[FF] Kiss The Rain *Part 1*   7 comments


aaaaannnyyyeeeeeooonnngggg readers!!!

hahahah author kembali!! dengan FF baru, lagi-lagi ni FF udah pernah d.post di Fb sih, cuman cast.a di ganti, heheheh…

oke deh, gak usah banyak cingcong langsung baca aja yuuuk!! kalau udah jangan lupa tinggalin jejak yaa, supaya author senang ^^

 .

KISS THE RAIN

Author: d_na

Length: 1 of ?

Genre: romance, angst

Cast:

Park Ri Chan as you

Park Ri Rin

Kwon Jiyong

Yang Yoseob

===========>>>>>>

[Winter]

“Selamat Mrs. Park, anak anda perempuan!!” seorang wanita dengan pakaian putih mendatangiku dan memberitaukan hal itu. Aku tersenyum pasrah dan senang.

“Keduanya bayi perempuan yang manis…” aku terkejut, apa maksudnya keduanya?

“Bayi anda kembar, dua-duanya perempuan!!” jelas orang itu lagi kemudian beranjak pergi. apa? kembar? Sekarang perasaan senang itu berganti dengan kegelisahan. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin bisa menghidupi kedua anakku. Tidak. Untuk membayar biaya rumah sakit saja aku tak mampu, bagaimana aku bisa menghidupi mereka. Suamiku seorang yang breng**k, dia pergi ketika tau aku hamil dan tak pernah kembali. Jangankan kembali, sekedar menanyakan kabar atau mengirimkan uangpun tak pernah. Sekarang, bagaimana caranya aku hidup? Oh Tuhan…

Perawat berpakaian putih itu kembali dengan membawa dua orang bayi. Lalu memberikannya padaku. Aku menatap kepada wajah-wajah mungil itu. Masih merah dan terlihat rapuh. Air mataku menetes, apa yang harus kulakukan Tuhan? Aku tak mungkin meninggalkan bayi-bayi malang ini, kan? Namun aku tak sanggup menanggung hidup mereka, apa yang harus kulakukan?

“Mungkin aku sudah gila…” bisikku dalam hati. Tak ada pilihan lain. Aku mengalungkan keduanya dengan kalung sederhana yang kubuat sendiri beberapa hari setelah melahirkan. Kalung yang bertuliskan nama buah hatiku Park Ri Rin, dan Park Ri Chan.

“Maafkan aku, kau pasti akan membenciku. Tapi kumohon mengertilah…” aku kembali terisak. Tapi aku harus bagaimana? Ini keputusan yang sulit, salah satu harus tinggal disini.

“Selamat tinggal, kuharap kau menemukan kehidupan yang lebih baik. Jeongmal mianhae kau punya orang tua seperti ini…” aku mengecup kening bayi itu dan pergi tanpa pernah menoleh lagi.

15 years later…

“Yaaa!! Park Ri Chan!! Kau pikir ini jam berapa? Hah?” seru seorang guru pada siswi di hadapannya.

“Oppa!! Kau berisik sekali pagi-pagi!! Hoaahhm!!” anak yang bernama Park Ri Chan itu menutup mulutnya ketika menguap.

“Yaa! Ini sekolahan, jangan memanggilku oppa! Panggillah aku sonsaengnim!!” guru muda bernama Kwon Jiyong itu menarik tangan Ri Chan. Ada bau yang menusuk hidungnya.

“Yaaa! Kau mabuk???” bentak Jiyong lagi. Dia lantas memukul kepala Ri Chan.

“Kau ini masih kecil tapi sudah berani mabuk!! Kau tidak sayang dengan dirimu sendiri? Apa-apaan tindik ini? Kau ini perempuan, Ri Chan-ah kenapa berpenampilan liar seperti ini? Ibumu yang disurga bisa menangis melihatmu rembes seperti ini!!” Jiyong mulai dengan omelan khasnya setiap hari. Ri Chan hanya bisa merem melek karena dia memang masih mengantuk.

“Aku juga baru pertama kalinya minum oppa. Kenapa marah-marah seperti itu, sih?” Ri Chan menggaruk-garuk kepala dengan tampang tak berdosanya itu. Jiyong mendongakkan wajah Ri Chan dan menatapnya dalam-dalam.

“Yaah anak kecil! Kalau begitu, kenapa kau minum? Hah?” tanya Jiyong, Ri Chan mengerjap beberapa kali, wajahnya panas ditatap seperti itu oleh Jiyong.

Ah ini pasti karena pengaruh alcohol, makanya wajahku panas begini…

“Aku sedang ada masalah!” Ri Chan memalingkan wajahnya. Kini bukan Cuma wajahnya saja yang memanas, begitu pula dengan jantungnya yang berdebar kencang seolah mau meledak saja.

“Yaa! Tatap aku kalau bicara!! Memangnya apa masalahmu?”

“Kau mau tau apa masalahku oppa?” tantang Ri Chan, Jiyong lantas menarik tangannya lagi dan membawanya paksa ke kamar mandi perempuan.

“Oppa!! Apa-apaan kau? Kenapa membawaku kesini?” Ri Chan mencoba berontak. Tatapan dingin Jiyong menusuknya. Seumur hidupnya baru kali ini ia merasa takut.

“Ih itu kan Park Ri Chan! Ya ampun lihat deh penampilannya?”

“Sst!! Kalau dia mendengarmu, habislah kau…”

“Dia itu perempuan tapi kuat sekali, seperti gangster saja!!”

“Benar-benar ga ada sisi feminimnya sama sekali!”

“Heran deh kenapa makhluk seperti itu dibiarkan hidup?”

“Yaa! Kamu keterlaluan!”

“Dia menyeramkan kan? Aku baca Koran pagi ini, dia habis berantem dengan anak SMA sebelah!!”

“Lagi? Duh tu anak ga kapok ya udah di skors seminggu juga!!”

“Tau deh, kenapa juga dia sekolah disini? Mempermalukan nama sekolah saja! Dia itu kan tidak punya orang tua yang mendidiknya! Makanya jadi liar begitu!!”

“Ssstt! Dia melihatmu!!”

“Oppa sialan!! Beraninya dia memperlakukanku begini?” umpatku seraya memperbaiki seragamku. Aku menatap garang siswi-siswi yang sedang bergosip ria itu. Sontak mereka terdiam dan menunduk. Huh, dasar gadis-gadis bodoh!!

“Oppa!! Apa-apaan kau? Kenapa membawaku kesini?” tanyaku seraya mencoba melepaskan diri dari cengkraman Jiyong oppa. Namun tatapan dingin Jiyong oppa membungkamku. Seumur hidupku baru kali ini aku merasa setakut ini.

Kyaaa!! Oppa lepas!!” jeritku sebisa mungkin. Oppa membuka jas almamter sekolah yang kupakai dengan paksa.

“Oppa kumohon! Aku berjanji takkan minum lagi tapi jangan seperti ini!!”aku berusaha mempertahankan jasku.

“Yaa! Cepat buka bajumu, mengganggu saja!” ujar Jiyong oppa seraya membuka kancing seragamku. Apa? Buka baju? Dia gila? Seberandalan apapun aku, tak mungkin kuserahkan keperawananku sebelum pernikahan. Dia pikir aku wanita murahan?

“Neo michyeoseo?” tanyaku sambil berusaha berdiri. Setelah kudapat kekuatanku sepenuhnya, aku merangsek mendekatinya. Maafkan aku oppa. Tapi, kau yang meminta hal ini.

Bruagghh…

“Argh!!” erang Jiyong oppa seraya memegang hidungnya yang mengeluarkan darah.

“Yaa!!” seru Jiyong oppa lagi. Matanya kembali menatapku, marah. Dia mendekatiku, aku terus mundur, mundur, mundur sampai aku tak bisa mundur lagi.

“Cih kenapa ada dinding disini?” gumamku bodoh. Jantungku berdebar kencang, ketakutanku memuncak. Napasku mulai memburu. Kakiku melemas membuatku jatuh terduduk.

Byurr…

Dingin, dingin. Apa ini?

Byurr…

Ah, aku megap megap mencari udara tapi, perasaan dingin ini membuatku kesulitan bernapas.

“Sudah sedikit sadar?” Tanya Jiyong oppa, dia mendongakkan kepalaku. Aku menatapnya garang, dia menyimburku dengan air? Apa maksudnya ini?

Byurr, ember ketiga yang disimburkannya padaku. Bajuku basah semua.

“Seharusnya kau mandi dulu sebelum berangkat kesekolah! Kau itu bau sekali!!”

“Itu bukan urusanmu oppa!!” ujarku seraya merapikan rambutku yang lepek dan memperbaiki seragamku.

“Dasar anak kecil! Bukan urusanku bagaimana? Kalau guru-guru tau kelakuanmu semalam, kau bisa dikeluarkan tau? Setidaknya sikat gigimu untuk menghilangkan bau alcohol itu!!”

“Jadi oppa menyimburku untuk menghilangkan bauku?”

“Tentu saja!! Kau pikir apa? Heran ya kenapa bisa ada anak seperti mu!!”

“Apanya?”

“Anak yang memukul gurunya hingga berdarah, padahal aku hanya ingin membantumu!!” omel Jiyong oppa lagi. Aku tersenyum tipis, apa yang kupikirkan tadi? Mana mungkin oppa berbuat hal yang tidak senonoh padaku. Dia adalah pria yang baik. Dia selalu melindungiku dari sekolah. Setidaknya aku masih sekolah sampai saat ini, berkatnya. Bodohnya aku sampai berpikir hal itu.

“Hhh…padahal tidak akan basah semua! Coba tadi menurut kalau di suruh buka baju!!” Jiyong oppa geleng-geleng kepala sendiri.

“Tunggu disini, biar kucarikan baju!!” ujarnya lagi sambil berlalu. Argh, aku menggigil. Air apa sih ini? air es? Benar-benar membuatku membeku. Aku benci musim dingin, aku benci sesuatu yang dingin dan menusuk seperti ini.

“Yaa! Apa lihat-lihat!!” seru salah seorang di antara mereka. Aku menatapnya sebentar. Apa yang dimaksudnya itu aku?

“Dasar perempuan aneh! Sudah jelek, apa bagusnya orang sepertimu?” ujar orang itu lagi.

“Yaa, apa-apaan kau?” bisik temannya.

“Orang seperti dia harus diberi pelajaran! Memangnya dia siapa?” aku maju kehadapan orang itu yang langsung gemetar.

“Kau bicara denganku?” tanyaku.

“Tentu saja bodoh! Memang siapa lagi orang yang berpenampilan buruk sepertimu di sekolah ini? Dasar wanita murahan! Anak buangan!! Sampah masyarakat!” seru anak itu di hadapanku, kulihat teman-temannya yang lain meminta maaf padaku. Kemudian pergi secepat mungkin.

“Oh…kau sangat memperhatikanku ya? Terima kasih sudah peduli padaku!” ujarku kemudian, dia termundur sampai menyentuh dinding kelas. Aku meletakkan tanganku disisinya.

“Buat apa aku peduli dengan manusia bodoh sepertimu, dasar jelek!!” ejeknya lagi. Aku mengelus rambut panjang perempuan itu seraya tersenyum.

“Rambutmu indah ya!!” ujarku.

“Tentu saja, jangan pernah berani bermimpi kalau kau akan punya rambut seperti ini!!” ujarnya lagi.

“Oh ya? Bagaimna jika rambut indah ini tak lagi menjadi rambut indah?” kutarik rambutnya sekeras mungkin. Jeritannya membahana, dia memohon sampai terisak memintaku melepaskannya. Aku tertawa senang melihatnya kesakitan seperti itu. Tak ada yang berani mengusik kami. Perempuan itu meronta-ronta seraya mencoba memukulku. Tapi bagiku pukulan sekuat tenaganya itu sama seperti tepukan. Tidak terasa sama sekali.

“Yaa! Lepas!! Sakit! Kumohon!!” isak perempuan itu, membuatku semakin bernafsu untuk menarik rambutnya.

“Sudah cukup…!” seseorang menarik tanganku. Aku menatapnya marah, berani sekali dia menganggu kesenanganku.

“Sepertinya dia sudah cukup menyesali perbuatanya. Jadi tidak usah di perpanjang. Lagipula bel masuk sudah berbunyi…” lanjut laki-laki itu. Aku menatapnya seksama. Cih, dia kakak kelas ternyata.

Aku menarik kasar tanganku, membuat rontok rambut perempuan di depanku. Dia menjerit sekerasnya membuat telingaku sakit.

“Yaa!! Shikuro!!” bentakku.

“Pergilah!” ujar laki-laki itu lembut pada perempuan di depanku. Yeoja cengeng itu langsung pergi tanpa berpikir dua kali.

“Omo, bajumu basah?” seru namja itu, dia masih berdiri di depanku. Aku terdiam tak peduli, terus kenapa kalau bajuku basah? Itukan bukan urusannya.

“Kau mau pake bajuku?” tawarnya. Mworago?

“Cih, kau pikir aku wanita macam apa?” tanyaku. Lagi-lagi dia tersenyum cengengesan.

“Kau bukan wanita, masih remaja. Well, teknisnya wanita itu adalah sebutan untuk perempuan dewasa. Sedangkan anak berusia 15 tahun sepertimu belum bisa diketegorikan sebagai perempuan dewasa. Jadi kau bukan seorang wanita. Belum.” Ujar namja itu panjang lebar. Membuatku eneg saja.

“Jadi kau mau pakai bajuku?” tanyanya lagi.

“Yaa! Neo michyeoseo? Buat apa aku pakai baju orang yang tak ku kenal!!” aku melipat tanganku, angkuh. Sekaligus menahan rasa dingin yang menjalar dikulitku. Sial!! Jiyong oppa harus membayar semua ini.

“Lagipula…kalau aku pakai bajumu, kau sendiri bagaimana?” tanyaku lagi

“Hahahaha! Tentu saja bukan baju seragamku yang kumaksud. Kau pakai baju olahragaku saja. Ini kunci lokerku! Lokerku berada di sebelah kiri nomor dua dari atas. Yang bertuliskan namaku, Yang Yoseob!” dia memberikan kuncinya padaku.

“Ada baju olahraga di dalamnya, kau bisa memakainya!!” ujarnya lagi sambil tersenyum. Aku membuang mukaku.

“Aku tak butuh ini!!” kukembalikan kunci itu dengan kasar sehingga terpental ke lantai. Dia memungutnya.

“Kenapa tidak?”

“Tidak usah sok baik begini padaku!!” ujarku lagi.

“Begitu? Kenapa kau selalu beranggapan buruk pada semua orang? Aku hanya mengkhawatirkanmu! Lihat kau basah kuyup begini, nanti bisa masuk angin!!” ujarnya lgi.

“Apa pedulimu? Mau aku masuk angin atau mati sekalipun, itu bukan urusanmu!!” kecamku, dia menempelkan jari telunjuknya dibibirku.

“Tuh kan, kamu sudah kedinginan! Sampai bibirmu pucat begini. Sudah jangan keras kepala, ini pakai saja bajuku! Sebelum ada guru yang melihatmu seperti ini!!” ujarnya sambil memberikan kuncinya lagi.

“Kau ini keras kepala sekali! Kau mau mati hah??” bentakku seraya melempar kunci itu ke wajahnya. Kemudian pergi tak menghiraukannya. Apa-apaan laki-laki itu? Dasar aneh!!

“Anak-anak! Hari ini kita kedatangan murid baru! Namanya Park Ri Rin, berteman baiklah dengannya!!” sahut Mrs. Han seraya memperkenalkan murid pindahan itu. Seorang yeoja manis dengan rambut ikal panjang yang indah. Cantik. Itulah kesan pertama saat melihat yeoja itu.

“Annyeong, Park Ri Rin imnida. Bangapseumnida!” sapanya. Ternyata selain memiliki fisik yang bagus suaranya juga begitu halus. Benar-benar sebuah kesempurnaan.

“Kalau begitu kau duduk di sana Rin-ah!” tunjuk Mrs. Han pada sebuah meja di sebelah kiri di dekat jendela. Rin dengan santainya melangkahkan kakinya menuju mejanya.

“Baik kita mulai pelajaran hari ini…” Rin membuka buku pelajarannya. Dia memandang sekeliling, mereka tampak serius belajar. Maklum saja, sekolah ini termasuk sekolah yang elit. Eh tunggu, siapa itu? Ada seorang gadis yang duduk di deretan meja belakang bukannya belajar, dia malah tertidur. Rin menyipitkan matanya, siapa gadis itu? Bajunya basah? Kenapa? Apa dia kehujanan? Tapi cuaca diluar lumayan terik. Lantas kenapa?

“Rin-ah, jangan melihatnya! Kalau dia terbangun habislah kau!” bisik seorang namja di belakangnya. Rin mengerutkan alisnya, habis? Apa maksudnya dengan habis?

“Maksudnya?”

“Mood baru bangun tidurnya itu ga bagus. Bisa-bisa dia membunuh orang, lagi!” Rin bergidik, masa sih? Membunuh orang? Bukankah itu berlebihan? Rin melirik sekali lagi gadis yang telah merubah posisinya itu. Tampak sesuatu yang menarik matanya. Kalung yang dikenakan gadis itu terasa familiar.

“Baik pelajaran hari ini cukup sekian. Ada yang ingin ditanyakan?” Rin kembali terfokus pada pelajaran. Mengabaikan gadis itu.

“Yaa! Kau dari mana saja! Sudah malam begini baru pulang!!” seru Jiyong pada Ri Chan yang meletakkan tasnya di sembarang tempat. Dia langsung merebahkan dirinya di sofa.

“Aku bicara padamu gendut!” ujar Jiyong seraya melempar majalah yang di bacanya ke wajah Ri Chan. Namun Ri Chan hanya menatapnya tak berdaya.

“Kau tidak bisa bicara sekarang?”

“Ah ya, ngomong-ngomong. Apa di kelasmu ada anak baru? Namanya Rin! Dia ikut klub music loh!” ujar Jiyong lagi. Namun lagi-lagi Ri Chan mengacuhkannya, dan mencoba tidur.

“Yaa? Kau tau tidak? Ga sekelas ya?” tanya Jiyong lagi.

“Yaa!! Jangan tidur disini!” Jiyong mencoba membangunkan Ri Chan dengan mengguncang tubuhnya. Kalung yang dikenakannya terlepas dan terpental ke bawah sofa.

“Omo! Badanmu panas sekali! Yaah Ri Chan-ah? Gwaenchanayo? Irona!! Irona!! Yaa!” Jiyong menepuk pipi Ri Chan. Tak ada respon.

“Aish! Jinjja!!” Jiyong lantas menggendong tubuh Ri Chan ke kamar. Garis kekhawatiran tampak di raut wajahnya. Bukan karena ia takut Ri Chan sakit karena kesalahannya. Ia lebih takut kalau satu-satunya keluarga yang ia miliki harus pergi dari hadapannya. Air mata Jiyong menggenang di pelupuk matanya. Ia membaringkan Ri Chan di tempat tidurnya dan mengkompres gadis itu.

“Ternyata anak bodoh ini bisa sakit juga!!” gumam Jiyong menghibur dirinya.

Dimana ini? Aku dimana? Apa yang terjadi padaku?

Kulihat anak-anak bermain dengan riangnya. Ada yang bermain kejar-kejaran, adapula yang bermain pasir seorang diri. Dimana ini? Kenapa begitu banyak anak-anak? Apa ini taman kanak-kanak? Aku memandang sekeliling, bukan. Ini bukan sebuah taman kanak-kanak. Ini adalah sebuah panti asuhan!!

Mataku tertuju pada seorang gadis kecil yang meringkuk memeluk lutunya. Ia menangis. Mungkin karena gangguan anak-anak di sekitarnya. Aku ingin membantunya. Tapi suaraku bahkan tak terdengar. Aku memanggilnya berulang kali, tapi mereka bersikap seolah tidak melihatku.

Seorang namja kecil mendekatinya. Kemudian mengelus kepala yeoja yang menangis itu. Aku mendekati kumpulan anak-anak itu.

“Jangan menangis Ri Chan-ah! Aku akan selalu bersamamu! Kau tau kau lebih manis jika tersenyum!!” ujar namja kecil itu, seolah sedang merayu anak kecil bernama Ri Chan itu. Tunggu dulu!! Nama anak kecil itu Ri Chan? Kenapa namanya sama denganku? Kuperhatikan namja kecil yang kini memeluk yeoja itu.

“Gomawo, Jiyong oppa!!” isak gadis kecil itu. Jiyong oppa? Itu kan…napasku tercekat, kenapa ini? Ruangan serasa berputar-putar. Bisa kurasakan tubuhku yang gemetaran. Ada apa ini? Sesuatu menarki-narik ingatanku…

Aku memberanikan diri menatap wajah gadis kecil itu. Mataku tertuju akan kalung yang dikenakannya. Park Ri Chan. Ini kan? Napasku kembali memburu. Tidak!! Ingatanku! Tidak!! Jangan ingatkan aku. Kumohon. Aku tak mau mengingatnya lagi!! Aku menyentuh kepalaku, memegang dengan kedua tanganku. Argh! Aaahhhhhhhhh!!!!!

“Argh! Aaahhhhhhhhh!!!!!”

“Yaa! Yaa! Irona! Ri Chan-ah? Gwaenchana?” Jiyong mencoba membangunkan Ri Chan yang tiba-tiba menjerit dalam tidurnya.

“Hah haah…” Ri Chan terengah. Ia bangun dan mengerjapkan matanya berulang kali, mengusir semua kepingan ingatan yang membelenggunya dalam mimpi barusan.

“Yaa! Gwaenchanayo? Ri Chan-ah waeyo?” Jiyong masih menepuk-nepuk pipi Ri Chan yang setengah sadar itu. Air mata Ri Chan mengalir deras. Membuat wajah Jiyong semakin memucat. Ada apa ini? Kenapa Ri Chan menangis?

“Huwaah!!” Ri Chan mencoba menghapus air matanya. Bahunya gemetar. Jiyong tau ia kini terisak. Mungkin karena mimpi buruknya. Yah, orang sakit memang suka bermimpi buruk.

“Yaah! gwaenchanayo?” tanya Jiyong lagi seraya memeluk tubuh mungil disisinya. Ri Chan meraba lehernya. Ada yang hilang disana. Kalung. Iya dimana kalungnya?

“Kalungku mana?” tanya Ri Chan panic.

“Kalung? Kalung apa? Kau ini kenapa?”

“Kalungku!! Kalungku mana!!!” Ri Chan bangkit dan mencari kalungnya kemana-mana. Namun tak ditemukannya dimanapun. Air matanya menetes lagi.

“Yaah!” Jiyong menarik lengan Ri Chan.

“Sudah malam, tidurlah biar nanti aku yang mencarinya.” Ujar Jiyong lagi. Ri Chan tertunduk kemudian kembali ke kamarnya. Aneh sekali? Kenapa dia jadi penurut begini? Orang sakit memang bisa berubah begini ya?

 

TBC~

 

hmmm, gimana?? kritik nd sarannya yaa…cz author juga masih baru di dunia per-FF an, hehehe

gomawo ^^

Posted 10 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , ,

7 responses to “[FF] Kiss The Rain *Part 1*

Subscribe to comments with RSS.

  1. onnie cerita y seru koq
    cerita anak kembar
    hehehe
    onnie, aku da saran knp onnie gk gabung ma sm town fanfiction ja?

  2. Reader baru. .keren ffnya. .
    Untg bukan Putri yang di tukar,hahaha

  3. Wahh seru nih critanya !! Saya demen kalo udah twins bgini *inget ucun (?)

    O ya, itu ri rin sama ri chan ga saling kenal ?

    Eehh iya, new reader juga ni !! Hehe..

  4. , new readers dii sini !!!
    , crta.aa bgus , menarik , daebak dch pkoe.aa ….

  5. Lumayan bagus, Gak ada lanjutannya lagi min? ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: