[FF] Precious Thing *Part 16 of ?*   3 comments


Annyeong shawol..

How are u today?

Hope u guys r in good mood ^^

Ok,, ini dia update-an PT huahaha..

mian ya chingu gue lama bgt post-nya..

Terutama buat chingu sss yg nagih2 tuh..

Ud gue post nih, lunas deh hutangnya.. So, sering2 mampir yaa nd jgn lupa komennya😄

.

Cast =

  • Onew SHINee
  • Kim Minji (Karakter fiksi)
  • Other SHINee member

Chapter 16

Just The Way You Are

.

~Background Music: Bruno-Just The Way You Are~

“Sesuai keputusan yang pergi ke acara camp itu masing-masing perwakilan basket SMA putra-putri, Kim Minji dan Lee Jinki. Ada pertanyaan?” aku terkejut dan lantas mengangkat tangan.

“Ya Minji?”

“Saya rasa itu terlalu makan banyak ongkos lagipula, sepertinya cukup satu perwakilan saja. Bukankah di selebaran itu tertulis peserta camp hanya 1 orang perwakilan dari sekolah.”

“Memang begitu, tapi kamu ini kan anggota basket putri. Maka harus ikut sebagai hadiah dari kemenangan sekolah kita berturut-turut dalam kejuaraan musim kemarin. Makanya kalian ber-2 diutus untuk survey tempat dan sekalian mengikuti kegiatan camp ini.” Terang Pembina Osis, aku mengangguk.

“Lagipula, jika hanya satu orang yang ikut. Akan sedikit merepotkan.” Tambah guru kesehatan.

“Di sana juga ada lapangan, dan onsen. Jadi kalian bisa berlatih di sana!”

“Ini sudah keputusan bersama, jangan masukkan perasaan pribadi dalam kegiatan ini. Karena ini adalah kegiatan untuk sekolah, kalian mengerti?” tambah Kim Songsaang, seperti menyindir saja.

“Jadi untuk akomodasi dan transport kita kesana bagaimana?” Tanya Jinki mengalihkan.

“Ada ide?” Tanya Pembina Osis lagi.

“Bagaimana kalau naik mobil Osis saja?” usul Kim Seongsaangnim. Semuanya lantas mengangguk. Aku tidak begitu focus lagi mengikuti rapat. Aku tau ini demi sekolah, tapi…aku harus bareng dengan Jinki? Tak lama kemudian rapat selesai.

“Minji!” panggil seseorang. Aku menoleh, dan tersenyum.

“Kenapa wajahmu terlipat seperti itu?” goda ketua. Aku tersenyum simpul.

“Nanti akan menjadi hari yang berat, latihan dan semacamnya!” sahutku lemah.

“Semangat dong! Nanti setelah urusan kalian selesai, kita kan bisa jalan-jalan!” ajak ketua, aku mengangguk. Yah buat apa aku merasa aneh? Inikan hanya camp yang merupakan kegiatan sekolah. Walaupun perasaanku akhir-akhir ini ga jelas pada Jinki, toh aku masih punya ketua yang care sama aku. Aku dan Jinki, entah dimana batas teman dan musuh. Benar-benar tidak jelas. Walau aku senang berada di dekat ketua, tapi jika bersama dengan orang itu…perasaanku jadi sedikit aneh.

“Hah? Kalian ber-2? Ikut camp? Hanya kalian?” Tanya HyoRin ketika aku sampai di kelas.

“Ya, memang begitulah keadaannya!”

“Haaa? Aduh inikan berbahaya, sekolah gimana sih? Habis orang itu kan, so cruel! Really really cruel and scary!”

“Inikan cuman acara biasa, jangan ditanggapin berlebihan donk!”

“Apa kamu ga apa-apa? Bukankah kalian ga bisa bekerja sama? Pokoknya kalau orang itu macam-macam padamu, kasih tau aku. Biar kuberi perhitungan dia!” aku tertawa.

“Ne? Tenang aja, setelah acara camp selesai. Ketua bakal datang kok!”

“Apa? Minho bakal datang? Oh itu sangat bagus donk! Kalian itu benar-benar serasi, lupain aja makhluk itu. Kalian kan bisa kencan!”

“Hah? Dasar!” aku mencubiti lengan HyoRin gemas, dia tertawa menahan sakit.

1 malam 2 hari, memang lumayan lama. Tapi aku kan sudah terbiasa dengannya karena 1 rumah.

Besoknya, kami menyusuri pertokoan di sana. Entah mengapa beberapa terakhir ini, aku merasa Jinki berubah drastis. Ia jadi lebih lembut dan perhatian walau terkadang masih menyebalkan sih.

“Bagaimana kabar Onnie, ya?”

“Hmm? Lupakan aja makhluk itu! Bisa-bisanya dalam keadaan hamil malah bepergian, ga ada yang menemani lagi.” Sahut Jinki dingin.

“Hei! Padahal kamu menyayangi kakakmu, kan? Kenapa bicara begitu?” tanyaku lagi, wajah Jinki memerah.

“Bodoh! Siapa bilang?”

“Ha! Ha! Ha! Ketahuan dari wajahmu tau!” dia menarik pipiku dan mencubitnya.

“Aw sakit tau! Pabo!” kesalku sambil memukuli tangannya.

“Rasakan! Makanya jangan suka menggodaku, Minji!” ujarnya tersenyum jahat. Aku menggembungkan pipiku, dia menghela tawanya.

“Rasanya ada yang berbeda darimu, Jinki! Apa kau sakit?” candaku. Dia tersenyum mengejek.

“Kalau di sekitarmu, semua orang pasti bisa seperti itu!” jawabnya santai. Hah? Apa maksudnya?

“Apa?” tanyanya galak. Aku mulai memandang berkeliling, pertokoannya sangat ramai. Aku merasa banyak sekali yang memperhatikan kami, tapi setelah ku perhatikan ternyata Jinkilah yang mereka lihat sejak tadi. Apa dia sepopuler itu?

“Sepertinya banyak yang mengincarmu!”

“Hah?” aku jadi malu sekali setelah mengatakannya, pasti dia bakal berpikir yang aneh-aneh deh.

“Pabo! Payah!” gumamku sebal. Na nûn pabo pabo pabo!

“Eh? Itu, bagus banget gelangnya!” sahutku mengalihkan pembicaraan. Jinki melihat apa yang kutunjuk. Sebuah gelang perak yang ada bintangnya, manis sekali.

“Ini? Gelang? Memangnya kamu perempuan?” ejeknya, aku mendengus.

“Tentu saja aku perempuan, kau buta ya? Ketua saja bilang aku ini cantik!” sahutku bangga.

“Ya, terserahlah! Perempuan kasar yang suka memukul orang lain sepertimu ini cantiknya dari mana sih?”

“Aish menyebalkan!” rajukku.

“Mungkin ketuamu itu yang buta!” ejeknya lagi.

“Kamu kenapa sih? Jangan mengatainya seperti itu!”

“Ne, terserah Minji saja!” ujarnya kesal, lalu kami tak banyak bicara lagi. Apa dia kesal padaku? Apa aku salah ngomong lagi? Apa yang harus kulakukan? Aku benci kebisuan seperti ini.

“Jinki, kita foto yuk!” ajakku dengan segala keberanian yang kupunya.

“Hah?”

“Foto di sana!” tunjukku, di tempat yang sangat ramai.

“Shiro! Seperti anak kecil saja foto sama badut!” tolaknya, aku menggembungkan pipiku.

“Itu bukan badut dasar payah! Itu mascot kota ini tau! Kan bisa jadi kenang-kenangan kalau kita pernah ke sini!”

“Kubilang ga ya ga! Lagipula di sana terlalu banyak orang!”

“Aish, so what? Banyak orang aja kok, memangnya kamu malu ya?

“Kamu ga malu?” tanyanya balik, aku menggeleng. Ekspresi wajahnya berubah, aku jadi salah tingkah sendiri.

“Kalau ketuamu tau, dia pasti bakal salah paham!” gumamnya pelan.

“Loh? Salah paham kenapa? Kan cuman foto doang!” jawabku ga mengerti.

“Minji dengar! Aku ga mau berfoto di sana, karena semua orang di sini berpikir kita ini seperti pasangan kekasih! Andwae!” sahutnya lagi, apa? Pasangan kekasih? Entah kenapa, kata-katanya barusan begitu menusuk hatiku.  Rasanya sakit sekali, dia tidak mau berfoto denganku karena tidak mau dianggap pasangan. Karena ia ga mau denganku, dia benci padaku. Kukira dia berubah, bahkan aku berharap padanya. Tapi…

“Minji, baik-baik aja?” ia bertanya dengan ekspresi khawatirnya. Apa-apaan dia? Apa ia ga sadar sudah menyakiti hatiku? Kenapa memperdulikanku lagi? Jangan begitu, berhenti bersikap sepertiku Jinki! Kalau memang ga perasaan apa-apa jangan  bersikap seperti itu. Jangan buat aku seperti ini.

“Ah ha! Ha! Ha! Kamu benar Jinki, aku konyol banget ya?” tukasku lalu melanjutkan perjalanan. Aku kenapa sih? Kenapa aku begini? Kenapa perasaanku seperti ini? Kenapa rasanya perih sekali mendengar pernyatan itu? Padahal selama ini kupikir aku menyukai Minho, tapi kenapa sikap perhatian Jinki membuatku jadi bimbang akan perasaanku sendiri. Apa yang harus kulakukan?

I only said it because I wished to smile.

Why can’t you understand how I feel?

I promised myself but again, Im crazily in love.

Its gripping me viciously and controlling me.

I am standing where you left

And I am still watching you

It hurts so much when will we ever

Become strangers?

Aku terkejut, menyadari sekelompok pemusik sedang menyanyikan lagu yang begitu sedih. Jinki berhenti ketika melihatku berhenti.

“Kamu lelah?” aku mengangguk. Kami duduk di kursi taman, aku memperhatikan sekelompok penyanyi itu lagi.

“Hei, cowok itu cakep banget ya?” bisik cewe-cewe di dekat pohon ketika melihat Jinki, kulirik Jinki yang tetap stay cool. Lagi-lagi.

“Tatapannya ga nahan! Lihat deh, manis ya kayak bintang film aja!” seru yang satu lagi.

“Bukan! Rada mirip artis itu lho! Siapa namanya? Onew?”

“Eh iya ya! Eh siapa itu yang duduk di sebelahnya? Pacarnya ya?”

“Masa sih? Ga COCOK banget deh!” lalu mereka tertawa cekikikan, ugh! Aku jadi makin sebal mendengarnya. Jinki mungkin juga berpikir seperti itu, aku ini ga bakal pantas untuknya. Aku ini sama sekali ga manis dan kasar! Aku berbeda dengan Luna yang kalem dan sangat cantik. Kalau mereka berdua, mungkin jadi pasangan sempurna di dunia ini. Kenapa lagi-lagi hatiku terasa nyeri ya?

“Aku mau ke sana sebentar!” sahut Jinki, aku tidak mendengarnya terlalu sibuk dengan pikiran-pikiranku.

“Eh ternyata bukan pacarnya, ya? Haha bagus deh, kasihan yang cowo dong! Bakal MALU jalan sama cewe itu!” bisik mereka lagi, membuat aku benar-benar naik darah. Aku berkonsentrasi dengan para pemusik jalanan itu.

You, you probably dont know

Little by little, we are disappearing from you

even if I put you back in my life

because my heart is worn out

Words like love

Are starting to fade away

Aku jadi terharu dengan lirik-lirik lagu tersebut. Maknanya dalam, mereka benar-benar pemusik berbakat.

“Eh jadi nama kamu Jinki?” aku menoleh, ternyata cewe-cewe itu lagi. Mereka sedang bicara dengan Jinki. Namun Jinki tidak begitu menggubrisnya.

“Siapa sih cewe itu!” tunjuknya pada Jinki, Jinki melihat ke arahku. Aku langsung membuang mukaku dengan perasaan tak karuan. Kenapa Jinki bicara dengan mereka sih? Kukira Jinki itu cowo cool ternyata dia sama dengan yang lain, playboy! Aku benar-benar tidak suka melihatnya ngobrol dengan segerombol perempuan aneh yang suka menggodanya itu.

The pain doesnt wash away

Although I tried several times to endure it,

Its so hard to live day by day without you.

You’re my life…

“Temanku!” jawab Jinki dingin, aku tak tau kenapa lagi. Kenyataan menghujam hatiku. Ugh! Apa baginya keberadaanku ini hanya teman? Ah benar juga bodohnya aku, mana mungkin Jinki punya perasaan lebih padaku. Itu mustahil kan? Aku tau itu, tapi kenapa air mataku jadi menetes?

“Yang paling special dalam hatiku!” gumam Jinki dalam hatinya, dia terus berjalan tanpa memperdulikan cewe-cewe itu lagi.

Aku menunduk, jangan sampai ada yang melihatku seperti ini. Aku benar-benar bodoh, sampai baru sadar bahwa aku bukan apa-apa bagi Jinki. Hanya aku yang egois memikirkannya, marah padanya dan menangis sendiri karena aku menyukainya. Aku menghapus air mataku, menghilangkan jejak dan kembali berkonsentrasi dengan para pemusik yang memainkan lagu lain.

“Minji suka musik ya? Ini, haus kan?” tiba-tiba Jinki berdiri di depanku, dia membawa 2 cone ice cream. Ya ampun! Aku lengah, aku jadi bahagia lagi.

“Gomawo…” bisikku. Jinki tolong jangan bersikap begitu baik padaku, kalau aku salah menanggapi bagaimana? Aku ga tanggung loh kalau aku makin menyukaimu nantinya. Jangan memberiku harapan kosong padahal aku bukan apa-apa bagimu.

“Jangan sedih begitu donk!” dia tersenyum menggodaku, hingga lagi-lagi membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku menggelengkan kepala.

“Aniya, buat apa aku sedih?” tanyaku bodoh. Jinki berlutut di depanku, ia mengangkat wajahku dan menatapnya penuh arti. Oh my, aku ga bisa menatapnya lagi. Aku tau aku konyol, kenapa bisa memiliki perasaan seperti ini. Perasaan yang bahkan aku ga mengerti.

“Minji ga perlu mendengarkan omongan mereka! Cukup jadi Minji yang selama ini kukenal saja!” Deg! Deg! Deg! Jantungku terus berpacu kencang. Wajah Jinki sangat dekat denganku. Aku jadi sulit bernapas.

“Ah aniya, aku ga apa-apa kok!” aku menunduk menyembunyikan wajahku yang merah padam. Jinki berdiri lalu duduk kembali di sebelahku.

“Jangan bicara pada mereka lagi!” tukasku tanpa sadar. Aku langsung menutup mulutku.

“Mwo? Minji cemburu?” goda Jinki, aku menggigit bibirku. Dia selalu mempermainkan perasaanku. Ia menoleh dan perlahan mendekatkan wajahnya padaku.

Haruskah aku jujur kalau aku memang cemburu? Ani. I will never tell him..!!

“Dasar payah! Mana mungkin aku cemburu! Memangnya apa alasanku mesti cemburu!” wajah Jinki sekilas terlihat sedih lalu tertawa lagi.

“Karena aku punya banyak fans yang ga sebanyak dirimu!” oloknya. Dasar! Jadi itu yang dipikirkannya? Ugh!

“Aish, pabo!” semburku sambil berdiri lalu berlari meninggalkannya.

“Hei, Minji! Kalau lari seperti itu nanti kakimu sakit lagi, lho!” seru Jinki di belakangku, aku tak tahan lagi. Kenapa ia bersikap seperti itu padaku? Apa aku pantas? Bukannya ia bakal malu kalau jalan sama aku?

“Ah aw!!” Aku menabrak seseorang! Aish bodoh sekali sih aku!

“Mian…? Hah? Ketua?” seruku tiba-tiba. Ketua berdiri di depanku, tersenyum manis. Aku menjadi sedikit lega bertemu dengannya, melihat senyumnya.

“Annyeông lil dot!” sapanya ramah. Jinki yang ternyata mengejarku, berhenti.

“Oh hai Jinki-ssi!” sapa ketua ramah, tapi Jinki malah mengacuhkannya. Kenapa sih dia? Sikapnya jadi berubah.

“Kau mau jalan-jalan?” ajak ketua. Aku mengangguk bersemangat, lalu menoleh ke arah Jinki. Wajahnya sangat cuek, dan terlihat bosan.

“Jinki ikut?” tanyaku, dia menatapku aneh.

“Shiro!” pendeknya lalu berjalan mendahului kami.

“Aish, dia kenapa sih? Moody banget jadi orang!” dumelku sebal. Ketua tersenyum, namun ekspresinya sedikit aneh.

“Tak usah dipikirkan! Kajja!” dia menggandeng tanganku ke arah yang berlawanan dengan Jinki, aku menoleh ke belakang mencari sosok Jinki. Namun bayangannya hilang ditelan keramaian kota. Apa aku sudah membuatnya kesal ya? Seharusnya aku mengajaknya jalan dan bersenang-senang tadi! Karena dia telah membuatku senang.

“Kamu baik-baik saja?” tanya ketua mengejutkanku, ekspresinya terlihat khawatir. Aku menggigit bibirku.

“Aniya, ayo kita jalan!” sahutku ragu. Dia tersenyum kembali, aku tak boleh membuatnya khawatir lagi.

Ddddrrrttt….dddrrrtttt…getar Hpku mengejutkanku ketika tengah berjalan bersama ketua. Aku mencari-carinya dengan buru-buru.

Jinki is calling…aku terkejut, kenapa?

“Yobose…”

“Pulang sekarang!”

“Hah?”

“Noona masuk rumah sakit, kandungannya terancam!”

“Mwo????” Onnie? Kenapa?

“Kutunggu di depan penginapan!” Jinki mematikan teleponnya.

“Ada apa Minji? Wajahmu pucat? Gwênchanayo?” tanya ketua.

“Onnie…Onnie masuk rumah sakit!” air mataku mengalir pelan.

“Apa? Kita harus ke sana! Ayo, aku bawa mobil!” ketua menarik tanganku, aku melepasnya tanpa sadar.

“Waeyo Minji-ah? Ayo pergi!” ajak ketua lagi, aku mengeras. Entah mengapa aku jadi serba salah.

“Andwae, ketua! Aku…”

“Minji??”

“Mianhae ketua, aku ga bisa pergi bersamamu! Jinki menungguku!”

“Hah? Kamu mau balik ke penginapan? Itu akan memakan waktu, Minji!”

“Andwae! Aku, aku harus menemuinya!” aku berkeras, membayangkan wajah Jinki yang pucat, dia adalah satu-satunya orang yang paling menyayangi Onnie. Dia pasti kalut dan khawatir banget sekarang. Aku ingin bersamanya, di sisinya, menemani dan menghiburnya. Aku ingin bersama Jinki. Aku melepas pegangan ketua dengan paksa lagi lalu meninggalkan dirinya sendiri. Aku tau aku egois, seenaknya dan begitu bodoh. Tapi entah mengapa aku ga bisa membiarkan Jinki sendiri. Kekhawatiranku pada Jinki jauh lebih besar ketimbang pada Onnie. Maafkan aku ketua. Aku menyesali diri meninggalkannya.

“Jadi kau memilih bersamanya…?” Minho berbisik pedih, dia tau jawaban yang semestinya. Kenapa harus Jinki? Tapi ia mencoba berbesar hati, Minji adalah cewe yang sangat baik. Terhadap siapapun itu, bahkan pada Jinki sekalipun.

Pandangan mataku mengabur, aku harus bagaimana? Hujan rintk-rintik menghalangi pandanganku, Jinki…Jinki..hanya itu yang ada dipikiranku. Mungkin dia sudah meninggalkanku, tapi aku tak peduli apapun sekarang.

.

.

TBC~

a/n:

what did u think guys??? Aneh? gaje? Jelek? ga banget? huaaa >,< komen yaaa




Posted 2 Mei 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , ,

3 responses to “[FF] Precious Thing *Part 16 of ?*

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ceritanya dh cukup bagus. Cuman pendeknya tu lho…. * >< *

  2. kyaa…antara minho dan jinkii.. >_<" *abaikan

    minji pilih jinki…!! aq pilih onew…!! *plakkk* abaikan hihihi

    lanjut bacaa… gomawo thor bwt ff.nya yg daebak…!! suka bgt.. *peluk author😀

  3. Oimo miaan ini ceritanya sama kaya di here i go part 8 kalo ga sala. Critanya si baro beli ice cream juga. Trus ada egerombolan cewe” nyebelin.persis sama plotnya😦 aduh authorrr wae? Lagi banyak masalah ya *hwaitin*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: