[FF] Kiss The Rain *Part 4 – END*   7 comments


annyeong!! ah akhirnya tamat juga nih FF!! hohohoh, pengen cepet2 ng.post FF yang lain eh, hahahah

oke deh, selamat membaca readers, moga pada suka yaaaaa!!

love U

.

KISS THE RAIN

Author: d_na

Length: 4 of 4

Genre: romance, angst

Cast:

Park Ri Chan as you

Park Ri Rin

Kwon Jiyong

Yang Yoseob

….

“Ri Chan kau ada waktu?” tanya Rin. Ri Chan menatapnya malas, apalagi sih yang diinginkan orang ini. Namun Ri Chan mengangguk juga seraya mengikuti Rin ke pondok. Hari ini sekolah mereka mengadakan camp bersama di hutan.

“Aku tidak tau bagaimana memulainya. Boleh aku tanya kapan ulang tahunmu?” tanya Rin.

“Apaan sih? 22 Desember, kenapa?” sahut Ri Chan. Mata Rin terbelalak, 22 Desember? No doubt! Dia adalah saudara kembarku!!

“Aku juga lahir tanggal itu!!”

“Terus?”

“Tidakkah kau berpikir kita ini kembar?” tanya Rin lagi. Ri Chan tertawa mengejek.

“Kembar katamu? Hanya karena tanggal lahir sama bukan berarti kita kembar, kan? Lagian orang yang tanggal lahirnya sama itu banyak!!”

“Ri Chan dengarkan aku!! Lihatlah wajahmu sendiri. Tidakkah kau merasa kita mirip. Sini rambutmu, dibeginikan…”

“Yaa, yaa, yaa!! Mau apa kau?” kesal Ri Chan.

“Buka ikatan rambutmu, cepat!!” Rin menarik ikatan rambut Ri Chan dengan paksa. Dia juga melepas headbenad yang di pakai Ri Chan.

“Lihat!” suruh Rin, seraya memberikan cermin. Ri Chan menatap wajahnya dengan pandangan bingung.

“Ternyata aku cantik juga!!” sahut Ri Chan sambil tersenyum. Rin memutar bola matanya. Bukan itu. bukan cantiknya, tapi kemiripannya.

“Lihat ini!!” Rin mengeluarkan kalungnya. Kalung yang sama dengan kalung yang dipakai Ri Chan, bedanya kalung itu bertuliskan Park Ri Rin. Ri Chan terpaku menatap kalung itu, selama ini dia belum pernah melihat kalung yang sama dengan miliknya.

“Ini umma yang membuatnya sendiri! Untuk kita berdua!! Umma yang bilang padaku!”

“Kudengar, ibunya meninggalkannya di rumah sakit!!”

“Kenapa begitu tega sekali?”

“Entahlah, menurut informasi. Sebenarnya anak itu kembar, tapi ibunya tak sanggup merawat keduanya sehingga ia dibuang begitu saja, dan hanya meninggalkan ini…” orang itu menunjukkan sebuah kalung bertuliskan sebuah nama.

“Orang tua yang kejam…”

Kasihan sekali nasibnya, kuharap dia bisa bertahan hidup di tengah kerasnya dunia…

“Park Ri Chan kemarilah!! Ini adalah kalung dari ibumu! Jangan sampai hilang ya!” panggil seorang wanita berpakaian putih. Seorang anak kecil berambut ikal mendatanginya penuh semangat ia memakai kalung itu dan tersenyum.

“Senyumnya begitu kekal, kasihan sekali anak ini. Orang tua mana yang tega membuang anak semanis ini?” wanita itu menyeka air matanya, dan berlutut di hadapan gadis kecil itu.

Sekali lagi, aku melihat anak kecil itu. siapa sih dia? Kenapa dia selalu ada? Kenapa dia bernama sama denganku? Kenapa dia mempunyai kalung yang sama denganku? Apa dia adalah aku?

“Kau gila! Aku tidak punya ibu! Kalaupun punya, dia sudah lama mati!!” sahut Ri Chan lagi. Dia langsung meninggalkan Rin seorang diri. Hujan turun dengan lebatnya, bahkan terdengar suara petir yang terus bergemuruh.

Ri Chan berlari menembus hujan, tak peduli bahwa dirinya yang tak tahan dingin itu akan sakit. Ia tidak peduli. Karena tak ada yang peduli dengannya juga!!

Kalaupun punya, dia sudah lama mati!!

Air mata Ri Chan menetes, bercampur air hujan. Dadanya perih. Sakit!! Napasnya mulai terasa sesak, detak jantungnya semakin kencang degupannya memukul-mukul rongga dada.

Aku tersiksa, memang itulah yang kurasakan. Rasa sakitnya melebihi dari segala-galanya yang pernah kurasakan. Aku lebih memilih sakit ditusuk oleh ribuan pedang daripada yang kurasakan sekarang, itu ibaratkan berenang di air yang sejuk dan dingin. Aku lebih memilih mati sekarang, daripada menanggung perasaan sakit yang kian hari makin menggerogotiku. Menangis  pun percuma, meski sampai aku menangis darah rasa sakit ini takkan hilang begitu saja.

Hentikan!! Aku tak mau mengingatnya lagi!! Sudah cukup!!

“Maafkan aku, kau pasti akan membenciku. Tapi kumohon mengertilah…” Tidak!! Jangan! Jangan mengingatnya!!! Napas Ri Chan memburu, dadanya makin terasa sesak. Kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang.

“Selamat tinggal, kuharap kau menemukan kehidupan yang lebih baik. Jeongmal mianhae kau punya orang tua seperti ini…” Kyaaa!! Tidak!!

Jeeggeerr!! Petir menyambar, membuat silau mata Ri Chan. Langkahnya kacau, dan akhirnya terguling ke jurang karena tanah yang licin. Parahnya, luka di lengannya kembali robek terkena sabetan dahan pohon.

“Argh!!” jerit Ri Chan sekerasnya. Air matanya mengalir deras. Dia berusaha bangkit. Tapi jurang ini terlalu dalam. Lengannya sakit, darahnya kembali mengucur. Bau darah menyeruak, membuat perutnya serasa diaduk.

“Apa salahku? Kenapa hidupku begini???” jerit Ri Chan [*emang udah nasib loh dari sononya, kagak usah banyak cingcong deh, nurut ma author coba*#author emang sadis].

“Ugh!! Sakit! Hiks!” isaknya seraya memegangi lengannya, mencoba menghentikan pendarahan. Bajunya basah kuyup. Ia menggigil kedinginan, bibirnya semakin pucat. Napasnya beruap putih. Ia merangkak mencari tempat berteduh karena kakinya serasa membeku dan mati rasa.

Biarkan aku tenggelam dalam kegelapan.

“Ri Chan!!!???” seru seseorang, tidak! Bukan Cuma seseorang, namun banyak orang yang sedang mencari Ri Chan yang tak kunjung kembali.

“Kemana bocah tengik itu!!” cemas Jiyong. Dia bersama Rin sedang mencarinya. Rin terus-terusan menangis, sambil menceritakan kenyataan yang ada. Tidak seperti Ri Chan yang mencoba menyangkal semuanya, Jiyong justru percaya pada Rin. Karena dia menyadari adanya kemiripan di antara mereka.

“Ri Chan?? Omo Ri Chan-ah!!” seru Yoseob yang menemukan Ri Chan yang terbaring di bawah pohon di bawah jurang. Sebenarnya dia menemukan kalung Ri Chan di tempat Ri Chan terjatuh tadi dan menemukan jejak darah. Dengan hati-hati Yoseob turun, dan langsung berlari.

“Ri Chan-ah?” panggil Yoseob, ia menyentuh wajah Ri Chan. Dingin. Bibirnyapun pucat, bagaimana ini? apa yang harus kulakukan? Yoseob lantas melepas baju yang dipakainya dan memakaikannya ke Ri Chan.

“Yaah? Ri Chan-ah?” Yoseob menggenggam kedua tangan Ri Chan yang dingin dan menghangatkannya.

“Kumohon sadarlah!!” Yoseob menatapnya. Tak ada pilihan lain, kalau begini terus Ri Chan bisa mati kedinginan. Yoseob mengangkat tubuh Ri Chan membuat gadis itu membuka matanya.

“Mau apa kau? Mana bajumu?” tanya Ri Chan lemah, menyadari Yoseob yang bertelanjang dada di hadapannya.

“Pergi, aku bisa sendiri!” Ri Chan mencoba bangkit. Dia berjalan sempoyongan dan terjatuh.

“Lepas!!” ujarnya keras kepala, saat Yoseob mencoba menggendongnya lagi.

“Yaa! Tunggu!”

“Kubilang lepas, apa kau tuli??” bentak Ri Chan.

“Yaaa! Jangan sok kuat begitu! Lihat lenganmu! Kau terluka parah begini, bagaimana caranya kau naik ke atas dengan luka seperti itu?”

“Itu bukan urusanmu, pergi! Lepaskan aku!!”

“Kenapa kau keras kepala begini, hah? Diamlah!” bentak Yoseob, melihat Ri Chan yang terus-terusan menolaknya.

“Apa pedulimu? Terserahku!”

“Aku peduli padamu, bodoh! Makanya jangan membuatku khawatir lebih dari ini!!” Yoseob menarik paksa tangan Ri Chan dan menggendongnya. Ri Chan menutupi wajahnya, ia terisak lagi.

“Kenapa kau peduli padaku? Kenapa?” gumam Ri Chan lemah, dia bersandar di dada Yoseob.

“Karena kau perempuan!! Sekuat apapun kamu, kau tetaplah perempuan! Jadi, jangan bertindak macam-macam tanpa memberitauku dulu! Aku sangat khawatir tau!!” ujar Yoseob lagi. dengan susah payah Yoseob berhasi naik ke atas, ia di bantu Jiyong dan yang lainnya.

“Kenapa kau khawatir padaku? Aku tidak pernah memintamu untuk itu…” bisik Ri Chan lagi.

“Kau ini ternyata cerewet juga! Memangnya hal itu masih perlu dipertanyakan? Tentu saja aku mengkhawatirkanmu, karena aku menyukaimu!!” air mata Ri Chan meleleh, dia tersenyum.

“Aku sudah mengatakannya berulang kali, kau harus bertanggung jawab! Takkan kubiarkan kau menolakku, mengerti?” ancam Yoseob sambil mengeratkan gendongannya.

“Ri Chan!! Please dengarkan aku! Jebal!!”

“Yaa! Sudah kubilang berulang kali padamu, berhenti bicara yang tidak-tidak!! Aku bukan saudaramu! Aku tidak punya ibu, mengerti??”

“Kalau begitu kenapa kita punya kalung yang sama?” tuntut Rin.

“Rinnie-ah, kalau Cuma kalung mana bisa jadi bukti kita saudara kembar! Arraseo?? Jangan pernah ganggu aku lagi!! Menyebalkan!!” Ri Chan berbalik, Rin menarik tangannya.

“Yaa!!” bentak Ri Chan.

“Kalau gitu mau bertukar denganku??” Tanya Rin.

“Kalau gitu mau bertukar denganku??”

Aku tak percaya!! Apa maksudnya dengan bertukar? Apa dia gila? Cewe ini sudah sinting rupanya. Kenapa dia begitu mengotot kalau aku ini saudaranya? Aneh sekali! Disaat semua orang tidak mau peduli padaku, dia malah mengklaim bahwa aku adalah saudaranya. Berkata seperti itu, apa dia mau mati?? Kalau bukan karena oppa, sudah kuhajar perempuan gila ini. Tapi dibanding dia, mungkin aku lah yang lebih gila.

Aku menarik napas yang dalam. Langkahku terasa berat. Ayo Park Ri Chan!! Kau pasti bisa!! Ini seperti sebuah taruhan saja, tapi disinilah aku berdiri di depan sebuah pintu menanti takdir yang akan terhampar jelas di depanku sesaat lagi. Perlahan kupaksa kakiku mendekat dan dengan perasaan yang tak yakin ku ketuk pintu rumah itu.

“Rin, kau sudah pulang? Kenapa kau mengetuk pintu segala?” Tanya seorang wanita sambil membuka pintu. Aku membisu, dia…wanita itu…

“Rin, waeyo?” Tanya wanita itu lagi. Apa dia tak mengenali anaknya sendiri? Hey, lihatlah aku! Mulai dari cara berpakaian sampai gaya bicara aku berbeda dengan Rin 180 derajat. Kenapa orang ini memanggilku Rin? Apa dia tak melihat perbedaan kami?

“Kenapa kau berpakaian begitu Rinnie-ah!! Apa-apaan tindik itu? Ckckc, cepat ganti bajumu! Umma sudah masak makanan kesukaanmu!! Duro kkaja!!” wanita itu menarik tanganku dan membawaku masuk. Aku memandang berkeliling rumah yang berwarna biru muda itu. Di dinding banyak sekali foto Rin mulai dia kecil.

“Yaa, cepatlah ganti bajumu! Kita makan!!” ajak ibu itu. Aku masih mematung. Dimana aku harus ganti baju? Ani, dimana kamar Rin? Aku mulai mencari-cari kamar Rin seperti orang bodoh. Ide bertukar temapt ini memang bodoh. Tapi kenapa pula aku menyetujuinya? Aku menemukan sebuah kamar yang bertuliskan nama Ri Rin di pintunya. Saat kubuka, suasana kehijauan tampak di hadapanku.

“Aish!! Suka sekali warna hijau, bikin sakit mata saja!! Apa-apaan bantal keropi ini? Dasar anak kecil!!!” umpatku. Aku lantas membuka lemari pakaiannya –seperti yang sudah kukira sebelumnya- semua pakaian perempuan itu berisi baju-baju femini yang sangat tak nyaman di pakai. Aku menyibak kasar baju-baju manis itu, mencari sesuatu yang tidak tampak terlalu mengerikan untuk kupakai. Akhirnya kuputuskan memakai baju berwarna coklat terang itu.

“Ini lumayan?” yah setidaknya meski masih berenda-renda, tapi sepertinya tidak terlalu buruk juga.

“Rin!! Ayo makan!!” panggil seseorang. Ah aku masih belum terbiasa dipanggil nama aneh itu.

“Wah, kau pake juga baju itu! Umma pikir kau tidak suka baju itu!!” wanita itu memelukku. Apa?

“Seandainya Ri Chan ada disini…umma sangat merindukannya… entah seperti apa dia sekarang…” ujar wanita itu seraya tersenyum hangat padaku. Aku menggigit bibirku, apa maksudnya dengan Ri Chan ada disini? Apa dia juga berpikir kalau aku anaknya? Aku duduk di kursi meja makan. Ugh, aku tidak suka makanannya. Aneh sekali!!

“Kenapa? Inikan favoritmu?”

“Aniya…aku hanya tidak lapar, u…um…umma…”

“Jeongmal? Yasudah. Oh ya, ada kue coklat di kasih sama bibi Nim tetanga sebelah. Kau mau?” tawar ibu itu. Coklat? Aku mau!!!!

“Ne, aku mau!!” jawabku antusias. Ibu itu terdiam, aku menatapnya bingung. Wae? Ada masalah? apa aku ketahuan?

“Kau bukan Rin! Rin benci cokelat!! Dia alergi cokelat!! Dia tak mungkin mau memakannya! Lagipula, ini makanan kesukaan Rin, dia tak mungkin tidak memakannya, meski ga nafsu makan sekalipun!!”

“Siapa kau?” Tanya wanita itu, aku meneguk air liurku. Hey!! Katakan sesuatu Park Ri Chan!! Katakan!!

“Omo!! Kalung itu…!! Park Ri Chan!!??” seru ibu itu sambil menunjuk kalung yang kupakai. Air matanya merebak keluar. Ottokhe?

“Duduklah Yoseob, kau ingin bertemu Ri Chan kan? Biar kupanggil dia!! Ri Chan!! Yaah Channie-ah! Ada Yoseob!” seru Jiyong. Seorang perempuan muncul dari arah dapur, kemudian tersenyum.

“Oppa!!”

“Kenapa kau bisa ada disini, Rinnie-ah? Mana Ri Chan?” Tanya Jiyong pada Rin. Rin tersenyum kembali, kemudian menceritakan semuanya.

“Ri Chan!! Akhirnya aku menemukanmu! Selama bertahun-tahun aku mencarimu!!” wanita itu mengusap air matanya.

“Siapa kau?” acuh Ri Chan.

“Ri…Ri Chan? Ini umma nak, umma!! Umma yang melahirkan Ri Chan!!”

“Maksudmu, orang yang telah membuangku di rumah sakit? Menelantarkan hidupku selama bertahun-tahun?”

“…”

“Cih, ternyata kau sama saja dengan putrimu! Menganggapku sebagai salah satu diantara kalian!! Biar ku kasih tau satu hal! Aku tak punya orang tua! Arrachi?”

“Mianhae…jeongmal…”

“Hah? Mianhae? Buat apa? Karena telah membuangku?”

“Aku mencarimu! Tapi mereka bilang kau tak ada! Selama bertahun-tahun aku terus mencarimu! Mengertilah!!” isak wanita itu. Aku membuang mukaku. Tak bisa kupungkiri, sejak wanita itu memelukku ada rasa hangat dalam dadaku yang tak bisa kujelaskan kenapa.

Apa ini rasanya memiliki seorang ibu? Terasa hangat dan nyaman?

Apa yang kau pikirkan Park Ri Chan, dia bukan ibumu!! Ibumu sudah lama meninggal!! Meski aku terus beranggapan demikian, tapi kenapa hatiku tak mau berkoordinasi dengan otak dan logikaku? Hatiku mengatakan wanita di depanku ini memang ibuku, tapi…

“Ri Chan, dia ibumu!” seru sebuah suara, Jiyong oppa!!

“Oppa? Kenapa bisa ada disini?”

“Aku yang mengajak mereka!!” seru Rin, mereka? Maksudnya? Aku menangkap sosok oppa, Rin dan…dan Yoseob?? Apa yang dilakukannya disini?

“Jagi!!” panggilnya kesenangan, membuat wajahku merona. Yak!! Kenapa wajahku merona? Sial!!

“Jagi? Kalian sudah…?” Tanya Jiyong oppa pada Yoseob yang menganggukan kepalanya antusias. Aku melotot padanya, seenaknya saja!! Siapa yang mau?

“Ri Chan, dengarkan aku! Wanita itu adalah ibumu!!” bujuk Jiyong oppa lagi.

“Aku tak punya ibu, oppa. Ibuku sudah lama mati!!” air mataku meleleh lagi. [Doh cengeng banget sih!!]

“Ri Chan!!” wanita itu menangis.

“Maafkan dia jagiya!!” ujar Yoseob. Doh!! Ni orang minta di gorok apa? Berani banget panggil aku begitu!!

“Siapa yang kau maksud jagi, hah?” marahku.

“Maafkan umma, Ri Chan-ah!! Mianhae, jeongmal mianhae…jebal!!” ibu itu kini memelukku lagi, aku hanya terdiam namun perlahan rasa hangat dan nyaman itu kembali. Tanganku naik ke punggungnya, membalas pelukannya. Kami berdua menangis. Rin memeluk kami, dan ikut menangis juga.

“Mianhae…”

Jiyong oppa mengelus kepalaku.

“Akhirnya kau menemukan keluargamu…” oppa merengkuh bahuku yang masih terus menangis.

“Oppa!!” isakku, Jiyong oppa mengelus kepalaku. Meski pelukan oppa terasa hangat, tapi aku merasa lebih tentram dan damai dipeluk umma.

“Oppa pasti akan merindukan anak kecil pembuat ulah ini!!” oppa mencubit pipiku.

“Saranghae oppa…” ujarku. Akhirnya bisa kuutarakan jua perasaanku padanya.

“Na do yeodongsaeng!!”

“Yaa!!! Sudah cukup pelukannya hyung!!” ujar Yoseob cemburu. Jiyong oppa menjulurkan lidahnya meledek. Kemudian melepaskan pelukannya.

“Jadi bagaimana dengan kita?” tanya Jiyong pada Rin yang wajahnya langsung merona.

“Eh? Maksud oppa apa?” sahut Rin pura-pura oon. Jiyong tersenyum manis dan mencubit kedua pipi Rin.

“Kura-kura dalam perahu, pura-pura ga tau. Padahal dalam hatinya mau tuh!!” sindir Jiyong, wajah merona Rin semakin menjadi-jadi.

“Aish oppa ini!!”

“Hubungan guru sama murid itu ga boleh…” ujar Rin lagi.

“Ne…arra!”

“Jadi, kutunggu sampai Rin lulus ya!!” lanjut Jiyong seraya mengecup kening Rin. Rin tersenyum, degup jantungnya tak karuan. Wajahya merah.

“Yaa!! Oppa aku melihatnya!! Dasar!! Kalau mau bermesraan lihat-lihat tempat dong! Jangan bermesraan di tempat umum begitu. Kau tidak lihat masih ada yang di bawah umur?” seruku seraya menutup mata Yoseob.

“Yang belum cukup umur itu kamu tau!!” kami semua lantas tertawa-tawa a la bonamana.

[sementara itu]

“Ugh! Kenapa nona Kim Mi Hoon yang cantik ini harus mengepel WC, sih? Menyebalkan!!! Sial!!” umpat Mi Hoon kesal sambil mengambil mop lantai.

“Yaa! Ppali!!” suruh Mr. Kim.

…End…

 

huuaahahahaha!! tamat kan? hehe, maaf kalau akhirnya rada ng.gantung!! tau nih, lagi mampet!! hah yaudah deh, bagi kalian yang udah baca ni FF gaje, silahkan tinggalkan komen yaaa^^

saya sbg author baru disini, sangat menghargai komen anda [halah!! apa coba?] hehehe, gomaaawwwooo readers!!

Posted 13 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , ,

7 responses to “[FF] Kiss The Rain *Part 4 – END*

Subscribe to comments with RSS.

  1. Huwaa…!!!
    hiks, hiks,
    sedih bgt jd Ri Chan, tp syukurlah akhir’a happy end…

    daebak thor^^

  2. sukaa ceritnya x)

  3. Mimin keren daebak dah,
    Gomawo bwt refrensi lagunya,instrumennya bener2 keren😀

  4. Thor masa aku nangis baca ending nya T^T lucu😦
    대박!! ff nya!

  5. Whaaaaa.. Jinjja daebak. Choayo… Eonni, ak req sekuel nya dong.. Ketagihan baca nya nih.. Udah ke 3x nya baca..
    Gomapta ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: