[FF] Precious Thing *Part 7 of ?*   3 comments


Cast =

  • Onew SHINee
  • Kim Minji (Fiksi)
  • Other SHINee member

.

.

Chapter 7

Complicated

~Background Music: Avril Lavigne-Complicated~

[Author POV]

“Jinki, apa kau tau dimana Minji?” Tanya Se Kyung pada Jinki. Se Kyung melipat tangannya. Jinki tidak menggubrisnya.

“Lee Jinki? Apa kau punya telinga?” bentak Se Kyung lagi.

“Mana aku tau, lagi pula kenapa aku harus tau?” sahut Jinki sebal.

“Apa kau bilang? Dia itu sudah hampir seminggu ga masuk sekolah, Hpnya bahkan ga bisa dihubungi. Masa kamu ga tau apa-apa tentang teman sebangkumu?”

“Kenapa aku harus tau? Aku ga peduli sama dia!” jawab Jinki sambil berlalu.

“Yaa!!! You fellow, wait! Betapapun kamu benci dia, aku bakal berusaha menemukannya!” teriak Se Kyung, tapi Jinki benar-benar tak mau menggubrisnya.

Jinki pergi mengendarai motor kesayangannya. Dia ingin pergi ke suatu tempat dimana ia tidak akan diganggu. Dia menghentikan motornya di sebuah taman yang sepi. Seperti orang yang tidak punya kerjaan, dia berjalan seorang diri di taman itu. Entah kenapa pertemuannya kembali dengan Luna membuat hatinya merasa tidak begitu nyaman. Meski dia tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain, dia bukanlah batu yang tidak punya intuisi dan persepsi. Hatinya mencoba memperbaiki semuanya, memperbaiki kenangan bersama gadis itu, tapi itu hanya membakar luka hatinya saja.

“Oddokajeo?” dia berbisik seorang diri. Langkahnya terhenti, matanya tertuju pada seorang perempuan yang tertidur di bangku taman. Perempuan yang sepertinya dikenalnya, membawa tas dan koper besar.

Perlahan Jinki menghampiri perempuan berambut sebahu itu. Wajahnya begitu kusut, dan terlihat sangat lemah. Jinki terkejut, bukankah dia? Tapi kenapa..?

[Minji POV]

Kepalaku benar-benar terasa berat, aku berusaha bangun. Cahaya matahari menyilaukan mataku, aku mencoba membuka mata. Aku tersentak saat kudapati sosok laki-laki yang kini sedang melihat ke arahku, dia tampak bingung dan sedikit terkejut.

“Apa yang kau lakukan?” bentakku refleks, sesaat setelah aku mengenali wajah itu. Dia berdiri dengan sombongnya.

“Kau? Harusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan?” tanyanya tanpa melihat ke arahku.

“Bukan sesuatu yang harus kau ketahui. Jam berapa sekarang?”aku bertanya tanpa memandang ke arahnya.

“Apa maksudmu? Sekarang jam 9.” Apa? Jam 9? Aku harus bergegas, aku ingin mencari tempat tinggal. Aku meninggalkannya, dia menarik tanganku dan mencengkeramnya erat.

“Aissh, apa yang kau lakukan? It hurts! Let me go, let me go!” aku berusaha melepaskan diri.

“Dasar bodoh, hampir 1 minggu tidak masuk sekolah. Kau bahkan ga bisa dihubungi, apa maksud semua ini?”

“Apa pedulimu! Lepasin aku!”

“I won’t!!” bentaknya.

Seluruh tubuhku bergetar penuh emosi. Aku benar-benar ga tahan lagi. Seluruh kejadian yang menimpaku akhir2 ini berputar kembali di kepalaku. Apa dia tak tau aku sedang banyak masalah..? Sekalipun aku tau dia pernah merasakan kehilangan orang tua. Tapi aku benar-benar membencinya. Benci!

“Apa kamu ga tau betapa khawatirnya kakakku? Ia bahkan sakit, berhari-hari ga makan karena memikirkanmu yang bukan siapa-siapanya?” bentaknya lagi.

Apa? Onnie? Karena aku? Air mataku menetes, mianhe Onnie.

Jinki kemudian menarik tanganku kasar.

“Kamu ini kenapa sih? Lepasin aku! Kamu menyakitiku!” bentakku kesal. Sekarang dia menarik kedua tanganku.

“Kamu pikir aku bisa membiarkanmu begitu saja, setelah membuat kakakku sakit? Kandungannya terancam! Apa kamu mau menghancurkan hidupnya? Kamu berniat membunuhnya?” tandas Jinki marah.

“Aniyo…kamu pikir apa yang kamu lakukan sekarang. Let me go!”

“Apapun yang kamu lakukan itu percuma!”

“Apa?” Aku terisak.

“Jangan menangis! Kamu pikir itu akan menyelesaikan masalah?” dia melepaskan kedua tanganku. Tatapan bencinya itu begitu menusukku.

“Lalu bagaimana denganku? Kamu pikir, kamu ga menghancurkan hidupku? Kamu!! Kamu yang membuatku seperti ini! Kenapa kamu memaksaku untuk mengatakannya? Aku benar-benar membencimu! A lot!”

“…. ” Jinki terdiam mencerna semua kalimatku.

“Aku kehilangan segalanya gara-gara kamu!!” bentakku sekeras mungkin. Tubuhku bergetar, aku benar-benar marah padanya. Gara-gara dia, aku bahkan ga bisa bertemu dengan Appa untuk terakhir kalinya. Appa…

Aku pergi meninggalkannya, entah harus kemana? Mestinya aku tak perlu pergi dari rumah Luna. Tapi, aku tak bisa melakukannya. Bibi Kanmy.. Luna, cewe itu…aku tak mau menyakitinya. Omma? Oddoke? Aku harus kemana sekarang?

Aku terus berjalan tanpa arah yang pasti sampai ada mobil yang berhenti di dekatku.

“Minji?” panggil Minho. Aku menoleh dan tersenyum.

“Kau benar-benar membuatku khawatir! Kau baik-baik saja?”

“Ah itu pertanyaan bodoh, tentu saja saat ini kau sedang kurang baik.” Dia menyesali pertanyaannya sendiri.

“Ini, kupikir memang tidak sama dengan punyamu! Tapi pakai ini!” dia memberiku sebuah kotak, kotak handphone!

“Aniyo, ketua. There’s no need!” tolakku.

“Kau menolakku? Kalau kau tidak mau ini, aku akan bunuh diri di depanmu? Oke?”

“Ketua, ini…!” ketua menggeleng, dia mengambil alih barang-barangku.

“Percaya padaku Minji, kalau kau mengembalikannya padaku aku akan bunuh diri!” aku tersenyum.

“Aku juga tidak ingin mengembalikannya, terima kasih ketua!” aku membungkuk hormat, dia mengacak-ngacak rambutku dan tersenyum ramah. Walau aku ga tau harus kemana, meski perasaanku campur aduk sekarang tapi bisa berada di sisi ketua mungkin adalah obat dari segalanya. Bersamanya aku lebih tenang, aku bersyukur bisa menemukan orang yang benar-benar tulus sepertinya, yah setidaknya ia tulus membantuku saat ini. Sampai kapanpun, kebaikan ketua takkan pernah kulupakan. Bahkan sampai aku matipun, kebaikannya akan terus terkenang.

Ia menemaniku berkeliling mencari rumah, entah berapa belas agen rumah sudah ku datangi. Menjelang malam, aku melihat ketua kelelahan. Bagaimanapun ia harus sekolah besok, aku ga ingin memonopoli kebaikannya.

“Hallo HyoRin? Ini Minji?” aku berbisik di telepon saat ketua tidak menyadarinya.

“Minji!! Ya ampun! Ada apa?”

“Ehm…aku perlu bantuan?” aku melirik ketua, dia masih tidak sadar.

“Katakan apa itu!” aku akan menginap semalam di tempat HyoRin, dan besok aku akan mencari rumah. Lagian ini sudah lumayan larut, kasihan ketua kalau terus begini. Beruntung HyoRin mengiyakan permohonanku dengan senang hati. Aku mematikan Hp dan langsung bicara pada ketua.

“Kau serius?”

“Kebetulan sekali orang tua HyoRin sedang tidak ada, jadi dia memintaku untuk menginap semalam.” Aku berusaha meyakinkannya, dia mengangguk. Setelah mengantarku ke rumah HyoRin ia langsung pamit pulang.

“Minjiiii! Kau ini, mestinya kau datang ke sini lebih cepat! Ayo cepat bereskan barangmu!” ia menarik tanganku dan membawa barang-barangku. Setelah mandi dan membereskan barang-barangku, aku duduk di samping HyoRin yang sudah menungguku.

“Nah Minji, ceritakan padaku kenapa kau sampai begini?” aku menceritakan semuanya, betapa terlukanya hatiku saat ini. Aku meneteskan air mataku, ini bagian yang paling menyedihkan. Aku tidak bisa melihat appa untuk terakhir kalinya. HyoRin memelukku, ikut menangis.

“Huh dasar Jinki bego! Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu!” omel HyoRin kesal, aku tersenyum lemah. Jinki memang menyebalkan, aku juga berpikiran yang sama. Karena ia, seandainya saja dia tidak merusak Hpku. Setidaknya aku bisa melihat wajah terakhir Appa. Seandainya seperti itu.

“Kau istirahat saja, lelah kan?” aku mengangguk, besok aku harus keluar dari sini.

“Aku akan pergi besok pagi!”

“Apa? Besok? Jangan bercanda Kim Minji!! Kamu pikir kamu mau kemana? Kamu punya tujuan? Pokoknya ga boleh sampai kamu, setidaknya punya tempat tinggal.”

“Tapi HyoRin, aku…”

“Ga ada tapi-tapian, kalau kamu berani kabur tanpa sepengetahuanku. Aku akan melaporkanmu pada Minho!”

“Kenapa ketua di bawa-bawa dalam pembicaraan ini?”

“Dia di bawa-bawa dalam hal ini, karena cuman dia yang bisa menjinakkanmu!” aku tertawa, menjinakkan? Itu berlebihan tau!

“Coba saja!” tantangku bercanda.

“Oh gitu, oke aku bakalan ngelapor beneran!” dia tertawa, dan akhirnya kami tertidur pulas.

TBC~~

a/n:

Haha.. aku tau part yang ini emang lil bit cheesy nd boring..

lol..

tapi aku janji akan berusaha membuat ff yang lebih baik dari ini di part selanjutnya,,

jadi tetep dukung aku yaa,,,


Posted 25 April 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , , ,

3 responses to “[FF] Precious Thing *Part 7 of ?*

Subscribe to comments with RSS.

  1. nah mulai bingung nih.. Minho suka sama Minji?
    tapi Minji sukanya sama Jinki kan?
    hmmm..
    penasaraaan

  2. yap.
    membuatku semakin penasaran.

  3. Sdkit bingung jg tuh knp appa ny mninggal, yg ktanya gra2 jinki ngerusakin hp. Emang hubunganny apa… Krg detail nih author-ssi… Hny itu kok, smuanya nice🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: