[FF] Precious Thing *Part 1 of ?*   10 comments


 Kim Minji : tokoh utama dalam cerita ini, orangnya ceria, mandiri, manis, kaya tapi sayangnya agak bodoh dalam matematika (menamakan dirinya pembenci MATEMATIKA no.1 di dunia). Sebenarnya dia anak yang pintar (kalau rajin belajar), latar belakangnya sangat menyentuh (apalagi tentang keluarga), paling suka nyanyi, menguasai bahasa Korea dan jago masak. Pecinta Onew nomor 1 di dunia. Cita-citanya adalah bisa ketemu dengan Onew.
 Lee Jinki : cowo super cakep dan keren yang sombong dan jago kelahi. Dia orang yang pintar, tapi sangat pendiam. Paling benci makanan pedas (karena bisa merusak suara indahnya). Sama dengan Minji, ia juga memiliki masalah keluarga. Sebenarnya, Jinki ini cukup bertanggung jawab lho, suaranya keren, jago main alat musik dan punya banyak penggemar yang ga pernah digubrisnya.
 Choi Minho : Ketua dewan siswa yang adil dan bijaksana, selain cakep dia juga baik pada siapa saja. Sebenarnya dia menyukai Minji, tapi dia tak sanggup mengutarakan apa yang ia rasakan.
 Park Luna : Sepupu Minji, dia adalah mantan pacar Jinki yang sangat menyukainya hingga sekarang. Ia sangat manja dan bisa menjadi sangat kejam. Luna mengidap penyakit parah.
 Lee Sek kyung : Kakak Jinki, orang yang sangat ceria dan konyol. Walau begitu, dia sangat menyayangi Jinki, dan dia adalah orang yang disayangi oleh Jinki diam-diam.
 Kim Jonghyun: Guru Blasteran yang mengajar MTK, dia adalah guru yang baik, cakep dan sangat bijak. Usianya juga masih muda dan favorit para siswa.
 Yoong HyiRin : Sahabat Minji, yang mengerti Minji luar dalam. Mereka udah sahabatan selama 5 tahun.
 Krystal : Dia adalah orang yang sangat mencintai Minho, namun cintanya bertepuk sebelah tangan.

Chapter 1

The Meeting

~Background Music This is My Life~

Papan pengumuman nilai akhir semester sudah dipasang di mading sekolah. Ratusan siswa berkumpul berjejalan, begitu penasaran dengan nilai mereka. Sebagian lagi sudah menghadap guru bidang studi untuk mengikuti kelas tambahan. 2 orang siswi tampak terjepit di tengah jejalan teman-temannya.
[Minji POV]
“Gimana Minji? Kamu lihat ga?” Tanya Yoong HyoRin, teman sekelasku sekaligus sahabat baikku.
“Aduh, sesak gini gimana caranya aku bisa lihat?” sungutku sambil berusaha mencari namaku.
“Ah aku lulus semua!!” sorak HyoRin senang, ia langsung keluar dari kerumunan. Aku jadi semakin bersemangat mencari namaku di daftar pengumuman itu. Well, semua nilaiku cukup memuaskan dan lulus kecuali satu…
“O my God!! Matematika ku 4.80?” seruku terkejut. Itu…itu artinya liburanku???
“Minji gimana?” Tanya HyoRin antusias. Aku tersenyum lesu.
“Oh Shit.. Matematikaaaa!! Lagi-lagi…! Ugh!! Aku benci banget sih dengan pelajaran ini! Coba dihapuskan aja dari dunia!!”
“Kim Minji dari kelas B, mulai minggu depan kamu harus mengikuti kelas perbaikan.” Seru Kim songsaengnim, guru Matematika. Mengeluh pun rasanya percuma, liburanku benar-benar kacau.
“Ne, songsaangnim!” sahutku sambil cemberut. Guru muda itu hanya tertawa, cakep juga.
“Idih kalau bukan guru udah gue embat tuh orang!” gumam HyoRin, aku hanya melongo. Hah? Hpku berdering.
“Yoboseo?” sapaku.
“Minji-ah?” aku terkejut dengan seruan tersebut.
“Appa? Appa!! Oddosimnika?” ternyata itu Appa, aku benar-benar kangen mendengar suaranya.
“Joun, Minji. Mianheo…”
“Ne? Mianheo waeyo?” tanyaku.
“Appa tidak bisa ke sana liburan ini, appa banyak kerjaan. Mianheo!”
“Mwo? Mwo sumbadiyo? Appa, aniyo wae?”
“Mian Minji, Appa benar-benar sibuk.”
“Ne, arraso! Padahal appa bentar lagi ulang tahun!” rajukku. Appa tertawa.
“Nae aboji, saranghae! Bogoshipoyo!”
“Appa do saranghae, Minji! Najung e boepgessumnida!”
“Ne, bye bye!” tutupku. Ternyata Appa terlalu sibuk sampai melupakan aku. Tapi ya sudahlah.
“Neo Appa?” Tanya HyoRin, aku mengangguk.
“Gimana dong nih? Mian, aku ga bisa ikutan liburan ntar. Aku harus ikut kelas tambahan nih sama Kim songsaeng. Kamu tau kan lagi-lagi aku harus mengulang pelajaran! Ugh, kenapa sih mesti ada yang namanya ‘MATEMATIKA’ di dunia ini? Aku tuh benci tau ga sih!!” keluhku pada HyoRin, teman sebangkuku itu.
“Ne, ne…padahal kita kan udah janji mau ke pantai liburan ini! Gimana sih!” rajuk HyoRin.
“Mau gimana lagi? Belum lagi aku masih mesti ngurusin PSB nanti, ngerepotin banget ga sih?”
“Iya deh, dasar nona sibuk!” ejek HyoRin sambil menggandeng tanganku. Aku tersenyum, sahabatku Yoong HyoRin emang paling the best deh. Maklumlah, kami sudah berteman sejak SMP dan kalau dihitung sampai sekarang udah lebih dari 5 tahun kami berteman. Rasa saling percaya dan pengertian satu sama lain itulah bumbu rahasia persahabatan kami hingga sekarang.
Aku dan HyoRin adalah Siswi SM Academy School (*LOL) yang merupakan sekolah yang memiliki banyak potensi di dalamnya. Aku, Kim Minji sebenarnya adalah anak yang pintar tapi karena kehidupanku begitu sulit membuatku jadi jarang membuka buku, sehingga aku harus berusaha sekuat tenaga meraih nilai yang baik. Sebenarnya sampai SMP aku tinggal bersama bibiku, tapi saat ini aku tinggal sendiri karena orang tuaku berada di luar kota untuk bekerja. Aku harus berjuang keras hidup mandiri, tapi itu bukanlah hal yang mudah. HyoRin sangat mengerti keadaan sahabatnya ini, dan ia juga kagum padaku karena bisa mandiri di usia yang tidak semua anak bisa melakukannya. Kata orang, Minji itu anak yang memiliki pemikiran yang baik dan luas, ia juga adalah anak yang sangat ceria dan cepat bergaul.
“Ya udah, I’ll leave first!” pamit HyoRin. Aku mengangguk, sambil menyaksikan sahabatku pergi, dan menggigit bibirku sedih.
“Aku mungkin bukan sahabat yang baik, tapi aku akan berusaha sebaik-baiknya menjadi yang terbaik. Maaf tidak bisa menetapi janji HyoRin…” bisikku lemah. Aku tau, HyoRin sedang sedih karena dengan pacarnya sedang kuliah di Seoul sekarang. Makanya aku sangat ingin menghiburnya.
“Seandainya ga ada Matematikaaaaa!!!!” jeritku. Sampai sebuah sepeda motor menyerempetku. Aku terjatuh di tengah tengah jalan raya. Suara klakson mobil lantas riuh terdengar. Ah dasar pengemudi sepeda motor yang buruk, aku berusaha menghapal nomor kendaraannya. 535063214DA (*nomor ini fiktif)! Awas kalau ketemu dengan motor itu lagi, bakalan aku tendang pemiliknya!
“Ah!! Aww, sakit!!” keluhku sambil mengelus kakiku yang berdarah.
“Ah ya ampun!!! Kamu gak apa-apa?? Ayo kita ke rumah sakit sekarang!!” seorang cewe, kelihatannya sih masih muda mungkin sekitar umur 25-an gitu, datang menghampiriku dan langsung menarik tanganku. Aku cuman bengong aja, melihat dia yang begitu panik dengan lukaku.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung menjahit kakiku yang robek. Cewe itu memandangi lukaku dengan serius dan sesekali meringis.
“Apa kamu ga ngerasa sakit???” Tanyanya ramah, tentu saja aku merasa sakit. Tapi, siapa dia?
“Ah ya aku lupa kenalan, namaku Lee Se Kyung (*LOL). Kamu Kim Minji bukan?” kok dia tau namaku? Aku mengangguk kaku.
“Annyông haseo. Kamu Kim Minji, kan? Yang sekolah di S.A.S (Sm Academy School *LOL*) itu? Ku dengar dari suamiku, katanya kamu sangat pintar bahasa Inggris?” Suami katanya? Siapa? Memangnya aku kenal sama suami orang?
“Ne, Minji imnida. *Nam-pyon (suami) nugu issimnikka?” tanyaku heran, aku memang bisa berbahasa Inggris, karena dulunya aku sempat tinggal di Australia.
“Kim Jonghyun imnida, nam-pyon nûn sonsaang imnida. Mungkin kenal?” OMO! Kim Jonghyun Songsaaengnim?? Ah? Guru Matematika itu? Sudah punya istri? Semuda itu? O boy…
” Ne, aku kenal! Muda sekali!! Oddôke??”
“Kami baru saja menikah, makanya…” ujarnya tersipu. Tanpa terasa jahitan di kakiku sudah selesai.
“Minji, odi sasimnikka?”
“Di prefektur 2 blok 5, Onnie di mana?”
“Sebenarnya, aku baru datang dari luar kota kemarin, sementara ini tinggal di hotel. Tidak punya tempat tinggal! Hehehe!!” hah? Maksudnya? Orang ini terlalu bebas nampaknya.
“Kalau mau tinggal denganku saja. Hônja simnida. Orang tuaku di Seoul.”
“Mourogoya? Kamu serius?”
“Ne, aku sangat kesepian. Tinggal sendiri itu susah, lagipula rumahku lumayan besar. Jadi sayang kalau cuman aku sendiri saja yang tinggal.” Kataku lagi.
“Ide yang bagus, aku telpon suamiku ya! O ya nomormu berapa Minji?”
“507-93926 (*nomor ini fiktif).”

Kami sampai di rumahku, tak berapa lama kemudian. Setelah makan siang, kami berbincang tentang apa saja, dia bercerita tentang keadaannya. Sebenarnya keluarganya sangat rumit makanya ia memutuskan menikah. Ia mempunyai seorang adik laki-laki yang seumuran dengan ku. Ibunya meninggal setahun setelah adiknya lahir. Tak lama kemudian ayahnya menikah lagi dan mempunyai adik perempuan. 7 tahun kemudian ayahnya meninggal dalam kecelakaan, tapi pada saat itu Onnie belajar di sini, jadi dia ga tau keadaan adik lelakinya itu.
“Tapi Jinki…dia sangat benci padaku, dia juga benci sama Jonghyun. Dia menentang pernikahan kami! Ini salahku, aku tau dia diperlakukan buruk oleh ibu tiri kami disana. Aku malah meninggalkannya sendiri, mungkin ini pembalasan untukku.”
“Kurasa tidak begitu, mungkin Jinki itu bersikap sebaliknya. Dia menyayangimu, dia ingin menjagamu. Berlaku seperti ayah!” kataku menenangkannya.
“Kalau dipikir begitu, lucu juga. Tapi walaupun begitu, aku tetap menyayanginya dan bersumpah akan menjaganya seumur hidupku.”
“Kalian serasi sekali, aku tidak punya saudara. Jadi tidak tau rasanya seperti apa.”
“Ahhh…jangan berpikir seperti itu, aku adalah saudaramu mulai sekarang! Panggil aku Onnie, Ok? Jadi jangan sedih lagi ya…” dia merangkulku, aku meneteskan air mata. Mengingat kata-kata terakhir mamaku sebelum meninggal.
“Mianheo Minji-ya, mom can’t keep you anymore. Please live well and you must be healthy! Saranghae ûri aagi, jinjja saranghae. Usûseyo.” Kata mama di saat terakhir hidupnya, mama menutup matanya.

“Omma, omma…aniyoo…please don’t leave me alone!! Appa, wake her up!! Ûri omma don’t leave…!”
“Yôbo!! Minji omma?? Do you hear me? Yôbo? Yôbo!! Doctor!! Nurse?? Anyone?? Come here immediately, my wife, Minji omma didn’t answer me!”
“Silrye hamnida, sonsaangnim. She left…”
“Mwo? Mourogoya? She’s alive, she didn’t!!”
“Johsûmnida.” Dokter itu berkata dengan sedih, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku menggerak-gerakan tangan mama seraya memanggilnya. Berharap ia bisa bangun dan berkata padaku bahwa apa yang dikatakan dokter itu salah, dokter itu bohong. Entah sampai berapa lama, aku menyerah di saat tangan mamaku sudah kaku.
Suara ketokan pintu mengejutkanku, aku mendapati diriku di kamarku. Aku bangun dengan hati-hati, kakiku sangat nyeri.
Tok tok tok…pintu kamarku diketuk.
“Minji, boleh aku masuk?” suara Se Kyung Onnie.
“Ne, dûrô oseyo!” kulihat Onniee dengan Kim Songsaang masuk, Onnie membawa semangkuk bubur.
“Ku pikir kau harus banyak istirahat. Kakimu pasti masih sakit. A, ne. Ini Jonghyun suamiku!” Kim Songsaang tersenyum ramah, seraya mengangguk.
“Ne! Gomawo!”
“Minji, kau serius tentang kami boleh tinggal disini?” Tanya Kim Songsaang, aku mengangguk.
“Tenang saja, Appa membelikan rumah ini untukku. Jadi ga apa-apa. Lagian aku bisa belajar matematika gratis nih!” Kim Songsaang dan Onnie tertawa.
“Panggil aku oppa (*kakak laki-laki) ya…!” ujar Kim Songsaang. Aku mengangguk.
“Terima kasih banyak, bagaimana dengan ibumu?” tanya Kim Songsaang ramah.
“My mom passed away. Dan Appa sekarang ada di Seoul bekerja..”
“Mian then.” sahut Onniee.
“Aniyo, gwênchana!” aku menghibur mereka, mereka tersenyum getir. Aku memutuskan hidup sendiri, jadi sesusah apapun hal yang akan terjadi nanti aku harus bisa melaluinya. Semua orang bakal berpikir apa sih yang bakal terjadi dalam sebulan libur musim panas? Tapi aku mempunyai keluarga baru, yang hangat dan menyenangkan. Aku bisa membayangkan, hidup ga akan susah dan kosong lagi.
Mereka mengelus kepalaku, senang rasanya di tengah orang baik yang menyayangimu. Sekalipun ia orang yang baru kau kenal.
“Mulai hari ini, kita adalah keluarga! Okay?” ujar Onnie, kami bertiga lantas berkait jari demi janji ini. Omma, aku punya kakak sekarang. Juga seorang kakak laki-laki.

“Minjiiii!!! Banguuunnn!! Sarapaaaan!!” teriak Onnie dari bawah. Sudah 2 minggu lebih kami bertiga hidup bersama. Kami menjadi semakin terbiasa, bahkan sudah seperti keluarga saja. Aku memeriksa Hp-ku, ada sms dari HyoRin. Dia mengajak shopping hari ini. Aku menuju ruang makan di lantai 1.
“Kimchi? Yumm…”
“Minji, kapan mau mulai kelas tambahan?” Tanya Kim Songsaeng. Ups!! Aku lupa! Kalau aku ikut kelas perbaikan.
“Jangan bilang kalau kamu lupa?”
“Ga lupa koq!! Tapi jangan hari ini ya, sonsaangnim! Mau shooping nih hehe..!”
“Dasar!! Minggu depan sudah mulai PSB loh, nanti sonsaang (*guru) bakal sibuk semua.”
“Ne, arrasoyo!!”
“Makan dulu dong, ngomongin itu ntar aja yah!” Onnie menengahi. Selesai makan aku langsung pergi ke tempat janjian dengan HyoRin.
“Hah??? Serius?? Kim Songsaang sudah punya istri?? Dan sekarang tinggal sama kamu??” seru HyoRin ga percaya. Aku mengangguk, itu memang hal yang mustahil bagi orang lain, but by my side it isn’t.
“Unbelievable! Maksudku, Kim Songsaang yang masih muda dan super HOT udah punya istri? Ah!! That’s pity!”
“Wae? It’s up to him! Kenapa kamu sepertinya ga rela banget?”
“Iyalah, aku kan ngefans sama Kim Songsaang, tau-tau dia malah udah punya istri.” Aku tertawa, bisa-bisanya suka pada gurus sendiri. Dasar ada-ada aja.
“Cape deh, ngefans sama guru! Aku dong sama Onew !! Ah emang cakep banget, saranghae Onew oppa!!” ujarku sambil membayangkan wajah idolaku itu.
“Kamu tuh ngayalnya ketinggian, mending aku dong!”
“Jah, malah lebih parah dong, kamu suka yang udah punya istri. Iiihhh!!!” ejekku.
“Ah ngomongnya jangan nyaring-nyaring dong!! Ntar kalau ada yang dengar gimana!” kami tertawa.
“Jadi sekarang kamu tinggal bersama mereka? Minji! Kamu itu terlalu baik bahkan sama orang yang ga di kenal, kalau ternyata mereka penjahat gimana?”
“Ah, ga dong. Kalau penjahat, Onnie ga mungkin mau ngabisin uang buat ke rumah sakit untuk seseorang yang ga dia kenal!!”
“Tapi, kamu kan ga tau asal usulnya, siapa tau dia cuman pura-pura baik untuk menipumu!” aku tertegun.
“Pernahkah kau, merasa sangat ingin mempercayai seseorang? Aku ingin mempercayai, yah walaupun it might be happen, tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk itu!”
“Ah ga tau ah, yang jelas aku udah memperingatkanmu!”
“Uri omma juga pasti setuju kalau aku membantunya. Di dunia ini orang baik ga banyak lho! Jadi ga masalah kok!”
“Ne, terserah deh!” ujar HyoRin kemudian, kami berdua tersenyum dan masuk ke toko. Beli baju, tas, sepatu, buku dsb. Kami benar-benar 2 anak yang boros.
“Eh DVD Saw 7, aku pengen nieh!!” sahutku ketika melewati toko kaset.
“Titip barang dulu!” HyoRin mengingatkan. Aku mengangguk.
“Loh? Bukannya kamu pecinta drama ya? Koq beralih ke thriller??” Tanya HyoRin.
“Yah, pas buat ngilangin stress. Tapi ngelihat Onew juga bisa ngelepas stress sih! Haha!!” HyoRin memutar bola matanya.
“Onew onew onew, bosen tau Onew mulu. Dia ga bakal tau juga kalau kamu suka dia, biar kamu teriak-teriak kayak orang sinting gitu!!”
“Eh aku udah dapet me2day dia tau!.”
“Hah…terserah deh, jadian sana sama Onew!”
“Aminnn, mudahan aku bisa ketemu sama On…hyaaa!!” seseorang menyandungku, beruntung!! Aku ga jatuh, aku di papah sama seseorang yang…O my Goodness…
“OMO!! On..onew.??” dahi cowo itu berkerut bingung.
“Excuse me?” ternyata ia orang luar negri, yang sangat mirip dengan Leader SHINee itu!!! Bukan cuman wajah, tapi suaranya juga. Dia memakai topi, dan menggunakan headset. OMG, dia benar-benar hampir membuatku melting!
“I’m sorry, are you okay?” dia menatap mataku. Aku memandangnya tak berkedip. Snap!! Wake up Minji..
“Yah!! Earth call you” dia menyadarkanku sambil menjentikkan jarinya. Dia memperbaiki topinya dengan tatapan sinis padaku. Apa?? Jangan-jangan dia marah? Tapi…dia benar-benar mirip Onew!! Cowo itu berlalu, tapi aku masih terpaku di tengah keherananku.
“Kamu ngapain sih? Udah dapet belum kasetnya?” Tanya HyoRin di belakangku.
“HyoRin kamu lihat cowo tadi ga? Sumpah!! Mirip banget dengan Onew!!”
“Mimpi apa sih? Baru jam 2 juga!”
“Hei, hei, hei aku ga mimpi tau!! Tadi itu, ada cowo yang mirip banget dengan Onew!!”
“Kamu terlalu terobsesi dengan Si Onew, makanya semua orang kamu kira Onew. Jangan-jangan kamu pikir aku juga Onew?”
“Ga lah, udah ayo bayar. Nih, ambil barang titipan.” HyoRin pergi mengambil barang titipan.
“Kamu beli apa aja sih?”
“Ga banyak sih, aku belikan appa hadiah ulang tahun. Bentar lagi na appa ultah!” jawabku sambil mencari kado yang kumaksud dalam tas belanjaan.
“Kenapa?”
“Itu! Kadonya kok ga ada sih? Tadi ku taruh di sini!” aku mulai mencari dengan serius.
“Masa sih? Coba kamu cari lagi, siapa tau keselip?” sela HyoRin. Aku berharap demikian, jangan sampai hilang karena itu adalah kado yang sangat penting buat appa. Aku sangat merindukannya, jadi kuharap kado itu bisa menggantikanku di sisi appa.
“Duh ga ada! Gimana nih?”
“Waduh, parah nih! Lapor aja yuk!” saran HyoRin. Aku menggigit bibirku panik.
“Maaf nona ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang penjaga tempat penitipan barang.
“Ah, gini mbak, apa mbak lihat emm kado? Kotak berwarna hitam dengan pita biru elektrik?” tanyaku padanya. Penjaga itu tampak berpikir.
“Jadi itu milik anda? Saya pikir, aduh! Saya memberikanya pada orang lain karena saya pikir itu miliknya!”
“Apa? Sama siapa?”
“Aduh, saya lupa! Sama? Hmm, laki-laki! Dia memakai topi, dan wajahnya sangat tampan!”
“Aduh mbak, kita mana bisa nemuin orang kayak gitu di tempat seperti ini!” cecar HyoRin, aku jadi semakin bingung.
“Ah itu dia!” tunjuk penjaga itu ke arah lantai dasar, ah bukankah itu? Cowo yang mirip Onew tadi? Kok bisa jadi kebetulan gini sih?
“Anda yakin?” tanya HyoRin, penjaga itu mengangguk.
“Saya ga mungkin salah kali ini, karena dia sangat tampan, benar-benar sesuai dengan tipe saya selama ini!” HyoRin memutar bola matanya. Aku masih terpaku menatap cowok itu, masa sih?
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa malah bengong sih? Pabo! Cepat kejar dia!” jitak HyoRin, aku langsung tersentak dan menariknya dari sana.
“Kalau kalian menyalamkanku padanya, akan ku anggap sebagai ucapan terima kasih!” seru pramuniaga itu. Kami berdua mengacuhkannya.
“Kau tau? Kurasa dia sedikit gila!” gumam HyoRin. Aku mengangguk setuju. Duh, kami kehilangan jejak cowok itu lagi. Ck, kemana sih dia?
“Mian Chingu, kamu duluan aja deh! Ini, bawa ke rumahku dan kasih tau Onnie! Ok?”
“Mwo? Buat apa aku ngasih tau dia?” tolak HyoRin.
“Aish! Kamu bisa ketemu Kim Songsaang di sana, tolonglah!” HyoRin nampak menimbang-nimbang namun akhirnya mengambil juga kantong belanjaan yang kupegang.
“Good luck!” sahutnya kemudian, aku mulai berkonsentrasi menemukan sosok cowok itu. Kemana sih dia? Aish! Ah, itu dia! Dia menuju tempat parkir! Tunggu!!
Aku berhasil mengejarnya, aku memanggilnya berulang kali. Namun dia tak memperdulikanku, apa karena dia masih menggunakan headset ya?
“Yaaa! Tunggu!” aku menarik jaket cowok itu, dia terkejut dan menatapku bingung kemudian marah.
“Bukannya aku sudah menolakmu? Kenapa masih mengejar-ngejarku?” sahutnya cuek, heh? Apa katanya barusan?
“Mengejar? Apa maksudmu? Memang kau siapa mesti kukejar?”
“Lalu mau apa kau?”
“Emm, maaf! Apa kau melihat hadiah, maksudku kotak berwarna hitam…”
“Pabo! Buat apa aku melihat hal semacam itu?” sahutnya marah.
“Kata orang yang di tempat penitipan barang, dia salah memberikannya padamu!” jelasku, berharap dia mengerti.
“Kau salah orang! Buat apa aku benda seperti itu?” dia langsung pergi dengan tidak ramahnya. Bahkan langsung naik motor meninggalkanku seolah aku tak ada.
“Yaaa!” seruku, dia malah mempercepat laju motornya. Ugh! Sialan, apa aku harus mengejarnya?

Aku benar-benar mengikutinya, dengan taksi tepatnya. Gila juga itu cowo, caranya mengemudi sangat buruk. Entah kecepatan berapa motornya itu ia kendarai. Menit demi menit kulalui memelototi gerakannya.
“Nona, kita sudah sampai di prefektur 7, apa anda masih mau mengejarnya?” tanya pak supir, aku melirik mesin argo, 40 ribu won? Gila aja! Mana punya aku uang sebanyak itu hanya untuk membayar taksi!
“Tolong berhenti di sini saja ahjussi!” aku menghela napas, setelah membayar. Dimana ini? Aku ga tau apa-apa tentang daerah ini. Kemana perginya cowo sialan itu? Apa aku kembali aja ya? Dan merelakan hadiah appa? Aku menggigit bibirku lagi, sakit! Aku mencoba menahan air mataku agar tidak jatuh karena kepanikan ini.
Ddddrrrrtttt, dddddrrrrrtttt
“Kau dimana?”
“Onnie? Aku, emm di prefektur 7!”
“Apa? Ngapain kamu sejauh itu? Sudah malam, walaupun temanmu sudah memberitauku, setidaknya ga sampai sejauh itu kan?”
“Onnie!” rajukku manja.
“Hari ini adikku pulang, aku ingin sekali mempertemukan kalian! Siapa tau kalian berjodoh!” Aku menghela napasku, berjodoh? Siapa yang ingin di jodohkan semuda ini?
“Onnie! Mianhae, aku sedang buru-buru!” aku mematikan Hpku dan terus berjalan, hingga kakiku terasa lelah. Mencoba mencari peron kereta yang tak kutemukan juga. Semakin lama semakin jauh dan membuatku semakin lelah saja. Aku cape, aduh! Aku berhenti di depan sebuah restoran, apa aku harus makan malam di sini? Sudah hampir jam 9, dan aku bahkan belum menemukan cowok itu!
“Selamat datang, silahkan masuk dan duduk di sana!” sapa pelayan. Aku memberinya senyuman kecil, kakiku sakit sekali.
“Yaa!!” seruku tiba-tiba saat kutemukan sosok bertopi familiar itu. Dia bangkit seperti mau melarikan diri, kupaksa kakiku mendekatinya. Akhirnya aku menemukannya!
“Aku mencarimu! Kembalikan kadoku, itu adalah hadiah untuk ayahku! Kenapa kau malah mempermainkanku!” cecarku, aku benar-benar marah.
“Kado?”
“Ne, kembalikan!” dengusku.
“Mollaseyo!” sahutnya cuek, dia menaikkan sebelah alisnya. Sialan! Ekspresinya itu malah membuat wajahku memerah dan panas.
“Mwo?” jeritku menggelegar.
“Pay it!” sahutnya lagi, apa???? Apa katanya barusan? Pay? Bayar? Aku menoleh ke meja makan yang penuh dengan makanannya. Apa dia memesan dan menyuruhku membayarnya?
“Yaa!! Siapa kamu? Kenapa aku mesti..?” aku menarik lengan bajunya.
“Yaa! Punya telinga ga sih??” Dia menoleh ke arahku dengan tatapan bengis.
“You want your present back, right? Then pay it first!!” bisiknya tajam. What???? Apa-apan cowo ini? Berani banget dia minta bayarin aku!! Memangnya siapa sih dia? Baru ketemu juga!!
“She’ll pay it!” sahutnya lagi pada pelayan. Hah?? Apa? Tunggu!! Sialan!!
“Yaa, aduh! Kau bahkan bukan orang yang ku kenal!!!”
“Yaah! Apa-apaan kau?” dia sudah pergi. Para pelayan sudah menungguku untuk membayar semua pesanannya. Mau ga mau aku harus membayarnya. Dan harganya ternyata ga murah, sialan! Aku berusaha keras mengejarnya sampai parkiran.
“Wait wait wait!!!” seruku saat dia naik motor melewatiku. 53506321DA? Sepertinya nomor yang aku kenal, atau itu cuman perasaanku aja.
“Yaaah you jerk!! I said wait!!!!!” jerit ku sekencangnya, orang itu benar-benar menyebalkan. Tau-tau menyuruhku membayar makanannya, dan kini dia mau melarikan diri setelah membuatku berjalan kaki sampai selarut ini.
“Dasar cerewet, kamu sangat berisik! Pabo, ini punyamu!” dia langung melempar kotak hadiah itu hingga isinya keluar, dan langsung berlalu dengan cepat.
“Aishh, ada juga makhluk seperti itu?” bentakku dalam hati. Tapi untunglah, dengan begini hadiah buat appa telah kembali. Aku berbalik berharap menemukan taksi atau kalau bisa stasiun kereta. Orang yang mirip dengan Onew itu sifatnya sangat aneh. Aku berharap ga bakal ketemu dengannya lagi. Semoga…
Perjalanan dari sini kerumah sangat jauh, aku bahkan ga kenal daerah ini. Dan bodohnya baru kusadari uang di dompetku sudah habis, bagaimana ini? Aku sudah membayar taksi seharga 40 ribu won untuk mencapai daerah ini, dan aku harus membayar makanan cowo itu juga. Lalu aku harus pulang dengan apa? Aku berjalan lemah, seharusnya aku tak perlu membayarinya! Ugh! Dasar cowo menyebalkan!!
“Minji? Kim Minji kan?” seseorang memanggil namaku, aku menoleh.
“Ketua? Hei…!” ternyata dia adalah Choi Minho, teman sekelasku waktu kelas 1. Dia turun dari mobilnya.
“Ngapain? Jauh banget.” Tanyanya.
“Tersesat!” sahutku asal.
“Begitu?” komentarnya sambil geleng-geleng.
“Kamu darimana?” tanyaku.
“Mancing, di sini banyak ikan. Kamu mau ke prefektur 2 kan. Bareng aku aja, mau? Kebetulan aku bawa mobil.” Tawarnya, aku mengangguk. Yang jelas jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Aku ga akan menyia-nyiakan kesempatan pulang ini. Ga ada yang bakal terjadi, kan? Lagian Ketua orang yang baik. Dia tertawa sambil membukakan pintu penumpang.
Choi Minho, dia adalah ketua dewan siswa (Osis) di sekolahku. Selain baik dan bijaksana, dia juga lumayan cakep. Banyak yang suka padanya, dia benar-benar menjadi idol sekolah. Ketua sangat mengerti dan baik sekali padaku, dia sering mendengarkan ceritaku. Selama perjalanan kami bercerita banyak hal, dia orang yang mudah di ajak berbicara dan pemikirannya juga sangat luas.
“Cowok itu benar-benar menyebalkan, setelah membuatku jalan kaki mengitari kota yang ga kukenal dia malah menyuruhku membayar makanannya!” desisku sebal, ketua mengacak-acak rambutku membuat perasaanku sedikit lebih tenang.
“Yang penting hadiahnya sudah kembali, kan?” dia tersenyum.
Tanpa terasa, kami telah sampai di depan rumahku. Setelah berpamitan, aku langsung masuk dan di sambut oleh Onnie.
“Walaupun kau pulangnya telat, I’ll definitely wait for you! *Dong saeng (adik perempuan), sebenarnya ada urusan apa sih?” Tanya Onnie.
“Aku kehilangan barang, Onnie!”
“Ne? Sudah lapor polisi?” aku menggeleng.
“Aku mendapatkannya lagi, orang itu benar-benar menyebalkan.”
“Kau lelah, kan? Ada mie ramen di dapur.”
“Onnie?”
“Ne?”
“Katanya adikmu pulang hari ini? Dimana dia?” Onnie menggeleng, hah? Aku jadi bingung.
“Ya, tapi…sepertinya dia menginap di tempat temannya. Mungkin dia malu. Maklumlah, kami kan menumpang disini.”
“Ah, aniyo! Bukankah sudah kukatakan anggap saja rumah sendiri! Kau kan na Onnie, jadi adikmu pun tentu saja boleh tinggal di sini. Kapanpun!”
“Are you serious?”
“Absolutely serious Onnie!” aku merangkul pundak Onnie, apakah seperti ini rasanya punya seorang saudara. Rasanya menyenangkan, hangat dan bisa saling berbagi.
“Gomawo na dongsaeng!” aku meneteskan air mataku, rasanya seperti mimpi saja. Aku bahkan tak pernah bermipi bisa memiliki saudara. Adiknya Onnie, pasti orang yang sangat bahagia. Dia memiliki kakak yang baik, cantik dan hebat seperti ini serta sangat menyayanginya.

TBC ~

Please leave comment..

Posted 23 April 2011 by MVP in Fan Fiction

Tagged with , , , , , , , , , ,

10 responses to “[FF] Precious Thing *Part 1 of ?*

Subscribe to comments with RSS.

  1. Hai.. ayu imnida.. Salam kenal..
    Aq suka banget cerita kamu..
    Keren..
    Ga sabar buat baca part 2 nya..
    hwaiting yaa.. ^^

    • haiii.. panggil aq barbie aja..😀
      makasih banget udah suka cerita aq nd sempet2in komen..
      jujur aq terharu banget chingu,, baru kali ini ada yang abca cerita aq + ninggalin komen..
      huaaaaaaaa…rasanya mau nangis #lebayy
      btw,, lam kenal balik.. ^^

  2. BARBIIIEEEEE…
    rada aneh chingu..
    hehe..
    tenang aja chingu aku pasti akan slalu komen..
    di tunggu karya yg lain nya

  3. Ff kamu bagus chingu..

  4. Waah ff.a keren,,
    Kayaknya aq bakalan sering mampir kesini..
    Lam kenal thor..!!

  5. bgus nd seru.
    Adikquw fans berat onew tiap hri always onew mulu yg diomongn mirip minji.
    Kalo aq key,bkin ff cast’y key dumz.#abaikan reader bnyak mau.

    Lanjut k part slanjutnya..

  6. Anyeong, new reader here🙂
    ak numpang komen yah..
    Plot ny bagus, cuman ada bbrapa adegan yg g pke pmbatas. Jd klo bsa stiap prgantian scene, hrs pke pmbatas. Biar reader g bingung🙂
    trus ak rasa dialogny trlalu mendominasi. Prbnyak narasi dan mengganti kalimat perkalimatnya mnjadi bhs baku mungkin akan trlihat lbh bagus ^^
    sprti yg aku ktkan td, prbnyak narasi brarti deskripsi ny jg hrs lbih mendetail, biar feel ny dpet dan alurnya terlihat jelas,,
    well overall bagus, lgpula maincastny jinki , aku suka🙂
    so fighting !😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: