[FF] Precious Thing *Part 17 of ?*   4 comments


Cast =

  • Onew SHINee
  • Kim Minji (Karakter fiksi)
  • Other SHINee member

Chapter 17

Should I Confess?

.

~Background Music: OST Playfull Kiss-Should I Confess~

Keesokan paginya, aku bangun kesiangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 kurang 21 menit. Gawat!! Aku bakalan telat di hari perpisahan ini. Untungnya aku sudah mempersiapkan barang-barangku sebelumnya.

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, karena hari ini adalah hari perpisahan kami, dan sesuai rencana kami akan menginap di penginapan khusus untuk acara ini!

Tok tok tok, pintu kamarku diketuk? Siapa ya?

“Yaaah! Apa kamu ga mau berangkat? Sudah jam berapa ini?” bentak Jinki, aku terkejut. Apa yang dia lakukan? Membangunkan aku? Ga mungkin, kan?

“Aku ga butuh pengasuh bayi!” sahutku cuek sambil pergi ke kamar mandi.

“Aku bukan pengasuh bayi…” gumamnya pelan sambil berlalu. Siapapun tau itu kan?

[Author POV]

Subuh itu, Jinki yang tidak bisa memejamkan matanya hanya menatap cahaya remang-remang matahari. Dilihatnya Minji keluar, mau kemana ia? Dengan hati yang penasaran, dan rasa yang tak bisa dibendung lagi ia mencoba mengikutinya.

Entah pergi kemana cewe itu, cewe yang kini mengisi hatinya. Entah sejak kapan, rasa benci di hatinya berubah. Bahkan dia sendiri tak sanggup merubahnya. Langkah demi langkah, dia menapaki jalan yang sama dengan Minji tanpa gadis itu tau bahwa ia mengikuti.

Percaya atau tidak, Minji adalah sepupu Luna. Hubungan yang sangat rumit, dan manakah yang harus ia pilih? Otaknya, pikiran rasionalnya memilih Luna. Di sisa umur Luna yang semakin menipis ini, dia ingin berada di sampingnya memberikan kebahagiaan. Tapi hatinya berkata, dia mencintai Minji! Rasa yang pertama kali dirasakannya, dia ingin mengejarnya. Kim Minji, seorang gadis yang begitu tegar dan sangat baik terhadap siapapun.

“Kenapa mencintaimu itu rasanya sakit?” Jinki menyentuh dadanya yang terasa perih.

[Minji POV]

Aku percaya bahwa cinta membawa kebahagiaan, tetapi ketidakmampuan mengatakan cinta hanyalah hukuman dari surga. Aku tau aku mencintaimu, tapi entah mengapa jika rasa ini ada hanya menyakitiku. Jika mencintaimu, hatiku sakit. Apakah hidup ini hanya ada cinta (air mata) yang membuat luka?

Setiap hari aku berusaha melupakanmu, demi Luna kulakukan segalanya untuk membuatmu bahagia. Luna, dia adalah gadis yang melakukan segala cara untuk mendapatkanmu. Seandainya saja, aku tak pernah melihatmu. Seandainya saja aku bukanlah diriku yang sekarang. Seandainya aku bisa hidup di kehidupan lain. Aku pasti ga akan pernah merasakannya, rasa perih begitu menyiksa jika aku di dekatmu. Rasa sakit yang entah kenapa, jika aku memikirkan Luna saat bersamamu. Should I suffer like this?

Air mata yang jatuh, aku tak peduli lagi dengan itu. Aku tak peduli dengan berapa banyak lagi air yang membasahi pipiku. Luna, hanya dia. Dia! Apa aku harus mengalah dan membiarkan Luna bersama orang itu? Kenapa aku malah berpikir seperti itu? Bukankah sejak awal memang aku sudah mengalah, tidak! Aku bahkan tak ada hubungannya dengan mereka. Kadang aku berpikir, kenapa hanya air mata Luna yang sangat berharga?

“Minji?!” panggil seseorang, suara ini? Aku lantas menghapus air mataku. Aku melihatnya menuju ke arahku, entah mengapa aku merasa hatiku ga siap. Hatiku ga bisa menerimanya, walau sangat ingin. Aku berlari menghindarinya, Oh tidak! Seberapa jauhpun aku berlari, aku tidak akan pernah menang. Perasaan sakit ini tak mungkin hilang seiring dengan jauhnya aku pergi. Aku menggenggam gelang pemberiannya itu.

“Yaaa!!” tau-tau dia sudah ada di depanku sambil berkacak pinggang.

“O my?” aku termundur saking terkejutnya, sekilas ia melihat ke arah gelang yang ada di pergelangan kananku. Aku jadi sedikit merasa salting. Lama kami berdua terdiam, apa yang ingin ia katakan? Kenapa hanya diam dan berdiri di depanku? Aku merangsek maju, tapi tangannya menarikku. Menarik tanganku dengan sangat erat.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” berusaha memberontak sambil menghindari tatapannya.

“Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu?” tanyanya.

“Apa? Haruskah aku? Lepasin aku!”

“Apa kau ga peduli denganku? Apa Minji benar-benar membenciku?” aku terkejut, apa maksudnya?

“A? Apa maksudmu!” dia menarik wajahku.

“Tatap aku Kim Minji, katakan kalau membenciku! Jika kau membenciku, tatap aku dan katakan! Jika kamu ga memerlukan aku, bicara sekarang!” matanya melotot sarat dengan emosi. Aku ga sanggup, air mataku kembali meleleh tak mau bekerjasama dengan otakku.

“Kau menangis sekarang? Apa segitu bencinya?”

“Jangan menangis!” bentaknya, namun bentakannya barusan membuat hatiku merasa senang. Setidaknya ia menghargai air mataku. Setiap waktu aku berusaha keras mengenyahkan perasaan ini, tapi aku tidak ingin membohongi diriku sendiri bahwa aku mencintaimu, Jinki! Aku ingin berada di sisimu, memonopoli dirimu hanya untukku seorang. Aku ingin dicintai olehmu, aku ingin kau hanya memanggil namaku saja.

“Aku…ya, aku membencimu! Karena itu lepaskan aku!” hatiku serasa menjerit mendengar pernyataan yang sangat berlawanan itu.

“Tatap mataku Minji!” bentak Jinki lagi, ia sangat tidak percaya bahwa gadis yang sangat dicintainya itu membencinya. Aku menatap matanya, batu obsidian jernih itu menatapku juga. Seperti berharap ini semua palsu ataukah ini hanya keinginanku ia berharap demikian. Dia milik Luna, Luna mencintainya sama sepertiku.

“Aku…aku membencimu!” jawabku akhirnya, air mataku berguguran. Rasanya aneh, seperti ada lubang di dadaku dan aku menambalnya dengan lubang-lubang yang lain.

“Bohong! Bohong, semua itu bohong!” sangkal Jinki.

“Aku tidak percaya, kau pasti berbohongkan? Jawab aku! Minji!”

“Apalagi yang kau mau Jinki? Memang adanya seperti itu! Kenapa kau memaksaku mengatakan semua ini! Kenapa? Kenapa kau tega sekali? Kenapa kamu begini kejam padaku?” jeritku. Jinki melepas cengkramannya padaku perlahan, ia mundur. Hatinya tercabik lagi.

“Jangan ganggu aku lagi, Jinki!” ucapku lagi sambil meninggalkannya. Apakah ini langkah yang yang mesti ku ambil? Tidak, tidak aku ga sanggup menempuh jalan ini.

“Berhenti!” seru Jinki, akupun berhenti. Dia berjalan perlahan menghampiriku. Aku berbalik.

“Apa lagi?”

“Aku tau, walau Minji membenciku sekalipun. Aku tetap menginginkanmu!” ujarnya lirih. Apa? Menginginkan? Detik itu juga aku serasa mau pingsan. Apa katanya barusan? O My God! Ini nyata??

“What are you talking about, Jinki? Don’t say such useless thing!”

“Useless thing?” dia tersenyum seolah mengejek.

“Aku tak peduli apapun yang orang lain katakan, selama Minji percaya padaku itu sudah lebih dari cukup! Karena aku menyukai Minji!”

“Makanya, hal yang paling membuatku sedih ialah ketika Minji ga ada di sisiku!” apa? Dunia serasa terhenti saat ia mengatakan itu, aku ingin mempercayainya. Dia menarik tanganku lagi, detik berikutnya yang kurasakan hanyalah sapuan lembut bibir Jinki yang menyentuh bibirku. Dia melumat bibirku dengan penuh emosi. Badanku tidak lagi berkoordinasi dengan otakku. Aku

memaki bahkan memerintahkan badanku agar pergi menjauhinya, memberontak dan melepaskan diri. Namun badanku kaku tidak bergerak.

“Jangan tinggalkan aku, Minji! Jangan katakan kamu membenciku…!” bisiknya. Sesaat kemudian, dia menarik tanganku sehingga aku jatuh ke dalam pelukannya yang hangat dan sangat erat! Air matanya menggesek rambutku, apa dia menangis?

Hening sesaat, sampai dia melepaskan aku. Dia menatapku lama, seolah memintaku menyelami isi hatinya. Tapi aku tak tahan dengan kebisuan ini, sehingga mendorongnya jatuh.

“Jangan bercanda Jinki! It can’t be!” ucapku ketus, aku berlari meninggalkannya seorang diri. Menangis dan berharap ini semua hanya mimpi, aku ingin terbangun.

“Kau dari mana saja Minji? Ketuamu itu terus-terusan mencarimu sepanjang pagi!” ujar HyoRin.

“Minji? Kau kenapa?” aku menjatuhkan diriku di pelukan HyoRin.

“A? Oh my, Minji? Gwênchanayo? Please pull yourself together.” HyoRin mencoba memapahku ke dalam kamar penginapan.

“Kau baik-baik saja?” HyoRin bertanya cemas, setelah memberiku minum. Aku mengangguk lemah.

“Gelang ini? Ini bukannya gelang dari si Jinki itu?” aku mengangguk lagi.

“Ceritakan padaku apa yang terjadi? Minji…”

“Tidak ada yang terjadi…” HyoRin menggeleng, dia memaksaku berbicara hingga untuk kesekian kalinya aku menangis. HyoRin membelaiku.

“Aku…aku mencintainya…mencintai orang itu!” isakku. Tangisanku malah membuat lubang di hatiku semakin membesar saja. Akankah aku mencintainya walau ini hanyalah mimpi belaka saja? Aku menangis dan terus menangis, hingga lelah dan tertidur. Namun, sampai kapanpun begitu aku bangun hari akan tetap seperti ini.

“Aku mengerti perasaanmu. Tapi bagaimana dengan sepupumu itu?” aku menggeleng, Luna maafkan aku. Aku mengkhianatimu dengan mencintainya.

Minho tersandar lemas di pintu kamar, setelah mendengar pembicaraan itu. Ternyata, cintanya memang bertepuk sebelah tangan dan dia tak sanggup lagi mengubahnya. Bagian terburuknya, kenapa harus Jinki?

“Hello?”

“Luna aku ingin bicara!” tukas Jinki.

“Oppa? Mau bicara apa? Dimana?” Luna pun segera bergegas menuju kafe yang di maksud, tanpa bertanya-tanya lebih lanjut tentang apa yang akan dibicarakan oleh Jinki padanya. Jinki tiba lebih dulu di kafe itu, dia tampak sedikit ragu. Apa benar dia akan membicarakan hal itu pada Luna?

“Oppa, mianhae. Kenapa?” Luna duduk, wajah Jinki yang cool itu tampak bingung.

“Oppa? Ada masalah?” Tanya Luna, Jinki lantas menggeleng.

“Lalu kenapa wajahmu seperti itu?” Jinki menggigit bibirnya.

“Aku ga tau mesti jelasin dari mana. Yang jelas…” Jinki menggantung kalimatnya, Luna semakin penasaran namun berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran negative.

“Aku menyukai Minji!” singkat Jinki. Air mata Luna kontan meleleh.

“Apa? Apa? Oppa! Kau bercanda, kan?” Luna berusaha menyangkalnya.

“Aku serius!”

“Ga! Aku ga percaya! Itu ga mungkin! Ga! Please oppa katakan semua itu bohong!” pinta Luna, Jinki hanya menggeleng.

“Aku menyukainya!”

“Ga! Kamu ga bisa melakukan ini padaku!” jerit Luna.

“Luna! Tenanglah!” pinta Jinki lembut, Luna menggeleng.

“Kenapa? Kenapa harus Minji? Bukankah selama ini kita cocok? Even last summer.”

“People changed, Luna. You should too! Aku bukanlah aku yang dulu, mengertilah!”

“Kamu…karena kamu ga pernah mencintai aku, kan?” bisik Luna di sela-sela tangisnya. Jinki berlutut di sampingnya.

“Dengar Luna, aku ga maksud membuatmu seperti ini. Kumohon mengertilah! Aku memang mencintaimu, kupikir begitu. Tapi, yang sekarang ada di hatiku hanya Minji!”

“Oppa…lalu harus kukemanakan perasaanku ini? Lagipula, bukankah kamu bukan orang yang mempedulikan perasaan orang lain.” Jinki mendesah, ini terlalu berat baginya.

“Luna! Benar, aku memang tidak pernah memperdulikan perasaan orang lain. Tapi aku bukan batu yang tidak punya intuisi atau persepsi.”

“Oppa…ga! Jangan buat aku seperti ini, ga!”

“You know what kind of person I am?” tukas Jinki ketus, saat dilihatnya Luna demikian menderita.

“Aku lebih lama mengenalmu daripada dia!”

“Itu ga menjamin segalanya Luna!” bentak Jinki, Luna menangis tersedu-sedu.

“Aku ingin bicara!” seru Minho yang tiba-tiba saja datang menginterupsi pembicaraan Jinki dan Luna yang sangat serius itu.

“Luna, aku ingin bicara dengannya sebentar. Kau pulanglah!” Lalu mereka meninggalkan Luna seorang diri.

“Luna? Dia pacarmu, kan? Kenapa dia menangis?” Tanya Minho pada Jinki.

“Itu bukan urusanmu!” singkat Jinki.

“Apa maumu? Mengapa seorang ketua Osis memanggilku ke sini?” ejek Jinki. Brakkk…Minho menjotoskan pukulannya kepada Jinki hingga terjengkal. Sama seperti sebelumnya di atap sekolah, hatinya begitu terbakar.

“Aku sudah bilang padamu! Jangan pernah mendekatinya lagi! Jangan pernah kau ganggu Minji lagi!” bentak Minho. Jinki bangkit lantas membalas pukulan Minho.

“Kau pikir kau pantas memukulku, hah? Memangnya kau siapa Minji? Kau bahkan bukan pacarnya!”

“Aku memang bersalah telah menyukai cewe yang kau suka lebih dulu. Tapi kau ini bukan siapa-siapa! Makanya, aku ga akan mengalah darimu!” gertak Jinki sambil berlalu, dia mengelap darah di bibirnya.

“Ketua apa yang terjadi pada pipimu?” seruku kaget saat melihat pipi bengkak ketua, kemudian aku melihat Jinki lewat sepintas. Tampaknya bibirnya juga bengkak. Apa mereka berantem lagi? Itu hal yang mustahil, kan! Tapi, kalau mengingat tempramen Jinki hal itu mungkin saja terjadi.

“Omo, ini parah sekali! Ketua, katakan padaku siapa yang telah menghajarmu?” Jinki berhenti lalu menatapku, aku berusaha membuang muka. Aku malu sekali, mengingat kejadian saat dia menciumku tempo hari.

“Apa orang itu yang telah memukulmu lagi?” tanyaku. Ketua menoleh ke arah Jinki yang berlalu.

“Katakan! Biar aku yang akan menghajarnya nanti!” ketua tertawa sambil mengelus kepalaku seperti biasanya.

“Tidak! Ini terantup lemari pada saat aku sedang mencari buku. Tiba-tiba listrik padam!” dusta ketua.

“Benarkah?” tanyaku, dia mengangguk. Oh begitu, ternyata pikiranku terlalu berlebihan.

Pentas seni sekolah berjalan dengan meriah, setelah paduan suara dan solo dari beberapa siswa kelas 3 yang sudah dites, akan ada band kolaborasi yang sangat ditunggu-tunggu. Minho sedang menyampaikan sambutannya, sebagai wakil dari siswa kelas 3.

“Akhirnya, pada hari setelah kita semua dinyatakan lulus. 3 tahun kebersamaan kita telah terbayar. Saya berharap setelah ini kita akan terus bersama, menghadapi hidup sesungguhnya yang telah terbentang di depan mata kita saat ini.”

“Walau kita akan terpisah jauh, tapi jarak bukanlah masalah kan teman-teman? Telah banyak kenangan manis beserta pahit telah kita lalui. Seperti kebersamaan, perkelahian, rasa cinta dan kehilangan.” Dia menatapku, tatapan yang sangat lembut. Tapi aku tak bisa menerima perasaan itu. Aku menunduk menghindari tatapannya. Ini sangat berat, apakah memang harus berakhir seperti ini?

“Untuk itulah, saya berdiri di sini. Menyampaikan setidaknya segelintir perasaan dan emosi dari kalian. Tapi satu hal yang pasti, hari ini bukanlah akhir dari segalanya! Ini adalah awal kita, awal bagi generasi kita untuk melanjutkan kehidupan yang akan kita jamah tak lama lagi. Kehidupan yang menjadi alasan mengapa kita berjuang hingga hari ini.” Dia tersenyum, teman-teman mulai meneteskan air matanya. Inikah namanya perpisahan?

“Maka, mulai dari sekarang. Mari kita raih apa yang telah kita dapat. Mari kita perbaiki, apa yang telah kita lakukan dan tetaplah tersenyum menatap masa depan!” tepuk tangan meriah mengakhiri pidatonya itu.

“Dan inilah saat yang kita tunggu-tunggu, pengumuman hasil polling kakak kelas ter-!” MC mengambil alih setelah ketua turun.

“Begitu mengejutkan lho teman-teman, ternyata banyak sekali orang yang memilih kandidat berikut dalam banyak kategori.” Aku dan HyoRin duduk di kursi penonton. Memangnya kapan di laksankan polling?

“Untuk kakak tercakep dan terpopuler, pemenangnya adalah?” siswa-siswi mulai bersorak menyerukan nama seseorang.

“Benar sekali, Lee Jinki!” hah?

“Ya ampun si Jinki menang!” seru HyoRin. Jinki naik ke atas panggung, aku menatapnya.

“Kyaaa! Jinki emang keren!”

“Jinki! Jinki! Jinki!”

“Jinki aku suka kamu!” seru fans-fans Jinki ramai, membuatku geleng-geleng kepala. Jinki lovers, entah apa nama grup pecinta Jinki itu.

“Untuk kategori berikutnya, kakak yang paling berwibawa…uhmm…” aku melihat Luna dan teman-temannya menghadiri pesta perpisahan sekolah kami.

“Choi Minho!” lalu MC itu membaca kategori yang selanjutnya, konsentrasiku telah terpecah. Perasaan bersalah ini tak henti-hentinya menyergap batinku. Maaf Luna, maafkan aku.

“Terima kasih pada para pemenang, selanjutnya adalah acara yang di tunggu-tunggu. Jinki Solo.” Semua lantas bersorak. Lagu yang di nyanyikan Jinki berjudul ‘Forever More’. Kata demi kata yang terucap megah, sangat menyentuh hatiku. Terutama pada saat dia ucapkan,

“That Forever more I’ll be the one to love you. When u need me I’ll be there to make u smile….” benar-benar membuat hatiku sedih. Aku menggigit bibirku menahan air mata agar tidak jatuh, tapi apa daya lirik-liriknya sangat menyentuh hatiku. Padahal, aku sudah sangat sering mendengar lagu ini, tapi jika aku mendengarnya dari Jinki rasanya seperti dia sendiri yang mengatakan hal itu padaku. Namun, sepetinya tidak cuma aku yang terpengaruh akan lagu itu, yang lainpun ikut terhipnotis dalam suatu irama dan melodi yang selaras.

“Ini lagu terakhir, terkhusus untuk seseorang yang ada di hatiku. Orang yang keberadaannya membuatku merasa berbeda. Mungkin dia bahkan ga tau, atau ga mengerti apa yang kurasakan. Tapi aku berharap, sekali ini ia bisa mengerti.” Ujar Jinki lirih, suaranya menggema di seluruh Aula. Hiruk pikuk pesta kelulusan menjadi senyap seketika. Musik mengalun lembut, lagu yang benar-benar familiar di telingaku.

“My Love.. There’s only you in my life. The only thing that’s right..” Gumamnya merdu, menatapku lurus tanpa kedip! Perlahan dia berjalan, sambil menyanyikan baris demi baris lagu tersebut.

“My first love.. You’re every breath that I take. You’re every step I make” Dia berjalan menghampiriku, semua orang terdiam dan terpana dengan merdunya suara Jinki melantunkan syair lagu tersebut.

“And I.. I want to share all my love with you.…No One else will do” dia memegang tangan dan menarikku dari tempat dudukku.

“And ur eyes.. they tell me how much u care. Yeahh..U will always be my endless love…” perlahan dia menarikku ke atas panggung lalu memberiku sebuah mike. What? Apa ia menyuruhku nyanyi? Aku memang tau lagu ini, tapi aku kan ga hapal?

“Two hearts.. two hearts that beat as one.. Our lives have just begun”setelah ini giliranku, apa yang harus kulakukan? Aku mencoba mengingat-ingat liriknya.

“And forever I’ll hold u close in my arms.. …?” aku berbisik, sangat bingung. Jinki menyentuh bahuku, mencoba merilekskan. Kemudian ia membantuku di lirik berikutnya.

“I can´t resist your charms …” dia tersenyum menggoda. Aku merasa lebih rileks dan bisa menatap matanya.

“And love.. I´ll be a fool for you, I´m sure.. and you know I don´t mind” aku mulai percaya diri dan bernyanyi lebih keras.

“And yeah.. You mean the world to me.. I know.. I´ve found in you.. My endless love ” kami bernyanyi bersama. Suasana senyap, hanya musik dan suara kami menggema mengalun lembut.

“Oooh, and love.. I´ll be a fool for you, I´m sure.. and you know I don´t mind … And, YES.. You´ll be the only one.. Cause NO one can deny.. This love I have inside.. And I´ll give it all to you.. My love.. My love.. My love..” hening sesaat, dengan penutupan yang begitu megah, ia menyanyikan sebaris lirik yang begitu menyentuhku.

“My Endless Love…” dia menatapku dalam, aku meneteskan air mataku haru. Tepuk tangan riuh menyambut penampilan luar biasa kami.

“I’ll prove it, that the person who is living in my heart is you. The one and only you…” ia berbisik, dan membuat tubuhku bergetar. Aku benar-benar tak tau harus bagaimana, aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Tapi…

“Jinki….?” panggil seseorang, kami menoleh. Luna!! Wajahnya sangat pucat dan tiba-tiba. Brukk…dia terjatuh.

“Lunaaaaa!!!”

TBC~

a/n:

sorry ya kalo jalan ceritanya ga sesuai harapan. ni ff lama nd gue males ngeditnya..huehehe



Posted 2 Mei 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , ,

4 responses to “[FF] Precious Thing *Part 17 of ?*

Subscribe to comments with RSS.

  1. onnie lagu yg d nyanyiin minji n jinki itu jdul y ap?
    bgs bgt inti lgu y

  2. chingu.
    kagak ngerti nih jalan ceritanya.
    d part sblmnya kan onnie msh rmh skt nih,
    pas di lanjut ke part slanjutnya kok critanya beda??
    trus th pas minji ke kamar mandi, tiba2 ke subuh lg.

  3. Aaaakkhh…! Luna merusak suasana *.*˙
    Onnie, jgn malas nulis dong.
    Semangaaaaatt….*

  4. @sss : he.em chingu, aq jg smpet g ngrti. Tp gpp, author daebak, keren.. pgn nangis dah akunya…😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: