[FF] Precious Thing *Part 2 of ?*   3 comments


Cast:

  • Kim Minji (Fiksi)
  • Onew (SHINee)
  • etc (find them by ur self)

Foreword:

Annyeong reader #plakk apaan sih aku kayak banyak aja yang blog ini..

haha..

Chingu..yah semoga ada yg baca.. ^^

Cuma mau ngasih saran, background music itu maksudnya, waktu aku nulis ff ini ditemani sama lagu2 itu.. hehe..

Okay..

Langsung aja disimak ini dia Part 2 nya..

Chapter 2

Start of Something New

~Background music: OST HGM 1 – Start Of Something New~

Tanpa terasa hari ini sudah menginjak minggu ke-3 selama liburan, selama hampir seminggu ini aku terus mengikuti kelas tambahan Matematika. Benar-benar hal yang begitu menyebalkan bagiku. Tiap hari aku selalu berkutat dengan banyaknya rumus dan persamaan.

“Padahal inikan liburan? Kenapa aku harus begini? I’m dying!” sesalku seorang diri, sambil terus mengerjakan soal yang diberikan oleh Kim Songsaang.

“Kim Minji, apakah sudah selesai?” Tanya Kim Songsaang. Aku melengos, sepertinya orang ini mampu membaca pikiranku saja. Dengan langkah gontai aku menuju ke meja guru untuk menyerahkan tugas yang sudah kukerjakan. Kim Songsaang membacanya dengan teliti. Aku mengamati ekspresinya diam-diam, kenapa guru ‘cool’ ini banyak disukai oleh murid-murid? Bahkan HyoRin juga ikut menyukainya.

“Kenapa?” Tanya Kim Songsaang saat menyadari aku menatapnya begitu aneh. Aku menggeleng kaku.

“Apa jawabanku benar?” tanyaku mengalihkan, dia menghela napas panjang. Oh jangan lagi!! Besok adalah hari pertama PSB, aku ga punya waktu lagi untuk memperpanjang kelas tambahan.

“Yah, you’ve worked hard Kim Minji. You’ve pass!” dengan wajah santainya ia mengembalikan kertas tugasku tadi, bahkan tanpa peduli betapa gugupnya aku barusan karena ekspresinya yang terlalu berlebihan. Aku tersenyum lega dan kembali ke tempat dudukku.

“Well, semuanya sudah berjalan baik. Yah, walau ada beberapa dari kalian harus mengulang lagi. Karena sudah jam makan siang, kalian boleh istirahat sekarang.” Setelah berkata demikian, tanpa dikomando lagi semua siswa lantas keluar dari kelas.

“Kim Minji?” Kim Songsaang memanggilku.

“Ne? A…” aku menghampiri Songsaang yang sedang membereskan buku-bukunya.

“Sometimes, you don’t have to show your harsh behave to me, sonsaangnim! We’re definitely a family now, right?” mendengar itu, guru ganteng itu hanya tertawa.

“It’s my charm, my wife said so!” hah?

“Onnie kka?” dia mengangguk, aku tersenyum. Kim Songsaang membelai kepalaku, dia memang guru yang baik.

“Kudengar, ayahmu bekerja di luar kota? Apa kamu tidak pernah merasa kangen?” aku tertegun dengan pertanyaannya, siapa sih yang ga bakal kangen dengan orang tuanya setelah sekian lama ga bertemu?

“Setelah ûri omma meninggal, Appa jadi uring-uringan terus. Makanya, aku dititipkan dengan bibi Kanmy adik ibuku. Sejak aku masuk SMP, aku tinggal dengan bibi Kanmy.” Kim Songsaang mulai memperhatikan ceritaku, dia mengerutkan alisnya.

“Ekonomi keluarga bibi Kanmy tidak begitu bagus. Sepupuku, Luna mengidap penyakit turunan dari ayahnya. Makanya, untuk biaya pengobatan Luna saja sudah sangat susah, apalagi jika harus menanggung bebanku?”

“Karena itulah aku memutuskan untuk hidup sendiri. Mengetahui itu, bibi menangis memohon agar aku kembali. Tapi aku tetap pada pendirianku, bagaimana bisa aku merepotkan bibi Kanmy?”

“Setelah mendengar itu, Appa sadar dan sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Appa mencoba menebusnya, dengan bekerja keras siang dan malam. Appa berulangkali minta maaf padaku.” Aku tersenyum lemah.

“Aku sangat mencintai kedua orangtuaku. I love my mom, also my dad. Neither angry nor ignore him, I let him to work hard and responsible his fault.”

“Walau sangat ingin bertemu, walau sangat ingin melihatnya. Dia berusaha untuk anaknya. Bagaimana aku ga kangen dengannya? Appa, satu-satunya yang aku punya di dunia ini.” Air mataku menetes. Kim Songsaang merangkulku, aku terisak di dadanya.

“Kamu telah banyak melalui waktu yang sulit! Kamu benar-benar tegar!” dia tersenyum, wajahnya tampak sangat ramah.

“Karena itu, berjanjilah untuk tetap tersenyum apapun yang terjadi! Kamu ga sendiri, kamu memiliki kami. Your family, walaupun bukan keluarga kandung, anggap saja begitu! Okay?” aku mengangguk, Tuhan telah memberi segalanya padaku. I’m so thankful.

“Okay, ayo makan siang! Kebetulan neo Onnie membuatkan bekal! Ayo ke taman! Let’s go!” ajak Kim Songsaang, aku tertawa. Entah kenapa kalau mendengarnya menggunakan bahasa Inggris jadi terdengar lucu?

Kami duduk di kanopi taman belakang sekolah, melihat anak-anak seliweran dan makan bekal buatan Onnie. Walau tak banyak bicara, tapi setidaknya perasaan yang membebaniku perlahan terangkat.

“Ah, there you are! Minji!” panggil seseorang, aku menoleh.

“Ketua?” dia menghampiriku, wajahnya tersenyum.

“Ah, annyeông haseyo sonsaangnim!” dia menyapa Kim Songsaang, dan guru itu hanya mengangguk.

“Tau kan besok kita udah PSB? Jangan lupa persiapin map sama formulirnya!” aku mengangguk.

“Ne, arraso ketua!” ia tertawa.

“O ya, sebentar lagi ada pertandingan basket se-SMA nih, apa ekskul basket siap?”

“Iya, tapi kita masih perlu banyak latihan. Kapan pertandingannya?”

“1 bulan dari sekarang, mungkin terlalu cepat ya? Tapi sebelum kaderisasi pemain lama. Jadi, kamu masih bisa bertanding.”

“Ah ketua mengejekku? Selama kelas 2 ini kami hanya menurunkan anak kelas 1 untuk pertandingan.”

“Lho bagus, kan? Jadi ini bisa menjadi pertandingan terakhir kalian!”

“Oke, saya sudah selesai! Silahkan melanjutkan pembicaraan!”Kim Songsaang tiba-tiba berdiri dan berlalu.

“Jadi benar, aku dengar kamu tinggal sama guru itu?” Tanya ketua tiba-tiba. Aku mengangguk, apa semua orang akan berpikir itu adalah hal yang tidak baik? Membantu orang apa salahnya sih?

“Kamu benar-benar orang baik, Minji!” komentar ketua tanpa diduga. Aku tersipu.

“Gomawoyo, jarang ada yang berpikir seperti ketua!” dia terkekeh.

“Ne, little dot!” katanya sambil mengelus kepalaku.

“Kenapa memanggilku seperti itu ketua?”

“Kamu ini, padahal kita seangkatan tapi memanggilku ketua bahkan bukan pada saat rapat. Makanya kamu kupanggil little dot! Kamu ini masih kecil sih!” dia menarik hidungku gemas, dan tertawa.

“Ah sakit! Tapi aku kan ga selamanya menjadi anak kecil ketua!”

“Aku juga! Ga selamanya akan menjadi ketua!”

“Tapi bagiku kau tetap akan selalu menjadi ketua!” dia tertawa lagi.

[Author POV]

Dari kejauhan, Krystal melihat 2 orang yang sedang duduk di kanopi taman dengan wajah sedih. Hatinya tercabik, kenapa Minho menunjukkan wajah bahagianya itu hanya pada Minji? Siapa sih Minji? Dia bahkan hanya pengurus Osis biasa, tidak seperti dirinya yang memiliki relasi yang lebih dekat dengan ketua Osis.

“Aku kan wakil ketua, aku mestinya yang lebih dekat dengan Minho daripada Minji, tapi kenapa harus dia yang…?” batinnya, dia menggigit bibirnya sekuat tenaga demi menghalau pikiran yang masuk ke dalam otaknya.

“Apa ketua menyukai Minji?” pikiran-pikiran itu terus berputar dan menjadi sebuah kesimpulan yang benar-benar menyakiti hatinya.

“Ya, dia pasti menyukai Minji!” air matanya meleleh tidak terima dengan kesimpulan yang ia reka sendiri.

“Minji…kau punya segalanya! Kau disukai siapa saja, siapa saja! Tapi ku mohon jangan dia! Jangan Minho!” perasaan hancur itu perlahan berubah menjadi api yang berkobar. Yang kapanpun siap untuk membakar apa saja.

Posted 23 April 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , , ,

3 responses to “[FF] Precious Thing *Part 2 of ?*

Subscribe to comments with RSS.

  1. aq suka ff-nya..
    aq suka karakter Minji disini.. kuat, mandiri.. aq banget #plakkk
    krystal suka sama ketua ya??
    sebenarnya ketua a.k.a minho suka kan sama minji?
    aigoo.. lanjut ke part 3..

  2. Kenapa singkat bie? ;AA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: