[FF] Kiss The Rain *Part 2*   1 comment


annyeong chingudeul ^^
cm back again with part 2, curious?? i hope so ^^

kalau gtu, nih silahkan baca lanjutannya ea

.

KISS THE RAIN

Author: d_na

Length: 2 of ?

Genre: romance, angst

Cast:

Park Ri Chan as you

Park Ri Rin

Kwon Jiyong

Yang Yoseob

Kim Mi Hoon [just cameo]

 

 

>>>>>>>>========<<<<<<<<<<

 

“Huaah dasar Park Ri Chan sialan!! Beraninya dia memperlakukanku seperti ini? Memang dia pikir dia siapa? Dasar perempuan jalang!! Wanita murahan!!” umpat Kim Mi Hoon. Dia adalah yeoja yang menjadi sasaran marah Ri Chan beberapa hari yang lalu.

“Sudahlah Mi Hoon-ah, kau tidak mungkin menang melawannya, kan? Lagipula ada Jiyong sonsaengnim yang selalu melindunginya!”

“Kenapa sih? Memang apa bagusnya anak berandalan itu? Kenapa Jiyong sonsaengnim malah membelanya?”

“Entahlah…”

“Pokoknya lihat saja! Aku pasti akan membuat perhitungan padanya!! Dia pikir dia siapa? Nona Kim Mi Hoon ini akan membuatnya berlutut meminta ampun!” Mi Hoon menyeringai penuh arti membuat siapaun yang melihatnya bergidik.

“A…anu sonsaengnim!! Ada yang masih saya kurang mengerti tentang ini…”

“Rin-ah, apa itu?” tanya Jiyong pada siswi cantik di depannya.

“Yang ini, tentang trigonometri nomor 3 ini. Kenapa bisa begini?” tanya Rin. Jiyong melihat buku matematika di depannya.

“Ah yang ini, ini harus kamu rubah dulu ke persamaan trigonometri. Jika sin2x ditambah cos2x sama dengan 1 maka #@$%$#%^&*^%$@#!” [*hoeks…bayangin sendiri deh, author gak sanggup] Rin tampak manggut-manggut.

“Mengerti?” tanya Jiyong lagi. Gadis itu mendongak menatap wajah Jiyong. Deg! Sesuatu mendesir di hatinya. Wajah Jiyong dilihat dari sudut ini, dari jarak ini membuat kelainan signifikan pada wajahnya, wajahnya panas.

“Mengerti tidak?” ulang Jiyong lagi, gadis itu mengerjap seraya menunduk menyembunyikan wajahnya.

“Tidak mengerti ya? Kalau begiru setelah pulang sekolah ke perpustakaan saja. Nanti biar saya ajarkan!” tawar Jiyong, repot juga kalau anak baru tidak bisa mengejar ketinggalannya. Senyum Rin mengambang, berdua dengan Jiyong sonsaengnim sepulang sekolah? Bukankah itu seperti sebuah keajaiban?

“Ne, sonsaengnim!!” Rin masih terus menunduk. Jiyong tanpa sadar mengelus kepala siswinya, membuat Rin terkejut.

“Ah ma…maaf!!” sahut Jiyong tampak salting. Ah! Apa yang dia pikirkan? Dia takut anak ini salah paham!! Ini pasti karena kebiasaan melakukannya pada Ri Chan. Hhh, semoga anak ini mengerti.

“Tidak apa oppa!!” sahut Rin lagi.

“Ne? kau barusan memanggilku apa?” tanya Jiyong. Sekilas dia berpikir kalau yeoja dihadapannya ini adalah Ri Chan.

“Aniya, maksudnya sonsaengnim…” ralat Rin. Jiyong tersenyum, membuat senyum yeoja itu juga turut mengembang. Deg! Ada apa ini? Kenapa melihatnya tersenyum seperti itu membuatku begini? Aku tak mengerti apa yang terjadi, tapi barusan itu membuatku merasa dunia berhenti berputar.

“Kalau gitu saya pergi duluan, sonsaengnim!!” pamit Rin seraya berlalu. Jiyong hanya mengangguk kecewa. Kecewa? Kenapa?

“Argh! Aku ini kenapa?” kesal Jiyong dalam hati seraya mengacak-acak rambutnya.

“Oppa!!!” seru Ri Chan tepat ditelinga Jiyong.

“Huwaah!! Apa-apaan kau ini Ri Chan-ah?” kesal Jiyong dikejutkan seperti itu. yang mengejutkan malah ketawa ketiwi kesenangan.

“Wah siapa cewe tadi? Kok wajah oppa merah begitu?” goda Ri Chan. Kontan saja membuat Jiyong reflex membungkam mulutn Ri Chan. Takut kalau Rin mendengar gurauan Ri Chan tadi.

“Yaa! Kalau ada yang dengar gimana?” kesal Jiyong. Ri Chan megap-megap mencari udara, namun matanya menatap lurus ke mata Jiyong. Dan ini sukses membuat jantungnya bereaksi kembali.

“Op…pa…” Ri Chan memukul-mukul lengan Jiyong memintanya melepaskan.

“Hukuman untuk anak kecil!” senang Jiyong sambil tertawa-tawa.

Ah kenapa ini? Kenapa dadaku begitu sesak? Apa aku kehabisan napas? Tidak! Aku tak mungkin kehabisan napas hanya karena ini, pasti ada sesuatu…

“Yaa? Kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu merah seperti itu? Apa kau kehabisan napas, Ri Chan-ah?” tanya Jiyong ragu. Ri Chan terbatuk-batuk, dia mencoba menetralkan suasana hatinya.

“Yaa?” Jiyong menangkupakan kedua tangannya ke wajah Ri Chan, dan menatap matanya memastikan apa anak itu benar-benar kehabisan napas.

Tidak!! Jangan menatapku oppa! Jangan menatapku seperti itu!!

Batin Ri Chan berteriak, napasnya kembali memburu. Hey, apa ini? Kenapa dia malah segugup ini? selama hampir 15 tahun hidup bersama Jiyong, ini pertama kalinya dia mengalami hal seperti ini.

[Now playing; Kiss the Rain – Yiruma]

Yoseob sedang memainkan jari-jari lentiknya di atas piano di ruang music. Ia begitu menghayati lagu yang ia mainkan. Meski hanya permainan sederhana, namun baginya itulah hidupnya. Sebuah lagu yang bisa menghantarkan emosi yang ada dalam jiwanya. Ia mulai memainkan nada-nada dengan nyaring. Ia tak peduli, siapa sih yang bakal dengar? Kan sudah jam pulang sekolah.

Ri Chan yang baru saja keluar dari ruang kelas, terkejut mendengar lantunan piano, permainan yang sangat harmonis dan indah. Siapa yang memainkannya di tengah sekolah yang sepi ini? Hatinya begitu tersentuh mendengar setiap lantunan melodi yang mengalun lembut. Tunggu dulu! Sepertinya dia kenal lagu siapa ini. Ini adalah lagu yang selalu dimainkan Jiyong padanya. Berarti itu tadi permainan piano Jiyong!!

“Oppa!!” seru Ri Chan seraya membuka pintu ruangan. Music terhenti. Keduanya sama-sama terkejut.

“Kau???” seru mereka berdua.

“Kau bukannya si namja loker yang waktu itu? Sedang apa disini?” tanya Ri Chan lebih tepatnya menuntut.

“Namja loker? Pfft…apaan tuh?” laki-laki itu tersenyum.

“Yaa!! Aku sedang bertanya padamu!” kesal Ri Chan. Namja itu menatapnya seksama, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kemudian tersenyum.

“Yaa! Kau sudah gila? Kenapa senyum-senyum seperti itu? Menjijikan!!”

“Aku adalah ketua klub ini, namaku Yang Yoseob!!” ujar Yoseob. Ri Chan menatapnya bingung.

“Aku tidak mengajakmu berkenalan! Aku tanya sedang apa kau disini? Apa kau tidak mengerti bahasaku?”

“Hmm, aku sedang memainkan ini…” ujarnya sambil menekan tuts piano di hadapannya. Tanpa diminta laki-laki itu melanjutkan lagu yang terinterupsi barusan. Ri Chan mematung, tak bisa di pungkiri. Lagu itu adalah lagu favoritnya. Karena melodi itu sering dimainkan oleh Jiyong untuknya. Tapi sekarang seorang laki-laki lain yang memainkannya –meski bukan untuknya- terdengar begitu indah. Bahkan semakin ia menghayati, makin ia terlena dengan harmonisasi dan improvisasi yang tercipta oleh laki-laki bertampang imut itu.

Ri Chan masih saja terpaku mendengarkan harmonisasi permainan music Yoseob sampai selesai. Tak lama Yoseob menatapnya.

“Bagaimana?” tanya Yoseob. Ri Chan terdiam, ia membuang wajahnya. Yoseob menghampirinya dan mecoba mencari wajah yang di sembunyikan pemiliknya itu.

“Apa terlalu bagus sampai kau menangis seperti ini?” tanya Yoseob lagi setelah berhasil menangkap wajah yang meneteskan air mata itu.

“Yaa! Lepas!!” ronta Ri Chan. Ia mencoba menyembunyikan wajahnya lagi, ia tak ingin air matanya dilihat namja ini. Lebih tepatnya, ia tak ingin sisi lemahnya terlihat oleh orang lain. Karena dia adalah Park Ri Chan, dan seorang Ri Chan pantang menangis di hadapan namja karena alasan sepele.

“Kalau mau menangis, ya menangis saja. Tak perlu malu, kau kan seorang yeoja!!” sahut Yoseob, seakan mengerti maksud Ri Chan.

“Aku tidak menangis!! Mataku kemasukan debu, kau tidak lihat?? Dasar payah!!” kesal Ri Chan, ia marah karena laki-laki ini mengatainya seolah dia adalah perempuan cengeng nan lemah yang suka menangis.

“Hmm? Hahahahahahahah!!!” Yoseob malah tertawa. Membuat Ri Chan makin kesal melihatnya.

“Yaa!! Kenapa kau ketawa? Aku serius tau!” Ri Chan lantas memukul lengan Yoseob keras.

“Sakit!! Hahaha!!” erang Yoseob masih terus tertawa. Ri Chan hanya bisa mencuatkan bibirnya.

“Kau itu ternyata lucu sekali yah!! Lihat matamu melotot seperti ikan mati saja!! Hahahaha lucu sekali!!” Yoseob masih terpingkal. Sedang Ri Chan mencoba meredam emosinya. Dia bisa dikeluarkan dari sekolah kalau sampai menghajar orang lagi. Dan itu akan mempersulit Jiyong.

[sementara itu di perpustakaan]

“Hmm, kau sudah lama Rin-ah?” sapa Jiyong yang langsung duduk di kursi. Rin yang semula sedang membolak-balik buku, tampak sedikit terkejut.

“A…aniya…”

“Mianhae, tadi aku sedang mencari adikku di kelasnya!” ujar Jiyong lagi.

“Adik? Sonsaengnim punya adik? Kelas berapa?”

“Ah? Kupikir dia sekelas denganmu! Namanya Park Ri Chan!!” ujar Jiyong santai. Rin membelalakan matanya. Park Ri Chan? Maksudnya anak berandal itu? Kenapa bisa?

“Marga kalian berbeda…” gumam Rin pelan.

“Hmm?”

“A…aniy…”

“Jadi yang mana yang tidak kau mengerti?” tanya Jiyong. Rin menunjukkannya. Mereka memulai pelajaran mematikan itu [matematika maksudnya]. Penjelasan Jiyong yang sederhana membuat Rin mengerti dengan mudahnya.

“Kau mudah mengerti ya?” puji Jiyong.

“Jinjja? Ah ini karena sonsaengnim yang mengajarkannya padaku dengan sederhana dan mudah dimengerti!”

“Aish, coba Ri Chan itu sepertimu! Pasti dia takkan keluar masuk ruang BK!” eluh Jiyong.

“Sepertinya sonsaengnim kerepotan mengurusnya!” komentar Rin. Jiyong mengangguk.

“Oppa saja, aku tidak terlalu tua kok. Well, kalau kau mau?” tawar Jiyong membuat gadis itu kembali menampilkan senyum terbaiknya.

“Kenapa marga oppa berbeda dengan Park Ri Chan?” tanya Rin seberani mungkin.

“Ah, itu karena…Kami memang bukan keluarga kandung. Aku hanya menganggapnya seperti adikku sendiri…”

“Hah? Maksudnya?”

“Aku dan dia sama-sama berada di panti asuhan sejak lahir. Saat aku mengenalnya, aku sudah memutuskan untuk melindunginya sebisaku. Makanya, begitu aku keluar dari panti aku membawanya untuk hidup bersamaku.”

“Begitu? Maaf oppa, aku tak bermaksud…”

“Ga apa-apa!! Mungkin kamu penasaran kenapa Ri Chan jadi berandal begitu…” Rin mengangguk.

“Waktu itu dia pernah kecelakaan, mungkin sekitar kelas 6 SD atau SMP. Sejak saat itu perilakunya berubah, sehingga membuatku sedikit kewalahan menghadapinya…” Rin menggigit bibirnya, turut bersimpati dengan guru ganteng di depannya. Ia mendengar dari teman-temannya, katanya Jiyong itu lompat kelas saking pintarnya, makanya dia bisa jadi guru di usia semuda ini. Dia sekolah dengan beasiswa prestasi dan hidup dengan gajinya diusia saat orang-orang masih menempuh dunia perkuliahan. Tapi Jiyong sanggup menghidupi dirinya dan juga Ri Chan.

“Kau tau anak baru di kelas F itu? Anak baru yang sok cantik itu?” tanya Mi Hoon pada teman sebangkunya saat mereka di kamar mandi perempuan.

“Ah, ne! Wae? Memang apa hubungannya dengan rencanamu mengeluarkan Ri Chan dari sekolah?” tanya temannya.

“Kudengar anak itu dekat dengan Jiyong sonsaengnim, huh dasar cewe centil!” umpat Mi Hoon.

“Yaa! Aku ga mengerti, memang apa hubungannya?”

“Gosip yang menyebar, katanya mereka punya hubungan rahasia loh. Mereka sering bertemu sepulang sekolah di perpus, dan katanya juga anak sok itu memanggil Jiyong sonsaengnim ‘oppa’!!”

“Jeongmal?” tanya temannya.

“Ne, makanya kalau gossip itu benar! Aku bisa memanfaatkannya!” Mi Hoon kembali tersenyum licik.

“Ottokhe??”

“Selama ini Jiyong sonsaengnim selalu melindungi Ri Chan. Nah kalau Ri Chan mengganggu anak baru itu. menurutmu apa Jiyong sonsaengnim bakal tetap melindunginya?”

“Kalau gossip kedekatan mereka benar, kurasa ga mungkin Jiyong sonsaengnim masih mau membelanya!!”

“Nah maka dari itu! Kalau Jiyong sonsaengnim tidak membelanya, maka ‘bang’ yeoja jalang itu bakal langsung di tendang dari sekolah ini!!”

“Ah!! Benar juga! Kau cerdas sekali Mi Hoon-ah!!”

“Tentu saja!!” ujar Mi Hoon membanggakan diri.

“Tapi bagaimana caranya membuat yeoja jalang itu mengganggu anak sok itu?” tanya temannya. Mi Hoon tersenyum sambil mengeluarkan sesuatu.

“Tentu saja dengan ini!!” mereka berdua langsung tertawa a la bonamananya suju [loh?].

“Kau yang bernama Rin, kan? Kau di panggil Ri Chan di gudang sekolah!!”

“Ne?” tanya Rin bingung.

“Membicarakan masalah Jiyong sonsaengnim katanya!!”

“Ah, geurae…goma…” baru saja Rin ingin mengucapkan terima kasih, perempuan tadi langsung pergi. Rin mengangkat bahu bingung sekaligus tak mengerti. Tapi tak apalah, ia langsung pergi menuju gudang sekolah. Ia pergi tanpa berpikir apa-apa, kenapa Ri Chan memanggilnya ke gedung sekolah? Tapi tak masalah lah, selama itu menyangkut Jiyong oppa!!

“Kau sudah memberti taunya?” tanya Mi Hoon pada temannya. Temannya mengacungkan dua jempol bertanda misinya selesai.

“Baik sekarang giliranku!!” Mi Hoon memakai headband di kepalanya, lalu mengikat rambutnya. Sepintas gayanya sudah mirip dengan gaya Ri Chan. Dia tinggal menggulung almamater dan mengeluarkan baju sekolahnya.

“Wow!! Sempurna!” seru temannya.

“Ah dia datang! Ayo sembunyi!!” seru Mi Hoon lagi. Rin sudah sampai di pintu gudang sekolah yang terbuka itu. menunggu Ri Chan yang katanya ingin bicara dengannya. Tapi dimana dia?

Brakkk…

“Ah!!” seru Rin mendapati dirinya terjatuh di dalam gudang sekolah yang gelap itu, matanya kabur kemasukan debu dan berasa perih.

“Enyahlah kau perempuan jalang!!” Mi Hoon yang mendorongnya membanting pintu dengan keras lalu menguncinya.

“Yaah! Ri Chan! Buka pintunya!!” jerit Rin seraya menggedor-gedor pintu. Mi Hoon dan temannya tertawa-tawa senang, misi telah sukses!! Tinggal tunggu waktu saja! Rin mencoba mengintip dari lubang kunci di pintu, bisa dilihatnya sosok Ri Chan yang tampak membelakanginya itu tertawa histeris. Sial! Ternyata itu Ri Chan? Kenapa aku tak berpikir bahwa ini jebakan?

“Ah aku bisa melepas dandanan menjijikan dan norak ini!” ujar Mi Hoon seraya melepas dan merapikan atribut penyamarannya.

“Apakah bakal berhasil?” tanya temannya ragu.

“Tentu saja, siapa lagi sih yang berdandan norak begini selain si bodoh jalang itu?”

“Oppa!!” seruku di telinga Jiyong oppa.

“Yaah!! Kau membuatku kaget! Dasar! Kau mau mengurangi umurku?” kesal Jiyong oppa seraya mencubit hidungku.

“Aniya…ah apa oppa kenal ketua klub music?” tanyaku hati-hati.

“Wae? Tentu saja aku kenal, aku kan pembimbing klub music! Maksudmu Yang Yoseob?” tanya Jiyong oppa.

“Ah siapalah itu namanya, aku tak peduli. Hanya saja…”

“Kau menyukainya?” tanya oppa. Ige mwoya? Menyukainya? Hahahah!! Memang aku sudah gila?

“Aku tidak pernah memandangnya seperti itu!!” kesalku.

“Mwo kenapa begitu? Yoseob anak yang baik kok!!” goda oppa.

“Bodoh amat!! Aku tidak suka namja cerewet seperti dia! Seperti wanita saja!” kesalku.

Kau bukan wanita, masih remaja. Well, teknisnya wanita itu adalah sebutan untuk perempuan dewasa. Sedangkan anak berusia 15 tahun sepertimu belum bisa diketegorikan sebagai perempuan dewasa. Jadi kau bukan seorang wanita. Belum.

Apa ini? Kenapa aku malah teringat kata-kata namja cerewet itu? Aku menepuk-nepuk pipiku. Mana mungkin aku memikirkan si namja loker cerewet itu. Menjijikan!!

“Kenapa sih? Nanti kamu malah suka lagi! Ga boleh ngomong gitu!!”

“Biarin!! Aku tak mungkin menyukainya oppa! Wajah seperti cewe begitu! Menjijikan sekali!” ujarku. Jiyong oppa mengelus kepalaku. Aku menyukai bagian saat dia mengelus kepalaku. Aku tak ingin ini berakhir. Apa aku egois? Aku tak ingin kehilangan laki-laki di sisiku ini. apa karena aku telah mengenalnya seumur hidupku? Yang jelas aku ingin selalu disisinya, ingin memonopoli semua kebaikannya. Aku ingin dia bersamaku saja, memandangku saja, dan hanya memanggil namaku saja. Entah sejak kapan aku jadi begitu egois. Bisakah aku berharap?

“Nanti kau pasti akan menyukainya! Kau tau, menyukai seseorang itu adalah perasaan yang wajar. Karena kamu adalah seorang yeoja!!” sahut Jiyong oppa. Deg! Jantungku kembali bereaksi.

Kau kan seorang yeoja…

Kata-kata itu…lagi-lagi aku memikirkan ucapan namja loker itu!! Please, Park Ri Chan! Apa kau gila? Berhenti memikirkannya!! Jiyong oppa merangkul bahuku, dan itu sukses membuat sirna bayangan laki-laki itu. Tapi!!! Itu membuat detak jantungku bergemuruh lebih kencang!

“Tapi, aku jadi sedikit khawatir. Aku merasa Yoseob akan membawamu pergi dariku…” ujar Jiyong oppa sambil menarawang menatap langit-langit. Ah oppa kenapa sih? Kenapa membahas laki-laki itu terus?

“Ah oppa bicara apa sih? Aku takkan kemana-mana! Tenang saja, aku akan selalu di sisimu, oppa!” aku mengeratkan rangkulan oppa.

“Ne, na do…” oppa mengelus kepalaku lagi. Kuharap waktu bisa berhenti. Aku ingin bisa seperti ini selamanya.

“Keluarkan aku!!! Kumohon!! Hiks!!” sebuah suara mengejutkanku. Jiyong oppa memandangku bingung. Aku mengangkat bahu tak tau. Sepertinya suara itu dari gudang. Oppa mendekati gudang itu dan mengetuk pintunya.

“Ada orang?” tanya oppa.

“Tolong!! Tolong!! Siapa saja tolong keluarkan aku!!” jerit suara itu lagi.

“Iya, hey! Pintunya akan ku dobrak! Menjauhlah dari pintu!!” seru Jiyong oppa yang kemudian langsung menendang roboh pintu di hadapannya. Seorang gadis keluar dengan wajah basah bersimbah air mata.

“Rin-ah??” seru Jiyong oppa. Gadis yang dipanggil Rin itu langsung memeluk Jiyong oppa!! Memeluk!!??

“Oppa!!” isaknya. Jiyong oppa mengelus kepalanya. Apa? Oppa katanya? Kenapa? Ada seorang gadis lain yang berani memanggil Jiyong oppa dengan sebutan ‘oppa’ selain aku.

“Yaa, gwaenchana?” tanya oppa. Kulihat wajah khawatir oppa, yang balas memeluk gadis itu. kurasakan lelehan hangat mengalir dipipiku. Apa ini? Kenapa aku menangis? Akhir-akhir ini aku sering sekali menangis? Aku menyentuh dadaku, sakit!! Aku tak suka melihat mereka berdua! Aku tak suka!! Aku benci!!

Gadis yang bernama Rin itu menatapku, aku memalingkan wajahku –agar air mataku tak terlihat olehnya- dia melepas pelukannya dan mendekatiku.

Plaakk!!

“Rin-ah!!” kaget oppa. Tidak! Bukan Cuma oppa yang kaget, aku juga! Apa-apaan cewe ini? kenapa dia menamparku? Berani sekali dia!!

“Kau sudah puas?? Mengurungku seharian didalam sana!! Memang apa salahku? Kenapa kau lakukan itu??” bentaknya dengan suara serak, ah dia menangis lagi.

“Apa? Maksudmu? Ri Chan kau yang megurungnya di sini?” tanya oppa murka. Bukan! Bukan! Aku ga pernah mengurungnya! Bahkan meski aku sekelas dengannya, aku tak pernah mengenalnya. Apa-apaan cewe ini? Main fitnah seenaknya.

“Aku ga percaya! Kau…!!” oppa menutup mata dan menyentuh keningnya seakan menahan rasa sakit di kepalanya. Tiba-tiba dia menarik tanganku kasar.

“Yaa! Park Ri Chan!! Kau sudah keterlaluan! Bukannya kau berjanji padaku takkan berulah lagi?? tapi apa ini? Kau malah mengurungnya di sana!! Kau ini!!” marah oppa. Aku terdiam, suaraku tak bisa keluar. Bukan!! Bukan aku! Perempuan itu bohong! Aku ingin mejelaskan semuanya, tapi tatapan marah oppa membuatku membisu. Kenapa begini?

“Aku benar-benar tak sanggup kalau seperti ini!! Kau pikir aku tidak repot harus mengurusmu sendirian mulai kecil? Hah? Dewasalah sedikit!! Kau benar-benar sudah membuatku muak! Kalau begini seharusnya aku meninggalkanmu di panti bersama yang lainnya!!!” oppa masih terus mengomeliku. Kenapa aku tidak membalasnya? Seperti yang biasa kulakukan? Kenapa aku diam saja? Padahal ini bukan salahku. Aku langsung berlari dari hadapannya. Entah kemana, aku tak peduli.

Oppa tidak menginginkanku lagi. Oppa bohong, oppa bilang ingin bersamaku. Tapi oppa bilang muak padaku. Oppa menyesal hidup bersamaku. Oppa ingin meninggalkanku di panti. Di panti?

Mendadak cahaya terang membutakan mataku. Suara decit mobil memekakkan telinga. Kulihat sebuah Volvo merah melaju dengan kencangnya menghantam tubuh seorang anak perempuan –mungkin dia sudah SMP- terpental jauh ke jalanan. Ia terjatuh, dan tak sanggup untuk bangun. Darah mengucur dari kepalanya begitu menyengat hidung. Aku mencoba membantunya, namun lagi-lagi suaraku tak terdengar.

“Rii Chaaaaannn!!!” jerit seseorang. Aku mengenal suara ini, aku berbalik dan menemukan seorang namja berwajah familiar menghampiri gadis itu. Dia menguncang tubuh gadis itu, menyuruhnya bangun. Hujan rintik-rintik turun membasahi bumi. Namja itu memeluk tubuh gadisnya yang berlumuran darah segar.

“Maaf!! Aku berjanji takkan meninggalkanmu! Kumohon, bukalah matamu, Ri Chan-ah! Jangan tinggalkan aku! Maafkan aku! Kumohon!!” isak namja itu memohon. Ironis sekali, gadis itu tak kunjung jua membuka matanya.

Aku membuka mataku, napasku memburu. Kepalaku serasa berputar. Sakit!! Napasku mulai terengah, sudah sampai mana aku berlari? Aku tak memperhatikan jalan. Dimana ini? Hari sudah mulai gelap, hebat juga aku bisa berlari sejauh ini!! Aku mencoba menghibur diriku sendiri. Keringat mengucur membasahiku. Tenanglah Park Ri Chan! Aku menyuruh bahkan memerintahkan diriku untuk tenang, sambil mengatur napas aku duduk di sebuah bangku taman. Jam berapa sekarang? Sial, aku tidak punya jam tangan, bahkan Hp ku saja ada di dalam tas dan masih di sekolah.

Kenapa bayangan tentang orang-orang itu terus menghantuiku? Siapa mereka? Kenapa namanya Ri Chan? Kenapa orang itu memakai kalung yang sama denganku? Kenapa ada Jiyong oppa di situ? Kalung? Aku menyentuh leherku, oh ya! Kalungku masih belum ketemu. Satu-satunya peninggalan orang tuaku, namun semua itu tak ada artinya lagi. Orang tuaku tak pernah mencariku, beginikah rasanya menjadi putri yang terbuang? [Kayak judul sinetron aja?] Ah, sial air mataku mengalir lagi!! Aku memeluk tubuhku, dingin!!

“Yaa! Kalau jalan lihat-lihat! Kau tak punya mata? Kau buta hah?”

“Maaf aku…”

“Kalau gitu biar kubutakan saja matamu sekalian!!”

“Ap…? Tung…argh!!” gerombolan preman yang mengelilingi seorang namja itu tampak tertawa kesenangan sambil terus menghajar namja malang itu. Mereka terus memukuli namja itu, tak peduli erangan si namja. Mereka malah semakin bernafsu menendang kepalanya, membuat sekujur tubuh laki-laki itu penuh lebam dan darah. Salah seorang di antara mereka mengeluarkan pisau dan mengarahkan tepat ke mata si namja.

Brettt…

Pisau tertancap tepat di atas sebuah lengan, dengan merobek almamter dan seragam sekolahnya terlebih dulu. Raut kesakitan tergambar jelas di wajah sang pemilik lengan.

“Beraninya main keroyokan begini, dasar sampah!!” Ri Chan menatap satu per satu wajah para preman yang tampak mulai ketakutan itu.

“Gawat!! Itu Park Ri Chan!!” seru salah seorang diantara mereka. Ri Chan mencoba mencabut pisau yang menancap di lengannya, agak keras. Masuknya dalam sekali.

“Menggunakan benda seperti in, kalian benar-benar pengecut!!” ia masih terus mencoba mencabut pisau itu, dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Sial!! Tak ada jalan lain selain merobeknya, pikir Ri Chan. Ia memutar sedikit pisau itu dan menariknya paksa. Baju seragamnya langsung robek, dan memperlihatkan sisi lengannya yang berlumuran darah. Bau menyengat itu begitu menusuk, dan membuatnya pusing.

“Ri Chan-ah!! Hati-hati, mereka itu berpisau!! Cepat kabur dari sini!!” seru Yoseob berusaha bangun susah payah. Ri Chan menatapnya terkejut, dia kan? Namja loker!!

“Sedang apa kau? Cepat pergi!! Biar aku yang mengalihkan mereka, kau pergilah sekarang!!” usir Yoseob, seraya memegang lengan Ri Chan yang terluka. Ri Chan reflex mengibaskan tangannya yang sudah mati rasa itu.

“Omo!! Lenganmu berdarah!!” seru Yoseob lagi.

“Cepat pergi!! Biar aku yang mengurus mereka!!” ujar Yoseob lagi, menatap mata Ri Chan.

“Bo…doh! Kau sa…ja sudah terluka begini!! Ja…jangan sok jadi…pahla…wan deh!” bibir Ri Chan gemetar. Matanya berkunang-kunang.

“Ri? Ri Chan-ah?” mendadak Ri Chan ambruk di hadapan Yoseob.

 

TBC~

 

hmmm, gmn?? jangan lupa komen ya, biar author semangat nulisnya hehehe ^^

nantikan part selanjutnya ya, love u readers

Posted 11 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , ,

One response to “[FF] Kiss The Rain *Part 2*

Subscribe to comments with RSS.

  1. penasaranbgt onnie,lanjutin donkk!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: