[FF] Precious Thing *Part 13 of ?*   3 comments


Hai..hai..

This is me guys..

barbie imnida..!!

SOoooo wht did u guys think about this ff so far?

it’s bad isn’t it? hohoho

I knew it..

but still, I need ur comment.. let me know if u like it or even hate it..

I’ll accept any comment ^^

Ok. nd here it goes..

.

.

Cast =

  • Onew SHINee
  • Kim Minji (tokoh fiksi)
  • Other SHINee member

Chapter 13

Breaking The Rule

.

.

[Minji POV]

Kami duduk dikelilingi oleh guru BK, kepala sekolah dan Pembina osis. Di ruangan seluas itu malah membuatku sesak, aku tak menyangka hal ini bisa sampai ke sekolah.

“Apa-apaan kalian? Membuat malu nama sekolah!” bentak Choi songsaangnim guru BK. Kami diam terpekur. Key. Mungkindia yang menyebarkan hal ini ke media.

“Kami tidak melakukan apa-apa!” isak HyoRin, dagunya menyentuh meja.

“Omong kosong! Di sini jelas-jelas tertulis ‘Siswa dari SM Academy School, bernama Lee Jinki memukuli siswa dari sekolah lain di depan gedung diskotik setelah berkencan dengan beberapa teman wanitanya.’ Kalian masih tidak mau mengaku?” apa? Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Lalu juga disebut-sebut bahwa Kim Minji dan Yoong HyoRin juga terlibat! Serta ketua Osis!” bukan! Bukan seperti itu!

“Beberapa saksi mengatakan bahwa kalian sempat berpelukan bahkan sampai berciuman di sana!” apa? Itu mustahil kan?

“Kalian ini benar-benar tidak tau malu, tidak bisa di atur!” aku meneteskan air mataku, itu semua berita bohong!

“Bohong!” bentak HyoRin, dia berdiri wajahnya basah karena air matanya.

“Kami memang sempat berkelahi, tapi Jinki ga memukulnya! Kami ga berkencan dan tidak ada adegan yang di sebut-sebut!” tangan HyoRin mengepal.

“Oh tidak mau mengaku ya? Kamu di skors!” apa? Mana bisa begitu kan? Aku langsung bangkit.

“Itu tidak adil. Sayalah yang melakukan pemukulan itu. Bukan Jinki, HyoRin ga ada hubungannya dengan semua ini. Sayalah yang memulai perkelahian ini!”

“Lagipula saya rasa kalian tidak perlu mempercayai 100% apa kata media! Informasi seperti tidak jelas darimana asalnya.” sahut Jinki santai.

“Berani sekali kau berkata seperti itu Jinki! Kau pikir kau siapa?”

“Anda pikir anda siapa?” Tanya Jinki balik.

“APA!!!” bentak Choi songsaangnim, kepala sekolah mencoba menenangkannya.

“Saya akan buktikan pada anda bahwa semua berita di media itu hanyalah kebohongan!” sahut Jinki lagi.

“Kau benar-benar tidak sopan Jinki!” sungut Choi songsaangnim.

“Itu tergantung lawan saya! Di sini saya hanya berbicara kebenaran, saya tidak merasa melakukan apa-apa! Saya hanya membela teman-teman saya yang diserang oleh orang itu.”

“Anak sepertimu tau apa tentang membela? Kalian semua sudah mengotori nama baik sekolah, masih bisa bicara sombong begitu!”

“Nama baik? Minji hampir terluka ibu masih bisa memikirkan tentang sebuah ‘nama baik’?” kecam Jinki, ya Tuhan! Apa aku ga salah dengar? Dia membelaku!

“Jadi kau membela anak ini? Minji, kudengar orang tuamu sudah tiada, dan kamu kabur dari rumah! Pantas saja kau jadi terpengaruh seperti ini!”

“Diam! Ibu ga berhak mengatainya seperti itu!” bentak Jinki, dia benar-benar tampak marah.

“Keluarga ga ada hubungannya dengan hal ini, tolong dicatat!” lanjut Minho yang sedari tadi diam.

“Lagipula Jinki benar, berita itu palsu! Kami tidak melakukan apa-apa!” tambahnya lagi.

“Sudah sudah tolong tenang semua!” sahut kepala sekolah menengahi.

“Kita tunggu sampai kebenaran dari kabar itu terbukti, untuk sementara rapatnya dipending dulu.” Lanjut kepala sekolah sekaligus membubarkan rapat.

“Mianhae, mianhae, mian…” isak HyoRin, aku memeluknya.

“Ini salahku!”

“Bukan, ini salahku!” ujarku lagi. Jinki berlalu di belakangku.

“Jinki!” aku mengejarnya, dia berhenti.

“Maaf aku melibatkanmu! Padahal kamu ga tau apa-apa!” aku menunduk 90 .

“Angkat wajahmu, Minji!” pintanya pelan, aku menatapnya ragu.

“Key itu pacarnya hyoRin, karena kesal aku memukulnya!” jelasku tanpa diminta.

“Itu…”

“Minji setelah ini kita rapat Osis!” tau-tau ketua datang dan memotong pembicaraan Jinki.

“Ne, ketua! Jinki barusan bilang apa?”

“Bukan hal yang perlu kau tau!” bentak Jinki sambil berlalu, aku menatap punggungnya, bingung dengan situasi yang begitu cepat terjadi.

  —

“Apa ini?” tanyaku saat masuk ke dalam Ruang Osis. Suasananya begitu tegang.

“Surat pengunduran diriku!” sahut ketua tenang. Apa? Pengunduran diri? Kenapa?

“Teman-teman yang lain yang memintanya, aku memang tidak pantas menjadi pemimpin kalian!” Ketua tersenyum pahit.

“A? Tunggu dulu, apa maksudnya semua ini?” tanyaku.

“Sebagai ketua Osis aku harus bisa mengambil langkah bijak, jadi kurasa inilah yang terbaik! Yang lain juga sudah setuju!” ketua tertunduk.

“Tapi ini ga ada hubungannya dengan ketua, jika mesti ada yang dihukum maka akulah orangnya ketua!” tau-tau teman-teman mulai ribut.

“Minji dengarkan! Inilah yang terbaik buat semua! Aku ga pantas berdiri di sini sebagai ketua!” dia langsung keluar, namun keributan tetap terjadi. Seolah tak ada yang tau, kalau dia pergi. Tak ada yang peduli. Aku ga tahan lagi! Kenapa harus ketua yang menanggung kesalahanku?

“Perhatian!! Kalian ini kenapa sih?” aku berseru di depan ruangan Osis.

“Apa kalian tidak peduli dengan perasaannya? Dia juga kan manusia, sudah berusaha sebisanya untuk masalah ini. Kenapa kalian malah menghakiminya? Apa kalian sudah merasa paling hebat?” hening sesaat. Aku berhasil menyita perhatian mereka.

“Apa maumu Minji? Dia itu tidak pantas jadi ketua Osis kita! Dia sudah mengotori nama baik sekolah kita!!” aku menyipitkan mataku, berusaha menenangkan diri.

“Lalu? Kenapa kalian memilihnya?” aku menelan ludahku. Apa yang mereka pikirkan sih?

“Karena kami yakin pada awalnya dia bisa menjadi peimimpin yang baik. Tapi, ternyata kita salah. Kita semua salah! Dia terlalu egois! Dia sudah mempermalukan nama sekolah!”

“Egois katamu?” aku tersenyum mengejek.

“Apa ini yang disebut Osis? Individu katamu? Apa arti kata satu pada Osis? Kita selalu bilang, kan? Keep brotherhood, kita adalah satu! Tapi kenapa?” lanjutku penuh emosi.

“Siapa kamu Minji, berkata seperti pada kami? Kau sama saja dengannya, seharusnya kau juga keluar!”

“Apa? Aku memang bukan siapa-siapa bagi kalian. Tapi ini bukan tentang aku. This is all about our leader!”

“Jangan berkata seolah-olah kamu tau segalanya, Kim Minji! Kamu terlalu kekanak-kanakan!” bentak Krystal.

“Then?” aku bertanya, air mataku jatuh saking kesalnya.

“Kamu bilang kamu bukan siapa-siapa kan? Karena itu diamlah! Kamu bahkan ga pantas menjadi pengurus Osis! Kamu itu sama saja, bukankah kau terlibat juga?” lanjutnya lagi.

“Ya aku terlibat! Lantas kenapa? Bukan berarti kalian bisa menghakimi ketua seperti itu! Menganggap semua orang buruk lalu kau ga, itu maksudmu kan? Kalau gitu, kenapa ga kamu saja yang jadi ketua? Kenapa ga kamu saja yang ambil alih, kalau kau bisa buktikan!! Prove it!! Prove that you’re the best!!!” setelah membentak Krystal seperti itu, aku langsung berlari keluar ruangan. Hatiku sakit tercabik, tapi ketua pasti lebih merasakan sakitnya.

Di atap sekolah, aku berteriak sekencangnya. Aku benci mereka yang seperti itu. Mereka yang tidak mengerti, mereka egois. Dari atas, aku dapat melihat ketua. Dia berjalan, duduk sendiri di taman belakang. Aku mengikutinya, wajahnya tertunduk lesu. Rasanya pasti pedih sekali.

“Ketua? Kenapa wajahmu murung seperti itu sih!” aku langsung duduk di sebelahnya. Dia menoleh ke arahku dengan senyuman khasnya itu. Semua orang bisa mati kutu melihat senyumnya itu. Hal inipun mampu menggetarkan jiwaku.

“Aku bukannya murung, Minji! Aku hanya sedih, ternyata aku memang bukanlah orang yang dewasa.” ujarnya. Aku lantas menggeleng, bagiku untuk orang seusianya mengatur diri sendiri saja susah apalagi harus mengatur orang banyak. Tapi sampai saat ini dia, dan hanya dia yang mampu melakukannya. Kami pun memilihnya karena alasan yang sama.

“Bagiku, ketua sangat bijaksana! Juga dewasa!” dia menggeleng, aku jadi ga tau harus berbuat apa.

“Aku bukan apa-apa, little dot!” dia tersenyum sedih sambil mengelus kepalaku. Aku tau betapa dia sangat menyayangi kami, dan sikap kami benar-benar telah menyesakkannya.

“Setiap orang memiliki sifatnya masing-masing!” sahutku setelah lama membisu. Dia menatapku penuh arti.

“Ya, setiap orang memiliki gaya kepemimpinannya masing-masing. Ketua ya ketua, ga penting bagimu orang lain menganggapmu apa. Tetaplah jadi dirimu sendiri, dengan sendirinya teman-teman bakal sadar.” Dia tersenyum lagi.

“Seperti seorang nakhoda yang mengendalikan kapal besar yang tersesat, tanpa alat yang canggih dan awak kapal yang cakap.” Dia memulai lagi petuahnya yang penuh dengan bahasa yang sulit dimengerti. Dia menoleh ke arahku lagi.

“Bagiku, keberadaanmu itu…ibarat sebuah kompas kecil. Ya, kompas kecil! Yang walaupun kecil tapi masih bisa membantu menunjukkan arah padaku.” Matanya menatap kosong, lagi-lagi dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kenapa tidak mau membaginya bersamaku? Kenapa menyimpannya sendiri? Padahal ini semua salahku, aku ingin sekali memperbaikinya karena akulah yang melibatkannya.

“Maaf aku…aku benar-benar memalukan!” gumam ketua, aku menggigit bibirku. Tak adakah yang bisa kulakukan untuknya?

“Ini…ini semua salahku! Kalau ada yang mesti di hukum, akulah orangnya!” sesalku. Padahal malam itu ketua mencoba menahanku, kenapa aku begitu merepotkan orang lain sih? Pabo, pabo, pabo!

Aku berdiri, dia menolehku bingung. Aku menyalakkan musik, lagu yang begitu kusukai.

“Di saat aku sedih, di saat aku benar-benar merasa kesepian. Ketualah yang ada di sisiku. Maka ijinkanlah aku yang menghiburmu kali ini.” Dia tertawa sumbang, aku tidak suka melihatnya seperti itu. Ia terlihat seperti orang yang sangat membenci dunia. Aku mengajaknya berdiri.

“Apa yang mau kau lakukan, little dot?” aku tertawa.

“Ini lagu kesukaanku, dengarkan baik-baik.” Dia berdiri di sebelahku sambil menatapku lagi.

“I’ve always been the kind of girl that hid my face. So afraid to tell the world, what I’ve got to say.” Aku mulai menyanyikannya. Dia tersenyum, dan mengikuti alunan musik.

“But I have this dream, right inside of me. I’m gonna let it show. It’s time to let you know, to let you know…” aku mengajaknya menari, berputar. Walaupun gerakan kami sangat kaku, tapi dia tertawa seperti biasanya.

“This is real, this is me! I’m exactly where I’m supposed to be now. Gonna let the light, shine on me! Now I’ve found who I am, there’s no way to hold it in. No more hiding who I wanna be, this is me!!” dia juga mulai bernyanyi.

“Do you know what it’s like, to feel so in the dark? To dream about a life when you’re the shining star. Even though it seems, like it’s too far away. I have to believe in my self. It’s the only way…”

“This is real, this is me! I’m exactly where I’m supposed to be now. Gonna let the light, shine on me! Now I’ve found who I am, there’s no way to hold it in. No more hiding who I wanna be, this is me!!” kami tertawa-tawa sambil bernyanyi.

“You’re the voice I hear inside my head, the reason that I’m singing. I need to find you, I gotta find you. You’re the missing piece I need the song inside of me. I need to find you, I gotta find you.” dia bernyanyi satu bait kemudian.

“This is real, this is me! I’m exactly where I’m supposed to be now. Gonna let the light, shine on me! Now I’ve found who I am, there’s no way to hold it in. No more hiding who I wanna be, THIS IS ME!!”

“Suaramu bagus sekali Minji!” dia memujiku, aku tertawa.

“Suara ketua juga, aku ingin sekali berduet dengan Onew suatu hari nanti!” dia tertawa lepas, aku juga ikut-ikutan tertawa. Wajah ketua sangat manis jika tertawa seperti ini, mungkin dia lebih cocok tertawa.

“Thanks, kamu udah membuatku bahagia. Kamu benar-benar anak yang baik! Minji-ah…” dia mengelus-elus kepalaku.

“Ne, cheonmaneyo. Aku ga melakukan sesuatu yang berarti, tapi setiap orang punya waktu untuk bersenang-senang. So, kalau ada apa-apa berbagilah denganku, okay?”

“You have my words, lil dot!!” kami tertawa lagi.

Dari kejauhan, tampak segerombolan pengurus Osis yang tadinya di ruangan berada di depan pintu. Mereka memperhatikan dua sejoli yang sedang menari dan menyanyi mengikuti irama musik.

Hujan rintik-rintik menambah romantisnya suasana pada saat itu. Meski begitu, pasangan itu begitu terlihat bahagia menjadi diri mereka sendiri.

“Mungkin kita memang sedikit keterlaluan…”

“Aku juga berpikir begitu, ini bukan salah Minho.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Tentu kita harus memperbaikinya, kita harus memintanya kembali…”

“Ya kita harus!!” semua pengurus Osis lantas bersorak senang dengan keputusan mereka.

“Ketuuuaaaa!!!” mereka berteriak dan berlarian menghampiriku dan ketua. Ketua tampak terkejut, wajahnya yang basah oleh hujan.

“Maaf…kita terlalu kasar padamu!” ucap mereka serempak. Ketua terperangah, aku tersenyum lebar.

“Kami hanya kesal kenapa kau tidak membaginya bersama kami. Padahal kitakan satu! Lagipula rumor itu belum tentu benar!”

“Mianheo ketua, kita janji ga bakal bersikap begitu lagi.” Teman-teman mulai meneteskan air mata. Ketua tersenyum penuh haru. Detik itu juga kami ber-40 berpelukan di tengah hujan. Ketua terlalu berarti bagi kami.

TBC~


Posted 30 April 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , ,

3 responses to “[FF] Precious Thing *Part 13 of ?*

Subscribe to comments with RSS.

  1. mengharukan………………….

  2. daleeeemmmmm…. :’)
    omg. . . abang minho emg gitu…kkk~

  3. Wow, pelukan ber-40 ?? Daebakk..!! Hahaha
    part ini lbh condong k minho yah… Hmm smoga part2 slnjutnya part jinki banyak! Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: