[FF] Precious Thing *Part 5 of ?*   3 comments


Cast =

  • Onew SHINee
  • Kim Minji (fiksi)
  • Minho SHINee
  • Member SHINee, f(x), SNSD ..


Chapter 5

BROKEN

Foreword:

Annyeong~~~

Semoga pada suka sama part yang ini..

Oya untuk memudahkan imajinasi, aku masukin gambar Onew yang keliatan cool.. ^^

Well..

Please Read, Enjoy nd if you guys like it, comment okay??

.

.

by. Barbie (MVP)

~Background Music: Avril Lavigne-Nobody’s home~

I didn’t think it was love. I told my self it wasn’t love. I deceived myself, but my heart kept calling your name. I take one step towards you, push you one step away. Each time, you grow in my heart. I must be loving you this much, must be waiting for you this much. Eventhough it hurts so much, my heart can’t seem to let you go.

[Minji POV]

Saat itu aku sendirian di kelas mendengarkan lagu favoritku. Datang paling pagi memang menyenangkan, selain belum ada orang yang datang aku bisa melakukan sesuatu yang ingin kulakukan. Dan lagu Still As Ever dari A.N Jell inilah yang terbaik untuk kudengarkan saat ini.

“Kamu? Gila apa ya ngomong sendiri mulai tadi?” ejek seseorang dengan suaranya yang menyebalkan. Jinki!? Dia menyapaku!! Tapi…? Aku langsung berpura-pura ga mendengarnya dan memperlihatkan headsetku. Ya supaya dia tau kalau aku lagi dengerin lagu, aq ga mau dengar ocehannya dan aku ga gila. Setelah menaruh tas ia langsung keluar dengan gayanya yang sombong. (*bisa bayangin Onew masang tampang sombong??)

Tak lama kemudian bel masuk berbunyi, pelajaran pertama adalah jam olahraga. Setelah berganti baju aku dan teman-teman langsung menuju gedung olahraga.

“Aduh olahraga lagi, males!” keluh HyoRin sepanjang perjalanan.

“Keren tau, hari ini basket loh!” hiburku.

“Jadi kamu bakal ikut pertandingan kejuaraan nanti?” HyoRin bertanya.

“Yup, walau kupikir aku masih belum siap sih! Tapi siapa tau….?”

“Minji, kamu lumayan tau!” potongnya.

Kami sampai di gedung olahraga, aku langsung berlari-lari kecil melakukan pemanasan. Kemudian mengambil bola basket lalu berlatih sebentar bersama-sama anak-anak satu ekskul basket denganku.

“Minji?” panggil HyoRin tak sabar.

“Sebentar, aku ingin berlatih lemparan bebas dulu.” Sahutku dengan napas tersengal-sengal. Keringat langsung saja membanjiriku.

“Serang dari arah kiri, Minji! Yoona, jaga di depannya.” kata guru olahraga yang juga Pembina ekskul basket ketika mengamati permainanku.

“Minji, serang dari arah kiri! Orang yang menjagamu dari depan tidak akan menduga gerakan itu!” seru beliau lagi. Aku mengangguk seraya berkata.

“Kalau saya masuk dari kiri…”

“Dia akan lupa lapangan tengah, nah saat itulah kamu serang dari tengah!” beliau menjelaskan. Aku langsung berputar melewati Yoona, melompat, menunduk untuk kemudian melakukan gerakan lay up terbalik. Suara bola yang masuk ke keranjang terdengar nyaring. Teman-teman lantas bertepuk tangan.

“Bagus sekali, Minji!” seru Sam Songsaangnim bangga, Yoona pun juga ikut bersorak.

“Kalau ada kamu tim kita pasti menang deh!” Yoona menghampiriku. Kami bertos ria ala ekskul basket.

“Jangan berlebihan, posisimu juga sangat di perlukan! Kamu harus melatih passing-mu!” saranku, sambil menggandeng tangannya. Kami berdua menuju Sam Songsaangnim.

“Kalian siap?” Tanya sang pelatih. Aku menggeleng.

“Gugup sekali!” ujar Yoona.

“Ritme permainan kalian sudah bagus, lanjutkan latihan shuffle drill.”

“Baiklah semua, setelah pemanasan ayo kita latihan shuffle drill!” seru beliau lagi, HyoRin dan yang lainnya mulai melakukan pemanasan. Sedangkan aku sudah mulai memantul-mantulkan bola dan bergerak memutar mengelilingi.

“Minji coba passing ke aku!” teriak Yoona yang berada di sisi kanan lapangan. Aku langsung mendribble bola menuju ke sisi tengah dan mencoba melakukan passing pada Yoona.

[Author POV]

Tepat saat itu dengan segala kebencian yang ada di dadanya, Krystal menatap marah pada Minji. Kenapa selalu dia? Minji yang biasa-biasa itu kenapa mesti dia yang di andalkan? Padahal aku juga bisa bermain basket. Minji telah merenggut segalanya dariku. Seandainya dia tak ada? Lantas Krystal maju dan menjegal langkah Minji.

Brakkk…

[Minji POV]

Brakkk…

Aku terjatuh dengan sempurna, dengan lutut menyentuh lantai terlebih dahulu. Rasa nyeri langsung menyebar ke kakiku. Luka bekas jahitan tempo hari itu mengeluarkan darah. Bola yang kupegang tadi melayang jauh melewati Yoona.

Jinki baru saja masuk lapangan, sepertinya ia memerlukan waktu yang lumayan untuk menghapal daerah sekolah barunya yang sangat luas. Tanpa sengaja, bola yang aku lempar sukses mengenai kepalanya.

“Aw! Siapa yang melempar ini?” gumamnya sebal. Dia melirik tajam ke arahku.

“O My God! Bolanya?” kulihat Jinki menghampiriku dengan wajah sangarnya.

“Maaf! Aku…”

“Jadi kau yang melemparnya?” Tandasnya. Ia melempar bola itu padaku lalu pergi dengan kesal. Aku mencoba mengejarnya untuk menjelaskan situasi, tapi nyeri di kakiku membuatku berhenti. Bau darahnya membuatku mual.

“Minjiiii!” HyoRin langsung memapah tubuhku. Kami berdua lalu minta izin pada pelatih dan pergi ke ruang kesehatan.

“Kenapa kakimu bisa begini sih Minji?” Tanya HyoRin saat membantuku duduk. Ibu petugas kesehatan sepertinya juga sedikit sibuk, hari ini banyak pasien ya?

“Sepertinya jahitannya belum begitu kering!” jawabku sekenanya. Ibu petugas itu lama sekali mengambilkan obat, sepertinya dia sedang mengobati orang lain juga.

“Maaf ya Minji lama, ini bersihkan lukamu dengan ini!” Ibu petugas itu lalu berlutut di depanku dan membersihkan lukaku.

“Aw…aw!” aku mengaduh, seseorang keluar dari dalam sambil memegang kompresan di kepalanya.

“Kamu!?” seru kami bertiga, aku, HyoRin dan Jinki! Dia melihat ke arah kakiku dengan pandangan jijik.

“Bengkak segitu aja mesti di kompres dasar cowo sok cakep!” cecar HyoRin, aku terkikik. Mata Jinki melotot, kentara sekali dia tersinggung dengan ucapan HyoRin barusan. Tak lama kemudian ia pergi dan kembali ke gedung olahraga.

“Gomawo Minji!” sergah HyoRin, sesaat setelah kakiku selesai diperban.

“Buat?”

“Aku jadi ga ikut jam olahraga deh!” dia bersorak senang. Dasar! Jadi itu? Kami kembali ke ruang kelas.

“Gimana dengan pertandingannya ya? Kalau kakimu gini?” tanyanya. Aku memandang perban di kakiku dengan perasaan kesal, kalau saja aku tak terpeleset pada saat itu.

“Aku sudah berlatih keras selama ini. Tapi mau bagaimana lagi? Aku kan jatuh karena kesalahanku sendiri! Ini salahku jika ga bisa ikut pertandingan!” ya seperti itulah, aku ga bakal bisa bertanding dengan kaki seperti ini. Padahal sore ini akan ada latihan lagi.

“Minji? Kakimu kenapa?” seru ketua yang tiba-tiba saja ada di depanku.

“Ah ini…”

“Terjatuh saat latihan basket!” jawab HyoRin, wajah ketua berubah khawatir.

“Gwênchanayo? Tapi kalau begini kamu ga bisa…” iya aku tau! Ga bisa ikut pertandingan kan? Aku tau itu, terus kenapa? Kenapa rasanya jadi begitu kecewa dan sedih? Hatiku sakit…

“Maaf ketua, aku mau pergi ke atap dulu!” aku melangkah dengan susah payah menuju kelas untuk mengambil Hpku lalu pergi ke atap.

Aku ingin sekali berteriak, menjerit marah. Aku ingin semua orang tau betapa sakitnya hatiku ga bisa ikut pertandingan nanti. Aku sudah berlatih keras selama ini. Kalau aku lebih hati-hati, harusnya aku bisa hati-hati! Kalau saja, kalau saja..!

Handphoneku bergetar, aku tak begitu mempedulikannya. Aku tidak ingin bicara pada siapapun saat ini, hari ini benar-benar menyebalkan. Tapi Hp itu terus bergetar, dengan malas aku mengambilnya dari kantongku. Aku tertegun meilhat siapa yang menelponku. Inikan nomor Onnie? Ada apa ya?

“Yoboseo?” jawabku.

“Minji? Yoebo! I miss you, my dear dong saeng!”

“So do I Onnie, apa kabar sekarang? Kenapa baru meneleponku?”

“Ahaha, mian. Kudengar Jinki di sekolahmu sekarang?”

“Ya, dia sebangku denganku!” jawabku malas.

“Really? You must take good care of him then! Arraso? Hehe, oya Onnie ada kabar baik buatmu!”

“Kabar baik?”

“Ne, kamu akan menjadi orang pertama yang tau!”

“Mwo?” kabar baik apa ya?

“Onnie bakal ngasih kamu dong saeng baru!” sorak Onnie, apa? Dong saeng baru? Maksudnya? Onnie hamil?

“Onnie serius? Are u pregnant?”

“Ne, ne! Onnie juga baru tau tadi pas periksa ke dokter. Ternyata udah 3 bulan!”

“Kok baru periksa sekarang, emang ga curiga kalau ga menstruasi?”

“Onnie baru ingat kalau lama ga menstruasi!”

“Onnie chukkae! Akhirnya!” sorakku senang, membayangkan seorang bayi kecil yang sangat lucu di pelukan Onnie. Dia pasti sangat bahagia.

“Oke, eh Onnie mau belanja dulu ya! Bye bye! Jangan lupa kunjungin Onnie oke?!”

“Ahaha, ne! aku pasti ke sana! Annyeong!” tutupku.

Entah mengapa hatiku sangat senang, rasa kesalku tadi sirna tak berbekas. Aku harus memberitahu Kim Songsaangnim mengenai hal ini, juga Jinki! Aku bergegas mencari Kim Songsaangnim, namun aku tak menemukannya di manapun. Dengan kaki seperti ini mengitari sekolah yang sangat luas adalah hal yang sangat mustahil bagiku. Aku menyerah dan kembali ke kelas. Aku lihat Jinki sedang membaca buku, begitu melihatku ia langsung pergi.

“Tunggu!” aku menarik tangannya. Dia mengibasnya hingga handphoneku tak sengaja terlempar jatuh. Dengan susah payah aku membuatnya berdiri tepat di hadapanku. Degup jantungku berbunyi keras saat menatap matanya. Well, baru kali ini aku menatap tepat di kedua bola matanya. Rasanya seperti ada sengatan listrik yang menjalar di seluruh tubuhku. Panas dan terasa sesak!

“Apa yang kau inginkan?” tanyanya acuh. Matanya yang kecil dan dingin itu benar-benar menusuk walau sebenarnya sangat indah.

“Kau sudah tau? Onnie punya anak!” aku memulai pembicaraan ragu-ragu.

“Mwo? Apa maksudmu?” tanyanya marah. Kenapa dia jadi kesal?

“Kau kenapa sih? Bukannya senang!” aku langsung menghindari tatapannya dan berjalan melewatinya.

“Heh! Tunggu! Apa maksudmu berkata seperti itu? Tau darimana?” dia mencengkeram bahuku.

“Hyaa sakit, apa yang kau lakukan sih?” bentakku mencoba melepaskan diri. Kontan saja keributan kami lagi-lagi mengundang yang lain untuk menyaksikannya.

“Katakan padaku!” aku tak sanggup menatap matanya, aku mengalihkan diri dengan berpura-pura mencari Hpku.

“Yaa!!” bentaknya lagi.

“Apaan sih?? Aku lagi nyari Hpku tau! Tadi Onnie yang meneleponku!” aku mulai serius mencari Hpku, dimana ya?

“Kenapa Noona malah meneleponmu, bukannya aku? Aku kan adiknya!”

“Ya mana aku tau! Lagian, memangnya kamu benar-benar adiknya? Kamu pasti anak pungut atau semacamnya! Sikapmu ini sangat jauh sekali dengan Onnie!” balasku kasar. Aduh dimana sih Hp ku?!

“Mwo?  Yaa!! Jaga mulutmu!!” dia menarik tanganku dengan kasar, menatapku dengan pandangan berapi-api. Dia melayangkan tangannya ke arahku.

“Apa? Kau mau apa? Menamparku? Silahkan! Pukul aku sekarang juga! Kau berani? Dasar cowo pengecut, beraninya memukul cewe.” Dia mengurungkan niatnya hendak memukulku. Aku mendorongnya agar menjauh dariku, tapi malah aku yang termundur. Dia kuat sekali.

“Dimana Hpku?” aku berbisik seorang diri, bingung. Dia masih menatapku marah, aku mencoba tidak memperhatikannya.

“Apa ini Hpmu?” tanyanya angkuh, dia memperlihatkan Hpku yang tepat berada di bawah kakinya. Dan Hp itu telah hancur!

“Apa? O My!” aku mengambil Hpku dengan hati-hati.

“Kau keterlaluan!” pekikku. Aku menangis, Hpku rusak.

“Ini sudah rusak! Apa yang kau inginkan hah? Kenapa kau membuatku seperti ini? Kau benar-benar menyebalkan!” bentakku, aku pergi dan meninggalkannya. Kenapa dia begini kejam sih padaku?

[Author POV]

“Mian…” bisik Jinki pelan, namun Minji tidak mendengarnya. Ia bermaksud mengejar Minji. Tapi hatinya merasa kesal pada Minji, kenapa Noona begitu baik padanya. Bahkan hal sepenting ini, kenapa mesti gadis itu dulu yang tau?

TBC ~~~

a/n:

Gimana?? Bagus? Aneh? Gaje?

Hehe..

Please pendapatnya chingu..

Posted 24 April 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , , ,

3 responses to “[FF] Precious Thing *Part 5 of ?*

Subscribe to comments with RSS.

  1. ya ampun kasian banget Minji nya.. HUHU T_T
    sabar ya minji..

  2. Yee,, unnienya Jinki hamil.. Hehehe..
    Huuaa,, Krystal pasti sangat benci pada Minji. Sing sabar yo?

  3. Jinki cemburu sma minji, hahaha … Tp sprti ny minji mulai sedikit ‘itu’ yaa ama jinki… Ehem! ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: