[FF] One Shoot – Last Farewell   3 comments


annyeong ^^

hmm, lama gak update FF nih, sepi ya?

nih FF baru, udah pernah di post di fb.a author sih!! tapi cast.a di ganti plus di edit2 dikit biar dramatis gtu [ceileh bahasaku]

selamat membaca aja ya, kalau udah jangan lupa tinggalkan jejak!! gomawooooooooo ^^

.


LAST FAREWELL

Author: d_na

Length: one shoot

Genre: romance

Cast:

Jung Hyorin as you

Choi Minho

Park Ri Rin

Jung Jinyoung

================>>>>

Aku terkejut saat Minho oppa menyatakan perasaannya padaku kemarin sore. Tak bisa kupungkiri selama ini aku memang menyukainya. Sangat. Selama 3 tahun kupendam perasaanku pada seniorku itu. Tapi sikapnya yang selalu acuh dan cuek itu membuatku harus mengubur perasaanku dalam-dalam.

“Aku harus gimana dong Rin?” tanyaku pada Ri Rin, sahabat sekaligus teman sekelasku.

“Kok kamu malah nanya aku sih? Itukan keputusanmu! Harus kamu sendiri yang memutuskan! Lagian bukannya kamu memang suka dengannya?” tanya Ri Rin. Aku menggigit bibirku, dia memang benar.

“Tapi ini beda Rin! Aku tuh ga ada perasaan apa-apa lagi padanya! Kamu ga ngerti sih!” bentakku sambil berlari meninggalkannya.

Sekarang aku benar-benar bingung. Kenapa Minho oppa yang cuek itu, tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku? Bukankah itu aneh? Maksudku, kami tidak dekat sama sekali. Oke kami memang satu ekskul, ekskul Matematika dan dia adalah ketuanya. Apa Minho oppa ingin mengerjaiku? Apa karena dia tau perasaanku sehingga ia mau mempermainkan aku? Memang berprasangka buruk itu ga boleh, tapi…aku dan dia bahkan sangat jarang bertegur sapa. Mungkin bisa di hitung dengan jari, itupun hanya obrolan yang sangat singkat dan ga penting.

So apa sekarang? Aku harus menjawab apa? Apa aku harus menerimanya? Atau? Aku harus membuat keputusan yang tepat! Jangan sampai aku salah langkah karenanya.

***

[Now Playing: f(x) – Spread Its Wings]

Flashback

Ah aku pasti terlambat deh!!

Aku mempercepat langkahku menyusuri lorong-lorong kelas yang sudah sepi itu.

“Huaah!!” seruku saat aku nyaris bertabrakan dengan seseorang, untungnya aku sempat mengerem kakiku. Aku meminta maaf pada orang itu dan langsung berlalu.

Aish kenapa kelasku begitu jauh? Nyaris saja tadi aku bertabrakan dengan kakak kelas…

Ketika aku hampir sampai di depan kelasku, tiba-tiba saja ada seorang cowo yang menabrakku.

“Mianhae…” ujarnya singkat. Aku mengangguk seraya merapikan rok abu-abuku. Aku takut kalau rokku dalam posisi terbuka. Cowo itu membantuku mengambil tasku yang terjatuh plus buku-bukuku yang berserakan.

“Ini…” ujarnya, aku menunduk seraya membersihkan rokku dari debu-debu yang menempel. Saat aku ingin berterima kasih, aku hanya bisa terdiam, terpana lebih tepatnya. Wajahnya, alis matanya, hidungnya, bibirnya…oh oh oh! Dia benar-benar tampan! Pandangan kami berbenturan! Deg! Deg! Ada yang aneh pada diriku saat mata kami bertemu pandang. Rasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Entah apa gerangan yang tengah menimpaku.

Aku menepuk-nepuk dadaku pelan dan tersenyum geli pada diriku sendiri yang tiba-tiba salah tingkah di depan seorang namja yang baru kutemui. Kenapa jantungku berdebar-debar begini? Oke, jantungku berdebar menandakan aku masih hidup, tapi kenapa begitu cepat sehingga membuatku sesak? Aneh, dalam sekejap saja dia sudah membuat perubahan aneh pada jantungku. Apakah ini bisa dijelaskan secara ilmiah?

Apa ini yang namanya suka? Apa tanpa sadar aku sudah menyukainya?

Deg! Jantungku berdegup semakin kencang saat kata-kata ‘suka’ terbesit dalam pikiranku.

It’s impossible! Am I crazy? Babo!! Naneun baboya! Sadar dong!! Please!! Jatuh cinta pada pandangan pertama? Mana ada yang seperti itu…

***

Tidak biasanya aku menolak ajakan Ri Rin untuk pergi ke toko buku. Biasanya aku yang paling rajin ngajak dia. Aku harus ikut klub sepulang sekolah ini, klub Matematika. Dan sepertinya aku terlambat lagi.

Ah ini semua gara-gara Mr. Park terlalu sadis ngasih tugas. Masa tugas segitu banyak mesti dikumpul paling lambat besok pagi? Udah gila apa?

Aku menggigit bibirku dan kulangkahkan kakiku ragu menuju ruang klub Matematika.

“Annyeong?” sapaku kaku. Semua mata memandangku aneh, apa penampilanku segitu anehnya? Atau? Mataku memandang berkeliling, mencoba menghafal wajah mereka satu-persatu. Pandanganku terpaku pada sosok laki-laki yang sedang membaca buku dengan cuek, seakan tak terganggu dengan kehadiranku.

“Ah kau yang anak baru itu kan?” seru seorang guru. Aku tidak mengenalnya, maklumlah karena aku anak baru disini jadi wajar saja aku tak begitu mengenal seluruh warga sekolah.

“Ah ne, johsuhamnida! Saya datang terlambat, jeongmal johsuhamnida!” ujarku sambil membungkuk hormat.

“Ne, masuklah…” aku mengangguk seraya masuk pelan. Pandanganku tak lepas dari laki-laki yang membaca buku itu. Bukankah dia?

Hyorin, ada apa denganmu? Kau yakin itu dia? Kau yakin dia orang yang menabrakmu tadi pagi?

Aku menunduk, ah lagi-lagi debar itu muncul. Aku menyentuh dadaku, kenapa aku ini? Masa karena aku bertemu laki-laki yang bahkan aku tak mengenalnya itu perasaanku jadi seperti ini?

“Baik, karena hari ini adalah hari pertamamu. Kau boleh bertanya pada saiapapun, oh ya itu Minho. Dia ketua klub ini. kau bisa tanya padanya…” ujar guru itu sambil menunjuk laki-laki itu.

Namanya Minho? Namanya bagus sekali, seperti orangnya…

“Annyeong, Minho imnida…”

Suaranya rendah, dan serak khas cowo. Ternyata dia seorang ketua…di klub yang sama denganku, apa ini termasuk sebuah keberuntungan yang diberikan Tuhan padaku?

***

“Hyorin-ah, kamu lagi ngapain sih? Ayo kita ke kelas!!” Ri Rin menarik-narik seragamku.

“Yaa! Jangan di tarik-tarik nanti melar!!” kesalku, masih sibuk dengan yang kulakukan.

“Kamu ngapain sih? Cium-cium bunga, kayak ga ada kerjaan lain aja!!”

“Aku suka mawar putih, cantik dan sangat jarang ada…”

“Terus?”

“Dia seperti seseorang yang kusuka…sangat indah, langka namun sangat susah di dekati…” ujarku sambil terkekeh, Ri Rin memutar bola matanya.

“Kau beranalogi lagi…memangnya segitu sukanya kah kau sama Minho sunbae itu?” aku terdiam , kemudian tersenyum. Ri Rin mengangguk mengerti maksudku.

“Kau tau? Bunga itu akan lebih indah jika seseorang yang kita sukai memberikannya…”

“Kau mengharap Jinyoung oppa akan memberikannya padamu?” tanyaku. Jinyoung oppa adalah kakak laki-lakiku yang tengah menjalin kisah asmara dengan sahabatku Ri Rin.

“Aish, masih dalam tahap pendekatan tau…!” malu Ri Rin seraya menutup wajahnya yang merona.

“Hahaha malu ya? Tapi oppaku itu payah, mana mungkin dia berlaku romantic seperti itu…”

“Seperti pungguk merindukan bulan! Hahaha!!” kami berdua tertawa-tawa.

“Oh boy!!” seru Ri Rin sambil menepuk bahuku, menghentikan tawaku. Aku meoleh ke arahnya, juga ke arah yang dilihatnya. Oh dear!! Itukan Minho oppa!! Sejak kapan dia ada disini? Jangan bilang kalau dia mendengar yang barusan?? Nooo!!

“Sunbaenim…” sapaku reflex. Dia hanya meliriku sekilas dan berlalu seolah-olah tak terjadi apa-apa, tapi memang ga terjadi apa-apa sih.

“Ih! Apa-apaan tuh? Sombong banget sih!! Heran deh, kenapa kamu suka sama yang begitu…”

“Dia emang gitu…” sahutku seraya menggendeng tangan Ri Rin menuju kelas.

***

Di setiap kehidupan manusia selalu ada titik terang dan gelapnya masing-masing.

Aku duduk termangu di kursi beranda, menatap kosong pada bunga-bunga mawar putih itu. Pikiranku melayang-layang tak tentu arah. Dia telah pergi, pergi jauh. Bahkan aku tak tetap tak bisa bertegur sapa dengannya. Bodoh rasanya terjebak dalam perasaan seperti ini, tapi inilah aku terperangkap dengan sihir yang dinamakan cinta. Hanya mendengarnya berbicara, aku sadar betapa kecilnya aku di mata Minho oppa. Aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Semula kupikir, perasaanku padanya hanya sementara dan akan berubah seiring berjalannya waktu. Namun semakin lama, perasaanku malah semakin mendalam padanya.

Aku mencoba bertahan, setidaknya sampai saat dia pergi nanti. Aku pasti bisa melupakannya, makanya aku membiarkan perasaan itu terus tumbuh mengakar di hatiku. Kenyataan memang tak selalu sesuai dengan harapan, dan itulah yang terjadi. Setelah dia pergi, aku malah semakin terlarut dalam sihir cinta. Cinta yang bertepuk sebelah tangan.

“Kau kenapa sih? Melamun saja dari tadi?” tanya Jinyoung oppa mengejutkanku.

“Oppa! Kau mengejutkanku…” sahutku pelan. Aku tersenyum simpul, saat dia membawakanku segelas ice cream kesukaanku.

“Kau tau, melihatmu seperti ini umma pasti takkan pernah mengampuniku!!” sahut oppa lagi.

“Mian…”

“Lupakan saja laki-laki itu, masih banyak yang lain. Kau tau, kau akan menyakiti perasaanmu sendiri. Terlebih akan membuat umma yang ada di surga sedih!”

“…”

“Berpikirlah rasional, Hyorin-ah!! Kau hanya menyukainya, sedang dia? Kamu memikirkannya, sedangkan dia? Dia ga pernah memandangmu!”

“Oppa, kenapa kau membahas hal ini? Aku tidak sedang memikirkan siapapun sekarang…” dustaku.

“Karena aku khawatir padamu, dongsaeng babo! Kau pikir aku siapa? Aku sudah mengenalmu seumur hidupmu!” Jinyoung oppa mengelus kepalaku. Hal yang sangat kusukai dari Jinyoung oppa ialah, dia mampu membaca perasaanku dan menenangkannya. Sekejap, setelah sentuhan tangannya di kepalaku, aku merasa lebih rileks. Setelah kepergian umma, hanya oppa yang selalu disisiku.

“Berjanji pada oppa! Kau harus terus tersenyum dan ceria seperti biasanya. Kau tau, aku sangat sedih melihatmu begini!” ujar oppa lagi, aku terdiam. Siapkah aku? Inikah waktunya? Hatiku lelah menanggung perasaan ini sendirian. Tapi sekali lagi, aku tak bisa memungkiri kalau dialah orang yang membuatku merasakan ini untuk pertama kalinya.

“Ne…aku janji oppa!” aku mengaitkan kelingkingku pada kelingkingnya. Sudah saatnya aku menyerah akan perasaanku. Sudah waktunya aku mengakhiri perasaan yang bertepuk sebelah tangan ini. Aku tak ingin membuat oppa khawatir padaku. Selamat tinggal perasaanku pada Minho oppa. Air mataku menetes pelan, semoga aku bisa melupakannya.

“That’s my girl!!” oppa memelukku. Aku terisak dalam diam.

Everything will be alright…I hope so. Day by day it will fade away for sure. These tears will dry up too. Just let it flow as the time goes by…

End of flashback                         

Sore itu, di sebuah kafe aku sedang menunggu Minho oppa sembari memikirkan jawaban yang pantas kuberikan. Tak lama berselang Minho oppa datang dan membawa seikat mawar putih, bunga langka yang sangat kusukai. Dan yang mengejutkan adalah, kenapa dia bisa tau aku menyukai bunga itu?

“Sudah menunggu lama?” tanya Minho oppa sambil menarik kursi. Ia memberiku bunga-bunga cantik itu seraya tersenyum manis. Senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rasanya wajahku mulai merona dan debar jantungku mulai tak karuan. Aku menyembunyikan wajah merahku diantara bunga-bunga yang tengah kuhirup wanginya itu.

“Kau begitu menyukainya ya?” tanya Minho oppa, aku mengangguk. Tak taukah kau oppa? Bagiku kau seperti bunga mawar ini, sangat indah namun begitu sulit di taklukan (?).

“Hmm, lalu sudah menentukan jawaban? Apapun akan kuterima meski itu sepahit wasabi!” canda Minho oppa. Aku jadi semakin ragu. Apa yang harus kukatakan?

“Hyorin-ah kau ga apa-apa, kan?” tanya Minho oppa saat aku diam membisu. Aku menggeleng, masih menatapnya ragu.

“Please, aku sudah ga punya banyak waktu lagi…” ujarnya akhirnya. Aku menunduk.

“Apa tidak terlalu cepat jawabnya oppa? Ada baiknya kita pesan minum dulu…” jawabku mengulur waktu. Kudengar dia menghela napas kasar. Tapi akhirnya ia mengangguk juga.

Kami masih terdiam, sembari menikmati pesanan kami. Aku tak tau harus membicarakan apa padanya. Sungguh, situasi yang benar-benar aneh. Setengah jam berlalu, minumanku tinggal seperempat. Kutatap wajah Minho oppa yang tampak sangat menunggu itu. Inikah saatnya?

“Sebelumnya aku minta maaf, atas jawabanku nanti…” aku memulai, debar jantungku kembali memburu hingga membuatku sesak napas.

“Oppa, kau serius menyukaiku?” tanyaku lagi. Aku menatap matanya yang menatapku serius, seolah memintaku menyelami isi hatinya.

“Tentu aku serius, aku memang menyukaimu Hyorin dari dulu!” jawabnya serius. Aku memejamkan mataku, aku ingin sekali mendengar ini dari dulu.

“Tapi…kenapa oppa bersikap dingin padaku selama ini? Maksudku, oppa selalu mengacuhkanku! Bagaimana mungkin…” aku terisak. Kenapa aku menangis? Aku juga tidak tau, air mata ini jatuh begitu saja tanpa di komando. Minho oppa masih terdiam, ia terlihat ragu. Meski ada penyesalan, tapi ia terlihat begitu menderita.

“Oppa! Taukah kau? Aku sangat menyukaimu! Selama 3 tahun ini aku terus menyukaimu. Aku bahkan tidak tau kenapa aku harus mempunyai perasaan ini padamu! Kau sangat cuek dan tidak pernah memperdulikanku!” aku menyentuh dadaku yang terasa perih ini, setidaknya sudah kuutarakan perasaanku selama betahun-tahun ini yang kupendam.

“Maaf aku…” aku mengangkat tangan memberi isyarat bahwa aku belum selesai bicara.

“Oppa, tak sadarkan? Sikapmu itulah yang perlahan membunuh rasa sukaku padamu…” Minho oppa tersandar lemas. Dia terlihat ragu.

“…”

“Oppa, kau tidak tau sakitnya aku memendam perasaanku…”

“Jadi kau menolakku?” tanyanya. Aku menatapnya sekilas lalu mengangguk.

“Maaf…” ujarku kemudian beranjak meninggalkannya.

Di rumah, aku terus menangis. Aku bingung untuk apa aku menangis, apa karena aku menyesal telah menolaknya? Atau? Aku bersandar dinding kamarku, berusaha berpikir jernih. Aku sudah memikirkannya sebelumnya, ini adalah keputusanku. Aku tidak boleh menyesalinya. Aku menghapus air mataku saat kudengar pintu kamarku diketuk.

“Boleh masuk?” tanya Jinyoung oppa.

“Kenapa matamu bengkak begitu?” tanya Jinyoung oppa. Aku menggeleng lemah.

“Aku hanya kurang tidur oppa!”

“Ada ramyoun di meja makan, kau mau makan sekarang?” tanya Jinyoung oppa lagi, sambil mengelus kepalaku.

“Aniya, aku tidak lapar!” tolakku. Jinyoung oppa mengerucutkan bibirnya dan mencubit pipiku.

“Kau ini! kalau tidak makan nanti pipi gendutmu itu bisa kempes!” ejeknya, aku memukul lengannya pelan.

“Padahal pipimu sendiri juga gendut oppa! Jangan mengejekku! Dasar oppa gendut!”

“Ne, ne ampun. Yasudah kalau tidak lapar juga tidak apa-apa! Yang jelas nanti kamu harus makan ya!” oppa mengacak-acak rambutku dan pergi dari kamar.

***

Hampir semalaman aku terjaga, karena perasaan menyesalku yang semakin menjadi-jadi. Untunglah hari ini hari minggu, jadi aku bisa tidur lebih lama. Namun gedoran pintu dari Jinyoung oppa sukses membuatku tak bisa merem lagi.

“Ada telepon dari Ri Rin, penting katanya!” Jinyoung oppa menyerahkan Hpnya. Ah paling dia Cuma ingin tau jawabanku pada Minho oppa. Aku memang belum ada cerita apa-apa padanya.

“Kenapa dia meneleponku? Bukannya yang pacarnya itu kau oppa?” oppa hanya mengangkat bahu.

“Katanya dia menelponmu tapi Hpmu ga aktif terus!” aku terdiam, benar juga. Baterainya lemah, mungkin sekarang sudah mati. Aku menerima Hp itu.

“Hyorin ini aku! Ri Rin!”

“Iya aku tau! Aku lihat caller id mu di Hp oppa! Kenapa sih? Ganggu orang aja pagi-pagi!” kesalku.

“Bukannya kenapa! Minho oppa masuk rumah sakit! Ayo kita ke rumah sakit sekarang!!” seru Ri Rin. Deg! Untuk sesaat aku serasa berhenti bernapas.

What? Masuk rumah sakit? Kau bercanda kan?

“Kamu bercanda apa sih? Ga lucu tau! Kemarin dia baik-baik aja!” sangkalku.

“Ga Hyorin-ah!! Semalam dia masuk rumah sakit! Sekarang aku ke tempatmu! Kita ke rumah sakit!” tutup Ri Rin.

“Tunggu…ah sial…” Ri Rin keburu menutup teleponnya. Padahal masih ada yang ingin kutanyakan. Aku berpikir sesaat, apa benar Minho oppa masuk rumah sakit? Bukannya kemarin dia baik-baik saja? Apa jangan-jangan dia mencoba bunuh diri karena kutolak? Hih! Aku bergidik ngeri membayangkannya. Jadi apa? Apa jangan-jangan dia ingin mengerjaiku? Membuatku khawatir setengah mati atau bahkan menangis kemudian dia tertawa di belakangku. Dia dendam padaku karena aku menolak perasaannya? Aku mengepalkan tanganku, berani sekali dia mempermainkan aku. Dia pikir dia siapa? Sudah membuatku seperti ini. bukannya aku sudah menolaknya dengan tegas kemarin, mau apa lagi dia? Mau memaksaku?

Sampai dirumah sakit, kemarahanku semakin menjadi-jadi. Aku merasa seperti tikus yang terperangkap. Tertawalah Minho oppa, tertawalah! Karena semua rencanamu berhasil. Kau membuatku masuk dalam jebakan seperti ini. Tak taukah kau betapa pedihnya perasaanku yang kau permainkan sekarang?

[Now playing Big Bang – Haru Haru]

Kemarahanku tiba-tiba sirna berganti air mata yang menetes di pipiku saat kulihat kedua mata itu menutup untuk selamanya. Napasku sesak, kepalaku pusing, ruangan serasa berputar dan tangisku meledak saat itu juga. Keluarga Minho oppa juga terisak.

“Ga ini ga mungkin…” aku berusaha menyangkal kenyataan yang ada didepanku. Ri Rin memegangiku agar aku tak terjatuh.

“GA!!!” aku terisak di lantai. Sekarang aku benar-benar menyesal telah menolaknya, menyesal telah mengira dia mempermainkanku. Aku menyesali semuanya!!!

“Hyorin-ah…” Ri Rin merangkulku. Seorang wanita, mungkin dia adalah ibunya Minho oppa datang menghampiriku.

“Kalian temannya Minho?” tanya ibu itu, kami mengangguk.

“Kalau gitu bisa titip kasihkan surat ini ke Hyorin ga? Ini adalah surat yang ditulis Minho disaat terakhir hidupnya…hiks…” isak ibunya Minho oppa sambil memberikan surat itu pada Ri Rin.

“Nan Hyorin imnida, ahjumma…” ujarku kemudian. Ibunya memandangiku, kemudian memelukku.

***

‘Hyorin, maafkan aku. Aku tau aku salah, aku tak pantas untukmu. Aku pantas kau benci. Tapi asal kau tau, aku memang menyukaimu sejak lama. Aku tak berani mengatakannya padamu, dan malah mengacuhkanmu itu semua agar kau tak tau tentang penyakitku.

Sejak kecil aku sudah divonis menderita penyakit ini, aku tau umurku sudah tak lama lagi. Makanya aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padamu…

Hyorin-ah, please. Sekali lagi kumohon maafkan aku! Tolong jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, semua salahku. Maafkan sikapku selama ini. Aku benar-benar menyukaimu.

Aku ada satu permintaan, dan kuharap kau sudi melakukannya demi aku. Aku ingin kau mengunjungi pemakamanku, dan menaburkan buhng mawar yang waktu itu di kuburanku.

Aku berharap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti, di alam yang lain. Dan ku harap kau mau menerimaku.

I love you, always will, always have.

Choi Minho’

Tangisku tak jua berhenti sampai hari dimana ia dikebumikan. Aku tau hal ini akan menyakitinya, tapi entah mengapa rasanya tangis ini ga bisa berhenti sekalipun aku berusaha sekeras mungkin. Aku menyesal, yah itulah yang kurasakan. Menyesal memang selalu belakangan. Ah andai saja…

*End*

Ottokhe?? Kritik dan sarannya ditunggu. Jeongmal gamsahamnida ^^

Posted 9 Juni 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , ,

3 responses to “[FF] One Shoot – Last Farewell

Subscribe to comments with RSS.

  1. onnie akhir y blik jg
    kmn ja?
    ff y keren koq onnie, mengharukan
    hehehe

  2. gomawo, onnie lagi sibuk tugas akhir nih…tapi sekarang tinggal revisi doank *curcol* heheh, doain moga cepet selesai yaaa…gomawo dah jadi reader blog ini ^^

  3. sukses bikin aku nangis thor! Author daebak! Author choigo! Author jjang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: