[FF] Precious Thing *Part 4 of ?*   2 comments


Cast:

  • Kim Minji (Fiksi)
  • Onew (SHINee)
  • etc (find them by ur self)

Chapter 4

What a Coincidence?!

~Background Music: 2pm-Again & again~

— Awal Semester baru

“Minji, lama ga ketemu!” seru HyoRin, waw kulitnya menghitam.

“Yah, sayangnya kulitku ga berubah warna nih!” aku tersenyum sedih, dia lantas tertawa.

“Astaga Minji, sepertinya aku bisa melihat rumus Matematika keluar dari kepalamu!” godanya sambil menggandeng tanganku. Kami menuju papan pengumuman.

“Minji, kita sekelas!” dia bersorak, aku tertawa.

“Yah sepertinya kita ga sekelas lagi nih!” seseorang mengeluh di belakangku.

“Ketua??”

“Hello Minji! Bagaimana kabarnya?” aku tertawa mendengar pertanyaannya.

“Seperti kita ga pernah ketemu aja selama liburan!”

“Jadi kalian berlibur bareng? Ya ampun! Kalian sudah sedekat apa sih? Kok aku ga tau apa-apa!” seru HyoRin heboh.

“Sssh, itu cuman antara aku dan Minji!” bisik ketua bercanda.

“Ya ampun, sudah sampai situ Minji? Kok kamu ga ada cerita sih? Ih tega!!” rajuk HyoRin.

“Oke, ya sudah ya. Aku harus pergi ke tempat pertandingan Basket untuk teknikal meeting. Sukses ya Minji!” ketua menyentuh pundakku, sampai membuat bulu kudukku berdiri.

“Cieeeeh…!” goda HyoRin, kami pun pergi menuju kelas kami.

Krystal dengan menahan segenap rasa sakit hatinya, memandang marah kepergian Minji. Aku harus memastikannya langsung, pikirnya.

“Kim Minji?” panggil Pembina Osis.

“Ne sonsaangnim?”

“Dimana Minho?” ketua?

“Ketua tadi baru saja pergi ke tempat pertandingan Basket untuk teknikal meeting!”

“Aduh jadi begitu ya?”

“Kenapa, Sonsangnim? Mungkin ada yang bisa saya bantu?”

“Ya! Kamu saja! Tolong ya?”

“HyoRin duluan aja, kayaknya bakal lama nih!” aku mengedipkan mataku pada HyoRin. HyoRin tersenyum lalu pergi.

“Bisa ga kamu memperkenalkan lingkungan sekolah kita pada anak baru?”

“Anak baru? Bukannya sudah di kasih tau melalui pengenalan sekolah pada saat Masa Orientasi kemarin?” jawabku polos.

“Aniyo, bukan siswa baru kelas 1. Dia murid baru untuk kelas 3. Sebenarnya ini tugas ketua Osis, tapi berhubung dia tidak ada jadi saya minta tolong padamu.”

“Baiklah! Alguissumnida!” sahutku.

“Baiklah tunggu sebentar, saya panggil anaknya.” Aku mengangguk.

“Ah Minji sepertinya ia sedang di ruang guru menghadap wali kelasnya. Nanti ya?”

“Ne, sonsaangnim!” sahutku sambil berlalu. Aneh? Aku menyusul HyoRin dan menaruh tas. Kami pergi ke koperasi.

“Tau ga single terbarunya SHINee? Judulnya Hello? Sumpah keren banget deh lagunya!”

“Bagaimana aku bisa tau? Yang suka SHINee di sini kan cuman kamu!” sahut Rin cuek ketika aku mulai mendendangkan lagu favoritku itu.

“Ireol ttaereul pomyeon na origineun hangabwa nun ape dugodo ojji hal jul molla

Eotteohke deul sarangeul sijakhago inneunji saranghaneun saramdeul marhaejwoyo”

“Ah terserah deh, o ya gimana masalah kado yang kemaren itu?”

“Kado? Tenang aja! Udah kembali kok, tau ga ternyata yang ambil kado itu adalah adiknya Onnie!”

“Hah? Kok bisa?” aku mengangkat bahuku, HyoRin mengerutkan alisnya.

“Tuh kan? Apa kataku! Ternyata mereka itu emang penipu, buktinya kenapa bisa tas belanjaan tanpa sengaja bisa sama mereka?” ujarnya lagi. Aku menggeleng.

“Aniyo, ini ga seperti yang kamu pikirin kok. Itu cuman kebetulan aja. Onnie bukan orang yang jahat tau! Lagian kadonya kan sama adenya bukan dia.”

“Tetap aja! Aku tetap merasa mereka itu berbahaya! Adenya kan keluarganya juga!” HyoRin berkata sampai melotot begitu.

“Kamu kenapa sih? Kok nganggap Onnie-ku gitu?”

“Habis…”

“Habis? Kenapa?” tanyaku bingung, HyoRin tampak tersipu.

“Dia sih jadi istrinya Kim Songsaangnim. Padahal kan…” astaga? Ternyata itu toh? Karena cemburu dengan Onnie?

“Ya ampun! Kamu kan udah punya Key!”

“Idih beda tau, Key ya Key, Kim songsaangnim ya Kim songsaangnim! Lagian beliau itu keren banget sih!” aku memutar bola mataku. Cape deh?

“Kerenan juga Onew, yeee!!”

“Onew lagi! Bosen! Apa kupacarin aja tuh Onew sekalian biar kamu diam!”

“Enak aja, dia mana mau mah sama kamu! Maunya cuman sama aku! Oh my Oneewwww….” tau-tau aku tersandung.

“Kamu ga apa-apa?” Tanya seseorang, ia berhasil dengan sukses menangkapku. Eh? Ya ampun!! Dia kan?? Adiknya Onnie??

“Kamu!!” serunya, dia langsung menjatuhkan aku.

“Aw aw awwaw! Aduh! Sakit…sial!” aku melihat dia, cowo angkuh itu sedang melipat tangannya. HyoRin langsung membantuku berdiri.

“Yaaa!! Kenapa kamu ada di sini?” bentakku, entah mengapa jika melihatnya aku jadi merasa sebal saja.

“Minji, kamu kenal?” bisik HyoRin. Aku mengangguk.

“Dia itu adiknya Onnie!” tunjukku. Dia melotot padaku sampai bola matanya serasa hampir keluar.

“Kenapa tunjuk-tunjuk?” bentaknya.

“Apa?? Jadi kau adiknya si Onnie itu? Heh sini lo gue kasih pelajaran!” seru HyoRin tiba-tiba.

“Apa? Ga minat gue ma cewe kayak lo!” ujar cowo itu tegas, mata HyoRin melotot seperti ikan aku tertawa sedikit.

“Eh apa lo kata? Ga minat? Emang siapa yang mau sama cowo kayak lo? Ga banget! Tampang doang yang ganteng!” cecar HyoRin lagi.

“Oh my God, nambah lagi satu orang cerewet. Kalian itu emang ga ada bedanya ya?” ejek Jinki. Apa? Cerewet? Hah?

“Cerewet katamu? Apa ga salah? Cewe kalau cerewet itu wajar, lah kalau kamu?” bentak HyoRin lagi, aku mencoba menenangkannya.

“Jadi kamu di sini Minji?” tau-tau Pembina Osis datang menengahi.

“Ne? A? Sonsaaangnim!”

“Kebetulan sekali, ini Lee Jinki. Mulai hari ini dia akan menjadi bagian dari sekolah ini. Jadi tolong bantu ya, Minji?”what? Lee? Lee jinki? LOL. Bukan cuma wajahnya yang mirip Onew tapi nama aslinya juga.. Ckck. What a coincidence?!!

“Apaaaa????!!!” aku dan HyoRin berseru berbarengan.

“Makhluk kayak dia? Sekolah di sini, sama dengan kita? Anda bercanda kan?” tanyaku kaget.

“Ah songsaangnim, bercandanya jangan keterlaluan dong!” ujar HyoRin mencoba menyangkal.

“Lho kenapa? Kalian sudah saling kenal? Bagus kan! Nah Jinki, kalau ada apa-apa minta tolong saja pada Minji!”

“Itu sama sekali ga bagus!” sahutku lagi, putus asa.

“Betul sekali, lagian kita ga mungkin kenal dengan makhluk seperti dia! Manusia dari planet mana gitu!” mata Jinki melotot ga terima dihina seperti dengan cewe yang baru dikenalnya itu.

“Saya tidak perlu bantuan dari mereka songsaangnim!” jawab Jinki singkat. Apa?

“Yaaa! Jangan Ge-er ya? Emang siapa yang bakal bantu kamu? Ga ada! Ga usah mimpi deh!” bentakku. Ini orang apa orang sih? Kok sombong banget? Beda jauh tampang sama kelakuan!!!

“Aduh aduh, ga usah bertengkar begitu. Ntar jadi cinta lagi!” tegur Pembina Osis bercanda.

“GA MUNGKIN!!!” seru kami berbarengan, membuat bapak Pembina Osis menjadi kaget dan mengelus dadanya.

“Ya sudahlah, saya tidak mau tau permasalahan kalian. Yang jelas, Minji tolong bertanggung jawablah padanya sebagai pengurus Osis! Oke?” mau ga mau aku mengangguk.

“Saya bukan anak kecil, saya ga butuh pengurus bayi!” bentak Jinki kesal dan langsung pergi.

“A? Pengurus bayi katanya? Hyaa!!”

“Dia itu rekomendasi dari Kim Songsaang. Makanya, jadi tolong ya Minji!” Pembina Osis menepuk pundakku dan berlalu. Aku dan HyoRin berpandangan bingung.

“Tapi lumayan juga? Cakep! Mirip siapa ya? Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat?”

“Kamu mah siapa aja dibilang cakep!” HyoRin ga menghiraukan aku.

“Ah ya! Aku ingat, sepertinya dia mirip…tapi masa sih? Onew?” aku melongo? Dia benar sih, tapi?

“Ah ga! Aku salah lihat kali! Atau jangan-jangan aku ketularan kamu, terkena sindrom Onewismeholixmania!” aku tertawa. Ada emang sindrom kayak gitu? Kamipun pergi ke kelas. Aku berpikir, pertemuan kami pertama dulu kalau ga salah juga karena aku hampir terjatuh dan dia menangkapku. Kenapa bisa begitu ya? Apa maksudnya? Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku ga punya alasan untuk membencinya. Kadoku kan sudah dikembalikan, lagian Onniee memang ingin tinggal bersama Jinki selama ini, so mungkin seharusnya sikapku ga begini. Ini namanya terlalu kejam padanya.

“Hah, dasar kamu ini! Kim songsaang mulu!” seruku pada HyoRin ketika kami sampai di kelas.

“Hehe, tapi beneran lho Minji, Pak Kim Songsaang yang jadi walikelas kita. Oh my…Tuhan emang baik banget ya ma aku…” aku memutar bola mataku. Langkahku terhenti pada sosok cowo yang duduk dengan angkuh seraya mengangkat kaki di atas mejaku! Dengan entengnya dia meletakan kakinya di atas tasku.

“Oh…my? Mwo? Hyaaa!!!” bentakku setelah mampu menangkap sosok makhluk yang terlihat sangat familiar itu.

“Heh! Apa yang kamu lakukan di sini??” teriakku murka sambil menarik tasku dari kakinya. Dia memandangku sekilas lalu membuang muka.

“Apa kamu tuli? Kamu ga punya telinga? Dasar makhluk payah, menjauh dari tempat dudukku!” usirku sambil mengibas-ngibaskan tasku. Dasar sial!! Anehnya sepertinya makhluk itu emang ga punya telinga, dia malah mengacuhkanku.

“Keberatan? Aku suka di sini, sebaiknya kau yang pergi!” usir Jinki. Apa? Aku yang pergi? Ga salah?

“Apa? Katakan sekali lagi!” dia berdiri persis di depanku.

“Get lost!” tukasnya kasar. Dia langsung pergi dan menabrak bahuku. Apa? Apa-apaan dia? Keterlaluan sekali!!!

“Minji, sudah deh, duduk di sana aja!” ujar HyoRin menenangkan aku, tak lama kemudian Kim Songsaang masuk.

“Baik, apa semua sudah masuk?” Tanya beliau, kami menjawab serentak.

“Saya akan menjadi wali kelas 3 saat ini, Kim Jonghyun imnida. Untuk saat ini, mungkin kalian sudah mengenal saya.” Kulirik HyoRin bersorak bahagia, ada-ada saja.

“Karena sudah saling mengenal, tentu akan sangat membosankan. Maka dari itu saya akan memperkenalkan murid baru pada kalian.” Semua orang lantas menoleh ke arah cowo aneh itu.

“Silahkan perkenalkan dirimu di depan, Jinki!”

“Cih, memang anak TK?” jawab Jinki dingin sambil merangsek maju ke depan kelas. Aku menatapnya dengan sebal, kenapa ia begitu keterlaluan sih? Memangnya aku ada salah apa sama dia?

“Lee Jinki imnida, panggil aja Jinki. Ada pertanyaan?” singkat sekali? Dasar cowo belagu, memang siapa yang bakalan nanya tentang dia?

“Mmm, Jinki, kamu udah punya cewe belum?” Tanya Amber, salah seorang temanku di kelas. Apa? Ga salah dia nanya gitu?

“Ada pertanyaan yang lebih bermutu lagi?” Tanya Jinki sok cool.

“Kalau gitu tipenya dong, mas!” goda HyoRin, aku melotot ke arahnya. Kontan saja teman-teman sekelas pada ketawa. Jujur aja aku juga rada penasaran, emang ada cewe yang bakal tahan sama cowo jenis dia?

“Tipe? Yang jelas bukan kamu!” sembur Jinki, wajah HyoRin lantas memerah saat teman-teman kembali terbahak. Duh itu cowo keterlaluan banget sih. Dia ga punya perasaan apa? Jinki kembali ke tempat duduknya.

“Oke, sekarang saya ingin mengatur ulang tempat duduk kalian, gunanya apa? Supaya kalian bisa saling berbagi dan bisa berteman dengan semuanya. Saya sudah mempersiapkan 30 gulungan kertas.” Anak-anak langsung mengeluh kecewa.

“Kebetulan sekali, jumlah murid di sini berimbang antara laki-laki dan perempuan. Jadi yang perempuan ambil kertas di toples A, yang laki-laki di toples B. Mengerti?”

“Jadi, kita bakalan duduk berpasangan ya pak?” tanyaku. Kim songsaang mengangguk, hah? Aku pisah dong sama HyoRin. Satu persatu para siswa maupun siswi mengambil gulungan kertas itu, hingga tiba giliranku. Aku memilihnya dengan cermat, berharap semoga saja bukan dia!

“Minji nomor berapa?” seru HyoRin, kulihat dia sudah duduk dengan Taemin, aku membuka gulungan kertas ku. Nomor 3A? Ini kan tempat dudukku yang pertama? Mungkin aku memang di takdirkan duduk di sini. Rasain kau Jinki!

“Sudah dapat semua kertasnya? Silahkan kalian menuju tempat duduk kalian masing-masing. Dan apapun yang terjadi saya ingatkan, tidak boleh ada yang menukar kursi! Karena itu adalah pilihan kalian dari awal, jadi kalau tidak mau duduk di situ silahkan keluar dari pelajaran saya.” Kami serentak mengiyakan. Kulihat Jinki sedang mencari nomor meja di deretan kursi belakang. Sepertinya dia ga duduk denganku, syukurlah.

“Thank God! I’m so thankful!!” gumamku. Aku merasa ada yang duduk di sebelahku, berarti dia teman sebangkuku. Aku akan menyapanya.

“Hei, mulai hari ini kita sebangku. Mohon kerjasama…what??” reflex aku berdiri menyadari siapa yang duduk di sebelahku.

“Kamu!!” seruku tidak percaya, bukankah tadi dia ada di deretan belakang? Dia menunjukkan kertasnya yang bernomor 3B. Apa???

“Hah? Impossible!” aku terduduk kembali di kursi, selama setahun aku bakal sebangku dengan dia? Oh boy!!

“Baiklah, sesuai perjanjian maka ga ada yang bisa protes, oke?” kata Kim songsaang lagi. What? Shit!! Should I? Aduh, padahal aku udah milih yang cermat nih kertasnya.

“Oppa tega banget sih? Kenapa malah makhluk jenis dia yang bakalan sebangku denganku?” rajukku sambil memasang wajah seimut mungkin di kantor Kim songsaangnim.

“Kau sendiri yang memilih kertas itu, Kim Minji.” sahutnya tenang.

“Tapi kan! Aduh!” aku jadi makin sebal aja.

“Jinki itu pintar matematika tau, kamu bisa belajar dari dia!”

“What? Belajar dengannya? Ogah, mendingan mati aja!”

“Kamu serius? Kalau begitu bersiap saja nilai ulanganmu akan berhiaskan tinta merah lagi!” tukas Kim songsaan kejam. Kemudian dia berdiri, raut wajahnya berubah.

“Jinki juga begitu membenciku!” bisiknya.

“Karena aku ga bisa membahagiakan noona nya.”

“Tapi bukannya kau dengan Onnie bahagia? Indra perasanya memang lemah.” dia mengangguk.

“Dia sangat mencintai kakaknya. Mungkin Se Kyung pernah cerita padamu tentang keluarganya.”

“Ibu Jinki meninggal saat ia berumur 3 tahun, lalu ayahnya menikah lagi. Ibu tirinya begitu kejam padanya, selepas ayahnya meninggal pula saat Jinki berumur 7 tahun. Dia mendapat perlakuan yang buruk secara mental.”

“Dia mampu bertahan hidup, itu yang ku banggakan darinya. Lalu mulai mencari kakaknya, yang meninggalkannya seorang diri. Berbagai macam kehidupan dunia yang begitu kejam pernah di laluinya. Seharusnya kau banyak belajar darinya. Walaupun sikapnya kasar, tapi ku yakin dia bukan orang yang jahat.” Lanjut Kim songsaangnim.

“Iya, kupikir juga begitu.” Sahutku lagi, mungkin aku saja yang begitu keterlaluan padanya. Dia bersikap begitu juga karena sikapku yang kasar terhadapnya. Mungkin mulai saat ini aku harus bersikap lebih ramah padanya.

“Aku mengerti, akan kucoba berteman dengannya, oppa!” Kim songsaang tersenyum bangga.

“That’s my girl!” ujarnya lagi seraya mengacak-acak rambutku. Kami tertawa.

Sementara itu Krystal yang kebetulan lewat di depan ruangan Kim Songsaang melihat dengan jelas Minji bersama Kim Songsaang yang begitu akrab. Apa yang mereka lakukan? Kenapa begitu akrab? Apa jangan-jangan? Tapi masa sih Minji selingkuhan Kim Songsaang? Aku harus memperingatkan Minho kalau begitu, Minji bukanlah orang yang baik.

TBC~~

a/n: I need ur comment chingu.. untu memperbaiki ff ku di masa datang..

Posted 23 April 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , , ,

2 responses to “[FF] Precious Thing *Part 4 of ?*

Subscribe to comments with RSS.

  1. waduh mulai blibet yah ceritanya..
    aq bingung sebenernya Onew (idola nya minji) sama lee jinki adiknya onnie itu satu orang bukan??
    wah asik banget kalo satu orang..hehe
    jadi penasaran gimana lanjutannyaa..
    hoho..
    krystal jadi tokoh jahat ya disini??
    wah dia kayaknya cinta banget ama ketua alias minho.
    ngomong2 nama member SHINee udah di sebut semua ya?? taemin ama key kayaknya yang perannya dikit,,
    hehe..
    cepetan di update yah chingu..
    aq sabar menunggu… #plakk

  2. Sip! ini cerita ny jd nambah keren😉 tp kok minji agak sunda ya😄 hahaha lucu sih,, tp lbh bagus klo bhs ny agak baku-in dkit, hehe *protes mulu nh reader* #plak overall bagus, keep writing ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: