[FF] Precious Thing *Part 22 of 22*   12 comments


HEllo….~~

Akhirnya tamat juga nih FF.. Fiuuuuhhh

Buat yang nunggu2, sorry baru sempet aku post sekarang, nd sorry juga kalo hasilnya ga sesuai harapan.. hehehe

Kritik dan saran kalian sangat lah diperlukan para reader..😄

Terutama untuk FF romantic sama yang this is the life..

Ok, so read, enjoy, comment if u like this story..

.

Chapter 22

Precious Thing

Tinn tinnn…

Suara klakson mobil Jinki membuatku tuli sejenak. Pagi-pagi dia sudah seberisik ini. Aku membuka pintu rumahku, tampak sesosok makhluk yang sangat kucintai itu bersandar dengan gaya angkuhnya di depan pintu mobilnya. Tetap tidak berubah. Dia menyunggingkan senyumnya yang sempurna itu, dan untuk kesekian kalinya aku nyaris ambruk melihatnya.

Dia menjemputku yang masih saja terpaku pada momen singkat itu.

“Pabo! Sampai kapan aku harus menunggumu di sana?” ia memukul kepalaku pelan.

“Apo! Kau yang pabo, Jinki! Pagi-pagi sudah bikin ribut dengan suara klakson mobilmu itu! Mau pamer ya?” balasku, dia malah tersenyum senang.

“Apa sih senyum-senyum? Sudah gila ya?” tanyaku sambil berlalu, wajahku merona sekali pastinya.

“Minji ga senang melihatku tersenyum?” godanya di telingaku. Kontan saja wajahku yang merah semakin menjadi-jadi, tapi dia malah menertawaiku.

“Hebat! Mukanya merah sekali! Ha! Ha! Ha!”

“Aish!! Menyebalkan!” aku merajuk, dia menggandeng tanganku dan kami masuk ke dalam mobil.

“Sebenarnya kita mau kemana sih?” tanyaku. Dia mengacak-acak rambutku.

“Itu rahasia!” aku hanya mengerucutkan bibirku mendengar jawabannya. Entah bagaimana rasanya, aku memberanikan diri menatapnya. Ya Tuhan, dia benar-benar manis bahkan entah sudah lewat berapa tahun dia tetap saja secakep ini. Apa saat ia menjadi kakek-kakek nanti tetap cakep ya? Mungkin dia adalah kakek tercakep sedunia bagiku. Aku tersenyum dengan pikiranku ini.

“Kenapa senyum-senyum? Sudah gila ya?” Tanya Jinki membalasku.

“Ga! Kamu memang cuman bisa copy paste kata-kataku ya?” sindirku. Dia tertawa, dan itu membuat jantungku hampir meledak karenanya.

“Manis…” sahutku tanpa sadar. Dia menaikkan alisnya bingung.

“Manis?”

“Ah, itu! Jus apel yang tadi pagi kuminum! Rasanya manis sekali, ya manis!” jawabku bodoh.

“Oh kukira aku yang manis!” sahutnya kepedean. Aku mendengus lalu menertawainya.

“Kau ini terlalu PD! Bisa-bisanya aku menyukai orang sepertimu?” gumamku pelan berharap dia tidak mendengar yang barusan.

“Siapa yang menyukaiku?”

“Hah? Apanya? Kau terlalu PD, siapa bilang aku menyukaimu?” sahutku kaget.

“Ga suka juga ga masalah, Minji!” tampaknya dia meraju. Aku menahan tawaku melihat ekspresinya.

“Marah ya? Maaf deh!” dia tetap mengacuhkanku.

“Hei!!” aku menunjuk-nunjuk pipinya.

“Kau marah padaku?” dia menoleh sekilas.

“Jinki!!!” rajukku, saat dia masih terus saja mendiamkanku. Apa dia benar-benar marah?

“Apa yang harus ku lakukan?” gumamku sedih.

“Cium aku saja!” jawab Jinki. Apa? Apa katanya barusan?

“Aish cowo gila! Mana mugkin aku melakukannya? Dasar pabo, bodoh, payah!!” aku memukulinya, wajahku merah sekali.

“Aduh, aduh sakit! Minji udah! Aku cuman bercanda aja kok! Jangan pukul lagi!”

“Bodoh ah! Kamu sih!” sahutku cuek.

“Ne, ne! maaf! Kamu kalau gitu terus ntar kita kecelakaan gimana?” aku mengerucutkan bibirku.

“Udah jangan marah, ntar cantiknya hilang!” godanya lagi.

“Memangnya aku cantik?” tanyaku lagi, senang.

“Kita udah sampai! Oh ya, aku bisa minta tolong ga?” dia mengalihkan pembicaraan. Aku memandang sekeliling.

“Ya?”

“Tutup matamu!” perintahnya.

“Hah? Buat apa?”

“Pokoknya tutup aja, dan jangan mengintip!” ancamnya lagi. Kami keluar dan aku mengikutinya saja lalu menutup mataku. Jinki membawaku ke sebuah bukit, dia masih menutup mataku.

“Jinki, apaan sih?” dia membuka mataku, terhampar jelas pemandangan yang indah. Jinki memelukku dari belakang seraya berbisik.

“Saranghae, jagiya!” wajahku merona, jantungku serasa melompat. Aku menatap matanya, mencari kesungguhan. Dia menatapku begitu dalam, aku menangis. Ia membelai pipiku dan menghapus air mata yang membasahi.

“Huhu! Menangis lagi! dasar gadis cengeng!” ejeknya sambil menghapus air mataku. Jinki mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Aku terkejut, dia memasangkan gelang pemberiannya itu di tanganku.

“Aku berharap, ini akan terus bersama kita.”

“Jinki…” aku menciumnya, dia sedikit terkejut lalu merangkul pinggangku. Aku mengalungkan tanganku di lehernya.

“Na do saranghae, Jinki!” aku berbisik lembut di dadanya. Dia mengelus-elus kepalaku dan mengecupnya.

“Aku tau kok! Ga mungkin aku yang cakep ini ga di cintai oleh Minji!” ujarnya kePDan, aku mendengus.

“Aku jadi bisa ngerasain manisnya jus apel yang kamu minum!” godanya membuat wajahku makin merah.

“Jadi kita bisa menikah sekarang?” bisiknya. Aku tersenyum dan mengangguk dia lantas menggendongku seperti menggendong tuan putri.

“This is my happy ending, you’re the king of my heart and this love is our precious thing!” aku bergumam sambil menatap gelang itu.

“Hmm?” Tanya Jinki. Aku memeluknya lebih erat seakan aku tak ingin melepasnya lagi. Karena dialah aku menjadi seperti ini, walaupun banyak rintangan aku tetap bahagia bersamanya. Meski kami bukanlah orang yang sempurna di dunia ini, tetapi cinta kami membuatnya sempurna.

Tetaplah di sisiku dan buat diriku bahagia.

Aku menggigit bibirku, gugup. Di sebelahku tampak Onnie dengan gaun putihnya yang menawan tampak menunggu.

Akhirnya kami berjalan ke pelaminan mengikuti alunan musik yang begitu lambat. Kulihat Jinki dengan tuxedo putihnya, ia tampak begitu berbeda dan tersenyum manis padaku. Semua yang hadir menatapku, apa wajahku pucat?

Akhirnya sampailah aku di sisi Jinki. Dia menatapku, dan membisikkan,

“Aku mencintaimu…”

“Lee Jinki apakah kau bersedia menikahi Kim Minji dan mencintainya sampai maut memisahkan?”

“Saya bersedia!”

Setelah mengucap janji dengan sungguh-sungguh, ia memasangkan cincin di jari manisku. Aku menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, dia menjadi milikku.

Jinki membungkuk untuk menciumku, aku memejamkan mataku. Semua orang bertepuk tangan, bahagia.

They say that good thing takes time,  but really great thing happen in a  blink of an eye. I thought the chance of meeting somebody like you were a million to one. I can’t believe it. You’re one in a million..

.

.

.

I’ve been searching for, a heart that needs like man. I’ve been reaching for a hand that I understand. I’ve been waiting for someone that I can love that loves me, loves me for the one that I am. Someone to hold me when im lonely, someone to keep the rain away… It’s one in this world for everyone. One heart one soul to walk beside you. One in this life to share your love, one touch to touch the heart inside you. Wanna reach for each night; wanna trust with your life, that’s what I believe. You’re the one; you’re the one in this world for me..

END

Posted 8 Mei 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with

12 responses to “[FF] Precious Thing *Part 22 of 22*

Subscribe to comments with RSS.

  1. Untung aja jinki jadinya sama minji. Kalau bukan minji,gk rela…
    Yg romantic kapan lanjutannya?🙂

  2. suka.
    tpi terkesan lompat2 nih critanya chingu.
    tpi, ttep aja nih ff daebak,
    nice ff chingu,
    hwaiting buat ff yg laen chingu!!!!!!!

  3. keren author…
    akhir cerita y smua y happy ending

  4. iya,ku smpe mau nangis,huhuhu.:'(
    kira2 romantic kapan mau di lanjutin????

  5. kereeen chingu…
    terharuu..
    sampai mau nangiss T.T
    kereen bneraan deeh…
    bkin dag dig dug ajaaa..
    tokohnya onew kereen…🙂

  6. Akhirnya… *○* so sweeeeet…
    Author, kapan lanjut dr Romantic 7 ? Ko’ aku ga nemu link-nya ? Sekuel-kah ato pindah ? … dimana… dimana… dimana… ? (nyanyi😛 )

  7. jadi si luna meninggal??
    d part akhir2 critanya d percepat ya
    tp bgus lah endingnya mreka akhirnya nikah juga
    ga rela jinki ma luna!!

  8. kyaa…..onew oppa…upss jinki oppa mksud saya…kkkk~
    yah..happily ever after…kkk~ author daebak..gomawo, gomapta, kamsahamnida..sayang author *peluk author*
    yg romantic part 8 di lnjut y chingu..pliss…kngen key.. *plakkk :d
    hwaithing buat ff.nya thor.. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: