[FF] One Love *OneShoot*   2 comments


Annyeong haseo,,,

perkenalkan aq author baru disini, yng khusus ngasih info all about big bang

Since I’m new, jadi mohon kritik dan sarannya dari kalian

gomawo

.

 [ini adalah cerita fiktif saudara-saudara, kesamaan nama, sifat, dan tempat hanyalah kebetulan semata]

One Love

Genre: Romance, comedy

Cast:

Dwinta

Noni

Lee Taemin

Kwon Jiyong

==========check it out=========

“Shut up!!” Noni berseru padaku, lebih tepatnya ditelingaku. Aku menutup telingaku.

“You shut up!!!” balasku lebih nyaring ditelinganya. Dia tampak mengusap telinganya.

“You’re kidding me, right? Korea? It’s so ‘wow’!!” kami berdua keluar dari gerbang sekolah. Hari ini adalah hari terakhir sekolah, sebelum kami libur musim panas!! [anggaplah ada]

“Aku ga bercanda! Look, dad menyuruhku kesana well liburan ini…” sahutku sambil mengangkat bahu. Noni lantas bersorak kesenangan dan mencubit pipiku.

“Whoa…! That sounds great!! Kau bisa menceritakan semua pengalamanmu disana, dengan detail kepada si Dinda dan Chabi! Atau kepada adik-adik kelas kita Anggi dan Monica!”

“Yea….” aku setuju, biasanya setiap liburan dad lah yang mengunjungiku, tapi karena kesibukannya, Dad malah menyuruhku kesana.

“Kau tau apa bagian menariknya?” tanya Noni, aku menghentikan langkahku. Bingung.

“Kau bisa menemukan cowo-cowo Korea yang oh boy…putih-putih, sipit-sipit, and…”

“And??” tanyaku.

“Yeah you know what I mean! Kamu bisa melupakan mantan ter’cinta’mu itu. Donghae!!” jawab Noni. Aku terdiam, melupakan Donghae? [anggap juga ada]

“Ah come on, Dwinta!! Jangan bilang kamu masih ada perasaan padanya?” tanya Noni.

“Tentu saja ga!! Snap out of him… ” dustaku. Mana mungkin aku bisa melupakan laki-laki itu dalam sekejap? Aku kan bukan tukang sihir!! Well, aku ga mesti jadi tukang sihir sih untuk melupakan seseorang.

“Kmu adalah the luckiest girl in the world, Dwinta!!” seru Noni, masih tetap heboh. Sementara aku terus bergulat dengan pikiranku sendiri.

“Well, ga juga! Masih ada yang lebih beruntung dibanding aku…!” jawabku.

“Who? I mean, hey Korea gitu loh!! Ga banyak orang seperti kita datang kesana…”

“Kamu! Karena sahabatku akan menemaniku selama liburan musim panas ini!! Di Korea!!” sahutku.

“Me? You shut up!! Korea? Oh My God!!! Ah thank you!!!!” sorak Noni sambil memelukku.

“Of course it’s you silly girl!!” aku juga memeluknya senang. Persahabatan kami memang tak ada duanya di dunia ini. kami bersahabat selama kurang lebih 6 tahun lamanya. Aku bukanlah seorang orang yang sangat beruntung dalam hidup. Mom meninggalkanku sejak aku masih kecil, hal itu membuatku sedih dan keadaan itu diperparah karena Dad yang sering uring-uringan sejak kepergian mom. Makanya aku dititipkan pada bibi Indah (adiknya Mom). Ekonomi keluarga bibi Indah tidak begitu bagus. Sepupuku, Arita [sejak kapan Arita jadi sepupuku?] mengidap penyakit turunan dari ayahnya [maafkan aku Rit v.v]. Makanya, untuk biaya pengobatan Arita saja sudah sangat susah, apalagi jika harus menanggung bebanku? Karena itulah aku memutuskan untuk hidup sendiri. Mengetahui itu, bibi menangis memohon agar aku kembali. Tapi aku tetap pada pendirianku, bagaimana bisa aku merepotkan bibi Indah? Setelah mendengar itu, Dad sadar dan sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Dad mencoba menebus kesalahannya, dengan bekerja keras siang dan malam. Dad berulangkali minta maaf padaku dan berjanji akan menjadi Dad yang baik.

“Kita ke Korea, kita ke Korea!!” Noni bersenandung.

“Ingat, ini bukan liburan! Kita akan membantu Dad bekerja di restorannya!” ujarku lagi. Dad adalah seorang pemilik restoran di Korea.

“Ok ok, setelah itu kita bisa hunting guy…” Noni menyikutku. Aku hanya tersenyum simpul.

“Ya udah, I’ll leave first!” pamitku.

êêê

Aku berbaring dikamarku. Ah aku akan ke Korea! Bukannya ga senang sih, aku hanya kepikiran kata-kata Noni tadi. Melupakan Donghae? Sanggupkah? Aku mengenalnya selama 3 tahun ini, menjalani hubungan special dengannya 11 bulan yang lalu, dan semuanya berakhir 2 minggu yang lalu. Tidak mungkin dalam waktu segitu lama, aku sanggup melupakannya dalam waktu sebulan di Korea, kan? Tapi kalau tidak dicoba ya mana tau! Aku beranjak mengambil foto Donghae yang ada di frame bersamaku. Dia sangat benci difoto, makanya mendapatkan fotonya adalah anugrah (?) tersendiri dalam hidupku. Aku tak pernah berpikiran untuk membuang fotonya.

“Kau makhluk tertampan yang pernah ada dalam hidupku!! Tapi kenapa…kau…mengkhianatiku, Donghae?” aku menyeka air mataku, Noni benar air mataku terlalu berharga untuk cowo yang telah ‘membuang’ku seperti ini.

“Dia sudah punya pacar lain, Dwinta! Ingat!” Noni berulang kali mengatakan hal itu.

“Dan pacarnya adalah sepupumu sendiri! Arita!!” tegas Noni, ya aku tau! Dan itulah yang membuatku sakit. Kenapa harus Arita?

Aku mengambil korek api dan langsung membakar foto itu. Air mataku masih menetes jua. Apa pada akhirnya aku bisa melupakannya?

***

[Wed, 15 June: hari keberangkatan]

“Wow!!” seru Noni untuk kesekian kalinya saat kami sampai di bandara Korea.

“Noni bisakah kau hentikan kata ‘wow’ mu itu? I’m so sick every time you say it…!” sahutku.

“Hey, ada 1 hal yang kulupa! Kita kan ga bisa bahasa Korea!!” sahut Noni lagi, heboh.

“Bagaimana kita bisa berbicara dengan cowo-cowo itu…?” tanya Noni, aku memutar bola mataku.

“Kita kesini bukan untuk berbicara dengan mereka Noni, tapi membantu Dad bekerja di restorannya!”

“I know! Maksudku, gimana caranya kita mengorder pesanan, kalau kita ga bisa bahasa Korea?”

“Mungkin tugas kita bukan untuk mengorder, bersih-bersih misalnya?”

“What?”

“Misal…” ujarku lagi, aku lantas menarik tangan Noni sebelum ilmu cerewetnya keluar. Kami lantas menyetop taksi dan memberikan alamat restoran ayahku. Setidaknya, supirnya ngerti bahasa Inggris. Selama perjalanan aku dan Noni sibuk bercerita dan merencanakan apa yang akan kami lakukan selama sebulan ini. akhirnya kami sampai di restoran milik ayahku.

“Ah Noni aku lupa bilang padamu…”

“Meski Dad adalah orang yang sangat lembut padaku, tapi dia sedikit ‘fokus’ dengan yang namanya kerja!!”

“Ah, semua Dad juga begitu…”

“Dwinta Nur Aulia!! My baby girl!!” Dad langsung memelukku.

“Daddy…” balasku lama ga berjumpa dengannya, Dad terlihat lebih kurus sekarang.

“Ah, Noni!! How’s ya?” sapa Dad pada Noni.

“It’s pleasure to meet you again in such a long time, Mr. Potter!”

“Masuklah, biar kuperkenalkan restoran ini sebentar!!” ajak Dad ramah.

“Berhubung, kalian adalah orang baru dan tidak bisa bahasa Korea, tugas kalian adalah mengorder pesanan orang bule!” kami berdua tersenyum, cuman itu? Well, ga berat juga sih! Kan jarang orang bule yang datang kesini.

“Sekarang kalian ganti pakaian dan langsung bekerja!!” perintah Dad, membuat Noni kaget. What? Kemana Mr. Potter yang ramah barusan?

“Dad!! Kita baru saja datang, tidak bisakah kami istirahat sebentar? Melihat-lihat kota misalnya?” protesku.

“Let me think…NO!! Cepat ganti baju!!” perintah Dad lagi, aku menghela napas putus asa dan langsung mengambil pakaian seragam.

“Sorry, Non. I told ya…” sesalku sambil melihat seragam pekerjanya, iwh?

“Fokus? Itu bukan kata yang tepat to describe Mr. Potter yang membuatku takut? Dan hampir jantungan!! Dimana Mr. Potter yang ramah itu? Oh…!”

“Hanya saat bekerja Noni…” ralatku sambil memakai seragamnya. Noni juga mencobanya dengan dumelan khasnya.

“It’s still Korea, remember? Kita tetap bisa bersenang-senang setelah restoran tutup!!” hiburku. Noni kemudian tersenyum simpul. Kami berdua keluar, Dad seperti biasa – memberitahu kami apa yang harus di lakukan. Kami hanya bisa tersenyum simpul, mendengar setiap detail pekerjaan.

“Tenang saja, Dad pasti akan memberi kalian gaji!!”

“Yeah! Itulah, yang kami tunggu, Mr. Potter!!” senang Noni. Kami kembali bersemangat dan bekerja. Menunjukan yang terbaik pada Dad.

Seharian kami bekerja, dan itu sangat melelahkan bagi amatir seperti kami. Akhirnya sudah waktunya restoran ini tutup!! Aku dan Noni langsung menuju kamar dan berbaring.

“Argh!! Pinggangku sakit!!” eluh Noni.

“Kupikir kita hanya mengorder!!”

“Tapi kenapa harus mengepel seperti itu? Lihat jari-jariku sampai keriting!!” Noni memandang jari-jari malangnya.

“Ade!!” panggil Dad, aku lantas bangun dan langsung keluar.

“Dad, bisakah kau berhenti memanggilku dengan panggilan konyol itu? aku bukan anak kecil lagi!” protesku.

“Mianhae jagiya…!” Dad terkekeh.

“Dan berhenti bicara bahasa itu, aku ga ngerti!!”

“Hehe, iya! My lil girl…! Sorry, kau kaget melihat dad yang seperti ini?”

“No, Dad…it’s ok! I appreciate your hard work!” jawabku, Dad mengelus kepalaku.

“Begini, ada seseorang yang ingin Dad kenalkan padamu. Kwon-ssi, dia adalah langganan ayah. Kau kan sudah dewasa, sudah seharusnya punya pacar!”

“Whoa, whoa!! Slowdown big guy! You didn’t mean to arrange a marriage meeting, did you Dad? Oh come on, this can’t be happening, right?”

“Kau lihat saja lah, orangnya lumayan kok!”

“Berapa umurnya?”

“23! Come on baby girl, kamu kan 18 tahun! Beda 5 tahun itu ga masalah di sini!”

“23? Oh boy! It’s too old, daddy!”

“Kau pasti menyesal jika tidak menemuinya!”

“Good night dad!” aku langsung pergi. Apa-apaan Dad? Mau menjodohkanku segala! Umurnya 23 lagi? Iwh!!

“Ade?” panggil Dad lagi.

“I said good night, big guy!!”

êêê

“Noni! Noni!” seruku.

“What?” tanya Noni yang sedang asyik (?) mengepel.

“Look, kau tau nama korea? Ternyata nama koreaku adalah Park Ri Chan? Bagus kan? Hahaha!!” Noni memutar bola matanya dan meneruskan pekerjaannya.

“Ladies, no talking!!!” seru Dad. Oh boy!! Makin hari Dad semakin keterlauan saja! Kami kan bukan karyawan biasa, maksudku hello aku kan anaknya! Anak yang sudah setahun ini tidak dilihatnya. Sejak aku sampai di Negara ini, belum pernah sekalipun aku jalan-jalan sekedar menikmati keindahan Negara ini. argh! Liburan musim panas terburuk sepenjang sejarah maybe?

“Annyeong…” sapa seorang laki-laki, dia mengenakan jaket kulit berwarna coklat. Aku menoleh padanya dengan pandangan ‘wow’! Rambutnya blonde, benar-benar blonde! Mengenakan sunglasses? Indoor? Dan yang paling menakjubkan adalah jaket coklat dengan rumbaian di lengannya.

“We…welcome?” sapaku kaku. Siapa dia? Aneh sekali stylenya? Apa dia orang bule? Atau?

“Dad!!” panggilku seraya menghampiri Dad.

“Ada orang aneh!” bisikku sambil menunjuk orang yang sedang memandangi restoran kami itu.

“Ah itu Kwon-ssi, orang yang ingin Dad kenalkan dengan mu!” sahut Dad. What on earth?

“Dad! You’re kidding me, right! That guy?” aku menaikan alisku. Berharap itu semua candaan.

“C’mon and give that guy this…” Dad menyuruhku membawa mangkok berisi ramyoun.

“Hey, Dad aku ga bisa bahasa Korea…” Dad malah mendorong-dorongku menuju laki-laki itu. Oh sweet nibblets!!

“Hmmm?” aku berdeham, karena tak tau apa yang harus kukatakan. Dad, you’re so owe me!!

“Annyeong…” sapa laki-laki itu lagi, lebih ramah. Tapi tetap saja, ‘style’ uniknya itu terlanjur membuatku illfeel. Dan bagian terburuknya, Dad serius mau menjodohkanku dengan orang macam ini?

“Noni!! Help me!!!” bisikku pada Noni yang pura-pura tak melihat dan mendengarku.

“My dad gives you this. So, enjoy!!” aku meletakan ramyoun itu di meja seramah mungkin, dan berniat pergi secepat yang aku bisa.

“Hold on, so…you are Mr. Potter’s daughter?” tanya orang itu. Mau tak mau aku harus berbalik, melihatnya dan menjawab pertanyaannya.

“Yes I am…”

“Ah, I am Kwon Jiyong! So your name is?”

“Dwinta Nur Aulia!”

“Can we talk? Ms. Dwinta? Sit down…” tanya orang itu, Oh boy!! Please, semoga semua ini mimpi!

“Unfortunately, aku sedang bekerja sekarang. Later maybe! So…bye!!” aku langsung berbalik dan meninggalkannya secepat mungkin.

“Ah Kwon-ssi, annyeong haseo! Kau sudah bertemu dengan putriku?” Dad tiba-tiba muncul dan menarikku ke kursi untuk duduk bersama orang itu.

“Akhir-akhir ini kau jarang sekali kesini, sibuk Kwon-ssi?” tanya Dad, aku hanya terdiam seperti orang bodoh tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

“Yah, aku baru saja selesai shooting untuk videoklip kami yang selanjutnya!”

“Ah kau pasti lelah sekali!”

“Ne, tapi tidak ada tempat yang membuatku nyaman selain disini, Mr. Potter!”

“Ah ini putriku kalian seharusnya saling bicara. Maklum dia tidak mengerti bahasa sini!”

“It’s ok. So Dwinta, are you still study?” dia bertanya padaku?

“Of course I am…”

“Dad, can I talk to you for a sec?” aku langsung menarik Dad.

“Dad, kau gila? Aku dan orang itu? Pfft! Kau lihat caranya berpakaian? Oh boy, jangan membuatku melihatnya lagi..dan apa-apaan sunglasses di dalam ruangan itu? Dia pikir dia siapa? Model? Artis? Penyanyi? Dan rambut super blondenya itu? Seperti kakek-kakek berusia lanjut saja! Iwh!!” sahutku sebal.

“Perharps, dia seorang detektif! Atau bodyguard! Biasa kan bodyguard pake kacamata hitam?” Noni yang sedari tadi mengepel ikut bergabung.

“Not helping, Noni!!”

“Ah jangan-jangan dia blind man?” tebak Noni lagi.

“Orang buta? What the…hey, itu mungkin juga sih!!”

“Yah kau pikir blind man bisa makan semangkuk ramyoun seperti itu…?” tanya Dad seraya menunjuk orang itu. Aku menepuk jidatku sendiri.

“Bertemanlah dengannya…” sahut Dad seraya berbalik menuju laki-laki itu.

“Sabar ya, Dwinta…! Tapi coba kau perhatikan baik-baik!”

“Aku berusaha untuk tidak melihatnya lagi, Noni!” aku memejamkan mataku.

“Hey, lihat saja! Sebenarnya dia tidak begitu jelek kok, siapa tau di balik kacamata mencurigakan itu tersembunyi wajah bak malaikat!” Noni semakin menjadi-jadi dengan khayalannya.

“Itu laki-laki yang Dad bilang aku akan menyesal jika aku tak menemuinya? Aku malah menyesal karena telah melihatnya sekarang!! What a waste…”

“Ooh, I love that style…!” seru Noni saat laki-laki itu membuka jaketnya.

“Buatmu saja kalau begitu!”

“Kau yakin?” tanya Noni, aku mengangguk. Ternyata selera Noni aneh juga. Ckckck

“Ade!!” panggil Dad lagi. Ugh, aku benci sekali di panggil nama kecilku yang aneh itu. Dad melambai dan menyuruhku duduk lagi disebelah pria aneh itu, dia membuka sunglasses nya. Ow boy!! Wajahnya…

“Dang it, he’s so hot!! Lihat ganteng banget!!” seru Noni di telingaku.

“Noni, please!!” aku memutar bola mataku sebal. Tapi…wajah laki-laki aneh itu, memang sangat…oh boy…dia memang ganteng, ga! Lebih tepatnya imut. Dan manis? Cute? Ah aku sampai tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan ‘keindahan’ wajahnya.

“Kau tetap ga mau dengannya?” pancing Noni, aku melotot padanya.

“Meski dia ganteng, perasaanku ga akan berubah!!” kecamku.

***

“Tunggu dulu!! Darimana semua toleransi ini, Dad? Sejak kapan Dad memberiku izin jalan di sore hari, di saat restoran masih buka?” tanyaku tidak percaya.

“Dad mengerti kau pasti ingin jalan-jalan di Korea, kan? Kau bisa membawa Noni bersamamu!”

“Apa itu benar Mr. Potter?” senang Noni yang langsung melepas seragamnya.

“Kwon-ssi akan menemani kalian!!” ujar Dad sambil berlalu. Aku melengos kesal, Kwon-ssi, Kwon-ssi, Kwon-ssi mulu! Menyebalkan! Hhhrr!!

“Wow! How lucky we are!!” heboh Noni.

“Just you…!!” ralatku. Argh! Kenapa Dad tak mempercayaiku sepenuhnya, maksudku aku ingin berpetualang sendiri. Oke mungkin berdua dengan Noni, tapi tidak dengan pria asing yang baru kukenal beberapa jam yang lalu. Pria dengan rambut blonde, sunglasses dan jaket coklat rumbainya itu.

“Hello?” sapa seseorang, argh! Itu pasti dia! Si Kwon-Kwon-ssi itu!

“Hi! I’m Noni!”

“Hi Noni, nice to meet ya! I’m Jiyong by the way!” Jiyong memperkenalkan diri, ia sudah berganti pakaian dengan pakaian normal. Ah ternyata dia lebih bagus dengan pakaian normal seperti itu. Terlihat lebih manis, dan lebih segar. Eh apa yang kupikirkan sih? Meski rambutnya masih blonde seperti itu, tapi jauh lebih baik karena dia menutupinya dengan topi kupluk yang dikenakannya.

“Ah you too!! Jiyong-ssi?”

“You can call me oppa!” sahut Jiyong.

“Shall we start?” tanya Jiyong, Noni dengan senang langsung mengikutinya. Oh boy! Aku hanya bisa mencuatkan bibirku kesal, sekarang aku hanya bisa terdiam seperti kambing congek disini. Melupakan Donghae apaan? Kalau begini caranya aku malah menyesal pergi kesini!!

êêê

 “Dwinta? Melamun saja? Kau ga apa-apa?” tanya Jiyong pada gadis manis di depannya. Aku mengerjap beberapa kali, masih belum terbiasa.

“Oppa? Kau membuatku kaget!” jawabku malas. Jiyong mengerucutkan bibirnya, kenapa sejak tadi gadis ini selalu bertampang masam padanya. Padahal sebenarnya dia manis juga [ahahahai]. Mr. Potter [entah sejak kapan Harry Potter berubah profesinya menjadi pemilik restoran? Jangan tanya karena authorpun tak tau hahaha ==”] juga bilang anak perempuannya itu adalah anak yang ceria dan mudah bergaul dengan orang lain. Tapi kenapa?

I never knew I’d find a love so true. This one is right here, it’s just for you.

Jiyong lantas mengajak kedua gadis itu melihat kerumunan orang-orang yang sedang menonton konser pengamen jalan. Dia juga menyanyi!! Meneruskan lagu yang tadi!

You know I’d walk them miles

Climb mountain switched up styles

All I wanna do is be with you

Ain’t no matter what, where and how

[Right here and now] we can both get down

[Straight work it out] yeah I like that sound

Bump and grindin’ perfect timin’

Let’s dine and both be proud

Aku tersentuh, lagunya tadi bagus sekali. Noni bertepuk tangan menyoraki Jiyong yang menghampiri kami.

“Bagaimana?” tanya Jiyong.

“Hebat! Suaramu keren sekali oppa!” sorak Noni, aku tersenyum setuju.

“Akhirnya kamu tersenyum juga! Kamu lebih manis kalau tersenyum, Dwinta-ah!” seru Jiyong dengan eye smile andalannya yang langsung membuat wajahku merona dengan sukses.

“Thanks…” aku langsung memalingkan wajahnya itu. Terus seperti itu sampai jalan-jalan itu berakhir. Dan aku tidak benar-benar menikmati ‘jalan-jalan’nya. Meski Jiyong lucu dengan leluconnya itu tapi tetap saja tidak meninggalkan kesan yang berarti di hatiku.

“Udah malam, kalian mau pulang?” tanya Jiyong.

“Ah masih jam segini…”

“Hoahmmm! Noni aku ngantuk! Let’s go!! Bye-bye!” aku menarik tangan Noni acuh. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan kami secara mendadak. Kami sampai melompat kaget karena mobil itu hampir menbarak kami. Seorang pemuda turun, dan membuka kaca mata hitamnya. What? Menggunakan kacamata hitam di malam hari? Iwh, orang-orang Korea memang ada-ada aja.

“Taemin? Sedang apa disitu?” tanya Jiyong pada laki-laki yang berwajah imut itu.

“Jiyong hyung! Ternyata itu benar kau, apa yang kau lakukan disini? Dan siapa mereka?”

“Ah, mereka adalah anak dari pemilik restoran yang sering kukunjungi itu. dia Dwinta, dan yang satunya Noni! Hey, he is Taemin!” Jiyong memperkenalkan kami dengan laki-laki itu.

“Huuaahh!! Ganteng!!” seruku dan Noni bersamaan.

“Dwinta, Snap out of him. I saw him first!” seru Noni sambil menunjuk-nunjuk hidungku.

“You? No! It definitely is me! You stop it!”

“Pfft! How could you? I saw him first, and then it means he’s mine! Not yours!” sahut Noni ga mau kalah.

“Hey, bukannya kau suka dengan laki-laki aneh itu?” tunjukku tanpa sadar pada Jiyong.

“Excuse me?” tanya Jiyong.

“Oopsies!”

“Hei, my name is Lee Taemin! You can call me Taemin!” cowo bernama Taemin itu memperkenalkan diri. Oh! He’s cute! Like a baby?

“Noni Olviadita! You can call me just Noni!” sapa Noni, sambil mengulurkan tangannya.

“Dwinta…!” sahutku.

“Who?” Tanya cowo yang bernama Taemin itu.

“DWINTA!!” seruku lebih keras.

“WHO?” tanya Taemin lebih keras.

“Oh Boy!! D-W-I-N-T-A!” aku mengeja namaku dengan sabar, kenapa semua orang susah sekali menyebut namaku. Noni tertawa senang membuatku semakin kesal.

“Noni, tawamu sangat….” Aku berusaha menahan diri.

“Indah…!” lanjut Taemin. Kami semua lantas melihat ke arahnya.

“What?” tanyanya kemudian.

“Ahahahaha what did I say? We belong together!” senang Noni.

“Really?” Tanya Taemin.

“She’s just kidding, Taemin-ah!” selaku.

“Hey!! Bagianmu itu adalah Jiyong oppa! Bukannya kau dijodohkan dengannya?” bisik Noni tidak terima.

“Ok! Fine!”

“Hey aku ada ide! Bagaimana kalau besok kita jalan, berempat?” usul Taemin, yang pastinya langsung diiyakan Noni. Jiyong juga setuju, tinggal aku…shoud I?

“Please, please, please!” pinta Noni dengan gaya memelas, with puppy eyes.

“Ok fine…”

êêê

Hari demi hari kulalui bersama sahabat setiaku Noni. Bekerja di restoran milik ayahku. Sebagai pelayan tentunya. Tak terasa kami sudah 2 minggu di Negara ini. Jiyong oppa dan Taemin juga sering berkunjung ke restoran ini, sekedar untuk makan siang atau hanya menyapa saja.

“Ah Taemin akan ke sini!” seru Noni senang, saat itu aku sedang membersihkan meja.

“I wonder, kenapa dia suka sekali datang kesini?” tanyaku cuek.

“Tentu saja untuk menemuiku!” sahut Noni, aku mencubit pipinya gemas.

“Sejak kapan kau jadi centil begini?” tanyaku.

“Hmm?” seseorang berdeham di belakangku, ternyata itu adalah Taemin!! Dia membawa seikat mawar merah!!

“Taemin?” seru kami berbarengan.

“Keberatan jika aku datang? Aku ingin…well kalian taulah…”

“Apa?” tanyaku.

“Aku ingin kalian bertemu dengan seseorang yang sangat special bagiku!” Taemin tersenyum imut.

“Apa? Kau punya seseorang yang special?” tanya Noni, sedih. Yah, maklum saja selama 2 minggu ini dia selalu sibuk membicarakan laki-laki yang baru dikenalnya itu. Sepertinya Noni begitu menyukainya, tapi…

“Ne…!” jawab Taemin mantap. Noni langsung berlari ke belakang, akupun langsung mengejarnya.

“Noni….? Are you ok?”

“Hikshikshiks!! Huwaaahh!!” Noni menangis, aku memeluknya supaya suaranya tidak terdengar keras. Aku mengelus punggungnya.

“Sabar ya!!”

“Padahal kan we belong together!! Huaah! Siapa sih cewe itu? Bikin aku kesal aja!!” tau-tau Noni malah marah-marah ga jelas.

“Sudahlah, kita ga bisa sama mereka! Taemin itu artis! Sedangkan kau? Lagipula kita disini tinggal 2 minggu lagi, paling dia bakal lupa. Dan perhaps kamu juga! Kita beda Negara, bagaimana kita bakal berkomunikasi dengan mereka?” ujarku berusaha menghibur.

“Now cheer up! Everything’s gonna be alright!” aku mengangkat wajah Noni dan tersenyum. Dia memelukku, seraya mengucapkan terima kasih. Kami berdua keluar, Taemin tampak menghampiri kami. Noni terlihat awkward dan hanya bisa menunduk.

“Darimana saja kalian aku baru saja mau memperkenalkan gadisku itu!” ujar Taemin, aku melirik Noni sekilas.

“Aku ga siap…!” bisik Noni.

“Be brave…!” bisikku sambil mengelus kepala Noni. Taemin maju selangkah di depan Noni. Ia menyerahkan bunga mawar yang sedari tadi di pegangnya.

“Aku ingin kamu menjadi kekasihku! Kalau kau tak keberatan Noni-ah!” ujar Taemin.

“What? Wait a min, did you say you want to introduce your girl, you didn’t mean…? aku melirik ke arah Noni.

“She’s the girl I meant!!” sahut Taemin mantap. Mata Noni tampak berkaca-kaca.

“Really?”

“Of course, so what’s your answer?”

“Is it real?” tanya Noni sambil menepuk-nepuk pipinya.

“Yes…”

“Am I dreaming?”

“No…”

“You love me, Taemin-ah?”

“Of course I do, and you?” aku memutar bola mataku kesal.

“Hey, semuanya udah jelas bukan. Kenapa kau tidak mengatakan kau mau jadi pacarnya saja Noni! Oh please!” aku memukul jidatku sendiri, kesal dengan drama yang tengah ku tonton ini.

“Kau iri? Karena aku dan Noni pacaran?” tanya Taemin.

“Noni belum mengiyakan!”

“Aku mengiyakan!” sela Noni.

“Benarkah? Oh gomawo jagiya!” senang Taemin. Iwh?

“Ne cheonman Taemin-ah!” balas Noni, entah sejak kapan dia bisa berbahasa Korea.

“Kalian kan beda Negara, bagaimana mungkin…”

“Ga ada yang ga mungkin Dwinta, iya kan Noni-ah?”

“Tentu Taemin-ah!!”

“Aku pasti akan sering mengunjungimu, Noni-ah aku janji!”

“Kau pikir kerumah Noni itu semudah membeli gorengan di warung sebelah rumahmu?” tanyaku.

“Hah? Disebelah rumahku bukan warung gorengan, memangnya disebelah rumahmu ada orang jual gorengan Noni-ah?” tanya Taemin polos.

“Itu perumpamaan Taemin!” jawabku sabar.

“Tapi kenapa harus gorengan? Kenapa ga bakso? Atau ramyoun? Atau apa gitu?”

“Ah kau benar Noni-ah, kenapa ga yang lain saja?”

“Jadi kita berpikiran yang sama Taemin-ah. Aih kita memang jodoh ya! Hahahaha!”

“Tentu saja kita jodoh Noni-ah!”

“Ah kalian membuatku mual saja!”

“Kau hanya iri Dwinta! Apa kusuruh saja Jiyong hyung nembak kamu?” ejek Taemin, aku lantas menjitak kepalanya kesal.

“Yah! Jangan pukul pacarku!” seru Noni tidak terima.

“Oops, aku lupa kalau dia pacarmu Non! Btw, congrates!” aku tersenyum dan langsung masuk ke dalam.

***

Akhir-akhir ini, aku dan Jiyong oppa semakin dekat saja. Entah kenapa disisinya aku merasa nyaman. Dia selalu mendengarkanku, menghiburku. Walau terkadang dia itu menyebalkan karena suka sekali memanggilku gendut. Kami jadi sering jalan bersama, well teknisnya sih berempat dengan Noni dan Taemin. Aku hanya tersenyum setiap kali mengingat pertemuanku dengannya pertama kali. Betapa aku tidak menyukainya.

Ternyata Dad benar, mungkin aku akan menyesal jika tidak bertemu dengannya. Jiyong oppa orang yang sangat baik dan lembut padaku. Dia juga memperlakukanku seperti layaknya seorang wanita. Walau terkadang dia manja dan suka merajuk jika aku mengerjainya. Tapi aku suka bagian itu, karena dia sangat lucu dan imut jika merajuk padaku seperti itu. dan bagian yang kusuka adalah saat dia mengelus kepalaku. Ah! Serasa dunia berada di bawah kakiku.

***

“Hmm sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu dari dulu….” Jiyong memulai, dia tampak sangat gugup. Terlebih Dwinta yang duduk disebelahnya bersandar padanya.

“Langitnya indah ya?” ujar Jiyong mengalihkan pembicaraan.

“Aduh kenapa aku jadi salah tingkah begini?” bisiknya.

“Hmm…mungkin karena, please jangan ketawa! Mungkin karena…karena aku menyukaimu…” ujar Jiyong dengan segenap keberaniannya. Hening…

“Hahhaah, konyol ya? Tapi itu beneran, aku menyukaimu sejak Mr. Potter memperlihatkan fotomu waktu masih bayi!”

“Kupikir itu sangat lucu, dan aku mulai melihat album-album fotomu semasa kecil, mendengar tentangmu dan akhirnya kuputuskan untuk menyukaimu!”

“Awalnya aku sedih sih, saat kamu selalu mengacuhkanku dan menganggapku aneh…tapi ayahmu benar, kau orang yang sangat manis dan ceria!”

“So…maukah kamu menjadi kekasihku?” Tanya Jiyong lagi. Hening lagi, hanya ada suara jangkrik yang terdengar di tengah taman yang sepi ini.

“Hmm? Dwinta? Ku ga shock kan?”

“Oke aku tau ini mungkin aneh bagimu! Tapi, katakan sesuatu please? Jangan diam saja…”

“Ok, kau boleh tertawa kalau kau mau?”

“Dwinta? Hello? Anybody home?” akhirnya Jiyong menatap gadis yang sedang bersandar padanya itu.

“Kau tidur?” Tanya Jiyong kesal. Susah-susah ia mengeluarkan isi hatinya eh malah tidur.

“Yaah! Gendut bangun!” Jiyong mencubit pipi Dwinta gemas membuat gadis itu terbangun.

“Hmmmh oppa, selamat pagi! Hoaaamhh!” sahutnya dengan mata yang masih tertutup.

“Dasar tukang tidur!”

“Hah?”

“Ga apa-apa! Sudah lupakan saja! Itu ga penting juga!!” kesal Jiyong.

“Apa sih? Memangnya oppa ada mengatakan sesuatu?” Dwinta menggaruk-garuk kepalanya bingung.

“Aku tadi menyatakan persaanku padamu tau dasar gendut! Eh kamunya malah tidur! Sudahlah kalau begitu! Ayo kita pulang! Sepertinya kamu memang lelah sekali!” Jiyong menarik tangan Dwinta yang masih setengah sadar itu.

“Perasaan? Memangnya oppa punya perasaan apa padaku?”

“Sudahlah itu sudah ga penting!” rajuk Jiyong.

“Aish oppa kau marah padaku karena aku tidur?” protes Dwinta.

“Ne, karena kamu! Padahal aku sudah menyatakan perasaanku! Aku bilang suka padamu tapi kamu malah tidur…!”

“Suka? Padaku?” tanya Dwinta senang.

“Iya!!” Jiyong mencubit pipi chubby Dwinta.

“Kamu mau jadi pacarku?” tanya Jiyong lagi.

“Hmmm gimana ya? Kupikir-pikir dulu deh! Oppa benar, sekarang sudah malam! So bye-bye!” canda Dwinta. Jiyong mencubit hidung Dwinta gemas.

“Iya, kutunggu sampai kapanpun! Janji!” Jiyong tersenyum. Deg! Deg! Deg! Ah! Senyumnya yang mendebarkan. Oh boy!! Kyaaa!!

***

Aku menatap jam dan menghembuskan napas kasar. Sudah 3 hari! Yah sudah 3 hari Jiyong oppa tidak kesini sejak malam dia menyatakan perasaannya. Sial, aku bahkan belum menjawabnya! Apa dia marah padaku? Dia memang bilang akan menunggu, tapi kenapa dia malah tidak menampakan batang hidungnya? Ada apa denganku? Kenapa aku begini?

“Kau harusnya menghubunginya kalau memang kangen!” seu Noni.

“Aku tidak kangen padanya!” sangkalku, aku kembali termenung. Aku ga mungkin menyukainya kan? Maksudku dia orang aneh, pada awalnya. Tapi lama-lama, dia berubah menjadi sosok yang menyenangkan, lucu dan membuatku menjadi seperti ini.

“Ah paling Kwon-ssi sedang sibuk dengan pekerjaannya!” ujar Dad.

“Memang apa pekerjaannya?” tanyaku.

“Kau tidak tau? Ah Kwon-ssi bisa memberitaumu sendiri nanti!” ujar dad lagi. apa-apaan tuh? Tapi, aku memang ga tau apa-apa tentang pekerjaan Jiyong oppa, dia memberitauku macam-macam tapi tidak dengan pekerjaannya. Kira-kira apa ya? Suaranya bagus, mungkin penyanyi. Dia vjuga cakep, mungkin pemain film? Ah ga tau ah!

“Kita pulang lusa loh! Kau serius tidak ingin menghubunginya!”

“Aku tidak peduli padanya!!” ujarku. Benarkah? Aku sendiri ragu menjawabnya.

 ***

[Mon 18 July: Back to School]

“Kenapa semua orang ngelihatin kita Non?” tanyaku pada Noni, saat kami memasuki gerbang sekolah. Akhirnya kami pulang juga ke Indonesia. Ah! Betapa rindunya aku dengan sekolah mungilku ini.

“Hadoh! Kamu ni gimana sih! Secara aku kan pacaran sama artis! Sama Taemin gitu loh! Jadi ya mereka lihatin aku!” jawab Noni, aku memutar bola mataku.

“Hi ladies!!” panggil Dinda, Anggi, dan Monica [yang entah mengapa jadi 1 geng]

“Dinda!” seruku sambil melambai padanya. Kami mendatangi mereka.

“Gimana liburannya di Korea, ada nemu cowo-cowo ganteng kak?” Tanya Monica, Noni terlihat senyum-senyum sumringah.

“Iya, aku pacaran dengan Lee Taeminnya SHINee loh!!” pamer Noni heboh.

“Hahahaha Kak Noni ngayal aja kerjaan! Aku dong udah nikah sama Sungmin biasa aja!” ujar Anggi lagi. Aku memutar bola mataku, mulai lagi….

“Iya, aku sama Wookie oppa, sama Teukie oppa, sama Henry oppa udah nikah aja ga sombong!” tambah Dinda. Oh boy…

“Tiga-tiganya? Sekaligus?” tanyaku.

“Ya iyalah!!”

“Okey…”

“Lihat nih, bukti!!” Noni memperlihatkan fotonya bersama Taemin. Mereka semua hanya memandang bengong.

“Hwahahahaha paling editan, edit dimana? Photoshop? Photoscape? Photo filter? Photobucket?”

“Ih beneran tau!” dumel Noni.

“Ok, ok, ok! Mungkin bagi kalian itu tadi terlihat seperti editan! Tapi yang jelas kami ga mungkin bisa ngedit majalah, kan??” aku memperlihatkan foto Noni bersama Taemin yang tertangkap kamera wartawan dan masuk majalah Kpop Teen [anggaplah ada].

“Haaaahhhhh????” mereka terkejut bukan main, sedang aku dan Noni hanya tersenyum-senyum penuh kemenangan. Hahahahah!!

“Aku iri ka Dwin…” rengek Monica

“Aku mau juga sama Sungmin…atau ga Yesunglah minimal…” seru Anggi juga. Minimal?

“Kamu ada ketemu Key SHINee ga Dwin?” Tanya Dinda. Aku menggeleng, selama sebulan cuman ketemu Taemin aja. Noni lalu memulai kisah peertemuannya pertama kali dengan Taemin pada 2 gadis itu.

“Kamu sendiri Dwin. Ga ada pacaran dengan cowo ganteng misalnya? Atau jangan-jangan kamu ada ketemu Siwon?” Tanya Dinda, aku menggeleng. Iya ya!!! Aku lupa!! Kenapa aku ga ketemu dengan Siwon ya??? Aish!!!

“Ada satu orang, well…dia bukan artis sih. Tapi, dia manis dan sangat baik…”

“Siapa namanya?”

“Namanya Kwon Jiyong, orangnya baik sekali padaku. Pertama kupikir dia orang aneh, selanjutnya…ya gitu deh…” ujarku sambil malu-malu.

“Kamu pacaran sama dia?” Tanya Dinda girang

“Ga sih, waktu dia menyatakan perasaannya. Aku ketiduran jadi ga sempat jawab deh…”

“Hah? Sepele banget alasanmu!” aku mengangguk malu.

“Waktu kami pulang dia ga ada ngantar aku ke bandara sama sekali…mungkin baginya aku Cuma ‘gadi-gadis’ musim panas. Seperti angin lalu gitu…”

“Aw…sabar yah!!” Dinda menghiburku. Aku mengangguk, sekarang perasaan menyesal itu terus menerus menggerogoti tubuhku. Yah, kenapa aku harus tertidur saat itu? Aduh!! Dasar tukang tidur!! Kenapa aku malah ga langsung jawab pas dia nanya untuk kedua kalinya? Kesempatan emang ga datang 2 kali ya! Hikshikshiks…

“Eh gimana emang orangnya? Katamu ganteng? Kamu punya fotonya?”

“Foto ga ada sih, tapi yang jelas orangnya seperti…seperti….itu?” Chabibah, salah satu sahabatku lewat sambil membawa poster besar berisi gambar-gambar orang [tolong jangan tanya kenapa dia bawa2 poster kesekolah]. Dan salah satunya berwajah sangat mirip dengan Jiyong oppa? How come?

“Itu?” Tanya Dinda.

“Ini?” Tanya Chabi, sembari menunjuk gambar orang yang kumaksud. Aku mengangguk seraya menarik tangan Noni memastikan kebenaran mataku.

“Masa sih? Inikan G Dragon leadernya Big Bang!!” seru Chabi.

“Hah? Apa? Big Bang? Yang kamu suka itu?” tanyaku bingung. G Dragon? Namanya ga banget sih? Naga? Iwh?

“Iya! Kamu tau ga nama aslinya siapa? Namanya itu Kwon Jiyong tau!”

“WHAT?????” seruku dan Noni berbarengan.

“Non, do you think what I think?” bisikku ke Noni.

“Ah may be…”

“Kwon-ssi, err I mean Jiyong oppa…yang selama ini kita kenal…yang nembak aku itu…orang ini?” tanyaku dengan segenap rasa tidak percaya.

“Jadi orang ini yang kamu maksud?” Tanya Dinda ga percaya. Sama aku juga ga percaya tapi itu nyata [seandainya iya]

“Benarkah? Sebenarnya tadi aku berpikir enakan mana roti kismis dengan roti coklat!” seru Noni. Aku memutar bola mataku.

“Please! Kita sedang membahas orang ini Noni!! Btw, roti coklat lebih enak!” jawabku.

“Kamu di tembak orang ini? Hah ngayal banget kamu Dwin!! Haah hhaah…” seru Chabi.

“Oh please! Bukanya kalian juga ga percaya dengan Noni pada awalnya? Tapi itu terjadi! Begitu juga denganku! Kenapa kalian ga percaya padaku? Itu ga adil tau!” rajukku.

“Mukamu ga meyakinkan sih Dwin!” sela Noni.

“Noni! Not helping! Kamu kan ada disana waktu itu. Oh please….”

“Kak Dwin gak punya bukti semacam foto dari majalah atau apa gitu kan?” Tanya Monica.

“Makanya kayak aku dong, dwin!” bangga Noni pada dirinya sendiri.

“Iya lagian kamu bilang dia ga ada menemui kamu sejak kamu ga jawab pertanyaannya, kan? Kamu bilang kamu cuma ‘gadis’ musim panasnya? “

“I know it. Dan itulah yang membuatku semakin menyesal! Hikshikshiks! Noni kamu adalah saksi! Tell ‘em that what I said before is not just a lie! It’s true, totally true!”

“Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit atau semacamnya!” bisik Anggi.

“Hmmm, aku mendengarmu…!!” aku memicingkan mataku. Hufft, aku ga percaya…sangat ga percaya. Bagiku Jiyong oppa sangat baik padaku, tapi kenapa dia tidak pernah memberitauku tentang identitas aslinya? Atau mungkin aku yang salah orang. Tapi salah orang ataupun ga, semuanya ga ada artinya kan? It’s over! Aku dan Jiyong oppa sudah ga mungkin lagi, and hello? Kami beda Negara kan! O please! Kenapa aku jadi sedih begini? Aku menggigit bibirku…

I remember what you wore on the first day, you came into my life and I thought hey you know this could be something…cause everything you do and words you say. You know that it all takes my breath away, and now I’m left with nothing…so maybe it’s true, that I can’t live without you. And maybe two is better than one! There’s so much time, to figure out the rest of my life. And you’ve already got me coming undone.

And I’m thinking two is better than one…

Dddddrrrrttt…ddddrrrrrtttttt…getar Hpku membuyarkan lamunanku. Aish apaan sih? Tapi hpku itu terus-menerus bergetar membuatku dengan malas mengambilnya.

“Fine! Hello?” jawabku malas.

“Baby girl?”

“Hah? Siapa nih?” tanyaku.

“Makanya lihat layar Hape mu dulu gendut!! Kebiasaan banget sih angkat telepon ga lihat layarnya dulu! Babo!” jawab orangnya.

“Oh iya! Bentar ya!!” aku melihat ke layar Hpku. Oh My God!!! Ini kan Jiyong oppa!! Dia meneleponku!! Ini mimpi? Aku mencubit pipiku, dan rasanya sakit! Berarti ini bukan mimpi dong!! ^^

“Sedang mengecek apa kau sedang bermimpi atau tidak?” Tanya Jiyong oppa.

“Ga, apa yang kau bicarakan oppa? Mana mungkin aku melakukan hal konyol itu…” dustaku.

“Kau terdengar ga senang ku telepon!” rajuk Jiyong.

“Hmm biasa aja!” jawabku, padahal aku melompat-lompat seperti kangguru saking senangnya tadi.

“Hahaha…sepertinya kamu senang sekali?” Tanya Jiyong lagi.

“Apa maksudmu? Aku tidak senang, well biasa aja. Kau pikir aku senang kau meneleponku? Aku sedang tidak melakukan hal-hal aneh saking senangnya kau meneleponku seperti lompat-lompat kangguru misalnya. Kau tau kenapa? Karena aku memang merasa biasa saja! Tidak lebih!”

“Kak Dwin nelpon siapa itu? Kok sampai lompat-lompat begitu?” Oh boy, aku memiingkan mataku pada Anggi yang menyeruku dnegan suara nyaring.

“Hahaha!! Aku mendengarnya…” senang Jiyong.

“Oh come on…dia hanya bercanda! Ku tidak mungkin melakukannya kan?”

“Tapi tanpa mendengar dari temanmupun aku tau kok!”

“How come? Kau pikir kau penyihir atau semacamnya? Punya indra keenam? Matamu ada dimana-mana?” tanyaku lagi.

“Bukan! Aku hanya seorang laki-laki biasa yang setia menunggu seseorang, sampai dia mau berpaling padaku…”

“Maksudmu?”

“Aku sudah mendengarnya dari Noni, tentang well kamu dengan mantanmu itu. Aku ga bisa memaksamu untuk bersamaku kan? Itu ga adil!”

“Wait a min…Noni told ya? Oh sweet nibblets! Noni!!” seruku.

“Beraninya kamu ngasih tau rahasiaku!!” kucubit pipi Noni tanpa ampun.

“Jangan begitu nanti Taemin marah loh!”

“Oppa? Kenapa kau tau apa yang sedang kulakukan pada Noni? Kau tidak mung…” aku berbalik, dan seorang laki-laki yang sangat familiar berdiri di ujung sana.

“Kyyyaaa!! Itu kan GD oppa!!” seru Chabi histeris.

“Masa? Mana?”

“Ya ampun!! Jadi Dwinta benar??”

“Oppa!!” panggilku, aku berlari kepadanya. Air mataku jatuh saking senangnya aku bisa melihatnya lagi.

“My baby girl!!” sapa Jiyong oppa sambil mengelus rambutku. Dia memelukku erat seakan tak ingin melepasku lagi. Karena dialah aku menjadi seperti ini, walaupun banyak rintangan aku tetap bahagia bersamanya.

 the end

.

Posted 9 Mei 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , , ,

2 responses to “[FF] One Love *OneShoot*

Subscribe to comments with RSS.

  1. Aku juga mau mah kalo seandainya itu akuu..
    Haah jadi kangen my bunny taemin,
    good ff !

  2. Mianhee aku blm sempet bca ffnya . . .

    aku cm mo blng susunan pragrafnya rapi

    jd . . . bcny nyaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: