[FF] Precious Thing *Part 12 of ?*   3 comments


Cast=

  • Onew SHINee
  • Kim Minji (karakter imajinasi)
  • Other SHINee member

Chapter 12

I won’t Break Down

.

.

“Maaf Jinki…” gumamku pelan sambil masuk ke kamarku. Di sana aku menangis, berpikir kemudian menangis lagi. Kenapa bisa seperti ini? Tak adakah orang yang menyayangiku saat ini? Begini rasanya tak punya siapa-siapa, kau tidak diterima dimanapun kau berada. Dan tak satupun yang peduli. Omma appa ku mohon kembali. Aku memerlukan kalian, ku mohon. Ku mohon jangan tinggalkan aku sendiri, aku ingin bersama kalian. Aku ga bisa melanjutkan hidupku. Kesedihanku memuncak, kepalaku benar-benar pusing. Bahkan napaskupun sesak. Setiap hembusannya, aku berharap itu yang terakhir. Aku ingin mati saja, agar kesedihan begini tak terasa lagi. Lagipula siapa yang membutuhkanku? Aku hanya wanita rendah yang dibenci semua orang, kalau aku ga ada mungkin bisa lebih baik lagi. Setidaknya, aku ga melukai Luna. Aku ingin mati, aku ingin mati, aku ingin mati. Aku terus berbisik seorang diri hingga aku tak sadarkan diri.

 [Minji POV]

Bel pulang berbunyi, seluruh siswa langsung menghambur keluar kelas. Aku berjalan sendiri menyusuri lorong sekolah yang sudah sepi itu. Aku merasa begitu kosong dan seakan tak punya jiwa. Aku berhenti sejenak, di depan sebuah ruangan.

Aku membuka pintunya, dan masuk. Ruang musik itu tampak sangat kosong. Appa, betapa aku merindukanmu. Berharap semua itu hanya bohong, walau sudah berminggu-minggu ku lalui. Sekarang, aku bahkan tak punya siapa-siapa lagi. Atau seseorang yang menungguku pulang, yang sangat ingin tau dengan keadaanku, seseorang yang memelukku saat aku sedih. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Inikah rasanya tak punya orang tua? Apa Jinki juga merasa sepertiku saat kehilangan kedua orang tuanya?

Perlahan aku berjalan, menghampiri sebuah piano tua. Menyentuh beberapa tutsnya dan mencoba memainkannya. Sebuah lagu yang bisa menghantarkan emosi yang ada dalam jiwaku. Aku ingin melepaskan semuanya.

“Found my self today…oh I found my self and ran away.”

“Something pulled me back, the voice of reason I forgot I had. All I know is you’re not here to say what you always used to say. But it’s written in the sky, tonight….”

“So I won’t give up, no I won’t break down. Sooner than it seems like turns around, and I will be strong even if it all goes wrong. When I’m standing in the dark, I still believe that someone’s watching over me…” Air mataku meleleh. Hatiku hancur, sakit. Appa…omma…i missed u all. I don’t have anyone.

“It doesn’t matter what people say, it doesn’t matter how long it takes, believe in your self and you’ll fly high. It only matter how true you are, be true to your self and follow you heart…”

Suaraku menggema di ruangan kecil itu. Tapi aku ga peduli, siapa sih yang bakal dengar. Kan sudah jam pulang sekolah. Aku terisak, perih sekali. Aku begitu ingin melihat wajah kedua orang tuaku, ya Tuhan hanya sekali saja. Aku ingin bertemu mereka.

[Author POV]

“So I won’t give up, no I won’t break down. Sooner than it seems like turns around, and I will be strong even if it all goes wrong. When I’m standing in the dark, I still believe that someone’s watching over, someone’s watching over, someone’s watching over me… someone’s watching over me…”

Jinki yang baru saja keluar dari ruang guru, terkejut mendengar lantunan piano, permainan yang sangat harmonis dan indah. Siapa yang memainkannya di tengah sekolah yang sepi ini? Perlahan dia mendengar suara, suara yang terdengar begitu menderita. Suara wanita yang meratap namun mengalun indah dan serasi dengan suara piano.

Hatinya begitu tersentuh mendengar kata demi kata yang terucap. Namun, lagu indah itu terhenti begitu saja. Jinki mencoba melihat apa yang terjadi. Pemilik suara itu jatuh tersungkur dengan wajah penuh air mata.

“Minjiiii!!!” teriak Jinki sesaat kemudian.

“Kamu sudah sadar?” Tanya seseorang, aku membuka mataku lebih lebar. Kepalaku sakit sekali, dimana ini? Aku mencoba bangkit.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” Tanya petugas kesehatan. Aku mengangguk.

“Kenapa saya bisa di sini?”

“Oh, tadi ada anak laki-laki dengan wajah panik yang menggendongmu kesini!” sahut petugas, siapa? Laki-laki dengan wajah panik? Memangnya ada?

“Minji kamu sudah sadar?” suara ini..?

“Ketua?” panggilku, dia tersenyum. Jadi, ketualah yang telah membawaku kemari?

“Bagaimana keadaanmu?”

“Aku…lebih baik!”

“Dasar! Kamu ini selalu membuatku khawatir!” dia menarik hidungku.

“Mianhae ketua…ketuakah yang membawaku ke sini?” dia menggeleng? Kenapa? Lantas?

“Bukan, aku datang karena petugas kesehatan memberi tauku. Kenapa?” aku menggeleng, jadi siapa? Tapi siapapun akan khawatir jika ada seorang cewe pingsan di depannya. Yang jelas aku berterima kasih pada orang itu.

Semalam Jinki makan masakan buatanku meski sudah dingin. Itu membuatku senang dan terharu. Walaupun hubungan kami tidak membaik juga mulai semalam. Aku ini memang bodoh sekali, membentaknya seperti semalam jadi wajar saja kalau ia marah padaku. Aku bersandar di kamarku yang berdinding biru, bagaimana dengan keadaan HyoRin ya? Dia tidak masuk, apa dia baik-baik saja? Apa sebaiknya aku telepon dia?

Brakk…

Pintu kamarku terbuka nyaring membuatku tersentak dari pikiranku.

“Mau apa kau?” tanyaku ketus saat menyadari Jinki lah yang membukanya dengan kasar, aku menarik selimut menutupi tubuhku. Tatapannya tajam, membuatku bergidik. Jantungku jadi berdebar-debar ga karuan.

“Kamu ga makan?” tanyanya pelan, apa? Apa katanya? Dia tanya hal itu? Tapi ga mungkin kalau dia peduli denganku, mungkin dia mau aku membuatkannya makanan.

“Memangnya kenapa? Kamu mau aku menyiapkannya?” aku masih merasakan jantungku yang tidak karuan. Oh please someone stop me!!

“Makanlah, aku sudah membuatkan bubur!” sahutnya lagi sambil keluar, apa? Bubur? Jinki buatin aku bubur? Ga salah? Jangan-jangan malah ada apa-apanya lagi. Dengan perasaan ga yakin aku mengikutinya ke ruang makan. Apa dia sedang mempermainkanku? Di meja makan sudah terhidang makanan. Aku jadi merasa ga enak padanya telah berpikir macam-macam. Dia duduk dan langsung melahap bubur buatannya.

“Duduklah lalu makan!”

“Kenapa kau membuatkanku bubur?”

“Cuma itu yang kubisa! Ga usah cerewet deh!” jawabnya dingin, aku mengerecutkan bibirku dan memakan buburnya. Rasanya ini pertama kalinya aku makan semeja dengannya.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Ne? Oh! Enak kok!” ujarku lagi sambil melahap bubur itu. Dia telah menghabiskan satu mangkuk dan mulai mengeluh ga kenyang.

“Kau mau makan lagi? Biar aku…”

“Ga perlu!”

“Aish! Kenapa jawabnya seperti itu? Padahal semalam kau makan juga masakanku!” kesalku.

“Orang sakit itu perlu istirahat!”

“Ne? Siapa a? Kamu tau dari mana?”

“Habiskan saja makananmu! Aku sudah membuatnya dengan susah payah, awas kalau masih tersisa!” perintahnya sambil berlalu. Aku tersenyum sambil menghabiskan makananku. Dia tidak seburuk itu sebenarnya.

@di sekolah

“Minji!” sapa ketua, aku tersenyum sepertinya ia menungguku.

“Pagi ketua!”

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

“Aku sudah baikan, semalam Jinki…” aku tidak melanjutkan kalimatku, kurasa ga penting memberitau ketua apa yang kulakukan sehari-harinya.

“Hmm?”

“Ah ga kok! Oh ya ketua minggu depan pembukaan pertandingan musim dingin! Ketua harus nonton ya!”

“Ya, janji! Ngomong-ngomong, kakimu sudah lebih baik?”

“Aku sudah bisa ikut latihan dan berlari 20 Km selama seminggu!” sahutku.

“Oh begitu, kalau begitu berusahalah!” ketua mengelus-elus kepalaku. Deg! Sentuhan ketua membuatku merasa seperti kesetrum saja. Sontak wajahku jadi taerasa panas.

“Sudah dengar kabar dari HyoRin?”

“Ah? Belum! Waê?”

“Well, sepertinya dia sudah kembali seperti semula!”

“Maksud ketua? Tau darimana?” tanyaku.

“Tuh!” tunjuk ketua pada HyoRin yang sudah berlari-lari mendatangi kami.

“Annyeông haseo! Duh kalian ini pagi-pagi udah mesra begini!” seru HyoRin, membuatku jadi salah tingkah. Kalau ada yang mendengar bisa jadi salah paham.

“HyoRin, gwênchana?”

“Ne, udah yang kemarin lupain aja! Aku aja udah lupa! Ha! Ha! Ha! Mati satu tumbuh seribu, kan?”

“Mwo? Yaa, kamu ada-ada saja!”

“Lagipula masih ada Kim Songsaangnim!” bisik HyoRin, aku terbahak.

“Ada apa?” tanya ketua.

“Aniya, ha! Ha! Ha!”

“Kajja!” HyoRin menarik tanganku. Kami berdua menabrak seseorang.

“Uhm, mianhae!”

“Ck, kau tidak punya mata ya? Kim Minji?” Krystal membentakku.

“Ah, mian! Aku ga sengaja Krystal!” dia malah mengacuhkanku dan langsung pergi setelah menabrak bahuku.

“Dia kenapa sih?”

“Molla!” sahutku lalu pergi menuju kelas.

[Author POV]

“Krystal, ada apa?” tanya Minho yang berada di ruang Osis bersama Krystal yang mengikutinya.

“Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan Minji deh!”

“Loh kenapa?”

“Pihak sekolah sudah mencium hal ini, kalau seperti ini posisimu akan berbahaya ketua!”

“Bagiku itu tidak masalah!”

“Apa?” Krystal berusaha menahan air matanya.

“Minggu depan ada rapat dengan anak-anak mengenai jalan-jalan!” sahut Krystal mengalihkan.

“Uhm? Minggu depan?”

“Ya, jangan bilang kau lupa?” sindir Krystal.

“Uhm, sepertinya! Setauku jadwalnya 2 minggu lagi!”

“Jadwalnya berubah!”

“Apa? Kenapa bisa begitu?” tanya Minho.

“Mollaseyo!”

“Hhh, aku usahain deh! Uhm, minggu depan juga ada pertandingan basket, kan? Kamu main juga kan Krystal?”

“Ya!” singkat Krystal, kenapa? Kau mau bilang kamu ingin menonton Minji lagi? Kenapa selalu Minji?

“Uhm kalau begitu, berusahalah! Hwaiting! Aja aja Fighting!” Minho tersenyum dengan sangat manis. Tapi Krystal malah makin merasa terbakar, kenapa Minji? Kenapa mesti dia lagi? Kenapa? Apa bedanya aku dengan dia? Minho meninggalkannya, tanpa tau perasaan yang sedang berkecamuk di hati Krystal.

“Choi Minho, kamu  dipanggil kepala sekolah! Katanya kasus tentang pemukulan seorang remaja di depan gedung diskotik kemarin malam!”

“Apa? Pemukulan?” tanyanya balik.

“Ya, kamu, Kim Minji, Yoong HyoRin dan Lee Jinki dari kelas B! kalian ber-4 di panggil kepala sekolah sekarang!”

“Pemukulan?” tanya Krystal yang tau-tau bertanya. Diliriknya wajah Minho yang memucat.

a/n:

gimana guys part yang ini?

let me know yaa dengan tinggalkan komen kalian.. ^^


Posted 30 April 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , , ,

3 responses to “[FF] Precious Thing *Part 12 of ?*

Subscribe to comments with RSS.

  1. penasaran,
    lanjut ah.
    hehe..’komen gak mutu’

  2. di dpan diskotik? kpan? *g pnting

    hehehe..llnnjjuutt…😉

  3. Hmm penasaran… Lanjutt😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: