[FF] Precious Thing *Part 14 of ?*   4 comments


Cast=

  • Onew SHINee
  • Kim Minji (Original character)
  • Other SHINee member

Chapter 14
Game On

.

.



~Background Music: SHINee-Stand By Me~

Mataku terpaku pada jam dinding, menghitung detik demi detik. Tapi semakin lama, aku merasa semakin bosan. Ini sudah terlalu lama. Hampir jam 7, jika orang itu tidak keluar juga. Aku akan membangunkannya dengan air panas. Aku menunggunya lebih lama lagi, namun tak terdapat tanda-tanda dia sudah bangun. Akhirnya aku menyerah dan mengambil spatulaku.

“Lee Jinkiiii!! Jika 5 menit lagi kamu ga keluar aku akan membangunkanmu dengan air panas!!!” teriakku di depan kamarnya sambil menggedor-gedor pintu.

“Jinkiiii!!! Kamu tau kesabaranku itu ada batasnya? Kamu pikir aku ini apa? Pembantumu? Pengurus bayi? Yang harus membangunkanmu setiap pagi? Hei!!!” omelku kesal. Tak lama kemudian pintu terbuka. Seseorang menubrukku, hingga terjatuh.

“Hya…Hya, omma!! O my, apa yang kau lakukan?” aku berusaha menjauhkan orang itu, tapi tidak bisa. Hei, dia bukan Jinki! Lantas siapa?

“Si…siapa kamu?” aku berteriak ketakutan. Orang itu memegangi rok sekolahku. Aku bahkan ga bisa memindahkannya.

“Hyaaaa….Jinki!! Jinki!!” aku berteriak-teriak.

“Kamu cantik juga, pacar Jinki ya?” Tanya orang itu, mencoba mendekati wajahku.

“Kyaaa!! Sialan! Jinkiii!!!” jeritku lagi. Aku berusaha memberontak. Mana sih si Jinki? Cowo itu malah memenjarakan kedua lenganku, aku benar-benar tak berdaya.

“Help! Jinkiii! Jinkii!!” jeritku sekuat tenaga, kenapa aku malah memanggil nama Jinki mati-matian ya?

“Hey you are so noisy!! O my?? Hya what are you trying to do, you rascal?” Jinki langsung menarik temannya dan memukulinya.

“Jin…Jinki! Udah, udah!” aku menarik tangannya ketika melihat wajah temannya mulai membengkak. Aku memeluk Jinki dari belakang sampai perasaanku merasa lebih baik.

“Kamu ga apa-apa?” bisiknya, dia membiarkanku tetap memeluknya seperti itu.

“Hah? Ya ampun! Maaf aku ga sadar!” aku buru-buru melepasnya, dan menjauh.

“He drunk!” sahut Jinki, sepertinya kesal? Lantas ia langsung pergi ke kamar mandi.

“Hya, you jerk! What are you trying to do? Kenapa membawa mereka kesini? Mentang-mentang Onnie ga ada di rumah!” aku menarik tangannya, dia mengibasnya.

“Heh, look! This is my home; it’s up to me to do everything here! Noisy girl!”

“Memang ini rumahmu, tapi yang jadi korbannya aku! Kamu ga lihat dia hampir melakukan apa padaku? Dasar cowo bodoh! Ga punya otak!” bentakku, aku langsung pergi. Huh! Pagi-pagi sudah bikin kesal orang. Tapi untuk sesaat, dia membuat perasaanku lebih baik.

Setelah menyiapkan sarapan pagi aku langsung masuk ke kamar sebentar. Begitu berbalik kulihat Jinki sudah duduk di meja makan dengan tenang. Dua orang temannya tadi entah kemana perginya. Tanpa berkata apa-apa aku langsung duduk disebelahnya. Dia sedang melahap masakan buatanku, apa rasanya seenak itu? Aku meliriknya dengan tersenyum menang.

“Apa yang kamu mau?” tanyanya berhenti menyuap ketika menyadari aku memperhatikannya mulai tadi.

“Aniya, aku hanya mau tanya!” dia kembali mengacuhkanku dengan terus menyuap makanannya.

“Apa rasanya enak?” tanyaku percaya diri. Dia berhenti makan, wajahnya sedikit merona.

“Hah? Ini? Sama sekali ga enak!” singkatnya, aku mengerucutkan bibirku.

“Lantas kenapa kau makan?” rajukku.

“Aku bercanda kok, ini enak!” dia tersenyum, apa? Apa aku ga salah lihat? Kenapa dia tersenyum padaku? Jangan-jangan dia sudah gila?

“Jangan menatapku seperti itu, aku jadi ga nafsu makan!” sindirnya lagi membuatku tersadar akan keterkejutanku. Aku menggembungkan pipiku, walau dia tampan tapi tetap saja menyebalkan. Aku mulai makan sarapan pagiku.

“Kalau makan seperti itu kamu bisa terlambat lho, Minji!” Jinki yang sedang mencuci tangan memperingatkanku. Oh ya! Aku kan naik bis kota, kalau ga cepat aku bisa terlambat. Setelah mencuci piring aku langsung berlari-lari ke pintu depan. Ini gara-gara Jinki bikin ulah pagi-pagi, sih!

“Cepat naik!” perintah Jinki, lagi-lagi membuatku terkejut. Dia duduk di atas motor, dan menggunakan helm. Walau Cuma tampak matanya, dia tetap terlihat cakep.

“Yaa! Tunggu apa sih? Kamu mau terlambat?” sahutnya lagi. Aku langsung duduk dengan perasaan tidak yakin. Jinki kalau mengendarai motor kan mengerikan.

“Jam berapa sekarang?” tanyanya.

“Ne? jam 7.17!”

“Masukan jam 7.25 ya? Baguslah kalau begitu! Pegangan yang erat!” sahutnya lagi.

“Eh apa? Kenapa aku harus?” tanyaku bodoh, tiba-tiba motornya bergerak dengan sangat kencang!

“Kyaaaa! Ini terlalu cepat Jinki!!” aku memeluknya erat, sepertinya kami bakalan jatuh deh.

“Ha! Ha! Ha!” kudengar tawanya yang menyebalkan, dasar tidak waras..

“Kau mau kita di tilang ya? Pelan-pelan juga bakal sampai kok! Memang kamu punya nyawa berapa?” aku mulai marah-marah ga jelas, tapi tetap saja berpegangan erat.

“Tenang aja, aku ga akan biarkan Minji kenapa-kenapa kok!” gumam Jinki pelan. Jinki terus melaju kencang secepat detak jantungku saat ini. Aku mulai kesulitan bernapas dan baru sadar bahwa aku memeluknya terlalu erat. Aku mengendurkan sedikit peganganku padanya. Rasanya aneh, jantungku berdebar-debar kencang bukan karena aku takut. Tapi ini perasaan yang biasa kurasakan ketika bersama Jinki. Kami sampai di depan gerbang sekolah dalam waktu kurang dari 7 menit. Padahal perjalanan pada umumnya memakan waktu sekitar 15 menit.

“Ah terima kasih!” aku langsung turun, jantungku berdebar makin kencang ketika melihatnya membuka helmnya. Wajahnya yang begitu teduh dan sangat cakep! Aku buru-buru membuang pandanganku, kenapa aku begitu lengah hingga memandangnya? Wajahku bersemu merah, aku jadi kesulitan bernapas.

“Minji baik-baik saja?” dia bertanya dengan khawatir, dia memegang wajahku. Deg! Deg! Deg! Jantungku serasa mau meledak. Namun tubuhku tak bisa bergerak.

“Wajahmu merah, kamu mau ke ruang kesehatan?” ekspresi khawatirnya membuatku semakin tak bisa berkata apa-apa. Dia tetap cakep dalam ekspresi apa saja.

“Aku ga apa-apa! Lepas!” aku mengibaskan kedua tangannya, lalu berlari menghindar. Aku tak tau harus berbuat apa, harusnya aku tak begini. Apa yang terjadi padaku?

“Aku ga salah lihat? Kamu berangkat bareng Jinki?” tanya HyoRin membuyarkan pikiranku.

“HyoRin? Begini.. aku…” entah mengapa aku jadi sulit bicara.

“Kamu kenapa?”

“Ah, aniyo! Kajja!” aku mnggandeng tangannya ke kelas. Sampai di kelas, aku duduk dan perasaan ga tenang kembali menjalar di sekujur tubuhku. Tiba-tiba Jinki duduk, aku refleks langsung menjauhinya.

“Minji!” panggilnya, aku menoleh sekilas.

“Aku ga mengerti!”

“Apa aku membuatmu takut?” tanyanya lagi, aku menggeleng cepat.

“Kenapa tidak mau melihatku lagi?” tanyanya seperti ragu. Aku menggigit bibirku, bukan seperti itu Jinki! Kamu ga salah, akulah yang salah. Entah mengapa aku ga bisa menatapmu lagi. Perasaanku berkecamuk setiapku melihatmu. Bernapas jadi lebih sulit dan sekarang aku benar-benar tak tau harus berbuat apa.

“Yah, maafkan aku!” Jinki bergumam lalu membuka bukunya, aku tetap membelakanginya dengan perasaan yang tak menentu.

Selama pelajaran, aku sangat sulit berkonsentrasi. Ada apa denganku? Kenapa aku harus merasa seperti ini? Ada yang salah dengan perasaanku? Aku harus melupakannya, aku harus!

Bel istirahat berbunyi, aku langsung cepat-cepat pergi ke gedung olahraga. Setelah berganti pakaian, aku langsung melakukan pemanasan. Yoona menyapaku, lalu tersenyum.

“Ga main-main tinggal 2 hari lagi, lho!” komentarnya, aku mengangguk.

“Bagaimanapun, kita harus siap!” sahutku tersenyum sambil mengikat rambutku.

“Ku dengar hadiahnya bagus lho!”

“Aku ga mengharapkan hadiahnya sih, well. Not at all!” tim putri langsung berkumpul ketika aku masuk ke lapangan.

“Game On!” seru kami serempak.

“Kita harus tetap focus, basket cewe sering diremehkan!” Yoona memulai sambutannya.

“Tapi itu hanyalah sejarah yang sangat kuno!”

“One, two, three, SM School!!” kami mulai bersemangat dan latihan seperti biasanya. Aku mulai memimpin barisan untuk melakukan latihan passing.

“Siapa yang bakal menang?” seru seseorang.

“SM School! S.A.S game on!” seru tim putra yang tiba-tiba masuk dan menyemangati kami. Aku jadi semakin bersemangat, basket adalah olahraga favoritku sejak kecil. Walau dulu sering dilarang karena itu olahraga laki-laki, tapi aku tetap menyukai hingga sekarang.

“Gotta get it together! Yeah pull up nd shoot! Score!” Jinki masuk ke lapangan dan mulai melatih kami sambil terus bersorak a la SM Academy School.

“TEAM! TEAM! TEAM! Yeah!!”

“Tell me what are we here for?”

“To win!” mereka menjawab.

“Cause we know we’re the best team!” Jinki bersorak lagi. Tim putra langsung mengambil alih lapangan dan kami mulai berlatih bersama.

“Come on boys! Come on girls!”

“One, two, three SM School! S.A.S Game On!” kami bersorak sambil terus berlatih. Rasanya sangat menyenangkan, kami sangat siap ikut kejuaraan.

“Bagus anak-anak! Latihan kalian sudah sangat baik!” seru Sam Songsangnim tiba-tiba.

“Jinki, Minji kalian bisa memimpin teman-teman kalian maju!” apa? Aku?

“You can do it, Minji! Hwaiting!”

“A, aniya! Aku…”

“Kami siap, pak!” jawab Jinki tegas, apa? Aku menarik bajunya, dia menatapku. Deg!

“Bagus, ayo kita latihan lagi!” seru Sam songsangnim.

“Kamu ngomong apa sih? Jangan seenaknya gitu, donk!” aku melotot padanya.

“Percayalah padaku, kamu pasti bisa memimpin mereka!” dia mengelus kepalaku dan tersenyum lalu balik ke lapangan dan mulai latihan lagi. Wajahku merona, perasaanku semakin menjadi-jadi. Aku menyentuh dadaku yang debarannya begitu terasa. Aku ini aneh banget sih? Meskipun ketua sering sekali melakukan hal itu padaku, kenapa aku tidak merasakan hal yang sama pada ketua ya?

“Minji, ayo!” aku mengangguk dan lari kembali ke lapangan. Aku tidak seharusnya memiliki perasaan seperti ini padanya. Apa yang harus kulakukan ya?

“Nih!” Jinki melemparkan botol air mineral padaku. Aku langsung duduk di sebelahnya beristirahat. Jinki menghapus peluhnya dan mulai bersenandung.

“Kamu suka basket, ya?” tanyanya tiba-tiba.

“Ya, aku suka!”

“Bukannya itu olahraga laki-laki?”

“Konyol, hanya kamu yang menganggapnya begitu!” jawabku.

“Mau taruhan?” tantangnya.

“Tim cewe pasti masuk final!” aku menyetujui taruhannya.

“Bagus!” dia tersenyum lagi, dan mengelus kepalaku. Aku membeku dan menunduk. Badanku gemetar karena detak jantungku lagi.

“Maaf Minji, aku ga akan melakukannya lagi!” bisik Jinki. Kurasa dia salah paham. Aku ga bermaksud seperti itu.

“Ga! Jinki! Aku, kamu ga salah!”

“Sudahlah! Jangan terlalu memaksakan diri!” dia berdiri lalu berlalu, aku hanya bisa menatap punggungnya. Apa dia marah ya? Aku ga bermaksud menghindarinya. Aku…perasaan apa sebenarnya yang ada di hatiku ini?

TBC~

Comment please..

Posted 30 April 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with

4 responses to “[FF] Precious Thing *Part 14 of ?*

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah.
    jinki baik.

  2. Minji salting ya ? Mulai ad getaran k jinky nih.

    Siwon'syeojachingu~ssi
  3. jinki oppa mulai suka nih ama minji… ciehhh…😀

    hwaithing bwt auhtornya… ^_^

    numpang promo : feverkpop.blogspot.com
    mampir yah. g komen gpp.. ngintip jga gpp.. komen apalagi, gpp bnget… kkk~ gomawo ^_^

  4. Nah.. Sweet moment nih.. Aku suka ! Fighting author-ssi😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: