga cakep!” protes Minho, Chae Ri tertawa.

“Aku suka karena dia lucu, seperti anak kecil dan kelihatan manja! Dari dulu aku ingin sekali punya adik seperti dia! Manis sekali!” Minho mengerucutkan bibirnya.

“Manis? Lucu? Manja? Aku juga bisa seperti itu!” balas Minho.

“Ani! Kau ga bakal bisa, kamu ini cowo ‘tangguh’ yang cool, cuek dan semacam itulah!” Chae Ri menyangsikan.

“Hah terserah noona sajalah!”

“Jangan panggil noona! Aku tidak setua itu!” Chae Ri mensejajarkan langkah dengan Minho.

“Noona kan memang tua, kita kan beda 2 tahun! Itu sangat jauh!” ejek Minho.

“Yaa! Enak aja! Panggil Chae Ri saja! Okey?” Chae Ri memukul pelan lengan Minho.

“Aniya, hmm panggilan kesayangan aja.” Chae Ri lantas pura-pura tak mendengar Minho dan asyik melihat boneka-boneka yang di pajang.

“Bagaimana kalau baby? Baby-baby?” usul Minho menyenggol bahu Chae Ri, Chae Rin hanya tertawa.

“Baby? Kau ingin mati?” jawab Chae Ri sambil memainkan boneka yang ada di depannya.

“Waeyo? Noona itu imut seperti baby. Dan karena aku lebih muda daripadamu 2 tahun, maka aku juga seperti baby! Tapi aku ga suka bayi, aku ga mau di panggil bayi. Aku ingin menjadi pria!”

“Pria?” Chae Ri tertawa.

“Ne, makanya ayo panggil baby-baby!” sahut Minho antusias.

“Aku ga dengar lo. Ulang dari awal!!” jawab Chae Ri jujur, Minho tertawa.

“Baby!” rajuk Minho.

“Yaa! Jangan panggil begitu, jijik tau!” canda Chae Ri.

“Yeobo? Yeobo?” tanya Minho.

“Aniya!” Chae Ri tertawa.

“Honey bunny! Gimana?” tawar Chae Ri, Minho tertawa, Chae Ri juga.

“Aku panggil kamu Minho aja!” Chae Ri tersenyum, mata Minho melebar. Dia lantas menarik Chae Ri ke dalam pelukannya.

“Minho? Wae?” tanya Chae Ri langsung berontak.

“Sudah lama tak ada yang memanggilku seperti selain umma!” jawabnya.

“Bukannya nama panggilanmu memang itu?”

“Aniya, caramu memanggilku sama dengan ummaku!!”

“Jadi aku harus memanggilmu apa?” tanya Chae Ri.

“Kau boleh memanggilku apa saja yang kau suka!” jawab Minho, bijak. Senyuman tulusnya membuat hati Chae Ri kembali berdesir (?) Perasaan apa ini?

“Sebagai gantinya aku akan memanggilmu yeobo!” Chae Ri tersenyum.

“3 kata buat mu! Yang pertama ‘ieuhhh’!” gurau Chae Ri dengan tatapan jijik.

“Yang kedua, I’m not your wife! Yang ketiga, ‘ieuuuccchhh!” Chae Ri tertawa.

“Jagiya!” panggil Minho, membuat wajah Chae Ri merona.

“Oke, jagiya!” senang Minho. Mereka kembali berjalan menghabiskan waktu di minggu berhujan itu. Dengan perasaan menggebu di antara keduanya tanpa mengerti perasaan apa itu. Begitulah kedua insan ini memulai kisah mereka.

“Aku pacaran dengan Minho!” jujur Chae Ri di hadapan kedua sahabatnya, yang sedang mengunyah makanan saat itu.

“What? Uhukk! Pacaran??” Eun Jo tersedak, Yung In lantas memukul punggung Eun Jo.

“Kau serius?” tanya Yung In.

“Akhirnya!!!” Eun Jo bersorak senang dan memeluk Chae Ri.

“Siapa yang nembak duluan?” tanya Yung In.

“Memang itu penting?” tanya Eun Jo tak peduli.

“Thanks!” jawab Chae Ri pelan.

“Gitu donk berbagi pada kita! Karena kami sahabatmu, apapun rahasiamu pasti akan kami jaga.” Sahut Yung In ikut-ikutan memeluk Chae Ri. Terbesit perasaan bersalah pada mereka, ya! Rahasia sebagai Kwon Yuri, entah apa yang mereka katakan kalau Chae Ri mengakui yang sebenarnya. Terlebih, sahabatnya Eun Jo adalah seorang anti fans. Mungkin ia akan di benci oleh sahabat-sahabatnya itu.

“Benar kalian akan tetap bersahabat denganku, apapun rahasiaku?” tanya Chae Ri sedih.

“Tentu saja sayang!” jawab Yung In.

“Memang ada apa?” tanya Eun Jo. Chae Ri bingung, dia memegang kaca matanya. Haruskah ia? Inikah waktunya? Apakah mereka akan menerima? Chae Ri menarik napas. Ia tidak ingin dibenci oleh sahabatnya. Ia melepas kaca matanya, dan membuka matanya meneliti ekspresi satu persatu wajah sahabatnya.

“Aku Kwon Yuri!” ucap Chae Ri lirih.

 

TBC~

hahahah oke deh sampe segitu dulu. penasaran? penasaran? haha semoga kalian ttp penasaran yah! tp jgn smpai jd hantu penasaran aja trus gentayangin author, ntar author gk kluar kmar 7 hari 7 malam lg. haha ysdh, jangan lupa tinggalin jejak ya^^ gomawo

Posted 16 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , ,

2 responses to “[FF] Let Go *Part 3*

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah chae ri ya dh ngaku klo dy itu yuri
    mkin penasaran ja nich author
    d tunggu kelanjutannya y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: