[FF] Kiss The Rain *Part 3*   Leave a comment


annyeong haseo readers

whahahahahah saya kembali!! pada penasaran dengan part 3.a?? iya sabar ya, ni author post deh part 3.a. oke deh, selamat membaca readers!! moga suka yaa!! kalau udah di baca, jangan lupa tinggalkan jejak..!!

gomaaaawoooo

.

KISS THE RAIN

Author: d_na

Length: 3 of 4

Genre: romance, angst

Cast:

Park Ri Chan as you

Park Ri Rin

Kwon Jiyong

Yang Yoseob

======================

“Eung…” gumam Ri Chan seraya mencoba membuka matanya, rasa nyeri di tangannya tadi mendadak hilang berganti dengan sesuatu yang berat serasa menindih lengannya. Ditilik dari baunya, ini pasti morfin! Morfin? Kenapa?

Ah kepalaku serasa berdenyut-denyut. Dimana lagi ini? Kenapa ruangan begitu putih? Apa aku sudah mati?

Ri Chan langsung duduk.

“Argh!!” erangnya menyadari luka di lengannya terasa nyeri. Ia menatap luka di lengannya yang kini di balut dengan perban putih itu.

“Yaa! Jangan bangun dulu, lukamu belum kering!!” seseorang mengejutkannya.

“Kau!!” kesal Ri Chan tau-tau mendapati si namja loker duduk di hadapannya, mencoba membuatnya kembali terbaring.

“Kau benar- benar membuatku khawatir!! Kau baik-baik saja? Ri Chan-ah?” tanya Yoseob lagi. Ri Chan hanya diam, enggan menjawab. Dia melirik laki-laki yang masih saja terus bicara tanpa lelah itu. Wajahnya penuh dengan plester, bisa jadi lukanya jauh lebih parah.

“Bagaimana dengan orang-orang itu?” tanya Ri Chan masih terus menatap lurus.

“Ah mereka, tentu saja sudah pergi. Asal kau tau saja, aku ini cukup kuat kok!! Geokjeongmal!” ujar Yoseob. Ri Chan terdiam, begitukah? Kalau begitu, kenapa ia harus menolong laki-laki ini? Dan membuat dirinya terluka parah begini?

“Ah iya, aku sudah menelepon Jiyong hyung! Sebentar lagi dia pasti sampai!!” ujar Yoseob lagi.

“Kenapa kau lakukan itu?” tanya Ri Chan.

“Kenapa? Dia walimu, kan? Tentu saja dia harus tau!!” jawab Yoseob, mendadak mata Ri Chan berair. Teringat kata-kata Jiyong tadi siang. Bukankah itu jelas Jiyong tidak menginginkannya lagi?

“Yaa! Gwaenchana? Lukamu sakit? Aku akan panggil dokter, tunggu sebentar ya!!” Yoseob beranjak memanggil dokter, namun tangannya ditahan oleh Ri Chan.

“Jangan…” isak Ri Chan, ia menutupi wajahnya dengan lengan yang tidak sakit.

“Jangan pergi…!!” sahut Ri Chan lemah. Yoseob menatapnya iba, dan memutuskan untuk kembali duduk di sampingnya hingga yeoja itu tertidur.

Jiyong menatap jam dinding berulang kali seraya mendesah. Kemana Ri Chan selarut ini belum pulang? Apa kata-kataku tadi siang terlalu keras padanya? Jiyong memegang kepalanya yang mulai terasa pusing itu.

“Oppa, apa tak ada kabar dari Ri Chan?” tanya Rin yang sedari tadi diam saja memperhatikan Jiyong. Ia tau Jiyong sedang gelisah memikirkan Ri Chan.

Jiyong menatapnya, kemudian menggeleng.

“Tanganmu kenapa?” Tanya Jiyong pada Rin yang dari tadi memegang lengannya.

“Aniy, mungkin sakit karena terjatuh tadi…”

“Kau mau pulang sekarang? Biar aku…” tiba-tiba Hp Jiyong berdering, Yoseob? Ada apa ya?

“Yeobose…apa? Berkelahi dengan preman? Dimana? Bagaimana dia sekarang? Oke aku akan segera kesana!!” wajah Jiyong mendadak pucat setelah mendengar kabar dari Yoseob.

“Oppa? Kau baik-baik saja?” tanya Rin.

“Ne, aku mau ke rumah sakit. Ri Chan terluka!!” ujar Jiyong panic, Rin menarik tangannya.

“Aku ikut!!” Jiyong mengangguk. Rin lantas menyusul Jiyong. Namun kakinya tersangkut ambal dan terjatuh.

“Aw!!” Rin berusaha bangkit, dia melihat sesuatu yang menarik matanya. Dia lantas mengambil benda yang dilihatnya, di bawah sofa. Sebuah kalung!! Bertuliskan Park Ri Chan!! Tunggu dulu!! Kalung ini!!

“Mirip dengan kalungku!!” Rin meraba kalung yang dipakainya. Kenapa bisa? Umma bilang ia membuatnya sendiri. Tak ada yang menjual kalung seperti ini. Tapi kenapa?

“Rin-ah, sedang apa? Ayo!!”

“N…ne!!”

“Eh inikan kalungnya Ri Chan, dimana kau temukan ini?” tanya Jiyong. Rin menunjuk sofa.

“Ah syukurlah ketemu, karena ini satu-satunya harta peninggalan orang tuanya Ri Chan!! Gomawo Rin-ah!!” Jiyong tersenyum lega. Kemudian mengantongi kalung itu.

Mereka berdua lantas pergi ke rumah sakit. Rin menatap wajah Jiyong yang Nampak sangat khawatir itu. Jujur saja, ia cemburu sekali melihat Jiyong yang begitu memikirkan Ri Chan. Padahal ada dirinya disini, kenapa Jiyong selalu memikirkan Ri Chan? Tangan Jiyong mengepal saat taksi yang mereka tumpangi memasuki jalan besar yang padat. Rin reflex menggenggam tangan Jiyong. Jiyong tersentak, menoleh ke arahnya kemudian kembali konsentrasi ke jalanan. Rin menggigit bibirnya, dia tau dirinya bukan apa-apa disbanding Ri Chan yang hidup bersama Jiyong.

Mereka sampai di rumah sakit. Dan langsung menuju ruangan Ri Chan. Langkah Jiyong terhenti di depan pintu ruangan. Dilihatnya Yoseob sedang merapikan rambut yang ada di wajah Ri Chan. Tatapan matanya begitu tulus.

“Kalau diam seperti ini, kau manis juga!! Neomu kyeopta!” gumam Yoseob. Dia beralih ke tangan Ri Chan yang kini di genggamnya.

“Saranghanda…” bisik Yoseob seraya menatap Ri Chan serius, kemudian tersenyum akan pikiran bodohnya. Dia melihat ke arah pintu, Jiyong berdiri disana menatap tajam dirinya. Yoseob melepas genggamannya.

“Oh? Hyung!!” serunya. Jiyong masuk, diikuti Rin.

“Umma? Aku ingin bertanya…”

“Ne?”

“Apa kau kenal dengan Park Ri Chan?” tanya Rin. Ummanya terdiam. Park Ri Chan? Itukan nama… ah, tak mungkin. Yang bernama itu kan bukan Cuma anak itu…tapi…

“Umma?”

“Aniya, mollaseyo! Wae?”

“Aniya, ada teman sekelasku. Dia bernama Park Ri Chan. Dia…punya kalung yang sama denganku!!” gumam Rin lagi.

“Jeongmal?” mata umma Rin melebar. Itu Ri Chan! Itu pasti dia! Bertahun-tahun aku mencarinya!! Siapa lagi? Itu pasti Ri Chan, anakku. Mata ummanya berairan.

“Ne, katanya dia seorang orphan. Dan sekarang tinggal bersama guruku.” Ujar Rin lagi. Tampak secercah senyum di balik tangis ummanya.

“Umma, wae? Umma mengenalnya?” tanya Rin lagi. Ummanya mengangguk dan menceritakan semuanya.

“Cih!! Kenapa si jalang itu belum dikeluarkan juga!!” kesal Mi Hoon seraya menatap tajam ke arah Ri Chan. Tampak perubahan signifikan terjadi pada Ri Chan, dia berpakaian rapi hari ini. Dia bahkan menyisir rambutnya.

“Padahal aku sudah menyusun rencana dengan rapi!! Sial!!” sahut Mi Hoon kesal.

“Oh ya? Rencana apa?” tanya Yoseob di belakang Mi Hoon.

“Omo, s…sunbae?” Mi Hoon tergugup melihat seniornya telah mencuri dengar.

“Aku sudah dengar semuanya!!” Yoseob memberikan senyuman termanisnya, tapi itu bagai sambaran petir di siang bolong bagi Mi Hoon

“Ri Chan mianhae…” Rin menunduk di hadapan Ri Chan. Ri Chan mengangguk.

“Tamparan waktu itu lumayan juga!” sahut Ri Chan. Rin menatapnya tidak percaya, apa Ri Chan akan membalasnya?

“Tapi kuanggap impas! Kata oppa kau yang menemukan kalungku!!” lanjutnya seraya berlalu.

“Tunggu!!” Rin menarik tangan Ri Chan.

“Apa?” Ri Chan menatap mata Rin. Rin terhenyak, ummanya benar. Wajah Ri Chan mirip dengan wajahnya, setidaknya biarpun gaya mereka berbeda. Tapi tetap saja.

“Apa sih? Sinting!!” Ri Chan langsung pergi begitu saja meninggalkan Rin yang masih mematung menatapnya.

“Bagaimana lenganmu?” tanya Yoseob pada Ri Chan yang sedang mengambil sepatu di lokernya. Namja ini!! Hampir setiap hari menanyakan hal yang sama, dan selalu mencegatnya di loker. Dasar namja loker!

“Apa kau tidak bosan mencegatku seperti itu?” sahut Ri Chan sebal. Yoseob malah tersenyum-senyum gaje.

“Gila!!” umpat Ri Chan. Kemudian berjalan acuh menuju kelasnya. Namun Yoseob terus mengikutinya, padahal kelas mereka berlawanan arah.

“Yaa! Apa maumu?” bentak Ri Chan. Yoseob menatapnya dengan tampang imut.

“Menuntut sesuatu!!”

“Apa?”

“Kata terima kasih!!” ujarnya lagi. What? Terima kasih? Apa cowo ini sudah gila? Dialah yang seharusnya berterima kasih!!

“Yaa!!”

“Sst!! Kau tidak ingat, aku yang membawamu ke rumah sakit? Terus, aku membelamu sehingga kau tidak di keluarkan dari sekolah?” Ri Chan menahan napasnya. Sabar!!

“Padahal sudah babak belur begitu, belagak sok jadi pahlawan segala!! Aku bisa sendiri tau!! tidak usah kau bela juga ga masalah!!”

“Setidaknya aku masih hidup sekarang!! dan kau tidak dikeluarkan!”

“Hanya beruntung saja kalau kau masih hidup sekarang!! andai aku tidak datang mungkin kamu sekarang Cuma tinggal nama!!”

“Sssh, aku ga mau dengar itu darimu. Cukup katakan terima kasih maka kita impas…!” Yoseob menatapnya penuh arti.

“Fine, thanks!!” ujar Ri Chan setengah hati. Yoseob tersenyum penuh kemenangan membuat Ri Chan muak melihat senyumnya itu.

“Berhubung aku sudah mengatakannya! Jangan pernah mengikutiku lagi. Dasar namja berwajah perempuan!!” kecam Ri Chan.

“Wah, kata-katamu tajam juga! Memang siapa yang mengikutimu? Aku kebetulan saja mau ke arah yang sama denganmu!” ujar Yoseob sok innocent. Ri Chan memutar bola matanya lalu pergi ke kelasnya dengan menghentakkan kakinya.

“Pagi Ri Chan-ah, kebetulan sekali bertemu denganmu disini!!” sapa Yoseob di pintu gerbang saat Ri Chan baru saja mau masuk. Ri Chan meliriknya sekilas kemudian berjalan seolah tak melihat siapapun. Yoseob tak kehabisan akal, dia terus mengikuti Ri Chan sampai gadis itu merasa kesal.

“Yaa! Mau apa sih? Sunbae!!”

“Omo!! Kau memanggilku sunbae? Kau tidak salah makan kan?” canda Yoseob. Ri Chan memutar bola matanya. Salah dia sudah menegur namja aneh ini.

“Yaa! Kenapa kau pergi? Malu ya? Memang kau benar salah makan? Ri Chan-ah!!” Ri Chan berbalik menghadap Yoseob.

“Bisakah kau berhenti bersikap seolah-olah kita saling mengenal?” tanya Ri Chan, Yoseob mencuatkan bibirnya.

“Kita kan memang mengenal!! Namaku Yoseob, Yang Yoseob!!” sahut Yoseob polos membuat Ri Chan semakin kesal di buatnya.

“Aku tidak mengajakmu berkenalan!!”

“Kau tidak pernah sekalipun memanggil namaku! Kenapa?”

“Bukan urusanmu!! Jangan dekat-dekat! Dasar aneh!!” tukas Ri Chan sambil berjalan sejauh mungkin. Tapi Yoseob terus-terusan menempel di belakangnya.

“Hei lihat!! Itu Ri Chan!! Omo, dia sama Yoseob sunbae!!”

“Idih ga serasi banget deh!!”

“Lihat aja penampilannya yang liar, norak banget deh!!”

“Mana ada cowo yang mau sama cewe macam gitu! Mata Yoseob sunbae rusak ya?”

“Mungkin dia di ancam! Kasihan sekali sunbae yang manis itu, harus dengan cewe norak itu!!”

“Harusnya tuh orang kayak sunbae cocoknya denganku!!”

“Hahaha, kau gila? Kalau kau seperti anak pindahan yang bernama Park Ri Rin itu baru aku percaya! Jiyong sonsaengnim saja sampai seperti itu…”

Ri Chan terdiam, lebih tepatnya dia kesal karena lagi-lagi cewe-cewe kurang kerjaan itu mengomentari penampilannya. Tapi dia sudah terlanjur berjanji pada Jiyong untuk tidak berulah lagi.

“Tapi kalau Rin sih cocok aja dengan Jiyong sonsaengnim. Serasi. Sama-sama cakep dan cantik gitu deh!! Jauh lebih baik daripada dengan Ri Chan!”

Tangan Ri Chan mengepal. Kalau saja dia bisa membungkam mulut-mulut cerewet itu sekali saja.

“Ah sebentar lagi ulang tahun Jiyong sonsaengnim!! Ayo kita cari kado!!”

Ri Chan menguatkan hatinya, terus berjalan hingga langkahnya benar-benar terhenti.

“Ah, gomawo oppa! Bukunya bagus sekali!!” Rin tersenyum manis seraya menunjukkan buku yang ia maksud.

“Ne! Ah yang ini juga buku yang bagus, kalau kau mau baca saja!!” ujar Jiyong.

“Jeongmal? Wah!! Gomawo…” senang Rin, Jiyong tersenyum manis pada gadis itu.

Ah kenapa lagi nih? Kenapa aku ga suka melihat mereka berdua? Semakin lama mereka semakin akrab saja…

‘Tapi kalau Rin sih cocok aja dengan Jiyong sonsaengnim. Serasi. Sama-sama cakep dan cantik gitu deh!! Jauh lebih baik daripada dengan Ri Chan!’

Betapa serasinya mereka. Kenapa dadaku terasa perih? Kenapa begini sakit? Oppa tak pernah terlihat sebahagia itu dengan yeoja lain selain aku. Kenapa aku begini?

“Ri Chan!!” panggil Jiyong sambil melambaikan tangannya. Ri Chan langsung berpura-pura tak melihatnya.

“Aneh!! Apa dia tak melihatku ya?” gumam Jiyong bingung.

“Ri Chan-ah!! Kau mau makan siang juga? Ayo kita duduk di sana saja!!” Yoseob tanpa diminta langsung mengambil alih nampan makan siang Ri Chan.

“Kau ini kenapa sih? Kok diam saja?” tanya Yoseob lagi. Ri Chan langsung berbalik meninggalkan Yoseob sendiri.

“Bisakah aku berharap, Ri Chan-ah?” bisik Yoseob lirih.

“Apa-apaan sih orang itu!! Menyebalkan sekali!! Kenapa aku harus sial begini bertemu dengannya!!?” umpatku kesal. Duh aku lapar! Yasudahlah kurelakan saja makan siangku. Aku memandang berkeliling, mencari tempat yang bagus untuk tidur siang.

“Ah di atap saja!! Sepertinya bagus!” gumamku seraya menuju atap sekolah.

“Yaa! Park Ri Chan!! Apa-apaan penampilanmu itu hah? Kau mau sekolah atau mau apa?” teriak seseorang di belakangku. Omo!! Ini kan suara Mr. Kim, guru BK! Oh boy!! Aku langsung berlari secepat mungkin sebelum si bapak bisa mengejarku.

“Yaah! Jangan lari kamu!!” seru Mr. Kim seraya mengacung-acungkan penggaris besi padaku. Aku terus mempercepat langkahku. Yes, sudah di ujung koridor! Tinggal belok kiri, terus ke atas sampai deh di atap!! Kulirik Mr. Kim yang tampak ngos-ngosan mengejarku. Aku tertawa senang.

“Huh! Mestinya orang tua itu beristirahat saja! Pakai ngejar-ngejar aku segala, kayak bisa nangkap aku aja!!” aku merapikan almamaterku. Saat aku berbelok menuju tangga, sesosok yang sangat familiar di mataku sedang duduk di taman berdua dengan seorang gadis.

“Cih! Mereka berdua lagi!” gumamku kesal, tanganku mengepal. Mereka sedang makan siang sekarang.

“Apa-apaan sih cewe itu? Dia pikir dia istrinya oppa apa? Huh! Mentang-mentang cantik!” aku menatap diriku sendiri. Kenapa aku begini? Apa aku cemburu? Tidak. Aku tidak boleh cemburu.

“Lihat saja! Aku juga bisa berdandan seperti dia, hanya mengurai rambut saja kan? Cih!”

Jam belum menunjukan jam 9 pagi. Tapi Ri Chan sudah tampak rapi. Yup hari ini adalah hari special baginya. Hari ini adalah hari ulang tahun Jiyong! Dan mereka telah berjanji akan merayakannya bersama. Ri Chan tersenyum-senyum sendiri. Ia akan mencari kado terlebih dulu buat Jiyong.

“Pagi Ri Chan-ah!” sapa Yoseob dengan senyuman khasnya.

“Aku tak menyangka kamu mau pergi kencan denganku!!” seru Yoseob. Ri Chan menatapnya tajam.

“Yaah! Kau disini bukan untuk berkencan denganku! Kau hanya akan membantuku memilihkan kado buat oppa!!”

“Apa bedanya? Tapi…” Yoseob mengamati Ri Chan seksama dengan pandangan kecewa.

“Kau tampak berbeda sekali hari ini? Kau benar-benar terlihat seperti seorang Yeoja. Cantik. Aku suka!! Terutama gaun mini mu itu!!”

“Yaa!! Dasar mesum!! Aku ini memang yeoja, bodoh! Memangnya aku minta pendapatmu?” sela Ri Chan.

“Loh memangnya pendapatku kenapa? Kau memang cantik kok!!”

“Tapi, apa oppa akan senang melihatku seperti ini? Dari dulu dia ingin sekali melihatku memakai gaun pemberiannya ini…”

“Seperti apapun kamu, selama kamu nyaman itu bukan masalah kan?” ujar Yoseob. Ri Chan tersenyum, tanpa disadarinya kata-kata Yoseob barusan menenangkan hatinya.

Mereka memulai jalan-jalan mereka –mungkin lebih tepatnya acara beli kado-

“Apa yang paling di sukai Jiyong hyung?” tanya Yoseob.

“Hmm, pisang? Oppa suka sekali muncul di jendela kamarku sambil makan pisang!!” [ini fiktif saudara2]

“Yaa! Masa kau mau memberinya pisang?”

“Jadi apa? Aku tak punya banyak uang kalau mesti memberinya mobil!”

“Tentu saja bukan mobil juga. Bagaimana kalau ini?” tanya Yeosob, Ri Chan tersenyum lalu mengangguk setuju.

“Ah, sepertinya sudah masuk musim dingin…” gumam Yoseob sambil mengancing jaket putihnya.

“Kita harus segera pulang! Nanti keburu dingin!! Apalagi…kamu pakai rok mini begitu!!” lanjutnya. Ri Chan mengangguk. Nah lo? Kalau begini, kemana si gangster Park Ri Chan? Dia sepertinya sudah menjadi cewe kebanyakan.

[Now playing; Yiruma – Kiss the Rain]

Aku baru saja akan melangkahkan kakiku, kudengar suara dentingan piano. Apa oppa sudah datang? Lagu ini!! lagu Kiss the Rain yang biasa oppa mainkan di setiap ulang tahunnya. Hari ini, kami juga berjanji untuk memainkannya seperti biasa.

Aku membuka pintu.

“Wah bagus sekali oppa! Oppa hebat sekali!!”

“Jeongmal? Kau suka?”

“Ne…”

“Aku akan memainkannya lagi!”

“Gomawo oppa!!”

“Ini adalah lagu kesukaan Ri Chan, setiap tahun aku selalu memainkannya sampai dia tertidur!”

“Oppa…bagimu, Ri Chan itu apa?”

“Hmm? Dia adikku, tentu saja!”

“Hanya adik? Tidak ada perasaan lebih?”

“Mana mungkin aku ada perasaan seperti itu padanya…! Dia hanya kuanggap sebagai adikku saja!!”

Air mataku meleleh. Adik ya? Tentu saja aku adiknya. Tapi kenapa hati ini tak rela? Jari-jariku gemetar. Argh!! Aku langsung pergi dari situ. Ternyata aku hanya di anggapnya sebagai adik!! Gak lebih! Lantas buat apa aku seharian ini? mencari kado untuknya, berharap bisa menghabiskan waktu bersamanya. Aku bahkan memakai gaun sesak ini hanya untuk menyenangkannya.

Ditengah hujan yang deras ini aku berjalan seorang diri. Tak ada yang melihat, tak ada yang peduli. Hatiku terasa hampa, yah sakitnya serasa ingin membunuhku. Pikiranku kembali mengawang, seolah memutar balik kejadian itu. Dadaku perih setiap kali mengingatnya. Yah, mungkin karena kau yang pertama bagiku. Dia begitu nyata di setiap sudut memoriku. Dia benar-benar ada, bahkan apabila aku menutup mata sekalipun bayangnya tetap terekam jelas. Kenapa harus seperti ini? Kenapa aku harus merasakan hal ini? Kenapa aku tidak mati saja sekarang? Toh kau tak peduli juga. Egoiskah jika aku tak ingin merasakan sakitnya?

“Wah bagus sekali oppa! Mainkan lagi! Mainkan lagi!”

“Aniya…oppa lelah!”

“Aish oppa!!”

“Wae? Kau suka lagunya Ri Chan-ah…?”

“Tentu saja. Ini kan lagu favoritku!!”

“Sama ini juga lagu favorit oppa. Ini lagu favorit kita berdua…”

Sekarang ga lagi. Ada dia, dia yang selalu di sisimu, oppa! Dia yang juga menyukai permainan musikmu seperti aku. Dia yang jauh lebih baik daripada aku.

“Ah oppa bicara apa sih? Aku takkan kemana-mana! Tenang saja, aku akan selalu di sisimu, oppa!”

“Ne, na do…”

Bukan aku sekarang. Bukan aku lagi yang ada disisimu oppa. Dan sebaliknya, kau tidak ada disisiku lagi. Adilkah ini? Bisakah aku berharap oppa?

“Maaf!! Aku berjanji takkan meninggalkanmu! Kumohon, bukalah matamu, Ri Chan-ah! Jangan tinggalkan aku! Maafkan aku! Kumohon!!”

Semua itu bohong. Kau hanya menganggapku sebagai adikmu saja. Tidak lebih. Kau bohong oppa! Kau telah meninggalkanku.

“Tapi, aku jadi sedikit khawatir. Aku merasa Yoseob akan membawamu pergi dariku…”

Aku baru menyadarinya, kau berkata begitu karena kau tak pernah memandangku sebagai seorang yeoja. Kata-katamu yang mengkhawatirkanku itu begitu menyakitiku. Kenapa kau masih bersikap begitu padaku oppa? Kalau kau tidak punya perasaan apa-apa padaku, jangan membuatku merasakan perih ini.

“Argghhhh!!!!!!!!!!!!” jeritku sekuat tenaga.

….

Mungkin aku sudah gila. Padahal aku sudah berjanji padanya. Tapi kenapa aku tetap begini?

Ri Chan melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang hingar bingar itu. music menggema keras menyambutnya. Orang-orang yang tengah berdansa dan minum tampak begitu menikmati dunia mereka. Ri Chan duduk di sebuah kursi. Dia menenggak habis isi gelas yang di sodorkan padanya. Sesaat kepalanya terasa nyeri, perutnya terasa panas namun kemudian perasaannya jadi sedikit lebih baik.

Ia menenggak lagi, lagi dan lagi. Entah sudah gelas keberapa. Kini ia merasa lebih nyaman. Pikirannya lebih tenang. Ia mencoba berdiri. Kepalanya terasa pusing. Langkahnya kacau. Tapi ia hanya tertawa.

“Yaa! Kau tidak punya mata hah?” bentak seseorang. Ri Chan tak sengaja menumpahkan isi minumannya ke baju orang itu.

“Hei, kau lumayan juga! Mau main denganku?” ujar orang itu seraya mendekati Ri Chan yang kesadarannya tinggal setengah itu. orang itu –seorang namja- menarik lengan Ri Chan dan membuka paksa gaun yang dikenakannya hingga robek.

“Eung…!” Ri Chan melenguh ketika menyadari gaunya yang robek. Dia menatap kasar laki-laki mesum itu.

“Yaa! Apa yang kau lakukan hah?”

“Ayo kita bersenang-senang!!”

“Neo, michyeoseo? Kau pikir aku wanita jalang apa? Dasar breng**k!!” marah Ri Chan.

“Sombong sekali kau!” laki-laki itu langsung menyerang Ri Chan hingga terjatuh.

“Jangan sentuh dia!!!” seru seseorang yang langsung mendorong jatuh laki-laki tadi. Ri Chan memandang laki-laki yang berdiri membelakanginya.

Apa aku gila? Kenapa mendadak aku membayangkan namja loker itu ada di hadapanku?

“Yaa! Beraninya kau!” laki-laki tadi bangkit dan langsung menghajar namja berjaket putih itu. tapi dengan gesitnya si namja itu menghindar dan balas menonjoknya. Laki-laki itu tersungkur ke atas meja dan menghancurkan beberapa botol minuman. Mendadak klub malam itu berubah menjadi arena pertarungan. Laki-laki itu lantas mengambil pecahan botol di sampingnya dan langsung menghantamkan ke kepala si pria berjaket itu.

“Ri Chan-ah, gwaenchana?” tanya namja berjaket putih itu pada Ri Chan, lengkap dengan senyuman manisnya.

“Awas!!!!” jerit Ri Chan, laki-laki di hadapannya tumbang. Bisa dilihatnya darah segar yang mengalir dari kepala laki-laki itu.

“S…sun…sunb…Yo…Yoseob!!!” jerit Ri Chan sekuat tenaga. Air matanya jatuh, ia mencoba membangunkan laki-laki di hadapannya.

“Yo…Yoseob!! Yoseob!!” isak Ri Chan seraya memeluk namja itu.

Bangunlah!! Kumohon bangunlah!!

“Akhirnya kau memanggil namaku!! Aku…senang…” mendadak Yoseob bangkit, dengan susah payah ia berdiri.

“Yaa!! Jangan!! Kau bisa mati!!” Ri Chan masih terisak dia menarik tangan Yoseob. Dia takut, ketakutan yang tak pernah muncul selama ini. Ia takut Yoseob kenapa-kenapa. Ia takut Yoseob terluka.

“Berkelahi di depan seorang yeoja bukan sifatku sama sekali. Tapi dia! Orang yang ingin kulindungi! Takkan kubiarkan kau menyentuhnya seujung jaripun!!” Yoseob menatap laki-laki itu marah. Ia lantas melampiaskan semua amarahnya. Ia menghajar laki-laki itu sepuasnya sampai laki-laki asing itu tak dapat bergerak lagi.

Apa ini pengaruh alcohol? Kenapa si namja loker cerewet bertampang seperti yeoja itu terlihat seperti namja dimataku?

Yoseob terdiam cukup lama, kemudian berbalik menghadap Ri Chan yang masih terus memandangnya kaget. Yah, Ri Chan tak menyangka Yoseob sekuat itu.

“Kau baik-baik saja, Ri Chan-ah?” tanya Yoseob, ia lantas menuntun Ri Chan keluar dari tempat itu. Yoseob memandang gaun Ri Chan yang berantakan. Dia lantas melepas jaketnya dan memakaikan jaket itu pada Ri Chan. Ia mendongakkan wajah Ri Chan, menatap matanya dalam-dalam.

“Maaf…kau takut? Maafkan aku! Seharusnya aku datang lebih cepat. Maafkan aku Ri Chan-ah!!!” Yoseob memeluk erat tubuh Ri Chan yang gemetar hebat. Air mata Ri Chan kembali meleleh. Berada dalam pelukan Yoseob sangat hangat, dan menenangkan dirinya. Perlahan tubuhnya merileks.

Ah ini pasti karena pengaruh alcohol!! Makanya tubuhku tak berkutik begini di hadapannya.

“Ayo kita pulang!” ajak Yoseob sambil menggandeng tangan Ri Chan. Mereka berjalan dalam hening.

“Kenapa kau ada disana?”

“Aku mengikutimu!!”

“Buat apa?”

“Karena aku khawatir padamu, memang apalagi alasannya? Cewe itu jangan jalan-jalan sendirian malam begini. Bahaya tau!! Ayo pulang!!” Yoseob menarik tangan Ri Chan. Ri Chan terdiam menatap tangan Yoseob.

“Kita…ke rumah sakit dulu…” ujar Ri Chan pelan.

“Mwo? Buat apa? Apa kau terluka?”

“Yaaa!! Baboya! Yang terluka itu kau tau, lihat kepalamu!!” Yoseob menyentuh darah yang masih basah itu.

“Ah ini Cuma luka kecil!!” jawabnya sok.

“Jangan memaksakan diri begitu!” Ri Chan memalingkan wajahnya. Degup jantungnya mulai tak karuan.

Ternyata mabuk bisa membuat kita berhalusinasi macam-macam ya?

“Yaa! Aku juga bisa memainkan lagu itu untukmu! Akan kumainkan seribu kali untukmu!!”

“Apa maksudmu? Lagu apa?”

“Kiss the Rain! Bukan Cuma hyung yang bisa. Aku juga!!”

“Terus kenapa?”

Apa-apaan dia!! Dia membuatku teringat akan perasaanku pada Jiyong oppa. Perasaan sepihak yang teramat menyakitiku. Kenapa dia mengingatkanku hal itu? Aku benci padanya! Aku benci!!

“Makanya lupakanlah hyung! Lihat aku disini!!” ujarnya.

Deg!! Apa katanya barusan? Kenapa dia berkata begitu? Kenapa aku berdebar-debar begini? Apa jantungku bermasalah? Apa karena pengaruh alcohol?

“Nan joahaeyo…”

TBC~

hahahaha ^^

ottokhe? ntar sambungannya ya ^^

don’t be silent reader please, gomawoooooooooo^^

Posted 12 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: